Daily Archives: Sabtu, 2 Februari 2008

GSM vs CDMA: Adu Murah, Tapi Siapa Yang Paling Murah?

Logo GSMlogo CDMA Development Group

Kali ini saya masih bercerita tentang ponsel, tetapi bukan hubungannya dengan bank dan uang virtual melainkan hubungannya dengan “perang tarif” yang berlaku pada saat ini, di mana para operator selular (dan FWA: Fixed Wireless Access) berlomba2 menawarkan tarif murah kepada para pelanggannya. Mengapa para operator selular (termasuk operator FWA) berlomba2 menawarkan tarif yang rendah? Itu karena operator selular di negeri ini sangat banyak sekali dan berlisensi nasional. Bahkan jumlah operator selular di negeri ini (yang berlisensi nasional) jumlahnya lebih banyak dari jumlah operator di banyak negara maju sekalipun.

Di Bandung ini misalnya, terdapat 10 pemain dalam pengoperasian telepon selular (termasuk FWA) yaitu: Telkomsel, Indosat, XL, 3, Natrindo Telepon Selular (NTS) di platform GSM. Sedangkan di platform CDMA ada Fren, Smart, TelkomFlexi, Esia dan Indosat Star One. Menurut saya ini “luar biasa” karena di negeri jiran kita Malaysia (yang konon lebih makmur), pemain selular di negeri itu hanya 3 atau 4, dan di negeri jiran Malaysia, orang2 di sana masih bermimpi memiliki ponsel CDMA karena di negeri itu memang belum ada CDMA! Satu-satunya platform yang mirip2 CDMA di Malaysia yang sudah beroperasi secara komersial adalah yang berplatform 2G-IS-95A yang primitif seperti telepon WLL-nya Telkom dulu. Di dua negeri jiran kita yang konon juga lebih makmur lagi yaitu Singapura dan Brunei, ‘nasib’nya juga tidak jauh dari Malaysia dalam pilihan teknologi berkomunikasi, mereka juga masih ‘bermimpi’ untuk memiliki CDMA. Bahkan di London, Inggris, terakhir yang saya tahu, mereka hanya punya 6-7 operator selular saja seperti O2, Hutchinson UK (3), Orange, T-Mobile UK, Vodafone, dsb. Semuanya berplatform GSM dan (setahu saya) tidak ada operator CDMA di Inggris! Jadi dalam pilihan berkomunikasi, Bandung jauh lebih maju daripada Kuala Lumpur, Singapura atau bahkan London sekalipun!! Huehehehe… 😀 Ya, pasar yang terbuka dan besar serta kenyataannya penetrasi ponsel di Indonesia masih 30% dari seluruh penduduk Indonesia, menyebabkan sektor telekomunikasi di Indonesia ini menjadi incaran investor2 asing. Di kala investor asing banyak yang hengkang dari negeri ini, sektor telekomunikasi di negeri ini malah “kebanjiran” investor2 asing. Nah karena banyaknya pemain2 atau operator2 selular yang bergentayangan di negeri ini, yang banyak dimodali pemodal2 asing, maka persaingan sengit tak terhindarkan lagi. Setiap operator kini menawarkan ‘tarif murah’. Tapi benarkah yang ditawarkan operator selular itu tarifnya benar2 murah? Dan siapa yang paling murah??

Untuk menjawab pertanyaan ini tentunya tidak mudah, karena kita mungkin agak malas untuk mencoba satu persatu kartu dari setiap operator selular lantas kita menghitungnya berapa riilnya tarif masing2 kartu (kecuali orang yang nggak ada kerjaan kali yang mau melakukan seperti itu! :mrgreen: ). Lantas mana yang paling murah dong?? Kalau mau pakai yang paling ‘murah’ ya pakai saja ‘Smart’ karena menelepon ke sesama Smart, sepanjang masa promosi ini, katanya benar2 gratis selama 24 jam. Tapi itu dengan catatan kalau relasi2, saudara2 atau keluarga2 kita banyak yang pakai Smart. Kalau tidak?? Ya, sama aja oblong! Tetapi menurut pengamatan dan pengalaman saya, kalau anda orang yang pelit hemat dalam berkomunikasi, gunakanlah XL Bebas! Lho kok? Apa karena tarifnya yang Rp 0,1 per detik ke semua operator itu?? Sebenarnya bukan karena itu, namun sebelumnya perlu diketahui bahwa perhitungan XL yang katanya Rp 0,1 per detik itu tidak sepenuhnya benar. Karena jikalau anda di Pulau Jawa dan menelepon ke operator lain selama 5 menit misalnya, biaya yang dikeluarkan bukannya 5 X 60 X 0,1 = Rp. 30,- melainkan 3 X 60 X 25 + 2 X 60 X 0,1 = Rp.4512 ! Itu kalau merujuk pada panduan resmi XL di sini. Nah, berarti nggak murah2 amat kan? Lantas kenapa saya menganjurkan XL Bebas (eits…. ini bukan promosi terselubung lho! 😛 ) untuk berkomunikasi bagi orang2 yang pelit hemat??

Begini….. sebelumnya harus dibedakan antara ‘hemat’ dan ‘murah’. Kalau ‘hemat‘ itu mencakup tarif yang murah, jadi semakin kecil tarif per detiknya semakin hemat kartu itu, tentu ini menyangkut kartu yang prabayar bukan yang pascabayar lho! Sedangkan ‘murah‘ menyangkut harga riil sebuah voucher isi ulang dan berapa lama masa aktifnya. Kalau anda membeli voucher elektronik langsung di gerai2 XL, seperti pengalaman saya, dengan voucher Rp. 10.000,- (nilai riil yang kita bayar juga Rp. 10.000,-), nah sedangkan jika kita pakai CDMA Esia, yang katanya juga hemat itu, voucher Rp. 10.000,- hanya berlaku 14 atau 15 hari. Sedangkan yang masa aktifnya sebulan adalah yang voucher Rp. 25.000,-. Saya tidak tahu persis kalau voucher Smart yang katanya bicara sesama Smart gratis, namun saya percaya voucher Smart juga sama dengan Esia atau TelkomFlexi masa aktifnya. Nah, sekarang anda fikirkan sendiri, jika anda termasuk orang yang hemat dalam percakapan telepon selular, taruhlah misalnya penggunaannya kurang dari Rp. 10.000,- sebulan. Tentu anda akan memilih XL. Kenapa? Karena mau tidak mau, jikalau telepon anda mau senantiasa aktif, walaupun pulsa belum habis karena tarifnya yang ekstra ‘murah’, maka tiap bulan anda harus mengisi ulang kartu ponsel anda! Nah, dalam kasus ini tiap bulan anda harus mengeluarkan uang Rp. 10.000,- untuk voucher XL bebas melawan Rp. 25.000,- untuk voucher Esia atau CDMA lainnya. Namun, tentu ini berlaku hanya bagi mereka yang hemat dalam berponsel ria. Sedangkan bagi mereka yang ‘boros’ tentu pertimbangan ‘tarif hemat’ menjadi sangat penting!

Jadi kesimpulannya, jangan percaya terlalu mudah dengan tarif2 hemat yang ditawarkan oleh berbagai macam operator selular sebagai bagian dari program marketingnya. Tarif2 hemat itu sangatlah relatif, pilihlah sesuai dengan kebutuhan kita dan hanya kitalah yang tahu kebutuhan kita. Selidikilah sendiri tarif murah yang ditawarkan oleh para operator dengan seksama dan hati2 kalau perlu dengan perhitungan2 di atas kertas. Yah, kita sebagai konsumen harus jeli dan harus lebih cerdas dari bagian marketing operator2 telepon selular tersebut. Ok?