Kebangkitan Republik “Domba” Indonesia?? Capeee deh!

Walaupun mungkin sudah agak basi (walaupun nggak terlalu basi), untuk postingan kali ini saya akan mengetengahkan tulisan yang masih ada hubungannya dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional negeri ini. Lantas apa yang mau saya tulis? Begini….. akhir2 ini saya begitu kecewa dan sedih, di berita-berita televisi dan juga di blogsfer sepertinya bangsa kita ini gampang sekali terpecah-belah atau juga mudah diadu domba. Kesimpulan pribadi yang bisa saya tarik adalah (tentu saja kesimpulan ini bisa saja keliru namun tentu bisa juga benar) Bangsa Indonesia, yang katanya bangsa yang ramah, kekeluargaan, bersifat sosial dan sebagainya ternyata gampang sekali diadu domba dan gontok2an satu sama lain. Mungkin Bangsa Indonesia yang ramah dan menganut azas-azas ketimuran yang katanya sangat mementingkan nilai2 sosial ternyata lebih mudah diadu-domba (domba aja barangkali lebih sulit diadu-manusia domba!) daripada orang2 Amerika ataupun Eropa yang katanya lebih bersifat individualis dan lebih blak-blakan dalam mengutarakan pendapat. Kata sekelompok orang yang tidak dapat berfikir obyektif, kita ini lagi diadu-domba sama Amerika Serikat. Wah, kalau begitu yang hebat AS dong, mereka bisa mengadu-domba tapi mereka nggak bisa diadu-domba. Lha, kita?? Bisanya cuma diadu-domba, sedangkan untuk mengadu domba bangsa lain kita udah pasti nggak becus. Jadi apakah bangsa kita ini cuma setingkat dengan domba?? Ya, silahkan berpendapat sendiri2!

Mengenai hubungannya dengan kebangkitan nasional?? Ya… bagaimana bangsa ini mau bangkit kalau kerjaannya cuma jadi domba, mau diadu2 terus! Orang lain udah bikin roket, pesawat ruang angkasa, rekayasa genetika atau mereka sudah berebut medali2 emas olimpiade atau mencetak juara2 dunia, eh…. bangsa kita bisanya cuma ribut soal blue energy yang ternyata palsu dan SMS merah agama aja!! Nggak maju2, cuma jalan di tempat saja. Yang satu, berusaha untuk membubarkan keyakinan orang lain dengan paksaan dan mengatakan keyakinan tersebut sesat. Lantas kalau sesat harus dipaksa menjadi tidak sesat, begitu?? Lha wong agama atau kepercayaan yang dinilai Allah itu hatinya kok. Percuma kalau agama yang tertulis dalam KTP-nya adalah agama yang tidak sesat dan diridhai negara tapi kalau agama dalam hatinya berbeda! Wong seperti yang sudah disebutkan sebelumnya agama itu yang penting apa yang ada di dalam hati kok! Tapi kan  aliran sesat tersebut merusak aqidah?? Lha, wong ada 1001 macam hal kok yang dapat merusak aqidah bukan aliran sesat itu aja. Lihat aja SMS merah dan kepercayaan2 takhayul yang masih banyak berkembang di masyarakat kita, apa itu nggak merusak aqidah?? Daripada kita memaksa dengan kekerasan dan melarang aliran2 sesat tersebut lebih baik kita pertebal aqidah kita. Wong, saya aja yang aqidahnya masih tipis saja tahu kok mana aliran yang sesat mana yang tidak, sesuai dengan kepercayaan saya. Moso sih, kita ini, orang Indonesia masih terlalu bodoh untuk membedakan mana yang sesat dan mana yang tidak?? Bagaimana bangsa ini mau maju untuk bisa bikin roket dan produk2 teknologi canggih lainnya kalau membedakan mana agama atau aliran2 yang sesat dan tidak aja ngga becus!! Sebodoh dombakah itukah orang Indonesia sehingga tidak bisa membedakan agama2/aliran2 yang sesat dan yang tidak sesat, sehingga harus ada pemaksaan dan kekerasan?? Capeeee deh!

Sedangkan di fihak lain ada juga yang ingin memaksa membubarkan ormas yang ingin membela agamanya!! Ini juga capeeee deh !! Wong orang mau membela agamanya kok dilarang sih !! Kan di negara ini juga bebas untuk berserikat dan berkumpul. Hanya saja cara2 membela agamanya yang harus diubah dan bukan membubarkan ormasnya. Cara2 membela agamanya harus lebih intelek dan lebih agamis, bukan dengan cara2 jahiliyah yang kampungan.

Jadi kesimpulannya adalah, tidak bisakah kita saling menghormati tanpa mau diadu domba?? Kalau tidak bisa, ya memang kita ini hanyalah bangsa sekelas domba. Embeeeeeeeeeeeek…!! Kalau sudah begitu apa yang mau diharapkan?? Sebuah kebangkitan yang bagaimana yang akan diharapkan kalau kita selalu mau diadu domba?? Sebagai penutup postingan ini, saya jadi ingat iklan puisi Deddy Mizwar tentang “Kebangkitan Nasional” di televisi yang sebenarnya cukup menawan itu. Saya mencoba untuk memodifikasi dengan semena2 puisi tersebut. Kalau modifikasinya lebih jelek daripada aslinya harap dimaklumi ya, soalnya maklum deh yang memodifikasinya bukan seorang sastrawan. Hehehe…. Dan buat kang Deddy Mizwar, maaf ya puisinya dengan semena2 saya modifikasi::mrgreen:

Bangkit itu SUSAH, Susah kalau melihat bangsa ini resah, senang kalau melihat bangsa ini tenang.

Bangkit itu TAKUT, takut kalau melihat bangsa ini tercerai berai dan semakin kalut.

Bangkit itu MENCURI, mencuri simpati dunia dengan ketenangan hidup berbangsa dan beragama.

Bangkit itu MARAH, marah jikalau ada fihak luar yang ingin mengadu-domba kita!

Bangkit itu MALU, malu ditertawakan melulu, malu ditertawakan karena tidak bisa rukun melulu.

Bangkit itu TIDAK ADA, tidak ada kata terpisah, tidak ada kata terpecah belah.

Bangkit itu AKU SELURUH BANGSAKU, untuk keutuhan tanah air tercinta, INDONESIA.

 

Tapi ternyata, BANGKIT di negeri ini capeeeeeee deh!😆

34 responses to “Kebangkitan Republik “Domba” Indonesia?? Capeee deh!

  1. Justru itulah kang Yari NK, tugas kita semua untuk berbuat riil, positif, jangankan memimpin republik yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan etnis, memimpin perusahaan kecil pada situasi sekarang ini sulit sekali. Bahkan blog saya, yang rasanya mengajak orang berpikir positif, masih ada kok komentar yang “agak panas”….lha kalau cuma panas terus, kapan kerjanya. Kapan kita membangun, kalau barang yang bagus tak dirawat, malah jadi rusak karena diterjang saat gontok-gontokan. Lha coba, mereka itu mulai duduk bersama, tanpa senjata, boleh berdebat sengit tapi pakai mulut saja..tak boleh mengedor meja (karena bisa pecah)….kayaknya memang kita harus mulai latihan berdebat dengan benar, mau mendengarkan pendapat orang lain, mencari solusi bersama…jika masih terkotak-kotak, saya kawatir membayangkan negara kita kedepannya.

  2. kalo menurut saya, tdk apa2 komentar panas asal tau tujuan yg jelas dan kontributif. asal tentu tdk ada tendensi2 yg bersifat negatif. sedangkan kalo tindakan tdk dengan kekerasan. pendek kata org yg luarnya panas belum tentu dalamnya panas begitu pula sebaliknya. atau hati boleh panas tapi kerja jalan terus juga drpd hati dingin tapi penuh kepura2an spt yg terjadi di negeri ini.

  3. Bung Yari, nggak pesimiskan kalau kelak Bangsa ini memang bangkit sesuai dengan harapan kita semua, seperti puisi yang digubah itu minimal.

  4. 100 tahun, agaknya kita masih menjadi domba2 yang gampang diadu di semak2, bung yari, hueehehehehehe😀 sementara negeri lain sudah jauh melaju mulus di atas jalan tol peradaban dunia. agaknya, diperlukan sosok pemimpin yang lembut, tapi mampu bertindak tegas dan berwibawa sehingga bisa menjadi sosok teladan. dalam beberapa dekade ini bangsa kita telah mengalami krisis kepemimpinan. semoga bangsa kita bisa kembali bangkit hingga keluar dari semak2 dan segera melaju di atas jalan tol. *halah*

  5. kalo menurut saya mudahnya OI alias Orang Indon diadu domba itu karena temperamen mereka ketinggian, en tingkat kesabaran mereka kelewat cekak. harga sembako yang tinggi, pemimpin bangsa(t) yang brengsek, itu semua yang membikin OI tambah sengsara.
    lantaran gondok, mereka (termasuk saya kali?!) jadi emosional.

    saya sekarang juga lagi emosional gara2 keyboard warnet yang keras kayaq rel keretaapi… kalo ada yang mau adu dom.. eh.. orang, sekarang saat yang tepat! saya lagi mudah dikomporin!!!

  6. budaya bangsa kita itu kan sebenarnya AMUK! cuma itu yang ditutup-tutupi, sehingga muncul bangsa yang ramah, gotong-royong, murah senyum, dsb… padahal itu kamuflase… sebenarnya bangsa kita pemarah….
    bangsa kita saja berdiri dari tetesan darah,,, mulai dari dendam tujuh turunan KEN AROK… sampai dendam para mantan presiden ke presiden yang baru…

    SELAMAT BERDARAH-DARAH

  7. Wah hebat modifikasinya Pak.😀

    Iya juga sih ya knapa orang-orang di negeri kita mudah diadu domba. Mudah terprovokasi. Mudah tersulut amarahnya

  8. Jangan apek Pak…

    ayo…

    semangat terussss🙂

  9. ah pak… tolong ituh di edit…

    saya bukan mau niles ” APEK”

    tapi CAPEK …😆

    maap ngrepotin:mrgreen:

  10. @edratna

    Sebenarnya pada artikel saya di atas justru mempertanyakan secara implisit kenapa Bangsa Indonesia yang katanya ramah dan ‘berjiwa’ sosial serta yang “senantiasa” berbudaya sopan dalam tutur kata ternyata mudah diadu domba dan lebih tidak dapat menerima perbedaan. Nah, ini sebenarnya yang saya ingin tahu. Karena itulah mungkin akar permasalahannya. Jadi seyogianya, andaikan kita pemimpin yang baik tentu harus dilihat dan diperhatikan akar permasalahannya dan tidak sekedar berusaha memoles permukaannya saja…….

    @AgusBin

    Justru itu Bin, saya ingin tahu apakah benar bangsa ini diliputi “kepura2an”?? Bangsa yang sopan, ramah dan sebagainya tapi ternyata mudah diadu domba dan tersulut oleh sedikit perbedaan. Dan kenapa hal tersebut bisa terjadi?? Apakah benar bangsa kita ini (nggak semuanya tentu saja) hanya “sekelas” dengan domba??

    @hadi arr

    Optimisme itu sangat penting mas, tapi lebih penting lagi adalah usaha kita yang gigih dan cerdas guna mewujudkan optimisme tersebut…🙂

    @sawali tuhusetya

    Kan… selama ini kita sudah punya pemimpin yang lembut pak? Walaupun tidak tegas dan tidak berwibawa!:mrgreen:

    @khofia

    Mungkin dengan merakit Gunpla dapat melatih kesabaran ya??

    Btw… sampeyan mau diadu-domba-orang sama siapa nih?:mrgreen:

    @qizinklaziva

    Huehehehe…. benar juga ya pak…. tapi kok setelah ratusan tahun sejak zaman Ken Arok kita masih seperti itu ya pak?? Kalau zaman dulu sih lumrah, wong di seberang sono zamannya Robin Hood atau zamannya “Richard The Lion’s Heart” dulu juga penuh dengan intrik kekerasan seperti itu, tapi sekarang anak cucu mereka berubah. Sedangkan kita moso nggak berubah alias berevolusi sama sekali sih??:mrgreen:

    @Al Jupri

    Tenkyu… tenkyu…tenkyu…. padahal modifikasinya dadakan banget… hehehe…..

    Kapan ya kita nggak mudah diadu-domba lagi??😦

    @Menik

    Huahahahaha….. dikirain “apek” beneran….. Tadinya sempat mikir apa hubungannya “apek” sama artikel di atas, eh nggak tahunya “capek”. Kurang “C’-nya aja artinya jauh banget yaa??😆

  11. OOT nih bos,

    Aku mengajak semua blogger Indonesia, dan siapa aja yang mencintai keindahan Danau Toba, keunikan Taman Nasional Komodo, dan keperkasaan Gunung Krakatau :

    ayo ramai-ramai kasih suara dukungan, supaya ketiga obyek wisata yang kita banggakan itu menang dalam pemilihan sedunia “Tujuh Keajaiban Alam”. Pemilihan bersifat online.

    Info selengkapnya, klik aja link di bawah ini :

    http://tobadreams.wordpress.com/2008/06/06/dukung-danau-toba-agar-masuk-tujuh-keajaiban-alam/

    Terima kasih

  12. Setuju! Islam tidak pernah mengajarkan seperti itu. Islam bukanlah agama paksaan. Islam itu rahmatan lil aalamiin. Daripada menuduh orang dan segala macamnya, lebih baik perbaiki diri sendiri saja dulu…

    Merdeka! Bangkitkan ‘raksasa tidur’ dalam diri kita. Tunjukkan pada dunia, Indonesia bukanlah negara sembarangan!

  13. Klo memang seperti itu jadinya begini:

    Si Amerika : How are you?
    Si Indonesia : Mbeeeeeeek……..

    hwa hwa hwa……

  14. Bangsa ini emang kayaknya gampang terprovokasi…

  15. salam
    Hmm rasanya perbedan itu sebenarnya tak masalah lho Pak toh kemajemukan sudah ada dari dulu dan sunatullah adanya, Perbedaan yang ada justru bukan perbedaan yang semestinya maksud saya begini antara islam dan dluar islam jelas berbeda so tak perlu ada friksi tapi karena kasih sayang yang sangat besar dengan saudara seiman sehingga tak salah jika menasihati, memperingatkan saudaranya agar tidak berbeda dalam hal yang paling mendasar and fundamental dalam hal ini akidah, itu yang saya tangkap dari reaksi sebagian fihak kaum muslimin terhadap saudaranya, namun sayangnya memang hal ini kemudian dimanfaatkan pihak diluar lingkaran yang memancing di air keruh, dan pihak yang mestinya lebih punya kewenangan malah terkesan membiarkan lihat rakyatnya gontok2an dan diadu domba oleh dalang dari semua ituuh🙂 *sok tahu mode:on* Entah nie kayaknya negeri ini ga akan bangkit deh klo sistem dan orang2nya begitu terus, untuk tegas menyuarakan kebenaran aja ogah, apa mau kayak uni soviet terjun bebas, ideologinya tumbang menuju lembah keterpurukan he..he.. *takut*

  16. Bang Yari, aku mau menitipkan kata-kata yang pernah diwariskan oleh JFK: “Jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tapi tanyalah apa yang sudah Kau berikan untuk negara”

    Aku pikir negara sebagai sebuah lembaga tidak pernah salah. Undang-undang sebagai pagar tidak pernah salah. Yang (bisa) salah adalah manusia yang mengelola negara dan menjalankan undang-undang itu. Itu juga kalau memang salah. Aku pikir, kita bersangka baik saja. Soal oknum-oknum itu berbuat yang (menurut kita, belum tentu menurut orang) salah, biar waktu yang membuktikan.

    Ngomong-ngomong, aku kutip juga kata-kata DM di atas, ya!

    Hidup Indonesia 100 Tahun Kebangk(ru)tan Nasional!

    Tabik!

  17. Waduh … sampai ke domba yan diadu euy, … yang nagdunya untung saj ngak domba. Kang kenapa ya, menurut agama kita, dianjurkan persepahaman, kesatuan, Islam itu damai … nich kog pada berbeda dan berkelahi. Aneh … Capek deh.

  18. @tobadreams

    Tentu sebagai orang Indonesia saya akan mendukung. Namun saya lebih mendukung lagi andaikan pemilihan penilaian tersebut dilakukan oleh badan yang resmi didukung oleh PBB, terutama UNESCO. Tapi saya heran, kok pemilihan tujuh keajaiban dunia di-voting seperti itu ya?? Kayak acara American Idol aja?? Bukankah seharusnya ditetapkan dengan cara penilaian yang obyektif??

    @Ali Akbar

    Setuju. Daripada kita melarang agama/kepercayaan lain, mendingan kita yang mempertebal aqidah kita atau kalau perlu kita juga ikut menyebarkan agama kita!

    @Laporan

    Huahahahaha……… Ada lagi percakapan seperti ini:

    Orang Jerman : Sind Sie ein Widder ?? (Kamu Domba ya?)
    Orang Indonesia : Embeeeeeeek….! (Udah tahu pakai nanya lagi !)😆

    @ardianto

    Udah gampang terprovokasi, gampang diadu-domba pula!😦

    @nenyok

    Betul… justru itu…. kalau dikatakan ada fihak di luar lingkaran yang memancing di air keruh terus mengadu-domba kita, justru itu masalahnya. Kenapa kita mudah sekali diadu seperti itu. Kalau kita memang benar-benar sayang kepada saudara seiman kita, tentu kita tidak akan mudah diadu-domba seperti ini, betul nggak?🙂

    @Zul …

    Betul Pak Zul…. justru itu…. menurut saya kata2 JFK itu memang cocok untuk negara2 seperti AS, tapi untuk Indonesia?? Belum tentu. Alasannya adalah: Pertama,Di Indonesia, negara masih ‘identik’ dengan segolongan oknum orang yang berkuasa di pemerintahan. Kedua, Pemerintahan kita belum bisa memberikan servis yang memuaskan dibandingkan pemerintahan di AS sana. Jadi kita jangan mau seperti domba kambing yang dicocok hidungnya saja, atau seperti domba sapi perahan. Yang penting adalah kita harus tetap kritis terhadap negara pemerintah tanpa harus anarkis.

    Huahahaha…. Kebangk(rut)itan Nasional ?? Boleh juga tuh plesedannya… hehehe…. tapi mudah2an negara dan bangsa kita nggak bangkrut beneran ya pak??😀

    @Ersis Warmansyah Abbas

    Itu dia….. yang katanya ngajinya lancar setiap hari, yang didikan pesantren, yang gaulnya sama ulama dan lain sebagainya… kok tetep saja mudah diadu domba?? Saya juga nggak mengerti…. capeeee deh!:mrgreen:

  19. BANGKIT ITU BANGUN. BANGUN MELIHAT LAWAN JENIS!

  20. iya…sepakat
    kalo dipikir-pikir semua musti berakar dari persatuan
    dan untuk membuat satu, barangkali kita musti belajar maklum dan menerima
    maklum dengan segala yang dipikirkan oranglain dan menerima keunikan orang-orang itu

    btw, euro pegang mana niy?😆

  21. wah dah lama ngga mampir di sini , lagi menyiapkan kebangkitan lewat acara kopdar blogger sumut kemarin
    silahkan liat laporannya di postingan terbaru saya
    terima kasih

  22. jadi Korban adu domba kan sudah warisan Belanda yang ga hilang hilang,, jadinya ya tipikal😦

  23. meeeeoooonggg…
    gak ada adu kucing ya om??
    Bagusnya jadi negeri kucing aja kali ya..
    Btw bener kata bu edratna, sekaragng itu tugas kita semua..

  24. Yup.. setuju pak…
    Artikel ini seakan menjewer2 domba2 yang lagi rakus…
    ah.. kenapa kita terlalu bangga dengan ke”dombaan” itu…
    Hari2 ini para domba begitu keras mengembek… smoga saja smua sadar… andai tanpa adanya kekerasan.. kerukunan kita sebagai kesatuan warga negara dalam bangsa yang moderat pasti akan mampu membawa kepada kebangkitan bangsa yang sebenarnya…

    BTW Puisinya keren n cocok… yakin kang Dedy Mizwar g bakalan marah… ato mungkin ntar Pak Yari akan diajak duet di NagaBonar jadi 3:mrgreen:

  25. persatuan n nasionalismelah yang jadi akar permasalahan. Lha wong bangsa Indonesia gak punya itu semua kok, bener gak om yari nk ?

  26. Bangkitlah Negeriku
    Harapan itu masih ada

  27. Capek juga mikirinnya.

  28. @Yoga

    Kalau capeknya bermanfaat sih nggak papa ya??😛

    @Black_Claw

    Walaaah…. bangun yang sebelah mana nih??:mrgreen:

    @wennyaulia

    Iya benar…. orang Indonesia harus bisa belajar lebih banyak lagi untuk menerima perbedaan secara nyata, bukan hanya sebagai lip-service saja.

    Euro saya pegang Perancis dan Spanyol, tapi Perancis kemarin malem cuma main seri 0-0 tuh lawan Romania…..😦

    @realylife

    Ok deh…. segera menuju TKP dan segera akan menyampah berkomentar di sana…..😀

    @petak

    Sedih ya…. Belandanya sudah lama pergi tapi kebiasaan gampang diadu-dombanya tetap nggak hilang….😦

    @hanggadamai

    Nanti kalau jadi negeri kucing, negeri ini jadi penuh rakyat yang malu-malu kucing dong!😀

    @azaxs

    Wakakakakak…. moso baru bisa modifikasi puisi segitu aja udah dianggap bisa main film…. yang bener aja hehehe….. tapi mungkin juga sih asal judul filmnya cocok😀

    Yah, mudah2an sifat kedombaan kita yang mudah diadu2 itu dapat segera hilang, bagaimana mungkin kita bisa maju mengejar bangsa2 lain kalau kita bisanya cuma jadi domba, betul nggak??

    @Bambosi

    …dan alasan itulah kenapa kita selalu “jadi” domba…. begitu kan kata lainnya?😀

    @achoey sang khilaf

    Bukan saja masih ada harapan, tetapi masih banyak harapan asal kita berhenti menjadi bangsa “domba”.

    @juliach

    Jangankan mikirinnya, niat mau mikirinnya aja udah capek….:mrgreen:

  29. @ Yari NK

    Loh siapa tahu pak? hehe😆

    Betul pak, saya tidak mau jadi Domba.. dan pastinya Anda serta Kita semua.

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Huehehehe…. iya siapa tahu… apalagi kalau perannya jadi pohon…. nggak ngapa2in… kayaknya semua orang juga bisa tuh!:mrgreen:

    Ya… mudah2an kita semua tidak mau lagi jadi domba…🙂

  30. ah… cape oh cape memang indonesia… emang ga bisa yah bangkitnya dari diri sendiri dulu… bangkit sendiri sendiri dulu… jangan terlalu repot ngurusin orang… kaya yang udah paling bener sebumi aja… *untuk semua ini mah*….

    ____________________________________________

    Yari NK replies:

    Yah… gimana mau bangkit?? Wong…. ada perbedaan sedikit di sekitar kita, kita ini terus gampang diadu-domba kok! Orang lain udah bikin roket ke ruang angkasa, eh…. kita bisanya cuma ngembek melulu!😦

  31. lama tak berkunjung ke sini saking sibuknya. Tulisannya mencerahkan, Kang. Itulah kebodohan sebagian orang yang mau di adu domba kan. 60% saja negeri ini memiliki pemikiran seperti Akang, negeri ini pasti maju. Sungguh.

    Ajaran sesat sering diributkan. Saya sendiri bingung yang sesat itu apa? Bukankah semakin tersesat orang akan semakin mencari jalan? hehe…

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Iya nih… mbak Hanna ke mana aja?? Dikirain udah jenuh dengan dunia tulis menulis ataupun dunia blogsfir hehehe….. wah mudah2an nggak begitu ya??

    Memang betul mbak…. bagi orang2 yang “tersesat” tentu kita wajib menolongnya…. tetapi tentu bukan dengan paksaan apalagi dengan kekerasan, andaikata mereka nggak mau kita “tolong”, ya biarkanlah mereka mencari jalannya sendiri…. Begitu kan mbak?🙂

  32. hehehe, capek ya pak… mumet gak pak?
    kalo capek mah tinggal istirahat aja, kalo mumet obatnya gak usah dipikirin.😀
    mungkin sudah nasib bangsa untuk diadu domba.
    sejak zaman belanda dengan devide et impera, sekarang dalam bentuk laen lagi.
    hiks.. sedih
    itu baru di dalam negeri sendiri
    kalo dibandingkan dengan negara laen (bukan dengan timor timur ya…😀 )
    aduh… jaohhhh buaanngeettt…

    apa musti kita pindah negara???? biar gak capek pak!😀

    ____________________________________

    Yari NK replies:

    Iya nih…. moso sifat kita nggak berubah dari zaman dulu…. mau aja diadu2in kaya domba begitu ?? Nggak maju2 dong ya……

    Pindah negara?? Boleh2 aja, tapi pindahnya ke mana?? ke Papua Nugini?? :mrgreen:

  33. aq mah bukan domba … *garut*

    kata orang kambing … *item*

    yg jelas bukan ayam … *mayur*

    klo ngaca mirip Deddy … *Dores*

    pikir2 seh pinter … *nepu*

    ____________________________________

    Yari NK replies:

    Biarkanlah para kambing yang menilai apakah mereka senang dikembari oleh Pak Aji… huehehehe….:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s