Kenaikan Harga BBM di Mata Seorang Penjual Kupat Tahu

Di ujung Jalan Cilaki dekat dengan Jalan Diponegoro yang tidak begitu jauh dari rumahku ada penjual kupat tahu petis pinggir jalan yang menurut saya cukup enak dibandingkan dengan rata2 penjual kupat tahu yang pernah saya coba. Sebenarnya saya termasuk jarang membeli kupat tahu di situ, namun entah kenapa akhir2 ini saya lagi suka makan kupat tahu yang sebetulnya cukup nutritif itu dibandingkan makanan2 McDonald’s yang hanya berisikan sampah  yang entah kenapa di sini malah menjadi lambang eksklusivisme termasuk di blogsfer ini. Suatu siang, kira2 seminggu sebelum kenaikan BBM, pada saat jam istirahat kantor, saya dan seorang teman kantor, dibela2in makan siang di penjual kupat tahu (dan lontong kari) tersebut yang sebenarnya  jarak ke rumah saya jauh lebih dekat dari jarak ke kantor saya. Namun apa boleh buat, karena sudah niat sekali, ya akhirnya ditunaikanlah niat tersebut dan pada saat kami tiba di penjual kupat tersebut kebetulan sedang agak sepi dan hanya seorang saja yang tengah menyantap lontong kari.

“Dua kupat tahunya, bu” begitu kataku segera setelah tiba di situ. “Iya pak, duduk aja dulu” kata ibu2 penjual kupat tahu itu yang memang sudah kenal denganku. Dengan cekatan ibu tersebut membuat dua porsi kupat tahu dan dalam waktu tidak lebih dari 3 menit kedua porsi kupat tahu tersebut telah siap dihidangkan.

Ketika kami baru melahap beberapa sendok, tiba2 entah kenapa, mungkin karena ibu penjual kupat tahu itu termasuk orang yang agak rajin menyimak berita2 di koran, mengeluh tentang kenaikan harga BBM (yang waktu itu baru dalam tahap rencana).

“Pak, kalau harga kupat tahu saya dinaikkan karena harga BBM naik, kira2 pembeli (kupat tahu dan kari ayam) saya masih banyak nggak ya?” katanya.

“Lho, kok tanya saya bu, kan ibu yang sudah berpengalaman dagang kupat tahu dan lontong kari selama beberapa kali kenaikan BBM ini” jawabku.

“Ya, biasanya sih jelas menurun, tapi lama kelamaaan normal lagi tapi normalnya butuh waktu yang lumayan lama” begitu akhirnya ia jawab sendiri.

“Ah, pemerintah sih, bisanya cuma merepotkan rakyatnya aja. Percuma ngasih2 uang (maksudnya BLT) Rp 300 ribu kalau kenaikan biaya2 selama itu lebih dari Rp. 300 ribu. Ya, sama aja bohong! Mendingan nggak usah bagi2 uang tapi stabilkan harga2…..” begitu katanya.

“Yah, lumayan kan bu, daripada nggak ada sama sekali, rakyat juga seneng kok yang terima uang itu” kataku yang sebenarnya agak ogah2an ngobrol karena masih asik menyantap kupat tahu.

“Iya, senengnya pas nerimanya, coba seminggu kemudian pas duitnya abis, tinggal susahnya aja tuh! Apalagi orang2 miskin yang nggak pernah pegang duit Rp. 300 ribu, begitu terima duit segitu abis untuk foya2 ngaji pumpung” tambah ibu tersebut.

“Tapi bu, katanya kalo harga BBM nggak naik, nanti keuangan negara yang kolaps” kataku.

“kolaps itu apa pak?” tanyanya.

“Ambruk!” kataku.

“Lhaaa….. kalau BBM yang naik nanti keuangan rakyat yang ambruk !!” katanya.

“Hahaha….” kataku tertawa. “Benar juga” pikirku. Selama ini negara meminta mengajarkan kita untuk tidak terlalu bergantung pada subsidi BBM persis analoginya seperti orang tua mengajar dan meminta anaknya untuk mandiri, hanya saja dalam kasus ini si orang tua “gagal mengajarkan dengan baik” anaknya untuk mandiri.

“Lagian pak, enak aja pemerintah nyuruh2 rakyatnya buat berhematlah buat mengencangkan ikat pingganglah. Kalau yang sebulannya bisa nabung banyak ya enak aja bilang berhemat dan mengencangkan ikat pinggang. Lha…. yang sehari2nya udah susah?? Bagaimana mau mengencangkan ikat pinggang?? Coba deh tu….. kalau mau merasakan mengencangkan ikat pinggang, bapak2 yang di atas yang gajinya banyak itu sehari nggak boleh mengeluarkan uang lebih dari Rp. 20 ribu untuk segala keperluan. Bisa nggak?? Itu kalau mau ngerasain kencengnya ikat pinggang!” Begitu katanya kepadaku.

“Iya bu. Setuju banget. Itu baru namanya mengencangkan ikat pinggang. Ya udah bu, kalau ibu nggak suka, ya nggak usah milih presiden2 yang udah  pernah menaikkan harga BBM tanpa kompensasi yang jelas dan merata bagi seluruh rakyat. Beres kan!” kataku setengah asal2an.

“Ah, pak, sekarang sih saya nggak mau ikut2an milih kalo sama aja sih. Presidennya yang nggak sekolahan (nggak lulus S1 maksudnya) sama yang presidennya sekolahan (yang lulusan S3 maksudnya) sama aja payahnya, hasilnya juga sama.” Begitu katanya.

“Embeeeeeeeeeer………! udah pernah ‘ketipu’ sama presiden yang bisanya cuma tebar pesona ya?? Hihihi….. untung gue waktu pemilihan capres tahap ke-2 lalu golput” kataku dalam hati sambil membayar dua kupat tahu dan bersiap kembali ke kantor…………

25 responses to “Kenaikan Harga BBM di Mata Seorang Penjual Kupat Tahu

  1. Kayaknya kita harus sering mendengar komentar pedagang cilik deh, supaya memahami jalan pikiran mereka. Tapi kalau kang Yari rajin mengajak teman-temannya untuk tetap beli kupat tahu, paling tidak ekonomi ibu tadi terjamin. Ya, marilah kita mencoba membantu dari hal-hal kecil, yang kita mampu memberikannya, dan tak membuat keuangan kita bangkrut.

    Saya juga pusing kang, memang berat sekali….tapi kita harus antusias, semoga ada jalan keluar. Ingat tahun 1998? Betapa saat itu dolar naik sampai lebih dari 5 kali lipat, namun kan banyak yang akhirnya berhasil mengatasi…yang penting hati tetap kuat, dan semangat untuk kerja keras…jika kita patah semangat, hasilnya depresi, malah akan tambah keluar uang.

  2. Halah ikut-ikut saya aja golput hehehe…
    Iya Mas, sering-sering lah beli kupat tahu, dapat nutrisi dan sekalian membantu pedagang kecil🙂

  3. Club Pemilik Motor Honda variant Grand, Legenda, dan Legenda2

  4. Wah sekarang memang susah kok Mas…dari mulai Presiden sampai bakul duren,Pak Camat sampai mador kawat,Pak Guru sampai bakul Tahu semuanya bilang pusing …gara gara BBM dunia naik.

  5. yah..memang musti dihadapi
    mau gimana lagi😦

  6. kayak nya kupat nya enak..

  7. Salam
    Ternyata jalan pikiran rakyat lebih mudah difahami ya daripada para intelektual plus birokrat yang duduk di singgasana istananya. Btw saya jg ga pernah milih, tapi golput juga engga🙂

  8. pernyataan ibu penjual kupat tahu tadi agaknya bisa mewakili derita rakyat kecil ketika BBM dinaikkan, bung yari. ibu itu menurut saya kok berkata jujur. pemerintah demikian gampangnya menaikkan BBM tanpa memikirkan dampaknya buat rakyat kecil. agar rakyat tdk marah, lantas pemerintah bikin subsidi lewat BLT. setelah ontran2 kenaikan BBM mereda, sebentar lagi kayaknya kok ada pemandangan yang lebih tragis. selain banyak BLT yang salah sasaran, di kantor2 pos pasti akan atre ratusan warga miskin yang ingin mengambil haknya. dalam situasi seperti itu biasanya tensi cenderung meninggi sehingga gampang ditebak. konflik antarwarga atau antara warga dan petugas akan menjadi sebuah pemandangan yang ironis, bahkan tragiis.

  9. Pepatah ‘Jangan tanyakan apa yg negara telah berikan kepadamu…’ sepertinya udah ga berlaku lagi ya mas…?

  10. Wah… kalo kata temen saya sih beberapa kali kenaikan cuma kelihatannya aja jadi naik, padahal cuma menarik subsidi ke BBM. Padahal, intinya sama aja: BBM naik terus! Di Indonesia, katanya yang murah cuma harga diri.😀

  11. wah diriku waktu pilpres dulu gak kedaftar karena baru hijrah padahal udah capek2 ngurusnya..
    jadi masih ada untungnya diriku gak milih siapa2:mrgreen:

  12. @edratna

    Nah….. itu dia bu…. krisis ekonomi 1998 seharusnya bisa dicegah atau paling sedikit diminimalisir. Kita adalah negara yang paling parah terkena krisis waktu itu…. kenapa?? Apakah negara kita sangat mismanaged waktu itu?? Yaa…. seharusnya semua itu bisa dihindari…… atau minimal diperkecil dampaknya seperti di negara2 Asia lain.

    Sekarang ada lagi…. kenaikan harga BBM…. apakah masih bisa dihindarkan kalau kebocoran2 yang ada saat ini bisa (baca: mau) diperbaiki?? Apakah kenaikan harga BBM ini dijamin bisa menaikkan perekonomian makro dan mikro yang lebih tahan terhadap krisis seandainya terjadi lagi di masa mendatang? Ah, nggak tahu deh! pusing! Huehehe……

    @Yoga

    Yeee….. saya golput udah sejak zaman orde baru tahun 1992😛 Mbak Yoga dulu zaman orde baru belum merasakan pemilu kan?😀

    @AGLC

    Terims atas infonya

    @semelekethe

    Tapi…. pusingnya nggak sama lho….. kalau raja minyak mungkin pusingnya ngitung surplus akibat kenaikan harga minyak….. kalau presiden (terutama di negeri ini) pusingnya bagaimana mengantisipasi harga minyak yang menaik supaya keuangan negara “aman” namun jangan sampai membahayakani karir politiknya sendiri demi kepentingannya sendiri. Sedang rakyat pusingnya gimana cari tambahan penghasilan untuk besok. Sedangkan untuk para blogger pusingnya adalah bagaimana mengangkat topik kenaikan BBM ini sehingga menjadi artikel yang menarik…. huehehehe…..:mrgreen:

    @wennyaulia

    Wah…. yang tabungannya cukup banyak atau bagi mereka yang masih banyak ditanggung orang tua sih gampang bilang begitu, bagi yang penghasilannya pas2an bagaimana?😦

    @ulan

    nyam…nyam….so pasti dong!

    @nenyok

    Maksudnya…. milihnya cuma dalam hati aja begitu?❓

    @Sawali Tuhusetya

    Iya betul sekali Pak Sawali dan mungkin saja hidden cost termasuk social cost yang ditimbulkan dari penarikan subsidi ini sangat besar sehingga memungkinkan dampak loss yang ditimbulkannya lebih besar dari keuntungan yang didapat dari penarikan subsidi BBM ini……..

    @AgusBin

    Ah….. pepatah seperti itu sih jangan ditelan bulat2. Lihat2 sikon dong. Udah nggak zaman pepatah seperti itu ditelan bulat2. Lagian pepatah seperti itu lebih cocok untuk negara seperti Amerika Serikat yang memang negaranya sudah secara otomatis memberikan yang terbaik (walaupun tentu saja tak ada yang sempurna) bagi rakyatnya sehingga rakyat Amerika tidak perlu lagi bertanya apa yang telah negara berikan untuk rakyat Amerika. Sementara di Indonesia sini ?? Pepatah tersebut disalahgunakan untuk “membungkam” rakyat….!!👿

    @Alias

    Oh… salah…. harga diri di Indonesia ini tinggi loh…. yang rendah itu kemampuannya huehehehe…….. Banyak orang Indonesia yang begitu, meski memang nggak semuanya sih… merasa harga diri tinggi tapi sebenarnya kemampuannya rendah… karena tidak ada lagi yang bisa dibanggakan…. maka orang tersebut asal pasang gengsi tinggi….. padahal realitanya isinya kosong seperti balon gas…… eh salah deh…. balon gas masih ada isinya yaitu gasnya. Mungkin kosongnya seperti ruang hampa udara…. hehehe…. ya pokoknya begitu deh!:mrgreen:

    @hanggadamai

    Ya udah…. nggak rugi kok nggak milih capres waktu itu!:mrgreen:

  13. para penjual kaki lima memang fast food juga sebenarnya. Pelayanan mereka dalam mbikin makanan saya rasa lebih cepat ketimbang di kentaki, pijahat, atau mekdonal.😀

    __________________________________________

    Yari NK replies:

    Iya…. terkadang memang lebih cepat…. apalagi kalau nggak pake antri kaya di fastfood2 macemnya kentaki, mekdi dan lain2nya.😀

  14. hauhauhauhua

    Akupun bangga sebagai golputers sepanjang masa!

    mengencangkan ikat pinggang… huh… tapi paling ngga sisi baiknya adalah karena menolak menggunakan ojek *yang sekarang jadi 3000* ataupun becak *yang sekarang jadi 5000* buat ke depan komplek, saya jadi memilih jalan kaki dan semoga bikin sehat sedikit!

    ah… pengen lontong kari ayam!!!

    ______________________________________

    Yari NK replies:

    Hahahaha….. iya bener…. itu namanya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui ya?? Naik sepeda… selain hemat dan bebas polusi juga membikin badan sehat!😀

  15. Hmmm … Pak Golput kan tidak memberi solusi?. Toh, yang jadi presiden tetep jadi. Kecuali orang se Indonesia Golput semua. Tapi juga bukan solusi, lah ternyata kita butuh presiden juga.
    *Ugh … Ongkos Bus naik, gaji engga .. Hiks .. HIks … *

    ______________________________________________

    Yari NK replies:

    Seperti halnya kita mempunyai hak untuk memberikan suara, kita juga punya hak untuk menjadi golput. Jadi golput itu adalah masalah hak, bukan masalah memberikan solusi atau tidak. Golput memang tidak memberikan solusi, sama halnya dengan menaikkan harga BBM, apakah itu solusi pasti untuk memperbaiki keadaan ekonomi kita?? Silahkan menilai sendiri……
    Lantas bagaimana jika semua rakyat Indonesia tidak memilih? Pertama…. rasanya hampir tidak mungkin…. Kedua…. andaikata seluruh rakyat Indonesia golput pasti ada mekanisme lain yang mau nggak mau akan tetap membuat pemerintahan terbentuk… entah dengan mekanisme darurat atau dadakan… dan lain-lain.

    Jadi di sini sekali lagi masalahnya adalah “hak” bukan masalah “penyelesaian masalah”. Saya tentu tidak “memaksa” orang untuk golput tapi saya “bangga” kok waktu pemilihan presiden waktu itu golput karena pilihan saya untuk golput nggak terlalu salah, entah untuk pemilihan presiden yang akan datang. Yang jelas bagi mereka yang merasa TIDAK PUNYA pilihan capres yang klop, JANGAN RAGU-RAGU untuk golput namun bagi mereka yang merasa mantap dengan pilihan capresnya ya jangan ragu-ragu juga untuk memilih. Itulah yang namanya demokrasi.😉

  16. Saya mah ngga golput, karena punya harapan dengan yang dipilih. Maklum deh, hidup itu kan harus dipenuhi dengan harapan-harapan biar tetap semangat menjalaninya.

  17. mending dolput daripada kecipratan dosa gara2 ikut milih, hehehe…

    be be em naek mah lumrah…
    kan harga minyak juga naek, klo dpikir ksihan juga negara harus nyubsidi sgede gambreng.tp kasihan juga rakyat yg udah susah. jadi bingung maw ngebelain yang mana..

  18. golput?
    jgn donk..
    memilih itu salah satu yg bisa dilakuin buat negeri..
    pilih sesuai keyakinan hati kita..

  19. saya sebenernya paling seneng dengerin opini-nya masyarakat kelas bawah yang kena langsung dampak dari berbagai macam kebijakan pemerintah yang luar biadab… pendapat mereka selalu terkesan jujur dan sederhana, tapi benar2 mengena…
    pemerintah selama ini terus2an menyuruh rakyatnya hidup sederhana (baca: susah), tapi mereka sendiri ndak ngerasakan efek dari kebijakan yang mereka bikin…

  20. Iya ya, hampir ga ada bedanya antara presiden yang lulusan S3 dan lulusan SMA.😀

  21. kupat tahu langgananku naek 500

    gmn donk?

  22. @Iwan Awaludin

    Golput itu adalah hak dan bukan hanya berhubungan dengan “harapan”. Menurut saya memang benar hidup harus dipenuhi dengan harapan, tapi harapan tersebut tidak perlu selalu difokuskan pada pundak seorang capres kalau misalnya kita merasa tidak cocok dengan capres2 yang ada. Banyak cara untuk memenuhi kepala kita dengan harapan2 bukan hanya dengan pemilihan capres. Toh, selama ini walaupun saya golput juga tidak pernah merasa kehilangan harapan apalagi harapan2 pribadi…. Walaupun kini harapan saya telah sedikit sirna untuk melihat Indonesia yang lebih makmur karena kenaikan harga BBM 😉

    @nashg2

    Silahkan….. anda memilih: membela keuangan negara atau membela keuangan rakyat. Ini negara demokrasi kok, anda bebas memilih dan tak ada yang berhak memaksa anda. Atau…. dalam kasus ini anda memilih untuk ‘golput’ lagi….??😉

    @nata

    Betul….. kita harus memilih sesuai dengan keyakinan hati kita…. dan keyakinan hati saya (pada pemilihan presiden waktu itu) adalah…. GOLPUT !😉

    @khofia

    Apakah ada kemungkinan bahwa subsidi BBM yang ditarik kemudian akan ada yang sedikit bocor ke tangan mereka untuk sedikit memperkaya diri ?? Walahualam……….

    @mathematicse

    Di sini bukan masalah lulusan SMA atau S3-nya, kang Jupri. Bisa jadi juga presiden yang lulusan S3 lebih bagus daripada yang lulusan SMA. Namun, tentu tingkat pendidikan bukanlah hal segala2nya dalam memimpin suatu negara, banyak faktor2 lainnya yang turut ikut menentukan sukses tidaknya seorang pemimpin negara. Jadi intinya di sini adalah, nilailah calon presiden seobyektif mungkin jangan hanya dilihat dari tingkat pendidikannya saja……….😀

    @rezco

    Kalau begitu…. bawa kupat dari rumah aja……:mrgreen:

  23. ibu2 yg jual kupat tahu aja bise berpikir n punya analisis yg mantap gt. smg para pejabat bisa lebih bijaksana, kalo perlu baca blog ini *utk mengetahui uneg2 seorang penjual kupat tahu*😀

    _____________________________________

    Yari NK replies:

    Haalaah…. andaikata pejabat2 baca artikel ini juga paling2 dianggap angin lalu….. maklumlah yang dipikir pejabat2 sekarang kebanyakan cuma isi dompetnya sendiri….. dan udah nggak malu2 lagi pula untuk terang2an mengakui bahwa yang difikirkan cuma isi dompetnya sendiri……!😀

  24. satu lagi kisah rakyat Indonesia…. sebenarnya kenaikan harga BBM memang benar,… karena kalau tidak ntar sistem keuangan Indoinesia bakalan amburadul.. dan kalau sudah amburadul… aku yakin.. bakalan jauh lebih parah dari pada saat ini (menaikkan harga BBM)
    akan tetapi igak bagusnya pemerintah tuh ketika menaikkan harga BBM tidak dibarengi dengan imeningkatnya kinerja pemerintah.. tidak diimbangi dengan fasilitas masyarakat yang harus ditingkatkan… tidak diimbangi dengan penghormatan setinggi tingginya bagi “orang pinter”
    yang dipikirin cuman duit uit melulu…
    udah gitu pake semboyan bangkit Indonesia lagi..
    mending bangkit dulu aja masing masing oknum pemerintah…

    ________________________________

    Yari NK replies:

    Nah…. itu dia…. yang sudah terjadi dulu2 juga begitu….. BBM naik… kinerja pemerintah nggak naik….. kebocoran di sana sini masih banyak terjadi yang jikalau kebocoran tersebut dapat ditambal mungkin dapat sedikit banyak menutup subsidi BBM…… Pemerintah hanya bisa mengumbar janji2 baru saja, namun janji2 yang lama tidak pernah bisa ditepati…….

  25. Ada akronim baru lho untuk BBM, yaitu Bolak-Balik Mundhak (Jawa, artinya bolak-balik naik(harganya)). Kayaknya dari awal kita selalu menyalahkan pemerintah melulu (walaupun sebenarnya kita juga gak salah karena menyalahkan mereka).

    ____________________________________________

    Yari NK replies:

    Ya nggak heran kalau Bola-Bali Mundhak (BBM) maka BBM pada akhirnya menjadi BBM (Benar-Benar Mahal)!😀

    Menurut saya, memang semuanya kesalahan pemerintah. Pertama, pemerintah (baca: presiden) dulu pernah menjanjikan tidak akan menaikkan kembali BBM. Kedua, BBM naik, tapi ‘kebocoran2’ dan korupsi2 yang terjadi di perusahaan minyak dan pendistribusiannya tidak pernah berhasil di atasi, juga penghematan2 energi yang dilakukan di kantor pemerintah juga tidak pernah dapat dilakukan dengan baik. Ketiga, seperti yang telah kita ketahui dan alami sebelumnya, bahwa kenaikan harga BBM tidak pernah menyebabkan perbaikan ekonomi secara signifikan. Jikalau ekonomi kita membaik, itu bukan karena dampak kebijaksanaan kenaikan harga BBM itu sendiri. Dan masih segudang alasan lain lagi….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s