Ponsel dan Uang Virtual Akan Menghancurkan Bank?

a cellphoneeuro bill

Perhatian:

Dalam artikel ini akan disebutkan beberapa buah merk produk. Hal ini bukanlah dimaksudkan sebagai iklan terselubung melainkan semata-mata hanyalah karena keterkaitannya dengan artikel ini. Terima kasih.

Beberapa bulan yang lalu, saya menerima SMS dari Telkomsel yang mengabarkan servis mereka yang baru yang katanya “Pertama di Indonesia” yaitu “T-Cash” singkatan dari “Telkomsel Cash”. Telkomsel Cash ini adalah uang virtual di mana dengan Telkomsel Cash ini kita tidak perlu membawa2 uang kas untuk berbelanja di merchant tertentu yang bekerjasama dengan Telkomsel, cukup kita menyebutkan nomer MSISDN kartu ponsel kita kepada kasir di merchant tersebut ketika terjadi proses pembayaran.

Di Jepang, cellphone payment ini sudah jauh lebih maju lagi, sudah banyak sekali merchant-merchant yang menerima pembayaran lewat ponsel. Caranyapun sudah jauh lebih maju. Jikalau pada T-Cash, pelanggan sebelumnya harus mengisi T-Cashnya dulu sebelum digunakan sama seperti beli voucher isi pulsa ponsel, maka di Jepang tidak perlu mengisi kas virtualnya dahulu, tagihan akan muncul bersamaan dengan tagihan bulanan ponsel bulan berikutnya, dan jikalau ponsel prabayar akan langsung mengurangi saldo pulsanya secara otomatis.

Salah satu merchant di Jepang yang getol menerima pembayaran lewat ponsel ini adalah perusahaan minuman ringan AS Coca-Cola. Ya, Coca-Cola meng-upgrade hampir seluruh mesin penjual minuman ringannya di seluruh Jepang agar pembeli dapat membeli sekaleng minuman Coca-Cola hanya dengan ponselnya dan tidak usah repot2 mencari koin atau uang receh untuk membelinya.  Perusahaan selular terkemuka di Jepang DoCoMo dan industri elektronik raksasa Jepang Sony yang mengembangkan sistem ini yang dinamakan Felicia. Felicia adalah mikrochip yang ditambahkan di ponsel tertentu yang berfungsi sebagai pengganti kartu kredit tradisional.  Di seluruh dunia ini tentu bukan hanya Coca-Cola saja merchant yang menerima pembayaran ponsel ini dan juga bukan hanya DoCoMo dan Sony saja yang mengembangkan pembayaran dengan ponsel, perusahaan2 lain seperti SanDisk (yang lebih dikenal sebagai perusahaan pembuat storage card dan Flash Disk) dan raksasa elektronik Belanda Philips serta banyak perusahaan2 lainnya berlomba2 untuk ‘menghilangkan’ uang kas sebisa mungkin dan mengalihkannya menjadi uang virtual atau uang digital untuk transaksi ekonomi sehari-hari.

Lantas kalau uang kas dihilangkan dan diganti dengan uang virtual (baca: pulsa telepon) bagaimana dengan nasib perbankan?? Nah itulah….. dahulu sebelum manusia mengenal uang sebagai alat pembayaran, transaksi dilakukan secara barter (pertukaran), dahulu pula jika orang ingin bertukar barang mudah sekali, asal sama2 saling membutuhkan pertukaran dapat terjadi dan tidak memikirkan apakah barang yang akan saya beri lebih murah atau lebih mahal dari benda yang akan saya dapatkan. Namun setelah manusia mengenal uang dan mengakui uang sebagai alat pembayaran yang sah, maka pertukaran (barter) menjadi tidak mudah atau tidak bebas lagi, orang kini berfikir kalau bertukar barang ingin yang sesuai harganya, karena kini setiap barang telah dipatok berdasarkan harga tertentu dengan sistem uang yang berlaku. Kini tentu orang tidak mau menukar handphone dengan sebuah apel karena dianggap harganya tidak sesuai, namun dahulu sebelum dikenalnya sistem mata uang, mungkin handphone (anggaplah misalnya zaman dulu handphone sudah ada) bisa ditukar dengan sebuah apel asalkan kedua fihak yang ingin bertukar masing2 membutuhkan benda2 tersebut. Nah, setelah lewat zamannya barter kini orang mengenal zamannya uang, namun di masa mendatang mungkinkah uang dapat digantikan dengan pulsa telepon (atau uang virtual) sebagai alat pembayaran yang sah??

Ya, kini setelah perusahaan2 penyedia jasa selular membuat bangkrut perusahaan2 pager/penyeranta serta membuat penghasilan penjual kartu pos dan pos giro menurun drastis kini nampaknya perusahaan2 penyedia jasa selular ini mulai melirik perbankan untuk “disingkirkan”. Hal ini juga didukung oleh perusahaan2 penyedia perangkat keras telekomunikasi dan perusahaan2 elektronik terkemuka di seluruh dunia. Ini ditandai dengan dimulainya era “cashless economy” ataupun “cashless society” sekarang. Tentu “cashless society” masih menjadi seumur jagung saat ini dan masih jauh untuk menggantikan peran uang kas secara keseluruhan. Jalan menuju “cashless society” secara kseluruhan sangat berliku dan sulit, itu disebabkan bukan hanya dalam “cashless society” perlu konsensus bersama dunia internasional untuk menggantikan uang kas dengan pulsa ponsel, tapi juga perlu difikirkan persoalan2 pada sistem2 mulai dari hilir hingga ke hulu. Mulai dari peran bank sentral dan “penerbitan” pulsa ponsel,  pendistribusian pulsa ponsel sendiri hingga persoalan di masyarakat tingkat bawah di mana semua orang harus mempunyai ponsel (minimal yang murah) guna melakukan transaksi sehari2, karena kini transaksi dibayar dengan perpindahan pulsa ponsel. Mungkin kalau di supermarket atau di toko2 besar, walaupun tidak punya ponsel asal punya nomor ponsel, perpindahan pulsa dapat dilakukan dengan terminal komputer, namun kalau transaksi terjadi dengan tukang bakso yang nggak punya terminal komputer yang terhubungkan dengan sistem, bagaimana pembayaran bisa dilakukan?? Nah, hal2 kecil seperti inilah yang juga mesti dipecahkan.

Waktu untuk menggantikan uang kas dengan pulsa ponsel sebagai alat pembayaran secara keseluruhan memang masih lama, katakanlah paling sedikit mungkin masih 50 tahun lagi. Untuk mengubah dari sistem uang kas menjadi pulsa ponsel sebagai alat pembayaran tentu juga tidak memerlukan biaya yang sedikit, biaya yang dikeluarkan juga tentu sangat banyak. Untuk itu mungkin perubahan dilakukan secara evolusioner (setahap demi setahap) dan tidak revolusioner (sekaligus) dan jalan menuju perubahan itu kini telah terbuka lebar. Selain biaya yang mahal, untuk merubah suatu sistem yang sudah mengakar dan meluas di tengah2 masyarakat tentu juga bukan perkara yang mudah namun bukan berarti tidak mungkin. Kita tidak pernah tahu apa yang dapat dilakukan oleh kemajuan teknologi di masa mendatang, sepuluh tahun lalu kita tidak menyangka bahwa dunia telekomunikasi selular bisa ‘bertabtrakan’ dengan dunia perbankan namun seiring dengan kemajuan teknologi kini transaksi dapat dilakukan hanya dengan melibatkan perpindahan atau transfer data digital saja dan nampaknya pada transaksi2 yang akan datang orang semakin tidak dan tidak lagi memerlukan uang kas secara fisik, hal inilah yang dimanfaatkan benar oleh para penyedia jasa pelayanan selular dan didukung oleh perusahaan2 raksasa elektronik dunia. Dan mungkin juga kemajuan teknologi tidak berhenti sampai di situ saja, mungkin nomor ponsel anda di masa mendatang juga dapat berfungsi sebagai nomor identitas pribadi anda dengan database diri anda yang sangat lengkap, dan dapat berfungsi sebagai pengganti KTP dan banyak kejutan2 lain yang dihasilkan oleh kemajuan era digital ini……….

Iklan

22 responses to “Ponsel dan Uang Virtual Akan Menghancurkan Bank?

  1. Pertamaxxxx?? ya ampyun, akhirnya…huehuehue…

    iya pak, teknologi makin canggih aja ya, tapi gimana pun juga kebijakan untuk mengimplementasikan suatu teknologi juga harus memperhatikan kebutuhan dan budaya di suatu daerah. Contoh aja sekarang ini, layanan e-banking atau sms-banking sudah merajalela dan menjadi alternatif transaksi perbankan yang memudahkan nasabah, tetapi masih banyak juga orang yang kerasa lebih nyaman dengan transaksi penarikan tunai, terbukti dengan makin panjangnya antrean di suatu bank swasta terkemuka. 🙂

  2. Sepertinya semuanya sekarang serba virtual mulai dari kencan hingga uang yg ga ada mungkin makanan dan pakahan virtual kali ya hehehe…

    btw pagi2 aku dah gagal pertamax nih! 😦

  3. kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi memang telah membuat kehidupan umat manusia mendapatkan banyak fasilitas dan kemudahan. Namun, jika tidak waspada dan hati-hati, berbagai fasilitas dan kemudahan itu gampang sekali menjebak umat manusia untuk melakukan tindakan konyol yang seringkali bertentangan dengan nilai-nilai kepribadian dan peradaban. celakanya, banyak di antara kita yang tanpa sadar sudah mempunyai “Tuhan” yang baru, sehingga menjadi stress ketika sedetik saja tidak berinteraksi lewat teknologi. Saya iseng bertanya kepada Bung Yari, hiks, selain HP, apakah internet akan menjadi “Tuhan” yang baru bagi manusia maya yang merasa kehilangan apabila sehari saja tidak menyentuhnya? hahahahaha 😆

  4. Menurut saya .. walaupun nanti uang diganti dengan ponsel dan uang virtual, tetap harus ada lembaga intermediari yang mengatur lalu lintas transaksi. Apakah nantinya tetap dinamakan bank atau apapun .. fungsi bank pasti tetap ada.

    Mohon maaf kang .. kalo ada salah kata. Karena saya tahu akang itu fintar sangadh dan ga bisa dibantah. Jadi saya nulis ini dengan penuh ketakutan.

  5. gila..teknolgi itu kadang bikin manusia mjd gila, blm fasih orang2 mneggunakan ATM untuk membyar segala sesuatunya, blm fasih manusia menggunakan HP tercanggihnya sudah keluar lagi evolusi baru teknologi..
    tapi, memnag benr om, tidak ada yg abadi selain perubahan

  6. Kita tidak pernah tahu apa yang dapat dilakukan oleh kemajuan teknologi di masa mendatang, sepuluh tahun lalu kita tidak menyangka bahwa dunia telekomunikasi selular bisa ‘bertabtrakan’ dengan dunia perbankan namun seiring dengan kemajuan teknologi kini transaksi dapat dilakukan hanya dengan melibatkan perpindahan atau transfer data digital saja dan nampaknya pada transaksi2 yang akan datang orang semakin tidak dan tidak lagi memerlukan uang kas secara fisik, hal inilah yang dimanfaatkan benar oleh para penyedia jasa pelayanan selular dan didukung oleh perusahaan2 raksasa elektronik dunia …

    … Kita tidak akan menghentikan kemajuan tehnologi bukan? tehnologi di lintasan kehidupan adalah kehdiupan itu sendirir … bersiap-siaplah hidup dan menikmati kehidupan era tehnologin yang makin maju …

    Kapa sih ‘kita’ ikut sebagai pencipta dibanding penikmat saja?

  7. Kalau itu jalan, wah, saya akan sangat senang sekali!
    *soalnya sering ilang dompet dan terpaksa nyuci piring di warung*

  8. @Pipiew

    Betul mbak Pipiew memang di sebagian masyarakat ada yg sangat sulit beradaptasi dengan teknologi baru, sedangkan di sebagian masyarakat yang lainnya sangat mudah beradaptasi. Namun yang sulit beradaptasi itu biasanya hanya temporer dan tidak permanen. Biasanya kalau nanti teknologi itu memudahkan kehidupan rakyatnya (dan harganya murah) serta berdampak kerusakan yang minimum biasanya teknologi tsb mudah diterima.

    Contohnya sekarang henpon (dan juga Internet) sudah sampai merambah ke desa2. Zaman dahulu banget bank juga tidak mendapat tempat di hati orang2 kampung, asumsinya lha kok duit saya diserahkan dan disimpan sama orang lain, aman nggak ya??? Belum lagi kalau misalnya sewaktu2 saya butuh duit itu, tidak bisa langsung saya gunakan tapi harus dengan prosedur yang ‘berbelit2’ dulu, ah! bikin repot aja! Tapi sekarang bankpun udah diterima hingga ke desa2. Ya, biasanya penolakan itu bersifat temporer saja dan tidak permanen….. 🙂

    @abintoro

    ‘pakahan’ maksudnya ‘pakaian’ kaleeee….. lha iyalah, makanan dan pakaian virtual kayak apa bentuknya?? Sampeyan mau pake pakaian virtual bin? :mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya

    Wah…. ya nggak dong pak Sawali…. huehehehe….. kalau analoginya seperti itu mungkin kalau misalnya seseorang juga nggak bisa berhenti merokok tiap hari apakah kini rokok juga sebagai “Tuhan” bagi sebagian orang yang tidak bisa berhenti merokok? Ya nggak dong, kan? Huehehehe….. 😀

    @erander

    Fungsi perbankan ya tentu saja akan (mungkin) terus ada. Misalkan dalam masa depan operator telepon selular akan membungakan pulsa, itu juga merupakan salah satu dari fungsi perbankan. Namun di masa2 mendatang fungsi2 perbankan tentu akan mengalami penyesuaian, ada fungsi2 yang dipertahankan, ada fungsi2 yang dihilangkan atau mungkin ada fungsi2 yang ditambahkan yang mungkin tidak ada di zaman sekarang.

    Seperti anda menulis surat dahulu dan menulis email sekarang, sebenarnya sekarang fungsi menulis suratnya sendiri masih ada sampai sekarang hanya saja sekarang mengalami penyesuaian yaitu media yang digunakan berbeda.

    Kalau saya mengatakan ‘perbankan’ di atas bukan berarti fungsi ‘perbankan’nya tapi industri perbankannya itu sendiri yang terancam. Mungkin nasibnya di masa mendatang sama dengan industri ‘pager’ (fungsi ‘paging’nya sendiri tetap ada sampai sekarang dalam bentuk SMS). Satu2nya cara di masa mendatang kalau masa seperti itu tiba adalah merubah halauan bisnis perbankan, dari bentuk bank menjadi operator telepon selular sebelum terlambat. Kurang lebih mungkin sama dengan Nokia, yang dulu adalah perusahaan kayu gelondongan dan kini menjadi perusahaan penghasil ponsel yang sukses.

    @fauzansigma

    Betul sekali mas fauzan, tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri karena mungkin perubahan tersebut yang menyebabkan sesuatu menjadi tidak abadi. 🙂

    @Ersis W. Abbas

    Kapan kita ikut sebagai pencipta bukan penikmat??

    Hmmm pertanyaan bagus….. negara kita hanya bisa jadi penikmat jikalau kita tidak bisa menghargai ilmuwan2 dan insinyur2 yang telah berkontribusi paling besar dalam perubahaan peradaban umat manusia ini. Bangsa ini hanya sibuk memikirkan bisnis dan bisnis saja, sedangkan ilmu dan teknologi dinomorduakan. Bukannya bisnis itu tidak baik, bukan begitu, namun untuk memajukan suatu bangsa, unsur bisnis saja tidak cukup namun harus juga mencakup penguasaan ilmu dan teknologi.

    Tidak usah jauh-jauh, lihat saja sekarang sekolah2 Manajemen dan Bisnis (juga sekolah hukum dan sospol) menjamur bagaikan cendawan di musim hujan, namun kualitasnya tidak menjamin, sedangkan sekolah2 ilmu pengetahuan dan teknologi?? Bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Memang mendirikan sekolah2 manajemen dan bisnis sangat menguntungkan terutama di jangka pendek, dan cepat untuk meraih breakeven-point (BEP) dan juga keuntungan, yah hanya itu saja yang difikirkan oleh para pendiri sekolah swasta, cepat meraih BEP dan keuntungan.

    Saya sendiri sebenarnya dari kecil tertarik jadi ilmuwan, saya senang sekali dengan planet2 di luar angkasa atau molekul2 kecil yang berperan sangat sangat besar dalam kehidupan kita. Namun ortu saya dulu berkata: “Mau makan apa kamu di negeri ini jadi astronom? Mau makan apa kamu di negeri ini jadi ahli kimia?? dll….dll…..” Saya rasa itupun juga terjadi dengan jutaan orang tua lainnya di negeri ini yang meingingkan hal “terbaik” bagi putra-putrinya (bahkan mungkin banyak yang lebih parah lagi).

    Jadi sekarang pak Ersis tahu kan…. kenapa negeri ini hanya menjadi penikmat teknologi saja? 🙂

    @Black_Claw

    Sering kehilangan dompet yaa?? Ah… nggak papa… dompetnya toh kosong ini huehehehe….. :mrgreen:

    **kaboor**

  9. Thanks for the knowledge… I am not sure about tax for this kind of transaction… May be there will be double tax for Indonesian customer if it’s apllied in Indonesia and perhaps there is additional fee for this service that make the goods’ price more expensinve than the conventional system.. I don’t know, may be somebody wants to explain it?

  10. Wah, Kang Yari ini memang hebat. Setiap ke sini saya hanya bisa membaca, hehe. 😳

    Teknologi semakin canggih. Ya, melalui ponsel pun kita sudah bisa mentranfer dana. Yang saya cemaskan nih, Kang. Teknologi memang mempermudah pekerjaan tapi lama kelamaan jasa tenaga manusia akan semakin berkurang. Pengangguran bertambah deh. OOT ga ya?

  11. Wah, kalau begitu sindikat pengedar uang palesu bisa ikut bangkrut juga donk pak.. :mrgreen:
    BTW kita juga tidak tahu apakh 10 atau 50 tahun lagi tu dah kiamat ato belum….

  12. kalo saya, pulsa menghancurkan dompet dan rekening saya… apalagi kemaren kena potong gaji! d**cuk!

  13. Wah, nih mau bertanya hal yang ga mutu.

    Kalau nanti transaksi-transaksi semuanya menggunakan uang virtual yang disediakan penyedia jasa selular, trus bayar ke penyedia jasa selularnya pake apa Pak? (Kok nanyanya ga mutu nih… Tapi wajib dijawab, soalnya saya bingung..) 😀

  14. @Agoy

    First of all, I don’t understand the ‘double-tax’ you mentioned above. But I have a hunch that it is a combination of the Income Tax and the Value-Added Tax (VAT) imposed on the virtual money (credit balance of your cellphone)?? I hope I’m not mistaken here.

    Well, in that case, I’m gonna let you know, if something like that happens in the future (which is the virtual money is the only valid thing as the means of payment/transaction), we can simply abolish the VAT and leaving only the Income Tax effective. The abolishment of VAT from the virtual money (in this case: the credit balance of your cellphone) will not greatly affect the government’s income from the tax since there will be new more items which can be levied on.

    So, I think the taxation system should not and will not be able to stop technology from changing the shape of businesses in the future. 🙂

    @atapsenja

    ah… mbak Hanna ini kerjaannya memuji2 terus, jadi seneng malu saya nih! 😳 hehehehe….

    Ah nggak OOT kok mbak, memang benar sih teknologi memang banyak menimbulkan pengangguran terutama untuk pekerjaan di tingkat bawah. Dan semakin canggih Artificial Intelligence (AI) di masa yg akan datang, akan semakin banyak manusia yg kehilangan pekerjaannya bahkan tenaga2 profesional seperti dokter, pengacara dan akuntan mungkin di masa mendatang bisa juga kehilangan pekerjaannya dan digantikan oleh AI. Salah satu cara mungkin adalah menciptakan pekerjaan yang sulit dijamah oleh AI, namun andaikan manusia gagal menciptakan pekerjaan2 seperti yg dimaksud, biarkanlah hukum alam yg berbicara, jikalau manusia banyak pengangguran maka terpaksa produksi robot2 AI di masa mendatang harus dikurangi lewat kebijakan pemerintah, dsb….. Wah kompleks juga permasalahannya ya? 😀

    @maxbreaker

    Ya kalau begitu…. pindah profesi aja dari sindikat pengedar uang palsu menjadi sindikat pengedar voucher ponsel palsu! :mrgreen: Huehehehe….

    Ya iya lah…. kalo masalah kiamat ya nggak tahu kapan….. bisa besok bisa milyaran tahun lagi, nobody knows it! 😀

    @andex

    Lhaaa…. nggak usah beli pulsa2an juga dompet dan rekening sampeyan udah hancur2an kok! Huehehehe….. :mrgreen:

    @mathematicse

    Ya gampang tho….. nggak usah ada sistem bayar kan? Pada waktu itu (di masa mendatang jikalau hal tersebut terjadi) justru jikalau kang Jupri ingin membeli sesuatu, kang Jupri ‘wajib’ mempunyai pulsa telepon seperti halnya sekarang kalau kang Jupri ingin membeli sesuatu, kang Jupri ‘wajib’ mempunyai uang. Nah, pulsa telepon tadi didapat manakala kita bekerja, kita digaji dengan ‘pulsa telepon’ atau kalau kita menjual sesuatu kita mendapatkan juga ‘pulsa telepon’. Nah, bagaimana sekarang jikalau ingin ‘membayar’ jasa telekomunikasi? Ya gampang, pulsa teleponnya tinggal dideduksi aja kan?? Sama seperti sekarang, bank mendeduksi tabungan kita untuk biaya administrasi dan segala tetek bengek! Jadi gampang kan? :mrgreen:

  15. I mean…double tax is double VAT (10%) application for the goods. Firstly I thought that the cellular operator bought the goods (goods’ price + VAT) then they sold it to the customer (goods’s price + VAT + service fee+ delivery fee+VAT ) but friend of mine explain that there would be no double tax since this is kind of banking services. But it makes the goods price more expensive since the customer has to pay the service charge and whtax for this services (and probably the delivery cost).

    _______________________________________

    Yari NK replies:

    Before I go any further, I’d like to make sure is that the handset itself instead of the credit balance which is the virtual-money-to-be that you are talking of? If it is, then I’d like to tell you that selling the handset itself is a far cry from the context I am talking of. Yes of course there might be VAT within the the selling of the handset (and for now the use of the cellphone itself is also VAT-levied), but in the future things might be totally different from what we know today concerning the selling of the handset. Maybe in the future, cheap handsets can be distributed freely by the cell operators if someone contrives to deposit a certain amount of credit call balance in the operator. Or if the handset would become a must to have for people (that covers poor people), the govt can abolish the VAT from the selling of the handset to make it cheaper especially for the poor. Well, VAT is only a man-made regulation and of course it easily changes from time to time. 🙂

  16. Pengisian terlebih dulu pada layanan ini (tanpa diikutkan pada tagihan penggunaan telepon) setahu saya untuk menjaga eksistensi bank juga, pak. Regulasi untuk peluncuran layanan ini memang rumit karena melibatkan beberapa pihak. Produk ini dikaji cukup lama juga oleh Bank Sentral kita, agar perbankan sebagai lembaga keuangan tetap dilibatkan. (agak tahu dikit, agak terlibat dikit, hehe)

    _________________________________________

    Yari NK replies:

    Yah itu dia pak Indra, memang peranan bank pada saat ini masih sangat kuat, tapi di masa mendatang, yah, kita tidak tahu, terutama dalam era virtual, apakah industri perbankan ini masih bisa eksis (berperan) atau tidak. Terims ya pak Indra atas sharing-nya. 🙂

  17. The goods here can be meant as any goods that we can buy by using T-cash. For example we buy a burger by using T-cash, we will pay the price of burger it self+ service fee for cellular operator;-Telkomsel + value added tax 10% . If we order delivery service then extra delivery cost will be added. Still more expensive than convensional system. But the value added from its service is priceless. Well T-cash is like TT money right?

    ________________________________________________

    Yari NK replies:

    No, T-Cash does not work like the one you describe above (as far as I know). If you pay using the T-Cash, you will only pay a single VAT. No additional VAT for the operator will be charged to you. It might have an additional cost (that’s the thing that I don’t know), I said MIGHT, for admistratives or others but it is natural that you will be charged more for an exclusive convenience. But in the future if the virtual money is the only valid thing as the means of payment, chance is you will be freed from the obligation of paying such additional cost. Got it? 🙂

  18. kemajuan teknologi tiap detik terus terjadi di seluruh dunia. tapi kita gak wajib mengikuti semua teknologi itu. yaa..dipilih2 lah kalo gak baik n punya efek negatif, ga perlu diikuti jadi cuekin ajah,kekeke…
    kalo semua sudah serba virtual, maya jadi hanya melotot depan kompy bisa hidup enak trus apa masih berlaku “manusia makhluk sosial”? sosialisasi maya? trus gimana pengaruh kehidupan manusia tersebut secara nyata? 😀

    _____________________________________

    Yari NK replies:

    Ya mbak ada betulnya mbak, sebenarnya teknologi itu pasti ada gunanya cuma terkadang manusia saja yang menyalahgunakan. Seperti tenaga nuklir misalnya, selain bisa dibuat bom tentunya energi nuklir ini bisa sangat berguna bagi kehidupan umat manusia ini.

    Contoh lain adalah Internet, ya Internet ini tentu berguna bagi kita semua guna perluasan wawasan dan mencari informasi, tapi kalau disalahgunakan ya tentu merugikan seperti mengakses situs2 si parno porno atau menghabiskan waktu berjam2 untuk chatting yang nggak berguna (kalau cuma sebentar atau chattingnya berguna ya nggak apa2) sehingga mengganggu waktu kerja, waktu belajar, menjadi asosial, dsb. Yah, tinggal manusianya saja bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut untuk hal2 yang berguna. Ya kan? 😀

  19. Hopefully…. 🙂

    ______________________

    Yari NK replies:

    Huehehehe….. you don’t need to understand everything but one: That virtual money is created to make people moving towards a better life, not the other way around! 🙂

  20. Yth. Mas/Mba,

    Ikut nimbrung …
    Solusi dan teknologi yang dibicarakan di blog ini sudah terjawab semua dan ini hasil karya putra bangsa. T-cash,Flazz atau yang lainnya boleh bangga dengan teknologinya tapi apa yang konsumen dapat darinya. Kini telah hadir SOLUSI pembayaran/pembelian yang mudah,murah,aman,menguntungkan dan dapat dipercaya bagi kita.
    Silahkan Mas/Mba pelajari di http://www.kartupulsa.com , dengan kode aktivasi 2131218004
    Bankpulsa is created to make people moving towards a better life and get profit. it’s smart solution for us!

  21. dan pastinya banyak sekali manfaat positif dan negatif nya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s