Perjalanan Luar Angkasa yang Mandiri

Sebuah acara di saluran televisi National Geographic Channel tentang perjalanan masa depan yang dicanangkan oleh NASA ke planet Mars (planet tetangga kita di tata surya), yang aku lupa nama acaranya apa, membuat aku berfikir dan ingin menuangkan fikiranku ke dalam tulisan ini. Aku yang memang dari kecil, sejak tahun 1970an, selalu membayangkan perjalanan ruang angkasa di tahun 2000an kelak, kini hanya tetap berangan2 saja, karena ternyata teknologi manusia saat ini belum mampu membawa manusia ke planet terdekatpun dari Bumi. Dari sinilah lahir ide tulisan ini, aku coba membayangkan bagaimana rumitnya perjalanan ruang angkasa ini walaupun kerumitan dari perjalanan angkasa ini adalah mungkin kerumitan yang paling simpel namun tetap saja ‘kerumitan’ ini masih sangat sulit diatasi oleh teknologi saat ini.

Kerumitan apa yang saya fikirkan? Yang paling dasar adalah tentu kerumitan komunikasi. Seperti yang kita ketahui, perjalanan ruang angkasa saat ini dikontrol dan dimonitor oleh pusat pengendali di Bumi, kalau di AS mungkin seperti di Houston, Texas dan di Rusia mungkin seperti di Baikhonur, Kazakhstan. Pemonitoran dari bumi ini tentu saja penting, sebab jikalau terjadi sesuatu dengan pesawat ruang angkasa yang diawaki oleh astronot, yang tidak bisa diatasi oleh sang astronot, tentu bantuan dari bumi baik berupa bantuan fisik ataupun saran dari para ahli akan sangat membantu sang astronot. Nah, itu jikalau pesawat ruang angkasa (kapsul) berada di dekat2 bumi. Sekarang bagaimana untuk perjalanan jauh?? Sekarang kita bayangkan dulu perjalanan ke Mars dengan teknologi komunikasi tercanggih saat ini. Kita mengetahui jarak Matahari-Mars adalah kira-kira 225 juta kilometer, sedangkan jarak Matahari-Bumi kira2 adalah 150 juta kilometer. Jadi secara (sangat) kasar (sekali), untuk kesederhanaan perhitungan, taruhlah jarak Bumi-Mars adalah 75 juta kilometer. Nah, sekarang andaikan pesawat angkasa di Mars ingin berkomunikasi dengan Bumi dengan menggunakan teknologi komunikasi saat ini, dan karena sinyal radio, termasuk sinyal HP, bergerak dengan kecepatan cahaya (lebih lambat sedikit sebenarnya) yaitu 300.000 kilometer per detik, maka sinyal radio baru akan sampai di bumi setelah:

\frac{75.000.000\:km}{300.000\frac{km}{detik}} = 250 detik atau sama dengan 4 menit 10 detik.

Apa artinya? Itu berarti kalau kita berseru “Halo” lewat komunikasi radio (atau handphone misalnya) dari planet Mars, maka kata “Halo” kita baru terdengar di Bumi 4 menit 10 detik kemudian!

Sekarang bagaimana jikalau pergi ke planet yang terjauh di tata surya yaitu: Neptunus! (Pluto sejak 2006 tidak dianggap sebagai planet lagi dan sejak itu gelar terhormat planet terjauh di tata surya jatuh pada planet Neptunus.) Jarak Matahari-Neptunus adalah 4,5 milyar kilometer, jadi (lagi2) secara kasar (sekali) jarak antara Bumi-Neptunus adalah 4,5 milyar kilometer dikurang 150 juta kilometer = 4,35 milyar kilometer. Nah, sekarang berapa lama sinyal dari planet Neptunus untuk sampai ke Bumi?

\frac{4,350,000,000\:km}{300.000\frac{km}{detik}} = 14.500 detik atau lebih dari 4 jam! (Tepatnya: 4 jam, 1 menit, 40 detik). Jadi kalau kita mengatakan “Halo” dari Neptunus maka suara “halo” kita baru terdengar di Bumi sekitar 4 jam kemudian!! Nah, bagaimana sekarang dengan tempat2 di luar tata surya kita yang jauh lebih jauh dibandingkan planet Neptunus, yang pengukurannya sudah memakai satuan “tahun cahaya” dan bukannya kilometer lagi?? Jikalau misalnya sebuah tempat yang jauhnya 100 tahun cahaya dari bumi, maka jikalau kita mengatakan “Halo”, maka suara “Halo” kita baru terdengar di bumi 100 tahun kemudian!! Mungkin pada saat suara “Halo”nya diterima di Bumi, orang yang mengatakan “Halo”nya sudah mampus duluan! :mrgreen: Nah, dengan begini tentu komunikasi radio (termasuk audiovisual tentu saja) menjadi sangat tidak efisien. Nah, sekarang apa yang perlu dilakukan??

Seratus tahun cahaya dalam skala ruang angkasa sebenarnya adalah skala yang sangat kecil. Galaksi kita saja, galaksi Bima Sakti (Milky Way) mempunyai diameter 100.000 tahun cahaya, dan di luar sana terdapat galaksi-galaksi lain yang tidak terhitung jumlahnya. Sedangkan galaksi Andromeda, galaksi yang terdekat dengan kita berjarak kira2 2.500.000 tahun cahaya! Jadi jikalau di galaksi Andromeda ada BTS dan bisa henpon2an dengan bumi, maka suara “halo” kita baru bisa diterima dan didengar di Bumi 2.500.000 tahun kemudian setelah kita ngomong “halo”! Karena menurut mbah Einstein, tidak ada satu bendapun yang dapat melaju melebihi kecepatan cahaya maka kemungkinan besar masalah keseulitan komunikasi dengan jarak yang sangat  sangat sangat jauh nampaknya akan menjadi masalah yang abadi. Maka banyak ilmuwan mengatakan mungkin perjalanan ruang angkasa di masa mendatang memang harus mandiri dan tidak bisa dikontrol dari Bumi karena hampir mustahil mengontrol perjalanan ruang angkasa yang sangat jauh dari Bumi.

Pilihan pertama untuk memperlancar perjalanan ruang angkasa yang jauh adalah, manusia harus membuat koloni di planet2 lain yang rute perjalanannya akan dilalui. Namun tentu saja membuat koloni di planet2 lain tidak semudah apa yang diucapkan. Pilihan kedua, manusia berharap di luar angkasa menemukan wormhole, ini bukan lubang cacing di tanah, tetapi jalan pintas menembus dimensi ruang dan waktu yang dapat mempersingkat perjalanan ruang angkasa secara dramatis! Namun sayang sampai saat ini keberadaan wormhole masih hanya sekedar hipotesis saja. Pilihan ketiga adalah pilihan yang paling logis untuk saat ini yaitu kapal ruang angkasa harus mandiri! Mandiri bagaimana?? Minimal paling sedikit apabila terjadi masalah baik teknis maupun non-teknis yang terjadi di pesawat angkasa itu harus dapat diatasi oleh para krew pesawat tersebut sendiri tanpa bantuan dari Bumi sama sekali.

Sedikit detailnya adalah begini: Pesawat ruang angkasa tersebut harus membawa pakar dari berbagai bidang ilmu mulai dari dokter (berbagai macam dokter spesialis tentu saja!), insinyur (berbagai macam insinyur, minimal elektro dan mesin), psikolog, dan sebagainya. Pesawat tersebut juga harus bisa berfungsi sebagai rumah sakit yang selengkap yang terbaik yang ada di Bumi, karena jikalau ada krew yang jatuh sakit dan misalnya perlu operasi dengan peralatan canggih maka pesawat tersebut tidak perlu kembali ke bumi. Jikalau ada suku cadang pesawat yang rusak, maka harus selalu tersedia suku cadangnya. Caranya bisa dengan membawa suku cadang sebanyak2nya untuk setiap bagian yang tentu saja tidak praktis, atau suku cadang harus bisa dibuat di kapal tersebut! Nah lho! Juga yang tak kalah penting tentu adalah makanan! Makanan harus juga bisa dihasilkan di atas pesawat angkasa karena makanan tak mungkin dibawa banyak dari bumi karena tentu dapat menjadi kadaluwarsa. Juga oksigen yang cukup harus dapat di-generate di atas pesawat angkasa atau disirkulasi di atas pesawat ruang angkasa (yang ini mungkin tidak terlalu masalah apalagi dengan teknologi yang akan datang). Dan yang senang science fiction, tentu berharap pesawat angkasa harus dapat mempertahankan dirinya sendiri kalau diserang alien tanpa bantuan dari bumi! Untuk urusan membawa segudang pakar dari berbagai macam ilmu tentu di masa mendatang bisa diharapkan untuk digantikan oleh AI (Artificial Intelligence), di mana seluruh database dan knowledge-base di berbagai bidang ilmu dapat dimasukkan ke dalam superkomputer pesawat angkasa, walaupun tentu harus ada beberapa orang pakar juga yang harus ikut dalam pesawat (pertanyaannya: Percayakah anda bahwa AI di masa mendatang bisa menggantikan total peran kepakaran manusia?). Menariknya AI juga diharapkan bisa juga diharapkan untuk “menghibur” manusia, hiburan tersebut dapat berupa hologram hidup dalam bentuk orang-orang yg dicintai (keluarga) para krew astronot yang mereka tinggalkan di bumi yang dapat diajak bercakap2 seolah2 mereka bercakap2 dengan anggota keluarga mereka sendiri. Hologram di masa mendatang juga diharapkan dapat menampilkan suasana di Bumi di atas pesawat ruang angkasa mereka sehingga para krew secara psikologis dapat menjadi lebih nyaman karena lebih merasa seperti di rumah sendiri.

Yah, begitulah sekelumit pesawat ruang angkasa yang harus mandiri jikalau ingin menempuh jarak sangat jauh di ruang angkasa. Pendek kata, pesawat angkasa tersebut harus dapat menjadi sebuah kota mandiri di ruang angkasa, atau bahkan harus menjadi “planet” tersendiri dan blogsfer biosfer tersendiri. Dengan begini aku bisa mengerti kerumitan perjalanan ruang angkasa yang sangat jauh dan sadar kenapa perjalanan ruang angkasa (yang jauh) masih tetap menjadi angan2 di masa kini………….

Iklan

25 responses to “Perjalanan Luar Angkasa yang Mandiri

  1. Pertamax ya???????????????????? 😀

  2. Wah informasi yang menarik nih Pak Yari. Saya sampe ikut-ikutan ngebayangin perjalanan ruang angkasa.

    “Halo….” Kedengeran engga Pak? Kalu belum kedengeran, berarti mungkin akan sampai terdengar 100 tahun kemudian. :mrgreen:

    ==============================
    Oh, iya. Saya jadi inget ke kisah “mungkin fiktif” manusia yang sudah menginjakkan kaki di bulan (dengan kecanggihan teknologi yang katanya masih primitif itu lho). Setelah baca artikel ini, tigkat kepercayaan saya terhadap cerita fiktif tadi makin berkurang…. (jadi tidak percaya)
    ==============================

    Wah, kapan ya perjalanan ruang angkasa dari Bumi bisa mandiri…? 1000 tahun lagi kah? Kita tunggu aja… :mrgreen:

  3. Yah, td pagi aku ke sini postingan ini blm ada, jadi ga jadi pertamax lagi deh!!

    Biarin deh. Kalo misalnya di masa datang dikirimkan hanya robot ke ruang angkasa gimana ya mas yari?? tapi susah jg kalo robotnya eror atau rusak ya yg benerin siapa?? Moso robot makan benerin robot! hehehe…

  4. masih membayangkan keluar angkasa itu gimana yah?
    masih teringat teori konspirasi yang dilontarkan terkait perjalanan ke luar angkasa itu akal2an NASA.

  5. ….jalan pintas menembus dimensi ruang dan waktu yang dapat mempersingkat perjalanan ruang angkasa ….

    Kemungkinan ini yang paling masuk akal. Atau, barangkali kita baru ‘menemukan; kecepatan tercepat itu kecepatan cahaya. Kira-kira seperti ditulis Agus Mustapa, ala phantom. Mana tahu nanti ilmu menemukan lebih dari itu. Siapa dulu di era Plato membayangkan manusia bisa bikin stasiun di angkasa atau sekadar berintenria.

    Bisa jadi, stasiun angkasa bertebara, manusia hidup di koloni-koloni angkasa —seperti di film-film fiksi ilmiah, dan itu menjadi jembatan ke berbagai planet, bimaksakti, yang milyaran itu. Kalau mengkayal yang begini, biasanya saya langsung alihkan, ngak ada batasnya.

    Sebagai pengetahuan tentu bagus. Tapi, misalnya, kepercyaan saya manusi Amrik yang sampai di bulan aja dah luntur, lantaran bau-bau dusta lebih dominan. Tapi, yang jelas para antariksawan itu selalu mencari dan mencari. Mereka bisa bikin kesepakatan, seperti di Praha tahun lalu, memakzulkan Pluto —terlalu kecil sih.

    Ata, mana tahu tubuh manusia nanti bisa diubah menjadi hologram (mBoh apa tepat yang beginian), ya hanya perlu transporder untuk ‘pindah tempat’ seperti pada games-games. Wah, kalau begitu bisa asyik tu tamasya ke jagat raya.

    Oh ya Mas Yari, buku-buku terakhir yang saya baca, alam molekuler di tubuh kita ngak kalah serunya. Misal kalau kita makan, itu prosesnya sangat rumit untuk sampai ke lambung, apalagi ketika makanan itu diproses menjadi intisari, duh … tak kalah rumit dari ke dunia luar bebas, angkasa.

    Kalau boleh minta, yang beginia dibahas juga dong, bira lebih cepat ngertinya. Kalau Pak satpam — e salah lagi— yang nulis, rada cepat tu dimengerti. Selamat ke alam macro untuk terus ke micro.

    Bagaimana menurut sampeyan?

  6. Sy pikir sekarang (& di masa mendatang) eksplorasi2 ke luar angkasa, Mars misalnya, akan dilakukan oleh robot2 duluan. Kalo data2 yg terkumpul menyatakan cukup aman/memungkinkan tuk didatangi manusia, baru dikirim astronot. Itupun mungkin kalo memang menginginkan kolonisasi.
    Kalo seandainya mengirim manusia, pengennya sih pake spacecraft yang seperti di Star Trek itu. Soalnya spertinya mustahil melakukan perjalanan luar angkasa berawak tanpa teknologi faster-than-light propulsion, termasuk warp drive. Kalo gak, biarpun makanan misalnya gak terbatas, astronotnya keburu mati tua dalam pesawat karena gak sampai2 saking jauhnya. Wahahaha…! 😆
    Soal AI tuk menghibur para awak spacecraft, kok lagi2 sy inget ruang holodeck yg di pesawat2 ruang agkasa di Star Trek ya?? :mrgreen: 😉

  7. Wah, komunikasinya seratus tahuan lagiii????
    Hehehehe, mangnya belum bisa kaya di film ya, komunikasinya lewat komputer? *Maaf OOT, bizzz penasaran*

  8. perjalanan ruang angkasa yang menakjubkan seandainya itu betul2 terjadi, ndak kayak yang di science fiction ya bung yari. begitu jauhnya perjalanan sampai utk kata “halo” saja harus memakan waktu ratusan tahun. tapi kalo penemuan2 di bidang komunikasi terus berkembang pesat agaknya akan lebih mudah utk memantau misi perjalanan ke luar angkasa tuh bung.
    BTW jadi teringat cerpennya ki panji kusmin. pesawat sputnik rusia tabrakan sama buraknya rasulullah dan Jibril yang sama2 ancur. *halah*

  9. @mathematicse

    Wah…. “Halo”nya sampai sekarang masih belum kedengeran tuh… tapi udah kebaca! :mrgreen:
    ===================
    Hahahaha….. makin menyangsikannya ya? Yah… kalau saya sih masih antara percaya dan tidak percaya… pokoknya kalau dalam waktu dekat ini NASA belum mendaratkan manusianya lagi di bulan… ya berarti unsur ketidakpercayaannya buat saya tetap signifikan (baca:tinggi). 😀
    ===================
    Yuk…..mari sama2 kita tunggu! :mrgreen:

    @abintoro

    Nah…. justru itu pertanyaannya bin, apakah robot yang notabene termasuk AI (Artificial Intelligence) di masa mendatang benar2 bisa menggantikan manusia?? 😀

    @aRuL

    nah, itu dia RuL masih banyak yang menyangsikan Amerika pernah mendaratkan kaki di bulan seperti yang pernah saya tulis di sini. 🙂

    @Ersis W. Abbas

    Kalau berkhayal sampai ngalor-ngidul ya sebenarnya sah2 aja ya, mungkin bisa membuat fikiran kreatif asal jangan terlalu banyak saja berkhayalnya nanti malah ngga produktif. :mrgreen: Yah, semuanya tidak tertutup kemungkinan, manusia memang tengah mencari2 apakah ada benda yg bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya walaupun selama ini hasilnya masih nihil dan kini manusia tengah menjelajahi alam subpartikel yang dicurigai ada beberapa macam subpartikel dapat bergerak sedikit melebihi kecepatan cahaya. Manusia saat ini juga telah dapat memperlambat laju kecepatan cahaya tetapi tetap tidak bisa mempercepat kecepatannya.

    Oh iya, Pak Ersis tentu dunia molekul juga sangat menarik bagi saya. Sayapun juga suka sekali membaca2 artikel tentang biokimia. Keajaiban molekul-molekul yang superkecil itu yang sanggup membuat berbagai macam sifat-sifat fisik suatu benda sangat menggugah kekaguman saya akan molekul2 yang kecil itu (dan sekaligus penciptanya Yang Maha Agung!). Seluruh benda fisik yang ada di alam raya ini tak lepas dari peran molekul2 kecil ini baik benda hidup maupun benda mati. Yah, suatu waktu nanti akan saya tulis juga mengenai molekul2 kecil ini tapi harus cari topik yang tepat dulu agar kesannya nggak maksa gitu! Huehehehe…. Btw, ini bukan PR juga kan? :mrgreen:

    @jensen99

    Wah rupanya situ seorang Trekkie ya? 😀
    Betul…. mungkin robot bisa dijadikan pionir untuk menjelajahi frontier yang masih baru. Namun masalahnya adalah seberapa besar robot dapat menggantikan peran manusia di akan datang? Dan juga dengan problem komunikasi seperti di atas, tentu sang robot juga harus diuji kemandiriannya juga di ruang angkasa, bukan manusia saja tetapi robot juga tentu harus diuji kemandiriannya. Itu karena jikalau si robot gagal mempertahankan misinya atau pesawatnya hancur atau rusak dan si robot tidak berdaya maka jadinya proyek atau misinya tentu akan jadi sia2, sesuatu yang juga tidak kita inginkan bukan?? 🙂

    @adi.nugroho

    terims juga atas informasi linknya ya? 🙂

    @Hanna yang lagi hiatus

    Walaupun pakai komputer mbak, tetap saja sinyalnya nggak bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya, jadi bukan masalah pakai komputer apa nggak mbak. 😀 Tetapi kalau di film, ya namanya saja film, segalanya bisa terjadi kan di film sesuai dengan keinginan sutradara atau yg punya skenario film! :mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya

    Sebelum ada inovasi2 di bidang komunikasi tentu harus ada juga inovasi2 di bidang sains dasar dulu, seperti misalnya ada nggak benda yang bisa bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya, mungkin kalau ada bisa bisa dimanfaatkan untuk keperluan telekomunikasi.
    Huehehehe…. ya pak, namanya aja cerpen, seperti film, semuanya bisa dibuat mungkin. :mrgreen:

  10. Salam dari Perhimpunan Mahasiswa Bandung === numpang lewat 🙂

  11. Wah rupanya situ seorang Trekkie ya?

    Duh, bang, sy blum selevel itu… 😆 cuma suka aja kok, hehe…

  12. hm…baca ceritanya sambil bayangin film startrek nih….jadi menjelajah angkasa pake kapal induk gt 😀

    *keren omz postingannya…bacanya enak nggak njelimet..walo materinya njelimet…hehehehe*

  13. Jadi ingat film AI .. yang berupa anak kecil .. mengharukan hik hik hik

  14. AI menggantikan kepakaran manusia? Percaya.
    Masalah lainnya (dari acara Naked Science episode Spacemen) :

    1. Gravitasi, manusia dan mahluk lainnya biasa hidup dengan gravitasi. Telur yang dicoba ditetaskan di medan tanpa gravitasi ternyata tidak menetas satupun, bayi tikus yang dibuahi dan dilahirkan dalam medan tanpa gravitasi ternyata merespon aneh saat kembali ke bumi. Astronot Rusia yang selama 3 tahun (apa 3 bulan ya) tinggal di stasiun ruang angkasa ternyata gak mampu berdiri setelah mendarat di bumi. Lebih dari itu, tulang jadi keropos dan otot menciut. Apa yang terjad kalau itu adalah janin manusia?

    Solusinya katanya mesin sentrifugal, karena kita belum menemukan alat sejenis anti gravitasi (kalo dibalik jadi gravity maker). Atau katanya sekalian rekayasa genetik agar umur para spacemen menjadi sekitar 500-600 tahun.

    2. Radiasi kosmik, pada penerbangan Apollo … para astronotnya menemukan kilatan2 aneh di mata mereka. Dilaporkan dan diteliti kemudian disimpulkan tidak ada masalah. Belakangan generasi astronot lainnya melaporkan hal yang sama, dan ternyata ditemukan bahwa itu adalah radiasi kosmik yang menerjang retina dan diinterpretasikan otak sebagai cahaya. Akibatnya, 1 dari 6 astronot mengalami katarak dan berlanjut buta permanen. Rasio yg jauh lebih tinggi drpd resiko katarak normal di muka bumi. Kalau mata bisa buta, apa yang bisa terjadi pada otak? Makanya NASA men-suspend penerbangan angkasa berawak sampai 2010 nanti sampai bisa ditemukan materi penahan radiasi yang lebih kuat.

    3. Psikologi. Di bumi kita bisa berinteraksi dengan banyak orang. Penerbangan antar galaksi sampai memerlukan beberapa generasi bisa merubah karakter manusia karena pilihan interaksi yang terbatas dengan orang-orang yang sama. Sekaligus meningkatkan potensi konflik.

    Belum ada solusinya, kecuali beberapa alternatif.

    4. Mesin pendorong (propulsi) pengganti roket. Selama wormhole belum bisa diciptakan (katanya perlu energi beribu2 matahari yang 100% digunakan untuk bisa membuka wormhole) atau travelling linier A to B secepat cahaya (katanya tidak mungkin karena massa benda termasuk manusia yang menjalaninya akan menjadi tak terhingga) maka perjalanan linier beratus atau mungkin beribu tahun tetap harus dijalani.
    Bahan bakar apa yang re-usable selama masa sekian lama.

    Saya setuju, alternatif paling masuk akal dan bertahap emang bikin koloni sebagai titik2 loncatan. Kapan ya terraforming ala Total Recall bisa terjadi?

  15. Sori ketinggalan jadi agak janggal. Yang rekayasa genetik soal usia itu agar para penjelajah angkasa nggak usah beranak pinak selama menjalani petualangannya. Gila nggak? Ah… nggak juga. Gila itu kan relatif dan tetanggaan sama jenius. 😀

  16. @PMB Bandung

    Silahkan…..silahkan….. 🙂

    @jensen99

    Hehehe… menyukai sudah merupakan satu langkah menuju trekkie lho…. 🙂

    @rovich

    Wah… star trek rupanya terkenal ya? 😀 Ok deh, thanks ya! 🙂

    @erander

    Saya udah lupa2 inget gimana ceritanya AI, yg inget memang sih cerita mengenai anak kecil… :mrgreen:

    @Dhan

    Ya…ya… gravitasi nol dalam jangka waktu yang panjang juga dapat mempengaruhi fisiologis tubuh. Sebenarnya gravitasi dapat ditimbulkan secara alami jikalau pesawat sedang melakukan percepatan (akselerasi), namun tentu pesawat tak mungkin terus menerus melakukan akselerasi.

    Radiasi kosmik memang juga masalah, namun radiasi kosmis mungkin masalah yang sedikit mudah untuk diatasi terutama di masa yang akan datang. Asal tidak ada material yang tembus pandang saja dan diharapkan di masa mendatang ditemukan material2 yg dapat lebih efektif memblok radiasi, atau mungkin dapat dilapisi dengan medan energi, dsb.

    Psikologi juga memang, untuk itu mungkin AI dapat menampilkan pemandangan Bumi dan juga dapat menampilkan hologram “hidup” dari AI berupa orang2 yg mereka cintai di Bumi yang bisa diajak bercakap2. Juga psikolog berupa AI yang interaktif yang berisi seluruh database dan knowledge-base. Nah pertanyaannya apakah kita percaya AI dapat sepenuhnya mengganti peran kepakaran manusia seutuhnya??

    Tetapi apapun kesulitan2 yang dihadapi perjalanan ruang angkasa (yang jauh), pesawat luar angkasa tersebut harus mandiri dan tidak bisa tergantung dari Bumi, terutama ya karena kendala komunikasi tadi (dan juga teori relativitas einstein yg mengatakan tidak ada benda yg dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya). 🙂

  17. saya agak beda nih, karena yang kepikir teknologi kecepatan yang dipakai Nabi Muhmmad saw untuk isra miraj…. *duh ternyata memang benar ilmu manusia ini cuma secuil*

    Dan betapa besar spacecraft ini nantinya, serta bahan bakar apa yang layak digunakan sebab jika membawa bahan bakar fosil bisa dibayangkan berapa banyak yang harus diserap untuk kebutuhan ini sedangkan di Bumi juga masih kekurangan…

    Banyak yang terbayang dibenak saya, berhubung waktu sedang tidak bersahabat…. sekian dulu aja deh…

    ______________________________

    Yari NK replies:

    Ya..ya… ilmu Allah yang dikuasai manusia masih sedikit, untuk itu kita “dijawibkan” untuk belajar dan belajar terus, Insha Allah kalau kita niatnya ibadah dalam belajar, kita akan mendapatkan pahala dan ilmu sekaligus. Bukankah begitu? 🙂

    Yah, mudah2an pada saat manusia nanti bisa membuat pesawat ruang angkasa yang besar tersebut sudah tidak ada lagi yang kekurangan! Insha Allah.

  18. Ceritanya pak Yari ini tepat sekali seperti yang difilmkan oleh film science yang judulnya “sunshine” kisahnya tentang perjalanan sekelompok kru untuk “menghidupkan matahari” konon matahari energinya sudah redup dan tidak bisa menyinari bumi lagi.

    Di dalam pesawatnya terdapat semua ahli, bahkan pesawat itu sendiri bisa memproduksi air, makanan ( lewat tumbuhan di dalam pesawat itu sendiri ) dan berbagai fasilitas lengkap lainya.

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Wah…. saya belum nonton tuh….. sepertinya asik ya….. nanti deh saya tonton dulu…. terims ya atas infonya! 😀

  19. sepokat!!! saya juga yakin entah berapa belas, berapa puluh, berapa ratus atau berapa ribu taon ke depan berkelana di luar angkasa bakal jadihal yang biasa…

    ________________________________________

    Yari NK replies:

    Wah…. “sepokat” tuh bukannya berarti “sepatu” dalam bahasa prokem tahun 1980an? :mrgreen:

  20. Jadi teringat planet Erra/Terra. Bangsa Lemuria kan ada di sana. Huehehehe… Sudah semaju apakah mereka? Andai saja Transprtasi luar angkasa udah kayak transportasi darat!!

    Bagus Om artikelnya!

    ______________________________________________________

    Yari NK replies:

    Terims atas pujiannya. Memang sih dari kecil saya juga sudah membayangkan pada saat saya dewasa nanti perjalanan ruang angkasa sudah menjadi hal yang biasa, tapi kenyataannya sekarang…. yah harus puas dengan simulasi perjalanan ruang angkasa saja di pc. Huehehehe…. 😀

  21. umm…lalu gimana ya rencana planet mars mo dijadiin tempat “kedua”nya orang bumi? 😀

    ________________________________________

    Yari NK replies:

    Wah… itu sih masih lama…… sebelum planet Mars bisa dihuni oleh orang Bumi….. buanyaaaaaaaak sekali hal2 yang perlu diteliti sebelumnya, belum lagi termasuk pengembangan teknologinya, wahana tak berawak saja sekarang masih banyak yang hilang di planet Mars. Pokoknya ngga segampang yg ada di film2 Hollywood. 😀

  22. wah terhenyak juga ya, lho yg jalan-jalan di bulan siapa?

    ______________________________________________

    Yari NK replies:

    Bagi yang nggak percaya, NASA telah mendaratkan manusia di bulan, astronot yang jalan2 itu sebenarnya (katanya) berada di sebuah studio yang besar yang latar belakangnya dibuat mirip seperti di bulan. 🙂

  23. hehehehe ^_^

  24. menurut saya perjalan an lebih baik di kombinasikan teknologi kryogenix dengan dunia virtual plus Ai dan robot pengganti tubuh manusia . dengan demikian manusi abisa aktif pikirannya selam apenerbangan , tetapi tubunya tidak menjadi tua dan manusia bisa beroperasi dengan tubuh robot pengganti , keren ga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s