Selera Menonton TV Masyarakat Kita Berubah??

Saya ingat sekitar setahun yang lalu saya dimintai tolong oleh teman sekantor saya yang ibunya menjalankan usaha kos2an untuk putri untuk mencabangkan televisi kabel agar siaran2 televisi kabel tersebut dapat juga dinikmati oleh para penghuni kos yang televisinya tentu saja terpisah dari televisi si ibu kos. Mencabanginya sendiri sebenarnya mudah, tidak perlu ketrampilan teknis yang tinggi, kita tinggal beli splitter untuk TV dan menyambungkannya ke TV kedua dengan menggunakan kabel coax biasa. Inilah keistimewaannya TV kabel (bukan promosi tapi emang kenyataan!) dibandingkan TV berbayar yang memakai parabola seperti yang merk ‘I’ atau ‘A’, kita bisa mencabangkan ke berbagai TV dan setiap TV bisa memilih channelnya sendiri2, tidak seperti yang memakai parabola kalau dicabangin begitu channel dirubah seluruh TV yang dicabangin channelnya juga akan berubah, jadi tidak bisa bebas. Belum lagi TV kabel bisa dibuat Internet yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh yang merknya ‘I’ atau ‘A’ tersebut, dan juga harganya lebih murah, dibawah Rp. 200.000,- anda sudah bisa menikmati sekitar 60 channel termasuk channel2 sport serta HBO, HBO Signature, Star Movies, Cinemax dan lain-lain yang jikalau memakai operator yang berparabola tidak mungkin semurah itu. **Halaah kok jadi promosi seh**

Tapi bukan masalah perbedaan TV kabel dengan TV berbayar parabola yang akan saya ceritakan, tapi masih ada hubungannya dengan cerita kos2an putri tersebut. Apa pasal? Ternyata setelah saya cek kembali beberapa minggu kemudian dan penghuni kos tengah banyak yang pada nonton, apa yang ditonton?? Ternyata adalah: sintron lokal!! Beberapa minggu kemudian saya balik lagi (kok bolak balik ya?? :mrgreen: ) ternyata yang ditonton adalah: infotainment lokal!! Buusyet deh…. aku fikir…. buat apa dicabangin TV kabel kalau yang ditonton cuma sinetron dan infotainment yang penuh gosip dan tak bermutu itu!!

Saya ingat sekali di tahun 1980an ketika di negeri ini masih hanya ada TVRI yang selalu ribut masalah iuran televisi (namanya juga TVRI: Televisi Ribut Iuran!! :mrgreen: ), dan pada saat TV3 Malaysia baru berdiri di tahun 1984, warga kota Medan ramai2 menaikkan antena televisinya tinggi2 di atas atap rumah masing2 dengan harapan dapat mengangkap acara siaran TV3 Malaysia yang penuh film import action “dar-der-dor” itu. Bagi daerah lain yang tidak bisa menikmati TV3 Malaysia terpaksa harus membeli antena parabola jadul  yang dulu sebesar2 gajah itu jika ingin menikmati variasi siaran. Kini setelah pertelevisian di Indonesia jauh meninggalkan Malaysia dalam arti kata banyaknya channel yang ada ditambah dengan ‘kebebasan’ pers yang dinikmati di negeri ini (Di Malaysia televisi berbayar masih dimonopoli oleh Astro dan nampaknya rakyat Malaysia masih harus bersabar untuk menikmati tv kabel seperti di Indonesia, juga harga TV berbayar di Indonesia malah turun karena persaingan, sedangkan di Malaysia Astro malah menaikkan harga seenaknya karena monopoli! Kasihan deh lu!!) dan hampir tidak ada lagi orang Indonesia (bahkan di Medan) yang menengok TV3 Malaysia, selera menonton penduduk Indonesia nampaknya juga banyak berubah. Jikalau dulu film2 action “dar-der-dor”Hollywood, yang kadang2 norak juga, yang banyak dicari, kini nampaknya sinetron2 yang lebih norak, yang ceritanya dangkal dan bikin mengantuk serta infotainment yang penuh gosip yang kini lebih banyak dicari terutama oleh ibu2 yang euweuh gawé!

Apakah itu berarti selera menonton televisi di negeri kita “menurun”?? Belum lagi acara2 macam American dodol Idol yang banyak diadaptasi di sini dengan berbagai variasi, yang entah kenapa saya nggak pernah tertarik menyaksikan acara2 seperti itu. Jangankan yang lokal, saya sendiri paling males nonton American Idol!! Saya sendiri adalah orang yang menonton berbagai macam acara mulai dari olahraga (terutama tennis dan sepakbola), film, acara2 ilmu pengetahuan serta berita2 baik berita dalam atau luar negeri. Porsi terbesar masih untuk film lepas seperti HBO, Cinemax, HBO Signature ataupun Star Movies sedangkan untuk film2 seri bermutu saya prioritaskan Hallmark Channel. Porsi kedua terbesar buat saya adalah acara2 olahraga terutama tennis dan sepakbola, namun aneh saya akhir2 ini juga menyenangi olahraga 9-ball yaitu permainan biliar 9 bola. Untuk acara2 pengetahuan yang paling saya suka adalah National Geographic Channel dan Animal Planet. Entah kenapa saya senang dengan Animal Planet terutama kalau ada simpanse atau orangutannya. Lucu2 sekali sembari meneliti juga ada nggak ya yang mirip dengan saya! :mrgreen: Discovery Channel juga sering memberikan acara2 pengetahuan yang bagus tapi entah kenapa saya lebih suka NGC ataupun Animal Planet. Sedangkan untuk berita2 luar negeri: CNN, BBC World, Al Jazeera English dan Deutsche Welle TV masih yang terfavorit, sementara untuk berita2 dalam negeri dan talk-show dalam negeri, MetroTV yang masih paling saya sukai. Acara2 sinetron?? Nggak lah yaw! Infotainment?? Apalagi!! American Idol dan derivatif2nya?? Nggak doyan juga!

Jangan salah lho! Saya tidak suka sinetron bukan karena saya tidak suka hal2 yang berbau drama. Saya tidak suka sinetron karena temanya yang dangkal dan selalu klise terutama sinetron2 kacangan percintaan remaja! Saya suka sekali film2 drama berbobot seperti “Weekend War” yang disiarkan Cinemax Sabtu lalu yang menceritakan tentang warga2 Amerika keturunan Jepang yang pada Perang Dunia II banyak dicurigai, untuk itu warga2 keturunan Jepang tersebut dikumpulkan di sebuah kamp tahanan oleh pemerintah AS walaupun mereka sangat setia kepada Amerika Serikat. Di situ ada bumbu2 percintaan yang halus antara seorang pemuda keturunan Jepang tersebut dengan seorang gadis kulit putih yang sama2 gemar bermain musik Jazz. Jadi cerita yang disampaikan sangat berbobot dan tidak hanya melulu masalah cemburu dan selingkuh yang sering muncul pada sinetron drama Indonesia yang memuakkan itu!!

Nah, dominasi sinetron yang penuh dengan adegan cemburu, selingkuh, perebutan harta lewat hubungan asmara dan sebagainya itu, itukah yang menyebabkan infotainment selingkuh selalu laku keras?? Dan apakah itu pulalah yang mempengaruhi kenapa sekarang banyak blog2 yang memuat masalah gosip2 selebritis yang bahkan ada beberapa di antaranya yang menyerempet2 gambar pornonya?? Wah…. mudah2an isi otak orang Indonesia bukan hanya seperti itu saja ya………?!!

Iklan

40 responses to “Selera Menonton TV Masyarakat Kita Berubah??

  1. Wah… tumben msh sepi nih… Yeee… ini komen saya pertama setelah resmi pindah ke bdg. Tapi di apartemen, eh maksudku di kos2an saya ada yg kurang nih, ngga ada tv kabelnya hehe… mumpung temanya menyinggung dikit tv kabel.

  2. heheh.. gimana dengan sinetron india-indonesia khasnya indosiar? dubbingan abizz.. nyanyi2x terusss sampe tengah malamxzzz

  3. Selain sinetron, saya mengkritisi hadirnya liputan2 tentang kriminal nih pak.

    Perasaan sejak marak tayangan2 semacam itu sebagian masyarakat menjadi tidak merasa aneh terhadap kekerasan dan tindak kejahatan. Melihat darah, pembunuhan seperti biasa saja, dinikmati sebagai tayangan sehari2. Memprihatinkan, kekerasan menjadi sesuatu yang permisif.

  4. Penonton Indonesia yang semakin kehilangan selera tontonan atau…Production house Indonesia yang kurang kreatif untuk tujuan mencerdaskan bangsa?? ;p

  5. Selera menonton TV masyarakat kita berubah???
    Saya tidak berubah pak … HIks … masih belum berselera nonton TV 😀

  6. Saya dari awal 2007 sampai sekarang hampir tidak pernah nonton TV lagi, kalo kebetulan nonton TV berarti saya lagi gak dirumah, tapi bukan di kelurahan lho hehehehe…TV yang dirumah nggak saya hubungkan dengan antena jadi gunanya cuma buat nonton DVD saja. Gak tau sampai kapan saya gak mau nonton TV. Aneh ya? Katro ya? Biarin 😀

  7. itulah repotnya bung yari kalau televisi sudah menjadi bagian dari sebuah industri yang dikendalikan oleh kaum kapitalis. mereka sangat mempertimbangkan untung-rugi. nah, ternyata sinetron “kitch” dan cengeng justru sangat diminati penonton kita. dengan banyaknya penonton dan rating tinggi, apalagi kalau ditayagkan pada saat “prime time”, so pasti mereka akan banyak menangguk iklan. penonton kita tidak sepenuhnya salah karena mereka sedang mengikuti tren yang sedang berlangsung, meski di tayangan TV kabel banyak siaran yang lebih bermutu. kayaknya para kaum kapitalis juga perlu menyadari, betapa tayangan2 murahan seperti itu telah menghanyutkan ribuan, bahkan jutaan penonton, terhadap hal2 yang berselera rendah dan kurang membumi.

  8. emang..
    masyarakat endonesia skrg ini bener2 gak berbobot..
    dari segi hasil maupun selera..

    ayo bangun dong endonesiaku..

  9. saya sih senang aja kang, buat hiburan, tontonan utama saya tetap doraemon koq 🙂

  10. bener banget pak , makanya kadang – kadang suka malas nonton
    mendingan ngeblog kali ya ?

  11. Semenjak ada TV Kabel, saya sudah hampir tidak pernah nonton TV Indonesia lagi 😀 , kecuali mungkin metro TV.
    karena TV di indonesia itu sudah tidak mementingkan lagi kualitas, yang penting dapet duit. Bikin sinetron? pertama, ambil aktris-aktris cantik dan terkenal, lalu salin script dan konsep dari acara TV luar. Bada bing: duit.

  12. ohya …
    sekarang lagi demam mamamia atau seupersetar atau apalah itu…
    benci omongannya diikutin, jadi trend…

  13. wah,, beberapa waktu lalu pernah terpaksa ngikutin sinetron gara2 tiap malem tipi dikuasain nyokap buat nonton itu.. dari jam 6 malem mpe jam 11..!! huhu.. heran juga,, kenapa ibu2 suka sinetron2 itu yak…? padahal aku yang nonton aja udah gemes mampus liat tingkah laku para pelaku di dalamnya,, plus kejadian serba kebetulan yang sangat tidak masuk akal..! huh… mana seringnya ide ceritanya “njiplak” pelem2 luar pula.. wew…

    *lah,, lah,, lah,, kok malah jadi ngomongin orang gini..?!?! maafkan.. kikiki..*

  14. @ Bapak yang punya blog 😀

    Saia juga bingung, kalu lagi di indo, bini saia juga nontonya sinetron lokal 😕

    padahal dirumah ada “I”ndo pison, “K”bel pision dan “A”stro (yang disebut belakangan itu terpaksa berlangganan karena demi mengikuti siaran Liga Inggris)

    Di rumah berlangganan 3 provider sekaligus soalnya sekeluarga dari Bokap, Nyokap, Saia dan Istri emang hobinya Nonoton 😯 xixixi

    Yang cukup kesel, ternyata di ketiga profider tersebut tidak menayangkan – History Channel 😦 padahal History Channel sendiri merupakan sodara dari BBC dan NGC. Disitu menarik banget karena kita bisa mengetahui sejarah dari berbagai zaman dan pelosok dunia.

    memang kadang ada tayangan History Channel yang di relay oleh Discovery dan NGC tetapi nggak semuanya

    Seandainya FOXTEL masuk ke Indonesia pastinya saia akan mengganti “I”ndo pisen ke Foxtel 😀 ada 92 Channel lho 😯

    waks nulis nya kebanyakan nih !

  15. wah.. ridu baru tau kalo dulu TV3 seheboh itu di medan.. gila parah banget si A itu.. memonopoli di Malaysia.. hiihi..kasihan juga..

  16. Kalau saya sudah lama ga nonton TV Indonesia nih Pak, kangen, pengen liat yg lucu2.. wakakakakakak… :mrgreen: (Tentu bukan liat sinetronnya duong… 😀 )

  17. yah kembali lagi semuanya pada keinginan diri sih .. 😀
    btw sy dah lama ngak liat tivi 😀
    kalo saya liat tipi mikir2…
    mana yang bagus mana yg patut dinonton… 😀

  18. Menurut aku bukan soal ide ceritanya yang jelek di sinetron/film kita. pilem-pilem Holiwud yang bok opis pun idenya jauh lebih sederhana dibanding sinetron kita. Coba lihat “pretty women” nya richard gere, yang hanya nyeritain keluguan seorang pelacur. atau “taxi driver”nya jodie foster yang hanya nyeritain supir taksi. ada juga “the untoucheable” nya kevin costner dan williem forysthe yang menceritakan seorang tukan tagih pajak dan gembong atau yang agak lebih negang wallstreet yang cuma nyeritain tukang pialang bursa saham….atau yang simple sekali misalnya “cocktail”nya tom cruise. Tapi kemasan film mulai dan detail costum sampai filmisnya, weleh weleh…pantas jadi film bok opis deh. Sinetron/film kita ? masa nyeritain abad 18an kok warna & jenis kaen bajunya abad 21 yg menyala. Jadi bukannya bikin film tuch tapi ketoprak !!

    Tapi ada ketang yang sesuai antara baju dan seting waktu, …. Film November 1828 besetan nko teguh karya atau mas steve lee

  19. @AgusBin

    TV kabel kan gampang Bin?? TVnya kan udah punya sendiri, tinggal kabelnya aja, boleh kabel jemuran boleh kabel telepon boleh kabel listrik, terserah deh yang penting jadi TV kabel. Wakakakak…. 😆
    Oooi… beasiswanya urusin sendiri ya mulai sekarang, aku dah lepas tangan lho! Tinggal nunggu turun aja kan?

    @ardianzzz

    Wah… ngga tahu deh, saya nggak pernah lihat yang kayak begituan, lebih rusak lagi kali yaa… :mrgreen:

    @indra kh

    Mudah2an ada kontrol dari fihak pengelola stasiun TV untuk menayangkan hal2 semacam itu lebih sophisticated lagi, agar dikemas sehingga yg dipentingkan adalah informasinya bukan kekerasannya.

    @pipiew

    Mungkin prouction house-nya juga mengikuti selera pasar yang kebanyakan seleranya “rendah” seperti itu, tapi dimungkinkan juga production house-nya yang tidak punya anggaran besar untuk membiayai produksinya, jadinya ya seperti itu deh! :mrgreen:

    @mezza

    Kalo begitu nonton radio aja! :mrgreen: **jayus on**

    @Yoga

    Padahal saya adalah orang yang percaya bahwa media Internet, media cetak, media Televisi dan radio (audiovisual) saling melengkapi satu sama lain. 😀

    @Sawali Tuhusetya

    Sepertinya sih bukan masalah kapitalisnya, tapi mungkin masalah selera pasar yang cenderung “rendah”, di Amerika, Jepang, Eropa atau di manapun yang lebih kapitalis lagi, bisa banyak menghasilkan karya2 yang bagus juga kok. 😀

    @oRiDo

    Betul sekali…. ayo bangkit Indonesiaku!! Jangan lihat sinetron dan supermama melulu!! :mrgreen:

    @anggara

    Crayon Shin-chan nggak? :mrgreen:

    @realylife

    Kalau buka blog kebanyakan postingannya gosip selebritis melulu… wah gawat juga dong ya…. 😀

    @Sir Spitod

    Emang iya…. sepertinya produser2 sinetron kita kurang kreativitas, kalo nggak jiplak (itupun ngejiplaknya jelek dan kasar banget!), ya isinya cuma cemburu, selingkuh, digampar, nangis (kalo lihat adegan nangis di sinetron malah jadi ingin ketawa bukannya tambah sedih). Ah, pokoknya emang nggak mutu banget.

    @Moerz

    Maksudnya banci bukan benci kali ya?? Saya baru lihat acara supermama akhir2 ini karena pembantu saya sering lihat acara itu pakai televisi yang ada di dapur. Kayaknya itu termasuk derivatifnya American Idol (acara dari Amerika yang paling saya benci!!) juga ya?? Emang presenternya ngomongnya and dandanannya kebanci2an gitu! Heran kok seperti itu malah yang laris ya?? Apa kebanyakan yang nonton seperti itu ibu2 (dan pembantu2) ?? 😦

    @anginbiru

    Huahahaha…. ya udah yang sabar ya…. kata orang bijak ambil saja hikmahnya…. mungkin zaman sekarang karena channel udah banyak, harus punya TV sendiri, tapi kalau nggak ya nggak apa2, seperti kata orang bijak tadi, ambil aja hikmahnya (apa ya hikmahnya??) 😀

    @RETORIKA

    Saya dulu juga langganan ‘I’ sejak tahun 1995, waktu itu, untuk ukuran itu, iurannya masih “selangit”, waktu itu juga parabolanya masih analog. Terus waktu ada TV kabel, si “I” diceraikan deh, karena TV kabel bisa diparalel sendiri dan juga setiap TV bisa bebas milih channel sendiri2 nggak kayak kalo pake si “I”. Liga Inggris, di FASINDO TV kabel ada di channel TRUE Sports 1 & 2 jadinya saya juga ngga butuh si “A” tuh hehehe….

    Kalau saya daripada FOXTEL masih lebih bagus DirecTV dari Amerika yang ratusan channel, tapi ntah apa di sini bisa masuk nggak ya? 😀

    @ridu

    Wah… waktu itu ridu belum lahir ya?? Nggak ngerasain zaman ‘jahiliyah’ di mana hanya ada satu channel di seluruh negeri (paling2 cuma di Jakarta aja yang ada programa 2 TVRI)… wah gariiiing banget…. apa lagi bagi mereka yang baru pulang dari luar planet negeri! Hehehe…..

    @mathematicse

    Kang Jupri pernah lihat Bajaj Bajuri atau OB belum?? Itu satu2nya produk2 televisi Indonesia yang bisa bikin saya terpesona, lucunya segar walaupun terkadang agak jayus dan over, dan yang paling penting tidak bertele2 dan cepat berganti adegan! 😀

    @aRuL

    Sebenarnya sih senang nonton sinetron juga nggak apa2, asal ya itu RuL sebaiknya nonton acara2 lain juga yang berbobot jadinya berimbang begitu, betul nggak? 😀

    @aombandung

    Nah… itu dia… walaupun ceritanya sederhana tapi dikemas secara “profesional” jadilah produk yang bagus. Walaupun jalan ceritanya sederhana tapi dialognya atau adegannya tidak sederhana dan membangkitkan impuls di otak akan menjadi film yang sangat bermutu, kalau sinetron kita udah temanya njiplak dan basi, adegannya juga basi, kalau nangis selalu diperpanjang biar penonton terharu padahal yang lihat malah sebal! Kalau di kebanyakan film Hollywood, adegan menangis terkadang secukupnya saja, atau bahkan cuma menitikkan air mata sedikit. Pokoknya memang banyak yang harus dibenahi dari sinetron kita.

    Kalau saya sendiri sih, lebih senang drama2 yang ada latar belakang sejarah atau cerita2 drama yang unik seperti “13 going on 30” dan lain-lain. Jadi ceritanya unik dan yang penting meninggalkan impuls yg cukup mendalam di dalam otak atau benak penontonnya. 😀

  20. Kang Yari…..saya di Jakarta pake kabel Vision (untuk internet dan televisi), sedang di Bandung pakai Melsa.

    Mesti diteliti lagi kang…yang kost mahasiswi dari mana? Jika melihat rumah kang Yari di belakang gedung sate, kemungkinannya dari Unpad dan ITB ya (asal nih). Gawat kalau begitu…karena sebagai mahasiswa seharusnya mereka lebih menyukai tontonan dari luar, sekaligus memperlancar bahasa Inggris. Kalau di rumah TV saya malah cuma dua, satu untuk pembantu (yang lebih seuka infotainment dan sinetron), sedang yang diruang keluarga….kalau suami suka berita (Metro dsb nya), anak sulung suka dari channel LN.

    Di Bandung, anak bungsu ku dan sepupunya lebih banyak di luar rumah, TV yang menonton hanya pembantu dan bapaknya….mereka lebih banyak menginap di lab ITB, membuat tugas, mencari uang tambahan dsb nya.

  21. Dulu saya langganan “I”, ternyata dalam seminggu saya cuma bisa nonton TV paling banter 3 jam jadi rata-rata perhari nggak sampai sejam. Cuma bikin kaya providernya doang. Karena siaran lokal tidak terlalu menarik ya udah gak usah nonton TV dulu sementara, radio juga cuma kadang-kadang dengerin kalo butuh banget itupun radio internet *bilang aja gak punya radio :D* …begini saja udah cukup sulit cari waktu yang enak buat baca buku. *deuh kayak sibuk banget ya… padahal rasanya gak gitu-gitu amat 🙂 *

  22. Kalau saya pribadi sih, lebih baik saya isi OTAK saya dengan yang baik baik dan benar benar pak, daripada OTAK saya tercemar sama acara gosip, acara Sinetron yang ceritanya gak masuk akal, mending saya BAYAR, untuk mata dan OTAK saya, agar memiliki informasi yang baik baik saja,

  23. sinetron sekarang kok ya rada basi ya Pak?
    *tapi tetep aja ditonton* 😛

  24. wuihhh!!! itu namanya ndak tau sukur!!! kalo misalnya di kost saya ada tivi yang nyaut siaran luneg alias luar negri, saya pasti langsung nyari2 siaran buat dewasa versi luar negri!!!

  25. ita juga lebih suka Metro TV, trus skrg ada tipi baru *daur ulang* tvone… lumayan bagus juga, gak ada sinetron2nya 😀

  26. biasanya pilem itu diangkat dr kehidupan sehari-hari dan biar lebih hot lagi pakai acara diimbuhi dgn Cinderela sindrom. hingga sihir nenek sinetron itu membuai para ibu-ibu dan gadis-gadis itu, terlena dalam impian-impian di kerajaan nun jauh di sana menjadi seorang princessa.

  27. malahan ada yang ekstrem “matikan tivi atau mati kehilangan tivi”.. *loh ..* jadi sbenrnya mnrt sy tivi sudah berkiblat pd full komersialisasi, target pasar dan memasarkan acara tivi

  28. Keputusan investasi untuk bikin film atau sinetron sekalipun, acuannya sederhana aja..kok ! cuma teori ekonomi paling dasar “supply dan demand”. Demand tema cerita di kita cuma “cinderella” yang nyeritain seorang miskin, lemah, tapi cakep yang dicintai oleh anak orang kaya, terus orangtua/mertuanya nggak setuju !!..tapi akhirnya hepi. Yang nonton (maaf, yang nota bene kalangan biasa dan nggak sibuk)juga penghayal, pengen kaya tapi nggak kerja. mdh2an kaya sinderella. he…he

    Saya pikir konsultan pembuat film ini yang hebat, bener-bener ahli “perilaku sosial”

  29. @edratna

    Kalau tempat kostnya sendiri sih di daerah Cisitu, bu. Memang benar bu, di kost2an itu didominasi oleh anak2 Unpad dan ITB bu. Believe it or not lho bu, banyak mahasiswa2 ITB dan Unpad yang juga senang sinetron seperti itu, mungkin karena terpengaruh orang tuanya di kampung yang juga senang sinetron jadinya pas mahasiswa kebiasaan atau kegemaran itu tetap terbawa2…. walahualam……

    @Yoga

    Iya kadang2 juga berfikiran seperti itu sih…. cuma ngaya2in providernya…. saya juga di Jakarta langganan kabelvision (sekarang fastmedia) dan juga Internet Centrin cable… yang senang sepupuku yang jaga rumahku di sana… hehehe…. lagian kalau aku ke Jakarta, aku juga butuh internet dan TV kabel sih…. habis gimana lagi….. :mrgreen:

    Mengenai radio…. menurut saya sekarang juga banyak radio yang komersial dan kurang mendidik, terutama komentar2 penyiarnya yg kebanyakan becanda dan sedikit informasinya, paling2 cuma dengerin lagu2nya aja hehehe…..

    @Raffaell

    Iya sangat setuju sekali…. selama kita mampu bayar…. kita bayar untuk mendapatkan yang baik daripada dapat yang gratis tapi merusak… bukankah begitu? 😀

    @Menik

    Yeee… udah tahu basi masih ditonton… hehehe…. 😛

    @khofia

    Huahahaha…. nggak puas2nya ya sampeyan cari hiburan yang berbau dewasa…. bukannya tiap hari sama temen sekosan sampeyan yg bapak2 itu udah tiap hari nonton yang 3gp punya? :mrgreen:

    @eNPe

    Tapi TV One kalo nggak salah, saya lihat acara paginya masih ada infotainment tuh…. nyebelin juga… hehehe…. tapi kalau malem alhamdulillah bagus2 ya…. 😀

    @juliach

    Jadi kesimpulannya penonton kita masih lebih memilih mimpi yg indah daripada kenyataan yg pahit, sepertinya begitu ya? 😀

    @fauzansigma

    Untung ekstrimnya bukan “matikan tivi atau matikan anda!!” Huehehehe…..
    Tapi memang benar tivi sekarang sudah berkiblat penuh pada komersialisasi dan sangat memanjakan selera pasar, dan celakanya selera pasar kita adalah kebanyakan selera pasar yang “rendah”. 😀

    @aombandung

    Benar sekali…. nah untuk itulah maka kita perlu memperbaiki dari sudut demand walaupun itu tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan…. nah jikalau demand sudah diperbaiki, Insya Allah produksipun akan menuruti permintaan demand, yaitu memproduksi produk2 yang bermutu, walaupun tentu memproduksi barang yang bermutu juga tidak semata2 tergantung daripada demand, namun juga faktor2 internal dalam produsen itu sendiri…. 😀

  30. Dengan langganan TV berbayar, kita bisa membatasi tayangan yang bisa ditonton. Ini mungkin juga menjadi solusi dengan maraknya tontonan televisi yang tidak bisa dijadikan tuntunan.

  31. Aslkm..sy juga muak dgn sinetron2 indo mas, apalagi acara infotaimen yg murahan itu….

    setuju mas…sy lebih suka nonton berita yg mutu, film2 ilmu pengetahuan. moga para penonton acara2 murahan itu sadar..

  32. Hahaha….
    Memang Sinetron itu seringkali amat membosankan, tidak logis, seolah-olah mengikuti tren yang ada.

    Jadi inget joke siapa gitu…

    Otak orang Indonesia isinya 25% Bahasa Indonesia, 25% Bahasa Inggris, 25% Bahasa Daerah, dan 25% Infotainment

  33. Selamat Siang Pak! Misi dan visi TV sekarang sudah berubah orientasinya.Banyak yang menggunakan slogan untuk mencerdaskan bangsa,tapi nyatanya acara2 yang disajikan kebanyakan kerjasama dengan pihak operator telpon seluler yang biasanya diawali kata ” Ketik Reg spasi bla3″ lalu kirim no bla3.Lucunya lagi banyak tokoh terkenal juga pada latah membuka bisnis konsultasi ini itu,dari meramal nasib sampai menjual ayat2 suci lewat sms yang tentunya kerjasama dengan operator tertentu.
    Kalo cerita2 sinetron memang amat dangkal.Alur dan isi ceritanya cenderung ditentukan stok pemain yang ada.Misalnya saya ada pemain A dan B,cocoknya mereka main film yang isinya bagaimana biar laris manis.Ini tak lain bertujuan bisnis semata,dengan bintang pendatang baru yang bisa dibayar lebih murah untuk main dalam sebuah film yang konyol dan disukai kebanyakan pemirsa,yang penting lowcost dan high benefit. Itulah sebabnya sekarang kita tidak memiliki lagi bintang watak sekelas Sophan Sophian,Selamet Raharjo dan sebagainya.Bintang2 remaja sekarang sepertinya numpang lewat saja,populer sejenak setelah itu menghilang bak ditelan bumi.Demikianlah pendapat saya.terima kasih.

  34. entah alasan apa saya jadi ndak pernah nonton tv selain metro itu

  35. Sinetron.. Oh Sinetron… benci aku akan mu.

    mantap juragan.

  36. @Edi Psw

    Iya pak Edi…. terkadang juga kalau malam hari mau lihat televisi, yang muncul acara2 seperti sinetron, supermama atau yang lainnya, sangat memuakkan, TV berbayar memang alternatif untuk menyingkirkan rasa muak itu……

    @olangbiaca

    Mudah2an begitu…. walaupun nampaknya untuk saat ini sangat sulit mengubah selera masyarakat kebanyakan…..

    @Ivan Wangsa C.L.

    Oh… kalau komposisinya seperti itu sih masih mendingan, daripada isinya 25% Sinetron, 25% Infotainment, 25% Indonesian/American Idol dan derivatif2nya, 25% korupsi!! Lebih gawat lagi kan?? Huehehe…. :mrgreen:

    @Yung Mau Lim

    Iya memang betul tuh mas Yung Mau, sampai2 dai aja sekarang pengin jadi selebritis!! Mana mau dai-dai selebritis zaman sekarang naik turun gunung untuk berdakwah gratisan, penginnya jadi ngetop dan dapet duit aja lewat televisi! Dakwah sudah dijadikan ajang jadi ngetop dan cari duit cepat belaka!!
    Juga artis2 sinetron asal ganteng dan cantik, apalagi yang berwajah Indo, udah deh dicomot walaupun aktingnya kelas (maaf) upil!! Pantas memang kita tidak punya artis2 macam tahun 1970an dulu yang minimal aktingnya lebih baik dibandingkan artis2 sinetron zaman sekarang!!

    @peyek

    Mungkin malah lebih bagus seperti itu mas peyek selama acara TV masih dipenuhi hal2 yang tidak bermutu! 😀

    @kelepon

    Huehehe… terims… mantab juga komen sampeyan, mirip naskah sinetron! :mrgreen:

  37. sjafri mangkuprawira

    acara tv sama saja dengan komoditi apakah barang ataukah jasa….ini bisa dikaitkan dengan teori perilaku konsumen…..keragaman konsumen seperti tingkat pendidikan, visi tentang acara televisi,pengalaman,gender,usia,dan selera……so akan menentukan preferensi konsumen terhadap acara tv baik dilihat dari segi jenis acara,intensitas, ataukah mutunya……bahkan dengan ciri-ciri konsumen seperti itu ada yang tidak pernah atau jarang sekali lihat tv……atau sebaliknya tidak pernah meninggalkan peluang apalagi kalau agenda infotainment…..so pasarlah yang menentukannya…

    _______________________________

    Yari NK replies:

    Memang susah ya prof…. memenuhi selera pasar yang berbeda2…. masalahnya ya itu prof, stasiun2 televisi di Indonesia belum berani hanya merambah atau berspesialisasi hanya pada satu segmen pasar saja kecuali Metro TV dan TV One yang berspesialisasi pada berita2 dan informasi2 yang edukatif. Di luar negeri sudah banyak stasiun2 televisi yg sudah terfokuskan atau terspesialisasi misalnya stasiun TV berita, olahraga, film dan sebagainya, jadinya sepertinya lebih teratur dan lebih terfokus, entah kapan di negara kita berdiri stasiun2 televisi terfokus seperti itu….

  38. wah,, kalo punya tipi sendiri di kamar,, ntar dibilang anti sosial..?! *halah,, ngomong apa to iki..?!?!*

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Hehehe… kalau begitu ya… seperti yang saya katakan tadi, ambil saja hikmahnya! :mrgreen: Tapi sekarang punya TV sendiri sudah hal yang biasa lho, nggak mesti harus antisosial lagi. Lagian sekarang juga banyak tuh yang hp ada TV-nya. Dan juga sekarang banyak barang2 yang dimiliki sendiri, seperti radio sendiri, hp sendiri, pc sendiri, jam tangan sendiri (emang ada jam tangan pakai ramai2 ya? Huehehehe….) dan lain-lain. Biarpun nonton tv-nya bareng kalau orangnya antisosial pada dasarnya, ya tetep aja antisosial bener nggak? 😀

  39. hehhe semoga aja orang indonesia otaknya ngak seperti sinetron walau khawatir jg kalau generasi yg lebih muda2 dari kita punya mentalitas sinetron karbit…bagaimana pun tayangan ngak mutu dan jelek tsb bisa mencuci otak…

    terasakah bahwa nilai2 yg kita pegang sepuluh tahun lalu seperti perkawinan mulai dipertanyakan kembali…

    atau pepatah lama seperti orang sabar disayang tuhan juga mulai dipertanyakan lagu

    __________________________________

    Yari NK replies:

    Nah… biar otaknya ngga kecuci, matikan aja TV-nya atau hanya lihatlah yang bermutu2 saja, sinetron2 picisan sih nggak perlu dilihat! Ya nggak? 😀

  40. daripada nonton infotainment n sinetron,
    mending ngeblog deh :mrgreen:

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Asal jangan ngeblognya tentang cerita2 sinetron juga seperti yang ada di TV aja kan? :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s