Daily Archives: Selasa, 13 Mei 2008

Penjara Spandau, Penjara Yang Isinya Hanya Seorang…..

Rudolf HessPenjara Spandau di Berlin, Jerman

Keterangan Gambar:

Gambar atas : Rudolf Heß sedang berjalan seorang diri di halaman penjara Spandau. (Foto oleh Norman Goda).

Gambar Bawah: Penyerahterimaan pergantian penjagaan bulanan penjara Spandau dari pasukan Uni Soviet (sebelah kiri) ke pasukan Amerika Serikat (kanan).

 

Di tahun 1980an, ada grup musik yang terdiri dari 5 orang yang bernama Spandau Ballet yang lagu-lagunya cukup saya gemari. Mula-mula saya tidak tahu apakah Spandau itu. Oleh karena saya penasaran maka saya berusaha mencari tahu di Encyclopædia Britannica, satu2nya sumber informasi yang ada di rumah waktu itu. Maklumlah di tahun 1980an belum dikenal yang namanya Internet sepeti zaman sekarang. Informasi yang saya dapatkan mengenai kata “Spandau” adalah nama sebuah penjara di pinggiran kota Berlin, Jerman tempat para penjahat perang Nazi kelas kakap ditahan. Entah apa hubungannya antara grup musik Spandau Ballet ini dengan penjara Spandau, yang jelas  saya tergelitik untuk mengetengahkan tema tentang penjara yang sangat bersejarah ini yang sejak tahun 1966 hingga tahun 1987 penghuni penjara ini hanya seorang yaitu Rudolf Heß melalui postingan saya kali ini……

Penjara Spandau adalah penjara di distrik Spandau dekat kota Berlin di Jerman. Penjara ini, seperti yang telah diungkapkan di atas adalah tempat para penjahat perang kelas kakap Nazi Jerman pada Perang Dunia II ditahan. Semula penjahat perang yang ditahan adalah 7 orang yaitu adalah: Rudolf Heß, Walther Funk, Erich Raeder, Baldur von Schirach, Konstantin von Neurath, Albert Speer dan Karl Dönitz. Namun sejak tahun 1966, sejak Speer dan von Schirach dibebaskan dengan alasan kesehatan dan kemanusiaan, Rudolf Heß menjadi satu-satunya penghuni penjara tersebut. Uniknya lagi, inilah penjara satu2nya dibawah juridiksi internasional, dikelola dan dijaga bergantian oleh 4 negara pemenang Perang yaitu Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Soviet. Dan lebih unik lagi, penjagaan ketat oleh 4 negara ini yang menghabiskan tidak sedikit biaya adalah hanya untuk menahan seorang penjahat perang kakek-kakek bernama Rudolf Heß ini! Luar biasa!

Penjara Spandau sebenarnya sudah lama dipakai jauh sebelum Perang Dunia II. Pada saat sebelum dihuni oleh penjahat perang kelas kakap Nazi tersebut, penjara itu memuat sekitar 600an pesakitan. Namun ke 600an pesakitan itu semuanya dipindahkan ketika ketujuh orang penjahat perang Nazi tersebut mulai ditahan di penjara Spandau. Pada awalnya penjara ini tidak diduga akan menjadi penjara tempat penjahat perang Nazi ditangkap. Karena sebelum Pengadilan Nürnberg, yang mengadili penjahat perang Nazi,  semua penjahat perang Nazi kelas kakap diperkirakan tidak ada yang berakhir di penjara, alias semuanya akan mati dihukum di tiang gantungan. Namun setelah Pengadilan Nürnberg berakhir ternyata ketujuh penjahat perang Nazi tersebut lolos dari tiang gantungan dan “hanya” dihukum antara 10 tahun hingga seumur hidup. Tiga dari tujuh penjahat perang tersebut yaitu von Neurath (dihukum 15 tahun penjara), Funk (seumur hidup) dan dan Raeder (seumur hidup) dibebaskan sebelum hukuman berakhir karena alasan kesehatan dan kemanusiaan. Sementara tiga lainnya yaitu: Dönitz (10 tahun penjara), Speer (20 tahun) dan Von Schirach (20 tahun) menjalani penuh hukumannya. Sejak Speer dan Von Schirach dibebaskan tahun 1966, maka tinggalah Rudolf Heß (dihukum penjara seumur hidup) seorang diri di penjara Spandau yang besar itu hingga maut menjemputnya di tahun 1987.

Mengenai Rudolf Heß sendiri, tawanan satu2nya  di penjara Spandau sejak tahun 1966 juga menarik untuk dibicarakan. Orang yang pernah dekat dengan orang nomor satu pada masa Nazi Jerman ini yaitu Adolf Hitler sebagai deputi atau asistennya, melakukan penerbangan misterius dan rahasia ke Britania Raya atau tepatnya ke Skotlandia pada tahun 1941. Penerbangannya ke Skotlandia tersebut adalah untuk menemui Duke of Hamilton and Brandon yang waktu itu menjadi lawan (politik) dari Winston Churchill perdana menteri Inggris Raya kala itu. Para ahli sejarah dan politik hingga kini masih memperdebatkan apa tujuan Heß sebenarnya terbang ke Skotlandia tersebut.  Rudolf Heß sendiri mengakui bahwa penerbangannya ke Skotlandia tersebut adalah untuk menghentikan perang yang akan terus berlanjut seperti yang ditulis istri Rudolf Heß, Ilse Heß dalam bukunya “Rudolf Hess: Prisoner of Peace”. Namun “misi perdamaian”nya gagal, Rudolf Heß malah tertangkap fihak Inggris dan dijebloskan ke penjara di Inggris hingga Perang Dunia II selesai.

Walaupun ia mengaku “mengusung misi perdamaian” ketika perang tengah berlangsung, hal tersebut tidak membuatnya lolos dari pengadilan Nürnberg di tahun 1945-1946 ketika perang berakhir dan Jerman berada di fihak yang kalah. Di pengadilan tersebut Heß terbukti bersalah dalam 2 dakwaan dari 4 dakwaan yang dituduhkan kepada para penjahat perang Nazi.  Heß terbukti bersalah dalam Partisipasi dalam perencanaan perang atau sebagai konspirator dalam pelaksanaan perang sebaai kejahatan terhadap perdamaian dan juga ia dinyatakan bersalah dalam merencanakan, memulai dan melaksanakan perang yang juga merupakan kejahatan terhadap perdamaian. Untuk itu Heß dihukum penjara seumur hidup.

Setelah pengadilan Nürnberg tersebut, mulailah Rudolf Heß melewati hari2nya di penjara Spandau. Pada awalnya, di tahun 1946, ada 7 penjahat perang (termasuk Heß) yang masuk ke dalam penjara tersebut. Bahkan Walther Funk dan Erick Raeder juga dihukum seumur hidup. Namun Raeder dan Funk dibebaskan masing2 tahun 1955 dan 1957 dengan alasan kesehatan dan kemanusiaan. Ketika Albert Speer dan Baldur von Schirach dibebaskan tahun 1966, Rudolf Heß menjadi satu2nya pesakitan di penjara Spandau dan mulailah hari2nya yang sepi hingga akhir hayatnya.

Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Soviet tiap bulan bergantian menjaga tempat tersebut. Penderitaan Heß bertambah manakala giliran Uni Soviet yang menjaga tempat penjara tersebut karena Uni Soviet menerapkan peraturan yang jauh lebih ketat dan makanan yang lebih sedikit dan sangat seadanya dibandingkan dengan giliran penjagaan oleh Amerika Serikat, Inggris atau Perancis di mana Heß lebih leluasa dan disediakan makanan yang cukup mewah untuk ukuran penjara. Namun begitu Heß tetap sangat dibatasi dalam mengirim surat, menerima tamu dan menerima informasi dari luar terutama media elektronik. Itupun hanya radio yang diperbolehkan sedangkan televisi tidak boleh.

Amerika Serikat, Inggris dan Perancis sebenarnya telah mengampuni Heß di tahun 1970an dan menyarankan agar Heß dibebaskan atau diubah menjadi tahanan rumah karena alasan kemanusiaan dan kesehatan Heß yang terus menurun terutama kesehatan mentalnya akibat kesepian yang berkepanjangan. Namun hal tersebut selalu ditolak Uni Soviet yang bersikeras Heß harus tetap menjalani hukumannya di penjara Spandau. Penolakan salah satu negara saja sudah cukup untuk meneruskan hukuman Heß di penjara Spandau tersebut. Kerjasama antara Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Soviet memang terhitung sangat kompak di penjara Spandau ini. Hal inilah yang justru terlihat sangat “lucu” dan “anomali” dengan keadaan politik global pada saat itu di mana tengah terjadi perang dingin antara blok barat yang dipimpin Amerika Serikat dan blok timur yang dipimpin Uni Soviet. Namun toh, keempat negara besar tersebut bisa bekerja sama guna me-manage penjara Spandau ini yang isi tahanannya cuma seorang kakek2 !!

Sementara itu Heß mengisi hari2nya di penjara Spandau dengan kesepian yang sangat. Teman satu2nya yang ia punya adalah kepala sipir penjara berkebangsaan AS bernama Eugene K. Bird, seorang Letnan Kolonel Angkatan Darat AS,  yang kemudian dicopot dari jabatannya sebagai kepala sipir penjara karena terlalu akrab dengan Heß. Bird mengeluarkan bukunya tentang Rudolf Heß yang berjudul: “The Loneliest Man in the World: The Inside Story of the 30-Year Imprisonment of Rudolf Hess”. Hari2 panjang yang melelahkan dan sepi semakin dirasakan oleh Heß ketika istrinya meninggal di tahun 1985. Mungkin hal itulah yang turut membulatkan tekad Heß untuk mengakhiri hidupnya sendiri yang penuh dengan kesepian yang “tak pernah berakhir” dengan gantung diri menggunakan kabel listrik di bulan Agustus 1987 di usianya yang ke-93……

Penjara Spandau kini telah tiada, penjara bersejarah tersebut dibongkar habis oleh negara2 sekutu pemenang Perang Dunia II setelah penghuni terakhir penjara tersebut yaitu Rudolf Heß menemui ajalnya. Bagunan sejarah yang sebenarnya sangat berharga ini dibongkar karena negara2 sekutu tersebut tidak mau bangunan penjara tersebut menjadi tempat keramat dan tempat monumen peringatan bagi kaum Neo-Nazi. Kini di bekas penjara tersebut telah berdiri sebuah supermarket yang modern……..