Deutschland über alles?? Das ist Unsinn, ja??

10

Hingar bingar piala Euro 2008 telah berakhir dan kita semua tahu bahwa Spanyol telah keluar sebagai juara Euro 2008 setelah di final mengalahkan Jerman dengan skor 1-0. Sejak awal saya memegang Perancis dan Spanyol sebagai juara Euro kali ini. Karena Perancis sudah kandas di babak kualifikasi maka “pegangan” saya tinggal kesebelasan Spanyol dan ternyata kesebelasan dari negara di tanjung Iberia itu berhasil membawa pulang gelar juara.  Ini sekaligus membuktikan bahwa kesebelasan Spanyol bukan lagi sebagai kesebelasan besar yang “tidak berprestasi”, namun dengan dua kali menjadi juara dan sekali menjadi finalis di tahun 1984, ini menandakan bahwa kesebelasan Spanyol masih lebih baik daripada kesebelasan Inggris yang saya benci itu yang masuk final Euro-pun belum pernah!

Namun artikel ini bukan untuk membahas atau mereviu pertandingan final hari Senin pagi WIB lalu, namun untuk membahas mengenai arti kemenangan kesebelasan Spanyol atas kesebelasan Jerman dalam arti yang lebih luas cakupannya bahkan di luar konteks sepakbolanya sendiri. Ya, setidaknya kita bisa memetik pelajaran yang cukup banyak dari kemenangan kesebelasan Spanyol atas kesebelasan Jerman. Pelajaran apa yang dapat diambil??

Kita dari dulu mempercayai bahwa negara Jerman adalah negara yang unggul di Eropa, sebuah “ras” atau bangsa kelas satu di Eropa. Terlebih2 sejak tahun 1960an kita telah banyak mengenal produk2 kelas 1 buatan Jerman. Dulu (tahun 1970an) kita mengenal produk2 elektronik keluaran Jerman seperti Grundig, Telefunken, Löwe-Opta dan lain-lain, yang kini entah bagaimana nasibnya. Selain itu mobil2 buatan Jerman seperti Mercedes-Benz dan BMW (Bayerische Motoren Werke) yang hingga saat inipun masih lalu lalang di jalan2 kita yang dipercaya sebagai produk buatan Jerman yang jempolan. Belum lagi2 instrumen2 optik dan instrumen2 presisi lainnya buatan Jerman yang semakin memperkuat image bahwa Jerman adalah negara Eropa kelas satu! Sedangkan Spanyol?? Paling2 produk yang kita kenal (yang mungkin juga masyarakat kita belum banyak kenal) adalah mobil SEAT yang notabene kini sahamnya sudah dibeli dan dikuasai oleh dua perusahaan otomotif Jerman juga yaitu Volkswagen dan Audi. Atau mungkin anda pernah mendengar Construcciones Aeronáuticas, S.A. atau disingkat CASA, sebuah perusahaan industri pesawat udara Spanyol yang produk2nya sering dijiplak diadaptasi oleh perusahaan aeronautika kita IPTN. Sudah! Paling2 cuma itu saja! Selebihnya orang banyak yang percaya bahwa Spanyol adalah bangsa Eropa “kelas dua” yang pamornya kalah segala2nya dari Jerman! Pendek kata, orang Jerman banyak dikenal sebagai bangsa yang ulet dan rajin sedangkan orang2 Spanyol banyak dianggap sebagai bangsa yang malas di Eropa.

Kalah segala2nya?? Nanti dulu! Kita tidak usah membicarakan masa lalu, 500 tahun yang lalu, ketika orang Spanyol sudah melalangbuana mencari “benua baru” hingga ke benua Amerika sedangkan negara Jerman masih “dijajah” dan bagian daripada Romanorum Imperator. Boleh jadi secara umum, pada saat ini, prestasi Jerman sebagai sebuah bangsa dan negara masih lebih unggul dibandingkan Spanyol. Namun bukan berarti, Spanyol harus kalah segala-galanya dari Jerman. Di bidang olahraga, selain di pentas Euro 2008 di mana prestasi sepakbola Spanyol berhasil melampaui prestasi Jerman, di bidang tennis misalnya, Jerman juga kini tertinggal jauh  oleh Spanyol. Spanyol kini punya segudang petenis tingkat dunia terutama di bagian putra seperti: Rafael Nadal, Juan-Carlos Ferrero, Tommy Robredo, Carlos Moyà, dan lain sebagainya. Dulu, Jerman yang punya petenis Boris Becker dan Steffi Graf kini tengah mengalami masa surut dan harus mengakui “keunggulan” Spanyol di bidang tennis saat ini. Di luar bidang olahraga, yang paling mengejutkan adalah peringkat Human Development Index (HDI) Spanyol di tahun 2007, di mana Spanyol berada di urutan 13, naik 6 tingkat dari tahun sebelumnya. Sedangkan Jerman, terseok2 di urutan ke-22 atau turun 1 tingkat dari tahun sebelumnya. Sebuah prestasi luar biasa bagi Spanyol, yang 30 tahun yang lalu mungkin HDI-nya masih jauh di bawah Jerman! Kita tidak mengetahui, mungkin masih banyak prestasi2 Spanyol lainnya yang melebihi Jerman.

Nah, sekarang bagaimana dengan Indonesia?? Apakah Indonesia yang boleh dikatakan sebagai bangsa Asia kelas 2 dapat mengalahkan bangsa2 Asia yang “kelas 1” seperti Jepang dan Korea?? Apakah kita bisa mengalahkan mereka di bidang2 yang dapat sangat mengharumkan nama bangsa?? Apakah kita sanggup merebut piala Asia?? Apakah HDI kita sanggup mengungguli Jepang dan Korea?? Atau ada prestasi2 lain dari negara kita yang melebihi Jepang atau Korea yang sangat dikagumi dunia??

Seharusnya kemenangan Spanyol atas Jerman di pentas Euro kali ini dapat menjadi cambuk bagi kita, bahwa bangsa yang “kelas 2” tidak selamanya harus kalah dari bangsa yang “kelas 1”. Semboyan “Deutschland über alles” (Jerman di atas segala2nya, sebuah motto yang diangkat dari stanza pertama dari lagu kebangsaan Jerman, yang populer di zaman Nazi-nya Adolf Hitler yang kini sudah dihapus) tentu hanya mitos belaka. Namun bagi kita, tidak penting bahwa “Deutschland über alles” itu hanyalah mitos atau bukan, yang penting bagi kita adalah mari kita tunjukkan bahwa kita dapat mengalahkan bangsa2 ‘kelas 1’ di Asia bahkan di dunia untuk menunjukkan bahwa kita bukanlah bangsa kelas dua. Kita harus bangga menjadi bangsa tempe karena tempepun bisa mengalahkan Sukiyaki, Bulgogi, Kimchi, bahkan Cordon Bleu dan Sauerkraut, apalagi cuma McD yang isinya hanya sampah (junk) itu!:mrgreen: Seharusnya begitu kan??

35 responses to “Deutschland über alles?? Das ist Unsinn, ja??

  1. sayangnya anak jaman sekarang pada ga suka tempe T_T

  2. Lagi buru-buru… mmm… jadi inget el nino🙂

  3. Kalau saya dari awal pegang Belanda ama Turki. Sayangnya dugaan saya meleset.

  4. Ass.

    kok berkelas-kelas kang ?? ada kesan strata gitu….

    semoga indonesia bisa disegani dan harum di dunia Internasional lewat hal2 positif bukan negatif kayak negara terkoruptor, negara terporno, negara perusak lingkungan dan sebutan2 negatif lainnya.

  5. Semangat, kerjasama dan kekompakan tim…itulah yang membawa Spanyol bisa menang.
    Indonesia bisa jika semua menyingsingkan lengan, menyatukan langkah, dan tidak terkotak-kotak….namun memang dibutuhkan pemimpin yang kuat untuk bisa membawa Indonesia mengatasi kesulitannya….mungkinkah???

  6. Bangsa Jerman itu, mulai berkibar setelah perang dunia (*saya tdk bermaksud rasis*), sedangkan spanyol memiliki ketakjuban history selama berabad-abad yg lalu, begitu pula dengan sepak bola masuk jajaran elit baik antar klub maupun negara. Ngomong2 soal masa lalu imperialisme eropa, negara2 bekas jajahan inggris sekarang menjadi negara makmur, sedangkan yang tetap paling miskin adalah jajahan portugal (portugis) disusul dengan belanda. Untuk produk-produk Industri yg akan datang saya menjagokan negara China.

  7. Cinta Jermannnn dunia akhirat…🙂

  8. Kan… Indonesia dlm bidang bulutangkis rata2 lbh jago dari Jepang atau Korea. Betul ga mas? Hehe..

  9. indonesia gak pernah mw belajar kesuksesan dr negeri lain om..
    liat aja hingga kini, apa indonesia termasuk negara yg sukses??😦

  10. Kata orang, Indonesia itu jangan saingan teknologi, sains, atau olahraga. Bersaingnya itu dibidang seni kreatif aja. Seniman Indonesia masih diakui Te O Pe Be Ge Te di dunia.

  11. jangan benci sama tim inggris pak, benci aja sama pelatihnya, hehehe

    bangsa Indonesia? kalo liat sejarah pra-indonesia, oom gajah mada kan pelaut ulung! dah sampe ke madagaskar lagi (kalo ga salah) kerajaannya juga luas pol!!

    kalo dipikir2 kok jadi kemunduran yah? apa karena karma karena dulu kita pernah adidaya? pokoknya nenek moyangku seorang pelaut, tapi lautnya dijajahi!

  12. ck… ck…ck… Satpam yang Cerdas
    (sambil geleng2 kepala)

    sebenarnya bola berada di tangan pemerintah (emang pemerintah maen bola).. Kalo masy kita sebenarnya juga pinter2 cuman banyak juga yang lebih memilih kerja di LN utk kehidupan yg lebih baik…
    hmmm… perlu ditanamkan semangat nasionalisme sejak kecil utk semuanya, baik itu pejabat (biar gak suka korupsi2) maupun generasi muda (biar tau kapan itu Harkitnas diperingati)…

  13. nasionalisme penting bgt utk diaplikasikan ke rakyat Indonesia. terutama bagi mereka kalangan “high level” yg lebih bangga dengan kualitas luar negeri tp lupa utk membanggakan bangsa sendiri.
    btw, ita nonton gol saut2nya di final kmrn dari siaran ulang. gak nonton langsung krn ketiduran😦

  14. Hidup Spanyol
    Hidup Turki
    Hidup PSS😀

  15. Yaaaaaaaaaaaaaaa saya sebel euy. Saya menjagokan Jerman. Sayang kalah sama Spanyol….

    Btw, setuju sama AgusBin, tidak semua hal prestasi bangsa Indonesia ‘kelas’ dua. Buktinya di bulutangkis, kita bisa!!!

    Kalau korupsi di negeri kita nomor berapa Pak Yari?😀

  16. kita bisa lebih dari negara2 lain asal ada kemauan. tapi jangan asal kemauan aja, actionnya juga musti ada..

  17. Walaupun Spanyol seb penyandang euro 2008, Tetep dukung Turki, special to gelandang, Arrda Turkan🙂

  18. @leah

    Iya mbak… sayang ya…. itu mungkin karena orang tua mereka terlalu ‘bangga’ kalau anaknya makan di McD, padahal di Amerika McD dan semacamnya dianggap makanan “sampah”. Di sini malah jadi makanan “bergengsi”. Mungkin para orang tuanya dulu nggak pernah merasakan makanan yang lebih mahal dan bergengsi daripada McD jadinya McD dianggap sebagai makanan “berkelas”. Hehehe….😀

    @Yoga

    Apa hubungannya dengan El Niño (El Niño emang bahasa Spanyol, tapi apa hubungannya)??😛

    @Rafki RS

    Hehehe…. saya juga semula waktu babak eliminasi menduga Belanda calon kuat juara melihat prestasinya melibas lawan2nya dengan skor telak di babak penyisihan. Eh nggak tahunya…….:mrgreen:

    @Alex

    Sebenarnya ya tidak ada sih yang namanya kelas. Kelas itu cuma persepsi manusia saja, untuk itu kata kelas saya kasih tanda kutip. Menurut saya memang semua bangsa itu sederajad. Tapi bagi sebagian orang banyak yang menilai bangsa anu lebih tinggi derajadnya sehingga disebut sebagai “kelas 1” sementara bangsa yang nggak begitu hebat diberi label “kelas 2”, “kelas 3”, dst…..

    Ya… betul…. mudah2an Indonesia bisa terkenal dan harum namanya lewat hal2 yang positif.

    @edratna

    Bangsa Indonesia dikenal dengan “bangsa yang berjiwa sosial” dibandingkan dengan orang2 barat yang katanya lebih “individualistis”. Tapi kenapa bangsa kita justru lebih tidak bisa bekerjasama ya?? Lebih sering gontog2an dan cepat sekali gampang diadu-domba. Kenapa ya??😦

    @laporan

    Negara2 bekas jajahan Inggris memang banyak yang jadi makmur dan maju, apalagi kalau banyak bulénya atau orang Inggrisnya. Sebut saja Kanada, Australia, Selandia Baru, Singapura, Hongkong dan lain sebagainya. Tapi banyak juga yang masih miskin seperti: Fiji, Jamaika, Trinidad-Tobago, Ghana, The Gambia dan lain-lain.🙂

    @Menik

    Jerman = Jeruk Manis??:mrgreen:

    @AgusBin

    Betul Bin, tapi bulutangkis aja tidak cukup. Lagipula Bulutangkis olahraganya nggak begitu “disukai” oleh dunia. Kalau bisa, kita punya jago di olahraga yang disukai dan menjadi perhatian dunia. Jadi nama kita lebih harum lagi. O iya, sekarang Indonesia di bulu tangkis, nggak jago2 juga lagi kok. Buktinya Thomas & Uber, walaupun di kandang sendiri, gagal direbut! Hehehe…..:mrgreen:

    @hanggadamai

    Ada loh suksesnya…. sukses melindungi koruptor!:mrgreen:

    @Iwan Awaludin

    Kalau begitu, kenapa seniman2 kita tidak ada yang benar2 terkenal di seluruh dunia, macam Picasso, Leonardo da Vinci, Rembrandt, dan lain-lain… Atau musik2 kita kenapa nggak ada yang terkenal ya?? Sedangkan musik Rumba, Samba dan lain-lain bisa sangat terkenal ke seluruh dunia?? Makanan2 kita juga kalah dari Sukiyaki, Kim-Chi dan lain2?😦

    @Denny Eko Prasetyo

    Saya membenci kesebelasan Inggris karena punya alasan yang kuat…. yaitu mereka selalu menjadi pusat perhatian pers padahal prestasi mereka tidak pernah bersinar. Kecuali menjadi juara dunia tahun 1966 di kandang sendiri, Inggris tidak pernah masuk final baik di Euro maupun di Piala Dunia…….:mrgreen:

    Nenek moyang kita memang pelaut2 ulung…. tetapi zaman sekarang yang lebih penting adalah bagaimana kita membuat kapal2 canggih berteknologi tinggi, itu sekarang yang penting kalau bangsa kita mau disebut sebagai pelaut2 ulung!:mrgreen:

    @gunawanwe

    Iya ya mas…. terkadang ada yang sudah capek2 sekolah tinggi sampai doktor bidang studi Teknik Nuklir, eh, di sini nggak terpakai, karena teknologi nuklir di sini belum berkembang, jadinya dia nggak bisa dapat pekerjaan yang sesuai dengan apa yang diminatinya. Jadinya larilah dia ke luar negeri…..😦

    @eNPe

    Biarlah orang2 yang “high level (baca:kaya)” berfikiran luar negeri-minded. Asal jangan yang pintar2, yang berfikiran luar negeri-minded. Kalau yang pintar2 juga berfikiran begitu, wah, itu baru namanya gawat!😦

    Nggak apa2 mbak, lihat aja siaran ulangnya. Terkadang pertandingan sepakbola yang dilihat hanya gol2nya saja kok! Hehehe…..:mrgreen:

    @achoey sang khilaf

    Hidup blogger!:mrgreen:

    @mathematicse

    Kalau ada kejuaran dunia atau olimpiade korupsi kita pasti juara dunia, ya??:mrgreen:

    @ayaelectro

    Yang penting kita bangun dulu Sumberdaya Manusia yang baik, bukan hanya sekedar menaikkan tingkat perekonomian seperti negara2 di Timur Tengah……

    @Rita

    Hehehe…. saya dukung wasit aja deh…… soalnya wasit pasti tetap bertahan hingga pertandingan final dan tidak akan gugur!:mrgreen:

  19. HDI = kasta manusia berdasarkan apa ya ?
    hmmm…..di mana-mana juga pasti nggak enak jadi kelas 2, kecap aja selalu mengaku nomor 1🙂

  20. “Si bocah” imut yang bikin gol satu-satunya kemarin😀

  21. harusnya indonesia ini berpikir untuk memajukan keunggulan2 bangsa. kalo musti bersaing dengan negara lain, di bidang apa dulu? kalo memang gak jago sepak bola, ya tidak usah ngoyo-ngoyo jadi jagoan sepak bola, lebih baik jagoan di bulutangkis. kalo gak jago di politik, ya gak usah jadi politikus, lebih baik jadi ekonom misalnya.

    indonesia kayaknya butuh diktaktor baru yang arif. (emang ada?). yang bisa bikin negara aman, investor masuk, rakyat bisa makan….

    hidup indonesia… eh… hidup rakyat… ah kagok ah…

  22. hihihihihii senagnya dirikuh spanyo menang😀

  23. saya sendiri tak tahu, bung yari, setiap kalai ada sebuah kompetisi atau pertandingan, saya kok selalu kepingin memihak yang lemah dan tak berdaya. demikian juga melihat nasib bangsa kita. selalu saja muncul rasa keberpihakan terhadap bangsa kita setiap kali mengikuti even2 di dunia. mudah2an saja kekalahan jerman bisa membuat bangsa kita tercambuk utk menjadi bangsa yang lebih maju.🙂

  24. Jerman kalah hanya karena Dukunnya kurang jitu, he..je..

  25. spanyol goo..belanda back…..hu.hu.hui

  26. @Yoyo

    HDI itu sebenarnya bukan kasta, kang. Tetapi itu adalah “Indeks Pengembangan (Sumberdaya) Manusia”. Yang diukur antara lain adalah Tingkat Harapan Hidup, tinggi rendahnya tingkat buta huruf, tingkat pendidikan, dan tingkat Pendapatan domestik bruto per orang. Jadi bukan kasta kang. HDI itu lebih mengukur kepada makmur tidaknya dan juga “maju tidaknya” sebuah masyarakat di suatu negara.🙂

    @Yoga

    Oooh… saya malah baru tahu. Hehehe…… Tapi kok sebutannya “kodian” gitu sih… Sebutan El Niño di Spanyol itu mirip sebutan “si buyung” atau “si upik” kalau di sini. Memang sebutannya benar, atau hanya karangan media (Indonesia) saja ya??

    Saya baru ingat ada pemain Spanyol dulu yang diberi julukan El Muñeco (Boneka Laki2), nah ini baru sedikit unik, hehehe….. (Kalau boneka perempuan namanya: La Muñeca).

    @aryodiponegoro

    Hehehe…. tapi bagaimanapun juga penduduk kita kan banyalk…. Nggak mungkin ratusan juta orang Indonesia hanya bakat pada satu bidang saja, pasti ada juga yang jago pada bidang2 lain, seperti negara2 lain juga. Masalahnya sih bukan pada bakat, tapi pada pembibitan, penanganan, pembinaan dan manajemen bakat2 tersebut.🙂

    @zoel chaniago

    Hihihi…. sama dong…. ¡ viva España ! Mudah2an suatu hari PSSI juga bisa merebut piala Asia ya??😦

    @Sawali Tuhusetya

    Betul Pak Sawali….. seharusnya bangsa2 yang “tertinggal” tidak mudah putus asa, keputusasaan hanya akan membuat bangsa2 tersebut semakin tertinggal. Betul nggak pak?😦

    @ubadmarko

    Indonesia katanya jago soal perdukunan, tapi kalo main bola, Indonesia yang didukung dukun2 yang jago itu tetap saja keok😦 Kasihan dong ya Indonesia kalo begitu, udah sepakbolanya kalah, perdukunannyapun kalah pulak……:mrgreen:

    @okta sihotang

    Saya jadi ingat Piala Dunia 1990 waktu itu, Belanda sangat dijagokan dengan trio Ruud Gullit, Marco van Basten dan juga Frank Rijkaard. Eh, nggak tahunya kalah juga di babak2 awal, yang juara malah Jerman (Barat).😀

  27. Mungkin karena wajahnya yang inocent kayak bocah…

  28. Siapa bilang hanya Spanyol yang mampu kalahkan Jerman?
    Indonesia juga bisa. Buktinya, itu tim Uber Cup dan Thomas Cup.
    Masalah kita cuma satu: Kita menang di satu bidang tetapi kalah di banyak bidang.😦

  29. Om Yari. Indonesia mah bukan bangsa kelas 2, salah tuh. Yang bener belon sekolah. Logikanya gini…

    DPR Taman Kanak-Kanak …
    Presidennya ya Playgroup …
    Rakyatnya, belon sekolah!

    Hihi…

    Sebenernya yg pinter banyak, tapi pinter nepu, nepu rakyatnya … 🙂

  30. Saya sedih Pak, karena jago saya kalah. Padahal dari awal saya sudah menjagokan Jerman, walaupun awalnya sempat terseok-seok. Tapi itulah Jerman, panasnya agak lambat.

  31. @Yoga

    Wah…. segitu wajahnya innocent ya?? Yang nggak innocent gimana wajahnya?? Lebih Innocent mana sama wajahnya Mr. Bean?:mrgreen:

    @M. Shodiq Mustika

    Iya betul pak…. bukan hanya lebih banyak kalahnya tapi tepatnya “jauh lebih banyak kalahnya”. Sudah begitu bidang yang kita ungguli adalah bidang yang kurang terkenal dan kurang “bergengsi”.😦

    @Adji Wigjoteruna

    Bukan hanya pandai menipu tetapi juga pandai korupsi dan juga pandai memanipulasi keadaan dan juga pandai berjanji2 tetapi tidak pandai merealisasikannya…. lengkap sudah…..:mrgreen:

    @Edi Psw

    Kali ini Jerman bukannya lambat panas tetapi gagal panas ya, atau mungkin tepatnya mesinnya lagi rusak saat final sehingga gagal panas….:mrgreen:

  32. Karena namaku + Ines adalah GARCIA maka kami memihak Spanyol.

    Yari NK replies:

    Dan akhirnya Spanyol menang ya mbak. ¡ Viva España !😀

  33. Indonesia mustinya belajar dari CINA yang PINTER NIRU tapi lama kelamaan bisa

    nyiptain produk sendiri, kita mah hanya pinter NGAKALIN…..

    __________________________________________

    Yari NK replies:

    Bangsa kita memang pinter NGAKALIN tapi sayang kita lebih “pintar” lagi kalo DIAKALIN !!:mrgreen:

  34. Bagiku, kekalahan Jerman memang sangat menyakitkan. Prinsip “sekarang atau tidak sama sekali” akhirnya terbuang dengan percuma. Tapi, tak apalah. Let’s think positively. Ini adalah bagian dari kehidupan dan keadilan Tuhan tegambar secara jelas dari momen ini. Jerman sudah berkali-kali menjuarai EURO, 3 kali gitcu lho, sehingga menobatkan mereka sebagai raja Eropa. Bandingkan dengan Spanyol, yang baru 2x.
    Furthermore, bangsa Jerman pasti selalu bisa bangkit meski dalam kondisi sesulit apapun. Mau bukti, banyaaaaaak. Salah satunya keberhasilan mereka tuk bangkit dari penderitaan akibat berkali-kali kalah perang. Mental kuat itu ternyata masih terus diwariskan pada generasi selanjutnya. Mental Jerman memang tak da duanya. Selain itu, bagi Jerman kekalahan itu tidak terlalu diambil pusing. Masih ada kesempatan tuk merebut gelar juara di WC 2010 nanti. Sepertinya siklus 20 tahunan Jerman akan terbukti lagi. Bangsa Jerman telah optimis tuk merebut The WC Thropy. Optimisme ini tergambar jelas pada nyanyian para supporter Jerman, WC Sportfreunde stiller 1954,1974,1990, 2010??? Sudahkah Anda dengar?
    Sebagai kesimpulannya, Tuhan itu Adil. Segalanya butuh proses.
    I love Germany so much. Germany uber alles in der Welt!!!Seharusnya Indonesia harus belajar dari bangsa Jerman bila ingin maju.

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Justru saya tidak setuju dengan sebutan “Deutschland über alles”. Jerman memang sebuah negara yang maju dan ulet. Namun masing2 bangsa punya kelebihan dan kelemhannya masing2. Jepang, Korea, misalnya juga bangsa yang mampu bangkit dari puing2 perang dengan sangat cepat. Jadi masing2 bangsa punya kelebihan dan kelemahan masing2. Hanya saja di beberapa bangsa ada yang berhasil memanfaatkan kelebihannya dan ada juga yang gagal memanfaatkan kelebihan2nya. Orang Indonesia memang bisa meniru kemajuan bangsa Jerman, tapi tentu harus diadaptasi menjadi lebih sesuai dengan kondisi Indonesia. So menurut saya “Deutschland über alles” tidak 100% benar, malah mungkin juga hanya mitos belaka……🙂

  35. Sebelumnya maaf bila saya telah mengungkapkan hal-hal rasis.
    Menurut saya, anda (orang-orang lainnya) bisa mengatakan Deutschland uber alles tidak 100% benar adalah sebuah kewajaran. Mungkin anda belum mengetahui makna sebenarnya dari Deutschland uber alless itu ya?
    Dulu saya pernah membaca dari penjelasan liryc “dAS Lied der Deutschen” dan berdasarkan penjelasan yang ada di dalamnya, terungkaplah suatu penafsiran baru, bahwa maksud tersembunyi dari Deutschland uber alles adalah Jerman ada dimana-mana. Dikatakan ada dimana-mana karena pada saat itu bangsa Jerman tersebar di seluruh wilayah Eropa. Hitler melakukan invasi ke sejumlah wilayah Eropa pada saat itu semata-mata cuman ingin menyatukan bangsa Jerman kembali, yang merupakan komunitas terbanyak dan terbesar di Eropa, namun negara lain sepertinya salah tangkap akan misi penyatuan Eropa tersebut. Meskipun usaha Hitler gagal pada waktu itu, cita -cita Jerman untuk menyatukan Eropa di bawah jerman sepertinya berhasil. Masyarakat Uni Eropa telah terbentuk dengan pemegang peranan pentingnya adalah bangsa Jerman.

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Terima kasih juga atas tanggapan baliknya. Perlu dikoreksi bahwa saya tidak pernah menuduh anda telah mengungkapkan hal2 berbau rasis. Hanya saja ada beberapa hal yang kurang tepat tentang pandangan anda terhadap bangsa Jerman ini walaupun tidak sepenuhnya salah juga.
    Jerman memang merupakan sebuah bangsa yang besar di Eropa. Pengaruhnya di Uni Eropa mungkin saja paling besar, namun pengaruhnya mungkin tidak mayoritas, karena Perancis, Inggris dan Italia juga mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam Uni Eropa. Di bidang ekonomi, Jerman memang merupakan negara perdagangan terbesar di Eropa namun pendapatan per kapita rakyatnya masih di bawah Belanda dan Inggris. Di bidang indeks pengembangan Sumberdaya Manusia, Jerman juga masih harus mengejar negara2 di Eropa lainnya yang lebih superior seperti Belanda, Perancis, Inggris bahkan Spanyol.

    Jadi kesimpulannya, memang Jerman merupakan bangsa yang ulet, namun seperti halnya bangsa-bangsa lain di dunia, Jerman juga punya banyak kelemahan2….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s