Swatch® Internet Time, Sebuah Produk Gagal!

swatchbeatclock.jpg

Gambar Jam ‘Tradisional’ dan Jam Internet Swatch® di  desktop saya.

Jam Swatch seperti punya sayaJika anda seorang yang menggemari chatting online di Internet, baik menggunakan Yahoo! Messenger, mIRC atau yang lainnya, dan anda andaikan juga sering berchatting ria dengan orang-orang di belahan bumi yang lain, mungkin anda pernah merasakan sedikit kesulitan dalam membuat janji (misalnya janjian ingin bertemu lagi online) dengan mereka karena perbedaan waktu. Dahulu sewaktu saya sering bermain Scrabble online, saya juga seringkali mengalami kesulitan dalam menyelaraskan jadwal pertandingan dengan mereka yang berada di belahan bumi lain karena perbedaan waktu tersebut, yah karena kebanyakan dari mereka yang bermain Scrabble berada di Amerika Utara dan Eropa maka saya seringkali mengalah dan terpaksa  bangun pagi2 sekali sebelum shubuh hanya karena sudah berjanji untuk bermain Scrabble online.

Masalahnya, perbedaan waktu antara WIB dan zona2 waktu di Amerika Utara berkisar antara 11-14 jam (waktu musim panas) atau 12-15 jam (waktu standard) dan seperti biasa, mereka orang Amerika kalau berjanji atau menyusun jadwal pertandingan selalu berorientasi dengan zona waktu mereka sendiri dan sedikit terlalu egois dengan mengabaikan zona-zona waktu di negara2 lain, apalagi zona waktu di negara2 Asia Tenggara yang juga pemain online-nya sedikit. Mereka selalu menyusun jadwal pertandingan dalam Eastern Daylight/Standard Time ataupun Pacific Daylight/Standard Time dan jarang disusun dalam zona waktu GMT atau UTC apalagi (jangan harap deh!) dalam Waktu Indonesia Barat (WIB).

Untuk itu sebuah perusahaan arloji dari Swiss yaitu Swatch®, berusaha untuk memecahkan masalah ini. Di tahun 1998 mereka memperkenalkan konsep baru untuk waktu di Internet, yaitu Swatch Internet Time (SIT). SIT mempunyai format @XXX di mana XXX adalah tiga buah angka/digit yang menunjukkan SIT/waktu Internet. SIT berusaha untuk menghapus seluruh zona waktu yang berada di dunia nyata dan hanya menggunakan SIT saja untuk mengatur waktu jadwal di dunia maya Internet. Jadi andaikan di suatu waktu di Indonesia SITnya misalnya @045 maka pada saat itu juga di tempat2 lainnya di seluruh dunia juga menunjukkan waktu @045. Jadi tidak ada lagi perbedaan (pembacaan) waktu misalnya di Jakarta pukul 14.00, di London saat itu pukul 08.00 atau New York pukul 03.00, dsb.

Sekarang, bagaimana pembagian waktu dalam SIT? Jikalau dalam dunia nyata ada beberapa satuan waktu dalam sehari seperti jam, menit dan detik, dalam SIT hanya ada satu satuan waktu saja yaitu beat. Satu hari, dalam SIT, dibagi dalam 1000 beat. Setiap hari diawali dengan beat @000 dan diakhiri dengan beat @999. Karena SIT menghilangkan sistem zona waktu yang terdapat di dunia nyata, maka SIT dimulai pada waktu yang berbeda2 di setiap zona waktu. Di wilayah WIB (Waktu Indonesia Barat), SIT dimulai pada pukul 06.00, sedangkan di wilayah WITA (Waktu Indonesia Tengah), SIT dimulai pada pukul 07.00 dan di wilayah WIT (Waktu Indonesia Timur), SIT dimulai pada pukul 08.00. Untuk lebih jelasnya lihatlah tabel berikut sebagai acuan waktu antara SIT dan waktu di zona2 waktu di Indonesia.

SIT WIB WITA WIT
@000 06.00 07.00 08.00
@250 12.00 13.00 14.00
@500 18.00 19.00 20.00
@750 00.00 01.00 02.00

Namun jika anda membeli arloji Swatch yang ada SIT-nya ini siap2lah kecewa! (Saya sendiri membeli sebuah arloji Swatch yang ada SIT-nya ini di tahun 1999 dengan harga waktu itu sekitar Rp 1,1 juta) Kenapa kecewa?? Ya, karena ternyata sedikit orang saja yang mempunyai arloji ini, bahkan mereka2 yang sering chatting di Internet saja jarang yang mempunyai arloji2 yang ada SIT-nya, jangankan mempunyai, mengenal sistem SIT ini saja banyak yang tidak mengetahuinya. Jadinya pembelian arloji ini menjadi mubazir. Ya, SIT dan juga arloji-arloji Swatch yang mempunyai fitur SIT adalah produk yang boleh dikatakan gagal di pasaran. Penyebab-penyebab kegagalan SIT di antaranya adalah:

  • Orang sudah terbiasa dengan jam atau waktu yang berlaku di dunia nyata. Mereka selalu berfikir di dalam otak mereka tentang waktu dalam konteks jam di dunia nyata. Seperti contoh misalnya kalau kita ingin chatting kita secara refleks pasti akan berfikir dahulu jam berapa di dunia nyata kita akan chatting baru kemudian dikonversikan ke dalam waktu SIT. Ini yang menyebabkan penggunaan SIT menjadi tidak praktis. Misalkan kalau kita ingin merencanakan sesuatu katakanlah chatting, kita biasanya mengambil waktu dengan ‘angka yang bagus’ untuk janjian. Misalnya pukul 03.00, 03.30, 04.00 dsb. Jarang misalnya (dan sedikit aneh) kalau kita misalkan janjian pukul 03.22 atau pukul 4.13 dsb. Nah, begitu pula kalau kita berfikir dalam kerangka SIT kita seharusnya dapat mengambil sebuah angka bagus pula untuk menyusun jadwal atau janjian misalkan: @100 (08.24 WIB), @150 (09.36 WIB), @200 (10.48 WIB) tanpa mempedulikan @100 atau @150 jatuh pada jam berapa di dunia nyata. Namun kenyataannya tidak begitu, kita selalu mengambil angka bagusnya berdasarkan jam di dunia nyata baru kemudian dikonversikan menjadi SIT.
  • Kegiatan sehari2 di dunia nyata masih lebih kuat dibandingkan dengan di dunia maya sehingga tidak heran fikiran waktu manusia masih terfokus pada jam di dunia nyata bukan pada SIT.
  • Satuan waktu di dunia nyata lebih ‘teliti’ dibandingkan dengan SIT. satuan SIT adalah beat yang mempunyai durasi 1 menit 26 detik. Sedangkan satuan waktu yang terpendek di dunia nyata adalah 1 detik yang lebih singkat dibandingkan 1 beat. Oleh karena itu satuan waktu di dunia nyata lebih ‘teliti’ dan lebih fleksibel (karena mempunyai beberapa unit yaitu detik, menit dan jam)
  • Sebenarnya di dunia nyata kita juga sudah punya waktu universal yaitu GMT atau istilah modernnya sekarang adalah UTC. Ini sebenarnya dapat diterapkan pula di dunia maya atau Internet dan kita juga lebih terbiasa atau familiar dengan GMT ini daripada SIT.

Nah, begitulah faktor-faktor yang menyebabkan SIT tidak sukses dalam merebut hati para netter. Lantas kenapa Swatch, sebuah perusahaan jam tangan Swiss yang cukup ternama di dunia, dapat melakukan blunder seperti itu?? Selidik punya selidik, ternyata ide SIT ini bukan datang dari bagian R&D (Research and Development) Swatch melainkan dari para petinggi dan manajer2 marketing tingkat tinggi di Swatch yang tidak tahu apa2 tentang horologi (ilmu tentang jam dan waktu) namun mempunyai kekuasaan yang sangat tinggi dalam menentukan sebuah produk baru di perusahaan tersebut. Para petinggi marketing tersebut maunya menyumbangkan sesuatu yang berharga dan mendunia bagi dunia Internet (dan tentu saja tujuan utamanya adalah sebagai bagian dari strategi marketing untuk mendongkrak penjualan), eh malahan kini yang membeli produk tersebut banyak yang kecewa dan mubazir karena tidak banyak terpakai dan menjadi produk sampah!

Iklan

25 responses to “Swatch® Internet Time, Sebuah Produk Gagal!

  1. Kasusnya klise… antara R&D dan Management tidak sinkron…

  2. Ya ya … menarik. Perbedaan waktu sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, namun bisa disiasati. Kalau sekarang saya ‘membunuh’ keinginan chating Pak Satpam, kecuali untukyang penting amat. Yang pasti, postingan Sampeyan ‘mendudukan’ masalah pada pokoknya. Trims.

    Kalimat ini … Kegiatan sehari2 di dunia nyata masih lebih kuat dibandingkan dengan di dunia maya sehingga tidak heran fikiran waktu manusia masih terfokus pada jam di dunia nyata bukan pada SIT … disamping kesimpulan cerdas, faktual, adalah sekaligus penyadaran.

    Ketika melatih guru-guru di kota saya, Banjarbaru, menulis dan ngeblog … saya jawab kekuatiramn mereka … dunia maya adalah lahan tambang kita belajar, namun kita bukan hidup disitu. Kita hidup di dunia nyata.

    Oh ya, kalau rekan-rekan yang berlatih agak fasih, blog Sampeyan saya jadikan bacaan ‘wajib’. Boleh saja kan Pak Yari, soalnya Sampeyan ngaku-ngkau Satpam … secara persepsinya agak membuat takut banyak orang he he he

    Bagaimna menurut Sampeyan?

  3. Wah, lagi-lagi dapat ilmu di sini. Salut sama Kang Yari yang hoby bermain Scrabble online sampai harus bangun subuh. :mrgreen:

  4. mas yari emang doyan ngoleksi jam tangan ya?? Klo masalah jam tangan mas yari pelit saya minta satu ga dikasih 😦

    *kabur ah*

  5. Namun jika anda membeli arloji Swatch yang ada SIT-nya ini siap2lah kecewa! (Saya sendiri membeli sebuah arloji Swatch yang ada SIT-nya ini di tahun 1999 dengan harga waktu itu sekitar Rp 1,1 juta) Kenapa kecewa?? Ya, karena ternyata sedikit orang saja yang mempunyai arloji ini, bahkan mereka2 yang sering chatting di Internet saja jarang yang mempunyai arloji2 yang ada SIT-nya, jangankan mempunyai, mengenal sistem SIT ini saja banyak yang tidak mengetahuinya. Jadinya pembelian arloji ini menjadi mubazir.

    walah, bener banget bung yari, apalagi bagi saya yang katrok dan ndesa, hehehehehe 😆 halah lihat wujudnya aja belum bung. Hiks, jadi, malu.

  6. Kang .. setelah saya pindah ke Balikpapan .. saya bingung mau setting laptop saya. Karena settingnya ikut Indonesia (WIB) tapi ketika saya ubah jamnya jadi WITA .. diganti manual, jam-nya balik lagi ke WIB.

    Masa saya setting-nya jadi Singapura atau Malaysia, karena jamnya sama dengan Balikpapan. Nah .. kalo yang kaya’ gitu gimana kang. Karena saya juga barusan donlot jam sholat. Untuk waktu WITA ga ada. Kalo saya set ngikut Singapura dan Malaysia .. jam sholatnya ga sama dengan Balikpapan.

    Pusing deh .. mudah2an kang Yari ada tip dan trik untuk setting jam di laptop saya. Sorry OOT kang. Soalnya saya ga kuat beli jam Swatch ..

  7. kang yariNK…dengan demikian apakah SIT itu tergolong produk teknologi “tidak tepat guna”?…..sepertinya banyak kejadian seperti itu…..misalnya perahu yang dibuat dari fiber yang pernah diadopsi untuk nelayan sukabumi ternyata tak disukai nelayan karena gampang pecah ketimbang yang dibuat dari kayu…khalayak belum siap…..rupanya perancang dan pebisnis SIT termasuk perahu fiber menggunakan pendekatan “supply creates its own demand”……tetapi ternyata tak mampu menciptakan segmen pasar yang luas…..jadilah idle….

  8. Banyak produk yang akhirnya tak terlalu laku, karena tak didasarkan atas survey kebutuhan pelanggan yang tepat.

    Bagi orang yang bergerak di perbankan, sangat penting mengingat perbedaan waktu ini, jangan sampai keliru dalam memperkirakan deadline….terutama untuk transaksi yang menentukan.

  9. @Agoy

    Kurang tepat, kasus ini bukan hanya menggambarkan konflik antara R&D dan manajemen tetapi juga menggambarkan sebuah bagian di sebuah perusahaan yang sangat berpengaruh sehingga terkadang mereka keluar dari fungsinya semula. Ini tentu saja lebih banyak merugikan perusahaan karena mereka tidak menguasai bidang yang bukan fungsinya.

    @Ersis W. Abbas

    Wakakakak….. jangan khawatir pak, chatting bukan paksaan kok atau lebih tepatnya chatting is a two-way joy, jadi kalo memang pak Ersis sibuk ya nggak usah dipaksakan chatting, saya juga tidak bisa setiap waktu chatting kok. Yang penting kalau kita sudah berjanji (dengan siapa saja) untuk chatting pada waktu2 tertentu untuk masalah apapun baik penting atau tidak, ya kita harus menepati karena kita sudah berjanji. Kalau tidak bisa menepati janji ya tidak usah berjanji, bukankah begitu? 🙂

    Ya betul pak Ersis…. dunia maya adalah hanya sebagai tempat kita belajar dan “mengasah kemampuan”, kesimpulannya jadikanlah dunia maya ini pelengkap yang positif bagi kehidupan kita di dunia nyata ini.

    Btw, apa nggak berlebihan tuh blog saya dijadikan ‘bacaan wajib’ buat rekan2nya pak Ersis???? Menurut saya banyak loh blog2 lain juga yang jauh lebih bermutu, tapi kalau Pak Ersis bilang persepsi saya ‘banyak membuat takut orang’, ya syukurlah, berarti tulisan2 saya sedikit banyak meninggalkan kesan yg dalam… wakakakak…. becanda deh….. yang benar adalah saya berusaha sebaik mungkin untuk menyumbangkan **halaah** sesuatu bagi dunia blog di negeri ini karena saya sadar walaupun internet ini adalah merupakan information superhighway tetapi informasi dalam Bahasa Indonesia masih terhitung miskin, terbukti pak Ersis pernah mengeluhkan informasi mengenai segitiga Bermuda dalam bahasa Indo di jagad maya ini masih kurang memuaskan. Yah, doakan saja mudah2an kualitas tulisan saya lebih baik dan baik lagi di masa yad. ok? 🙂

    @Hanna

    Ya habis bagaimana mbak…. wong udah janji kok….. nanti kalau melanggar janji saya sendiri dong yg mendapatkan nama buruk…hehehe….

    @abintoro

    Huahahaha….. sekali2 pelit sama sampeyan nggak apa2 kan Bin? :mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya

    Ah…. pak Sawali nggak katrok2 amat kok! :mrgreen: Banyak lho saudara2 kita yg sama sekali belum mengetahui Internet itu apa. Pak Sawali kan sudah terhubung ke Internet ya berarti minimal **halaah** sudah merasakan sentuhan dunia modern. :mrgreen:

    @erander

    Mas Eby, ada dua cara mas kalau kasusnya seperti itu. Cara pertama, nggak punya pilihan lain, mas Eby memang harus ngikut Singapura dan Kuala Lumpur. Cara kedua, mas Eby bisa ngikut Jakarta dengan memajukan jamnya satu jam, namun kotak Automatically synchronize with an Internet time server-nya (di option/folder “Internet Time” tempat biasa Mas Eby mencocokan jam notebook mas eby secara manual) jangan dicek, sebab kalau dicek itulah yang menyebabkan jam notebook mas Eby otomatis mundur 1 jam sendiri karena menyesuaikan diri dengan server jam Internet dan menganggap jam notebooknya mas Eby adalah WIB (GMT+7). Namun ‘resikonya’ kalau kotak Automatically synchronize with an Internet time server-nya nggak dicek, selang beberapa lama jam notebooknya mas Eby biasanya mulai tidak tepat, entah kecepetan atau kelambatan, karena tidak disinkronisasi dengan server jam internet. Kalau selalu disinkronisasi dengan server jam internet, jam di notebook atau pc kita selalu tepat.

    Mengenai program jadwal shalat, program jadwal shalat yang bagus/baik biasanya selain menanyakan zona waktu juga dia juga menanyakan koordinat tempat atau kota kita berada. Jadi walaupun kota kecil sekalipun tidak masalah. Itu kalau programnya bagus, sebab kalau hanya berdasarkan zona waktu saja tidak akan tepat. Mas Eby tentu tahukan koordinat Balikpapan, banyak bertebaran kok informasinya di Internet, tapi kalo tetep nggak tahu ya nanti saya kasih tahu. Btw, program jadwal shalatnya apa sih? Boleh tahu nggak?? Siapa tahu nanti saya bisa membantu. 🙂

    @sjafri mangkuprawira

    Betul prof sjafri, begitulah kalau sebuah produk ‘baru’ yang didasarkan pada proyek R&D yang murah dan asal2an. Atau kita memakai produk dari hasil R&D orang lain tapi tidak diadakan R&D lanjutan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan2 lokal. Bahkan dalam kasus SIT ini, produk ini bukan dari hasil riset yang canggih tetapi dari ide sederhana yang sedikit ‘konyol’ yang dengan gampangnya membagi satu hari menjadi 1000 bagian (beat). Mungkin siapapun, bahkan anak kecilpun dapat mempunyai ide seperti ini. Yah, begitulah penemuan2 ‘konyol’ tanpa riset2 lanjutan terutama riset pasar seperti ini, apalagi yang tidak didukung dengan ilmu bersangkutan yang memadai (dalam kasus SIT ini adalah horologi), akan berakhir dengan ‘konyol’ pula.

    @edratna

    Benar bu, perbedaan dan ketepatan waktu sudah merupakan dua hal yang krusial di dunia modern sekarang ini. Biasanya untuk perbedaan zona waktu, agar tidak terjadi kekeliruan, biasanya dipakai GMT atau bahasa modernnya sekarang adalah UTC.

  10. Kang, saya mah gampil ajah. Kalo jamnya mubazir, saya bisa nampung kok kekekekek…..

  11. Iya Kang .. setelah saya oprek-oprek program-nya ada pilihan customize .. diminta masukan latitude dan lognitude-nya. Dan ini sudah saya dapatkan posisi kota Balikpapan.

    Latitude: 1° 15′ South
    Longitude: 116° 50′ East

    Bener ga tuh Kang?? .. tadi sudah saya set .. tapi koq hasilnya agak beda 3-5 menit ya dari jadwal solat sepanjang masa yang diterbitkan oleh Depag Balikpapan?? apakah posisi yang saya isikan keliru ya Kang?

    Thanks banget ya kang .. buat info-nya.

  12. Lagi, soal relativitas, kali ini relativitas waktu. 🙂
    Apakah ada waktu yang absolut? Ya GMT itu kali yak.
    Yang lainnya? Kayaknya waktu kematian deh.

  13. Ternyata .. waktu di Balikpapan tidak sama dengan waktu di Singapura dan Kuala Lumpur .. walaupun sama2 + 8.00 GMT tapi longitude-nya beda. Balikpapan lebih mendekati longitude-nya Hong Kong dan Beijing yaitu 115° dan 116° .. jadi abang set waktunya Beijing .. anehnya .. jam sholatnya set back mulu. Tetap ga mau.

    Programnya untuk Gadget sidebar Windows Vista yang didonlot dari LoayAssaf.com Prayer Times 2.3.3.0 .. bisa di cek an kang?? Thanks ya atas pertolongannya.

  14. hnggg… saya cuman suka liat jam kalo dah deket2 waktunya pulang kantor…
    oh, iya… saya juga suka pura2 liat jam kalo aslinya lagi ngelirik cewek cakeph…

  15. Wah saya juga baru tahu kalau ada SIT segala (katrok nih…).

    Wah jam yang dimiliki Pak Yari pastinya mahal banget ya? 😀

  16. sama dgn pak sawali .. hehe..
    sy jg katrok abis, ga mudeng jam tangan..
    tp sy kira itu bkn kesalahan pihak swatch, tp kesalhan personal pemimpin swatch yg cm mau laba aja..
    klo di analogikan ya seperti manajeman negara ini pak..
    *ah sok tau bgt sih*

  17. Btw, mau OOT nih Pak Yari… Kalau bikin tabel2 di wordpress gemana caranya? Kasih tahu dunk, saya ga tahu nih ( katrok hehehehe) 😀

  18. @prasso

    Wah….. kalau dikasih ke sampeyan, ya saya jadi rugi bandar 2 kali dong….. udah mubazir fitur SIT-nya, saya juga ngga bisa menikmati jamnya lagi secara keseluruhan huehehehe….. 😀

    @Dhan

    Yeee… kayaknya sih setiap timezone (waktu standard) absolut baik itu GMT, WIB, Eastern Time, Pacific Time, dll. Kalau misalnya sekarang WIB pukul 6 pagi, maka di manapun dilihat dari tempat manapun, WIB tetap saja pukul 6. Tidak mungkin dia dilihat di KL sebagai pukul 7 atau di London sebagai pukul 9, dsb pada saat bersamaan. Hanya saja penggunaan WIB terbatas di wilayah Indonesia bagian barat saja. 😀

    @erander

    Wah…. mas Eby…. pc saya di rumah dan di kantor dan juga notebook saya semuanya masih pakai Windows XP, belum pakai Windows Vista jadinya sepertinya nggak bisa ngecek widget-nya tuh! 😦 Abisan mau upgrade ke Windows Vista masih males sih! Huehehehe…. :mrgreen:

    Tapi begini mas Eby, normalnya tidak masalah mas Eby memilih timezone China atau Malaysia/Singapore sebab yang diambil oleh komputer cuma timezone-nya saja sedangkan informasi longitude dan latitude informasinya diambil dari data yang mas Eby inputkan. Mengenai koordinat Balikpapan, ya sudah benar mas Eby.

    Mengenai perbedaan antara skedul di komputer yg mas Eby donlot sama yang dikeluarkan Depag memang kemungkinan berbeda, normalnya berbeda 1 – 2 menit kecuali mungkin Shubuh. Yang penting di sini dilihat metode perhitungannya di software/widget yg mas Eby donlot. Biasanya software/widget yang bagus ada pilihan metode kalkulasinya. Untuk sholat ashr pilih metode Imam Shafii sedangkan untuk sholat shubuh dan Isha perhatikan berapa derajad (biasanya 18 derajad) matahari berada di bawah horizon. Soalnya di setiap negara berbeda2. Nah kita pilih yang sesuai dengan yang Depag. Kalau saya sih tidak terlalu terpaku oleh jadwal Depag, karena baik jadwal Depag maupun yang ada di komputer tidak ada yang benar secara absolut. Toh saya yakin Depag memperhitungkannya juga dengan menggunakan komputer hanya saja kita ngga tahu softwarenya huehehehe…. :mrgreen: Hanya saja kalau berbeda 1-2 menit itu wajar sebenarnya (karena metodenya juga berbeda2)

    Jadi maaf ya mas Eby saya ngga bisa ngecek widgetnya mas Eby, tapi kalo misalkan widget itu memang rese, saya anjurkan mas Eby donlot aja program lain, ada kok yg bisa bunyi azan segala. Banyak kok di Internet juga. Saya juga punya satu tapi sekarang jarang saya pasang hehehehe…. namanya Athan 6.0, saya dah lupa donlotnya dari mana tapi nanti kalo mau saya cari. O iya menurut Athan 6.0 ini jadwal shalat hari ini (23 Jan 2008) untuk kota Balikpapan adalah sebagai berikut:

    Shubuh: 5.02
    Zuhr: 12.21
    Asr : 15.45
    Maghrib: 18.26
    Isha 19.39

    Sama nggak ya sama di widgetnya mas Eby?? Kalau sama jadwal shalat abadinya depag mungkin berbeda apalagi shubuhnya. Ok mas Eby segitu saja dulu sementara, ok?

    @andex

    Kalau ngelihat duit sama makanan bagaimana? :mrgreen:

    @fauzansigma

    Yeee…. tapinya kalau sudah kenal Internet sih nggak katrok2 amat lah….. minimal sudah tersentuh ‘peradaban modern’ Huehehehe…. 😀

    @mathematicse

    Wah….. saya sih belum mampu beli jam tangan yang harganya puluhan juta apalagi yang banyak berliannya dan yang sistem mekanismenya tourbillon yang harganya ratusan juta, wah nggak mampu deh. Buat beli yang kayak gituan harus korupsi dulu kali wakakakakak…. becanda deh! Jam saya yang termahal merknya Tissot harganya cuma US$1400, itu juga dapat dari hasil menabung dengan susah payah! :mrgreen:

    O iya, mengenai tabel, saya sih bikinnya manual, memaki HTML tag. Selengkapnya dapat Kang Jupri baca di di sini.

  19. OOO gitu ya…
    Boleh juga ne informasinya 🙂

  20. dah lama ga silaturahmi ke rumah bapak, rasanya byk ketinggalan utk memperoleh informasi,hehehe..
    alhamdulillah, dapat ilmu baru lagi. ita baru tau ttg SIT.
    terima kasih, pak
    segini dulu pak, komen *numpang lewat* ita.
    mau magrib *waktu pontianak* jadi besok2 baru mampir lagi belajar dari bapak 😀

  21. he he ,si Abang kepagian belinya,
    Emang sih gembar- gembornya gitu,
    Sepertinya sih justru yang SIT ini yg paling ngga diminati,
    Padahal biasanya apa aja dari Swatch banyak orang suka,
    (Maksudnya sih supaya cepet2 diwariskan je saya)

  22. Baru tau kalo ada SIT, hehe..
    umm, mungkin SIT jadi gagal karna ga banyak orang yang tau, padahal di satu sisi keknya SIT mempermudah penetapan waktu untuk orang-orang maya yang berada di belahan bumi lain. Masalah kesulitan konversi waktu dsb, itu mungkin karna belum terbiasa kali ya, awal-awalnya emang pasti kerasa ribet, tapi kalo udah keseringan make bisa aja kitanya langsung ngeh kalo yang dimaksud dengan @100 adalah pukul 8 lewatan, ato @150 itu setengah sepuluhan 😀

  23. @Angga

    Ho’oh begitu! :mrgreen:

    @eNPe

    Wah ke mana aja nih mbak, lagi sibuk ya? Selamat deh ya sudah lulus menjadi PNS. Saya sering sih berkunjung ke ‘rumah’nya mbak ita tapi rupanya pemilik rumahnya lagi nggak ada ya? 😀

    @rumahkayubekas

    Iya nih…. agak nyesel juga…. jadi kesimpulannya lain kali kalau ada jenis barang baru yang baru keluar jangan cepat2 dibeli ya? 😀

    @pipiew

    Iya mbak…. justru itu awal2nya yang terasa ribet, soalnya biasanya orang nggak mau capek mikir, tetapi walaupun bagaimanapun juga sebenarnya masih lebih bagus pakai UTC/GMT sih kalau misalnya mau janjian daripada pakai SIT selain formatnya juga sudah familiar konversi ke zona waktu lokalnya juga lebih mudah. 😀

  24. Mungkin ini teknologinya berguna sebenarnya, kali aja orang ngga atau para pembuat standar ngga mau mendukung sit ini, dan mungkin juga harganya terlalu mahal, dan promonya kurang, dan teknologinya aga payah….

    kalau saya sih, mending install software perbedaan waktu qctime, dan membuat alarm di pc saya trus pantengin komputernya sewaktu kita molor…..

    ____________________________________________

    Yari NK replies:

    Iya sih….. memang kombinasi yang mas raffaell sebutkan di atas memang sangat mempengaruhi juga kegagalan SIT di pasaran. Selain itu memang banyak alternatif kok untuk mengatasi masalah perbedaan waktu ini, termasuk menginstal berbagai software seperti qctime yang disebutkan di atas. Malahan untuk kebanyakan pemula, SIT itu justru agak membingungkan! 🙂

  25. mas…mau tanya nih.. selain kasus itu, ada lagi gak kasus yang dialami swatch??? yg ada hubungannya ma manajemen d sana.. makasih lho yaaa… ^^

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Wah… maaf… kalau itu saya kurang tahu ya. Soalnya saya bukan orang Swatch, dan juga andaikan ada “ketidakberesan” dalam masalah internal Swatch tentu akan menjadi “rahasia” intern dan tidak akan dibiarkan keluar dari perusahaan. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s