Film Disc Kodak, Sebuah Produk Gagal !

Sewaktu hari Minggu lalu, ketika saya tegah membongkar2 gudang di rumah untuk memilih mana barang2  yang bisa dibuang untuk sedikit mengosongkan/melegakan gudang di rumahku yang nampaknya sudah tidak ada lagi tempat tersisa untuk memasukkan benda2 bekas lainnya, secara tak sengaja saya menemukan beberapa barang2 ‘unik’ yang saya sendiripun sudah mulai agak lupa dengan keberadaannya. Salah satu yang menurut saya cukup menarik untuk dibicarakan adalah sebuah kamera Kodak Disc 4000 saya yang lama. Kamera asli buatan Amerika Serikat ini dibelikan oleh ayah saya di tahun 1985 lalu ketika masih SMA.

“Keistimewaan” daripada kamera ini adalah menggunakan film Disc seperti yang terpampang di gambar sebelah kanan ini (gambar dicomot dari Wikipedia). Pada awalnya di pertengahan tahun 1980an, masyarakat fotografi cukup hangat menyambut kedatangan atau kelahiran kamera2 dengan film Disc seperti ini. Keunggulan daripada film dan kamera yang menggunakan film Disc ini adalah kepraktisannya. Kita tinggal memasukannya dengan mudah di kompartmen film Disc yang berada di belakang kamera, dan kemudian tutup pintu kompartmennya. Sudah! Selanjutnya biarkanlah kamera yang mengatur posisi filmnya tersebut secara otomatis. Pendek kata film Disc dan kameranya ini benar2 dirancang untuk kemudahan para pengguna (customer-oriented). Bukan itu saja kaset disc yang melindungi filmnya membuat film menjadi tetap aman walaupun pintu belakang kompartmen film terbuka sehingga film tidak terbakar oleh cahaya, tidak seperti pada film rol tradisional.

Namun apa hendak dikata, film Disc yang dikembangkan oleh Eastman Kodak Company di Rochester, New York, Amerika Serikat ini ternyata tidak memenuhi ekspektasi masyarakat fotografi terutama mereka para fotografer profesional. Ini disebabkan karena ukuran negatif film yang hanya 11 mm X 8 mm yang tentu saja menghasilkan gambar yang kurang bagus dan kurang tajam, walaupun untuk foto ukuran normal dan untuk mata amatir foto2 yang dihasilkan oleh film Disc ini sudah “memenuhi syarat”. Namun tentu saja tidak di mata para fotografer profesional yang lebih mementingkan kualitas akhir sebuah foto dibandingkan kepraktisannya.

Karena faktor kekurangtajaman hasil inilah terutama untuk foto2 yang diperbesar, maka film Disc ini yang awal tahun2 kelahirannya cukup memberikan keuntungan bagi Eastman Kodak Company ternyata dalam beberapa tahun mulai ditinggalkan, bukan hanya oleh para fotografer profesional tetapi bahkan juga oleh para penggemar fotografi amatir. Tak heran, kamera dan film jenis ini cepat sekali hilang dari pasaran, apalagi di Indonesia.

Saya masih ingat di pertengahan tahun 1980an, di Jakarta, saya hanya bisa mencuci dan mencetak foto2 dari film Disc tersebut di tempat2 resmi outlet yang menjual produk2 Kodak, dan di sebuah toko cuci cetak(saya lupa namanya) di almarhum Aldiron Plaza di kawasan Blok M. Sedangkan di Bandung, toko cuci cetak foto yang bisa memproses film Disc adalah “Seni Abadi” di Jalan Merdeka. Namun sejak akhir tahun 1980an, tidak ada lagi satupun dari mereka yang menerima lagi cuci cetak film Disc karena kamera dan film Discnyapun sudah lenyap dari pasaran. Dengan begitu, tamat sudah riwayat kamera Disc Kodak saya, sebuah kamera yang nampaknya lahir dari riset marketing yang kurang akurat.

Namun, ada satu hal yang membuat saya sangat kagum dengan kamera ini. Ketika hari Minggu lalu kamera ini saya temukan kembali, seluruh mekanisme otomatisnya yang diatur secara elektronis dan juga lampu blitz-nya masih bekerja dengan baik sekali seperti saya terakhir memakai kamera ini hampir 20 tahun yang lalu !! Harus diakui bahwa walaupun produk ini lahir dari riset marketing yang salah, namun kualitas produk buatan Amerika Serikat ini memang patut diacungi dua jempol ke atas. Bandingkan dengan kamera digital saya yang pertama yaitu Casio DV-10 yang saya beli via Citibank tahun 1996 sebelum krismon yang hanya bisa bekerja pada Windows 3.1, walau udah diisi baterai baru kamera tersebut kini sudah nggak mau nyala sama sekali………

20 responses to “Film Disc Kodak, Sebuah Produk Gagal !

  1. Bagi pengusaha, kegagalan produk akan diteliti, diperbaiki, dan sebagai dasar untuk melakukan penemuan baru.

    Saya ingat, dulu toko “Seni Abadi” adalah tempat kami sekeluarga berfoto bersama, namun sekarang kayaknya dikalahkan oleh Yonas Photo. Nggak ingin mengulas mengapa Yonas Photo laku keras, terutama dikalangan muda di Bandung, namun tak demikian halnya di Jakarta….Anak saya dan teman-temannya berapa kali berfoto ria, walau untuk mengerahkan teman se angkatan, mesti menggunakan banyak angkot dari ITB ke Yonas. Dan mengapa hal ini tak berlangsung di Jakarta. Persaingan lebih ketat? Atau budaya orang Jakarta berbeda?

    Saya beli kamera digital setelah untuk memprosesnya mudah (dulu memang hanya bisa dilakukan di beberapa tempat di wilayah Jakarta).

  2. Wah bisa masuk museum tuh Mas. Memang diakui untuk melakukan riset yang baik hingga suatu produk bisa diterima pasar tidaklah mudah apalagi untuk produk yang berbasis teknologi. Sedangkan untuk produk yang tidak berbasis teknologi (kurang lebih) seperti property –rata-rata di Indonesia hanya sedikit yang melakukan proper research dan feasibility study. Selebihnya hanya mengandalkan intuisi dan naluri investor. Bisa dilihat dengan nasib beberapa mall/pertokoan yang kemudian sepi atau ruko-ruko yang mangkrak.

    Halah OOT nih, dari kamera ke property. Ngomong-ngomong nyimpennya pasti rapi banget atau gudangnya gak lembab dan berdebu ya mas.

  3. Wah saya malah belum pernah tahu sama sekali tentang film disk ini. tapi menurut saya film yg rollpun sekarang kayaknya jg sebentar lagi akan jadi kenangan krn tergusur oleh kamera digital.

  4. Yup… memang teknologi selalu berkembang pak.. kebutuhan instan selalu saja mempu menggusur… mungkin kualitas kamera digital kalah, tapi pasti akan menggusur kamera film disk kotak

  5. Aku juga belum tau film disk…. taunya digital aja….

  6. setiap produk agaknya memiliki kelebihan dan kekurangan masing2, bung yari *halah sok tahu* demikian juga kamera bikinan amrik ini. bung yari sendiri sdh memakainya sekitar 20 tahunan, ternyata masih juga bisa dipakai. wah, kenapa bisa dikategorikan sebagai produk yang gagal, ya bung?

  7. sepakat juga dengan koment bang sawali… setiap produk pasti punya fungsi pada momentnya sendiri. Apakah sweater dianggap gagal karena tidak terpakai pada musim panas? apalagi kamera punya bang yari ini udah idup selama 20 tahun lebih, tentu kamera itu punya ‘keberhasilannya sendiri’😀

  8. Wow, dulu aku pernah liat model kamera ini waktu di rusia dulu… Sayang,
    terlanjur hilang dari pasaran dengan cepat…

  9. Sama seperti bluray, dimana HDDVD keok, yang ginian biasanya lomba lomba merebut standar, kalo standar dah di tetapkan, maka yang ber inovasi pun bisa rugi, karena hasil inovasinya gak dipake, ini yang disebut dengan produk gagal, bukan produknya yang gagal, yang gagal itu karena sang inovator nya ngga bisa mendapatkan standar, yang disebabkan oleh berbagai macam hal tentunya

  10. boleh pinjem kameranya???:mrgreen:

  11. Seperti kita, semua barang itu ada umurnya. Kalo pengen bisa menyimpan kenangan ratusan tahun, pake batu saja.

    Lihat itu Borobudur, kuat tahan goncangan, tahan panas dan hujan. Tapi tak tahan sama maling!

    Hahahahaha…….jangan marah……….

  12. @edratna

    Memang begitu bu…. kegagalan produk bisa menjadi pelajaran bagi sebuah perusahaan…. dan ini juga pelajaran bagi kita juga bahwa perusahaan sebesar Eastman Kodak-pun bisa saja membuat blunder!

    Mengenai Jonas Photo, harus diteliti mengapa Jonas Photo bisa begitu sukses di Bandung tapi tidak begitu di Jakarta. Mungkin faktor geografis Jakarta yang luas, budaya orang Jakarta, faktor kompetisi juga perlu diperhitungkan.

    @Yoga

    Mungkin parameter2 dan variabel2 yang mempengaruhi sukses tidaknya produk2 elektronik berbeda dengan industri properti. Masing2 ada challenges-nya sendiri2. Apalagi nanti mungkin kalau industri properti sudah bisa dibangun di kota buatan di angkasa….. wah… mungkin tambah menarik aja yaa…. hehehe…. MODE sci-fi OFF

    Mengenai gudang, sebenarnya tidak terlalu kering juga, hanya saja memang saya menyimpan segala sesuatunya di gudang secara terorganisir dan tidak acak2an. Nah, si kamera Disc ini memang saya simpan di dalam boksnya, jadi sepertinya agak terlindung dari debu dan kelembaban…..

    @AgusBin

    Sepertinya memang begitu bin, saya dulu setengah “ditertawakan” membeli kamera digital Casio DV-10 tersebut kira2 12 tahun yang lalu. Waktu itu resolusinya masih sangat rendah (dibandingkan kamera2 digital masa kini), udah gitu kalau mau dinikmati bersama foto2nya, satu2nya cara adalah dengan menggunakan printer. Mana waktu itu resolusi printernya belum sebagus resolusi printer generasi sekarang jadinya foto2nya kalau diprint masih terlihat agak kasar. Pendek kata, dulu orang bilang kalau kamera digital generasi pertama saya tersebut adalah kamera mainan……😀

    @azaxs

    Yup memang betul, suatu saat nanti pasti kamera yang berfilm akan segera tergusur oleh yang digital. Apalagi kamera digital yang pro hasilnya sudah sangat baik sekali apalagi dibandingkan dengan kamera digital saya pertama yang saya beli 12 tahun yang lalu itu…. bagaikan bumi dan langit…hehehe…..

    @indra1082

    Maklumlah…. kamera berfilm disc itu adanya di tahun 1980an dan umurnya singkat sekali…..😀

    @Sawali Tuhusetya

    Kameranya masih bisa dipakai pak, tapi filmnya sudah punah 20 tahun yang lalu dari pasaran…….😦

    @qizinklaziva

    Memang betul secara kualitas, kamera tersebut sangat memuaskan…. sayang ternyata kualitas saja tidak bisa menjamin suatu produk akan sukses di pasaran…..😦

    @Anggie

    Wah… keren…. zamannya Uni Soviet dulu atau sesudah pecah menjadi Rusia??

    @Raffaell

    Dengar2 begitu, Blu-Ray, di pasaran lebih unggul dibandingkan High-Definition DVD (HD-DVD), kasusnya hampir sama dulu antara CD-i dan VCD, terutama2 di negara2 Asia, di mana CD-i sama sekali tidak pernah bisa berkembang.

    @hanggadamai

    Buat motret si wajah pengusir serangga diri ya?:mrgreen:

    @juliach

    Huahahaha…. jadi lebih baik diukir atau dipahat di tembok daripada difoto ya?😆

  13. hmmm nda pernah liat yang bentuknya begini malah ehuheuehuhue omiGOD kemana ajah saya :p

    _______________________________

    Yari NK replies:

    Oh… emang sekarang kamera ini udah nggak ada lagi… jadi pantaslah kalau “generasi sekarang” banyak yang nggak tahu.😛

  14. Salam
    Wah saya ga tahu, ga pernah lihat, secara itu jadul banget, he,, tapi bagus Pa malah jadi barang antik tuh, palagi masih bisa dipergunakan, hebat ya klo produk jaman dulu biasanya emang awet, ga kayak sekarang praktis sie tapi suka cepet rusak🙂

    ____________________________

    Yari NK replies:

    Untuk ukuran tahun 1980an zaman itu, kamera ini terhitung sangat praktis sekali, sayang filmnya sendiri termasuk produk gagal akibat kesalahan riset marketingnya sehingga filmnya cepat sekali lenyap dari pasaran.😦

  15. Hebat juga ya..bisa bertahan sampai 20 tahun… Produk2 terbaru jarang bgt lho yg bisa berfungsi smp 20 tahun..:)

  16. aku belum ngejangkau itu
    paling baru kamera digital
    dan kebetulan merknya kodak🙂

  17. mau numpang promosi untuk mengunjungi blog ini
    bloggersumut.wordpress.com
    silahkan memberi kritikan dan saran
    terima kasih

  18. hihihihi kalau aku cuma moto pake hp ajah dah bagus rasanya😀

  19. Wah barang langka nih..jangan dibuang Mas…di kemas yang rapi dan disimpan barangkali suatu saat ada yang pemburu barang barang langka harganya bisa mahal lho.
    Mengenai produk gagal itu mah biasa Mas dalam dunia bisnis jadi perusahaan musti cepat mengambil langkah langkah agar secara keseluruhan bisnis tidak Kolaps.
    Tentu kita masih ingat bagaimana Pertempuran antara Dimension dengan Rejoice.
    Bagaimana dengan khabar mereka berdua…wah kok kayak Hermawan Kartajaya saja.
    Salam

  20. @nina

    Iya…. saya sendiri juga heran mbak waktu menemukan kamera itu kembali. Mekanisme otomatisnya masih jalan semua walau tanpa film.🙂

    @achoey sang khilaf

    Loh… ini kan di tahun 1980an hehehe…. sekarang udah nggak ada lagi di pasaran….😀

    @realylife

    Segera meluncur ke sana…..

    @zoel chaniago

    Kamera yang saya ceritakan di atas, sekarang sudah nggak ada lagi di pasaran, jauh sebelum zamannya kamera hp. O iya, kalo sekarang sih kamera hp juga oke kok.😀

    @FAD

    Memang… suatu saat nanti nilainya mungkin akan tinggi…. bukan nilai produknya tapi mungkin nilai historisnya hehehe…..

    Wah…. ternyata ada juga ya pertempuran antar shampoo?? Dikirain cuma pertempuran antara operator telepon selular aja yang seru. Dulu kalo nggak salah juga sempat terjadi pertempuran antara kacang dua kelinci lawan kacang garuda. Sekarang masih nggak ya?? Hehehehe….

    Salam kembali.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s