Monthly Archives: Januari 2008

Ulang Postingku ke-100

postingan_ke_100.jpg

Tak terasa…… sudah tujuh bulan saya berkiprah dalam penulisan di blog “Spektrum Pemikiranku” ini. Dan tak terasa postinganku yang terakhir yang berjudul “Ponsel dan Uang Virtual Akan Menghancurkan Bank?” adalah postinganku yang ke-100 menurut Blog Stats yang ada di WordPress ini. Akupun tidak menyangka bahwa aku bisa sebetah ini menulis terus di blog saya ini hingga bertahan sampai postingan ke-100. Yah, doakan saja angka 100 ini bukanlah angka kejenuhan bagi saya untuk terus menulis dan menulis karena pada dasarnya saya sebenarnya orang yang suka menulis (walaupun teknik penulisannya terkadang seringkali kacau balau, tidak merunut pada standard penulisan baku) walaupun terkadang ada kalanya satu dua kali, mood untuk menulis menjadi sangat berkurang terutama kalau pekerjaan sedang menumpuk.

Nah, pada ulang tahun postingku ke-100 yang jatuh pada postingan “Ponsel dan Uang Virtual Akan Menghancurkan Bank?” kemarin (seperti yang terlihat pada Blog Stats di atas), blog yang sudah berjalan 7 bulan ini baru diakses kurang dari 30.000 pengunjung, dengan pengunjung kira2 200 pengunjung per hari dan pengunjung terbanyak adalah pada tanggal 11 Oktober 2007 yaitu sebanyak 431 pengunjung (tepat sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri). Yah, memang masih jauh sih dibandingkan kriteria seleb blog, tapi memang dari awal tujuan utama saya dalam menulis di blog ini bukan menjadi seleb blog, tetapi sekedar **halaah** hanya ingin berbagi dan insha Allah memperkaya khazanah informasi di dunia maya ini dalam Bahasa Indonesia. Kita mengetahui bahwa informasi dalam Bahasa Indonesia di jagad maya ini masih terbilang miskin dibandingkan informasi dalam (ya iya laaah) Bahasa Inggris. Sedangkan tujuan dari seleb blog hanya **halaah lagi** tujuan sampingan, ya percuma jadi seleb blog tapi isinya sampah semua dan nggak berguna mirip sampah plastik polimer yang mencemari lingkunga hidup! Yah, syukur2 sih postingannya informatif juga menjadi seleb blog seperti satu dua blog yang saya ketahui. 

Sebenarnya dalam benak saya masih banyak sekali ide2 yang ingin saya tuangkan dalam bentuk tulisan di blogsfer ini, namun ada beberapa yang tidak bisa saya realisasikan, biasanya yang tidak bisa direalisasikan ini karena memerlukan ilustrasi (gambar) yang kompleks dan komprehensif, yang saya agak malas membuatnya karena membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Juga ada beberapa artikel yang sudah “siap tayang” tapi membutuhkan bungkus yang lebih rapih lagi agar sesuai dengan **halaah** tata susila bangsa ini. Juga ada satu topik yang juga siap tayang (tapi judulnya dan topiknya masih dirahasiakan ya? 😉 ) yang mungkin berpotensi menimbulkan konflik yang perlu saya kaji ulang redaksinya kembali, bukannya apa2, tapi saya sebagai penulis, ingin menyajikan tulisan tersebut seobyektif mungkin dan jauh dari unsur2 subyektivitas yang menyesatkan. Yah, pokoknya tunggu saja tanggal mainnya. :mrgreen:

Ok deh, segitu saja artikel saya kali ini menyambut ulang posting saya ke-100 (yang hanya disambut oleh saya sendiri :mrgreen: ), yah doakan saja, saya akan terus menulis dan menulis untuk blog ini dan juga doakan saya agar ‘tidak’ menemukan kegiatan yang lebih menarik lagi daripada menulis di blog ini, karena kalau saya menemukan kegiatan yang lebih mengasyikan yang menyita perhatian dan waktu saya, tentu kemungkinannya saya akan melupakan blog ini……… 😦 . Tapi yang paling bagus doanya adalah, doakan agar saya menemukan kegiatan yang lebih menarik lagi tetapi tetap semangat untuk menulis di blog ini, bukankah begitu?? 😀

Ponsel dan Uang Virtual Akan Menghancurkan Bank?

a cellphoneeuro bill

Perhatian:

Dalam artikel ini akan disebutkan beberapa buah merk produk. Hal ini bukanlah dimaksudkan sebagai iklan terselubung melainkan semata-mata hanyalah karena keterkaitannya dengan artikel ini. Terima kasih.

Beberapa bulan yang lalu, saya menerima SMS dari Telkomsel yang mengabarkan servis mereka yang baru yang katanya “Pertama di Indonesia” yaitu “T-Cash” singkatan dari “Telkomsel Cash”. Telkomsel Cash ini adalah uang virtual di mana dengan Telkomsel Cash ini kita tidak perlu membawa2 uang kas untuk berbelanja di merchant tertentu yang bekerjasama dengan Telkomsel, cukup kita menyebutkan nomer MSISDN kartu ponsel kita kepada kasir di merchant tersebut ketika terjadi proses pembayaran.

Di Jepang, cellphone payment ini sudah jauh lebih maju lagi, sudah banyak sekali merchant-merchant yang menerima pembayaran lewat ponsel. Caranyapun sudah jauh lebih maju. Jikalau pada T-Cash, pelanggan sebelumnya harus mengisi T-Cashnya dulu sebelum digunakan sama seperti beli voucher isi pulsa ponsel, maka di Jepang tidak perlu mengisi kas virtualnya dahulu, tagihan akan muncul bersamaan dengan tagihan bulanan ponsel bulan berikutnya, dan jikalau ponsel prabayar akan langsung mengurangi saldo pulsanya secara otomatis.

Salah satu merchant di Jepang yang getol menerima pembayaran lewat ponsel ini adalah perusahaan minuman ringan AS Coca-Cola. Ya, Coca-Cola meng-upgrade hampir seluruh mesin penjual minuman ringannya di seluruh Jepang agar pembeli dapat membeli sekaleng minuman Coca-Cola hanya dengan ponselnya dan tidak usah repot2 mencari koin atau uang receh untuk membelinya.  Perusahaan selular terkemuka di Jepang DoCoMo dan industri elektronik raksasa Jepang Sony yang mengembangkan sistem ini yang dinamakan Felicia. Felicia adalah mikrochip yang ditambahkan di ponsel tertentu yang berfungsi sebagai pengganti kartu kredit tradisional.  Di seluruh dunia ini tentu bukan hanya Coca-Cola saja merchant yang menerima pembayaran ponsel ini dan juga bukan hanya DoCoMo dan Sony saja yang mengembangkan pembayaran dengan ponsel, perusahaan2 lain seperti SanDisk (yang lebih dikenal sebagai perusahaan pembuat storage card dan Flash Disk) dan raksasa elektronik Belanda Philips serta banyak perusahaan2 lainnya berlomba2 untuk ‘menghilangkan’ uang kas sebisa mungkin dan mengalihkannya menjadi uang virtual atau uang digital untuk transaksi ekonomi sehari-hari.

Lantas kalau uang kas dihilangkan dan diganti dengan uang virtual (baca: pulsa telepon) bagaimana dengan nasib perbankan?? Nah itulah….. dahulu sebelum manusia mengenal uang sebagai alat pembayaran, transaksi dilakukan secara barter (pertukaran), dahulu pula jika orang ingin bertukar barang mudah sekali, asal sama2 saling membutuhkan pertukaran dapat terjadi dan tidak memikirkan apakah barang yang akan saya beri lebih murah atau lebih mahal dari benda yang akan saya dapatkan. Namun setelah manusia mengenal uang dan mengakui uang sebagai alat pembayaran yang sah, maka pertukaran (barter) menjadi tidak mudah atau tidak bebas lagi, orang kini berfikir kalau bertukar barang ingin yang sesuai harganya, karena kini setiap barang telah dipatok berdasarkan harga tertentu dengan sistem uang yang berlaku. Kini tentu orang tidak mau menukar handphone dengan sebuah apel karena dianggap harganya tidak sesuai, namun dahulu sebelum dikenalnya sistem mata uang, mungkin handphone (anggaplah misalnya zaman dulu handphone sudah ada) bisa ditukar dengan sebuah apel asalkan kedua fihak yang ingin bertukar masing2 membutuhkan benda2 tersebut. Nah, setelah lewat zamannya barter kini orang mengenal zamannya uang, namun di masa mendatang mungkinkah uang dapat digantikan dengan pulsa telepon (atau uang virtual) sebagai alat pembayaran yang sah??

Ya, kini setelah perusahaan2 penyedia jasa selular membuat bangkrut perusahaan2 pager/penyeranta serta membuat penghasilan penjual kartu pos dan pos giro menurun drastis kini nampaknya perusahaan2 penyedia jasa selular ini mulai melirik perbankan untuk “disingkirkan”. Hal ini juga didukung oleh perusahaan2 penyedia perangkat keras telekomunikasi dan perusahaan2 elektronik terkemuka di seluruh dunia. Ini ditandai dengan dimulainya era “cashless economy” ataupun “cashless society” sekarang. Tentu “cashless society” masih menjadi seumur jagung saat ini dan masih jauh untuk menggantikan peran uang kas secara keseluruhan. Jalan menuju “cashless society” secara kseluruhan sangat berliku dan sulit, itu disebabkan bukan hanya dalam “cashless society” perlu konsensus bersama dunia internasional untuk menggantikan uang kas dengan pulsa ponsel, tapi juga perlu difikirkan persoalan2 pada sistem2 mulai dari hilir hingga ke hulu. Mulai dari peran bank sentral dan “penerbitan” pulsa ponsel,  pendistribusian pulsa ponsel sendiri hingga persoalan di masyarakat tingkat bawah di mana semua orang harus mempunyai ponsel (minimal yang murah) guna melakukan transaksi sehari2, karena kini transaksi dibayar dengan perpindahan pulsa ponsel. Mungkin kalau di supermarket atau di toko2 besar, walaupun tidak punya ponsel asal punya nomor ponsel, perpindahan pulsa dapat dilakukan dengan terminal komputer, namun kalau transaksi terjadi dengan tukang bakso yang nggak punya terminal komputer yang terhubungkan dengan sistem, bagaimana pembayaran bisa dilakukan?? Nah, hal2 kecil seperti inilah yang juga mesti dipecahkan.

Waktu untuk menggantikan uang kas dengan pulsa ponsel sebagai alat pembayaran secara keseluruhan memang masih lama, katakanlah paling sedikit mungkin masih 50 tahun lagi. Untuk mengubah dari sistem uang kas menjadi pulsa ponsel sebagai alat pembayaran tentu juga tidak memerlukan biaya yang sedikit, biaya yang dikeluarkan juga tentu sangat banyak. Untuk itu mungkin perubahan dilakukan secara evolusioner (setahap demi setahap) dan tidak revolusioner (sekaligus) dan jalan menuju perubahan itu kini telah terbuka lebar. Selain biaya yang mahal, untuk merubah suatu sistem yang sudah mengakar dan meluas di tengah2 masyarakat tentu juga bukan perkara yang mudah namun bukan berarti tidak mungkin. Kita tidak pernah tahu apa yang dapat dilakukan oleh kemajuan teknologi di masa mendatang, sepuluh tahun lalu kita tidak menyangka bahwa dunia telekomunikasi selular bisa ‘bertabtrakan’ dengan dunia perbankan namun seiring dengan kemajuan teknologi kini transaksi dapat dilakukan hanya dengan melibatkan perpindahan atau transfer data digital saja dan nampaknya pada transaksi2 yang akan datang orang semakin tidak dan tidak lagi memerlukan uang kas secara fisik, hal inilah yang dimanfaatkan benar oleh para penyedia jasa pelayanan selular dan didukung oleh perusahaan2 raksasa elektronik dunia. Dan mungkin juga kemajuan teknologi tidak berhenti sampai di situ saja, mungkin nomor ponsel anda di masa mendatang juga dapat berfungsi sebagai nomor identitas pribadi anda dengan database diri anda yang sangat lengkap, dan dapat berfungsi sebagai pengganti KTP dan banyak kejutan2 lain yang dihasilkan oleh kemajuan era digital ini……….

Skala Scoville, Mengukur Kepedasan Cabai

Cabai Rawit (Thai Pepper or Bird's eye Pepper)Cabai (red savina) HabañeroCabai Naga Jolokiabell pepper

Artikel kali ini mungkin cocok bagi mereka yang gemar masakan pedas karena memang tulisan kali ini adalah mengenai cabai. Bagi masakan Indonesia, cabai sudah menjadi pelengkap sehari-hari apakah itu berupa sambal ataupun cabai rawit dan bagi banyak orang di Indonesia makan belum afdol jikalau makan belum mengkonsumsi yang pedas2 apakah itu makan besar ataukah hanya sekedar ngemil bakwan atau rujakan. Ya, cabai sudah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari2.

Cabai sendiri ada berbagai macam, kalau di kita mungkin mengenal cabai rawit, cabai merah, cabai hijau, ada juga cabai yang keriting dan kalau di belahan bumi lain ada paprika, ada pimento, jalapeño, habañero dan lain sebagainya semuanya dengan kadar kepedasan yang berbeda2. Namun tahukah anda bahwa di dunia ini ada satuan guna mengukur kepedasan sebuah cabai?? Ya, satuan tersebut dinamakan satuan scoville yang diambil dari nama seorang farmakolog Amerika Serikat bernama Wilbur L. Scoville (1865 – 1942). Skala scoville ini mengukur konsenstrasi sebuah zat dalam sebuah cabai yang bernama capsaicin, zat inilah yang bertanggungjawab memberikan rasa pedas pada sebuah cabai. Ok, sekarang kita mempunyai satuan scoville untuk mengukur kepedasan suatu cabai seperti halnya kita mempunyai satuan kilometer untuk mengukur panjang atau kilogram untuk mengukur berat, lantas bagaimana caranya mengukur kepedasan cabai? Apakah cabai dimakan begitu saja lalu dinilai kepedasannya?? Tentu tidak sepenuhnya begitu, karena panca indera manusia adalah alat pengukur yang buruk dan kurang presisi. Namun walaupun begitu pengukuran kepedasan cabai pada awalnya masih melibatkan panca indera manusia. Pada tahun 1912 ketika Wilbur Scoville menemukan skala ini, ia melakukan pengukuran kepedasan suatu cabai dengan cara sebagai berikut: Larutan ekstrak/sari cabai dilarutkan ke dalam air yang diberi gula sampai pedasnya tidak terasa lagi, sudah pedas tidaknya sebuah cabai yang diuji ini biasanya dilakukan oleh lima orang penguji. Jadi satuan scoville menunjukkan berapa kali sebuah cabai harus dilarutkan dalam air gula (dalam jumlah tertentu yang standard) sampai zat capsaicin-nya semua larut yang membuat cabai tersebut menjadi tidak pedas lagi. Nah, karena dengan metode pengukuran seperti di atas masih melibatkan panca indera manusia, tentu saja pengukuran masih dapat terjadi bias dan kurang obyektif (selain pengukuran cara di atas kurang praktis) untuk itu pengukuran kepedasan cabai pada saat ini menggunakan metode yang canggih yang dinamakan High Pressure Liquid Chromatography atau High Performance Liquid Chromatography (HPLC) yang menihilkan keterlibatan panca indera manusia dalam pengukuran kepedasan cabai. Metode ini cukup kompleks untuk dijabarkan sehingga tidak akan saya jabarkan dalam artikel ini.

Sekarang lihat tabel di skala scoville di bawah ini:

scoville.jpg

Dari tabel di atas kita bisa lihat bahwa bell pepper (termasuk juga paprika) mempunyai skala scoville 0 (nol), ini berarti bell pepper tidak pedas sama sekali karena tidak mempunyai zat capsaicin. Sedangkan cabai rawait (Thai pepper atau bird’s eye pepper) atau kalau di Malaysia sering disebut ‘chili padi’ mempunyai skala scoville 50.000 hingga 100.000. Nah ternyata dari tabel di atas cabai rawit hanyalah cabai ‘kelas menengah’ dalam dunia cabai. Sedangkan cabai Amerika habañero mempunyai kepedasan sekitar 2 sampai 7 kali dari cabai rawit. Bahkan salah satu jenis atau spesies habañero yaitu Red Savina habañero bisa 10 kali lebih pedas dari cabai rawit. Namun cabai alami yang memegang rekor dunia kepedasan datang dari daerah Assam di India yaitu Naga Jolokia (semua gambar cabai2 tersebut ada di atas) yang skala scoville-nya sampai di atas satu juta!

Red Savina habañero yang asli (bukan yang jenis botolan seperti Tabasco) pernah saya coba dan rasanya memang seperti setan, tapi saya belum pernah merasakan Naga Jolokia, penasaran juga pedasnya seperti apa ya?? Mungkin buat orang yang susah buang air besar atau yang mengalami konstipasi dengan memakan cabai ini dapat menghemat duit karena tidak lagi perlu membeli Vegeta! Huehehehe…… :mrgreen:

Swatch® Internet Time, Sebuah Produk Gagal!

swatchbeatclock.jpg

Gambar Jam ‘Tradisional’ dan Jam Internet Swatch® di  desktop saya.

Jam Swatch seperti punya sayaJika anda seorang yang menggemari chatting online di Internet, baik menggunakan Yahoo! Messenger, mIRC atau yang lainnya, dan anda andaikan juga sering berchatting ria dengan orang-orang di belahan bumi yang lain, mungkin anda pernah merasakan sedikit kesulitan dalam membuat janji (misalnya janjian ingin bertemu lagi online) dengan mereka karena perbedaan waktu. Dahulu sewaktu saya sering bermain Scrabble online, saya juga seringkali mengalami kesulitan dalam menyelaraskan jadwal pertandingan dengan mereka yang berada di belahan bumi lain karena perbedaan waktu tersebut, yah karena kebanyakan dari mereka yang bermain Scrabble berada di Amerika Utara dan Eropa maka saya seringkali mengalah dan terpaksa  bangun pagi2 sekali sebelum shubuh hanya karena sudah berjanji untuk bermain Scrabble online.

Masalahnya, perbedaan waktu antara WIB dan zona2 waktu di Amerika Utara berkisar antara 11-14 jam (waktu musim panas) atau 12-15 jam (waktu standard) dan seperti biasa, mereka orang Amerika kalau berjanji atau menyusun jadwal pertandingan selalu berorientasi dengan zona waktu mereka sendiri dan sedikit terlalu egois dengan mengabaikan zona-zona waktu di negara2 lain, apalagi zona waktu di negara2 Asia Tenggara yang juga pemain online-nya sedikit. Mereka selalu menyusun jadwal pertandingan dalam Eastern Daylight/Standard Time ataupun Pacific Daylight/Standard Time dan jarang disusun dalam zona waktu GMT atau UTC apalagi (jangan harap deh!) dalam Waktu Indonesia Barat (WIB).

Untuk itu sebuah perusahaan arloji dari Swiss yaitu Swatch®, berusaha untuk memecahkan masalah ini. Di tahun 1998 mereka memperkenalkan konsep baru untuk waktu di Internet, yaitu Swatch Internet Time (SIT). SIT mempunyai format @XXX di mana XXX adalah tiga buah angka/digit yang menunjukkan SIT/waktu Internet. SIT berusaha untuk menghapus seluruh zona waktu yang berada di dunia nyata dan hanya menggunakan SIT saja untuk mengatur waktu jadwal di dunia maya Internet. Jadi andaikan di suatu waktu di Indonesia SITnya misalnya @045 maka pada saat itu juga di tempat2 lainnya di seluruh dunia juga menunjukkan waktu @045. Jadi tidak ada lagi perbedaan (pembacaan) waktu misalnya di Jakarta pukul 14.00, di London saat itu pukul 08.00 atau New York pukul 03.00, dsb.

Sekarang, bagaimana pembagian waktu dalam SIT? Jikalau dalam dunia nyata ada beberapa satuan waktu dalam sehari seperti jam, menit dan detik, dalam SIT hanya ada satu satuan waktu saja yaitu beat. Satu hari, dalam SIT, dibagi dalam 1000 beat. Setiap hari diawali dengan beat @000 dan diakhiri dengan beat @999. Karena SIT menghilangkan sistem zona waktu yang terdapat di dunia nyata, maka SIT dimulai pada waktu yang berbeda2 di setiap zona waktu. Di wilayah WIB (Waktu Indonesia Barat), SIT dimulai pada pukul 06.00, sedangkan di wilayah WITA (Waktu Indonesia Tengah), SIT dimulai pada pukul 07.00 dan di wilayah WIT (Waktu Indonesia Timur), SIT dimulai pada pukul 08.00. Untuk lebih jelasnya lihatlah tabel berikut sebagai acuan waktu antara SIT dan waktu di zona2 waktu di Indonesia.

SIT WIB WITA WIT
@000 06.00 07.00 08.00
@250 12.00 13.00 14.00
@500 18.00 19.00 20.00
@750 00.00 01.00 02.00

Namun jika anda membeli arloji Swatch yang ada SIT-nya ini siap2lah kecewa! (Saya sendiri membeli sebuah arloji Swatch yang ada SIT-nya ini di tahun 1999 dengan harga waktu itu sekitar Rp 1,1 juta) Kenapa kecewa?? Ya, karena ternyata sedikit orang saja yang mempunyai arloji ini, bahkan mereka2 yang sering chatting di Internet saja jarang yang mempunyai arloji2 yang ada SIT-nya, jangankan mempunyai, mengenal sistem SIT ini saja banyak yang tidak mengetahuinya. Jadinya pembelian arloji ini menjadi mubazir. Ya, SIT dan juga arloji-arloji Swatch yang mempunyai fitur SIT adalah produk yang boleh dikatakan gagal di pasaran. Penyebab-penyebab kegagalan SIT di antaranya adalah:

  • Orang sudah terbiasa dengan jam atau waktu yang berlaku di dunia nyata. Mereka selalu berfikir di dalam otak mereka tentang waktu dalam konteks jam di dunia nyata. Seperti contoh misalnya kalau kita ingin chatting kita secara refleks pasti akan berfikir dahulu jam berapa di dunia nyata kita akan chatting baru kemudian dikonversikan ke dalam waktu SIT. Ini yang menyebabkan penggunaan SIT menjadi tidak praktis. Misalkan kalau kita ingin merencanakan sesuatu katakanlah chatting, kita biasanya mengambil waktu dengan ‘angka yang bagus’ untuk janjian. Misalnya pukul 03.00, 03.30, 04.00 dsb. Jarang misalnya (dan sedikit aneh) kalau kita misalkan janjian pukul 03.22 atau pukul 4.13 dsb. Nah, begitu pula kalau kita berfikir dalam kerangka SIT kita seharusnya dapat mengambil sebuah angka bagus pula untuk menyusun jadwal atau janjian misalkan: @100 (08.24 WIB), @150 (09.36 WIB), @200 (10.48 WIB) tanpa mempedulikan @100 atau @150 jatuh pada jam berapa di dunia nyata. Namun kenyataannya tidak begitu, kita selalu mengambil angka bagusnya berdasarkan jam di dunia nyata baru kemudian dikonversikan menjadi SIT.
  • Kegiatan sehari2 di dunia nyata masih lebih kuat dibandingkan dengan di dunia maya sehingga tidak heran fikiran waktu manusia masih terfokus pada jam di dunia nyata bukan pada SIT.
  • Satuan waktu di dunia nyata lebih ‘teliti’ dibandingkan dengan SIT. satuan SIT adalah beat yang mempunyai durasi 1 menit 26 detik. Sedangkan satuan waktu yang terpendek di dunia nyata adalah 1 detik yang lebih singkat dibandingkan 1 beat. Oleh karena itu satuan waktu di dunia nyata lebih ‘teliti’ dan lebih fleksibel (karena mempunyai beberapa unit yaitu detik, menit dan jam)
  • Sebenarnya di dunia nyata kita juga sudah punya waktu universal yaitu GMT atau istilah modernnya sekarang adalah UTC. Ini sebenarnya dapat diterapkan pula di dunia maya atau Internet dan kita juga lebih terbiasa atau familiar dengan GMT ini daripada SIT.

Nah, begitulah faktor-faktor yang menyebabkan SIT tidak sukses dalam merebut hati para netter. Lantas kenapa Swatch, sebuah perusahaan jam tangan Swiss yang cukup ternama di dunia, dapat melakukan blunder seperti itu?? Selidik punya selidik, ternyata ide SIT ini bukan datang dari bagian R&D (Research and Development) Swatch melainkan dari para petinggi dan manajer2 marketing tingkat tinggi di Swatch yang tidak tahu apa2 tentang horologi (ilmu tentang jam dan waktu) namun mempunyai kekuasaan yang sangat tinggi dalam menentukan sebuah produk baru di perusahaan tersebut. Para petinggi marketing tersebut maunya menyumbangkan sesuatu yang berharga dan mendunia bagi dunia Internet (dan tentu saja tujuan utamanya adalah sebagai bagian dari strategi marketing untuk mendongkrak penjualan), eh malahan kini yang membeli produk tersebut banyak yang kecewa dan mubazir karena tidak banyak terpakai dan menjadi produk sampah!

Keliling Dunia Gratis à la Cyrano de Bergerac

Balon UdaraKeliling dunia dengan biaya murah, syukur-syukur kalau gratis adalah impian setiap manusia, bukan saja impian kita semua yang hidup di abad modern di zaman teknik aerodinamika yang sudah maju saat ini, terlebih-lebih untuk mereka yang hidup di zaman dahulu, yang selalu menginginkan dapat terbang seperti burung ke negeri-negeri yang jauh dengan bebasnya. Cyrano de Bergerac, seorang penulis Perancis yang hidup di abad ke-17 yang tak terkecuali mempunyai impian seperti itu pula. Ia mempunyai angan-angan berkeliling dunia dengan gratis dengan menggunakan balon udara. Namun sayang ia lahir dua abad sebelum balon udara benar-benar mengangkasa mengangkut manusia. Lho, lantas apa hubungannya antara Cyrano de Bergerac dan keliling dunia gratis??

Begini….pemikiran de Bergerac mengenai perjalanan udara gratis sebenarnya hanya dalam fikirannya saja sebab pemikiran tersebut sedikit konyol dan tidak sesuai dengan fakta ilmiah di lapangan. Lho…. kenapa konyol? Bukankah memungkinkan juga perjalanan mengelilingi dunia dengan menggunakan balon udara?? Memang betul penggunaan balon udara dapat memungkinkan perjalanan mengelilingi dunia tapi tentu saja perjalanan balon seperti itu tidaklah murah dan memakan waktu yang lama. Lantas apa yang ada dalam benak si de Bergerac sampai ia bisa mengatakan dapat keliling dunia dengan gratis (atau paling sedikit dengan biaya rendah)?? Beginilah cara yang diusulkan de Bergerac. Jika anda mempunyai balon udara yang cukup besar, tidak usah bagus-bagus, asal cukup besar dan dapat terbang dan juga sebuah keranjang besar untuk mengangkut manusia, maka yang perlu anda lakukan adalah naik dengan balon udara tersebut hingga ketinggian tertentu, lalu anda dan balon anda tersebut diam saja di udara, tidak usah bergerak sedikitpun. Selanjutnya biarkanlah planet Bumi sendiri yang mengantarkan anda ke tempat tujuan anda. Caranya? Anda tentu faham bahwa planet Bumi berputar pada porosnya atau berotasi pada sumbunya. Nah, sementara anda diam di udara, planet Bumi berputar di bawah anda dan beberapa jam bahkan beberapa menit kemudian anda sudah berada di atas sebuah daerah yang jauh dari tempat anda semula, nah jikalau tempat tujuan anda telah tercapai yang anda lakukan selanjutnya hanyalah turun kembali ke tanah atau mendarat kembali. Gampang, murah dan hemat energi kan?? :mrgreen:

Tetapi masalahnya apakah benar kita bisa menerapkan cara itu di dunia nyata?? Jawabannya tegas: tidak! Ya, keadaan sesungguhnya tidak sesederhana apa yang difikirkan oleh de Bergerac. Itu karena jika anda terbang di udara anda tidak sepenuhnya terlepas dari planet Bumi karena anda masih berada di atmosfer yang menyelimuti Bumi. Atmosfir tersebut ikut berpartisipasi dengan planet Bumi dalam berotasi. Dan ketika atmosfer tersebut bergerak ianya ikut membawa semua benda yang berada di udara: awan, pesawat terbang, helikopter, rudal, burung-burung, serangga-serangga hingga virus! Semuanya ikut terbawa! Jikalau atmosfer tidak bergerak tentu mungkin teori de Bergerac ini dapat diterapkan. Tapi tentu saja itu adalah sesuatu yang mustahil karena jikalau atmosfir atau udara diam dan bumi bergerak berotasi maka tentu akan terjadi angin ribut yang luar biasa!!! Kecepatan rotasi bumi adalah sekitar 1670 km per jam atau sekitar 1000 mil per jam, jadi jikalau atmosfir diam dan bumi bergerak berotasi maka kita akan mengalami udara bergerak dengan kecepatan relatif 1670 km per jam sedangkan angin ribut terkuat yang pernah tercatat di bumi saja hanya berkecepatan sekitar 200an km per jam saja! Bayangkan kerusakan yang dapat terjadi bila atmosfir memang benar-benar diam. Analoginya adalah begini: Misalkan anda mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi 100 km/jam di udara yang tenang dan tidak ada angin tentu anda tetap merasakan angin kencang yang menerpa anda, bukankah begitu? Nah hal yang sama juga berlaku bagi bumi dan atmosfernya.

Sekarang kita mengetahui mengapa keliling dunia murah (gratis) à la Cyrano de Bergerac tidak dapat diterapkan di dalam dunia nyata karena memang bertentangan dengan keadaan fisik sebenarnya planet Bumi. Lagipula jikalau metode de Bergerac bisa diterapkan, mungkin perusahaan jasa pengangkutan udara komersial sudah lama gulung tikar alias bangkrut! :mrgreen:

PS:

Pernah saya tulis versi Bahasa Inggrisnya di sini.

Pemandangan Bumi Kita di Malam Hari

amerikamalamhari.jpg

Gambar 1 : Amerika Serikat di Malam Hari

eropamalamhari.jpg

Gambar 2 : Eropa di Malam Hari asiapasifik.jpg

Gambar 3 : Asia Pasifik di Malam Hari

Karena kemarin kantorku baru saja resmi menduduki gendung yang baru, yang seharusnya mulai ditempati awal tahun baru lalu namun karena sesuatu hal baru mulai terlaksana kemarin, dan aku juga ikut mensupervisi kepindahan semua aset kantor yang belum 100%, maka energiku sudah habis dan entah kenapa ketika aku menyalakan komputer dan ingin mengetikan sesuatu rasanya jari2 tangan saya tidak mau berkompromi dengan otak saya, padahal di otak saya masih banyak ide yang akan dituliskan, namun entah kenapa jari-jemariku agak malas menari2 di atas keyboard komputerku.

Untuk itu kali ini saya hanya menampilkan gambar2 pemandangan bumi kita di malam hari yang gambarnya diambil oleh sebuah satelit NASA di suatu hari di bulan November 2000.  Dearah2 yang saya tampilkan adalah daerah2 yang paling terang benderang dan yang terlihat paling “indah” pada malam hari.

Gambar pertama adalah gambar atau peta Amerika Serikat pada malam hari.  Kita melihat gemerlapnya kota2 besar (dan juga kota2 kecilnya) di Amerika Serikat pada malam hari yang seperti kunang2 (hanya saja tidak berkelip2 tentu saja).  Di situ terlihat pantai timur AS lebih terang dibandingkan dengan pantai barat AS. Di pantai timur, megalopolitan New York-Philadelphia hingga Boston nampak bercahaya dengan gemerlapnya. Sedangkan di sekitar danau Michigan ada kota2 Milwaukee dan Chicago yang nampak gemerlap. Sedangkan di pantai barat AS (yang berbatasan dengan lautan Pasifik), kota2 di California mulai dari San Francisco hingga San Diego tak kalah ingin memamerkan ke-glamour-annya dengan bermandikan cahaya kota2 mereka masing2. Sementara di daerah Baja California yang merupakan bagian dari Meksiko justru sebaliknya, nampak gelap gulita! Mungkin ini menandakan perbedaan antara AS dan Meksiko, cerita klasik antara si kaya dan si miskin.

Gambar berikut adalah gambar benua Eropa di malam hari. Tidak disangsikan lagi, benua ini secara umum adalah benua yang paling terang dan gemerlap jika dilihat malam hari dari luar angkasa. Daerah2 yang terang bukan saja di kota2 besar, tetapi juga di kota2 kecil, sangking terangnya contour benua Eropa terlihat sangat jelas di malam hari dari luar angkasa walaupun hanya bermodalkan penerangan2 lampu2 kota. Bahkan daerah2 yang sedikit penduduknya seperti di Skandinavia Utara masih terlihat relatif terang. Daerah2 yang paling terang adalah daerah industri Ruhr di Jerman memanjang hingga Belgia, ke utara hingga Belanda serta ke selatan hingga perbatasan Perancis. Sementara di Inggris, kota2 seperti: London dan juga Manchester hingga Liverpool, Leeds dan Birmingham nampak seperti kunang2 raksasa yang terang benderang di malam hari. Sementara di Skotlandia nampak sebuah garis terang antara Glasgow dan Edinburgh. Tak disangkal lagi Benua Eropa adalah benua yang penerangannya paling merata di seluruh dunia.

Gambar ketiga adalah gambar daerah Asia Pasifik di malam hari. Di daerah ini tak diragukan lagi, Jepang (kanan atas) dan Korea Selatan bintangnya. Dua negara tersebut berhasil menunjukkan contour negaranya di malam hari lewat penerangan kota2nya yang indah. Sebaliknya Korea Utara yang komunis sosialis terlihat hampir 100% gelap, hanya kota Pyongyang saja yang menunjukkan sedikit cahaya di malam hari, sangat kontras dengan negara tetangga mereka yang satu bangsa: Korea Selatan. Bagaimana dengan negara kita?? Meskipun lebih lumayan dari Korea Utara secara umum, namun tetap saja termasuk gelap gulita! Hanya Pulau Jawa saja yang agak lumayan terang. Di Pulau Sumatra, Medan dan Palembang yang terlihat lumayan, sedangkan di Kalimantan terdapat titik2 cahaya kecil di Balikpapan, Samarinda, Pontianak dan Banjarmasin serta kota2 di sekitarnya. Juga terdapat titik2 kecil di kota2 besar lainnya di pulau2 lainnya seperti di Makassar, Manado dan Jayapura. Bagaimana dengan negara2 jiran kita? Surprise! Surprise! Ternyata negeri jiran kita yang katanya lebih makmur: Malaysia, ternyata tidak lebih terang dari negara kita. Bahkan Pulau Jawa masih lebih terang dibandingkan dengan Semenanjung Malaya. Hanya terdapat sebuah garis terang tipis antara Kuala Lumpur-Putrajaya dan Singapura. Ada juga sebuah titik terang yang lumayan signifikan di Pulau Penang dan Ipoh. Brunei Darussalam yang juga makmur ternyata “hanya mampu” membuat sebuah garis tipis saja di pantai utaranya. Bagaimana dengan negara2 ASEAN lainnya?? Secara umum tidak beda jauh,  kota Bangkok yang menyatu dengan kota Thon Buri membuat sebuah titik terang yang besar yang sepertinya mempunyai tentakel seperti gurita. Di Filipina, Manila-Quezon City juga terlihat cukup terang pada malam hari dari luar angkasa.

Yah begitulah….. saya jadi ingat instruksi pemerintah (atau PLN?) untuk menghemat listrik dari pukul 17.00-22.00 , meskipun penghematan tentu saja merupakan hal yang baik, namun saya heran, lha wong nggak berhemat saja sudah gelap gulita begitu kalau dilihat dari luar angkasa apalagi disuruh berhemat wah nggak terbayang gelapnya negeri kita. Tapi oke deh, walaupun kita ingin berhemat tapi tentu saja penghematan itu jangan sampai mengurangi kualitas hidup kita, bagaimana, setuju??

(Photos courtesy of NASA)

Dapat Buku Lagi….!!

Wah….setelah kira2 sebulan yang lalu aku mendapat kiriman 2 buah buku dari seorang rekan blogger, kini aku mendapatkan lagi 4 buah buku dari rekan blogger yang ini. Walaupun di blog tersebut aku hanya menjadi juara ke-7 dalam banyaknya memberi komen, tetapi aku masih dihargai dengan berhak mendapatkan 4 buah buku. Ya, postingan ini dibuat sebagai dedikasi untuk rekan blogger yang telah memberikan buku tersebut dan o iya, postingan ini bukan pesanan “pesan sponsor” lho, tetapi ini murni dari hati nurani saya yang terdalam **halaaah**. Rekan blogger kita ini secara cerdas ternyata cukup memahami kekurangan-kekurangan saya, karena yang dikirimkannya kepada saya adalah 3 buah buku mengenai kumpulan sajak dan sebuah buku mengenai ESQ. Wah cocok sekali tuh karena memang saya masih harus dibenahi dalam mengapresiasi karya sastra dan juga ehm…ehm…. EQ dan SQ saya juga masih tiarap, jadi harus ditinggikan sedikit. Hehehehe…….

KUMPULAN SAJAK

Sebelumnya (sekali lagi) karena saya bukan ahli sastra dan sebenarnya bukan orang yang benar-benar penikmat sastra (walaupun kini tengah mencoba dengan keras mengapresiasi sastra) maka saya mohon maaf jika kualitas artikel saya ini kurang memuaskan banyak fihak. Yah, dimaklumi saja karena fikiran dalam tulisan2 saya yang biasanya sudah terprogram untuk membahas masalah2 yang sedikit berbau sains kini sedang dilatih untuk menulis dalam rangka pengapresiasian terhadap karya sastra.

Tiga buah buku kumpulan puisi yang masing-masing diberikan kepada saya Taman Banjarbaru, Antologi Puisi: Kolaborasi Nusantara dari Banjarbaru, dan juga sebuah puisi dalam Bahasa Perancis Banjar (bukan hanya puisi2nya tetapi seluruh buku tersebut semuanya ditulis dalam Bahasa Banjar) yang judulnya adalah Kaduluran. Hmm… Kaduluran itu artinya apa ya?? Persaudaraan?? Meskipun judulnya saja sudah harus meraba-raba, tetapi isinya banyak juga yang cukup banyak dimengerti.

Sebelumnya persepsi saya terhadap karya-karya sastra berupa puisi adalah sekumpulan kalimat-kalimat yang penuh gaya bahasa terutama personifikasi, yang berima (mempunyai akhiran yang sama), yang mengartikannya kadang2 harus memakai hati (karena kalau mengartikannya hanya pakai ‘otak’ suka tidak ketemu atau terkadang kurang masuk di akal dalam realita keseharian) dan juga menurut saya kebanyakan puisi adalah berupa renungan baik renungan mengenai cinta, renungan mengenai keagungan alam dan penciptanya, renungan mengenai perbuatan seorang dan sebagainya **halaah**. Ada juga pernah bertemu satu dua puisi yang mencoba dibungkus dengan sedikit aroma humor walaupun bagi saya susah tertawanya jikalau humor dibuat bungkusan gorengan puisi. :mrgreen:

Yah, saya belum bisa bercerita banyak tentang buku2 yang diberikan oleh pak EWA ini karena selain saya belum lengkap membacanya (baru puisi2 yang kelihatannya menarik yang baru saya baca), juga bagi saya membutuhkan waktu untuk mengerti dan mengapresiasi apa yang tersirat dalam bait2 sebuah karya puisi. Namun ada satu hal yang sedikit mengejutkan saya yaitu di buku yang berjudul “Antologi Puisi:……..…” di situ ada beberapa puisi yang dicetak secara aneh, juga pada buku “Taman Banjarbaru” pada puisi berjudul “Puisi Pada Tanah Kering” (halaman 169) terdapat puisi yang dicetak aneh dan unik. Saya kira semula adalah salah cetak, tetapi setelah saya baca lagi ternyata sepertinya memang disengaja. Saya baru tahu ternyata puisi zaman sekarang bukan hanya untuk enak didengar dan teduh di hati namun juga agar “enak” dan “asik” untuk dibaca sehingga puisi tersebut harus mempunyai layout dan tipografi yang unik. Atau adakah maksud lain dari tipografi yang unik tersebut??? Bagaimana Pak EWA?

ESQ

Nah, buku yang keempat yang diberikan kepada saya berjudul “Nyaman Memahami ESQ” yang disusun sendiri oleh Pak EWA. Nah, perihal seperti ini masih dapat saya tanggapi dengan lebih baik, Insha Allah,  walaupun mungkin EQ dan SQ saya masih terbilang tiarap. Saya sudah membaca lumayan banyak (walau belum semua) mengenai pengembangan2 EQ dan SQ, dan juga mendapatkan banyak gambaran mengenai orang yang mempunyai EQ dan SQ yang “tinggi” dari buku ini. Namun saya masih punya beberapa banyak pertanyaan yang masih membuat saya penasaran:

  • Sebenarnya orang yang EQ-nya “tinggi” itu yang seperti apa? Apakah orang yang sangat sabar sekali? Ataukah orang yang bertindak sangat lambat karena selalu memikirkan segala hal terlalu hati2 dan tidak mau terlihat emosional? Atau…. orang yang tidak punya “emosi” seperti jarang marah namun juga jarang tertawa juga atau jarang menangis, dan sebagainya. Jadi emosi di sini, emosi yang bagaimana yang harus dikendalikan?
  • Juga dengan “SQ” yang baik itu seperti apa? Apakah orang yang banyak “beramal” yang SQ-nya lebih baik? Apakah orang yang blognya lebih banyak berisi artikel2 spiritual SQ-nya lebih tinggi daripada orang2 yang blognya lebih banyak berisi artikel2 ilmiah? Apakah SQ juga diasosiasikan dengan agama2 yang terorganisir seperti misalnya: Islam, Kristen, dsb. Andaikan iya, apakah standard SQ di tiap2 agama berbeda?? Apakah hubungan manusia dengan Tuhannya tidak termasuk dalam SQ dan hanya hubungan antar manusia saja yang termasuk dalam SQ? Lantas apakah SQ ini SANGAT berperan dalam kesuksesan karir seseorang?? Lantas bagaimana dengan orang2 yang ateis dan agnostik apakah SQ mereka lebih rendah daripada yang “beragama”? Dan, ini dia, apakah para da’i yang berpoligami dengan alasan dangkal: “daripada zinah” adalah orang2 yang SQ-nya lebih tinggi dari kita2 ini yang hanya bisa mendengarkan ceramahnya??
  • Akhir2 ini banyak yang latah berasumsi bahwa EQ lebih penting dalam IQ dalam meniti karir walaupun di Internet banyak juga yang mulai meragukan premis ini. Kenapa?? Ya karena bagaimana mungkin dia bisa menjadi CEO, walaupun EQ-nya tinggi tetapi kalau  menterjemahkan instruksi2 sederhana saja dia tidak bisa??? Bagaimana mungkin dia bisa menjadi CEO yang baik, walaupun dia ramah senyum, kalau dia menjawab pertanyaan2 yang agak sulit hanya dengan senyuman karena dia tidak bisa menjawab! Makan deh tuh senyum! Huehehehe…. :mrgreen: Lagipula saya rasa IQ masih lebih “bergengsi” daripada EQ? Nggak percaya?? Coba saja banyak mana yang lebih dongkol, dibilang IQ-nya “jongkok” (rendah) atau EQ-nya “jongkok”? Kalau dibilang IQ-nya jongkok atau “idiot” pasti lebih banyak yang dongkol sedangkan kalau dibilang EQ-nya jongkok dibilang emosian, “Ah! Cuek aja!”, malah banyak yang dengan kalem mengatakan “Habis, sudah bawaannya dari sana, mau gimana lagi??”. Coba, udah ada penelitiannya belum ya, mana yang lebih mudah: “mengendalikan emosi” atau “menaikkan intelegensia”?? Ok lah, jadi kesimpulan menurut saya pribadi, tidak disangsikan lagi bahwa EQ memang penting dalam meniti karir, tetapi lebih penting dari IQ? Hmmm…. sepertinya harus lebih banyak dibuktikan lagi.

Nah, mudah2an Pak EWA sebagai penulis buku: “Nyaman Memahami ESQ” sudi menjawab pertanyaan saya yang seabreg-abreg dan awur-awuran itu. :mrgreen: Atau mungkin Prof. Sjafri bisa juga membantu saya dalam menjawab pertanyaan2 di atas?? Atau yang lainnya juga boleh dong, so pasti, karena semakin banyak jawaban tentu semakin pusing saya akan semakin banyak alternatif jawaban yang mencerahkan. Bukankah begitu? 😀