Skala Scoville, Mengukur Kepedasan Cabai

Cabai Rawit (Thai Pepper or Bird's eye Pepper)Cabai (red savina) HabañeroCabai Naga Jolokiabell pepper

Artikel kali ini mungkin cocok bagi mereka yang gemar masakan pedas karena memang tulisan kali ini adalah mengenai cabai. Bagi masakan Indonesia, cabai sudah menjadi pelengkap sehari-hari apakah itu berupa sambal ataupun cabai rawit dan bagi banyak orang di Indonesia makan belum afdol jikalau makan belum mengkonsumsi yang pedas2 apakah itu makan besar ataukah hanya sekedar ngemil bakwan atau rujakan. Ya, cabai sudah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari2.

Cabai sendiri ada berbagai macam, kalau di kita mungkin mengenal cabai rawit, cabai merah, cabai hijau, ada juga cabai yang keriting dan kalau di belahan bumi lain ada paprika, ada pimento, jalapeño, habañero dan lain sebagainya semuanya dengan kadar kepedasan yang berbeda2. Namun tahukah anda bahwa di dunia ini ada satuan guna mengukur kepedasan sebuah cabai?? Ya, satuan tersebut dinamakan satuan scoville yang diambil dari nama seorang farmakolog Amerika Serikat bernama Wilbur L. Scoville (1865 – 1942). Skala scoville ini mengukur konsenstrasi sebuah zat dalam sebuah cabai yang bernama capsaicin, zat inilah yang bertanggungjawab memberikan rasa pedas pada sebuah cabai. Ok, sekarang kita mempunyai satuan scoville untuk mengukur kepedasan suatu cabai seperti halnya kita mempunyai satuan kilometer untuk mengukur panjang atau kilogram untuk mengukur berat, lantas bagaimana caranya mengukur kepedasan cabai? Apakah cabai dimakan begitu saja lalu dinilai kepedasannya?? Tentu tidak sepenuhnya begitu, karena panca indera manusia adalah alat pengukur yang buruk dan kurang presisi. Namun walaupun begitu pengukuran kepedasan cabai pada awalnya masih melibatkan panca indera manusia. Pada tahun 1912 ketika Wilbur Scoville menemukan skala ini, ia melakukan pengukuran kepedasan suatu cabai dengan cara sebagai berikut: Larutan ekstrak/sari cabai dilarutkan ke dalam air yang diberi gula sampai pedasnya tidak terasa lagi, sudah pedas tidaknya sebuah cabai yang diuji ini biasanya dilakukan oleh lima orang penguji. Jadi satuan scoville menunjukkan berapa kali sebuah cabai harus dilarutkan dalam air gula (dalam jumlah tertentu yang standard) sampai zat capsaicin-nya semua larut yang membuat cabai tersebut menjadi tidak pedas lagi. Nah, karena dengan metode pengukuran seperti di atas masih melibatkan panca indera manusia, tentu saja pengukuran masih dapat terjadi bias dan kurang obyektif (selain pengukuran cara di atas kurang praktis) untuk itu pengukuran kepedasan cabai pada saat ini menggunakan metode yang canggih yang dinamakan High Pressure Liquid Chromatography atau High Performance Liquid Chromatography (HPLC) yang menihilkan keterlibatan panca indera manusia dalam pengukuran kepedasan cabai. Metode ini cukup kompleks untuk dijabarkan sehingga tidak akan saya jabarkan dalam artikel ini.

Sekarang lihat tabel di skala scoville di bawah ini:

scoville.jpg

Dari tabel di atas kita bisa lihat bahwa bell pepper (termasuk juga paprika) mempunyai skala scoville 0 (nol), ini berarti bell pepper tidak pedas sama sekali karena tidak mempunyai zat capsaicin. Sedangkan cabai rawait (Thai pepper atau bird’s eye pepper) atau kalau di Malaysia sering disebut ‘chili padi’ mempunyai skala scoville 50.000 hingga 100.000. Nah ternyata dari tabel di atas cabai rawit hanyalah cabai ‘kelas menengah’ dalam dunia cabai. Sedangkan cabai Amerika habañero mempunyai kepedasan sekitar 2 sampai 7 kali dari cabai rawit. Bahkan salah satu jenis atau spesies habañero yaitu Red Savina habañero bisa 10 kali lebih pedas dari cabai rawit. Namun cabai alami yang memegang rekor dunia kepedasan datang dari daerah Assam di India yaitu Naga Jolokia (semua gambar cabai2 tersebut ada di atas) yang skala scoville-nya sampai di atas satu juta!

Red Savina habañero yang asli (bukan yang jenis botolan seperti Tabasco) pernah saya coba dan rasanya memang seperti setan, tapi saya belum pernah merasakan Naga Jolokia, penasaran juga pedasnya seperti apa ya?? Mungkin buat orang yang susah buang air besar atau yang mengalami konstipasi dengan memakan cabai ini dapat menghemat duit karena tidak lagi perlu membeli Vegeta! Huehehehe……:mrgreen:

15 responses to “Skala Scoville, Mengukur Kepedasan Cabai

  1. Wah pertamax lagi neh! Btw kalo wasabi yg pedes2 di makanan jepang itu berapa skalanya ya? Tapi kalo ga salah setahu saya wasabi itu bukan cabe bener ga ya?

  2. Keduaaa…😀
    artikel ini cocok bagi ita utk nambah info dunia masak memasak. demi mewujudkan point 7 *8 impian 2008 mode on*
    terima kasih, pak🙂

  3. wah, ngomong2 masalah cabe, jadi ingat bulan ramadhan. saya juga ndak tahu bung yari. selera perut antara bulan ramadhan dan nonromadhon kok jadi beda, yak? di luar bulan romadhon, perut saya selalu bersahabat dengan yang pedes2. eeeee, tapi begitu memasuki bulan ramadhon, walah, perut jadi alergi sama yan namanya cabe. bisa dipastikan, puasa saya jadi sangat terganggu. perut jadi mules ndak ketulungan. Perlukah menggunakan metode High Pressure Liquid Chromatography atau High Performance Liquid Chromatography (HPLC) untuk pengukuran kepedasan cabai sehingga puasa saya ndak terganggu akibat makan cabe? *halah*

  4. Wah ternyata ada ya alat untuk ngetes pedas. Anak sulungku doyan pedes, gara-gara pembantu saat dia kecil suka masak yang pedas-pedas, sekali makan gado-gado tahan pake cabe rawit 14 buah, saya nggak suka pedas…..repot juga selera dirumah bermacam-macam terhadap tingkat kepedasan.

    Sama-sama cabe rawit, saya pernah dikasih tahu teman Indonesia yang dapat bule Perancis, bahwa cabe rawit di Perancis pedaaas sekali…Saat itu saya ada seminar dan ditraktir bakso di rumah makan dekat Place d’italie…cabenya pedas sekali…. jenis varietasnya atau tanahnya ya….yang membuat beda tingkat kepedasannya….

  5. Wah … ketika pulang ke Padang, Ibu dan adik memasakkan masakan Padan ‘Asli’. Nikmat, tetapi sebagai orang rantau saya merasa kepedasan. Saya pingin coba pengetahuan ini dengan mengukur tingkat kepedasannya, tapi … alat siap pakainya susah ya. Cukup untuk pengetahuan aja ya Pak.

    Nah, lagilagi … suatu kali kampus atap kampus direhab Pak, wuaw kena hujan glegar, jangankan ngomon, teriak saja susah di dengar. Penasaran, saya datangi beberapa sekolah … e … atapnya sama. Roof-roof itu, bukan multiroof standar.

    Maksud saya, apa sih alat untuk ngukurnya. Seorang teman di lngkungan Bepelkes, menurunkan mahasiswanya, ternyata … sekian bar, sama dengan deru mesin pesawat. Kalau Kang Yari ada nformasi, tolong dong.

    Saya ingin, untuk bangunan pendidikan agar dipakai atap terstandar yang memperhitungkan tingkat kebisingan atau kebrisikkan. Maaf, bukan PR, lho Pak.

  6. Saya jadi tertantang nih nyari Naga Jolokia. Kalo cengek aja mah ga da apa-apanya. Mungkin dinamai Naga karena setelah makan bisa ngeluarin api dari mulut ya😀

  7. kurang pedes lagi.. pake sendal🙂

  8. kalo sambel kerasa kurang pedhes, taruh aja di mata.. we he he..

  9. @abintoro

    Ya…bin…. memang Wasabi itu bukan termasuk cabai tapi sejenis dengan horseradish atau bisa juga dengan kubis2an. Senyawa yang membuat pedaspun berbeda dengan yang berada pada cabai.🙂

    @eNPe

    Saya doakan semoga sukses dan terkabulkan ya!🙂

    @Sawali Tuhusetya

    Wah…. kalau mules kan malah kebeneran dong pak?? Jadinya BAB-nya nggak susah lagi dan nggak usah beli Vegeta😀

    @edratna

    Mungkin itu cabai habañero atau memang ada berbagai spesies bird’s eye pepper dari Afrika yang juga sangat pedas. Tapi omong2 makanan Italia apa yang pakai cabai rawit yang dimakan begitu ya??❓

    @Ersis W. Abbas

    Wah…. kalau tanya masalah atap genteng ya mungkin harus tanya pada produsen genteng dong wakakakak…… tapi saya yakin dalam pengujian kualitas yang lebih penting adalah prosedur bukan hanya alatnya.

    Hmmm informasi itu belum saya cari sih…. tapi nanti saya coba cari…. tapi harus jelas dulu spesifikasinya apa yang mau dicari biar saya mencarinya juga bisa lebih terfokus dan efisien. Ok?🙂

    @prasso

    Huahahaha…. sepertinya begitu….. tetapi nanti jangan2 benerannya setelah makan Naga Jolokia yang keluar bukannya api malah ludah aja… huehehehe……

    @Hedwig™

    Udah pernah nyoba ya??:mrgreen:

    @andex

    Ya…. apalagi kalo ngulek sambel di mata!!:mrgreen:

  10. Wah, baru tahu ada alat untuk mengukur kepedasan cabe. Benar2 infomatif.

    ____________________________________

    Yari NK replies:

    Terima kasih kembali. Omong2 suka pedhes nggak neh? hehehe….😀

  11. kalo PikSet alias Keripik Setan (biasa mangkal di deket Kings – alun2 bandung) itu makenya Cabe jenis apa yaa??😀
    besok2, kalo mau nyari pengukur untuk menentukan derajat kepedasan Cabe, pake lidah saya aja pak, dijamin semua jenis Cabe dikata skala scoville-nya di atas satu juta smua, kekeke..

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Keripik setan pedes ya?? Kalau menurut saya kok pedesnya sih biasa2 aja hehehe….. Yang jelas cabainya pasti bukan habañero apalagi Naga Jolokia.😀

    Wah kalau semuanya dikasih di atas skala 1 juta nanti yang udah beneran di atas skala 1 juta mau dikasih skala berapa dong? Hehehehe…..😀

  12. Duh gara-gara baca tentang cabe, saya jadi kangen masakan Padang yang pedes ituh…..😀

    Btw, saya juga baru tahu nih….😀 Thanks…

    Btw lagi, kenapa penetral untuk mengukur tingkat kepedesan suatu cabe pada awalnya pake gula (yang manis-manis)? Kalau pake garam bisa ga Pak?

    Duh gara-gara paragraf-pragrafnya nya kepanjangan, mata jadi pedes juga….

  13. Duh gara-gara baca tentang cabe, saya jadi kangen masakan Padang yang pedes ituh…..😀

    Btw, saya juga baru tahu nih….😀 Thanks…

    Btw lagi, kenapa penetral untuk mengukur tingkat kepedesan suatu cabe pada awalnya pake gula (yang manis-manis)? Kalau pake garam bisa ga Pak?

    Duh gara-gara paragraf-pragrafnya nya kepanjangan, mata jadi pedes juga….

    Maaf yang tadi lupa ganti nama….😀

    __________________________________________________________________

    Yari NK replies:

    Kangen sama masakan Padangnya apa kangen sama pedesnya?? Kalau kangen sama pedesnya mah gampang, tinggal beli aja cabai di sana terus dimakan begitu aja, banyak kan cabe di sana juga?? hehehehe…..😀

    Ya…. itu karena gula adalah zat terbaik untuk penetral capsaicin, zat yang membuat cabai terasa pedas. Kalau misalnya kepedasan, minum air yang mengandung gula lebih cepat hilang pedesnya dibandingkan dengan minum air putih biasa.

    Huahahaha…. pedes ya matanya lihat paragraf saya yg kepanjangan?? Sorry deh, anggap aja itu masakan Padang untuk mata dulu, ntar kalau pulang ke Indo baru deh ngerasain masakan Padang beneran yang buat lidah/perut! Huehehehe…..:mrgreen:

  14. Hohoho, skala Scoville, ya?😛 Saya malah ngerinya sama pepper spray, mas. Seribu kali cabai rawit. Berbahaya juga kalau dipakai iseng… Ada yang ultah, disemprot pepper spray…:mrgreen:

    _________________________

    Yari NK replies:

    Sekalian aja ditelen jangan disemprotin!😛:mrgreen:

  15. Eh, kalau ditelan rasanya seperti apa, ya?😕

    ___________________________________

    Yari NK replies:

    Mau nyoba?? Saya sih nggak mau, disemprot aja nggak mau!:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s