Iklan Lembaga Pendidikan Kok Mirip Iklan Operator Telepon Selular…

Ketika melewati ujung Jalan Ganesha (kampus ITB) di seberangnya Bank BNI 46 ITB beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah spanduk iklan ukuran besar milik lembaga pendidikan swasta yang menawarkan 100% Bebas Biaya Kuliah! Bebas biaya kuliah?? Hari gini masih ada yang menawarkan bebas biaya kuliah?? Di saat harga BBM yang melambung tinggi dan pasti akan diikuti oleh naiknya tarif dasar listrik oleh PLN yang hanya tinggal menunggu waktu, masih adakah lembaga pendidikan, swasta pula, yang menawarkan biaya perkuliahan gratis???

Ah, saya jadi ingat iklan2 operator selular di negeri ini yang menawarkan tarif2 memikat untuk pelanggannya dari tarif yang nol koma nol sekian banyak satu rupiah per detik hingga percakapan gratis selama beberapa menit, yang ternyata ada udang di balik bakwan batu, yaitu ada banyak syarat dan ketentuan berlaku. Saya jadi curiga, jangan2 lembaga pendidikan ini menerapkan strategi pemasaran yang sama untuk menarik calon korbannya mahasiswanya. Diiming-imingi gratis biaya kuliah sedemikian rupa tapi banyak ada syarat dan ketentuan berlaku. Di spanduk itu syarat dan ketentuan yang berlaku adalah jika sebelum lulus belum bekerja maka biaya kuliah akan dikembalikan. Ah?? Semudah itu?? Apa iya benar demikian?? Apa iya jika kita belum bekerja setelah lulus uang kuliah akan dikembalikan?? Tentu sebagai konsumen atau calon mahasiswa kita tidak seyogianya “menelan” atau mengartikan iklan tersebut mentah2. Banyak iklan2 di zaman persaingan ketat ini yang sangat tidak mendidik (walaupun itu berasal dari sebuah lembaga pendidikan swasta), yang asal cari untung saja. Untuk itu kita perlu waspada dan cerdas dalam mengartikan sebuah iklan yang bisa saja menyesatkan.

Kita seharusnya waspada dan meneliti dulu apakah syarat “Bila Setelah Lulus Belum Bekerja” ini adalah satu2nya syarat dan ketentuan yang berlaku?? Tidak adakah lagi syarat2 dan ketentuan2 berlaku lainnya yang tersembunyi ?? Atau bisa jadi kita nanti setelah masuk lembaga pendidikan itu “dijebak” misalnya dengan magang atau kerja sebagai prasyarat kelulusan yang tentunya  mungkin saja sudah akan dianggap sebagai bekerja yang pada akhirnya akan bisa menghapuskan kemungkinan uang kuliah kita dikembalikan, dan lain-lain “jebakan” halus ataupun kasar di kemudian hari yang tentu saja pada kenyataannya nanti akan berbeda dengan apa yang diiklankan. Jadi sekali lagi, bagi konsumen (termasuk calon mahasiswa) harus ekstra hati2 dalam mengartikan iklan2 manis yang terkadang menyesatkan itu. Janganlah kita mudah terjebak seperti dalam kasus iklan-iklan telepon selular yang kini marak sekali di negeri ini. Karena sekali kita terjebak bisa jadi kita akan sangat menyesal kemudian. Mau? :mrgreen:

Iklan

32 responses to “Iklan Lembaga Pendidikan Kok Mirip Iklan Operator Telepon Selular…

  1. Betul itu. Pasti ada terms and conditions apply-nya, mas…

    Sesuatu yang berbau gratis emang selalu menggoda untuk dicoba.
    Kayak ngasih umpan ke ikan, kalo udah kejebak ya trus digoreng dan dimakan deh ikannya… lezat..

    heheu.. 😀

  2. Salam
    Hah mimpi kali yee, hari gini kuliah gratisan, bener tuh Pak pasti ada udang di balik bakwan, yakin dah kata tapi plus syarat dan ketentuan berlakunya bakal banyak banget, hmm bagaimanapun kualitas kan biasanya berbanding lurus dengan cost yang dikeluarkan palagi ini hubungannya ma pendidikan. *akh entahlah*

  3. Ga masuk akal. Lagian kalo ada yg gratispun blm tentu bermutu. Pokoknya itu memang strategi kuno dlm menjaring konsumen.
    Btw saya kemarin jg lihat itu iklan waktu di bni itb.

  4. Sulitnya kadang konsumen tak mau membaca peraturan (term & Condition nya) secara detail. Dan itu yang diperlukan bagi mahasiswa, karena kadang mereka hanya ingin mendapatkan gelar S1 atau D3 tanpa melihat apakah nantinya mudah mendapatkan pekerjaan atau bisa sebagai modal untuk melakukan usaha sendiri.

  5. seiring dengan merebaknya nilai-nilai kapitalisme dalam kehidupan masyarakat, agaknya dunia pendidikan juga tak bisa sepenuhnya steril dari pengaruh itu, bung. dengan berbagai macam cara, institusi pendidikan berupaya menarik simpati, bahkan menjerat konsumen dengan berbagai cara. nah, iklan lembaga pendidikan yang terkesan menggratiskan biaya kuliah, menurut hemat saya, juga merupakan bagian dari nilai2 kapitalisme utk memengaruhi calon konsumen. makanya, saya sepakat imbauan bung yari, utk tidak gampang terpengaruh dan terjebak dg bunyi iklan. mutu pendidikan akan sangat ditentukan oleh kualitas layanan dari institusi yang bersangkutan terhadap konsumennya. wah, menjelang tahun ajaran baru, sebentar lagi kayaknya bala ramai perang spanduk di pinggir2 jalan nih.

  6. Wah cara marketingnya kurang halus ya apalagi hari gini…

  7. di ptk skrg lagi ada pameran dari berbagai kampus di jawa.
    weks..berbagai promosi n iming2 dilakukan oleh perwakilan kampus tsb.
    semoga para cln mhs dari KalBar tidak tertipu

  8. Bebas biaya kuliah…
    Tapi harus bayar biaya SKS, biaya gedung, biaya pengajaran…

    Kan bukan biaya kuliah :mrgreen:

  9. @GIE

    Ya kalo pas udah digoreng lezat…. kalau gosong atau nggak lezat… wah mampus aja tuh kampus/produsen dapet ikan yang gosong! :mrgreen:

    @nenyok

    Betul sekali….. jangankan bikin kampus yang bermutu… bikin kampus yang nggak bermutu aja masih pakai duit…. jadinya memang tidak masuk akal ada lembaga pendidikan yang benar2 murni menetapkan 100% bebas biaya kuliah! 😀

    @AgusBin

    Bukan saja strategi kuno….. tapi juga strategi basi, bodoh, tidak mendidik dan menyesatkan konsumen….. sungguh bukan iklan yang kreatif…. 😀

    @edratna

    Yah… itulah susahnya….. terkadang mahasiswa dan juga bahkan orang tua mahasiswa masih banyak yang “tertipu” dengan silaunya gelar sehingga cenderung untuk memilih yang mudah dan murah….. padahal jangankan yang mudah dan murah…. dari universitas mapan saja banyak yang sulit mencari pekerjaan…. apalagi dari universitas yang mudah, murah dan kurang jelas… nampaknya perlu edukasi lagi bagi calon mahasiswa dan ortunya. 🙂

    @Sawali Tuhusetya

    Nah… itu dia…. di sini, kapitalis tapi tidak diiringi dengan kualitas dan program promosi yang profesional sehingga yang akhirnya terlihat adalah perang spanduk iklan dengan isi iklan yang konyol…. hehehe….

    @Yoga

    Yah… begitulah….. kayaknya marketing lembaga pendidikan tersebut harus lebih dididik lagi…… hehehe….. 😀

    @eNPe

    Biasanya yang paling banyak “menipu” adalah foto2 gedungnya. Di brosur biasanya foto2 gedung dan fasilitasnya terlihat mentereng dan keren, tapi pas sudah lihat sebenarnya keadaannya jauh di bawah apa yang terlihat di brosur……. 😦

    @ardianto

    Hehehe…. iya….. biaya kuliah nggak ada, tapi biaya pendidikannya tetap harus bayar…. ya sama aja oblong……! :mrgreen:

  10. Menurut saya sih…ini pembelajaran buat masyarakat supaya jangan asal telan. Kalo baca iklan skr kudu ditelaah dulu…dipelajari. Salam Hangat

  11. kita sebenarnya sama-sama terjebak dalam iklan itu. 😀
    bahasa iklan memang sering bermain dengan harga, diskon, kemudahan and so on. sah-sah saja. ini yang pertama
    kedua, bahasa iklan / promo dimanapun musti bisa langsung menelusup dalam pikiran pembaca, pendengar, pemirsa. why? karena daya tangkap “si mangsa” katanya hanya 30% dari total bahasa promosi yang disampaikan.
    ketiga, bahasa promo harus mampu memainkan emosi pembaca karena “si mangsa” diharapkan menjadi emotional buyer. ketika “si mangsa” membeli dengan emosi, bisa jadi keputusan pembelian adalah IRRASIONAL.
    kembali lagi, sebenarnya kita sama-sama terjebak dalam iklan ini. hanya saja kita masih mau berpikir RASIONAL.

    Nice Blog…. Salam Kenal!

  12. Hmm…numpang lewat mas.. Mak wuuuus…!

  13. salam kenal. 🙂

    sekarang universitas begitu berjamuran dimana-mana.

    dulu waktu dibandung, hampir tiap pitu angkot ada iklan serupa.

    biaya sekecil-kecilnya. tidak ada ujian.bebas masuk kapan saja.

    *harusnya yg begini-begini ditertibkan.

  14. jangan terpengaruh oleh iklan yang mengundang selera atau janji janji yang muluk… ingat peribahasa

    air tenang menghanyutkan..
    semakin tenang maka anda akan semakin terhanyut terhanyut nyut nyut

  15. Lembaga pendidikan kan tujuannnya untuk mencerdaskan anak didik.

    Lha ini, iklan lembaganya aja udah ga cerdas, gemana mau mencerdaskan? 😀

  16. Gratis……….. Tapi……………..

    Cape de …………………….

  17. hahahaha, jadi ketawa ngeliat ini, iya pak, namanya juga “tren sesaat” heehehe, nanti kalo tren nya lain lagi pasti ganti lagi ko……

  18. Cari mahasiswa sekarang susah Mas…udah diborong yang negeri negeri…jadi ya mereka bikin iklan kayak iklan Ponsel.

  19. Nggak tahu apa aja kerjanya Pemerintah dalam hal ini. Sepatutnyalah difikirkan membuat bagaimana caranya menertibkan iklan-iklan yang jelas-jelas menipu ini.

  20. @nainggolan

    Benar…. kita harus menjadi konsumen yang cerdas dan tidak mudah “tertipu” oleh produsen…..Salam hangat kembali. 🙂

    @aryodiponegoro

    Sangat betul sekali. Yang pertama, kita memang “selalu” memprioritaskan harga, karena betapapun baik suatu produk kalau tidak ada duitnya ya sama aja oblong. 😀 Kedua, nah mumpung daya tangkap calon konsumen adalah cuma 30% mungkin inilah kesempatan untuk “memerangkap” calon konsumen, yang diperjelas adalah hal2 yang “menjebak” sehingga dengan harapan 30% informasi yang tertangkap adalah yang “menjebak” semua. Ketiga, dan memang kalau kita sudah “terjebak” kita mudah menjadi “emosional” dan selanjutnya kalau sudah emosional begitu, ya tahu saja kelanjutannya, makin mudah saja untuk dijebak lebih jauh lagi…. bukankah begitu? 😀

    @agus16

    Wah…. ke sini cuma numpang ngenthut aja ya mas…. hehehe…. :mrgreen:

    @arifrahmanlubis

    Salam kenal juga…. memang betul ya… semua itu seyogianya ada yang menertibkan… tapi jikalau tidak ada yang menertibkan, ya mudah2an kita dapat mengedukasi calon pelanggan/mahasiswa agar tidak gegabah…. bisa juga melalui edukasi lewat blog seperti ini…. 😀

    @alfaroby

    Wah… air yang tenang aja sudah menghanyutkan…. apalagi yang nggak tenang ya…. hehehe….. Btw, udah lama nggak kelihatan, dari mana aja nih? Selamat datang kembali di blogsfer ya…. 😀

    @mathematicse

    Iya…. jangan2 lembaga pendidikannya yang perlu dicerdaskan dulu…. terutama bagian marketingnya hehehe….. 😀

    @pr4s

    Kalau capenya berguna mah nggak apa2 ya…. Ini udah capek, nggak berguna pula…. apa jadinya ya? 😀 Btw, udah lama nggak nongol, ke mana aja neh? 😀

    @Raffaell

    Tren sesaat sih nggak apa2 asal jangan tren “sesat” saja, betul nggak? Hehehe…. 😀

    @semelekethe

    Wah…. asal jangan nanti2nya ada tarif kuliah nol koma nol sekian banyak satu rupiah per detik aja, asli bakalan bikin bingung! Huehehe…. :mrgreen:

    @Rafki RS

    Wah…. kalau dibilang “menipu” pasti lembaga2 pendidikan tersebut pada protes bilangnya kami tidak “menipu” kok, kami cuma menonjolkan “kelebihan-kelebihan” kami dan kami juga tidak menyembunyikan syarat2 dan prakondisinya. Mungkin lebih tepat disebut “menyesatkan” (ah apa bedanya ya?? Huehehe….). Tapi agar berjaga2 tidak mudah “disesatkan” oleh produsen atau penyedia lembaga pendidikan, ya kita harus belajar menjadi konsumen yang cerdas dan kritis. Kalau nunggu pemerintah menertibkan, ya kapan mulainya…. 😀

  21. emang! jaman sekarang copywriter makin pinter soalnya heuheuheuheu

    ngomong ngomong soal iklan lembaga pendidikan yang “habis lulus dijamin langsung kerja” ini nih yang bikin orang kita banyak salah kaprah! sekolah bukan biar pintar tapi biar dapat kerja, no wonder mau kuliah setinggi apa juga tapi soal pintar masih harus ditanya 😉

  22. tanda bintangnya segedhe upil ndak, pak?
    biasanya malah lebih kecil dari upil… 😆

  23. Hahahaha…
    Ada² aja ya…. 😀

  24. Anything for money, my friend!
    Aku sih garuk2 aja lihat baligo aneh itu, he5…

  25. Terlepas dari persoalan iklan itu, aku agak terganggu dengan kebijakan perguruan tinggi (negeri / swasta) yang menerima mahasiswa baru (lulusan SMA sederajat) jauh sebelum siswa tersebut dinyatakan lulus UN. Apalagi PTN Favorit yang dengan keangkuhannya memastikan siswa tersebut dapat kursi di PTN tersebut sekali pun siswa tersebut belum pasti lulus. Akibatnya, ketika siswa tersebut ternyata tidak lulus UN, yang terjadi adalah UN disalahkan sebagai penghambat siswa tersebut kuliah. Dengan asumsi, tes PTN Favorit saja lulus, masa UN tidak lulus. Padahal, dia lupa, soal UN berbeda dengan soal tes PTN.

    Aku ingin pemerintah membijaksanai agar jangan ada penerimaan mahasiswa baru sebelum UN diumumkan. Hal agar ada penghargaan atas hasil pendidikan di sekolah menengah.

    Kembali ke iklan pendidikan, salah satunya adalah tawaran agar bisa kuliah walaupun belum lulus SMA. Ngaco!

    Tabik!

  26. Lha…..semakin keliatan kan kalau di dunia pendidikan kita juga ada diskriminasi..!

    Lembaga Pendidikan itu kayanya buat segmen pasar kalangan bawah….! Lumayan bisa gratis…..! aku mau daftar ah…! ada S3nya nggak yah ?

    Masuk UNPAD atau ITB 50 juta sesemester bro !!!

  27. @natazya

    Lama-lama ada yang nekad barangkali mengiklankan… “Belum lulus sudah dijamin bekerja”, wah gimana tuh ya jadinya?? Hehehe…..

    @wennyaulia

    Huahahaha….. udah bintangnya segedhe upil, keterangannya di bawah lebih kecil dari upilnya… udah deh…. klop sudah! 😆

    @bayusaja

    Hehehe iya… ada2 aja….. tapi nick situ “bayusaja” kan bukan “bayuaja” ?? 😀

    @Atmo4th

    Hehehe…. tapi mungkin ada “untung”nya juga bagi sekolahan yang cuma mau cari uang, biasanya nggak ada DO, cocok bagi mereka yang malas! :mrgreen:

    @zulfaisalputera

    Itu bukannya cikal bakalnya udah dari dulu pak?? Zamannya saya sudah ada yang namanya PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), sistem itu juga sudah “menerima” calon mahasiswa padahal dia juga belum tentu lulus SMA, meskipun katanya dulu siswa2 yang tersaring PMDK adalah siswa2 terpilih yang katanya “pasti” lulus……

    @Kang Aom

    Iya tuh….. saya juga kaget biaya kuliah di UNPAD dan ITB sampai juta2an bahkan ada yang sampai puluhan juta….. wah bagaimana nasib mereka yang berprestasi tapi tidak punya uang ya?? Parahnya juga udah biayanya puluhan juta belum tentu mutunya lebih baik secara signifikan daripada UNPAD dan ITB zaman saya ketika uang kuliah masih cuma ratusan ribu bahkan puluhan ribu per semester……. 😦

  28. Seharusnya tertulis “kuliah disini – bebas narkoba!” baru tuh keren..

    ___________________________________

    Yari NK replies:

    Wah… benar…. keren banget tuh….. apalagi kalau ditambah “kuliah di sini – bebas judi” atau “kuliah di sini – bebas nyontek” wah pasti bakalan lebih keren lagi ya! 🙂

  29. lha….namanya juga iklan, kan buat menarik konsumen….. 🙂

    ___________________________

    Yari NK replies:

    Ya… narik sih narik… tapi mbok ya jangan nariknya pakai iklan yang bikin ketawa kayak gitu. :mrgreen:

  30. Yang pasti, PTS lebih jago nyari uang dan memutar uangnya dibandingkan PTN. Kayaknya sih, bayar juga kuliahnya. Nanti kalau ngga dapat kerja baru dibalikin tuh duit. Syaratnya? Ngga pernah absen kuliah dan beberapa syarat lainnya. Itu wajar sih. Lagipula uangnya udah diputar dulu. Anggap aja seperti model bimbel gratis yang sempat heboh dulu. Bimbelnya gratis, cuma harus bayar uang diktat saja.

    __________________________________________

    Yari NK replies:

    Ya… begitulah…. biaya kuliahnya gratis… tapi segala macam lainnya nggak gratis alias bayar terus sepanjang tahun. Biaya Praktikum bayar, biaya bagunan bayar, biaya buku bayar dan beli di dalam (kalau nggak mau, diancam nilai jeblok), biaya diktat, biaya asuransi, biaya ekstrakulikuler, biaya, biaya dan biaya yang lain. Ya sama aja oblong! 😆

  31. waduh pak.. namanya juga usaha :mrgreen:

    tapi yg penting sih harus jelas, ttg rincian, gak mungkin gratis donk..

    ________________________

    Yari NK replies:

    Yang penting juga…. kita sebagai konsumen musti ekstra waspada…. dan tidak mudah percaya mentah2 begitu saja terhadap setiap iklan yang ditawarkan… 😀

  32. Mo kuliah bermutu n gratis..tis..tis..??? mo langsung penempatan kerja biz kuliah..??? mo nyalurin idealisme kamu…???

    Tanpa syarat dan ketentuan berupa apapun…!!!

    Then you have to join us at STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) the one and only free campus…

    Siapa bilang kuliah bermutu gak ada yang gratis…

    ______________________________

    Yari NK replies:

    STAN bukannya gratis, tetapi memang disubsidi oleh negara oleh karena itu di belakang ada embel-embelnya yaitu: ikatan dinas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s