Tragedi Kemanusiaan: Hanya Untuk Dikenang dan Ditangisi??

Hari ini tanggal 15 Mei 2008, banyak blogger dari seluruh dunia menyuarakan mengenai kemanusiaan di blognya masing-masing. Sebenarnya saya agak bimbang ikut ambil bagian dalam peristiwa kebersamaan ini karena kebetulan mood menulis saya lagi agak menurun, namun karena ada “beban mental” untuk turut mendukung misi kemanusiaan ini, maka saya mencoba memaksakan diri untuk menulis tentang topik kemanusiaan (humanity) ini. Kebetulan tanggal 15 Mei ini berdekatan dengan tanggal2 bersejarah reformasi di negeri ini 10 tahun yang lalu yang meninggalkan banyak luka bagi kemanusiaan di tanah air tercinta ini.

Sebenarnya sudah banyak yang memuat masalah tragedi ini di blogsfer Indonesia, terutama mengenai tragedi Mei 1998 lewat berbagai macam bentuk tulisan. Terus terang saja saya sudah agak jenuh cenderung agak muak membaca dan mendengar hal-hal seperti tragedi Mei 1998 yang berulang diutarakan terus menerus setiap tahun semuak saya mendengar reformasi yang seperti berlari lambat (namun tidak berhenti) termasuk dalam pemberantasan korupsi. Loh, kok muak? Apa berarti saya tidak peduli lagi dengan tragedi kemanusiaan seperti Mei 1998 tersebut? Tentu saja tidak begitu, bagaimanapun juga penumpasan atau pengusutan terhadap kejahatan pada tragedi kemanusiaan harus selalu kita dukung namun kepedulian dengan cara mendramatisasi tragedi2 kemanusiaan yang telah lalu dan juga terlalu lama merenunginya dengan air mata kesedihan yang bercucuran terus menerus setiap tahun, menurut saya, bukanlah hal yang tepat.

Perbaikan, menurut saya, tentu harus dari diri kita sendiri. Yang pertama kali dilakukan adalah menyadari kenapa kita harus menghilangkan sebuah tragedi kemanusiaan. Setelah itu kita harus mengetahui sifat-sifat dasar yang menyebabkan tragedi tersebut. Dan terakhir tentu saja kita mengambil sikap dan tindakan ataupun perbuatan yang akan membuat kita terhindar sebagai pelaku tragedi tersebut. Pada kasus rasial (bagian dari SARA), misalnya, saya yakin, sekecil apapun pasti akan ada sifat rasial dalam diri kita masing2. Kita akan selalu melihat orang yang berbeda dengan kita, apalagi jikalau perbedaan itu ditambah dengan perbedaan sifat dan kebiasaan, kita akan melihatnya dengan perasaan “tidak enak”, “tidak suka” dan juga “aneh”, apalagi pada saat pertama kali kita melihatnya.  Jangankan terhadap warga “keturunan”, terhadap sesama warga pribumi saja, kita masih banyak yang dalam hati merasa “berbeda”. Saya banyak melihat di Bandung ini, mahasiswa2 dari Papua (Melanesia) berkelompok pergi tanpa ada teman Melayu Austronesianya yang menemani, seolah2 mahasiswa2 Papua tersebut “terkucilkan” dan berada di sebuah negara asing padahal mereka berada di negerinya sendiri. Lebih dari itu, bahkan antar suku2 Austronesiapun terkadang kita sering kali melihat perbedaan2nya yang tentu berpotensi terjadi friksi2, tak jarang kita mendengar: “Dasar Padang pelit lu!”, “Dasar Batak, kasar lu!”, “Dasar Jawa, klemar-klemer lu!” Dan sebagainya. Itu semua menandakan bahwa sifat rasis, sekecil apapun, ada pada diri kita masing2……….

Hal ini lebih diperburuk lagi misalnya dengan fanatisme2 lain, terutama yang lagi “mewabah” di negeri ini adalah fanatisme agama dan kepercayaan. Kita sering mendengar atau melihat misalnya kekerasan2 terhadap penganut2 suatu kepercayaan oleh penganut2 kepercayaan yang lain hingga terjadi pembakaran rumah2 ibadah, dan sebagainya. Fanatisme ini tentu bukan hanya milik yang mayoritas saja, tetapi juga dapat dimiliki oleh mereka yang minoritas, hanya saja yang mayoritas berani sok berkoar2 dan bertindak anarkis bahkan terkadang banyak yang bertindak pengecut karena merasa di atas angin dengan jumlah yang banyak. Sedangkan yang fanatik minoritas hanya bisa diam saja dan berpura2 jinak dan mereka hanya bisa menyalurkan “kefanatikannya” dengan cara underground karena kalah dalam jumlah……

Sekali lagi, masalah2 kemanusiaan ini ada karena kebanyakan dari masalah2 ini timbul akibat sekelompok orang melihat perbedaan2 yang ada pada sekelompok orang yang lain, hal ini bukan saja tentu saja tidak hanya terjadi di negeri kita saja. Saya melihat di Arirang TV, televisi Korea berbahasa Inggris, bagaimana warga keturunan Korea di Jepang masih dilihat sebelah mata oleh warga2 Jepang. Saya juga melihat di National Geographic Channel (NGC) bagaimana suku2 yang ada di China bagian barat didiskriminasi dan masih dari NGC saya juga trenyuh hatinya ketika sebuah keluarga keturunan China yang lahir dan besar di Peru banyak mendapatkan perlakuan2 yang kurang menyenangkan di Hongkong hanya karena mereka tidak bisa berbahasa Mandarin. Hal ini menandakan bahwa perasaan berbeda, termasuk perasaan rasisme, sekecil apapun, ada pada setiap diri kita, kapan saja dan di mana saja. Mungkin sudah fitrahnya orang diciptakan berbeda2, dan mungkin yang terbaik adalah tidak dengan menghilangkan rasa perbedaan tersebut yang hanya berujung kepada kepura2an ataupun kemunafikan tapi bagaimana kita me-manage perbedaan tersebut dan berfikir secara rasional kenapa kita HARUS hidup berdampingan dengan damai sehingga hubungan antarkelompok menjadi senantiasa indah dan harmonis karena bagaimanapun juga bumi ini hanya satu dan kita hidup di bumi yang sama, dan bumi ini tentu adalah milik bersama……….

Untuk itu mari kita stop merenung dan meraung untuk memperingati tragedi kemanusiaan ini. Sepuluh tahun cukup sudah untuk merenung dan meraung. Bagaimanapun juga dengan hanya merenung dan meraung terlalu lama tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang. Mari saatnya kita menintrospeksi diri apakah kita sudah  me-manage dengan baik perbedaan yang ada pada diri kita dan antar kita yang akan membuat dunia yang kita tinggali ini akan lebih indah……….??

Iklan

15 responses to “Tragedi Kemanusiaan: Hanya Untuk Dikenang dan Ditangisi??

  1. Do we have a choice to determine our origin? Do we have a choice to born as a certain race?
    Good point mas, sekecil apapun sebenarnya ada perasaan rasisme. Setidaknya dalam pemikirannya, seseorang sudah melakukan mapping atas ciri-ciri utama tiap ras (bikin pusing aja). Kemudian bagaimana caranya mewujudkan hidup damai berdampingan itu di dunia yang sudah semakin kompleks ini?

  2. banyak hal buruk di Indonesia, tapi kita warga negara ini, apa lantas kita mau pindah negara?, kalo memang bole ya asoy, kalo enggak bisa hayuk benahi yang udah ada..

    *kemasukan*

  3. Kalo menurut saya kita sekali2 perlu utk mendiskusikan perbedaan2 yg ada dng kepala dingin dan bukan malah mentabukan utk membicarakannya. Dng begitu mudah2an kita dpt lebih memahami kenapa org lain begini dan begitu dan juga diharapkan dng diskusi2 spt itu, kita menjadi lebih terbuka dan toleran terhadap segala perbedaan.

  4. Tragedi kemanusian saya lihat masih cenderung baru menjadi sebuah seremonial atau diperingati saja. Solusi atau langkah ke depan kadang luput terpikirkan.

  5. Sedang berhenti merenung!!!

  6. Kang Yari, kayaknya kita memang harus memulai perbaikan dari diri sendiri dulu, dari lingkungan terdekat kita, memperlakukan anak-anak, pembantu, anak buah dengan baik. Dan memberikan dorongan pada orang lain untuk berbuat sama.

    Tak perlu mengeluh, sebetulnya waktunya menyingsingkan lengan…..karena hanya dengan kerja keras, dan berpeluh akan diperoleh hasil yang baik…bukan dengan adu otot dan saling teriak mana yang paling keras.

  7. Ini yang paling saya suka PERBAIKAN HARUS DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

    dan kalau boleh saya tambahkan, harus dimulai sekarang juga.

    Berhenti meratap, itu sudah pasti. Seolah menjadi wabah bila pikiran-pikiran yang menghantui ialah “orientasi ke masa lalu” …berhentilah menengok terlalu banyak ke belakang. Slogan Rhenald Kasali : Tak peduli berapa jauh sudah kita salah melangkah, Putar arah sekarang juga.

  8. @Yoga

    Betul sekali…. karena kita tidak bisa memilih menjadi apa kita lahir….. maka kita sudah “mencirikan” setiap rasa/suku/kelompok. Ya, itu sangat alamiah. Kalau kita bisa memilih menjadi apa kita lahir…. apalagi kalau setiap waktu kita bisa berpindah2 ras semau kita…. ya… tentu “pencirian” itu tidak ada lagi…. karena kita bisa menjadi apa saja yang sesuai dengan ciri yang kita harapkan…. 😀

    @ulan

    Kalau pindah negara ke Papua Nugini atau Timor leste gimana? :mrgreen:
    **discrimination.co.id** hehehe…..

    @AgusBin

    Betul sekali Bin….. semakin kita banyak berinteraksi, minimal dengan diskusi, kita semakin terbiasa dengan segala perbedaan. 😀

    @indra kh

    Sangat seremonial dan terkadang sangat sentimental dan acapkali tidak berorientasi pada masa depan…..

    @mezzalena

    sudah berapa lama merenung mbak? :mrgreen:

    @edratna</b.

    Betul semua dari diri kita sendiri…. tapi saya melihat masih banyak juga yang mulai dari rumahnya bagus, tetapi setelah keluar ternyata tidak begitu bagus, kenapa begitu ya? ❓

    @SQ

    Better late than never…... Betul….. semakin kita terserap dengan masa lalu, semakin besar kemungkinan kita terperangkap dengan keadaan stagnasi…… 😀

  9. Setuju dengan pak Yari, ngenangisin yang dah 10 tahun gak ada gunanya, 😀 mungkin ini cuman aksi untuk memanaskan aura politik, *wahh tau apa dengan polikik….* wahahaha

  10. Sykur kalau diperingati, ada yang mengingat saja tidak, bahkan tidak tahu. Indonesia kan bangsa besar, bangsa hebat?

  11. YUUP….
    Tim Uber sudah memastikan masuk FINAL,
    Mari kita dukung sampai jadi juara
    TIM THOMAS…. Jangan Mau Ketinggalan!!!

  12. cukup sudah semua itu hanya kenangan
    jangan peernah terulang lgi..
    skrg mari kita buat kenangan manis tuk negri ini

  13. kita bahkan berusaha menyangkal pengalaman itu, agar bisa segera lupa.

    kata kuncinya adalah LUPA.

  14. @Raffaell

    Hahahaha….. iya kali ya…. untuk memanaskan suasana politik. Atau mungkin bisa jadi agar talk show di televisi bisa laku. Maklum deh, politisi kan ngga ada kerjaan lain selain memecah belah masyarakat. Hehehe……

    @Ersis Warmansyah Abbas

    Diperingati sih nggak apa2. Asal jangan cuma diperingati saja terus berlalu begitu saja tanpa tindakan2 nyata pengusutan kejahatan, pencegahan agar tidak terulang kembali, dsb. Di sini kata kuncinya adalah cuma. 😀

    @indra1082

    Tim Thomas Merah Putihnya udah kalah, udah keok dari Korea. 😛

    @hanggadamai

    Betul…… buat kenangan manis untuk masa depan dengan berhenti merenung terus2an, mari ambil tindakan nyata untuk membuat kenangan manis itu. 🙂

    @tobadreams

    Kita seyogianya tidak melupakan sejarah, tetapi juga tidak perlu merenungi dan meratapinya terus menerus……. 😀

  15. hmm… saya ga termasuk yang menulis tentang kemanusiaan… bukannya ga peduli… tapi memang, sangat setuju dengan yang bilang segala sesuatunya dimulai dari diri sendiri.. jangan ribut sana sini tapi belum jadi yang paling baik setidaknya di diri sendiri… kilse emang tapi kan perubahan ya harus diawali dari diri sendiri, yes? jangan asik asik demo ato apalah minta perubahan tapi yang teriak ga baik baik amat… ah… cape deh… :p

    ___________________________________

    Yari NK replies:

    Emang betul….. kepedulian terhadap kemanusiaan bukan hanya dihitung dari menulis sebuah postingan di blog atau nggak….. dan memang benar juga yang berkoar keras belum tentu dia baik2 amat juga walaupun yang nggak teriak juga bisa jadi juga nggak baik2 amat…. hehehe…. Tapi memang betul perubahan harus dari diri sendiri…… dan yang penting kita harus bisa dan berani mengkritisi diri kita sendiri secara obyektif…. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s