Ketika Bahasa Indonesia Mengkhawatirkan Invasi Bahasa Asing…

 Beberapa bulan yang lalu, secara tidak sengaja saya menyaksikan acara “Spelling Bee Contest” di ESPN. Tumben-tumbenan memang ESPN menyiarkan acara yang mendidik seperti itu. Kontes tersebut adalah lomba mengeja kata-kata dalam Bahasa Inggris oleh anak-anak remaja ABG. Kata-kata yang dipilihpun sulitnya minta ampun. Jangankan saya, wong native speakers atau bulé dewasa kebanyakan saja belum tentu bisa. Yang mengejutkan saya adalah kata-kata yang diperlombakan, yang notabene sangat sulit itu, hampir semuanya kata serapan yang berasal dari bahasa asing non-Inggris, seperti: schuhplättler (tarian rakyat Austria & Bavaria), rognon (ginjal yang dijadikan makanan), yokinabe (sop Jepang), prosopopœia (personifikasi), taleggio (keju Italia), dan sebagainya yang bahkan dalam kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary-pun belum tentu ada, apalagi di dalam kamus ‘anak-anak’ macam kamus Inggris-Indonesianya John M. Echols dan Hassan Shadily yang banyak dijual di toko-toko buku. Karena penasaran, ingin tahu seberapa jauhnya Bahasa Inggris menyerap bahasa asing, saya beli kamus “Oxford Dictionary of Foreign Words and Phrases” dari Amazon[dot]com. Buku tersebut baru tiba beberapa hari yang lalu dengan selamat di Bandung. Ketika buku tersebut saya buka dan baca rasa penasaran saya terobati saya sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa alangkah terbukanya Bahasa Inggris terhadap bahasa-bahasa asing yang ada di dunia ini.

Saya jadi ingat para pakar bahasa kita yang seperti kebakaran jenggot dengan serbuan kata-kata dalam bahasa asing. Mereka selalu menyerukan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Walaupun tentu saja himbauan pakar bahasa kita tersebut ada benarnya, namun saya hingga kini tetap tidak bisa mengetahui secara pasti bagaimanakah berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu. Yang saya tahu adalah penggunaan dan penulisan kata-kata harus sesuai dengan EYD, hanya itu. Selebihnya masih samar. Saya juga tidak tahu, apakah penggunaan kata-kata asing yang belum ada padanan kata resminya atau padanan kata resminya masih samar-samar termasuk menyalahi kaidah-kaidah berbahasa Indonesia yang benar?

Sebagai contoh, misalnya, dulu di toko buku Gramedia saya pernah iseng-iseng dan tak sengaja membuka buku terjemahan dari Schaum’s Outline Series yang judulnya: Biologi. (Terjemahan buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbitan buku di Jakarta yang cukup terkenal yang suka menerbitkan buku-buku terjemahan untuk pendidikan). Mengenai terjemahannya yang kurang enak dibaca itu sudah biasa. Namun yang membuat saya “sedih” adalah ternyata bahasa nasional kita ini benar-benar tidak siap menerima perkembangan-perkembangan istilah di dunia sains dan teknologi. Bayangkan saja, untuk istilah yang sudah lama saja seperti “Animal Kingdom” di buku terjemahan tesebut diterjemahkan sebagai “Kingdom Animalia” !! Seolah-olah tidak ada lagi istilah yang lebih “Indonesia” lagi. Tapi apa memang terjemahan resmi dari “Animal Kingdom” itu adalah “Kingdom Animalia”? Dalam Bahasa Perancis misalnya, walaupun “Kingdom” dalam Bahasa Perancis adalah “Le Royaume” namun terjemahan resmi Bahasa Perancis untuk “Animal Kingdom” adalah “Le Règne Animal“, jadinya sudah ada istilah bakunya.

Nah, kini pertanyaannya adalah jikalau Bahasa Indonesia tidak siap dengan perkembangan kebudayaan terutama di bidang sains dan teknologi (juga di bidang-bidang lainnya tentu saja) kenapa justru pakar bahasa menjadi ketar-ketir dan alergi dengan serbuan bahasa asing?? Pilihannya ya cuma dua yaitu biarkan bahasa asing menginvasi bahasa Indonesia kita tercinta ini atau kembangkan dan populerkan istilah-istilah baku bagi istilah-istilah asing yang masih sulit dicari padanan istilahnya dalam Bahasa Indonesia.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita musti takut dengan serbuan bahasa asing?? Jikalau pakar bahasa kita selalu menganggap bahasa asing selalu merusak bahasa kita, maka jikalau saya melihat buku “Oxford Dictionary of Foreign Words and Phrases” ini, Bahasa Inggris justru melihat kata-kata bahasa asing tersebut justru memperkaya vocabulary dalam Bahasa Inggris. Pada awalnya di abad-abad lampau, bahasa yang menjadi favorit untuk diserap ke dalam Bahasa Inggris adalah Bahasa Perancis, Bahasa Latin, Bahasa Yunani, Bahasa Jerman dan Bahasa Spanyol. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kata-kata dalam Bahasa Arab, Bahasa China, Bahasa Jepang, bahkan Bahasa Melayu dan Indonesiapun tidak malu-malu diserap oleh Bahasa Inggris. Dan “hebatnya” kata-kata yang diserap tersebut tidak perlu diubah satu hurufpun untuk sesuai dengan pengucapan lidah orang-orang Inggris. Walaupun harus diakui bahwa sistem fonetik Bahasa Inggris termasuk yang paling “terbelakang” di dunia sehingga memungkinkan penyerapan suatu bahasa asing tanpa merubah huruf satupun. (Contoh dari keterbelakangan fonetik Bahasa Inggris ini misalnya adalah huruf “u”. Sebuah bahasa yang baik, sebisa mungkin satu huruf melambangkan satu bunyi saja. Tidak seperti Bahasa Inggris, di mana huruf ‘u’ dalam kata ‘cut’ berbunyi ‘a’ yaitu ‘kat’, sedangkan huruf ‘u’ dalam kata ‘put’ berbunyi ‘u’ yaitu ‘put’).

Nah…. sekarang terserah anda, apakah kedatangan atau serbuan bahasa asing akan dianggap sebagai “ancaman” kepada bahasa kita atau malah akan memperkaya?? Untuk penutup postingan ini, di bawah berikut ini saya lampirkan beberapa kata-kata dari ribuan kata-kata yang sudah dirangkul menjadi bagian dari Bahasa Inggris menurut buku “Oxford Dictionary of Foreign Words and Phrases” yang saya beli itu…… Beberapa kata di antaranya mungkin sudah sering anda dengar sehari-hari:

aa (Hawaii): lava kering yang sudah mengeras dan kasar

agar-agar (Melayu): Agar-agar

azan (Arab) : azan panggilan shalat

bismillah (Arab) : Penyebutan nama Allah (basmallah)

blitzkrieg (Jerman): Penyerangan secara cepat yang bertujuan membuahkan kemenangan dalam waktu singkat.

café au lait (Perancis): Kopi Susu

c’est la vie (Perancis): Itulah hidup!

dharma (sansekerta): Dalam agama Budha berarti kebenaran atau hukum universal. Dalam agama Hindu berarti adat sosial atau kasta, perbuatan yang benar, dan sebagainya.

doppelgänger (Jerman): Kesamaan jalan hidup seseorang dengan orang lain

eau-de-Cologne (Perancis) : Parfum dengan wangi2an yang ringan

eid (Arab) : singkatan untuk eid-ul-fitr (idul fitri) atau eid-ul-adha (idul adha)

fajita (Spanyol Meksiko): Makanan Texas-Meksiko

faux pas (Perancis): sebuah perbuatan yang bertentangan dengan aturan sosial.

fu yung (China) : Makanan China mirip sekali dengan fu yung hai.

gagaku (Jepang): Musik tradisional Jepang

ganja (Hindi) : ganja

gendarme (Perancis): Polisi Perancis

guru (Sansekerta) : guru spiritual

haiku (Jepang) : puisi tradisional Jepang yang biasanya terdiri dari 17 suku kata.

haji (Arab) : haji

ikat (Melayu/Indonesia): kain ikat

ikebana (Jepang) : seni merangkai bunga dari Jepang

jicama (Spanyol) : bangkuang

karaoke (Jepang) : karaoke

liebling (Jerman) : panggilan sayang

lingua franca (Latin) : Bahasa umum yang dipakai antar dua bangsa atau lebih

lustrum (Latin) : periode 5 tahunan

maja (Spanyol) : perempuan yang berbaju menyolok warnanya. Jadi ingat dulu ada sabun merknya sabun “Maja”.

mambo (Spanyol): musik dan tari dari Amerika Selatan

nouveau riche (Perancis) : orang kaya baru

oom (Afrikaan) : Paman. Bahasa Inggris Afrika Selatan yang diambil dari Bahasa Belanda, oom, yang artinya paman.

origami (Jepang): Seni melipat kertas dari Jepang.

per capita (Latin): per orang.

prima donna (Italia): Orang yang menonjol pada satu bidang atau aktivitas.

qiblah (Arab): kiblat

raja yoga (Sansekerta) : Bentuk dari sebuah yoga yang bertujuan untuk mengendalikan fikiran dan emosi.

rya (Swedia) : Jenis karpet dari Skandinavia.

sambal (Indonesia) : sambal á la Indonesia.

sukiyaki (Jepang) : makanan Jepang

tamasha (Persia) : jalan2 untuk bersenang2

tiramisu (Italia): sebuah makanan penutup dari Italia

Übermensch (Jerman) : Superman atau manusia super (dalam konotasi sebenarnya)

umrah (Arab) : Perjalanan haji kecil

vendetta (Italia): pertikaian beradarah di mana keluarga si terbunuh mengadakan balas dendam terhadap keluarga si pembunuh atau pertiakaian berdarah pada umumnya.

ve-tsin (China) : MSG (bangsanya Ajinomoto atau Miwon)

wasabi (Jepang): sayuran akar berwarna hijau dari Jepang yang terasa sangat pedas

wayang (Indonesia/Jawa): wayang

yokozuna (Jepang): juara sumo

yukata (Jepang): kimono yang beratnya ringan

zabaglione (Italia) : makanan penutup dari Italia

Zeitgeist (Jerman) : trend pemikiran atau perasaan pada sebuah periode terutama dalam bidang seni, sastra, filosofi dan sebagainya.

zwieback (Jerman): biskuit dari Jerman.

41 responses to “Ketika Bahasa Indonesia Mengkhawatirkan Invasi Bahasa Asing…

  1. Kalo kata saya sih kasus bhs inggris berbeda sedikit dng kasus bhs indonesia. Dlm kasus ini kalo bhs inggris memang utk pengembangan bhs tsb sedangkan bhs indonesia menyerap kata2 asing krn ga pede, ya kan? btw pertamax nih.

  2. Sebetulnya dari kemarin pusing memikirkan bangsa kita yang begini-begini aja, masih pusing memikirkan isi perut masing-masing dan mulai cenderung jadi individualis. Sampai muncul kalimat pop “Kita? Elo aja kali…!”,nggak kebayang kalau kalimat ini sukses mencuci otak generasi XYZ yang akan jadi calom pemimpin masa datang. Lantas, jika masih berkutat dengan urusan basic dan klasik😉 apakah masih ada yang mau mengurusi masalah Bahasa? Masih untung ada Mas Yari. Saya sendiri saja bisanya cuma ikut prihatin.🙂

  3. sayang sayang = liebling liebling… ngganjel juga yak..

  4. kalau saya lebih suka menggunakan istilah serapan, bukan invasi, bung yari, bahasa asing tidak pernah melakukan invasi, kok, hehehehe😆 saya sependapat dengan bung yari, bahasa indonesia harus lentur dan adaptif dalam menerima pengaruh dari luar, khususnya bahasa keilmuan. banyak istilah asing yang belum bisa dicarikan padanannya dalam bahasa indonesia. bahkan, istilah2 asing yang sudah memasyarakat pun, menurut hemat saya tak perlu diganti dengan istilah dari bahasa daerah yang justru terasa lebih asing daripada istilah asing itu sendiri, seperti kata efektif, efisien, ekonomis, gobal, dan semacamnya. yang dirisaukan itu kan penggunaan tuturan yang jelas2 sdh ada dlm bahasa indonesia, tapi lantas diganti bahasa asing hanya lantaran demi gengsi atau takut diberi stigma bukan orang modern. seperti: “well, thanks, sorry, dan bejibun istilah lain. repotnya, itu sudah masuk dalam suasana resmi. nah, yang ini menurut saya, sudah ada indikasi melunturnya kecintaan dan kebanggan terhadap bahasanya sendiri. bahasa keilmuan jelas sangat berbeda dengan bahasa keseharian yang kita gunakan, baik dalam ragam lisan maupu tulisan, bung yari.

  5. Yeee…. Pak Yari, Bahasa Indonesia itu yang mana dulu? Apakah kita punya Bahasa Indonesia? Bahasa melayu kah? India? Arab? Bukankah tulisan kita ini katanya dari tulisan latin. Di Asia yang memakai huruf latin hanya Indonesia, Malaysia, dan Philipina, selebihnya huruf Asia asli (etnis) seperti Arab, Thailand, Jepang, China, dsb. Jadi huruf-huruf yang kita tulis di blog dari keyboard inipun juga bukan asli dari huruf Nusantara. Namun berkaitan dengan urusan kenegaraan dan pengunaan dalam kegiatan yang resmi maka harus diatur yaitu di dalam UUD 1945, dan setiap negara pasti juga memiliki ketentuan tersebut, sama halnya dengan PBB yang memakai Bahasa Inggis (yang pada akhirnya juga diterjemahkan dalam banyak bahasa). Nah permasalahannya adalah sejauhmana ketentuan yuridis tersebut responsif dan aktif untuk merevisi sehingga kosa-kosa kata perkembangan jaman tersebut untuk segera dilegalkan mesuk ke dalam kekayaan bahasa yang resmi.

  6. saya pikir malah akan memperkaya, dengan catatan istilah yang sudah ada harus disosialisasikan lagi. karena sekarang sudah masuk generasi cinta laura, apa-apa di campur-campur🙂

    semangat terus pak Yari🙂

  7. Bahasa Melayu di Malaysia pun banyak menyerap unsur asing, justru karena itu bahasa Inggris orang Malaysia bagus.

    Hehehe…saya tak terlalu memahami bahasa kang Yari, ini salah satu kelemahan terbesar saya, padahal ayah saya alm mengajar sastra dan bahasa Indonesia….bahasa Inggris lemah, bahasa Indonesia begitu juga….yang penting berani ngomong, walau mungkin bule garuk-garuk kepala….

    Syukurlah anak-anakku tak menurun kelemahan ibunya ini, mungkin menurun dari eyang kakungnya dan dari ayahnya…hahaha

  8. Setuju dengan Pak Sawali dan Laporan. Bahasa Indonesia kan memang dari asalnya campur2 bahasa asing dan daerah. Justru itu yang semakin memperkaya bahasa kita. Memang itu konsekuensi globalisasi. Kalo komputer misalnya diterjemahin secara harafiah, jadi alat hitung dong. Nggak sesuai dengan fungsinya yang udah jauh melebihi itu. Jepang malah membuka diri dengan menyediakan huruf katakana, khusus untuk menampung serapan kata2 asing yang susah dicari padanannya dalam bahasanya sendiri. Fleksibel jadinya. (tuh kan kata asing lagi, apa dong kalau diterjemahkan?) hehe.

  9. Tapi kadang-kadang penggunaan bahasa asing itu tetap dibutuhkan di dunia pendidikan, Pak. Seperti istilah ‘mouse’ kadang malah membingungkan jika disebut dengan ‘tetikus’. ‘Printer’ disebut dengan ‘Pencetak’, dan istilah-istilah dalam dunia pendidikan yang lain.

  10. Hmm, bahasa asing masih banyak kok dipakai untuk keperluan yang memang tidak bisa kita alih bahasakan. Karena pada dasarnya dari dulu kita tidak pernah diajari menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seperti, counter=pencacah. variable=wadah…dsb

  11. aa (Hawaii): lava kering yang sudah mengeras dan kasar. Bertentangan dengan sikap dan kegantenganku…woalllllllah *migren*
    dalam bahasa SUNDA aa ini artinya abang lelaki.
    dalam bahasa expresi aa artinya mangap minta disuapin🙂
    Kapan Pak mau bikin survey Urban Language. Artinya gini, setiap penduduk dari desa atau daerah kan banyak tuh yang urban ke kota besar. Mereka ini karena kebiasaan mengucapkan budaya dan logat daerah asalnya….akhirnya terbawa ke daerah tujuan. berbaurlah budaya itu dengan bahasa setempat. Mari kita tengok jakarta. Betawi aaaaaaaaaaaah pokonya semoa-moa, eh percampuran bahasa dan logatnya itu loh…berbahasa melayu tapi karakter sundanya muncul. di hitung2 berapa suku yang hijrah ke jakarta ya….dan ini memungkinkan adanya urban language bukan….(ya…meskipun kamusnya belum ada)

  12. wah baru tau saya ternyata ada juga bahasa indonesia yang diserap dalam bahasa inggris.

  13. selain itu bhs Indonesia seakan mengalami Jawanisasi… menyerap istilah2 dari bhs jawa dan kemudian me-nasional..

  14. Saya rasa wajar dan sah-sah saja bahasa Indonesia menyerap bahasa asing. Sama juga dengan bahasa-bahasa dari negara lain yang melakukan penyerapan dari negara lainnya. Namun masalahnya, ketika kosa kata yang sudah ada tidak digunakan tapi lebih suka menggunakan dari bahasa asing.
    Sebagai contoh, kita lebih suka menyebut snack untuk menyebut makanan ringan atau cemilan. Padahal ada kosa kata bahasa Indonesia yaitu ‘kudapan’ yang artinya sama dengan snack. Namun sayangnya, kata kudapan itu jarang terdengar dibandingkan kata snack. sehingga lama-lama, bahasa asli kita itu akan tergerus oleh bahasa asing.

  15. Om, saya numpang pengumuman🙂

    Download ebook pemikiran Islam, pemikiran umum, biogafi tokoh, Fiqih, Al Quran, Hadist, Novel, Bahasa Arab, Pernikahan dan keluarga Islami di

    http://arifrahmanlubis.wordpress.com/38/

    Hatur nuhun.

  16. Sudah lama ga isi comment di sini nih… Hehehe…
    Back to the topic, still, saya lebih seneng pake bahasa campur-campur. Terkadang saya sedih juga dengan orang-orang di sekitar saya, banyak yang bahkan EYD pun masih agak kesulitan, mungkin termasuk saya. Kosa kata dalam bahasa Indonesia sendiri pun bisa dibilang tergolong sangat minim. Tak heran kalo bahasa Inggris bisa lebih membumi di Indonesia.

  17. Bahasa indonesia yang baik dan benar juga mempunyai aturan menggunakan kata serapan dari bahasa asing. Jadi bahasa asing itu justru bisa memperkaya bahasa indonesia. kadang ada suatu kata yang tidak bisa dipresentasikan dengan bahasa Indonesia . Nah , saat itulah kita mau tidak mau harus menggunakan bahasa asing.

  18. gimana dengan generasi Changcuther, bahasa Indonesianya sudah EYD belum ?

  19. Iya betul pak, bahasa itu harus terus berkembang, sepertinya perkembangan bahasa indonesia itu agak lambat dan sosialisasinya kurang gress, kayak download jadi unduh, lah orang dah kebiasa duluan dengan download, jadi ngomong unduh berasa aneh padahal bahasa sendiri

  20. Bahasa serapan malah memperkaya bahasa kita kok😀

    eh iya tuh pak, terjemahan buku asing sering “wagu” . Hehehe

    BTW EYD malah jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari pak, soale kalo ngobrol enakan pake bahasa non baku:mrgreen:

  21. @AgusBin

    Untuk itulah Bin, mulai sekarang harus difikirkan bagaimana membuat Bahasa Indonesia menjadi bahasa orang2 yang ‘pede’ bukan orang2 yang ngga pede. Btw, walaupun nanti sudah menjadi bahasa yang pede, bukan berarti nggak usah menyerap bahasa asing kan?😀

    @Yoga

    Sebenarnya yang harus memikirkan hal2 kebahasaan seperti ini ya ahli bahasa (linguis) dong. Memangnya linguis2 kita kerjaannya ngapain ya?? Mikirin politik? Mikirin bisnis? Ya pantas saja kalo bahasa kita nggak bisa berkembang…. hehehe…..😀

    @ulan

    Lumayan… buat ganjal ban mobil, kalo mobil lagi mogok dong!:mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya

    Justru itu pak Sawali….. mulai dari sekarang harus difikirkan bagaimana Bahasa Indonesia dapat mengakomodasi kata2 ilmiah. Jangan tunggu nanti2. Jangan sampai Bahasa Indonesia lebih tenggelam lagi karena orang2 memandang rendah bahasa kita dan mereka semakin sering bilang “well, thanks, sorry” dsb. Mudah2an jikalau bahasa kita sanggup mengakomodasi kata2 ilmiah dapat sedikit menangkat gengsi bahasa Indonesia kita tercinta…

    @Laporan

    Sebenarnya Bahasa Inggrispun juga “tidak ada” jikalau merujuk pada komen anda tersebut. Hehehe…. Kenapa? Itu karena bahasa Inggris yang sekarang adalah ‘comotan’ dari Bahasa Jerman dan Bahasa Perancis. Bahasa Inggris yang asli sebenarnya adalah Gaelic, Wales dan sebagainya dan memakai abjad runik (rune) bukan abjad Latin.

    Memang di Asia cuma Indonesia, Malaysia dan Filipina yang memakai abjad Latin, dan juga Vietnam sebenarnya hanya saja abjad Vietnam banyak menggunakan diakritik (diacritic). Namun tidak penting apakah kita memakai abjad Latin atau bukan, yang penting adalah bagaimana kita dapat mengambil keuntungan dengan abjad Latin kita agar bahasa kita tetap eksis bahkan berkembang. Jangan sampai bahasa kita kalah populer dengan bahasa Korea yang memakai abjad Hangul….. Jadi yang terpenting kita dapat selalu menghargai bahasa kita dan bisa mengembangkannya…..

    @arifrahmanlubis

    Iya tuh…. sinetron2 seperti cinta Laura memang “merusak”, mana sinetronnya butut lagi !! Huehehehe……

    Ok… thanks ya atas info donlotnya..🙂

    @edratna

    Jangan salah bu…. Bahasa Inggris orang Malaysia juga banyak yang nggak terlalu bagus….. mereka juga banyak yang hanya bisa mencampurbaurkan bahasa saja….

    Nggak apa2 bu, masing2 orang punya kelemahan dan kelebihan sendiri2, tapi saya yakin kalau ibu dapat latihan lebih tekun lagi pasti akan bisa juga loh…. yang penting niat dan jangan pernah menganggap susah….😀

    @tunjung

    Itu masalah persepsi saja. Sebenarnya ‘computer’ itu juga aneh, tapi karena sudah terbiasa jadi terdengar tidak aneh. Sebenarnya ‘mouse’ juga aneh bahkan bagi orang2 barat pada awalnya, tapi karena sudah biasa maka ‘mouse’ jadi tidak aneh lagi. Coba kalau kita sering menggunakan kata ‘tikus’ daripada ‘mouse’ pasti tidak akan aneh lagi lama kelamaan….. (Lihat juga jawaban untuk komen pak Edi Psw di bawah)

    @Edi Psw

    Tapi kalau kita sering pakai kata ‘tikus’ atau ‘tetikus’ pasti tidak akan terasa aneh lagi. Seperti contoh: di Malaysia orang menyebut mobil itu ‘kereta’, kalau menurut kita aneh karena tidak biasa, sedangkan di Malaysia tidak aneh karena sudah terbiasa dengan kata ‘kereta’ untuk menyebut sebuah mobil…..🙂

    @Iis Sugianti

    Nah…. justru itulah fenomena yang harus diubah, namun tanpa harus ‘anti’ dengan penyerapan kata2 asing….🙂

    @pakde

    Apa hubungannya ‘aa’ dengan kegantengan?? Wakakakak….. Ya udah deh, yang waras ngalah deh!:mrgreen:

    Bikin survey?? Ya… ampun…. kaya nggak ada kerjaan aja! Siapa yang pengin ngebiayain?? Tapi nggak apa2 deh….. usul diterima…. tapi dikerjakannya nanti kalo udah dapet sponsor!:mrgreen:

    @Epat

    nah… sekarang udah tahu kan?🙂

    @gunawanwe

    Habis orang Jawa mungkin banyak penduduknya…. huehehe….:mrgreen:

    @Qizink

    Ya nggak apa2 pak…. sekali2 mau gaya kan nggak apa2….. hanya saja kita wajib bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan lebih bagus lagi jikalau kita bisa berbahasa Inggris yang baik dan benar pula, jangan hanya bisa mencampurbaurkan bahasa saja, betul nggak pak?🙂

    @Alias

    Sebenarnya Bahasa Inggris nggak terlalu membumi juga di Indonesia, hanya saja memang terkadang istilah2 asli bahasa kita jarang kita dengar (atau memang belum ada istilah bakunya) jadinya sering memakai kata2 Bahasa Inggris seperti: CD-ROM, mouse, printer dan lain-lain. Sebagian lain ada juga hanya gengsi2an….. tapi yang bisa berbahasa Inggris dengan baik mungkin jumlahnya jauh lebih sedikit…..

    @bakhtiar

    Betul…. yang penting kita harus tetap bisa berbahasa Indonesia yang baik tanpa perlu menjadi anti dengan kata2 serapan bahasa asing…..🙂

    @ubadbmarko

    The Changchuters?? Wah…. itu sih Inggris bukan, Indonesia bukan, bahasa okempun bukan!:mrgreen:

    @Raffaell

    Iya nggak apa2 yang penting dalam situasi atau tulisan resmi, kita tetap menggunakan kata “unduh” dan bukan “download”. Orang Inggris juga terkadang sering pakai istilah café au lait daripada white coffee, walaupun dari sudut bahasa Inggris (yang baik dan benar) kedua kata sama2 diakui resminya.🙂

    @MaxBreaker

    Hehehe…. iya kalo lagi ngobrol bebas malah “aneh” kalau pakai bahasa Indonesia resmi… hehehe…. Dan benar juga sering sekali buku terjemahan, terjemahannya jadi “wagu” dan mbacanya capek sekali…. hehehe….😀

  22. Tidak bisa pak Yari, karena bahasa itu sangat kental dengan sudut pandang (persepsi itu tadi), dan itu juga di Bahasa Inggris, saya pernah bikin abstraksi tesis (di mana harus bahasa inggris) eh tak tahunya salah semua. Bahasa Inggris untuk sehari-hari berbeda dengan inggris ilmiah, inggrisnya di fak ekonomi beda dengan fak kedokteran, psikologi, hukum, kedokteran, dsb. Kata “Urat nadi” di kedokteran beda artinya dengan di ekonomi atau hukum. Jadi penggunaan bahasa sangat terikat dengan sudut penggunaan. Nah permasalahannya bahwa sejauhmana ketentuan di dalam EYD tersebut responsif terhadap penggunaan kosa kata yang terus berkembang dan fleksibel di segala penggunaan.

    __________________________________

    Yari NK replies:

    Sebenarnya grammar dalam Bahasa Inggris sama saja baik itu di kedokteran ataupun di ekonomi. Hanya istilahnya saja yang berbeda. Anda harus memberi contoh yang lebih jelas agar kita semua tahu perbedaannya seperti apa. Menurut saya contoh ‘urat nadi’ yang anda sebutkan kurang representatif atau anda bisa memberikan contoh, atau maksud anda begini:

    – The doctors make sure the capillaries are not congested —–>medical
    – Agriculture is the core of the country’s economy ——-> economics

    kalau yang anda maksud kurang lebih seperti ini, itu bukan karena Bahasa Inggris kedokteran dan Bahasa Inggris ekonomi “berbeda”, itu karena kita terbiasa berfikir dengan Bahasa Indonesia dan terpaku oleh kata “urat nadi”, padahal logika yang benar adalah “kita memang tidak bisa menterjemahkan satu persatu kata demi kata dari bahasa indonesia ke bahasa Inggris”, kalau yang menulis Bahasa Inggris tidak melalui proses penterjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, maka tidak akan menemui masalah…. dan menganggap perbedaan ‘urat nadi’ tersebut adalah hal yang biasa dan tidak menganggap bahasa inggris berbeda pada dunia kedokteran ataupun ekonomi.🙂

  23. Saya kemaren diskusi dengan teman saya, dia katanya kecewa dengan orang Indonesia sekarang kalo berbicara itu menggunakan bahasa seenaknya aja tanpa memandang EYD, ada SPOK gitu deh. Tapi saya bilang gini, bahasa itu tergantung situasi pergaulan yang kita hadapi, kalo di forum resmi yah harus berbahasa Indonesia baik dan benar, kalo teman sepergaulan yah bahasa sehari2, kalo berhadapan dnegna orang bule sebaiknya menggunakan bahasa Inggris, jadi patokannya adalah siapa yang kita hadapi gitu.
    Jadi saya rasa Bahasa Indonesia kita tetap eksis, kalopun orang melihatnya seperti akan diinvasi karena memang ketika mereka berhadapan dengan lawan bicaranya mereka suka mencampur adukkan bahasa inggris-indo misalnya. Tapi kalo di rapat atau forum resmi pasti masih menggunakan bahasa Indonesia. hehehe

  24. Kalo saya sih lebih suka istilah “memperkaya” ketimbang “ancaman”, emang mas Yari merasa terancam toh dengan bahasa asing?

  25. Setiap bahasa di dunia ini memang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Hal ini merupakan hal yang biasa menurut saya. Besar kecilnya pengaruh ini umumnya ditentukan oleh seberapa besar pengaruh politik dan ekonomi bangsa penutur bahasa tersebut. Sebagai contoh, kuatnya pengaruh bahasa Inggris sekarang ini merupakan pengaruh kekuatan politik dan ekonomi Inggris raya di jaman kolonialisme dan Amerika Serikat di jaman sekarang ini. Ketika kekhalifahan Islam sedang mengalami jayanya, bahasa Arap pun banyak mempengaruhi bahasa lain.
    Contoh lain yang dekat misalnya bagaimana Bahasa Jawa mempengaruhi Bahasa Sunda. Pengaruh ini dibawa oleh kekuatan Kesultanan Mataram yang penrnah menguasai tatar Pasundan.
    Nah, dalam konteks saling mempengaruhi inilah nantinya ada bahasa-bahasa yang berkembang pengaruhnya dan ada bahasa-bahasa yang punah karena ditinggalkan penuturnya.

  26. waduh… kalo dibilang ancaman sih rasanya ngga yah om… karena sekarang apa bedanya dari sisi bahasa seakan akan mau di”steril”kan dari bahasa asing tapi dari aspek lain tetap saja sudah “tercampur” dengan sempurna?

    lagian ga ada ruginya juga… mari kita anggap saja memperkaya… kalo menciptakan bahasa baru mungkin pusing sendiri juga hehe

  27. Menurut saya bahasa Indonesia masih bisa diperkaya dengan istilah lain yang masih bisa diindonesiakan. ada contoh yang menurut saya berhasil seperti :
    spare part –> suku cadang
    Automatic Teller Machine (ATM) –> Anjungan Tunai Mandiri
    xxxization –> xxxisasi

    tetapi ada yang menurut saya merupakan produk serapan yang gagal :
    Real Estate –> Real Estat

    Bagimanapun juga istilah – istilah lain yang masih belum ada padanannya di Indonesia perlu juga diserap dan disosialisasikan sebagai Ejaan yang Benar. Sebab kalau tanpa sosialisasi ya ndak mungkin toh bangsa ini mengenali bahasanya sendiri.
    Lhah wong bahasa GAUL aja sukses diterapkan kok Bahasa Indonesia malah yang kerepotan pamakaiannya.

  28. bukan acaman pak ya memang bahasa indonesia kalah populer dari bahasa inggris tapi semua bisa dirubah oleh bangsa indonesia sendiri dengan jiwa-jiwa nasionalisme yang tinggi

  29. Salam
    Klo berbahasa tergantung sikon kali ya Sir, dan setiap orang memang punya style masing-masing, buat saya banyaknya kata serapan malah bagus, memperkaya bahasa kita, kan ini juga efek dari globalisasi yang unstopable..so asyik2 aja😀

  30. ayooo , kita lindungi , kita cintai dan kita gunakan bahasa Indonesia

  31. Memang katanya kita begitu miskin suku kata. Sehingga jadilah padanan kata yang kedengaran janggal, aneh dan lucu bila dilafazkan.

  32. tidak hanya bahasa indonesia saja yg menggunakan bahasa asing, bahasa daerah pun masih ada yg “di-serap” dari bahasa asing. tapi bahasa tersebut dianggap biasa saja karena emang sehari2 digunakan secara turun temurun. jadi tidak dianggap bahasa asing. hanya kadang lucunya, beda bahasa asing dengan bahasa daerah adalah dalam pengucapan. mgk jaman nenek moyang kita baca bahasa inggris ato belanda sesuai denga tulisan yang ada😀

  33. @aRuL

    Memang betul RuL…. sebaiknya kita berbicara menggunakan bahasa apa tergantung dari orang yang kita hadapi, termasuk juga dengan bahasa Indonesia. Masalahnya RuL karena kita lebih sering menggunakan bahasa pergaulan sehari2 daripada yang resmi, celakanya jadinya kita lebih sering pakai yang bahasa prokem daripada bahasa Indonesia yang resmi! Hehehehe…..

    @inos

    Sebenarnya menurut saya juga “memperkaya” bukan “ancaman”, tapi justru banyak pakar Bahasa kita yang menganggapnya sebagai “ancaman”.

    @doeytea

    Memang betul kang doey, kuatnya pengaruh suatu bahasa di dunia ini tergantung dari kuatnya pengaruh politik, ekonomi (dan tentunya juga teknologi) suatu bangsa yang punya bahasa tersebut, mungkin banyaknya penduduk juga sedikit memperkuat kedudukan bahasa tersebut. Ini memang sudah dialami oleh berbagai bangsa di dunia ini dalam sejarah selama berabad2…..

    @natazya

    Hehehe….. kalau saya sih memang menganggapnya sebagai “memperkaya”, mudah2an para pakar bahasa yang merasa bahasanya “terancam” bisa cepat mengembangkan bahasa Indonesia terutama untuk2 istilah2 modern yang belum ada padanan katanya, sehingga “ancaman” tersebut dapat berkurang sedikit…. hehehe…..

    @adipati kademangan

    Nah, itu dia, masalahnya peran mass media yang juga ikut mempopulerkan kata serapan bahasa asing, sehingga kata serapan dari bahasa sendiri menjadi lebih asing daripada kata serapan dalam bahasa asingnya (seperti kata Pak Sawali). Tapi saya memang setuju, sebaiknya kita sedikit2 juga perlu menggunakan kata serapan (padanan) dari bahasa kita sendiri…..

    @dhany

    Pertanyaannya adalah bagaimana menciptakan jiwa2 nasionalisme yang tinggi tersebut agar bahasa kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri?? Begitu kan?? Hehehe……

    @nenyok

    Memperkaya iya, tapi mungkin kita harus ada apresiasi sedikit terhadap bahasa kita sendiri juga, jadinya seimbang gitu….. hehehe……

    @realylife

    Kita sudah memulainya belum ya??:mrgreen:

    @Rafki RS

    Mungkin maksudnya miskin kosa kata bukan miskin suku kata kali. Mungkin padanannya dalam Bahasa Indonesia ada hanya saja jarang terdengar jadi kedengarannya aneh, coba kalau kita sering memakainya….🙂

    @eNPe

    Kalau bahasa daerah merasa oke2 saja dan tidakmerasa “terancam” berarti isu “ancaman” bahasa asing ini cuma isu yang dilontarkan oleh para ahli bahasa saja dong?? Huehehe…..:mrgreen:

  34. indonesia kalo soal bahasa memang sangat kaya, karena diambil dari puluhan bahkan ratusan bahasa daerah. jadi apa salahnya mengambil juga dari luar negeri? sudah mendunia deh kalo soal bahasa buat indonesia.

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Saya percaya juga kok kalau bahasa Indonesia itu kaya, hanya saja mungkin para pakar bahasa kita yang kurang bisa menggali bahasanya sendiri. Atau mungkin para ahli bahasa kita sendiri memang sudah terpengaruh bahasa2 asing?? Tapi bagaimanapun juga memang benar kita tidak perlu menutup diri dari kata serapan asing.🙂

  35. Mencintai Indonesia
    termasuk bahasanya
    Bahasa adala identitas
    Dan kita haus bangga

    Tapi kadang kita ga bisa berbahasa yang baik😦

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Kalau ada kata ‘lu’ atau ‘gue’ itu pasti jelas bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar ya??:mrgreen:

  36. Konon, bahasa menunjukkan bangsa. Padahal, orang Mesir, Sudan, Syria, etc. makai bahasa Arab. Australia, AS, pakai bahasa Inggris. Nah, ada benarnya bila ada invasi, kaya alien gitu. Bahasa Indonesia? Wong pakarnya doyan pakai istilah bahasa asing (tapi ngak salah juga kan). Harap maklumlah.

    ____________________________

    Yari NK replies:

    Nah, itu dia pak! Mungkin atribut pakar bahasa kita “harus” diganti menjadi pakar kata2 serapan, karena lebih ahli dan lebih familiar dengan kata2 serapan asing! Hehehehe…..😀

  37. Katanya dari 10 kata dalam bahasa Indonesia, 8 di antaranya adalah dari bahasa luar.
    Mungkin wajar saja kalau “diserbu” istilah/kata2 asing seperti sekarang. Namanya juga bahasa yang baru ada…(Kalo ga salah, baru 1928 Sumpah Pemuda, istilah Bahasa Indonesia benar2 dibakukan…). Masih berkembang..

    _____________________________________

    Yari NK replies:

    Mudah2an berkembang ke arah yang benar ya?😀

  38. yang jg perlu diwaspadai keknya bahasa “gaul” yang bukan termasuk bahasa inggris (atau bahasa asing lainnya) tp juga tidak bisa dikatakan bahasa indonesia, hehehe.. *mending kalo kosakatanya baik* kekeke.. dan sayangnya bahasa seperti itu lebih cepat berkembang daripada EYD😀

    _____________________

    Yari NK replies:

    Termasuk juga bahasa dan gaya bahasa yang digunakan para bencong. Itu perlu diwaspadai juga kan?:mrgreen:

  39. Saya sangat prihatin bahasa indonesia akan semakin tergeser dan bisa akhirnya hilang , kalau tidak diawasi . yang bisa menjadikan bahasa indonesia itu menjadi tuan dinegeri sendiri adalah kita pemakai bahasa itu sendiri. di negara prancis. orang wajib menggunakan bahasa prancis dan jarang orang menggunakan bahasa inggris dalam berkomunikasi.

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Betul sekali…. tetapi syaratnya Bahasa Indonesia harus juga dapat mengakomodasi kata-kata asing terutama di bidang sains dan teknologi, agar dapat bersaing dengan bahasa asing. Nah…. dengan begitu, bahasa Indonesia lebih punya kesempatan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

  40. bahasa asing memang akan memperkaya bahasa indonesia, begitu sebaliknya, bahasa kita juga akan memperkaya bahasa mereka.

    _________________________________________

    Yari NK replies:

    Betul sekali…. namun untuk sekarang, bahasa kita hanya terbatas dalam memperkaya bahasa mereka hanya dengan kosa kata-kosa kata dari kebudayaan tradisional kita saja…..🙂

  41. Ping-balik: Bookmarks about Mambo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s