Partnership

Karena sedikit jenuh dengan postingan2 yang berisikan ilmu pengetahuan, maka untuk postingan kali ini saya akan menampilkan postingan yang ada hubungannya dengan bisnis, walaupun sebenarnya dalam bisnis juga ada ilmu pengetahuannya dan nyatanya postingan ini toh juga masih berbau ilmu pengetahuan namun pengetahuan mengenai bisnis.:mrgreen:

Untuk postingan kali ini, saya akan menuliskan topik yang sederhana dulu yaitu: Partnership atau dalam bahasa Inlander Indonesianya adalah Persekutuan. Namun tidak semua topik mengenai persekutuan akan dibahas melainkan hanya garis2 besarnya saja dan juga terfokus pada saat akan membentuk persekutuan.

Persekutuan adalah gabungan dua orang atau lebih yang secara sukarela mendirikan, memiliki dan menjalankan usaha bisnis guna meraih profit.  Setiap orang yang mampu berkomitmen untuk menjadi seorang partner dalam sebuah persekutuan dapat menjadi bagian atau anggota dari persekutuan tersebut.  Individu2 yang ingin menjadi partner tidak harus memberikan kontribusi modal ataupun berbagi asset pada saat pembubaran persekutuan kelak, namun bisa saja partner tersebut hanya berpartisipasi di dalam manajemen dan pembagian profit sesuai perjanjian. Kita seringkali menganggap bahwa pembentukan sebuah partnership segampang kita menjalin persahabatan sehari2. Dengan kata lain, kita sering menganggap bahwa jikalau kita sudah berteman akrab dengan seseorang maka orang tersebut adalah orang yang tercocok menjadi partner kita dalam bisnis. Walaupun memang tidak dapat dipungkiri bahwa kepercayaan adalah hal yang utama dari sebuah persekutuan namun sebenarnya persekutuan harus mempertimbangkan aspek2 yang serius. Sebuah persekutuan yang kuat selain membutuhkan seorang partner yang jujur sebaiknya juga sehat (terutama akalnya), cakap dan kompatibel.

Menjalankan persekutuan memang mempunyai banyak keuntungan, namun seperti pepatah “tak ada gading yang tidak retak”, menjalankan persekutuan ini juga sarat dengan masalah. Majalah bisnis Inc. di Amerika Serikat mengadakan survey terhadap individu2 tentang opini mereka mengenai persekutuan. Ternyata hasilnya adalah sebagai berikut:

Pertanyaan Jawaban Persentase
Mengapa Persekutuan itu Baik untuk anda? Membagi beban kerja 55
  Membagi beban emosional 41
  Memanfaatkan talenta eksekutifnya 40
  Membagi beban finansial 33
  Membuat suasana kantor menjadi tidak ‘sepi’ 26
Kenapa persekutuan buruk untuk anda? Suka terjadi konflik personal 60
  Ternyata partner kita mengecewakan 59
  Fungsi perusahaan lebih baik jika hanya dengan satu pemimpin 53
  Sangat menurunkan ekuitas 6
  Kita tidak bisa menjalankan keputusan kita sendiri 6

 

Dari survey di atas ternyata problem yang paling nyata dirasakan dalam persekutuan adalah sering terjadinya konflik personal (60% dari responden), partner yang mengecewakan (59%) serta pengalaman bahwa perusahaan dengan satu pemimpin adalah lebih baik (53%). Nah, untuk itu, sebelum anda membentuk sebuah persekutuan, pertanyaan2 berikut ini patut diajukan sebelum anda memilih partner (sekutu) yang tepat. Pertanyaan berikut ini bertujuan untuk mengklarifikasi ekspektasi sebelum perjanjian persekutuan dibuat:

  • Bagaimana Konsep Bisnis Kita? Ini sebenarnya sebuah topik atau pertanyaan yang teramat luas. Terkadang perlu juga fihak ketiga untuk ikut mendengarkan agar memastikan bahwa setiap partner mempunyai pengertian yang sama pada setiap masalah yang dibahas. Hal-hal yang sering ditanyakan adalah: Siapa yang bertugas “memproduksi”?? Siapa yang akan menjalankan jasa ke pelanggan?? Siapa yang bertugas menjual?? Apakah perusahaan mengejar profit jangka panjang atau kebalikannya, apakah mereka cuma akan mendirikan perusahaan dan kemudian menjualnya dan mendapatkan keuntungan dari penjualan tersebut?? Siapakah yang akan berpartisipasi dalam manajemen??  Dan lain-lain. Di sini biasanya akan mulai terlihat “benturan2” antar partner dan di sini juga biasanya mulai terlihat sifat2 asli seorang partner dalam menjalankan perusahaan, apakah ia seorang yang otoriter, berkepala dingin, kalem, terburu2, dominan dan lain2 sifat.
  • Bagaimana Struktur Kepemilikan? Biasanya paling ‘aman’ dan gampang adalah membagi rata struktur kepemilikan kepada setiap anggota partner seperti membagi rata sebuah kue. Namun kenyataan praktek “bagi rata kue” ini seringkali membuat perusahaan lumpuh di masa yang akan datang. Jikalau setiap partner tidak ada yang mau mengalah, sebaiknya dibuat suatu aturan atau pertimbangan bagaimana struktur kepemilikan didasarkan. Misalkan berdasarkan besar modal yang disetor oleh masing2 partner, dan sebagainya.
  • Apakah kita benar-benar saling membutuhkan? Pertanyaan ini juga penting didiskusikan. Menurut para psikolog **halaah** jikalau alasan pembentukan partnership hanya karena “berdua menjalankan bisnis rasanya lebih tenang” mendingan cari cara lain agar anda dapat menjalankan bisnis anda dengan tenang karena persekutuan pada hakekatnya adalah berbagi kewajiban dan kekuasaan dan bukan hanya sekedar berbagi ketakutan agar menjadi lebih tenang!
  • Apakah gaya hidup kita berbeda? Ini juga penting didiskusikan karena pada dasarnya harta seorang partner juga terlibat pada harta persekutuan maka tentu gaya hidup juga pantas dipertimbangkan dalam memilih seorang partner. Mereka yang menikah tentu akan lebih banyak kecenderungan untuk membuat personal withdrawals daripada mereka yang masih bujangan. Begitu juga bagi seorang partner yang suka berfoya2 atau menghambur2kan duit kecenderungan untuk memperbesar akun personal withdrawals juga tinggi. Untuk itu perbedaan gaya hidup seorang partner juga harus didiskusikan secara matang.

Nah, kalau hal2 di atas sudah terpecahkan dengan baik atau sudah disetujui maka selanjutnya dibuat dokumen mengenai hak dan kewajiban para partner (articles of partnership). Dokumen2 ini dibuat sebelum perusahaan persekutuan ini beroperasi dan paling sedikit menyangkut hal2 berikut ini:

  1. Tanggal berdirinya persekutuan
  2. Nama dan alamat semua partner/sekutu.
  3. Pernyataan fakta persekutuan.
  4. Pernyataan tujuan bisnis.
  5. Lama bisnis (kalau ada dan sudah direncanakan)
  6. Nama dan lokasi perusahaan persekutuan
  7. Jumlah investasi masing2 partner
  8. Rasio pembagian untung dan rugi
  9. Hak setiap partner, jika ada, menyangkut juga dana perusahaan untuk keperluan pribadi
  10. Penyediaan data2 akuntansi dan akses terhadap data2 tersebut oleh setiap partner
  11. Tugas2 spesifik bagi setiap partner
  12. Pembagian harta bersih untuk setiap partner pada saat pembubaran persekutuan
  13. Pembatasan2 tertentu, misalnya dalam penandatangan cek, satu tandatangan dari seorang partner tidak dapat mewakili seluruh partner, dsb.
  14. Perlindungan bagi para partner yang tetap tergabung, perlindungan hak milik partner jikalau ada salah satu partner yang meninggal dunia.

Selain hal2 di atas seorang partner juga mempunyai hak2 implisit. Contohnya adalah mengenai masalah pembagian keuntungan. Jikalau tidak terjadi kesepakatan mengenai keuntungan, maka dengan hak implisitnya pembagian keuntungan, dengan terpaksa, dapat dibagi rata di antara para partner.

Dan yang juga penting adalah setiap partner mempunyai agency power, yang berarti setiap partner harus menanamkan kepercayaan pada partner2 lainnya. Kepercayaan yang baik dan juga saling menjaga, tugas2 manajemen yang ditunaikan secara baik semua harus dipelihara oleh semua partner. Karena sifat dari hubungan persekutuan ini adalah kepercayaan dalam karakter, maka seyogianya setiap partner tidak boleh saling berkompetisi di dalam persekutuan dan juga seorang partner tidak boleh menggunakan informasi bisnis untuk kepentingan pribadi…..

Hmmm…. ternyata untuk mendirikan sebuah persekutuan lebih dari hanya sekedar masalah persahabtan belaka ya??

30 responses to “Partnership

  1. “Jenuh… Tidak jenuh…. Posting… Tidak posting… Mungkin bapak terlalu banyak memikirkan yang sudah dan yang akan. Kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, tetapi hari ini adalah berkah. Karna itu dalam bahasa inggris disebut Present.”

    btw….

    CLIMAXXXX!!!!!

    *orgasme*
    duh, lama ndak pernah kombo2an disini*

  2. wah-wah, hiperaktif sekali mas black_claw…

    saya senang dengan istilah yang pernah saya baca dari strategi perang sun tzu, katanya: “jika kamu tidak bisa mengalahkan naga, bertemanlah dengan naga” disini mungkin jika kamu tidak bisa mengalahkan musuhmu, berkawanlah dengan dia, seperti sony & erricson, benq &siemens…

  3. ya ampyun ternyata ada juga yg nyampah di sini. hehehe.. Btw kalo dokumen persekutuan tsb hrs pakai notaris ga?

  4. dunia bisnis memang akan lebih bagus jika dibangun bersama melalui partnership. nah, yang saya lihat di negeri kita ini, bung yari, persekutuan seringkali seperti “obior blarak”, sekali berarti sesudah itu mati”. ini menjadi salah satu “penyakit” di negeri ini, betapa gampangnya membentuk persekutuan tapi seringkali tdk diimbangi dg komitmen dan tanggung jawab bersama, semuanya masa bodoh dan diserahkan sepenuhnya kepada seseorang. kalau sukses beramai2 mengklaim sbg perintis, tapi kalau gagal mengambinghitamkan perintins yang sesungguhnya. mudah2an saja tips dan pengalaman bung yari dalam postingan ini menjadi referensi bagi temen2 yang ingin membanguin bisnis secara partership.

  5. keren euy …………

  6. aku nunggu postingan tentang aku aja deh..
    *emang nya aku siapa??*

  7. Wah, ternyata bisnis bareng-bareng (dengan cara partnership) ga gampang ya?😀

    Saya belajar saja deh dulu, memahami pengalaman Pak Yari ini. Siapa tahu nanti bisa bermanfaat bagi saya (kalau saya akan berbisnis… )😀

    Btw, gemana bisnisnya Pak Yari?😀

  8. Berarti prinsip kerjanya seperti manajemen fee ya, Mas. Dimana profit dibagi kepada para pemegang saham sesuai dengan jumlah uang yang dimasukkan ke perusahaan.

  9. Justru memilih partner bisnis ini yang paling penting, apakah suatu usaha akan berjalan lancar apa tidak. Tak sekedar hanya sekedar seorang sahabat diajak berbisnis, kadang malah orang lain, tapi chemicalnya harus sama, sehingga antar para partner harus bisa berbagi, baik berbagi risiko maupun berbagi profit. Dan satu hal lagi, yang sangat penting adalah aturan harus dibuat secara tegas, dan tertulis, serta dimana pengadilan yang akan ditunjuk seandainya terjadi perkara nantinya, serta hukum apa yang dipakai.

    Dalam pengalaman saya berhubungan dengan klien, hubungan antar para pemilik ini sangat menentukan jalannya suatu usaha, dalam kondisi beratpun, jika manajemen nya kompak, maka masalah yang ada bisa dihadapi bersama. Kadang terpaksa bongkar pasang kepemilikan, yang berakibat turunnya modal (apalagi jika partner juga menyetor modal dan yang menggantikan belum tentu punya modal berupa fresh money).

  10. Kalau partnership yg berkaitan dengan bisnis tentu permasalahan menjadi komplit, sehingga mau tidak mau membutuhkan seorang konsultan hukum atau notaris yg berfungsi untuk menengahi kepentingan diantara pihak-pihak yg bersangkutan yang kemungkinan akan terjadi pada masa yang akan datang. Namun budaya juga menentukan. Dalam kasus-kasus bisnis kecenderungan berakhir di pengadilan, namun sangat jauh berbeda dengan di jepang, dalam bidang bisnis sengketa hingga sampai pengadilan paling minim di antara negara-negara maju. Prinsip orang jepang adalah, mari kita selesaikan dengan baik-baik. Ada suatu budaya bahwa suatu hal yang memalukan jika sampai berurusan dengan hukum. Moril seperti itu, maka sering kita melihat pejabat di Jepang yg hanya seumur jagung, karena begitu mendapat masalah langsung mengundurkan diri. Sangat jauh bertolak belakang dengan di Indonesia.

  11. dulu ita pernah berbisnis kecil2an dgn tmn2 kul. tapi hanya berjalan bbrp bulan. tidak bisa menghadapi persoalan internal (sesama sohib) n eksternal. kurang lebih sama seperti hasil survey Majalah Bisnis Inc. kata orang pontianak, kami berbisnis cm angat2 t** ayam:mrgreen:

  12. Mungkin kalo di Indo persekutuan itu artinya membebankan pekerjaan ke orang lain ?

  13. @Black_Claw

    Waduh…. baru kali ini nyampah lagi nih yeeee….:mrgreen:

    Jadi kesimpulannya….. fikirkan saja yang hari ini yak?? Nggak usah repot2 mikirin yang nanti?😀 Btw, klimax-nya gimana?? Mudah2an bukan klimax karena ‘keguguran’ akibat diare ya?? Wakakakak….😆

    @Denny Eko Prasetyo

    Tapi… kenapa Ericsson nggak berteman dengan Nokia aja ya?? Jadinya kan lebih mantab tuh… Nokia Ericsson…… hehehe….😀

    @AgusBin

    Nggak perlu Bin…. materai aja cukup dan ditandatangani sama seluruh partner. That’s it!.🙂

    @Sawali Tuhusetya

    Nah… memang persekutuan terutama di negeri ini banyak seperti itu pak… Merasa tanggung jawab berkurang karena sudah ada yang berbagi. Padahal berbagi tanggung jawab itu bukan berarti lebih enak2an, tapi hakekatnya adalah membantu orang lain (partner) kita dalam bertanggungjawab. Jadi prinsip kita adalah “membantu” dan bukan sekedar hanya ingin “dibantu”.

    @bams

    thanks….😀

    @ulan

    Eeeee… siapa tahu nanti memang benar ada yang mau menulis tentang mbak ulan. Tapi yang jelas bukan saya lho!:mrgreen:

    @mathematicse

    Ini bukan pengalaman saya kang Jupri. Ini adalah kesimpulan yang diambil dari berbagai studi dan survey mereka2 yang pernah terlibat persekutuan di AS.

    Kalau usaha saya sudah bangkrut dan sekarang terpaksa bekerja sebagai satpam.:mrgreen:

    @Edi Psw

    Kalau dalam persekutuan nggak ada saham pak. Pembagian hasil berdasarkan rasio perjanjian yang disepakati. Kalau sang partner terlibat juga dalam manajemen maka bisa jadi si partner tersebut selain menikmati bagian keuntungan juga bisa mendapatkan gaji karena terlibat dalam pekerjaan manajerial tersebut.🙂

    @edratna

    Betul bu, semua harus dibuat dokumentasinya dengan jelas. Namun, kalau pemilihan partner hanya berdasarkan chemical saja itu kurang obyektif. Paling sedikit keempat point yang saya jabarkan di atas harus didiskusikan dengan terbuka. Karena point2 di atas adalah dasar2 permasalahan yang biasanya kelak timbul pada saat persekutuan sudah berjalan. Memang dalam persekutuan pasti ada friksi2 kecil dan tidak mungkin dua orang individu harus sependapat terus dalam segala hal, namun biasanya friksi2 kecil tersebut biasanya dapat diselesaikan dengan pembicaraan2 personal yang agak santai……

    Pemilihan pengadilan memang penting juga, namun perlu diingat bahwa jika antara dua orang partner harus menyelesaikan perkaranya di pengadilan, itu bisa jadi sudah suatu pertanda awal bahwa sudah tidak ada lagi “chemical” yang sama di antara mereka, apalagi kemungkinan dapat terjadi setelah peristiwa di pengadilan tersebut hubungan personal mereka menjadi “tidak enak” lagi dan hal tersebut tentu menciptakan atmosfir yang tidak menguntungkan pada sebuah persekutuan. Untuk itu buatlah penyelesaian di pengadilan sebagai jalan terakhir bagi perselisihan di dalam pesekutuan……..

    @Laporan

    Seperti jawaban saya buat bu Edratna di atas, jikalau perselisihan dalam persekutuan sampai pada tahap pengadilan, maka itu bisa jadi merupakan pertanda awal bahwa dalam persekutuan tersebut tidak ada lagi kekompakan atau keharmonisan. Daripada menciptakan suasana yang tidak kondusif mungkin pengunduran diri dari persekutuan adalah jalan yang terbaik. Menurut saya mungkin konsultan bisnis lebih penting daripada konsultasi hukum dalam masalah ini. Konsultan bisnis/manajemen dapat menjadi “wasit” dalam perselisihan, sehingga sebelum masalahnya menjadi masalah “hukum”, permasalahan2 tersebut dapat dipecahkan secara bisnis atau manajerial terlebih dahulu yang diharapkan dapat memberikan keuntungan dan kepuasan maksimal bagi semua fihak yang berseteru di dalam persekutuan……

    @eNPe

    Itu dia mbak…. apalagi kalau “darah muda” dan masalahnya tentang “duit”, wah pasti jarang ada yang mau mengalah. Ya udah, nggak apa2 mbak, anggaplah itu sebagai pelajaran dan pengalaman berharga….🙂

    @Raffaell

    Biasanya begitu mas Raffa…. mereka kurang kesadaran…. padahal hakikat persekutuan bukanlah untuk meringankan beban kita tapi untuk bekerja sama lebih keras lagi…….🙂

  14. Pak, Yari. Jadi, persekutuan itu beda ya dengan persatuan?😀

    Ngomongin kata “persekutuan”, sy adi ingat dengan stilah PGI (Persekutuan wali Gereja Indonesia).

    Sy sempat bertanya, kenapa huruf “P” nya bukan “persatuan”, kenapa “persektuan’?

    Jadi, sebetulnya mereka terpecah belah, ga bersatu ya? Andai suatu saat di antara mereka tak sepaham, maka terpecah, tidak bersatu ya?😀 Maaf kalau pertanyaannya aneh..😀

    __________________________________

    Yari NK replies:

    Huehehehe… ah… nggak aneh kok… Banyak kok pertanyaan2 di blog ini yang jauh lebih aneh!😀

    Kang Jupri…. istilah persekutuan di artikel ini maksudnya mengacu kepada struktur kepemilikan sebuah bisnis atau perusahaan. Di dalam bisnis ada 3 macam struktur kepemilikan:

    1. SOLE PROPRIETORSHIP. Atau perusahaan perorangan. Nah, perusahaan ini adalah perusahaan yang dimiliki oleh satu orang saja. Biasanya perusahaan atau bisnis ini ukurannya kecil.

    2. PARTNERSHIP. Nah, ini yang kita bicarakan dalam artikel ini. Perusahaan ini dimiliki oleh dua orang atau lebih. Nah, jenis perusahaan SOLE PROPRIETORSHIP dan PARTNERSHIP ini tidak berbadan hukum dan dalam jenis2 perusahaan nomer 1 dan 2 ini, harta pemilik biasanya juga menjadi harta perusahaan begitu pula sebaliknya. Jadi kalau perusahaan mempunyai hutang, maka si penagih hutang bisa menuntut pelunasan hutang via harta pribadi si pemilik perusahaan.

    3. CORPORATION. Nah, dalam perusahaan ini, struktur kepemilikan direpresentasikan lewat saham2 perusahaan. Jadi siapapun yang mempunyai saham perusahaan ini, dia ikut memiliki perusahaan tersebut. Perusahaan ini biasanya perusahaan2 besar. Perusahaan2 ini biasanya berbadan hukum sendiri dan secara hukum dianggap menjadi individu tersendiri. Nah, karena berbadan hukum dan dianggap menjadi individu tersendiri, maka jikalau perusahaan ini punya hutang, maka si penagih hutang secara hukum tidak dapat menyeret harta pribadi para pemegang saham untuk melunasi hutang perusahaan.

    Begicu. Masing2 bentuk perusahaan di atas punya kelemahan dan kelebihannya sendiri2.

    Kalau ditanya kenapa “persekutuan” bukan “persatuan”, wah itu sih urusannya Pak Sawali pakar kebahasaan! Hehehe….. Yang jelas, dalam Bahasa Indonesia untuk istilah “Partnership” dalam struktur kepemilikan bisnis/perusahaan kita sering menggunakan istilah “Persekutuan” bukan “Persatuan”. Tapi kalau organisasi untuk politik atau segala macam lainnya mungkin saja disebut “persatuan”. Huehehehe……..

  15. Menarik sekali tulisan Bapak…Memang dari dulu namanya persekutuan sangat penting baik dalam bisnis maupun apa saja.
    Asal jelas tujuannya serta transparan.
    Kalau bahasa tioghoa Kongsi ( barangkali)….
    Salam Kenal

    ________________________________________

    Yari NK replies:

    Iya betul asal transparan dan tidak saling menjegal serta mempunyai sinergi yang tinggi di antara para sekutu.

    Salam kenal juga…..🙂

  16. Menurut saya kelebihan persekutuan itu adalah kita bisa memanfaatkan talenta tiap anggota dan ada pembagian kerja yang baik, gak mungkin rasanya seseorang sanggup menjalankan fungsi direktur sekaligus tukang buka pintu, dan tukang sapu. Tapi kelemahannya menurut saya adalah konflik personal akibat komitmen yang setengah-setengah. Menyakitkan lagi kalau bisa merusak hubungan persahabatan yang susah payah dibina bertahun-tahun hanya karena masalah keuangan.

    Kemudian jadi narsis kalau ujung-ujung komentar saya;- oh ya dulu saya pernah beberapa kali bikin persekutuan bisnis, padahal chemistry-nya udah cocok, udah tahu “sisi terang dan gelap” masing-masing partner tapi akhirnya berantakan karena partner kurang disiplin masalah keuangan. Akhirnya kami bikin saja persekutuan doa saja alias ngaji bareng-bareng… lebih aman walaupun akhirnya nggak jalan karena beda kota😀 Persekutuan-2 yang lain tidak berhasil walaupun secara kualitas tidak diragukan, penyebabnya adalah komitmen yang tidak utuh. Akhirnya bubar lagi karena mendahulukan mengejar komitmen/ambisi pribadi.

    _____________________________________

    Yari NK replies:

    Sebenarnya di antara Perusahaan Perorangan (SOLE PROPRIETORSHIP) dan Perusahaan Persekutuan (PARTNERSHIP) mempunyai kelemahan dan kelebihan masing2. Memang betul kita tidak dapat mengerjakan semuanya, namun itu bukan berarti dalam Perusahaan Perorangan (SOLE PROPRIETORSHIP) tidak ada jalan keluarnya. Dalam perusahaan perorangan kita bisa saja mempekerjakan seseorang yang ahli dalam bidangnya tanpa harus memasukannya ke dalam struktur kepemilikan modal.

    Huehehehe….. nah itu dia…. kalau mau membuat persekutuan apalagi persekutuan bisnis, maka komitmen kebersamaannya harus tinggi dan yang penting demokratis. Kalau tidak ada kata sepakat, mungkin kita bisa memanfaatkan konsultan bisnis (kalau cukup duitnya untuk menyewa konsultan:mrgreen: ), atau bisa juga dengan pemungutan suara demokratis. Jalan apapun harus kita tempuh bersama, kita dapat untung kita bagi bersama, kita rugi juga kita pikul bersama. Sebuah komitmen yang tidak mudah apalagi untuk mengusir masing2 egoisme…….

  17. tulisan mantap pak yari

    kita perlu untuk bersama. tentunya dengan memikirkan keunggulan dari masing-masing personel persekutuan.

    seperti tim sepakbola. harus ada yang kuat bertahan, kokoh menggelandang dan tajam menyerang🙂

    *tim bisnis saya sekarang, penyerang murni semua. harus nyari gelandang dan pemain bertahan🙂

  18. Ass.

    semua syarat diatas sudah terpenuhi…..namun ditengah perjalanan (saat profit sudah di depan mata) sy dikhianati oleh mitra kerja…menuntut di meja hijau sy nggah mau, biar sajalah, mungkin ini sebuah pelajran berharga buat sy. dan memang banyak hikmah di balik kejadian itu. salahsatunya sy mengenal ALLAH dan arti Penghambaan kepada-NYA.

    btw, gimana khabar kang Yari ?? sehat2 ??

  19. erh… bukan bidang saya yang beginian

    i’ll skip this one om! hehe

  20. meski bekerja di perusahaan swasta yang paling deket sama peristilahan partner dan partnerships, saya hanya paham dengan partner dan partnerships dalam skala kecil saja…

    partner alias rekan bisnis bagi saya adalah rekan kerja satu ruangan sama saya yang paham akan kerjaan saya, dan isa menjadi support system buat saya

    partnerships bagi saya adalah hubungan timbal-balik antara saya dan rekan bisnis saya dalam menyelesaikan tugas2 pokok saya..

  21. persekutuan tuk hasil yang diinginkan harus melalui jalan yg benar kan om..
    yang penting asal jangan bersekutu dengan syetan ya om😆

  22. @arifrahmanlubis

    Betul mas…. masing2 sekutu harus memperkuat satu sama lainnya… dan tidak boleh saling menjatuhkan. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.🙂

    @Alex

    Wa’alaikum salaam wr wb…

    Sebenarnya harus dilihat dulu kasusnya. Apa maksudnya “dikhianati”? Apakah ditipu?? Ataupun melanggar perjanjian atau kesepakatan yang telah dibuat?? Kalau memang kasusnya seperti itu, memang sulit. Penipuan dan pelanggaran perjanjian bukan hanya dapat terjadi pada masalah persekutuan tapi juga dalam setiap aspek kehidupan kita, sulit untuk mencegahnya apalagi kalau orangnya tidak jujur…

    Jadi, ya, yang sabar aja ya bang Alex, anggap saja ini cobaan dariNya untuk menguji bang Alex. Moga2 dari kejadian ini bang Alex dapat menjadi orang yang lebih kuat lagi baik kuat dalam arti kata mental dan juga dalam arti taqwa…..

    Alhamdulillah bang Alex, saya sekeluarga dalam keadaan sehat wal’afiat selalu, semoga begitu juga dengan bang Alex sekeluarga. Amin.🙂

    @natazya

    The door is always open for you to go in or to go out. Take it easy, sis!🙂

    @khofia

    Ya, memang hakikat partnership seharusnya seperti itu. Saling membantu dan gotong royong menghadapi masalah, dan bukannya gontok2an, kalau mau gontok2an bikin bentuk perusahaan “enemyship”. Mau coba?:mrgreen:

    @hanggadamai

    Kalau bersekutu untuk nyampah di blognya hangga, boleh nggak??:mrgreen:

  23. nggak boleh👿

    ___________________________

    Yari NK responds:
    👿 👿👿:mrgreen:

  24. Manstaplah tulisannye …

    Mong-ngomong, persekutuan itu asalnya kan ‘sekutu’, berarti kumpulan orang yang menjajah Indonesia, ya?

    sekutu kalo mo di-breakdown lagi, jadilah ‘kutu’ yang suka bikin gatal kepala …

    jadi klo mo bikin persekutuan siap2lah gatal kepala dan sering garuk2 … 🙂

    ______________________________________

    Yari NK replies:

    Kalau begitu sebelum mendirikan persekutuan harus beli shampoo dulu dong agar kita nggak kegatelan sesudah mendirikan persekutuan!:mrgreen:

  25. sjafri mangkuprawira

    Betapa tidak mudahnya berkongsi modal usaha dengan orang lain…pengalaman saya seperti itu (komisaris)….ketika ikut nanam modal di bidang perikanan darat dan klinik saraf……bisnis cuma berjalan tidak lebih dari tiga tahun……klinik saraf buyar karena kepala klinik (dokter) memiliki kepemimpinan otoriter dan sulit diajak kerjasama dengan komisaris…..sementara bisnis ikan ngegantung tidak karuan……karena salah seorang investor memanipulasi finansial…….sebagai orang berlatar belakang ekonomi pertanian dan suka nulis tentang bisnis rupanya tidak selalu sukses ketika di lapangan………persoalannya bukan dalam hal minimnya segmen pasar……tetapi masalah konflik internal……mengapa? karena hampir semua deal dengan sesama rekan bisnis tidak diikat oleh perjanjian-perjanjian formal……hitam di atas putih……modalnya cuma saling percaya…..nah di dalam perjalanan ternyata apa yang disebut trust pertemanan tidaklah abadi….senggol sana senggol sini….. merasa masing-masing yang paling benar dan jujur……..karena itu memang seharusnya sejak kita mau bersekutu sebaiknya kita mempersiapkan semua isi perjanjian bisnis sematang mungkin termasuk dari sisi hukumnya……..

    _________________________________________

    Yari NK replies:

    Terima kasih prof atas sharing pengalamannya, memang sangat sulit sekali memimpin partnership, karena mungkin sifat setiap orang memang berbeda dan kemauannya juga berbeda. Termasuk di Indonesia ini, yang katanya orangnya lebih sosial, lebih ramah, lebih sopan tapi ternyata tidak berpengaruh banyak jikalau sudah mendirikan persekutuan, alias semangat individualis dan egoisnya keluar. Bahkan mungkin orang Indonesia lebih tidak bisa bekerjasama dibandingkan orang2 Eropa atau Amerika?? Apakah prof punya datanya??

  26. inspiratif sekali……..
    Saya yang sekarang lagi menghadapi permasalahan seperti ini. Karena saling ego, akhirnya memutuskan untuk bubar kongsi. Dan mengalami shock untuk memulai usaha sendiri. Tapi kata om bob sadino, usaha sendiri itu memiliki percepatan maksimal ketitik optimal. Im be going to do……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s