Antara Celana dan Sarung…….

Polisi Fiji Memakai Rok yang Mirip Sarungcelana panjangSarungUntuk postingan kali ini saya kembali akan menyajikan topik yang ringan2 saja namun mudah2an dapat memberikan pencerahan bagi mereka yang membacanya atau minimal dapat melihat sebuah hal yang sepele dari sudut pandang yang lain. Walau judul di atas ada kata celana dan sarung namun jangan berfikiran yang bukan2 dulu karena dalam postingan ini bukan membahas apa yang berada di balik celana atau sarung tersebut melainkan membahas masalah berpakaian pada umumnya dan sebagai pembandingnya adalah kasus perbedaan ‘nasib’ antara si celana dan si sarung.

Lantas apa yang dipermasalahkan? Begini…… ide tulisan ini berawal ketika saya ingin pergi ke pesta undangan pernikahan beberapa waktu lalu. Karena jadwal pesta undangan dimulai pada pukul 19, maka kami sekeluarga merencanakan berangkat ke undangan tersebut seusai shalat maghrib tentu saja. Ketika selesai shalat maghrib (sudah mandi sore dahulu tentu sebelumnya), saya berganti baju dengan pakaian yang rencananya akan saya pakai ke pesta pernikahan tersebut yaitu dengan kemeja, dasi dan juga setelan jas. Ketika saya berada di depan kaca, setelah selesai mengenakan dasi dan akan mengganti sarung yang saya kenakan sehabis shalat (sarung tersebut masih sangat baru waktu itu, baru pertama kali dipakai) dengan celana yang sesuai dengan setelan jas yang akan saya pakai, tiba2 saya tertegun sejenak……. Saya berfikir…. sarung yang saya gunakan masih baru sekali, masih bagus, tidak pantaskah saya menggunakan sarung ini untuk ke pesta?? Dianggap orang gilakah saya jikalau saya pakai jas dan dasi tapi bawahnya memakai sarung ke pesta?? Dianggap kampungankah saya jikalau saya pergi ke pesta dengan menggunakan sarung?? Tidak sepadankah atau tidak sesuaikah sarung yang saya kenakan dengan jas dan dasi saya?? Pendek kata…… tidak pantaskah pakaian yang saya pakai untuk menghadap Allah tersebut untuk dipakai ke pesta??

Seringkali kita tidak menyadari masalah sepele seperti ini, coba saja, kalau kita ingin ke pesta, ingin pergi bertemu pejabat, ingin pergi wawancara melamar kerja dan sebagainya…. dan sebagainya….. kita berpakaian dengan rapi lengkap dengan dasi kalau perlu dengan jas. Itupun masih ditambah pencepit dasi dan cufflinks atau manchet yang ada batu emerald atau ruby-nya! Lengkap sudah penampilan kita yang norak narsisis dan ‘mempesona’ itu!! :mrgreen: Tapi coba kalau kita mau shalat?? Paling2 yang dipakai juga kaos gratisan bekas pembagian pemilu atau pilkada dan juga sarung! Yang penting bersih dan menutup aurat, itu saja! Ya, kalau mau shalat menghadap Allah yang penting cuma bersih dan menutup aurat saja! Kalau mau ke pesta atau bertemu orang2 penting selain bersih dan menutup aurat, juga harus bagus dan kalau perlu mahal!! Waduh, bukannya seharusnya terbalik tuh?? :mrgreen:

Persoalan tidak berhenti sampai situ saja, kita kembali ke masalah celana dan sarung tadi saja, tidak bisakah kita pergi ke kantor dengan mengenakan sarung sebagai pengganti celana?? Apakah yang menyebabkan celana lebih ‘dihormati’ daripada sarung?? Tidak bisakah kita memberikan sedikit apresiasi saja kepada si sarung?? Kalau karena alasan kepraktisan, ya boleh2 saja dan cukup masuk akal juga, tapi itu hanya berlaku bagi mereka yang bekerja di lapangan dan bukan bagi mereka yang bekerja di dalam gedung apalagi kerjanya hanya duduk di balik meja saja, tentu jikalau pekerjaannya “lebih banyak duduk” memakai sarung bukanlah merupakan suatu kendala. Bukankah sarung merupakan bagian dari pakaian tradisional kita yang patut kita apresiasi sedikit?? Logika apakah yang mendasari pemikiran bahwa celana lebih pantas diapresiasi (baca: dipakai ke kantor) daripada sarung?? Apakah karena sarung desainnya sederhana?? Ah…. nggak tahu deh! Yang jelas, di berbagai belahan bumi ini, pakaian2 tradisional masih mendapatkan tempat yang layak dalam kehidupan mereka sehari2. Dalam gambar di atas misalnya….. tampak polisi2 Fiji dalam mengenakan pakaian dinas mereka sehari2. Di bagian atas mereka memakai seragam atau kemeja polisi, sedangkan di bawah mereka memakai rok yang mirip dengan sarung yang ujungnya bergerigi. Pemakaian rok yang mirip sarung ini tidak menghalangi kelincahan mereka dalam tugas sehari2 bahkan merekapun sanggup berlari memakai rok tersebut mengejar penjahat2 yang bercelana! Nah kalau polisi2 tersebutΒ sanggup melaksanakan tugasnya sebagai polisi dengan menggunakanΒ rok sarungΒ tersebut, kenapa orang2 kantoran yang kerjanya cuma duduk saja tidak bisa pakai sarung di kantor mereka??

Jadi…. begitulah…. perbedaan nasib antara si celana dan si sarung. Walaupun tugas keduanya sama yaitu menutup kaki dan menutup bagian2 vital sang majikan tapi nasibnya sangat jauh berbeda. Si celana dengan bahagianya bersama tuannya bisa melihat dunia luar yang indah…… sementara si sarung hanya bisa menangis karena nasibnya hanya di rumah saja atau paling2 duduk sama tuannya di masjid…… oh malangnya nasibmu, rung! πŸ˜€

Iklan

32 responses to “Antara Celana dan Sarung…….

  1. sekali2 numpang pertamax™ dulu akh.. di blog ini.. :mrgreen:

  2. kalo pake sarung kalo misalnya dikejar2, ntar kita susah kali yah pak.. misalnya abis kondangan eh tau2 ada yg teriakin kita maling, kan susah tuh buat jurus seribu langkah..

    *komentar maksa

  3. Tapi si sarung jg menunaikan tugas mulia lo, dia mendampingi tuannya bersujud kpd Yang Maha Kuasa.. lebih mulia drpd sekedar dipake ke kantor.

  4. Tapi stahun 2 kali sarung dibawa jalan2x keliling kerumah tetangga, saudara n sanak famili…kalau lebaran idl Adha & Fitri:d + shalat jum’at

  5. baca tulisan bapak, ita jadi ingat grup band “five minute” yang tampil PD dgn sarung..selain itu ada juga tmn ita yg kreatif buat celana dari bahan sarung kotak2 *tp tetap pilih celana drpd pake sarung asli* πŸ˜€

  6. ah, ya, tentu saja pengaruh cara berpakaian ala barat yang berlaku di negara ini kan bang? termasuk jas dan dasi yang bang yari pake yang sebenarnya gerah sekali kalo dipake dinegara tropis ini apalagi diluar ruangan ber-AC

  7. Jadi, ke pestanya pake sarung ga Pak? πŸ˜€

  8. enakan pake sarung

    yang di dalem kerasa nyess…

    ga kesempitan juga….

    :mrgreen:

  9. celana dan sarung agaknya telah menjadi bagian dari budaya kita, bung yari. sebagai bagian dari budaya, maka pantas atau tidak pantas sangat ditentukan oleh kesepakatan2 sosial dari penggunanya. andai saja dulu secara sosial sarung lebih pantas utk kep pesta ketimbang celana, bisa jadi orang akan menilai kurang pantas jika berangkat kondangan pakai celana. demikian juga sebaliknya.

  10. Gimana kalo Sarungnya dipake di dalem celana ??? :mrgreen:

  11. Tapi kan biasanya kalo ke acara orang-orang Sumatra gitu kan ada yang pake sarung? (pertanyaan ga jelas, emang…)

  12. Aku lebih tertarik membicarakan soal busana kita ketika akan menghadap Al Khalik. Terlalu banyak manusia (ummat) yang mengabaikan penampilan ketika menghadap Tuhan. Agama apa pun sangat menganjurkan untuk bermanis-manis, berharum-harum, dan berrapi-rapi jika sedang bersitatap dengan penciptanya. Namun, seberapa banyak dari kita yang berdandan sangat lama jika ingin menghadap Tuhan, seperti kita berdandan sangat lama ketika akan bertemu presiden, gubernur, atau pejabat apa pun, atau untuk menghadiri acara apa pun.

    Semoga sarung atau pun celana terbaik yang kita pakai untuk menemui-Nya.

    Tabik!

  13. mungkin memang sarung terlalu sakral/suci untuk dipakai ketempat-tempat duniawi pak.. πŸ˜†

  14. pake sarung?? emangnya mau ngeronda mas he he πŸ˜€

  15. @ridu

    ridu kalo kondangan suka malingin apa rid? :mrgreen:

    @AgusBin

    Betul bin…. tapi bukankah celana juga bisa tuh dibuat pergi ke Masjid sambil bersujud dihadapanNya. Jadi tetap aja tuh “kasihan” si sarungnya. πŸ˜€

    @Abi Bakar

    Tapi bukannya Idul Fitri, Idul Adha dan juga sholat Jumat bisa juga pakai celana?? Bahkan mungkin zaman sekarang lebih banyak yang pakai celana daripada yang pakai sarung di hari2 tersebut. πŸ˜€

    @eNPe

    Mungkin memang seharusnya begitu mbak, kepedean seseorang tidak dipengaruhi oleh pakai sarung atau pakai celana. Begitu kan? πŸ˜€

    @jensen99

    Justru itu…. walaupun saya adalah sebenarnya orang yang senang pakai dasi dan juga jas (bukan keterpaksaan tapi karena sebenarnya saya memang senang pakai jas dan jasi walaupun sedikit gerah hehehe….) tapi toh saya tetap berusaha berfikir obyektif, apakah pakaian kita “tidak pantas” ya dibuat sebagai pakaian resmi?? Apakah karena kalah fashionable dengan pakaian2 barat?? Ah… nggak tahu deh! :mrgreen:

    @mathematicse

    Tadinya sih mau coba pakai sarung…. tapi nanti kasihan keluargaku, yang dapet malu mereka…. nanti mereka fikir ini orang istrinya siapa ya?? Kasihan banget dia yang dapet suami berpakaian aneh seperti itu…. wakakakakak…. πŸ˜†

    @rezco

    Apalagi kalau dalemnya ngga pakai GT-Man ya?? Tambah nyess aja! Wakakakakak….. πŸ˜†

    @Sawali Tuhusetya

    Nah…itu dia Pak Sawali…. justru itu pertanyaannya…. kenapa dalam pandangan sosial masyarakat kita sendiri “kurang menghargai” sarung? :mrgreen:

    @Menik

    Wah… ide yang bagus mbak….. kalau perlu lapis tiga…. paling dalam pakai sarung terus di luarnya pakai celana (kalau bisa celana pendek biar seru) terus paling luar pakai celana dalam seperti Superman atau Batman, wah siapa tahu nanti malah jadi mode…..!! Wakakakak….. itu sih kurang kerjaan namanya! πŸ˜†

    @Alias

    Nah…. justru itu…. kenapa tidak diteruskan menjadi sebuah kebiasaan ya? (jawaban ini jadinya nggak jelas juga deh :mrgreen: )

    @zulfaisalputera

    Iya… itu yang saya heran pak Zul….. kenapa kalau kita mau menghadap pejabat atau orang2 penting kita selalu berdandan dengan sangat rapih…. tapi kalau shalat menghadap Allah kita hanya berpakaian seadanya! Yang penting cuma bersih dan menutup aurat! Jujur saja nih, termasuk saya juga seperti itu! Terkadang malu juga saya, pak! 😦

    @brainstorm

    Huahahaha… tapi nyatanya sarung malah dipakai buat ronda…. (lihat komentar di bawah) πŸ˜†

    @sarah

    Huahahaha……. tapi saya heran kenapa kalau ronda selalu identik dengan sarung ya? :mrgreen:

  16. Kita hidup dalam lingkungan sosial, ada aturan-aturan baik tertulis maupun tak tertulis yang disepakati, sehingga bagi yang berbuat diluar itu dianggapa aneh.
    Kepala SMP saya dulu (tahun 63-66) dianggap aneh karena masih pakai kain, lengkap dengan beskap dan blangkonnya. Setiap Sabtu pagi, ada senam bersama yang diringi karawitan Jawa, dan sesudah itu lari mengitari Karesidenan di kota kami…..

    Sebetulnya unik juga, kalau pesta dan bikin undangan, dicantumkan dress coad nya sarung…saya yakin semua tamu pake sarung, dan tak dianggap aneh…seingatku Guruh pernah membuat pesta seperti ini. Bagaimana kang Yari…mungkin pesta sunatan, atau lainnya? Jangan-jangan dibalik sarung mereka pake celana panjang, dan keluar dari acara, sarungnya langsung dilepas.

  17. pakaian yang bermacam – macam sebutannya memiliki fungsi dan tugas masing – masing.memakai sarung untuk beribadah dan memakain\ celana panjang polos untuk acara formal menurut cempluk benar penempatannya… πŸ˜€ *just my personal identify, i’m so sorry if what i am said wrong sir.. πŸ™‚ *

  18. Menurutku, boleh-boleh saja, tidak ada yang larang pak,…

  19. dianggap gila sih enggak pak..
    tapi palingan dianggap gak waras :mgreen:
    *kaburrr manggil ultraman*

  20. wah, theme baru…. dari ilemoned, kerenn!!
    btw pak Yari ini kalo mau posting pasti ada header nya, posting kali ini… heuheuheuhuehe enak, jadi ada operpiew dulu

  21. @edratna

    Justru itu bu…… sepertinya pepatah “bisa karena biasa” berlaku dalam kasus ini. Kita sudah biasa memakai celana ke mana2 termasuk ke undangan dan ke kantor, akibatnya jikalau ada yang lain sendiri maka dianggap “aneh”.
    Pesta sarung?? Nggak ada salahnya ya bu?? Walaupun dengan resiko yang mengundang disangka orang aneh! :mrgreen: , yah hitung2 sebagai sedikit apresiasi terhadap “kebudayaan nasional”, soalnya bagaimana kita akan menghargai kebudayaan nasional secara riil, wong kebudayaan yang dekat dengan keseharian kita saja sudah kita nomorduakan….. ah nggak tahu deh bu….lieur! πŸ˜€

    @cempluk

    Pernyataan mas Cempluk itu benar sekali…. tapi pertanyaan utama saya bukan itu mas…. pertanyaan saya itu justru ada di dalam pernyataan mas cempluk sendiri….Kenapa celana panjang polos dianggap sesuai dengan busana kantor?? Kenapa nggak sarung?? Bagaimana kalau sarung yang polos atau sarung dengan motif yang sederhana sekali?? Apakah karena sarung bentuknya sederhana?? Apa karena sarung adalah pakaian tradisional jadinya tidak pantas dipakai untuk acara2 resmi dan modern?? πŸ˜€

    @Singal

    Asik dong ya kalau bisa milih ke kantor antara pakai celana panjang atau pakai sarung! πŸ˜€

    @hanggadamai

    **ultraman-nya lagi beli sarung** :mrgreen:

    @Raffaell

    Iya nih….. sayangnya hijaunya terlalu muda…. agak menyakitkan mata kalau dilihat terlalu lama hehehehe…….
    Maksudnya header postingan apa ya?? Gambar postingan?? Atau intro postingan?? Kalau intro postingan, ya saya usahakan biar yang ngebaca tahu ke mana arah postingan ini dibuat. πŸ˜€

  22. Sarung lebih fleksibel, cocok digunakan dalam kondisi apapun. Udara panas enakan pake sarung. Udara dingin pun juga enakan pake sarung.
    Hehehe…

  23. Oh yang di atas itu polisi ya? Kirain dari keraton mana ;D

    Beberapa pemakaian sarung untuk acara formal misalnya;-

    Pakaian adat Sumatera dan beberapa daerah di Jawa (celana panjang dipadu sarung yang dipakai di atas lutut + semi jas entah namanya apa).

    Sarung juga bisa dijahit jadi kemeja atau baju koko seperti ajakan Basofi Sudirman (masih ingat siapa beliau?) makanya ada istilah Basarfi = Baju Sarung Basofi.

    Kalau pestanya berkesan etnik, sarung bisa dipakai. Jaman sekarang sarung-sarung gak cuma seperti yang di foto di atas, ada yang dari batik dan indah. Cuma pria-pria yang mau bela-belain pake sarung etnik ke pesta biasanya juga orang-orang dunia fashion atau seniman, yang ekstrim lagi mereka yang profesinya berbau klenik.

    Lantas untuk penduduk Bromo, sarung ini hukumnya wajib selain “topeng ninja”, jadi formal informal mereka selalu pakai sarung untuk mengusir dingin dan menghindari debu gunung.

    Yang unik sarung yang dipakai saudara kita dari Skotlandia alias Kirtan. Saking modisnya sampai-sampai Kirtan jadi inspirasi mode di seluruh dunia. Kapan ya sarung Indonesia naik pangkat?

  24. nyokkk , saya setuju dengan saran membuat sarung modifikasi yang bagus
    nyokkkk, kita budayakan sarung

  25. Seringkali kita lebih lama berdiri di depan kaca pada saat mempersiapkan diri pergi ke pesta, sedangkan ketika hendak menghadap Sang Khalik bahkan tidak peduli serapi apakah penampilan kita demi menyembah Dzat yang jelas-jelas Maha Pemberi Kehidupan..

    Humm..padahal jenis sarung di Indonesia sangat beragam yah, jangan sampai lalai di-embat lagi ma tetangga :p para pengrajin rumahan sekarang ini mulai memodifikasi motif sarung untuk dipadukan pada pakaian casual sehari-hari, ya seperti batik yang semakin terlihat trendi, Etnik tapi tidak kehilangan Gaya. Jujurnya fi lebih seneng lihat pakaian batik atau pakaian yang diberi ornamen batik, terkesan lebih anggun.. πŸ™‚

  26. Pake jas plus celana panjang terus sarungnya diselendangkan saja pak (style kabayan), dijamin rapih πŸ˜€

  27. hehehe besok aku mau pendadaran skripsi pake baju daerah wae ah pake blangkon…

  28. @Edi Psw

    Panas dingin pakai sarung ya pak?? Tapi itu kan bagi kebanyakan orang hanya berlaku di rumah saja kan pak? πŸ˜€

    @Yoga

    Kalau batik memang sudah mendunia, meskipun corak batik di berbagai dunia berbeda dengan corak batik yang ada di negeri kita.
    Btw, ya itu kalau kita mau mengangkat pakaian tradisional kita ke tingkat dunia, ya kita dulu harus menghormatinya sendiri. Ya gimana kita mau mengangkatnya ke seluruh dunia kalau kita sendiri ogah memakai pakaian seperti itu, tul nggak? πŸ˜€

    @realylife

    Apakah Said sewaktu ngeblog pakai sarung apa celana?? :mrgreen:

    @pipiew

    Iya tuh mbak Piew….. saya heran…. kalau kita mau shalat menghadap Yang Maha Kuasa selalu berpakaian seadanya (termasuk saya juga! 😦 ) tapi kalau mau kerja atau mau bertemu pejabat atau orang penting lainnya, wah pasti pakai pakaian terbagus! Manusia memang aneh ya?? 😦

    Wah…. iya bener juga…. jangan2 nanti kalau kita tidak menghargainya… malah diembat Malaysia dan diaku2in dari sana lagi?? Huehehehe……

    Tapi kalau kita pakai batik sering dibilangin “Simpatik” nggak?? Alias SIMpanse PAkai baTIK! Huehehehe…… dasar, orang kita terlalu kreatif untuk menghina budaya sendiri! πŸ˜€

    @indra kh

    Kalau saya pakai sarung terus celananya yang diselendangkan gimana pak?? Wakakakak…… πŸ˜†

    @ardianzzz

    Wah…. boleh lihat fotonya nanti dong! :mrgreen:

  29. tul.. tul..
    *sambil manggut-manggut*

    ________________________________

    Yari NK replies:

    **manggut2 juga sambil memegang jenggot yang nggak ada** πŸ˜›

  30. Ayo kita angkat saja sarong sebagai pakaian nasional. Jadi kalo mo masuk istana negara, pria bisa pake sarong seperti halnya wanita pakai kebaya+kain/sarong. Setuju?

    _____________________________________

    Yari NK replies:

    Sangat setuju sekali mbak!!

  31. Bagi saya.. mau pake sarung atau pun celana.. gak masyalaahhh πŸ˜€
    Dua-duanya sama2 ‘terhormat’.
    Sing penting : pake !!! πŸ˜›
    *sambil mikir.. gimana kalo korps satpam-nyakang yari seragamnya pake sarung*

    ___________________________________________

    Yari NK replies:

    Yeee…. lihat tuh… polisi2 di Fiji aja bisa bergerah lincah pakai sarung seperti gambar di atas…. huehehehe…. :mrgreen:

    **masih untung mikirin korps satpamku yang pakai sarung bukan mikirin yang nggak pakai sarung dan nggak pakai celana. Wakakakakak……. πŸ˜† **

    Eh, btw, kok nggak pakai alamat blognya yang di WP seh?? Kan udah ada tuh! πŸ˜€

  32. yang komen uda pake sarung apa belom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s