Dapat Buku Lagi….!!

Wah….setelah kira2 sebulan yang lalu aku mendapat kiriman 2 buah buku dari seorang rekan blogger, kini aku mendapatkan lagi 4 buah buku dari rekan blogger yang ini. Walaupun di blog tersebut aku hanya menjadi juara ke-7 dalam banyaknya memberi komen, tetapi aku masih dihargai dengan berhak mendapatkan 4 buah buku. Ya, postingan ini dibuat sebagai dedikasi untuk rekan blogger yang telah memberikan buku tersebut dan o iya, postingan ini bukan pesanan “pesan sponsor” lho, tetapi ini murni dari hati nurani saya yang terdalam **halaaah**. Rekan blogger kita ini secara cerdas ternyata cukup memahami kekurangan-kekurangan saya, karena yang dikirimkannya kepada saya adalah 3 buah buku mengenai kumpulan sajak dan sebuah buku mengenai ESQ. Wah cocok sekali tuh karena memang saya masih harus dibenahi dalam mengapresiasi karya sastra dan juga ehm…ehm…. EQ dan SQ saya juga masih tiarap, jadi harus ditinggikan sedikit. Hehehehe…….

KUMPULAN SAJAK

Sebelumnya (sekali lagi) karena saya bukan ahli sastra dan sebenarnya bukan orang yang benar-benar penikmat sastra (walaupun kini tengah mencoba dengan keras mengapresiasi sastra) maka saya mohon maaf jika kualitas artikel saya ini kurang memuaskan banyak fihak. Yah, dimaklumi saja karena fikiran dalam tulisan2 saya yang biasanya sudah terprogram untuk membahas masalah2 yang sedikit berbau sains kini sedang dilatih untuk menulis dalam rangka pengapresiasian terhadap karya sastra.

Tiga buah buku kumpulan puisi yang masing-masing diberikan kepada saya Taman Banjarbaru, Antologi Puisi: Kolaborasi Nusantara dari Banjarbaru, dan juga sebuah puisi dalam Bahasa Perancis Banjar (bukan hanya puisi2nya tetapi seluruh buku tersebut semuanya ditulis dalam Bahasa Banjar) yang judulnya adalah Kaduluran. Hmm… Kaduluran itu artinya apa ya?? Persaudaraan?? Meskipun judulnya saja sudah harus meraba-raba, tetapi isinya banyak juga yang cukup banyak dimengerti.

Sebelumnya persepsi saya terhadap karya-karya sastra berupa puisi adalah sekumpulan kalimat-kalimat yang penuh gaya bahasa terutama personifikasi, yang berima (mempunyai akhiran yang sama), yang mengartikannya kadang2 harus memakai hati (karena kalau mengartikannya hanya pakai ‘otak’ suka tidak ketemu atau terkadang kurang masuk di akal dalam realita keseharian) dan juga menurut saya kebanyakan puisi adalah berupa renungan baik renungan mengenai cinta, renungan mengenai keagungan alam dan penciptanya, renungan mengenai perbuatan seorang dan sebagainya **halaah**. Ada juga pernah bertemu satu dua puisi yang mencoba dibungkus dengan sedikit aroma humor walaupun bagi saya susah tertawanya jikalau humor dibuat bungkusan gorengan puisi.:mrgreen:

Yah, saya belum bisa bercerita banyak tentang buku2 yang diberikan oleh pak EWA ini karena selain saya belum lengkap membacanya (baru puisi2 yang kelihatannya menarik yang baru saya baca), juga bagi saya membutuhkan waktu untuk mengerti dan mengapresiasi apa yang tersirat dalam bait2 sebuah karya puisi. Namun ada satu hal yang sedikit mengejutkan saya yaitu di buku yang berjudul “Antologi Puisi:……..…” di situ ada beberapa puisi yang dicetak secara aneh, juga pada buku “Taman Banjarbaru” pada puisi berjudul “Puisi Pada Tanah Kering” (halaman 169) terdapat puisi yang dicetak aneh dan unik. Saya kira semula adalah salah cetak, tetapi setelah saya baca lagi ternyata sepertinya memang disengaja. Saya baru tahu ternyata puisi zaman sekarang bukan hanya untuk enak didengar dan teduh di hati namun juga agar “enak” dan “asik” untuk dibaca sehingga puisi tersebut harus mempunyai layout dan tipografi yang unik. Atau adakah maksud lain dari tipografi yang unik tersebut??? Bagaimana Pak EWA?

ESQ

Nah, buku yang keempat yang diberikan kepada saya berjudul “Nyaman Memahami ESQ” yang disusun sendiri oleh Pak EWA. Nah, perihal seperti ini masih dapat saya tanggapi dengan lebih baik, Insha Allah,  walaupun mungkin EQ dan SQ saya masih terbilang tiarap. Saya sudah membaca lumayan banyak (walau belum semua) mengenai pengembangan2 EQ dan SQ, dan juga mendapatkan banyak gambaran mengenai orang yang mempunyai EQ dan SQ yang “tinggi” dari buku ini. Namun saya masih punya beberapa banyak pertanyaan yang masih membuat saya penasaran:

  • Sebenarnya orang yang EQ-nya “tinggi” itu yang seperti apa? Apakah orang yang sangat sabar sekali? Ataukah orang yang bertindak sangat lambat karena selalu memikirkan segala hal terlalu hati2 dan tidak mau terlihat emosional? Atau…. orang yang tidak punya “emosi” seperti jarang marah namun juga jarang tertawa juga atau jarang menangis, dan sebagainya. Jadi emosi di sini, emosi yang bagaimana yang harus dikendalikan?
  • Juga dengan “SQ” yang baik itu seperti apa? Apakah orang yang banyak “beramal” yang SQ-nya lebih baik? Apakah orang yang blognya lebih banyak berisi artikel2 spiritual SQ-nya lebih tinggi daripada orang2 yang blognya lebih banyak berisi artikel2 ilmiah? Apakah SQ juga diasosiasikan dengan agama2 yang terorganisir seperti misalnya: Islam, Kristen, dsb. Andaikan iya, apakah standard SQ di tiap2 agama berbeda?? Apakah hubungan manusia dengan Tuhannya tidak termasuk dalam SQ dan hanya hubungan antar manusia saja yang termasuk dalam SQ? Lantas apakah SQ ini SANGAT berperan dalam kesuksesan karir seseorang?? Lantas bagaimana dengan orang2 yang ateis dan agnostik apakah SQ mereka lebih rendah daripada yang “beragama”? Dan, ini dia, apakah para da’i yang berpoligami dengan alasan dangkal: “daripada zinah” adalah orang2 yang SQ-nya lebih tinggi dari kita2 ini yang hanya bisa mendengarkan ceramahnya??
  • Akhir2 ini banyak yang latah berasumsi bahwa EQ lebih penting dalam IQ dalam meniti karir walaupun di Internet banyak juga yang mulai meragukan premis ini. Kenapa?? Ya karena bagaimana mungkin dia bisa menjadi CEO, walaupun EQ-nya tinggi tetapi kalau  menterjemahkan instruksi2 sederhana saja dia tidak bisa??? Bagaimana mungkin dia bisa menjadi CEO yang baik, walaupun dia ramah senyum, kalau dia menjawab pertanyaan2 yang agak sulit hanya dengan senyuman karena dia tidak bisa menjawab! Makan deh tuh senyum! Huehehehe….:mrgreen: Lagipula saya rasa IQ masih lebih “bergengsi” daripada EQ? Nggak percaya?? Coba saja banyak mana yang lebih dongkol, dibilang IQ-nya “jongkok” (rendah) atau EQ-nya “jongkok”? Kalau dibilang IQ-nya jongkok atau “idiot” pasti lebih banyak yang dongkol sedangkan kalau dibilang EQ-nya jongkok dibilang emosian, “Ah! Cuek aja!”, malah banyak yang dengan kalem mengatakan “Habis, sudah bawaannya dari sana, mau gimana lagi??”. Coba, udah ada penelitiannya belum ya, mana yang lebih mudah: “mengendalikan emosi” atau “menaikkan intelegensia”?? Ok lah, jadi kesimpulan menurut saya pribadi, tidak disangsikan lagi bahwa EQ memang penting dalam meniti karir, tetapi lebih penting dari IQ? Hmmm…. sepertinya harus lebih banyak dibuktikan lagi.

Nah, mudah2an Pak EWA sebagai penulis buku: “Nyaman Memahami ESQ” sudi menjawab pertanyaan saya yang seabreg-abreg dan awur-awuran itu.:mrgreen: Atau mungkin Prof. Sjafri bisa juga membantu saya dalam menjawab pertanyaan2 di atas?? Atau yang lainnya juga boleh dong, so pasti, karena semakin banyak jawaban tentu semakin pusing saya akan semakin banyak alternatif jawaban yang mencerahkan. Bukankah begitu?😀

28 responses to “Dapat Buku Lagi….!!

  1. Selamat membaca puisi dan ESQ-nya Bung Yari, semoga buku-buku itu makin menambah bobot empat kecerdasan sekaligus yang selama ini sudah dimliki oleh Bung Yari, yakni kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial, *halah*
    Selain seorang penulis andal, Pak Ersis memang dikenal sebagai seorang dermawan, suka ngasih kado buku ke temen2. Eh, saya sendiri kok kiriman bukunya belum sampek, ya? apa karena tinggal di kampung yang ndesa dan katrok *halah* atau karena lupa nggak ngasih alamat? Ok, Bung Yari, selamat baca, yak!

  2. Wuih, ternyata saya ada di podium 1 sebagai komentator vertamax. *halah, ndak penting*

  3. Selamat atas keberuntungan buah dari persahabatan🙂 hidup ini saling memberi dan menerima bukan ?
    Tampilan baru blognya oke nih Mas…🙂

    Selebihnya untuk pertanyaan-pertanyaan di atas, saya juga ingin membaca penjelasannya dari pakarnya.

    Semangat Pagi!

  4. Pak Yari memang cocok mendapat hadiah buku, karena pasti dibaca dan akan ditulis di blognya.
    Jadi akan bermanfaat bagi semua pembaca, walau nggak sempat baca bukunya.

  5. Lama-lama, pembaca jadi ndak perlu beli bukunya, cukup baca di blognya, kemudian bukunya nggak laku, dan ndak ada yang bisa ditulis.😀

  6. asyik yah… kapan sy bisa dapat juga🙂

  7. Selamat membaca yach…
    He, he he, pembahasannya menarik. Saya secara intelektual ketinggalan jauh kemana-mana. Mungkin selama ini saya mengandalkan EQ *narsis on* Seseorang yang ber IQ tinggi jika tidak didukung oleh EQ yang baik tidak akan menghasilkan sesuatu yang maksimal.

    Ada seorang teman yang ber IQ tinggi. bekerja di City bank. Karena pendiam, bertahun-tahun ia bekerja dengan jabatannya yang sama. Seorang teman lainnya juga bekerja di bank yang sama. Karena kepintaran teman ini bergaul dan pandai merayu nasabah, dalam sekejap ia memperoleh jabatan dan berpenghasilan yang cukup memuaskan.

    Ehm…btw semuanya pentinglah.

  8. kang YariNK;mudah-mudahan tulisan dalam blog edisi terbaru saya (12 Desember ’08)berjudul “EQ lebih penting ketimbang IQ?” dapat menambah khasanah pemahaman pentingnya pemilikan EQ dan IQ secara proporsional…..

  9. Pemikiran orang Tua, hebat!

  10. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi CEO yang baik, walaupun dia ramah senyum, kalau dia menjawab pertanyaan2 yang agak sulit hanya dengan senyuman karena dia tidak bisa menjawab! Makan deh tuh senyum! Huehehehe…. <<<<<
    hahaha,,,sampe mama saya keheranan melihat anaknya tertawa2 sendiri didepan laptop..untung g dibawa kerumah sakit,,,hihihi

    pendapat saia :
    …ini sama seperti disaat beberapa dosen yang memberi nilai 50 dan 70 pada soal “menurut pendapat anda”..pas ditanya kedosen yang bersangkutan, apa bedanya nilai 50 dan 70?padahal ini kan pendapat masing2 dan pasti berbeda antara masing2 mahasiswa..apa nilai tertinggi disoal tersebut harus menjawab sesuai dengan pendapat yang membuat soal tsbt?kalo gitu mending di headline soalnya dituliskan… “menurut pendapat SAYA” bukan “menurut pendapan ANDA”
    maaf sedikit emosi,,,^_^

  11. @Sawali Tuhusetya

    Terima kasih pak Sawali atas dorongannya agar saya dapat lebih menghargai karya sastra lagi dan juga dalam rangka meningkatkan semua qualities yg ada pada diri saya!

    Btw, yah tunggu saja, mungkin paket bukunya masih dalam perjalanan, kalau ke kota kecil mungkin agak lama sampainya ya.

    @Agoy…

    Wah…. saya sih belum pernah memberikan buku mbak, baru diberi saja, maklum deh pelit mau ngasih tapi nunggu occassion yg tepat dulu, jadi ngga kesannya sekedar ikut2an gitu.😀

    Terims juga atas pilihan pujian blog theme-nya!🙂

    @edratna

    Wah bu…. tulisan saya sih masih belum cukup untuk merepresentasikan buku2 tersebut, di artikel ini saya hanya berkesimpulan dan menanyakan hal2 yang belum saya fahami benar.🙂

    @Black_Claw

    Jadi kesimpulannya blog bisa menyaingi buku ya?😀

    @aRuL

    Wah…. suatu saat pasti dapet deh…. saya doakan….. banyak kok blog2 yang “mengobral” buku.🙂

    @Hanna Fransisca

    Benar mbak…. kedua2nya penting…. EQ penting untuk menjalin hubungan dan kerjasama serta IQ penting untuk menghasilkan sesuatu. Ingat tanpa IQ mungkin tidak ada mobil, komputer, internet dan mungkin kita tidak bisa nge-blog. Huehehe…..

    Mengenai teman mbak ya kerja di Citibank, saya memang sering menjumpai kasus seperti itu, orang yg IQ-nya “tinggi” tapi karir ngga berkembang, itu mungkin karena yah EQ-nya kurang atau dia berada pada posisi dan perusahaan yg salah (atau mungkin dia sekolahnya yang salah!). Orang yg IQ-nya tinggi tapi introvert mungkin lebih cocok di bidang engineering atau R&D mungkin ya, walaupun tentu saja di bidang2 itu EQ juga diperlukan walaupun kadarnya berbeda.🙂

    @sjafri mangkuprawira

    Wah…. terima kasih prof atas artikelnya, sudah saya baca, mungkin nanti malam, insha Allah, akan saya beri komentar dan pertanyaan. Tunggu saja ya, prof!😀

    @FaUZaNeVVa

    siapa yang tua??:mrgreen:

    @marwan

    Naaaaa….. ketahuan…. kuis pernah dapet 50 ya, hayo??😀

  12. selamat membaca, menelaah, dan mengupas

    *mengupas?*
    *emangnya mangga*

    salam,
    (^_^)

  13. Sekarang ditunggu tips social enginerring nya,
    “bagaimana caranya menadapatkan buku gratis ?”

  14. *oot*
    Eh pak ngomong2 saya lagi di bandung ini, tapi berubung dompet fakir… kayaknya cuman bisa sehari aja.. :))
    */oot*

  15. huooo bukan kuis pak…
    tapi ujian tengah…hukshuks,,,

  16. @adi.nugroho

    kalau ngupas buku, berarti buku itu dibahas atau bukunya, sampulnya yang dikupas seperti ngupas mangga ya?😀

    @Raffaell

    Mau dapet buku gratis paling gampang sih, ya minjem temen terus pura2 lupa ngembaliin!:mrgreen:

    @Black_Claw

    Wah…. ke Bandung dalam rangka apa nih?? Jangan njawab cuma pergi ke Factory Outlet aja ya!:mrgreen:

    @marwan

    cup…..cup….cup….cup….. udah jangan sedih mas marwan, emang sih yang dituliskan seringkali “pendapat anda….” tetapi mungkin itu hanya basa-basi saja biar soalnya nggak terdengar narsisis, padahal maksudnya pasti “pendapat saya….” atau “pendapat buku teks……”, jadi lain kali kalau ada kata “bagaimana pendapat anda……” nah itu maksudnya “bagaimana pendapat saya…..” atau “bagaimana pendapat buku teks…..” atau “bagaimana pendapat para ahli…..” dsb.😀

  17. Saling memberi dan menerima, gak harus secara fisik bukan begitu boss…
    Blog ini sudah banyak memberikan ilmu, so so…
    🙂

    Semangat Pagiiiii!!!

  18. bagi bukunya bang…he..😀

  19. Jangan njawab cuma pergi ke Factory Outlet aja ya!

    Ah, kalo gitu jadinya saya mau jawab apa yaaa…..

  20. He he buku itu kan pengalaman seorang Ersis ‘merasakan’ metode ESQ yang dikembangkan Ary Ginanjar plus ikut berpartisipasi ‘menjalarkan’, terutama di Kalsel, bukan tentang ‘teori’ atau bahasan makhluk apa itu ESQ, apa tanda-tanda orang yang sudah ESQpowers, dan bla-bla.

    Justru bahasan sedemikian yang saya tidak suka, takut terkesan menggurui. Saya kan sedang membelajarkan diri. Saya baca beberapa buku tentang IQ, EQ, Sq, sampai kecerdasan sosial, bahasa dan varian lainnya. Lucunya, berkesimpulan, lho … semua itu kog nyangkut di Asmaul Husna. Tapi, belum berani menulis untuk komsumsi publik. Mana tahu suatu saat nanti mampu dan pantas.

    Oh ya, Nyaman Memahami ESQ dah di publish di http://www.webersis.com. Kang Yari, menjawabnya bukan PR kan? (He he lari, ngebalas). Kapan tuh tulisan social engineringnya?

  21. @Agoy…

    Iya ya…. bener juga ya…. huehehehe… ok deh thanx ya.😀

    @conandole

    Wah… yang itu pemberian orang jadi harus disimpan dan dirawat baik2 dong dan tidak untuk dibagikan.😀

    @Black_Claw

    Ya udah deh…. memang sudah jadi rahasia umum, entah kenapa, kok kalau orang2 ke Bandung pasti larinya ke FO. Sepertinya seluruh Bandung hanya berisikan FO-FO aja.😀

    @Ersis W. Abbas

    Tapi pak Ersis, walaupun bukan berbentuk teori tetapi tanya jawab dan diskusi kan sah2 aja kan? Malah jadi lebih bagus dan hidup jika suatu telaah, termasuk berdasarkan pengalaman, diperkaya dengan tanya jawab dan diskusi.

    Tapi, belum berani menulis untuk komsumsi publik. Mana tahu suatu saat nanti mampu dan pantas.

    Dicoba saja pak Ersis, ‘kan pak Ersis sendiri yang sering mendengung2kan kepada kita, kalau kita senantiasa pede dalam menulis, lha kok sekarang pak Ersis yg jadi kurang pede sih, huehehehe…., dicoba saja dulu pak Ersis, mengenai pantas atau tidaknya ‘kan yang menilai publik bukan pak Ersis sendiri. Ya, pasti ada ‘penolakan2’ lah dalam publik pada segelintir orang. Jangankan penulis pemula dalam suatu bidang, penulis yang udah berpengalaman dalam suatu bidang saja terkadang masih ada ‘penolakan2’.

    Mengenai social engineering, wah bahannya saja belum saya baca2, maklum sebelum menulis harus baca banyak referensi dulu biar tidak terikat dalam satu sudut sisi pandang saja. Lagian akhir2 ini lagi sibuk pindahan gedung kantor jadinya agak kurang membaca sih. **mode ngeles ON** Huehehe….😀

  22. Makasih suntikan virus keberaniannya, anjuran, dan pengingatan. Dah baca tulisan saya tentang ikhlas, syukur, dan jujur? ( http://www.webersis.com. ) Refleksi itu sudah satu buku, belum berani nerbitin … he he he.

    Kalau didiskas ya setujulah Kang Yari. Saya mohon pengertian, ada ‘proyek’ besar tentang pemahaman Asmaul Husna — yang dipratikkan dalam kehidupan Rasulullah — dilain sisi — para ilmuwan meneliti sisi psikologi dan apalagi tentang brain sampai neurologis— eh … kog semua itu bermuara pada ‘penyingkapan’ rahasia tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

    Itu pulalah penyebab lebih rajin berkunjung ke blog seperti milik Sampeyan dan puluhan lainnya. Ingin menyingkap Tanda Tanda Kebesaran Allah.

    Coba, betapa syiknya pikiran yang bercinta dengan tantangan, belajar tentang itu sungguh-sungguh. Optimis memuncul sebab belajar beragam sisi dari banyak blog.

    Oh ya, satu sisi kecil kan dah dibahas tu oleh Pak Prof, asyik bacanya. Saya sungguh berterima kasih. Jadi, masih ngak berani he he

    ____________________________________________________

    Yari NK replies:

    Wah…. dibagian mana ya, di postingan pak Ersis yg mengenai ikhlas, jujur dan syukur?? Yang baru2 ini atau yang lama?? Yang baru2 itu kalau nggak salah mengenai pertanyaan pak Ersis: Rasulullah itu gondrong atau nggak, begitu kan?? Coba saya nanti cari lagi deh postingannya….. hehehehe….

    Yah begitulah positifnya sebuah blogsfer (meski ada negatifnya juga) kita dapat bertukar ilmu dan yg paling penting bertukar fikiran dan berdiskusi, tanya jawab, dan sebagainya. Itulah yang membuat blogsfer ini menjadi kaya akan warna.

    Iya, pencerahan dari Prof. Sjafri sudah, sekarang bagaimana pencerahan dari Pak Ersis?? Kan pendapat orang berbeda. Boleh2 dong berbeda pendapat, meskipun pencerahan dari prof Sjafri sudah sangat bagus, tetapi jikalau semakin banyak pandangan tentu semakin memperkaya wawasan bukan?? Namanya saja manusia, dikasih nafsu berbagai macam, nafsu makan, nafsu amarah, nafsu pengin begituan, dan pada sebagian orang nafsu untuk terus belajar…. **halaah**

    Ayo dong pak Ersis, jangan ragu2 dong, pede aja lagi.😀

  23. Ha ha ngasut terus … coba buka satu saja: B Hidup nyaman. Bukan pada teori, tapi aplikasi. Dah ada penerbit yang lirik tu. Kalau soal pede jangan takutlah, cuman disembunyiin dulu, diistirahatkan. Lebih penting, termasuk postingan terakhir kan ada muatan Asmaul Husnah.

    Kalau saya sehebat Kang Yari … wui … bisa lebih cepat nylesesai proyek pribadi. Ibaratnya, pengetahuan saya sedang tanggung. Lucunya semakin banyak baca semakin bodoh. Gila.

    Jadi, gitu deh. Ada yang lebih penting buat Sampeyan. Kalau (mau marah silahkan) … jika, bahasa sampeyan lebih rapih dan struktur sajian lebih hemat, bisa langsung jadi buku, cetak, dan … saya prediksi lalu keras.

    Dalam bandingan lain, coba baca buku Dinosaurus; Dari Allosaurus sampai Tyrannosaurus. Buku itu sangat berguna … walau banyak boongnya. Nah, kalau fenomena alam dan tehnologi digabungan, seperti di 12 postingan Pak satpam, duh bisa geger deh dunia perbukuan naisonal.

    Sebenarnya di dunia blog (Indonesia) banyak hal menarik, lebih menarik dari buku, tapi kurang serius deh mengungkap fakta, banyak ke opini hingga enak untuk konsumsi sesaat, mana dikomen selayang pandang. Sayang bahan bagus jadi terpatok di blog saja.

    Mudahan nangkap maksud besar saya dibalik itu. Sampeyan bisa ninggalin kekayaan melimpah buat anak-cucu, namun kalau nulis bagus bisa buat manusia dan kemanusiaan.

    Gimana? Jangan marah euy … (Kabur).

    _____________________________________________

    Yari NK replies:

    Hooooooi….. mau kabur ke mana hoooi….. ini batu udah di tangan!! Huehehehe….. becanda deh! Ah, nggak kok, saya nggak pernah marah kalau dikritik, saya orangnya suka ngeritik tapi dikritik juga ngga marah, malah senang kok. Mendingan dikritik daripada dipuji pake puji2an gombal hehehehe…...

    Yaaa…. namanya aja satpam, ya wajarlah kalau struktur sajiannya boros dan pakai kata2 semau gue. Moso, satpam berani ngelawan struktur bahasanya doktor, ya ngga lah. Huehehehe……. Lagian pak, ini kan hanya blog, bukan buku lagi, jadi biar blog terlihat hidup dan tidak terlalu kaku walaupun mungkin hal2 yang ditulis adalah serius. Saya juga berusaha agar sesi comment juga terlihat hidup (walaupun mungkin banyak yang ngga berhasil) karena saya sadar bahwa komen2 juga bagian daripada blog dan juga kreativitas. Jadi setiap komen akan saya jawab sehidup mungkin, mungkin dengan cara serius panjang lebar, mungkin dengan candaan, yah pokoknya sesuai dengan apa yang dikomenin. Jadi nggak hanya dibalas oleh satu dua kata yang tidak menggairahkan **halaah kok jadi ngelantur neh****

    Mudah2an nanti kalau saya menulis buku **entah kapan** mudah2an tulisan saya bisa lebih hemat strukturnya dan juga dapat memakai bahasa yang lebih baku, kalau nggak, ya kan ada editor, biar aja dia berpayah2 ria yang mengedit tulisanku, daripada itu editor kerjanya cuma ngantuk melulu hehehehe ya nggak??

    Ok deh pak Ersis terims ya atas masukkan dan kritikannya yang berharga! Salam, peace!😀

  24. Kabar gembira!! Buat yang suka nulis-nulis, buat penulis muda, buat para blogger, buat temen2 yg hobi nulis tapi belum bisa buat buku, belum percaya diri, sekarang sudah ada medianya,

    Penulis-Indonesia.com, kayak Friendster tapi khusus buat yang hobi nulis, penulis, pujangga, penulis naskah, blogger…

    fasilitasnya juga cukup oke, lengkap dgn alamat pribadi untuk profil, blog, dan album…ada chatnya juga loh🙂
    Baru dibuka 1 Januari 2008 lalu, skrg membernya sudah 300an🙂 rame buanget loohh aktifitasnya!!

    Cepetan gabung ya🙂
    di sini alamatnya :

    Penulis-Indonesia.com atau tanpa tanda –
    PenulisIndonesia.com

    _____________________________________________

    Yari NK replies:

    Terims atas informasinya ya!🙂

  25. Aku ngak puas. Pokoknya Kang Yari kudu nulis buku … saya setuju … itu urusn editor. Kalau soal salah kata, saya termasuk jagonya he he. Lalu apa lagi? Jadikan buku. Titik.

    Kabuuuuur (ntar dibilang kasih PR lagi, padahal iya sih?)

    _______________________________

    Yari NK replies:

    Waduh…. pak…. kan di blogsfer ini banyak yg lebih mumpuni daripada saya dalam hal tulis menulis, banyak juga yang bahasanya lebih rapi daripada saya lho, tapi kenapa hanya saya yang dikasih PR yaa?? **garuk2 kepala yg nggak gatel**:mrgreen:

  26. aku anak solo udah baca blog km , kunjungi juga blog aku http://www.febriantoeko.wordpress.com

    ____________________________________________________

    Yari NK replies:

    Km udah baca blog aku, akupun udah baca blog km.:mrgreen:

  27. hmm…dapat buku ttg karya sastra ya, pak? berarti ntar bisa belajar dari bapak gimana menulis blog dgn baik, huehehe..
    bener juga kata abah ersis, bapak kudu nulis buku. ntar utk wilayah pontianak, ita bantu promosi lah,kekekeke..😛
    selamat membaca, pak. semoga bisa menjadi bekal buat hari esok yg lebih baik.
    btw, ita juga lagi membaca bbrp buku *bukan dapat tapi beli* ttg edukasi. maklum skrg petualangan beda generasi dari SMP ke SMA jadi kudu nambah ilmu nbelajar lagi😀

    _____________________________________________________

    Yari NK replies:

    Wah, gimana mau mempromosikan lha wong bukunya aja belum ditulis kok! Hihihihi…..😀

    Iya… kita memang seharusnya belajar dan belajar terus agar tidak selalu tertinggal dan juga belajar (apapun yang positif tentu saja) juga sesuai dengan tuntutan agama. Bukankah begitu?🙂

  28. Jiakakakak..
    geli pas baca IQ jongkok sama EQ jongkok nyebelin mana..😀

    ________________________

    Yari NK replies:

    Nyebelin kalau kedua-duanya yang jongkok….. wakakakak….😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s