Daily Archives: Selasa, 20 Mei 2008

Mengapa Kita “Tidak Bisa” Setiap Malam Melihat Bulan?

Bulan adalah benda langit yang paling dekat ke bumi, jaraknya dari Bumi rata-rata adalah 384.400 kilometer, termasuk jarak yang sangat dekat dibandingkan dengan benda-benda langit lainnya. Karena jaraknya yang “sangat dekat” tersebut, bulan adalah benda langit yang paling mudah dilihat dengan mata telanjang terutama pada malam hari. Pada malam hari bulan tampak “bersinar” dengan  terang, seolah2 bulan ingin menggantikan matahari dalam menerangi bumi pada malam hari. Namun, seperti yang kita pelajari dari SD, tentu bulan tidak memancarkan sinarnya sendiri, sinar yang mencapai mata kita dari bulan adalah cahaya sinar matahari yang dipantulkan oleh bulan sehingga bulan tampak seolah2 bersinar.

Terlepas dari faktor awan tebal di langit yang dapat menutupi bulan, kenapa kita “tidak bisa” setiap malam melihat bulan (walaupun langit bersih tanpa awan) ?? Sebenarnya bulan setiap hari selalu terbit dan terbenam secara teratur namun jikalau kita ingin menemukan bulan di waktu yang salah pada malam hari, maka kita tidak akan dapat menemukan bulan di langit. Ini disebabkan karena setiap malam atau setiap hari bulan terbit dan terbenam sekitar 50 – 60 menit lebih telat dari malam sebelumnya.

Sekarang lihat gambar di atas (gambar diambil dari sini). Andaikan bulan berada di posisi 1. Inilah yang dalam astronomi disebut dengan bulan baru. Pada posisi bulan seperti inilah maka bulan baru penanggalan qomariyah (penanggalan Arab) dimulai. Di posisi 1 ini, posisi bulan sangat dekat dengan matahari jikalau kita melihatnya dari bumi. Dalam posisi ini tentu waktu terbit  bulan hampir sama dengan waktu terbit matahari (begitu pula dengan waktu terbenamnya bulan kira2 hampir sama dengan waktu terbenamnya matahari) sehingga pada saat bulan dalam posisi 1 ini kita mustahil menemukan bulan pada malam hari. Seiring dengan berlalunya waktu, beberapa hari kemudian, bulan mencapai pada posisi 2. Pada posisi ini bulan kira2 terbit pada pukul 9 pagi dan terbenam pada pukul 9 malam. Nah, pada posisi bulan seperti ini kita bisa melihat bulan sabit pada malam hari sebelum pukul 9. Namun tentu kita mustahil menemukan bulan yang tengah pada posisi 2 ini di tengah malam. Nah, beberapa hari kemudian di posisi 3 (pada posisi ini nampak bulan separuh dari bumi) bulan kira2 terbit pukul 12 siang dan terbenam pada kira2 pukul 12 malam. Nah pada posisi bulan seperti ini kita mustahil menemukan bulan lewat tengah malam.  Sekarang pada posisi bulan purnama, yaitu pada posisi 5, posisi bulan tentu berseberangan dengan posisi matahari. Pada posisi inilah kita dapat menemukan bulan di sepanjang malam. Itu disebabkan karena posisi bulan berseberangan dengan matahari, maka pada posisi bulan purnama ini (posisi 5) bulan terbit pada saat kira2 matahari terbenam dan bulan terbenam pada saat kira2 matahari akan terbit. Beberapa hari kemudian pada saat bulan pada posisi 7 (kembali menjadi bulan separuh), di posisi ini justru kebalikan daripada posisi 3. Di posisi 7 ini, bulan baru terbit  kira2 pukul 12 malam dan baru terbenam  kira2 pukul 12 siang. Nah, pada bulan dalam posisi 7 ini, tentu kita mustahil menemukan bulan di malam hari sebelum tengah malam. Begitulah seterusnya hingga bulan mencapai kembali pada posisi 1. Nah, hubungannya secara kasarnya dengan penanggalan qomariyah (Islam) adalah jikalau anda dapat menemukan bulan (terutama bulan sabit) sebelum tengah malam (terutama beberapa jam setelah matahari terbenam) maka itu berarti kita berada pada tanggal2 muda dalam bulan Islam. Jikalau kita tidak menemukan bulan sama sekali sebelum tengah malam, itu pertanda kita berada pada tanggal2 tua dalam bulan Islam.

Nah…. sekarang jelas kan….. kenapa setiap malam kita belum tentu dapat menemukan bulan di langit?? 😀

Catatan:

Lamanya peredaran bulan dari posisi 1 kembali ke posisi 1 lagi adalah kira2 1 bulan. Namun tentu yang dimaksud adalah satu bulan qomariyah, sedangkan untuk satu bulan kalender syamsiah (kalender Masehi) lebih sedikit panjang (kecuali bulan Februari yang justru lebih pendek dari waktu 1 bulan qomariyah) karena panjangnya 1 bulan kalender syamsiah disesuaikan dengan satu kali peredaran bumi terhadap matahari.