Daily Archives: Senin, 26 Mei 2008

Kenaikan Harga BBM di Mata Seorang Penjual Kupat Tahu

Di ujung Jalan Cilaki dekat dengan Jalan Diponegoro yang tidak begitu jauh dari rumahku ada penjual kupat tahu petis pinggir jalan yang menurut saya cukup enak dibandingkan dengan rata2 penjual kupat tahu yang pernah saya coba. Sebenarnya saya termasuk jarang membeli kupat tahu di situ, namun entah kenapa akhir2 ini saya lagi suka makan kupat tahu yang sebetulnya cukup nutritif itu dibandingkan makanan2 McDonald’s yang hanya berisikan sampah  yang entah kenapa di sini malah menjadi lambang eksklusivisme termasuk di blogsfer ini. Suatu siang, kira2 seminggu sebelum kenaikan BBM, pada saat jam istirahat kantor, saya dan seorang teman kantor, dibela2in makan siang di penjual kupat tahu (dan lontong kari) tersebut yang sebenarnya  jarak ke rumah saya jauh lebih dekat dari jarak ke kantor saya. Namun apa boleh buat, karena sudah niat sekali, ya akhirnya ditunaikanlah niat tersebut dan pada saat kami tiba di penjual kupat tersebut kebetulan sedang agak sepi dan hanya seorang saja yang tengah menyantap lontong kari.

“Dua kupat tahunya, bu” begitu kataku segera setelah tiba di situ. “Iya pak, duduk aja dulu” kata ibu2 penjual kupat tahu itu yang memang sudah kenal denganku. Dengan cekatan ibu tersebut membuat dua porsi kupat tahu dan dalam waktu tidak lebih dari 3 menit kedua porsi kupat tahu tersebut telah siap dihidangkan.

Ketika kami baru melahap beberapa sendok, tiba2 entah kenapa, mungkin karena ibu penjual kupat tahu itu termasuk orang yang agak rajin menyimak berita2 di koran, mengeluh tentang kenaikan harga BBM (yang waktu itu baru dalam tahap rencana).

“Pak, kalau harga kupat tahu saya dinaikkan karena harga BBM naik, kira2 pembeli (kupat tahu dan kari ayam) saya masih banyak nggak ya?” katanya.

“Lho, kok tanya saya bu, kan ibu yang sudah berpengalaman dagang kupat tahu dan lontong kari selama beberapa kali kenaikan BBM ini” jawabku.

“Ya, biasanya sih jelas menurun, tapi lama kelamaaan normal lagi tapi normalnya butuh waktu yang lumayan lama” begitu akhirnya ia jawab sendiri.

“Ah, pemerintah sih, bisanya cuma merepotkan rakyatnya aja. Percuma ngasih2 uang (maksudnya BLT) Rp 300 ribu kalau kenaikan biaya2 selama itu lebih dari Rp. 300 ribu. Ya, sama aja bohong! Mendingan nggak usah bagi2 uang tapi stabilkan harga2…..” begitu katanya.

“Yah, lumayan kan bu, daripada nggak ada sama sekali, rakyat juga seneng kok yang terima uang itu” kataku yang sebenarnya agak ogah2an ngobrol karena masih asik menyantap kupat tahu.

“Iya, senengnya pas nerimanya, coba seminggu kemudian pas duitnya abis, tinggal susahnya aja tuh! Apalagi orang2 miskin yang nggak pernah pegang duit Rp. 300 ribu, begitu terima duit segitu abis untuk foya2 ngaji pumpung” tambah ibu tersebut.

“Tapi bu, katanya kalo harga BBM nggak naik, nanti keuangan negara yang kolaps” kataku.

“kolaps itu apa pak?” tanyanya.

“Ambruk!” kataku.

“Lhaaa….. kalau BBM yang naik nanti keuangan rakyat yang ambruk !!” katanya.

“Hahaha….” kataku tertawa. “Benar juga” pikirku. Selama ini negara meminta mengajarkan kita untuk tidak terlalu bergantung pada subsidi BBM persis analoginya seperti orang tua mengajar dan meminta anaknya untuk mandiri, hanya saja dalam kasus ini si orang tua “gagal mengajarkan dengan baik” anaknya untuk mandiri.

“Lagian pak, enak aja pemerintah nyuruh2 rakyatnya buat berhematlah buat mengencangkan ikat pingganglah. Kalau yang sebulannya bisa nabung banyak ya enak aja bilang berhemat dan mengencangkan ikat pinggang. Lha…. yang sehari2nya udah susah?? Bagaimana mau mengencangkan ikat pinggang?? Coba deh tu….. kalau mau merasakan mengencangkan ikat pinggang, bapak2 yang di atas yang gajinya banyak itu sehari nggak boleh mengeluarkan uang lebih dari Rp. 20 ribu untuk segala keperluan. Bisa nggak?? Itu kalau mau ngerasain kencengnya ikat pinggang!” Begitu katanya kepadaku.

“Iya bu. Setuju banget. Itu baru namanya mengencangkan ikat pinggang. Ya udah bu, kalau ibu nggak suka, ya nggak usah milih presiden2 yang udah  pernah menaikkan harga BBM tanpa kompensasi yang jelas dan merata bagi seluruh rakyat. Beres kan!” kataku setengah asal2an.

“Ah, pak, sekarang sih saya nggak mau ikut2an milih kalo sama aja sih. Presidennya yang nggak sekolahan (nggak lulus S1 maksudnya) sama yang presidennya sekolahan (yang lulusan S3 maksudnya) sama aja payahnya, hasilnya juga sama.” Begitu katanya.

“Embeeeeeeeeeer………! udah pernah ‘ketipu’ sama presiden yang bisanya cuma tebar pesona ya?? Hihihi….. untung gue waktu pemilihan capres tahap ke-2 lalu golput” kataku dalam hati sambil membayar dua kupat tahu dan bersiap kembali ke kantor…………