“Letters From Iwo Jima” Sebuah Film Perang Dilihat Dari Sudut Pandang “Musuh”

Meskipun saya penggemar berat film2 horor, namun bukan berarti saya tidak suka dengan film2 ber-genre lain. Banyak juga film2 drama yang saya sukai apalagi kalau film2 drama tersebut sarat dengan pengetahuan atau peristiwa sejarah dan bukan film drama yang melulu percintaan dan perselingkuhan à la Indonesia yang gampang ditebak akhir ceritanya. Salah satu film drama yang baru saya tonton ini via channel HBO Signature yang berjudul “Letters from Iwo Jima” ini adalah salah satu film yang saya suka.

Film yang dibuat tahun 2006 ini memang sarat dengan adegan2 pertempuran dalam sejarah Perang Iwo Jima, namun film ini juga sarat dengan drama2 kemanusiaan tanpa adegan kesedihan dan tangis yang bertele-tele nggak seperti film2/sinetron2 drama Indonesia. Fakta menarik dari film ini adalah walaupun film ini asli produksi Amerika Serikat namun film ini memakai bahasa Jepang penuh. Film yang disutradarai oleh Clint Eastwood dan diproduseri bersama oleh Clint Eastwood dan Steven Spielberg ini memang sengaja melihat sebuah peristiwa perang dengan perspektif “musuh”. Tidak seperti film2 Hollywood lain dan juga termasuk film2 Indonesia yang menggambarkan musuh itu bengis dan kejam, film “The Letters of Iwo Jima” ini menggambarkan “sisi2 kemanusiaan” dari fihak musuh. Dari film tersebut digambarkan bahwa tentara2 Jepang sama baiknya dan sama berengseknya dengan tentara AS. Di situ juga banyak digambarkan perasaan2 manusiawi tentara Jepang lainnya seperti rasa takut, rasa rindu dengan rumah dan keluarga, rasa berani pantang menyerah, rasa setia kawan dan lain sebagainya. Film ini diterbitkan “duet” dengan film Clint Eastwood yang lainnya pula yaitu film “Flags of Our Fathers” yang juga menceritakan perang Iwo Jima, hanya saja “Flags of Our Fathers” menceritakan perang Iwo Jima dari perspektif fihak Amerika Serikat. Jadi kedua film tersebut merupakan penyeimbang satu sama lain. Jadi dari kedua film tentang perang Iwo Jima tersebut dapat dilihat perspektif dari masing2 fihak yang bertempur. Saya sudah melihat baik film “Letters from Iwo Jima” maupun film “Flags of Our Fathers”. Kedua2nya menurut saya bagus namun entah kenapa saya lebih suka yang “Letters from Iwo Jima”. Ini mungkin disebabkan karena saya jarang melihat film perang dari perspektif Jepang, karena selama ini yang saya tonton kebanyakan adalah film perang dari perspektif tentara Sekutu atau Amerika Serikat.

Tokoh2 sentral dari film ini sebenarnya cukup banyak. Namun dua tokoh utamanya adalah Ken Watanabe yang berperan sebagai Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi yang memimpin 21.000 tentara Jepang yang mempertahankan Iwo Jima. Tokoh utama lainnya adalah Kazunari Ninomiya (yang juga seorang anggota boy band asal Jepang “Arashi” yang saya sendiri sama sekali tidak kenal) yang memerankan Prajurit Satu (Private First Class) Saigo. Prajurit Saigo ini menjadi tokoh sentral utama dalam film ini karena ia menggambarkan keadaan prajurit2 Jepang lainnya yang “menderita” ketika perang Iwo Jima berkecambuk. Dan ia pula yang pada akhir cerita membakar seluruh dokumen2 tentara Jepang namun ia tidak membakar surat2 pribadi tentara2 Jepang yang tidak terkirim melainkan ia menguburnya. Nah, sebenarnya dari sinilah cerita dimulai ketika para ahli arkeologi Jepang pada masa kini mengeksplorasi gua2 bekas perang di Iwo Jima dan menemukan kantong surat yang sudah terkubur lama tersebut. Adegan lantas berpindah ke pulau Iwo Jima tahun 1944 pada saat2 pulau tersebut akan diserang AS. Tokoh2 perwira dalam film ini seperti Letnan jendral Kuribayashi semuanya adalah nyata sedangkan tokoh2 prajurit keroco dalam film ini seperti Prajurit Satu Saigo adalah fiktif.

Cerita bergulir pada tahun 1944-1945, ketika itu angkatan perang kekaisaran Jepang sudah terdesak. AS satu demi satu menguasai pulau2 di Lautan Pasifik yang diduduki Jepang. Iwo Jima adalah pulau milik Jepang yang terletak kira2 1200 kilometer di sebelah selatan Tokyo. Pulau seluas 21 km² ini sebenarnya tidak mempunyai kekayaan alam apapun, namun pulau ini mati2an dipertahankan oleh Jepang pada Perang Dunia II karena jikalau pulau ini jatuh ke tangan AS maka seluruh Jepang akan mudah dijangkau oleh pesawat2 pembom strategis AS.

Letjen Kuribayashi sendiri sebenarnya pesimis bisa mempertahankan Iwo Jima hanya dengan 21.000 tentaranya tanpa bala bantuan terutama dari Angkatan Udara dan Angkatan Laut Jepang. Angkatan Laut dan Angkatan Udara Jepang pada akhir tahun 1944 memang hampir lumpuh. Sisa kekuatan Laut dan Udara yang ada difokuskan untuk mempertahankan tanah air dan tidak akan ada bala bantuan untuk mempertahankan Iwo Jima. Maka akhirnya pertempuranpun tidak terhindarkan pada bulan Februari 1945. Letjen Kuribayashi memutuskan untuk tidak bertempur à la Banzai Jepang dengan penyerangan frontal. Namun Kuribayashi memutuskan untuk berperang atau bertahan dari dalam tanah. Gunung Suribachi (gunung di Iwo Jima) dan seluruh pulau Iwo Jima dibikin mirip seperti sarang lebah. Tentara Jepang menggali terowongan2 di gunung tersebut dengan total panjang 18 kilometer dengan 5000 mulut gua, dan hampir setiap mulut gua didirikan bunker untuk menahan laju 100 ribu marinir AS yang menyerbu pulau tersebut lengkap dengan kekuatan laut dan udaranya. Artileri2 berat dan tank2 Jepang yang tidak bisa masuk ke dalam gua dihancurkan oleh bom2 AS dari udara, sedangkan pihak Jepang yang tidak diperkuat oleh angkatan udaranya hanya bisa berusaha menembak pesawat2 AS yang membabibuta mengebom siang-malam tanpa henti tersebut dengan machine gun.

Pemandangan paling menakjubkan adalah ketika Prajurit satu Saigo tengah membuang pispot kotoran tentara Jepang di luar persembunyian. Ketika itu dari kejauhan ia melihat pemandangan yang “menakjubkan” yaitu pantai Iwo Jima dipenuhi atau dibanjiri oleh ratusan kapal2 perang AS dari segala kelas mulai dari penyapu ranjau hingga battleship. Hanya kapal induk saja mungkin yang tidak ada. Kapal2 perang tersebut seperti tengah “arisan” dengan tenangnya “tanpa gangguan”. Sungguh sebuah pemandangan yang bisa membikin kecut hati tentara Jepang yang melihatnya.

Hasil dari perang itu sendiri sudah dapat diduga. 21 ribu tentara Jepang dengan persenjataan dan amunisi terbatas ditambah lagi dengan suplai makanan dan obat2an yang menipis tidak akan mampu melawan 100.000 marinir AS bersenjata lengkap. Pertempuran “hanya” berlangsung satu setengah bulan. AS kehilangan 6800 marinirnya ditambah beberapa ratus yang hilang. Korban di fihak Jepang lebih dahsyat lagi, dari 21.000 tentaranya yang mempertahankan Iwo Jima tinggal 216 orang yang hidup. Letjen Kuribayashi sendiri akhirnya ikut berperang langsung mengangkat senjata dalam pertempuran terakhir guna mempertahankan Iwo Jima. Letjen Kuribayashi sendiri dalam film “The Letters of Iwo Jima” ini digambarkan tewas bunuh diri dengan pistol kesayangannya, sebuah pistol M1911 Colt (kaliber) .45 buatan AS yang ia dapatkan ketika ia bertugas di AS sebagai tanda persahabatan sebelum perang pecah. Namun sebenarnya kematian Kuribayashi masih menjadi misteri. Jasadnya sendiri tidak pernah ditemukan. Banyak yang mengatakan bahwa Kuribayashi mencabut seluruh atribut jenderalnya untuk berperang sebagai prajurit biasa pada pertempuran2 terakhir mempertahankan Iwo Jima. Itulah yang turut mempersulit identifikasi jasad sang jenderal.

Film “Letters of Iwo Jima” ini menurut saya sangat memikat. Jikalau anda menyukai “action” atau film perang, film ini sarat dengan peperangan terutama di setengah akhir filmnya. Sedangkan bagi anda penggemar film drama, film ini juga penuh dengan drama2 kemanusiaan yang menyentuh bahkan tragis. Sebuah perpaduan antara ketegangan dan drama yang memikat………..

Gambar atas: Ken Watanabe sebagai Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi. Foto dicomot dari Wikipedia.

29 responses to ““Letters From Iwo Jima” Sebuah Film Perang Dilihat Dari Sudut Pandang “Musuh”

  1. Menurut saya memang yg bertahan dan terkepung apalagi yg tdk ada bala bantuan pasti kalah. btw kapan kita bikin film kemerdekaan yg dilihat dr sudut pandang penjajah ya? wah bisa2 dituduh ga nasionalis. hehe..

  2. Kemarin mau donglot, tapi ah kayaknya ga bagus, membaca referensi ini jadi pengen donglot lagi, btw link nya dimana ya…

    *cari dulu ahhh*

  3. *langsung buka tabloid tv kabel nyari jadwal acara di HBO kapan diputer lagi* heheh

  4. Clint Eastwood mensutradarai film jepang, sementara kurosawa mensutradarai film amerika. Oh ya film dengan seting budaya jepang saya ingat the last samurai.

  5. itu yg di foto… kok sama dengan yg punya blog??
    hehehehe…😀

  6. Wah, kayaknya menarik banget film drama ini. Dari cerita Pak Yari aja saya bisa menduga bahwa film ini memang layak untuk ditonton, tidak seperti film drama indonesia yang sedih tapi tidak menyedihkan, lucu tapi tidak melucukan, karena adegannya seperti dibuat-buat.

  7. Kenapa ya film kita kalau sedih sering bertele-tele, jadi kayaknya kok nggak “Fight” sama sekali.

    Kayaknya filmnya layak ditonton…..

  8. saya sendiri sebenarnya sangat berharap para sineas kita menggarap fil2 sejarah yang otentik tdak seperti “G30 S/PKI” yang konon Arifin C. Noer “dipaksa” utk membuat filmnya di bawah ancaman pistol. saya denger begitu. memang sih ndak ada film yang bisa otentik benar seperti yang terjadi dalam sejarah yang sesungguhnya. tapi paling tdk bisa memberikan hiburan sekaligus pengetahuan2 historis buat generasi muda bangsa ini agar tak lupa pada sejarah bangsanya sendiri. btw, bung yari ternyata tak hanya suka film horor, tapi review-nya ttg fil action juga mantab. yang akau kagumi dari bung yari adalah selalu menonjolkan review-nya dengan khasalah ilmu pengetahuan. ini menarik.

  9. nyari di vertex Banda ada gak ya film ini, jadi penasaran juga🙂

  10. @AgusBin

    Wah… kalau di Indonesia sih kayaknya nggak “mungkin”. Karena untuk membuat sebuah film perang dari sudut pandang musuh, kita harus menempatkan musuh tersebut sebagai peran utama dan menempatkannya pada posisi peran yang “baik’ dan tidak “jahat’.🙂

    @nayantaka

    Banyaaaak…..:mrgreen:

    @Raffaell

    Kalau menurut saya sih bagus. Dan juga dari referensi2 tentang film ini yang saya baca juga selalu mendapatkan rating yang baik.🙂

    @leah

    HBO Signature lho mbak, bukan HBO biasa….🙂

    @laporan

    Sebenarnya kerjasama perfilman AS dan Jepang sudah cukup sering. Namun film yang dihasilkan menjadi ‘menarik’ manakala skenarionya adalah perang antara AS dan Jepang sendiri. Fihak mana yang akan didudukkan sebagai fihak yang “baik”??…….🙂

    @oRiDo™

    Huahahaha….. wah ini ngelem apa ngenyék ini ya??:mrgreen:

    @Edi Psw

    Memang pak…. film Indonesia kebanyakan adegannya terlalu berlebihan pada saat menangis dan juga terlalu bertele2….. sungguh menjemukan…..😦

    @edratna

    Penyebabnya ada 2 bu….. Yaitu minimnya kreativitas dan minimnya budget, jadinya ya seperti itu bu…..

    @Sawali Tuhusetya

    Harusnya ada film G30S versi PKI ya?? Wah…. nanti filmnya jadi condong juga hehehe…. Yang jelas, mungkin kalau orang Indonesia yang akan bikin sebaiknya ia adalah orang yang netral, yang tidak pro-komunis dan juga tidak antikomunis.😀

    @indra kh

    Mendingan lihat di DVD aja pak, soalnya di bioskop udah nggak main lagi…🙂

  11. Kalau dalam perang tidak ada yang baik mas… semuanya brengsek!! hehehe…😀

  12. Di mana saya bisa dapet filemnya?
    Di lapak bajakankah?:mrgreen:

  13. Ah, ya. Saya sendiri sebenarnya sudah nonton Letters from IWo Jima sebanyak 2 kali (Nggak cukup nonton sekali(tm)). Dalam ceritanya, kadar “bertele – telenya” pas sehingga tidak membuat bosan seluruh cerita. Sementara kedua belah prajurit dibuat apa adanya, sehingga tidak ada yang berkesan “showy”.😀

  14. yup.. sbnernya ini kritik untuk dunia perfileman nasional pak, kalo saya pikir skrg film ini juga sangat berpengaurh pada kehidupan sehari2 kita lho, animo masyrakat yg tidak suka wacana secara formal itu skrg mereka dpaatkan darimana klo ga nonton filem sama sinetron tipi2 itu..

    dari pada bikin2 film ML, XL, dan LLLL yg lain yg ga jlas pesan moralnya…

  15. Film-film Asia (Korea, Jepang) bisa maju karena cerita sederhana dengan penyajian yang manusiawi dan dalam, begitu pula film Eropa, dan banyak film Amerika. Tapi kenapa film Indonesia yang bisa begitu sangat minim?
    Apakah banyak orang Indonesia yang malas berpikir dan berpaham nerimo? Sebab setahu saya ini bukan masalah biaya produksi yang ditekan– banyak film Indonesia yang berbiaya besar bisa milyard-an tapi yang di produksi kok ecek-ecek…dan herannya orang berbondong-bondong melihat–apakah karena minat baca yang kurang ya?

    Back to Iwo Jima, gak kebayang kalau saya di posisi prajurit Jepang itu. Saat main perang-perangan dgn komplotan saya aja kadang masih suka tegang padahal cuma main-main tanpa emosi. Gimana kalau perang beneran dan melihat begitu banyak musuh mengepung, saya bayangkan perasaan dan emosi saya antara usaha mempertahankan keyakinan untuk bertahan hidup, menang dan sekaligus fakta yang saya tahu kecilnya kemungkinan berhasil yang bisa membawa pada maut telah mengecilkan nyali saya. Mungkin saja kondisi itu menyebabkan seseorang sakit mentalnya, jadi zero bukannya jadi hero. Waduh ngeri ya.
    🙂

  16. Jadi pingin nonton nih Mas…durasinya berapa menit ya…
    Asyik kalau di tonton di malam minggu …sambil begadangan
    Thanks infonya.

  17. @Qizink

    Eh…. ada lho yang “baik”. Para prajurit yang ada di lapangan mungkin saja “baik”, yang jahat itu kan politisi2 negara yang bersangkutan. Biasa deh…. politisi memang semuanya “busuk” dan nggak ada yang baik.🙂

    @ardianto

    Banyaaaak…..😀

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth

    Betul…. “bertele-tele”-nya pas dan tidak membosankan. Sinematografinya juga menawan.🙂

    @fauzansigma

    Ya betul…. daripada membuat film yang nggak jelas atau ecek2 yang berarting XXX, memang mendingan membuat film2 Indonesia yang berkelas “sekarang”, namun tentu kita tidak bisa terus berkutat dengan kualitas film Indonesia yang seperti sekarang tersebut…..

    @Yoga

    Dana milyaran yang dikeluarkan termasuk “sedikit” dibandingkan milyarannya film2 Hollywood. Film Hollywood ada yang bintangnya saja sekali main dibayar US$20 juta… nggak kebayang tuh profesionalismenya. Namun yang jelas bukan hanya dana yang menyebabkan rendahnya mutu film Indonesia namun juga kreativitas yang rendah. Lihat saja, poster2 film Indonesia aja banyak yang meniru ide poster2 film luar negeri, posternya aja menjiplak apalagi filmnya! Hehehe….😀

    Memang pada perang Iwo Jima banyak juga orang Jepang yang “takut mati” dan memilih untuk menyerah dibandingkan harus seppuku atau bunuh diri. Mereka juga manusia. Namun campuran antara beban tugas dan rasa cinta tanah air membuat mereka harus menjadi orang2 yang “berani mati” dan menjadi tentara2 yang bermental profesional.🙂

    @FAD

    Durasinya sekitar 120 menit lah.🙂

  18. Sebagai orang yang tinggal di negeri tetangga, saya ngga setuju kalo kreativitas orang Indonesia rendah. Dalam kalangan akademisi saja, sesuatu yang lama dilihat dari sudut pandang yang baru bisa menjadi syarat cukup untuk menjadi Ph. D.
    Nah, orang Indonesia itu kreatif. Bahkan orang Malaysia saja merasa terjajah dengan kreativitas orang Indonesia. Dari mulai Dewa, Samsons, Perter Pan, dll menguasai pasaran musik kreatif di negara Malaysia. Belum lagi filmnya (yang katanya ngga kreatif itu), ternyata diputar terus di TV Malaysia berulang kali. Saat ini saya masih bisa menyaksikan film mutiara hati, soleha, bawang merah bawang putih di sini.
    Kata orang, Indonesia itu sudah ngga bisa bersaing dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Salah satu alternatif bidang yang bisa bersaing, ya industri kreatif.
    Masih terkenal koq industri kreatif Indonesia di luar negeri. Memang sih, belum bisa sekaliber hollywood atau Bollywood.

    ______________________________________

    Yari NK replies:

    Justru itu pak, yang namanya kreativitas itu memang relatif. Justru itu, saya membandingkannya dengan Hollywood. Moso saya membandingkannya dengan Malaysia sih?? Kalau dengan Malaysia, kreativitas kita mungkin lebih tinggi. Kalau kreativitas kita termasuk ‘rendah’, maka kreativitas orang Malaysia mungkin lebih rendah lagi. Malaysia kok dijadikan referensi pak! Apalagi Melayunya! Huehehehe…..:mrgreen:

  19. @ Pak Yari NK alias pemilik nih blogger
    Meski banyak memaparkan jalannya kisah film tersebut, tapi saya lebih cenderung mencium semacam gelagat yang tendensius, menyindir film2 Indonesia yang memang kampret dan nyaris bikin muntah (terlihat dari beberapa kata “film/drama Indonesia” yang di striketrough di atas:mrgreen:

    @ Iwan Awaluddin
    Hoo… jujur, baru kali ini saya mendapati orang yang memuji (kualitas?) perfilman Indonesia. Saya jadi berburuk sangka nih kepada Anda, jangan-jangan Anda mengatakan bahwa film Soleha dan Bawang Merah Bawang Putih itu bagus alias tidak rendah, adalah lantaran pemain-pemain wanitanya berwajah cantik?

    Oh My God…

    ________________________________

    Yari NK replies:

    Kan ada pepatah: “sambil menyelam minum air”, jadi apa salahnya kalau kita menjabarkan jalan cerita suatu film yang kita suka sambil menghina mengkritik film karya bangsa sendiri! Ya kan? Hehehe…..:mrgreen:

  20. apakah ini kelanjutan filem windtalker atau bagaimana? ya?

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Oh… bukan…. sama sekali berbeda.🙂

  21. Gila ne film mantaph tenan..!!!

    BANZAAAAAIIII!!!!!!!!!!

    BANZAAAAAAAII!!!!!!!!

    BANZAAAAAAAAAAAAIII!!!!

    DUAAAAAAAAARRRRR

    harakiri pake grenade !?!?!?! OMGWTFBBQ!!!

    ________________________________

    Yari NK replies:

    Hahahaha…. waktu saya pertama kali melihat adegan seppuku (bunuh diri) pakai granat itu, ngeri banget sampai tutup mata, dikirain akan melihat anggota2 bagian tubuh yang tercerai-berai hancur, nggak tahunya…. hehehehe…. Tapi memang film ini manthab sekali !!😀

  22. saya suka sekali film yang Letter from Iwo Jima dan rada miris juga kalo liat yang versi Flag of our Father dan lagi dan lagi mengutuki yang namanya perang!!! heuhhhhh see? ga ada satupun pihak yang ngga mengalami kerugian gara gara perang!!!

    _______________________________

    Yari NK replies:

    Benar mbak…. perang selalu membawa kerugian baik bagi yang menang maupun yang kalah. Dan kemenangan sebenarnya bisa diraih tanpa kekerasan loh mbak, bukan begitu?🙂

  23. Oke.. ini film dah 2 kali..eh 3 kali saya tonton.. saya melihat adanya dilema yg dihadapi pasukan jepang, antara:
    -mempertahankan idealisme samurai saat itu (bunuh diri) karena posnya berhasil direbut musuh
    atau
    -bergabung dengan prajurit lain dan mempertahankan pos terakhir bersama-sama.
    Yang membuat saya kagum adalah kegigihan pasukan Jepang yang bisa mempertahankan pulau itu selama hampir 2 bulan meskipun sudah dibombardir dari darat, laut dan udara.. padahal letak pulau tersebut terpisah dari daratan utama dan sudah diisolir oleh kekuatan sekutu.
    Btw, mengenai film “the flag of our fathers” sebenarnya menceritakan kehidupan tokoh2 marinir yang mengibarkan bendera AS saat mendarat di Iwo Jima.. Setting waktunya diambil setelah pertempuran Iwo Jima dgn setting tempatnya banyak di luar Jepang jadi tidak menceritakan jalannya pertempuran tsb..
    O ya pak, ada film ttg perang Korea yang tidak melihat sisi perangnya saja tapi juga banyak ke sisi kemanusiaan serta persaudaraan, saya sudah nonton film ini berkali-kali dan gak pernah bosen.. Judulnya “TAEKGUKGI”
    saya rekomendasikan film tersebut buat ditonton 😀 pasti bapak suka

    ________________________________

    Yari NK replies:

    Wah…. kalau orang udah ahlinya emang mantabz nih komentarnya. Hehehe….

    Emang betul mas…. tentara2 Jepang yang di Iwo Jima dihadapkan pada dilemma untuk menjalankan tradisi sebagai samurai dengan bunuh diri atau bergabung hingga titik darah penghabisan. Yang memilih untuk bergabung hingga titik darah penghabisanpun juga ada dua motivasi, karena turut perintah Jendral Kuribayashi dan juga “masih ingin hidup”. Nah, untungnya si Jenderal Kuribayashi ini sifatnya sudah agak “ke-Amerika2an” sehingga ia tidak begitu memusingkan lagi soal tradisi samurai yang sudah turun menurun tersebut……🙂

    Btw…. TAEKGUKGI aku belum nonton nih, tapi tahu kalau ada film yang judulnya itu. Coba nanti aku cari deh.🙂

  24. waah jd pengen nton letters from iwo jima… 2bln lalu sempet pinjem dvd-nya, tp blum jd d tonton, kburu d balikin.

    klo flags of our fathers udah nton d hbo. kelam, tapi bagus. rasanya merinding klo bayangin orang yg lagi perang.

    __________________________

    Yari NK replies:

    Menurut saya “Letters from Iwo Jima” lebih unik dan sinematografinya juga unik mungkin karena film ini dilihat dari sudut pandang tentara Jepang. Sebab kalau film dilihat dari sudut pandang tentara Amerika Serikat sepertinya sudah sering lihat….😀

  25. Salam,,

    Saya baru nonton film ini tadi siang di HBO Signature, yang secara bersamaan sebelumnya juga di putar Flags Of Our Father. jadi ngerti sejarah foto bersejarah bendera Amrik itu. Jadi ngerti juga tentang propaganda politik-militer-bisnis.

    emang film yang bagus, kuat dari cerita dan memukau secara visual. Mantapbh..

    _________________________

    Yari NK replies:

    Ya, terlebih saya lebih suka yang The Letters from Iwo Jima karena itu adalah film Amerika tapi dari sudut pandang “musuh” yaitu Jepang. Di situ digambarkan bagaimana “musuh” juga manusia, yang mempunyai sisi kemanusiaan dan juga ketakutan…. Walaupun film “Flag of our fathers” juga bagus….🙂

  26. Ikutan ah….
    Saya juga baru nonton film ini di HBO Signature. Tadinya sih iseng2 doang, dan udah hampir matiin TV lantaran ngantuk. Tapi begitu saya berkonsentrasi, gila deh…ngantuknya langsung lenyap!! Saya bener2 fokus sama film itu.
    Satu hal yang berkesan bagi saya adalah melihat sisi manusiawi tentara Jepang. Bayangkan saja! Tentara-tentara Jepang yang semasa Perang Dunia II dikesankan sebagai bala tentara yang begitu bengis dan berani mati, ternyata justru digambarkan sangat manusiawi : merawat prajurit AS yang terluka, merasakan takut mati, dan bahkan…memiliki niat untuk menyerah! Saya sangat tersentuh ketika adegan Saigo menangis menemukan jasad rekannya yang telah menyerahkan diri kepada pihak AS.
    Sungguh tragis…four thumbs up!! (termasuk jempol kaki)

    ___________________

    Yari NK replies:

    Ya betul sekali….. selama ini lewat film2 kita dan film2 Amerika selalu digambarkan bahwa tentara Jepang itu bengis, padahal mereka juga manusia. Dan memang itulah tujuan film “Letters from Iwo Jima” ini dibuat, untuk melihat sisi kemanusiaan tentara Jepang. Film ini bukan “double thumbs up” lagi tapinya “quadruple thumbs up” termasuk dua jempol kaki. Huehehe…..

  27. setelah saya nonton filmnya jadi terharu bgt, kalo menurut saya yg egois itu kaisar jepangnya dia sih enak enakan di istana sementara warganya disuruh membela suatu pulau sampai mati dan tidak dibantu dari pusat dan saking patuh dan cintanya pada negara si jenderal nurut aja lg (waktu pesan radio dari markas besar)

    kalo menurut saya mereka semua mati sia sia demi mempertahankan egoisme kaisarnya. kasian sekali.😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s