Emansipasi Wanita: Maunya Yang Enak-Enak Saja??

Women's LibMelihat beberapa reaksi dari para pembaca di postingan saya terdahulu, terutama reaksi dari Mbak Yoga yang menarik dan aneh, yang mempertanyakan kenapa “korban” saya semuanya wanita, menuntun saya untuk membuat postingan ini. Mengapa menarik? Ya, menarik karena komentar2 tersebut (termasuk komentarnya Mbak Yoga) menurut saya terkait dengan masalah emansipasi atau persamaan hak para wanita. Dan mengapa aneh?? Ya, aneh karena saya yang sudah terbiasa “mempraktekan” persamaan hak antara pria dan wanita di manapun saya berada merasa “aneh” dan “lucu” mendengar komentar tersebut, ternyata ada juga kaum wanita sendiri (tentunya bukan mbak Yoga saja sendiri hehehe…..) yang masih “berusaha mendiskriminasikan” antara pria dan wanita walaupun mungkin mbak Yoga (dan juga yang lainnya tentu saja) tidak sengaja atau lebih tepatnya tidak sadar mempertanyakan hal tersebut, namun dengan mempertanyakan hal tersebut   secara tidak langsung mereka telah mendiferensiasikan posisi kaum wanita dari kaum pria.

Namun tentu mbak Yoga tidak sepenuhnya bisa disalahkan karena memang tidak ada manusia yang sempurna yang konsistennya luar biasa 100% karena sayapun sebagai manusia juga seringkali melakukan ketidakkonsistenan seperti yang dimuat  dalam tulisan saya sebelumnya. Dan postingan ini tidak untuk membahas Mbak Yoga dengan komennya ataupun masalah ketidakkonsistenan, namun postingan ini akan membahas masalah emansipasi kaum wanita. Mari, tanpa bertele-tele, kita bahas topik tersebut.

Kata emansipasi ataupun persamaan derajad kaum wanita telah sering kita dengar saat ini. Mulai kita SD, pelajaran sejarah mengenai tokoh pahlawan wanita kita di abad ke-19, RA Kartini, kita telah dicekoki dengan kata-kata “emansipasi kaum wanita”. Saya tidak akan bertele-tele dengan definisi emansipasi ataupun sejarah persamaan derajad kaum wanita di berbagai belahan bumi, namun saya akan langsung melempar opini saya untuk direnungkan dan didiskusikan.

Berbeda dari tananan masyarakat kita di awal abad ke-19, yang masih menempatkan wanita sebagai warga kelas dua, wanita saat ini, termasuk di negeri kita, sudah banyak menempati posisi2 penting dan tinggi dan tidak jarang pula banyak wanita yang sudah menjadi pemimpin, dari pemimpin negara hingga pemimpin organisasi yang kecil. Orang bilang, sudah tidak zamannya lagi kini menghalang2i wanita untuk maju ke puncak karier. Namun betulkah emansipasi wanita telah menuju “arah yang benar”?? Ternyata tidak sepenuhnya benar (yang berarti juga tidak sepenuhnya salah), karena banyak juga ternyata wanita sendiri yang tidak secara sadar membedakan kaumnya sendiri. Memang benar, dalam hal-hal yang enak, empuk dan basah karena duit kalau wanita didiskriminasikan, wanita akan berteriak lantang: “Jangan Ada Diskriminasi!!”. Namun coba ada pekerjaan yang “tidak enak”, wanita akan cuek bebek dan diam saja. Tidak percaya?? Coba saja ada pekerjaan yang berat sedikit wanita akan berteriak: “ah, itu kan pekerjaan laki2!!” atau ada pekerjaan yang kotor2 sedikit seperti di parit2 dan selokan2 dengan entengnya para wanita (walau mungkin tidak semua) akan berkoar: “ah, pekerjaan seperti itu kan pantasnya dikerjakan oleh laki2!!” atau bahkan pekerjaan ringan seperti mengusir tikus di dalam rumah: “Ayo dong Laki2, usir dong itu tikus, moso perempuan sih yang harus ngusir!”, padahal laki2 banyak juga yang takut geli sama tikus, termasuk saya….hihihihi….. Nah, pokoknya kalau ada pekerjaan yang nggak enak dan yang nggak berupah, perempuan banyak yang cuek dan menempatkan pekerjaan yang nggak enak tersebut pada pundak laki2!

Wanita memang diciptakan tidak untuk menyaingi pria **halaah** terutama dalam tenaga fisik, sudah kodratnya wanita rata2 diciptakan lebih lemah daripada pria secara fisik, itu betul, untuk pekerjaan atau aktivitas yang sangat menguras kekuatan fisik yang ekstrim tentu wanita tidak bisa diandalkan sepantasnya memang tidak mengerjakan pekerjaan itu, apalagi kalau wanita tersebut hamil secara fisiologis juga sudah berbeda, jadinya memang wanita tidak perlu mengerjakan atau beraktivitas yang sangat berat apalagi sampai membahayakan jiwanya dan jiwa anak yang dikandungnya.

Namun tentu hal tersebut tidak berlaku bagi wanita yang tidak hamil, apalagi kalau pekerjaan itu “cuma” pekerjaan kotor2an seperti membersihkan parit, mencangkul, mencuci mobil, naik ke atas genting membetulkan genting yang bocor dan sebagainya yang pasti juga bisa dilakukan oleh perempuan, tentu kaum wanita harus mau mengerjakannya juga. Jadi emansipasi wanita bukan hanya masalah memperebutkan kursi di parlemen ataupun masalah memperebutkan posisi dirut di suatu perusahaan yang posisinya empuk tetapi juga masalah pekerjaan yang kotor2 dan berat2 sedikit. Namun juga perlu diingat, yang ditulis dalam artikel ini bukanlah berarti bahwa jikalau pria sanggup memikul beban 50 kilo maka wanita juga harus memikul beban 50 kilo, bukan begitu maksud artikel ini, maksud artikel ini adalah mengajak wanita untuk merubah pandangan mengenai emansipasi bahwasannya emansipasi itu bukan hanya masalah yang enak2 dan empuk2 saja tetapi juga harus mencakup masalah yang tidak enak dan juga yang tidak empuk.

O iya, di suatu percakapan (chatting) di dunia maya tentang poligami (nah, untuk paragraf ini bagi yang non-Muslim atau bagi mereka yang tidak setuju 100% poligami dengan alasan apapun juga dapat dilewati:mrgreen: ), ada beberapa perempuan yang sama sekali menolak poligami walaupun itu diperbolehkan dalam Al-Quran. Tapi jangan salah lho, saya sebenarnya adalah orang yang sangat sangat sangat tidak menganjurkan poligami yang semata-mata hanya berdasarkan hawa nafsu seks belaka. Namun intinya bukan itu dalam percakapan tersebut, intinya adalah saya tidak setuju mereka kaum wanita (yang notabene adalah wanita2 Muslimah) tersebut mentah-mentah mengecam poligami yang jelas2 diperbolehkan dalam Al-Quran, yang menurut mereka merupakan “ketidakadilan”, dengan dalih bermacam-macam mereka berusaha untuk menampik kemungkinan berpoligami tersebut. Padahal menurut saya, yang sangat percaya akan keadilan dan kemahabenaran Allah swt, bahwa peraturan dalam Al-Quran tersebut sudah sangat sempurna, hanya saja manusia hanya melihat keadilan dan “keseimbangan” tersebut dari sisi-sisi yang hanya gampang dilihat, dimengerti atau dirasakan saja, sementara keadilan dan “keseimbangan” lebih dari hanya yang bisa dilihat, dimengerti atau dirasakan saja. Saya percaya bahwa Allah swt maha adil dan maha tahu sedangkan manusia, termasuk kaum wanitanya hanya bisa sebatas  sok adil dan sok tahu!:mrgreen: Toh dalam Islam, peraturan berpoligami juga sangat ketat, salah satunya harus bertindak adil yang benar2 seadil2nya dan tidak pilih kasih barang sedikitpun, yang tentu saja sangat sulit dilakukan oleh manusia modern saat ini yang lebih mementingkan nafsu seks kepada isteri yang lebih muda. Hehehe…….

Nah, karena saya sudah capek berdebat sama mereka saya “tantang” saja mereka, kalau poligami memang merupakan ketidakadilan, ya kaum perempuan kalau mau ya silahkan saja berpoliandri, tentang dosanya ya silahkan pikul sendiri!! Hayo berani nggak?? hehehe… gitu aja kok repot! Apakah sikap yang antipoligami ini termasuk salah satu bentuk emansipasi wanita?? Bagaimana menurut anda?? Di dalam shalat juga ditegaskan yang jadi imam haruslah laki2, namun perempuan tidak pernah ribut soal keimaman dalam shalat, sebabnya enak sih jadi makmum dan nggak repot, coba kalau jadi imam dapat duit pasti deh kaum wanita yang sok modern juga akan menuntut “emansipasi” sebagai “imam” juga. Huehehehe…….

Cerita masih berlanjut, ada beberapa wanita karier yang saya temui juga merasa “bangga” karena tidak bisa memasak karena merasa sebagai wanita karier yang modern (sebenarnya apa hubungannya sih ketidakbisaan memasak dengan wanita yang berkarier??). Menurut saya ini juga sangat aneh, karena menurut saya wanita karier yang bisa memasak jauh lebih hebat dibandingkan wanita karier yang tidak bisa memasak, bukankah begitu?? Wong saya yang pria karier saja bisa masak meskipun masaknya nggak seenak chef-chef di hotel berbintang, apalagi cuma seorang wanita karier!!:mrgreen:

Namun, ehm ehm, saya juga menghimbau kepada kaum pria, sebagai bagian dari emansipasi kaum pria, agar kita seyogianya juga tidak canggung untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang sering dikerjakan kaum wanita seperti memasak, mencuci piring, mengepel, menyapu (halaah itu mah pekerjaan pembokat!! :mrgreen: ) bahkan menjahit sendiri kancing baju yang lepas atau baju yang robek, ayo kita tunjukkan bahwa kita kaum pria bisa segalanya termasuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang dilakukan oleh kaum wanita!! Nah, ini baru namanya emansipasi dua arah!! **halaah**:mrgreen:

33 responses to “Emansipasi Wanita: Maunya Yang Enak-Enak Saja??

  1. SETUJUH!! bener banget tuh pak.. yang saya alami juga pas bagian enak, teriak emansipasi, pas bagian yg gak enak disuruhnya laki-laki

  2. contoh masalah yang tidak enak dan juga yang tidak empuk apa?:mrgreen:
    jadi pengen poligami nih?😀
    wah kayanya postingan ini akan cukup banyak menuai reaksi terutama dari kaum dibicarakan diatas….
    hati2 penyerangan kaum wanita om Yari!:mrgreen:

  3. yah namanya jg wanita mas! kalo mereka tdk mau melakukan hal2 spt itu mungkin bukan krn ga mau tp mungkin krn sifat2 kewanitaannya yg lembut dan sensitip. Mungkin lo. hehe…

  4. wew… emansipasi dan poligami? topik yang selalu menarik untuk didiskusikan, bung yari. menurutku, emansipasi wanita (perempuan) tidak berarti semua harus sama dengan apa yang seharusnya hanya dilakukan oleh kaum pria. ada batas2 tertentu, seperti batas2 kultur, agama, atau etika, yang hanya bisa dilakukan oleh kaum pria, terutama pekerjaan yang menuntut kerja fisik secara berlebihan. jujur saja saya merasa sedih ketika emansipasi lantas diartikan bahwa kaum perempuan harus menjadi tukang becak atau supir bajaj. dus, emansipasi perempuan tetap harus memperhatikan batasan2 itu. sementara ttg poligami, sepanjang itu dilakukan sebagai bentuk ibadah, bukan manifestasi keserakahan dan gejolak nafsu, poligami sah2 saja dilakukan, kok, hehehehehe😆

  5. calonorangtenarsedunia

    Bentuk emansipasi yang ada hubungannya sama poligami sih menurutku masalah hak memilih. Kalo laki2 berhak untuk poligami, maka wanita juga berhak menolak di poligami. Bukan lantas poliandri.:mrgreen:

  6. iyah… sependapat sama pak yari….
    konsep wanita sudah cukup jelas di Al-Quran malah sampe ada surah An-Nisa terkhusus.
    Keadilan antara pria dan wanita sudah digambarkan jelas di sana.

  7. Hehe he he… bagus artikelnya. Menarik! “Belaian” alias tamparan lembut Pak Yari nih sama kaum perempuan.😀:mrgreen:

  8. Ada lo Pak Yari yang bisa keras juga. aku baru memposting artikel,”Desy Nonjok Cowok di KRL.”

    Tapi memang secara umum benar seperti yang Pak Yari tulis, emansipasi dan anggapan wanita itu lemah adaalh kombinasi yang sangat merusak.

  9. Waduh … judulnya saja sudah menggoda, apalagi … wanitanya. E … salah ketik,jadi ngak dilanjutin he he

  10. Kalau total persamaan, tanpa diskriminasi, kenapa toilet-toilet, ruang ganti, di hotel ato mall enggak dibuat satu aja??
    Hehe😀

  11. Saya sering melihat dan kadang – kadang ikut berdebat mengenai hal ini. Akhirnya ada bahan tambahan. Ya buat siap – siap aja kalau suatu saat diperlukan.
    Thanks.:mrgreen:
    Ternyata berdiskusi mengenai gender asik juga.🙂

  12. Emansipasi itu bukan menyamakan laki-laki dan perempuan, tapi perlakuan setara pada laki-laki dan perempuan. Apakah perlakuan itu, termasuk pola pikir, sudah menempatkan perempuan dan laki-laki setara ?

    Dan harus diakui kalau konsep yang umum yang ada di masyarakat adalah konsep yang patriarkal. Itu kenyataannya. Nilai-nilai yang dianut juga demikian. Sumbernya berasal dari ribuan tahun interaksi antara laki-laki dan perempuan secara sosial.

    Dan masih banyak yang memandang perempuan tidak layak untuk menjadi pemimpin. Alasannya macam-macam, mulai dari keagungan gender tertentu sampai agama. Tapi apakah perempuan tidak bisa jadi pemimpin ?

    Namun betulkah emansipasi wanita telah menuju “arah yang benar”?? Ternyata tidak sepenuhnya benar (yang berarti juga tidak sepenuhnya salah), karena banyak juga ternyata wanita sendiri yang tidak secara sadar membedakan kaumnya sendiri. Memang benar, dalam hal-hal yang enak, empuk dan basah karena duit kalau wanita didiskriminasikan, wanita akan berteriak lantang: “Jangan Ada Diskriminasi!!”. Namun coba ada pekerjaan yang “tidak enak”, wanita akan cuek bebek dan diam saja.

    Arah yang benar itu seperti apa, pak ?

    Kalau kita lihat kasus di Indonesia, misalnya jumlah anggota DPR yang perempuan yang masih sedikit, maka menurut Bapak apakah itu karena perempuan memang tidak mampu berpolitik, jabatan politik memang tidak untuk kodrat perempuan, atau sistem sosial kita yang memang seperti itu ? Atau mungkin ada yang lain ?

    Karena perbedaan perempuan dan laki-laki menurut saya hanyalah pada masalah fisik dan bilogis, dan bukan pada kemampuan.

  13. Saya sepakat sama Pyrrho…apa sih yang disebut emansipasi.
    Gender yang sama, walaupun diperlakukan sama, kinerjanya tetap berbeda, akibatnya salary juga berbeda, ada kelemahan plus kelebihan pada masing-masing orang….jadi yang betul adalah perlakuan setara bagi laki-laki dan perempuan, untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan. Kalau perempuan sanggup, kenapa tidak?

    Nanti kan tinggal pada diri masing-masing, maukah perempuan melakukan pekerjaan itu? Kadang juga ada perempuan yang pilih karir biasa saja, asal suami isteri berkarir dalam satu kota. Itu sah-sah aja.
    Di kantorku, perempuan dan laki-laki sama perlakuannya, risiko yang dihadapi sama, bahkan kalau suami atau anak sakit/masuk rumah sakit, boleh memilih dibiayai pihak perempuan atau laki-laki. Risikonya, perempuan juga harus mau dipindahtugaskan kemanapun….dan ini ada di dalam PKB (Perjanjian Kerja Bersama) antara Manajemen dan Serikat Pekerja.

    Yang jadi masalah, mungkin tak suami laki-laki (maksudnya suami) mau menghargai perempuan setara, juga tak semua perusahaan menghargai perempaun dari kinerjanya.

    (maaf, jadi panjang, tapi sejak kecil saya tak pernah merasakan perlakuan berbeda, baik dari keluarga, lingkungan maupun dari dunia kerja…)

  14. @ridu

    Wahahaha…yah begitulah rid!:mrgreen:

    @hanggadamai

    Lah… kan udah disebutkan di atas kalau yang tidak enak dan tidak empuk itu termasuk membersihkan selokan, mengangkat beban2 yang sedikit berat, naik atap membetulkan genting, dsb.

    Wah… penyerangan kaum wanita?? Nggak deh… andaikan ia, akan saya pakai jurus “menjatuhkan dengan kata2nya sendiri” seperti di postingan saya sebelumnya huehehehe……

    @AgusBin

    Wah Bin, sampeyan udah jadi ahli mengamati wanita ya sekarang? Atau berminat ingin jadi wanita??:mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya>

    Kalau saya sih biarin saja kaum wanita menggenjot becak atau menarik bajaj selama ia mampu, tidak membahayakan jiwanya dan tentu saja tidak dipaksa. Kalau menurut saya hal2 seperti itu sih tidak melawan kodrat dan tidak mengeluarkan tenaga berlebihan! Hehehe….:mrgreen:

    @calonorangtenarsedunia

    Pasalnya bagi sebagian orang yang percaya, peraturan poligami itu yang buat adalah Allah swt dan bukan manusia (baca: kaum laki2) jadinya bagi mereka yang percaya, legitimasi poligami jauh lebih kuat (karena izin Allah swt namun tentu dengan syarat2 yang tidak ringan tentu saja) dibandingkan penolakan perempuan yang hanya berlegitimasi manusia (baca: kaum wanita) saja. Walaupun tentu saja kalau wanita hanya sekedar menolak ya boleh2 saja dong dan tidak berdosa juga kok.:mrgreen:

    @aRuL

    Iya betul rul…. semuanya sudah digambarkan jelas dalam Al-Quran

    @mathematicse

    Kalau belaian keras atau tamparan lembut nggak ada ya??:mrgreen:

    @Robert Manurung

    Jadi bang Robert setuju nih, perempuan juga seharusnya belajar mengerjakan pekerjaan laki2 (semampunya) juga?? Siip deh!😀

    @Ersis W. Abbas

    Dikirain kebalik judulnya yang menggoda tetapi malah wanitanya yang tidak menggoda. Huehehehe…..

    @Sir Spitod

    Huahahaha…. itu sih bukan emansipasi… itu sih namanya kesmpatan dalam kesempitan.😆

    @StreetPunk

    Yah…. selamat berdiskusi mudah2an artikel ini dapat memperkaya bahan diskusinya! Huehehe….😀

    @Pyrrho

    “Arah Yang Benar” itu maksudnya adalah bahwasannya wanita seharusnya melihat bahwa emansipasi adalah termasuk perlakuan2 yang tidak menyenangkan atau melakukan pekrjaan2 yang tidak menyenangkan seperti contoh2 dalam artikel di atas. Yah, “Arah Yang Benar” ditulis dalam tanda kutip jadi frasa itu dapat mempunyai arti yang luas termasuk opini dan imajinasi penulis tentu saja.

    Memang betul, tatanan masyarakat kita masih “dikuasai” oleh pria walaupun sudah tidak seperti pada awal abad ke-19 lagi. Saya tidak bisa mengatakan apakah sistem sosial yang seperti ini salah atau benar (dan saya juga tidak mengatakan bahwa wanita tidak pandai berpolitik, tidak pandai memimpin bahkan saya juga tidak pernah mengatakan wanita tidak pandai menarik becak atau bajaj), saya masih percaya dengan “seleksi alam” biarkanlah yang terbaik yang berjaya dan biarkanlah masing2 mengerjakan yang terbaik sesuai prestasinya. Namun dalam artikel ini hanya ditekankah bahwa wanita seharusnya melihat emansipasi juga sebagai mengerjakan pekerjaan2 yang kurang enak (seperti contoh2 dalam artikel di atas) dan juga menerima perlakuan yang sama (termasuk kritik mungkin bentakan) seperti halnya laki2.

    @edratna

    Nah, betul sekali bu, justru itu yang saya mau tekankan di sini, seperti yang ibu katakan: “kalau perempuan sanggup kenapa tidak?” Nah, tentu itu termasuk pekerjaan2 kotor seperti: membersihkan parit, mengusir tikus, mencuci mobil dan juga naik ke atap membetulkan genting. Kalau sanggup kenapa tidak??🙂

  15. Wanita Pakai Celana Panjang tidak masalah
    kalau Laki-laki Pakai rok? @#$%#@^#&%$*

  16. Setelah selama libur panjang kemarin sengaja tidak membuka internet, surprise juga ada saya di postingan Mas Yari ini. Tidak menyangka. Disini saya melihat “kehalusan” dan “ketelitian/kedalaman” Mas Yari dalam memahami sebuah kalimat walaupun kalimat itu cukup singkat. Kebetulan kalimat singkat itu milik saya.

    Inilah sebabnya saya betah mampir ke blog ini karena tanpa disadari pemiliknya, saya jadi turut belajar ilmu yang “halus-halus” seperti ini. Mengenai ketidakkonsistenan, saya menyadari sebagai manusia biasa kerapkali dalam sadar dan tidak sadar saya melakukannya, dengan berinteraksi dengan banyak orang semisal di dunia virtual seperti ini– secara sadar saya ingin membaca komentar orang mengenai saya, tujuannya tentu saja untuk memperbaiki diri. That’s why I love critics! Doakan saya menjadi lebih baik ya.

    Tentang kesetaraan, pengalaman saya; dari kecil sampai sekarang saya selalu berada di “dunia pria”. Hal ini men-drive saya untuk tidak segan melakukan pekerjaan apa pun selama saya sanggup biarpun itu kotor atau kasar. Tidak ada cerita, karena saya wanita, jadi dimanja oleh lingkungan. Justru diluar lingkungan saya sehari-hari saya sering terenyuh karena diperlakukan dengan baik (kadang-kadang kurang ajar juga pernah)seperti wanita pada umumnya. Dan yang bikin saya cukup pusing adalah batasan-batasan yang diberikan dalam agama–mungkin karena pikiran saya belum sampai sedalam itu untuk menelaah kebaikan yang ditawarkan dalam ajaran agama.

    *jadi uneg-uneg saya yang keluar, kalau mengganggu tolong abaikan saja *

  17. hmm… emansipasi wanita, penyetaraan dalam hak dan kewajiban HAM.

    Oh ya kenapa ya masih ada PUSAT STUDI WANITA? tp gak ada tuh PUSAT STUDI LAKI-LAKI😀

  18. manteb bener ulasan ttg wanita.
    ita masih bljr memasak *syarat sblm nikah* jadi walopun ntar punya kerjaan diluar, begitu pulang kerumah tetep ngurusin rumah tangga *haalaaah*

  19. arti emansipasi wanita itu sendiri apa ya ?
    apakah sudah banyak yang mengerti , baik laki-laki atau perempuan ?

  20. hehehehehe…beneeerr bangeetttzz….
    saya sendiri setujuu dah….

    intinya menyadari kodratnya masing2 aja…😉

  21. hiyaaa…buanyak banget menuai kontroversi dari kaum yg bersangkutan nih, pak sawali jg ikut2an komen yg genderisme tuh,, hehe ,becanda pak.. tp mnrt sy asal proporsional aja.. wanita memang kadang mau enaknya aja .. bner kok..

  22. Wanita Pakai Celana Panjang tidak masalah
    kalau Laki-laki Pakai rok? @#$%#@^#&%$*

    – Ada juga kok laki-laki yang pakai rok. Beberapa orang yang terlahir laki-laki ada yang memakainya (di taman lawang banyak), atau mungkin belum lihat film braveheart ?

  23. @indra1082

    eh siapa bilang laki2 nggak pantas pakai rok?? Di Skotlandia pakaian tradisional laki2 memakai rok yang disebut kilt sementara di Yunani pakaian nasional atau tradisionalnya juga memakai rok yang bernama fustanella. Kalau di Indonesia, laki2 pakai sarung adalah biasa, tetapi coba dipakai di Amerika pasti kelihatan aneh. Jadi keanehan laki2 pakai rok bukanlah sebuah pandangan yang universal. Ok?😉

    @Agoy

    Ya…. kita semua memang memerlukan kritik. Saya sendiri adalah orang yang sangat gemar dikritik, bagi saya kritikan lembut ataupun kritikan pedas sama saja asalkan mempunyai argumentasi ataupun basis yang kuat.

    Saya sendiri juga selalu membuka kuping saya atau membuka mata saya lebar2 agar selalu menjadi lebih baik lagi. Maklum kita ini adalah manusia, yang ilmunya dikit tapi sok tahunya minta ampun termasuk saya!:mrgreen:

    @dobelden

    Mas dobelden mau mempelopori PUSAT STUDI LAKI2?? Wah… saya dukunglah! Hehehehe…. Perlu juga didirikan PUSAT STUDI WARIA juga nggak??:mrgreen:

    @realylife

    Kalau menurut Merriam-Webster’s Dictionary emansipasi (emancipation) pada dasarnya sama dengan membebaskan (to set free). Artinya cukup jelas, namun yang terkadang membingungkan itu definisinya!🙂

    @theloebizz

    Betul sekali…. melihat kodratnya masing2 dengan jelas dan benar, bukan melihat kodrat tapi milih2 yang enak2 saja… hehehe….😀

    @fauzan sigma

    Iya betul mas fauzan segala sesuatunya memang harus proporsional…. seperti juga tidak semua wanita mempunyai sifat mau enaknya aja, walaupun memang banyak yang seperti itu!:mrgreen:

    @Singo_woh

    Iya…. betul sekali mas Singo!🙂

  24. Saya cukup menikmati postingan ini.

  25. Soal emansipasi ini akan lebih mudah difahami kalau kita tempatkan dalam term Adil. Emansipasi yang seringkali difahami sebagai persamaan derajat bersepadan dengan kata adil yang secara lughowi atau bahasa berarti seimbang atau sejajar. Rekonstruksi derajat wanita menjadi salahsatu isu penting yang diangkat dalam misi kenabian. Pembatasan jumlah istri dari tidak terbatas menjadi “hanya” 4 orang dengan syarat tertentu, pemulihan hak waris bagi perempuan, Hadlanah (hak pengasuhan ibu atas anak), khulu (hak istri untuk menggugat cerai suaminya), akikah bagi anak perempuan, adalah sedikit contoh bagaimana Islam merekonstruksi kedudukan dan derajat kaum perempuan pada masa itu. Dalam al Quran sendiri Allah SWT menegaskan bahwa yang paling mulia kedudukannya di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa, bukan karena jenis kelamin atau kedudukan lainnya.

    Lalu kenapa emansipasi sebaiknya didudukkan dalam term keadilan? Karena ketika emansipasi diartikan sebagai bentuk persamaan derajat, kedudukan dan hak tanpa batas, yang muncul adalah kerancuan seperti yang dibahas dalam postingan di atas.

    Adil secara definisi adalah “menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya atau peruntukannya”. Penunaian hak dan kewajiban pada dasarnya adalah bentuk pengejawantahan dari keadilan.

    Pria dan wanita oleh Allah diciptakan dengan membawa potensi, kelebihan dan kekhasan masing-masing yang jika disinergikan akan saling membantu dan menguntungkan. Sebaliknya, ketika masing-masing hanya berdiri sendiri, maka potensi-potensi gender tersebut malah menjadi tidak maksimal.

    Nah, setelahnya kita memahami arti emansipasi itu dengan menggunakan pemaknaan terhadap nilai keadilan dan fitrati, maka emansipasi wanita akan menjadi sebuah konsep yang jelas, tegas dan terang. Wanita memiliki kedudukan yang sepadan dengan pria. Karenanya wanitapun memiliki hak untuk diberikan kesempatan melakukan sesuatu yang juga dilakukan oleh pria, selama hal tersebut masih dalam batas-batas fitrah kewanitaan.

    Sementara ini adalah pemahaman yang kebablasan tentang emansipasi wanita. Di Barat, tidak sedikit terjadi kasus di mana seorang wanita menolak untuk hamil, menyusui atau mengasuh anak karena alasan emansipasi🙄

    Kesimpulan saya; tempatkan wanita pada tempatnya, sebagaimana pria ditempatkan pada tempatnya.

    Demikian kuliah untuk pagi ini:mrgreen:
    *dijitak*

  26. senyum2 membaca postingan dan komen2nya. Lumayan panjang dan menyegarkan. saya pribadi mendukung emansipasi wanita. wanita memang selayaknya dihargai. karena wanita berjuang tuk melahirkan seorang lelaki. saya setuju dengan pendapat Kang Yari, emansiapasi bukan bearti harus menyaingi lelaki. bagi saya pribadi ini berlaku dalam bidang apapun. sehebat apapun lelaki maupun perempuan bukan untuk persaingan melainkan saling medukung satu sama lain.

    masalah poligami. ini lebih menarik lagi, hehe. apakah perempuan tidak mempunyai hak berpoligami, entahlah. yang pasti zaman sekarang ini banyak yang salah persepsi dengan kata emansiapasi wanita. wanita menutut hak yang sama dengan lelaki. sejauh yang dituntut itu tidak melanggar kaidah, etika, agama, moral, saya kira itu ok2 saja. yang tidak saya sukai ialah ketika wanita katakanlah sukses lantas menjadi angkuh dan tak bisa menghargai pasangan hidupnya. mengecewakan.

    maaf, Kang. Koq jadinya panjang begini ya.

  27. Maaf, Kang. setelah dibaca ulang banyak yang salah ejaan. tolong editin yach… makasih….

  28. Emansipasi wanita, emansipasi laki-laki … Toleransi aja deh, saling tahu, salng melengkapi.

  29. @Landy

    Kalau begitu selamat menikmati postingan ini….😀

    @Cabe Rawit

    Wah… siiip… hebat2 kuliahnya…hehehe…. sip deh… kuliahnya benar2 menggigit pedas seperti sebuah cabe rawit, terima kasih atas opini tambahan yang melengkapi postingan saya ini.😀

    @atapsenja

    Yeee… wanita dihargai bukan karena dia telah berjuang “melahirkan laki2”, kalau “bahan baku” nya nggak ikut disuplai oleh laki2 juga maka tak akan ada perjuangan untuk melahirkan…. hehehe…..

    Namun intinya memang ada dalam komen yang mbak sebutkan karena lelaki dan perempuan harus bekerjasama dan tidak saling melecehkan. Laki2 terkadang harus mau membantu pekerjaan perempuan, sebaliknya perempuan juga seyogianya mampu mengerjakan pekerjaan laki2 yang berat2 semampunya juga dalam bentuk kerjasama2 lainnya yang sinergis.

    Memang kita seyogianya mengecam orang2 yang sombong yang sukses dalam hidup lantas sombong dengan pasangan hidupnya. Ini bukan saja terjadi pada perempuan yang sukses namun juga pada lelaki yang sukses yang seringkali karena kebanyakan duit, ia mencampakkan sang isteri untuk kawin lagi. Sungguh bukan merupakan tauladan yang patut dicontoh. Jadi baik laki2 ataupun perempuan, intinya tetap sama, kalau sukses jangan sombong dengan pasangannya dan juga dengan masyarakat sekitarnya.🙂

    Btw, ejaannya bener semua kok nggak ada yg perlu dibetulkan cuma seharusnya memang huruf besar saja setelah tanda titik. Tapi itu tidak berpengaruh kok pada kualitas komen yang sudah bagus.😀

    @little_@

    Huehehehe…. dari dulu juga idealnya kayak begitu mbak!:mrgreen:

  30. saya punya pendapat bahwa sexisme itu tidak bisa dibenarkan. tetapi feminisme juga menuai beberapa masalah. sudah sewajarnya kehidupan rumahtangga secara patriarkhi tetapi tidak menyalahi juga jika rumahtangga dijalankan secara matriarkhi. ah cuma mau hidup bersama2x & berbahagia saja kok kayaknya susah banget …

    __________________________________

    Yari NK replies:

    Yah itulah kompleksitas manusia, karena memang begitulah manusia itu diciptakan, yang terkadang gampang dibuat sulit, yang terkadang sulit terlalu digampangkan, itu semua mungkin karena ego manusia!😀

  31. Pria dan wanita memang udah dari sononya berbeda kok🙂
    Mendingan saling melengkapi dan mengisi saja, gak ada itu yg namanya emansipasi.
    Btw, salam kenal…
    **blogwalking**

    ___________________________________

    Yari NK replies:

    Huehehehe…. coba deh katakan “nggak ada yang namanya emansipasi” kepada wanita yang sok modern, pasti mereka protes deh, soalnya mereka curiga kalau dikatakan “tidak ada emansipasi” nanti para wanita akan selalu diberikan kedudukan yang “rendah” oleh kaum pria.😀

  32. Wahahahaha, baru baca saya pendapat seperti ini..
    Emang semakin lama saya liat kebanyakan (nggak semua, sebelum ada yg protes) perempuan yg menggembar-gemborkan emansipasi dan feminisme itu ujung2nya minta diposisiin lebih tinggi dari laki2.
    Lebih kaya org2 bermental kerdil yg ngerasa dpt pembenaran utk nuntut ini-itu daripada pejuang beneran (sekali lagi, nggak semua lho).
    Seakan-akan skrg udah nggak zaman lg buat saling memahami antara pria dan wanita, tp lebih ke masalah siapa menang siapa kalah..

    Salam kenal Mas..😀

    ____________________________________

    Yari NK replies:

    Iya betul, kebanyakan (tidak semuanya) emansipasi bertujuan untuk kedudukan, kekuasaan dan uang. Jikalau tidak ada salah satu di antara ketiganya, emansipasi akan sepi. Jadi kebanyakan memang emansipasi bertujuan tidak hanya semata2 untuk persamaan belaka tetapi juga ada unsur “keserakahan” di baliknya.

    Btw, salam kenal juga….🙂

  33. Wakakak. Terus gimana dengan artikel ini dong : http://anchaanwar.multiply.com/journal/item/200

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s