Pendidikan Membuahkan “Diskriminasi”??

Sebenarnya fikiran seperti ini sudah ada sejak dulu dalam fikiran saya, tapi entah kenapa, baru terfikirkan sekarang oleh saya untuk membuat artikel dengan tema seperti di atas. Kita semua mengetahui bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dan tidak dapat diabaikan lagi terutama di zaman globalisasi yang kompetitif ini. Tanpa pendidikan yang baik tentu saja suatu kelompok masyarakat atau suatu bangsa tidak akan mampu bersaing secara sempurna dengan bangsa lain yang lebih ‘terdidik’. Namun terlepas dari peran pendidikan di sebuah masyarakat, saya sejak dulu senantiasa berfikir…. Apa tujuan hakiki dari pendidikan tersebut?? Apakah untuk meningkatkan kualitas manusia baik skill ataupun moralnya, atau pendidikan hanya menghasilkan masyarakat yang terkotak-kotak??

Jikalau anda seorang karyawan atau minimal pernah menjadi karyawan tentu anda pernah merasakan atau minimal melihat kenyataan bahwa ada banyak posisi2 tertentu di dalam perusahaan yang tidak bisa dijangkau oleh pelamar2 dengan tingkat pendidikan yang “kurang tinggi”. Ini terkadang timbul pertanyaan, apakah posisi tersebut benar2 tidak bisa dikerjakan oleh seseorang yang dengan tingkat pendidikan yang kurang tinggi?? Jikalau bidang engineering (bukan bidang montir teknis loh!) mungkin sedikit masuk akal jikalau paling sedikit pendidikannya adalah S1 (kecuali mungkin teknik komputer karenaΒ  yang saya lihat ‘ahli2’ komputer keluaran kursus seringkali nggak ada bedanya dengan sarjana komputer yang lulusan S1:mrgreen: ), namun bagaimana di bidang2 lainnya??

Saya pernah bertanya kepada teman saya yang waktu itu bekerja di sebuah bank pemerintah di Jember. Saya iseng2 bertanya kepada dia yang lulusan S1 itu: “Kerjaan kamu di bank itu, sebenarnya yang mana sih yang benar2 nggak bisa dikerjakan oleh seorang lulusan SMA??” Hingga kini teman saya tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan saya tersebut. Terlepas dari bisa tidaknya ia menjawab, saya yakin banyak sebenarnya posisi2 yang ditujukan untuk lulusan S1 sebenarnya bisa dikerjakan oleh lulusan D3 bahkan SMA. Toh pada saat kita masuk kerja, kita sama2 belajar lagi. Yang lulusan D3 atau SMA, jikalau diberi kesempatan yang sama mungkin dapat melakukan pekerjaannya sama baiknya dengan yang lulusan S1.

Memang saya mengetahui bahwa ijazah adalah filter awal yang paling mudah walau belum tentu akurat dalam menyaring calon karyawan. Namun tidak bisakah dikembangkan filter2 awal yang lebih obyektif dan lebih akurat sehingga ijazah bukan hanya satu2nya filter awal yang menentukan layak tidaknya seseorang untuk bekerja pada posisi tertentu?? Walahualam deh….. itu kerjaannya orang2 SDM hehehe….. Dan saya juga sering mendengar bahwa mereka yang lulusan S1 seringkali tidak menginginkan lowongan baru dan kesempatan karir mereka dibedakan dengan yang lulusan S2, namun ironisnya mereka (yang lulusan S1) menutup diri dengan mereka yang lulusan SMA atau D3! Sebuah ketidakkonsistenan! Kenapa begitu?? Ya…. mudah saja….. mungkin mereka yang lulusan S1 masih mendominasi jajaran manajerial di perusahaan tersebut sehingga policy penerimaan karyawan proses rencana karir mereka sangat S1-sentris!

Penutupan kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung dalam mendapatkan pendidikan lanjutan itulah yang mungkin menyebabkan “diskriminasi” di dalam masyarakat. Tentu saja masih ada jalan lain bagi mereka yang berpendidikan kurang tinggi untuk menggapai posisi yang tinggi dalam status sosial seperti menjadi pengusaha ataupun artis terkenal misalnya. Namun toh kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak saudara2 kita yang tidak berkesempatan untuk berpendidikan tinggi hilang kesempatannya untuk menggapai karir yang lebih tinggi walaupun mungkin ia sanggup mengerjakannya dengan baik bahkan mungkin lebih baik dari mereka2 yang lulusan S1.

Kita toh selama ini juga sering menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri, bahwa mereka2 yang berpendidikan lebih tinggi secara formal belum tentu cara berfikirnya dan hasil kerjanya lebih baik daripada mereka2 yang berpendidikan lebih rendah. Bahkan saya juga sering melihat mereka2 yang lulusan luar negeri juga pulang hanya dengan selembar ijazah dan juga mungkin Bahasa Inggris yang lebih baik sedikit. Mungkin mereka di luar negerinya cuma dapat universitas2 yang kelas kambing! :mrgreen: Walahualam deh! πŸ˜€ Yang penting menurut saya, jangan hanya membanggakan ijazah dan juga jangan membanggakan ijazah luar negeri dari universitas kelas kambing, tapi banggalah dengan kemampuan riil anda dan jangan cepat puas! Boleh setuju dan boleh tidak setuju! πŸ˜€

Iklan

35 responses to “Pendidikan Membuahkan “Diskriminasi”??

  1. wah rupanya diskriminasi bukan hanya ras dan jender tapi jg ternyata tingkat pendidikan bisa jg jadi faktor diskriminan ya? Tapi memang kenyataan wong presiden yg lulusan s3 prestasinya jg cuma beda tipis sama yg ga sekolahan hehe..

  2. Banyak juga pak yg keluar negeri pulang-pulang bawa ijasah S2 *hiks* kampusnya pun memang ada atau tidak kita kan juga ndak tahu :mrgreen:
    Kalau ijasah menentukan derajat strata tingkat pendidikan di KTP saya setuju :mrgreen:
    Kalau untuk melamar pekerjaan dibutuhkan seleksi awal yaitu ijasah merupakan hal yg wajar, inilah diskriminasi dalam arti yg positif yaitu membandingkan satu pelamar dengan pelamar yg lain. Namun untuk menilai kualitas kinerja setelah bekerja, tidak bisa semata-mata dengan melihat ijasah ❓
    Di dalam dunia karier mungkin tidak hanya cukup modal “pandai” tetapi yang lebih utama harus punya modal untuk “Berpandai-pandai” :mrgreen:

  3. Mau ga mau kita musti liat realitas ini dan harus juga menyesuaikan, karena memang begini yang terjadi dalam masyarakat kita…

    Meth KnaL… ^^

  4. Sebuah lowongan untuk bekerja sebagai tukang cat, trus yang ndaftar S2 (lebih spesifk lagi jurusannya adalah sipil) . Bagaimana menurut kang Yari ditrima ato ndak ?
    Lhah kalo memang sang S2 pawai, expert, lihai dalam pekerjaan mengecat dan dia memang sedang butuh pekerjaan. apa ya mesthi ditolak …

  5. “juga jangan membanggakan ijazah luar negeri dari universitas kelas kambing”

    WOW.. ternyata di luar negeri ada Universitasnya Kambing yang mas? Ck ck ck *sambil geleng-geleng kepala*

  6. Boss… tapi kenapa mentalitas dan daya analitis yang cuma lulusan SMA kurang banget dibanding yang sudah S1. Jangankan yang SMA, yang S1 aja juga banyak yang gak sukses. Di kantor kami ribuan orang sudah di tes untuk mencari beberapa orang di posisi pelaksana, berbulan-bulan belum dapat juga padahal katanya pengangguran di Indonesia banyak. Jika seperti ini, ada dua kemungkinan standar kantor kami yang terlalu tinggi, dan pasar tidak mampu menyuplai. Lantas jika pasar tidak mampu menyuplai ini salah siapa?

  7. Tanpa sadari dalam pendidikan, kita dipisahkan dalam kelas-kelas. Dan itu terus menjalar dalam kehidupan sehar-hari, termasuk dalam pekerjaan… kita sekarang hidup dalam ‘dunia kelas.’

  8. Sebuah lembaga yang baik, adalah bila tetap memberikan jenjang karir setinggi mungkin, namun tetap ada prasyaratnya. Banyak orang yang dulu lulus SMA, masuk Bank, kemudian sekolah lagi….dan ikut lagi dalam test untuk jenjang kenaikan…jika lulus dia akan masuk pada jenjang di atas tersebut. Demikian juga jenjang lainnya. Yang perlu diperhatikan adalah bukan dibalik, kalau makin tinggi pendidikannya pasti karirnya naik…ini salah karena tetap ada prasyarat, dan kompetensi tertentu.

    Bidang perbankan kotaknya banyak, ada yang spesialis, dan memerlukan keahlian tertentu, ada yang general..mungkin teman bapak yang di Jember kurang memahami, karena ini termasuk strategi SDM (yang tahu orang kantor pusat dan membidangi masalah SDM) untuk mengembangkan kualitas karyawan, yang harus ditunjang dengan strategi pendidikannya. Pada bidang job tertentu, membutuhkan kedalaman kompetensi tertentu, serta ilmu tertentu….biasanya perusahaan memberikan pelatihan, dan jika memenuhi syarat pasti akan naik ke atas. Jadi istilahnya tetap ada jalur yang naik ke atas, cuma masalahnya mau lewat jalur lambat atau jalur cepat. …atau perlu zig zag dulu…Sedangkan khusus untuk jajaran Direksi, ini sudah di luar strategi perusahaan…karena ada keputusan top manajemen republik ini.

    (sekadar sharing pengalaman)

  9. kemaren saya juga turun yang menangani teman tunanetra yang di tolok untuk mendaftar disekolah gara2 karena di tidak normal kan sekarang sudah ada tuh mas uud yang berbunyi semua mempunyai hak untuk pendidikan diindonesia.

    apa memang pendidikan sekarang memang harus dengan money…money dan money yah mas
    pendidikan mahal niscaya endonesia kedepannya akan lenyap

  10. postingan yang menarik, bung yari. itulah salah satu problem dunia pendidikan kita ketika orientasi keilmuan lebih didasari pada selembar ijazah sebagai legalitas formal bahwa seseorang telah memiliki kualifikasi di bidang tertentu. karena orientasinya sudah ndak bener, akhirnya orang menghalalkan segala cara utk mendapatkan ijazah, akibatnya? seringkali kualifikasi yang mereka miliki tak sesuai dg ijazah formalnya. ini agaknya juga tak lepas dari pencitraan masyarakat yang kadung menjadikan ijazah sebagai tujuan utama dalam menempuh pendidikan, meskipun tdk semuanya demikian. dalam dunia kerja, idealnya proses rekrutmen bukan hanya semata2 mengandalkan ijazah, melainkan perlu diimbangi dg uji keterampilan yang secara spesifik berkaitan langsung dengan pekerjaan yang akan digelutinya.

  11. Menurut pendapat saya:
    Untuk di Indonesia saat ini mungkin memang masih belum bisa dibuat standart yang jelas karena minimnya lapangan kerja dibandingkan dengan pencari kerja. Jadi biasanya employer menggunakan tingkat pendidikan atau kasarnya ijazah sebagai filter awal. Karena employer mempunyai bargain yang sangat kuat maka mereka akan memilih yang terbaik. Bukan berarti orang yang lulusan SMA tidak bisa mengerjakan hal simple yang di kerjakan oleh lulusan S1, tapi masalahnya adalah sang lulusan S1 yang mempunyai pendidikan lebih tinggi mau mengerjakan hal yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh sang lulusan SMA. Jadi menurut saya pangkal dari permasalahannya adalah minimnya atau terbatasnya lapangan kerja. Selain itu berdasarkan pengalaman saya jika anda ingin bersaing dengan mereka yang berpendidikan tinggi silahkan tunjukkan kemampuan anda dan yang pasti harus sangat menonjol tidak sekedar sama tetapi lebih.

  12. @AgusBin

    Sepertinya memang banyak hal2 yang luput dari perhatian kita yang secara tidak langsung “mendiskriminasikan” sekelompok orang di tengah2 masyarakat kita termasuk para pencari tenaga kerja. Tapi… mungkin diskriminasi seperti itu masih jauh lebih baik dibandingkan diskriminasi ras, agama, jender, orientasi seks dan lain sebagainya….. πŸ™‚

    @Laporan

    Sebenarnya modal “berpandai-pandai” juga tidak apa2, asalkan modal “berpandai-pandai” tersebut jangan menjadi dominan dan mengalahkan modal “pandai”-nya. Kalau sudah begitu, ya jadilah masyarakat kita bergantung pada “katabelece” dan penjilat yang hasilnya seperti masyarakat kita sekarang ini….. hampir terbelakang di segala bidang. 😦

    @KruciaL

    Mudah2an penyesuaian2 yang terjadi di negeri ini tidak selalu berjalan ke arah yang negatif ya? Salam kenal juga….. πŸ™‚

    @adipati kademangan

    Kalau S2 mengerjakan tukang cat?? Ya….kenapa tidak?? Tapi bukankah…. sayang S2nya?? Kecuali kalau dia memang mengingkan pekerjaan sebagai tukang cat ya… silahkan saja. Bahkan S3-pun boleh2 atau sah2 saja bekerja sebagai tukang cat… tapi ya itu….. sayang kan ijazahnya…. potensi yang berada pada dirinya hilang begitu saja….

    @inos

    Mungkin universitasnya kambing di luar negeri lebih bagus dibandingkan universitas kelas kambingnya huehehehe…. :mrgreen:

    @Yoga

    Daya analitis sebenarnya tidak banyak bergantung pada tingkat pendidikan (walaupun ada pengaruhnya) namun mungkin lebih banyak karena orang tersebut yang memang jarang berfikir analitis atau karena jarang berhadapan dengan problematika yang memerlukan analisis yang dalam. Memang betul bahkan yang jurusan S1 pun terkadang daya analisisnya dangkal. Contoh sederhananya. saya pernah punya teman S1 ITB jurusan Informatika tahun 1990an dulu, dia pernah minta bantuan saya untuk merakit PC karena saya memang dari dulu senang sekali merakit PC sendiri, rasanya puas kalau sudah berhasil merakit PC sendiri. Suatu hari ia saya sindir sebaiknya ia bisa merakit PC sendiri apalagi ia jurusan informatika. Teman saya (bukan teman sih sebenarnya tapi kenalan mungkin tepatnya :mrgreen: ) tersebut dengan entengnya berkata bahwa merakit PC itu bukan pekerjaan informatika karena informatika hanya berhubungan dengan perangkat lunak dan sistemnya saja, sedangkan merakit PC itu lebih pada “pekerjaannya” elektro. Saya terus berkata balik, lho memangnya kenapa kalau pekerjaannya “elektro”? Selama itu berguna, apalagi merakit PC saya yakin pasti berguna untuk orang2 informatika juga karena masih dekat dengan bidangnya, kenapa kita tidak mencoba untuk mempelajarinya?? Sama seperti kita belajar Bahasa Inggris misalnya, tidak perlu sarjana Bahasa atau Sastra Inggris kan?? Kalau itu berguna ya pelajari saja…… Nah, begitulah contoh dangkal “analisis” atau logika salah seorang calon S1 dari sebuah Institut terkenal….. 😦

    @qizinklaziva

    Mungkin sebenarnya hidup di “kelas-kelas” tidak menjadi masalah, yang penting adalah setiap orang sedapat mungkin mendapatkan kesempatan yang sama selama ia masih mampu…….

    @edratna

    Nah….. justru itu bu…. kuncinya adalah sekolah lagi seperti yang ibu katakan, itu menandakan bahwa kita sama2 belajar lagi. Jadi sebenarnya garis besarnya adalah jikalau pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan ijazah atau pendidikan S1 kita, itu berarti kemungkinan sangat besar pekerjaan tersebut dapat dikerjakan oleh seorang lulusan SMA atau D3 atau yang lebih rendah dari S1.

    Memang betul bu….seperti juga pada artikel saya di atas…. ada juga pekerjaan2 yang butuh analisis yang tinggi termasuk di bank juga mungkin. Namun pertanyaannya adalah apakah pekerjaan analisis tersebut benar2 memerlukan keahlian lulusan S1 atau bisa dipelajari oleh semua orang kemudian?? O iya, btw, saya bertanya dengan teman saya itu adalah pekerjaannya dia di bank dan bukan seluruh pekerjaan di bank…. πŸ™‚

    @Gelandangan

    Tapi mas…. walaupun saya setuju tidak boleh ada diskriminasi termasuk untuk mereka yang tuna netra, tapi bukankah seorang tuna netra diberi pendidikan dengan metoda khusus sehingga ia lebih bisa menyerap pelajaran lebih maksimal lagi sesuai dengan kekurangan indranya?? Tapi kalau ia merasa sanggup… ya sebenarnya memang tidak ada alasan untuk menolaknya….. πŸ™‚

    @Sawali Tuhusetya

    Betul sekali pak Sawali….. mungkin itulah salah satu efek negatifnya kalau sebuah masyarakat terlalu “mendewa2kan” ijazah, akibatnya seseorang hanya memaksakan mendapatkan ijazah tanpa memperdulikan kualitas yang ada pada dirinya…… serba salah kan pak? 😦

    @yulism

    Betul sekali mbak….. ketidakseimbangan antara lapangan kerja dan tenaga kerja di negeri ini, menyebabkan ijazah menjadi sebuah filter awal yang sangat memudahkan walaupun belum tentu akurat. Ini lebih diperparah lagi oleh sebuah sistem pendidikan yang belum begitu bagus, sehingga mereka2 yang mempunyai ijazah tapi kurang bermutu kemungkinan besar dapat ikut terjaring, sementara mereka yang tidak punya ijazah tapi berpotensi kemungkinan dapat tidak terjaring…… 😦

  13. O iya…. saya juga baru ingat ada juga loh yang mau cari jodoh lihat2 ijazah juga… hehe.. seolah2 percaya bahwa kalo ijazahnya ga sama/lebih rendah perkawinan ga berjalan bahagia.

  14. @AgusBin
    Hehehe.. jadi ingat suku tertentu yang kaum prianya “dibeli”. Kalau ijazahnya insinyur harganya lebih mahal dari sarjana sosial, dokter juga lebih “jual able” πŸ˜€

  15. yup
    lebih baik kita tunjukkan kemampuan diri kita
    bukan hanya memperdagangkan ijazah πŸ˜€

  16. Betul itu pak yari, seumpama jikalau saya menjadi direktur perusahaan, maka saya akan mengangkat seorang wakil direktur yang bisa bekerja meskipun tidak terlalu jenius, dibandingkan dengan orang yang jenius tetapi tidak bisa bekerja. Inilah sebetulnya yang terjadi di dunia kerja. Kalau di sektor swasta mungkin ini sudah berlaku, ijasah kesarjanaan nomor dua yang penting bisa tidak bekerja. Nah ini berbeda dengan kondisi di pemerintahan (birokratif) yang tetap menjadikan ijasah sebagai tolak ukur, sebab pola promosi karier lebih banyak ditentukan pada ijasah (mungkin juga like & dis-like), bukan pada kinerja yang sesungguhnya πŸ˜€ Mana pantas lulusan S1 jadi Kabag, padahal kan belum tentu yang S2 lebih bagus kerjanya :mrgreen:

  17. Wallahualam…terlepas dan tidaknya dari gelar yang sudah di sandang nih….(maklum saya kerja di swasta), ‘Membawahi’ satu profesi jabatan yang tidak memandang status gelar.

    Kebetulan Profesi yang di geluti ini dibayar dengan salary yang sama, jadi nggak ada tuh perbedaan gelar jabatan, yang membedakan hanya grade atau nilai dari kemampuan berekspresi saat berhadapan dengan microphone.

    Menariknya ternyata ada yang berpendidikan hanya D3 tapi aktualisasi kerja melebihi kemampuan berfikir kemampuan S1 yang katanya patut di perhitungkan, padahal….mmmmmmmh belum tentu talenta nya sebanding dengan kemampuan anak D3. Singkatnya jadi D3 ataupun S1 tidak memiliki kesetaraan yang cukup contras.

    Menariknya lagi kemampuan mereka D3 ataupun S1 ketika berbicara di depan microphone tak memperlihatkan status gelar, karena yang di sampaikan kepada khalayak adalah bahasa tulisan yang sudah di buatkan oleh scriptwriter. Terbayang apa jadinya saat scriptwriter yang di rekrut hanya lulusan D1 atau D3 dengan kemampuan menulis anak lulusan SD. Apa yang dituangkan dalam script tentunya jadi amburadul.

    S1 apa D3 kalau menurut saya hanya tingkatan gelar yang kalau di pekerjakan di pemerintahan mungkin salarynya sudah gede. Itupun di perhitungkan dengan lamanya waktu kerja bukan? Yang turut membedakan mereka adalah lama tidaknya mereka terjun dalam satu bidang. Semakin lama semakin mahir otomatis.

    Sayang banget jika pendidikan S1 tapi kemampuan berkarya hanya seperti anak SMA. Betah banget memelihara OON. Masak bisa kalah sama anak D3 yang punya talent Jempolan.

    Contoh kecilnya Bill Gates, apa status gelar D.O nya jadi benturan untuk sukses? Kan tidak. Jadi untuk apa memperjual belikan Gelar Pendidikan?
    Begitulah menurut pandangan saya sebagai anak SD.

  18. Memang benar-benar ironis sekali kalau jenjang pendidikan digunakan sebagai tolok ukur untuk menyeleksi karyawan dalam sebuah perusahaan. Padahal sebenarnya skill lebih penting daripada selembar ijasah.

    Apalagi prosedur perekrutan karyawan yang diterapkan perusahaan kebanyakan masih menempatkan jenjang pendidikan tertentu sebagai syarat utamanya, sehingga kadang-kadang kurang akurat karena banyak juga karyawan yang jenjang pendidikannya tinggi tapi skillnya kalah dengan karyawan yang jenjang pendidikannya rendah.

  19. Mungkin perusahaan-perusahaan itu cari mudahnya saja, efisiensi dalam proses perekrutan atau pemilihan personil barangkali. Jadi kesempatan untuk kawan-kawan yang belum berpendidikan tinggi jadi agak terhambat. Agak didiskriminasi.

  20. salam
    saya pikir memang pendidikan sangat berpengaruh terhadap jenjang karir, tetep kan ada bedanya antara S1 dan S2 misalnya, meski mungkin pada faktanya dalam memulai pekerjaan sama-sama blank dan di training lagi dari NOL, fenomena yang ada pendidikan kita tak menitikberatkanpada skill hanya formalitas mendapatkan ijazah jadinya ya kesannya lulusannya kurang berkualitas, *tidak mengeneralkan*

  21. ijasah tanpa skill hanya bagaikan makan nasi tanpa beras ….maksudnya apaan tuh…hehe tapi ad pula orang yang bisa mengalahkan orang berskill atau orang berijasah yakni orang yang beruntung…bener gak pak

  22. pendidikan tidak berarti punya keterampilan, kemauan, dan kegigihan yg sama… πŸ™‚

  23. kayaknya postingan ini ditujukan kepada para penyeleksi2 pekerja deh πŸ˜€

  24. Pendidikan kita saat ini cenderung diskriminasi… Nggak sesuai antara harapan dan realitasnya….

  25. @AgusBin

    Nanti sampeyan kalo udah lulus S2 juga mo milih2 jodoh berdasarkan ijazah ya Bin? :mrgreen:

    @Yoga

    Sebenarnya sih…. kalau menurut saya insinyur atau ilmu alam itu bukan lebih mahal ‘bergengsi’ gelarnya melainkan ilmunya dibandingkan ilmu2 sosial. Bukan karena apa2, mungkin kalau ilmu alam dan engineering (engineering adalah penciptaan suatu alat berdasarkan ilmu2 alam yang dipelajari manusia) itu ilmu ciptaan Allah sedangkan ilmu2 sosial itu ciptaan manusia (ada nggak ya ilmu2 sosial ciptaan Allah??), itu sebabnya ilmu2 alam dan teknologi lebih sulit menguasainya dibandingkan menguasai ilmu2 sosial, bukannya meremehkan ilmu2 sosial tapi kenyataannya memang begitu.

    Walaupun dalam hati saya kurang setuju dengan kebiasaan suku yang mbak Yoga ceritakan (yang menghargai lebih insinyur atau dokter daripada sarjana2 sosial), namun kalau itu merupakan adat orang lain, saya tidak berhak untuk menilainya…. hehehe…… :mrgreen:

    @achoey sang khilaf

    Betul mas achoey…. ijazah itu seharusnya dicari dengan keringat dan otak bukan dengan uang…..

    @Laporan

    Bagian yang kurang saya setujui adalah mengangkat wakil direktur yang tidak terlalu jenius (maksudnya tidak terlalu pintar?) tapi bisa bekerja daripada yang jenius tapi tidak bisa bekerja. Tidak bisa bekerja maksudnya bagaimana?? Moso sih jenius nggak bisa bekerja?? Itu mah namanya idiot dong huehehehe….. Atau maksudnya nggak bisa bekerjasama?? Kalau seorang jenius tidak bisa bekerjasama sepertinya lebih mudah untuk memperbaikinya dibandingkan orang yang kurang cerdas tapi bisa bekerjasama. Memperbaiki orang yang kurang cerdas menjadi cerdas sepertinya lebih susah. Dan ingat kecerdasan itu tetap perlu dalam bekerja, karena orang yang tidak cerdas biasanya kerjanya statis, invariatif dan kurang improvisasi dan kurang kreatif. Ingat, dalam manajemen modern motto: working smarter kini lebih berlaku dibandingkan working harder. O iya dan satu lagi, kecerdasan tidak selalu berbanding lurus dengan gelar akademis loh…. jadi di komentar anda selanjutnya saya sangat setuju sekali. πŸ™‚

    @Pakde

    Huehehehe… waduh komennya pakde sedikit berapi2 nih. Pakde ini pasti lulusan D3 yah?? Biasa deh….. yang D3 berusaha untuk “mendegradasi” atau men-depose yang S1. Yang S1 berusaha untuk men-depose yang S2 dan sebagainya. :mrgreen:

    Memang betul pakde, banyak juga profesi yang tidak mengenal gelar ijazah. Kepandaian berbicara di depan mic tentu itu salah satunya. Juga artis atau pelawak, siapapun yang bisa melawak walaupun itu sekelas pembokat dan lucu nggak garing bisa menjadi pelawak yang handal. Sebaliknya kalau dokter apalagi dokter bedah dan engineering tentu agak sulit jikalau itu di bawah lulusan S1. Jadi memang ada domain pekerjaan yang bebas dimasuki siapa saja asal ada bakat tapi ada pula domain pekerjaan khusus yang hanya bisa dimasuki oleh orang yang sudah diasah skill-nya. πŸ™‚

    @Edi Psw

    Begitulah pak…. seharusnya memang tidak begitu… tapi benar kata mbak Yulism di atas, itu karena lapangan pekerjaan kita tidak seimbang dengan jumlah angkatan kerja kita sehingga cara yang termudah (walau mungkin kurang akurat) sebagai filter pertama adalah ijazah. Tentu ini ada resikonya, apalagi di dalam sistem pendidikan yang belum begitu baik, bisa2 banyak orang2 yang tidak bermutu tapi punya ijazah dapat ikut terjaring…..

    @suhadinet

    Betul pak…. sebagai efisiensi waktu dan tenaga dalam menyaring tahap pertama calon2 karyawan, maka digunakanlah filter ijazah. πŸ™‚

    @nenyok

    Nah… itu dia mbak…. kalau sistem pendidikan kita belum bagus, dikhawatirkan kita akan mencetak tenaga2 kerja yang kurang trampil namun berijazah, yang mungkin akan berhasil terjaring di perusahaan2…. hasilnya…. ya tahu sendiri deh…. πŸ˜€

    @dhany

    Tetapi ada lagi yang lebih “hebat” yaitu orang yang ber-skill sekaligus orang yang beruntung, betul nggak??? Huehehehe….. :mrgreen:

    @theloebizz

    Harus punya kesadaran internal dari dalam diri sendiri untuk mewujudkan seseorang yang punya ketrampilan, kemauan dan kegigihan….. πŸ™‚

    @aRuL

    Siapa tahu nanti arul jadi usahawan….. jadi dari sekarang sudah bersiap2 atau ada gambaran bagaimana nanti personnel2 yang akan bekerja di perusahaannya arul… hehehe…..

    @Rizky

    Kalau nggak sesuai karena realitasnya lebih tinggi sih malah untung ya… tapi ini realitasnya malah lebih rendah dari harapannya…. hehehe…..

  26. Yang pendidikannya sama-sama S-1 juga ada diskriminasi SARA-IP kok… πŸ˜†

  27. setuju pak yari. tingkat pendidikan bisa berbuah diskriminasi. abdul muis (novel salah asuhan dan umar kayam (novel para priyayi) dengan sangat bagus menggambarkannya.

  28. memang benar pak, itulah kenyataan yang kita hadapi di negara kita saat ini khususnya di jalur formal (karyawan) kalau kita mersa punya kemampuan lebih dan terkendala dengan pendidikan saya kira jalur non karyawan lebih menjajikan…salam

  29. ya ya ya… yang miskin ndak bisa mengenyam pendidikan setinggi langit karena ndak mampu membiayai pendidikan yang ongkosnya juga setinggi langit…

    lalu mereka yang terbatas tingkat pendidikannya sudah terkurung dalam cangkang yang tidak mungkin mereka pecahkan karena memang begitulah peraturan perusahaan dan aturan bagi tenaga kerja di negara kita…

    miris memang, tapi begitulah kenyataannya. tak semata pendidikan yang menciptakan diskriminasi itu. akan lebih baik lagi bila tingkat dan golongan bagi pekerja di indon tidak hanya ditentukan oleh tingkat pendidikan, akan tetapi juga ditentukan berdasarkan prestasi dan kapabilitas seorang karyawan, tanpa dikekang oleh tingkat pendidikannya.

    setidaknya kita semua kudu tau, bahwa pangkat dan golongan tidak boleh hanya dinilai berdasar presensi atau absensi, akan tetapi seyogyanya ditentukan berdasar PRESTASI

  30. Mungkin tidak semua lulusan SMA kalah dengan para Sarjana, tapi saya juga tidak yakin kalo para Sarjana mudah ditundukkan oleh lulusan SMA. Semua tergantung pada individu masing-masing yang mau bekerja keras dan selalu belajar. Hal2 yang diterima selama perkuliahan konon cuma sepersekian saja yang dipakai di dunia kerja, so itu semua tergantung diri masing2 jika ingin maju dalam meniti karir terutama untuk pembentukan pola pikir kita saat sekolah maupun kuliah yang akan dinilai saat seleksi ataupun mulai bekerja.

    Jika seorang lulusan SMA mahir dalam melakukan segala pekerjaan yang diperuntukan oleh kaum S1 maka dia merupakan asset dan sudah selayaknya diperhatikan oleh tempat dia bekerja. Segala sesuatu ada prasyaratnya dan itu sudah menjadi hukum alam, jadi mau tidak mau harus kita ikuti.

    itu pendapat saya, seseorang yang pendidikan umum nya cuma lulusan SMA :mrgreen:

  31. Halo Bang Yari … he he he … agak sungkan juga nih aku ngasih komentar di tulisan yang satu ini. Intinya kan menggugat ijazah ya Bang ? Nah, aku bisa kena nih, maklum sekolahnya S3, jadi termasuk yang digugat juga nih Bang … he he he … kompeten gak si Riri ya ?

    Idealnya : highly educated, highly competence

    Kalau gak gitu, kenapa ? ya, berarti ada yang salah dalam sistem pendidikannya, apakah proses belajarnya, kurikulumnya, metode pembelajarannya, etc, pokoke kompleks Bang ! Apalagi dengan mental serba instan dan jalan pintas, maka terjadi degradasi mutu pendidikan, sehingga akhirnya orang akan menggugat sistem pendidikan itu sendiri.

    Akhirnya dalam banyak kesempatan, saya sering mengatakan dan saya juga menyakini bahwa pendidikan hanyalah persyaratan administratif. Persyaratan sebenarnya adalah kompetensi yang dimiliki oleh yang bersangkutan … tapi ya itu, susah dan ruwet ngukurnya, mending yg pintas saja, lihat ijazah … yah, balik lagi deh …

    Itu dulu bang Yari .. salam suskes selalu.

  32. @ardianto

    Yang sesama IP-jelek masih didiskriminasi lagi antara IP-jelek yang tampangnya cakep sama yang tampangnya jelek! Wakakakakak…. πŸ˜† Eh… itu mah nggak nyambung ya?? πŸ˜†

    @Zulmasri

    O iya…. walaupun saya belum pernah membaca buku sastra karangan Abdul Muis tersebut, saya pernah mendengar sedikit tentang jalan ceritanya dan kini jadi teringat kembali. Thanks ya. πŸ™‚

    @Achmad Sholeh

    Benar…. pepatah mengatakan “Banyak Jalan Menuju Roma”. πŸ™‚

    @Khofia

    Benar…. nampaknya diskriminasi yang paling “obyektif” memang diskrimininasi berdasarkan prestasi, dedikasi, dan sebagainya. Bukan “diskriminasi” semata-mata berdasarkan ijazah (kecuali dalam bidang pekerjaan tertentu). Kalau absensi mungkin itu menyangkut masalah kerajinan ya sepertinya lumayan penting juga percuma kalau berprestasi tetapi absennya juga berprestasi. Hehehe…. Tapi yang paling nggak masuk akal adalah “diskriminasi” berdasarkan ganteng/cantik dan jelek. Soalnya kasihan dong situ kalau ada diskriminasi berdasarkan ganteng dan jelek. Wakakakak…. πŸ˜†
    Sorry, becanda deh! :mrgreen:

    @gunawanwe

    Yeeee…. kalau di Indonesia ini memang yang namanya pendidikan umum ya cuma sampai di SMA aja dong. πŸ˜€

    Hukum alam di sini maksudnya seperti apa dulu nih mas?? Apakah hukum alam hukum alam ataukah “hukum alam” yang diciptakan oleh manusia?? Jikalau yang dimaksudkan hukum alam adalah persyaratan seperti ijazah yang dikhususkan untuk bidang2 pekerjaan tertentu padahal pekerjaan tersebut dapat dikerjakan oleh semua orang asal orang tersebut mau dan gigih belajar tentu itu adalah “hukum alam” yang agak sedikit naif…. πŸ™‚

    @RIRI SATRIA

    Betul sekali bang….. sayangnya di negeri ini persyaratan administratif masih sering dikedepankan dibandingkan persyaratan kompetitif (walaupun mungkin nggak semua lho). Mungkin persyaratan administratif lebih mudah dan lebih cepat dalam memfilter potensi seseorang walaupun hasilnya belum tentu akurat.

    Dan memang betul bang Riri, kalau sistem pendidikannya nggak beres, produk2nya kemungkinan yang dihasilkan juga produk2 ‘cacad’. Tapi untungnya produk2 dunia pendidikan itu adalah manusia yang dapat berfikir. Nah, mungkin jalan keluarnya (minimal untuk diri kita sendiri) adalah kesadaran kita sendiri untuk selalu menjadi lebih baik setiap hari. Insya Allah bang, kalau kita punya kesadaran seperti itu, kita keluar dari lembaga pendidikan bukan sebagai “produk cacad”. Bukan begitu bang? πŸ™‚

  33. Ha ha ha … saya tergelitik dengan istilah “produk cacad” … bener juga … jangan2 banyak pihak gak sadar kang bahwa dirinya adalah produk cacad dari sebuah sistem yang amburadul … πŸ™‚

    Dan saya setuju, manusia itu kalau menyadari, maka dia akan selalu memperbaiki diri … continuous improvements lah …

    ___________________________________

    Yari NK replies:

    Mungkin bang….. sekolah2 kita atau lembaga2 pendidikan ini harus menyadari, terutama lembaga2 pendidikan di bidang manajemen, bahwa mereka harus menghasilkan produk2 yang ‘tidak cacad’. Bagaimana mereka mau menghasilkan manajer2 atau SDM-SDM yang handal, lha wong mereka2 yang sebagai pendidik sendiri “gagal” sebagai manajer dengan hanya menghasilkan produk2 cacad. Bukan begitu bang? :mrgreen:

  34. saya setuju sekali!!!! saya kenal seseorang yang cuma lulusan sma dan dia tidak kuliah karena pilihannya sendiri selain juga masalah finansial, tapi dibidangnya *seni* rasanya dia ga sedikitpun kalah dibandingkan dengan lulusan s1 atau lain lainnya..

    sayang sekali memang kalau sekarang orang berlombalomba sekolah tinggi tinggi bukan buat dapet ilmu tapi biar dapet kerjaan gampang dan gaji gede, ga peduli di bidang apapun itu yang sebetulnya ga perlu buat sekolah tinggi tinggi kalo buat begitu

    ah… tapi tar ngomong gini disangka pembelaan s1 yang ta lulus lulus lagih… ah… ta peduli lah… yang penting kan skill yang bisa diaplikasikan, yes? πŸ˜‰

    ___________________________________

    Yari NK replies:

    Huahahaha…. serba salah ya….. kalau belum lulus S1 mau bicara soal pendidikan…… walaupun apa yang dibicarakannya mungkin benar tetapi selalu dicurigai sebagai pembelaan dari orang2 yang susah lulus dari S1. Huehehehe…….

    Tetapi apa yang disampaikan mbak natazya ada benarnya loh…. tapi saya tetap percaya pendidikan itu penting, tapi bukan ijazahnya melainkan adalah skill-nya tentu saja. Setuju kan mbak? πŸ˜€

  35. sistem pendidikan nasional ternyata kurang mencerminkan rangkaian integrasi mulai dari pendidikan tingkat dasar sampai perguruan tinggi…..terbukti polanya sangat parsial….masalahnya menjadi semakin kompeleks ketika pola pendidikan yang orientasinya pada sistem pompa, pengajaran lebih kental ketimbang pendidikan,kurangnya pendidikan dalam membangun daya cipta-inovasi,pembelajaran yang berkonsentrasi pada instruktur/guru/dosen bukan pada siswa/mahasiswa,kurangnya pemikiiran konsep link-match,orientasi pendirian lembaga pendidikan lebih pada meraih profit (seperti pedagang asongan) ketimbang mutu, lemahnya mutu sang guru dan juga dosen ,fasilitas pembelajaran tidak memadai….etcetc……hal lain yang terlihat nyata adalah disparitas proses dan mutu pembelajaran dan mutu lulusan baik dilihat dari dimensi wilayah (misal jawa vs luar jawa; barat vs timur) maupun dari dimensi akses pendidikan……..sementara itu kalau saja pola pendidikan diarahkan pada paradigma pendidikan (UNESCO) yakni proses learning to know,learning to do,learning to be,dan learning to live together maka seharusnya diskriminasi tidak usah terjadi……dan selalu menerapkan pemahaman bahwa proses belajar tak pernah berhenti….”belajar untuk belajar”….selamat belajar mas yariNK…

    ___________________________________

    Yari NK replies:

    Wah…. masalahnya memang kompleks prof…… di sini guru mau mengajarkan kreatif malah dibilang keluar jalurlah, nggak sesuai kurikulumlah, dan sebagainya. Ya, gimana mau mengajarkan murid2nya mencipta dan berinovasi jikalau gurunya kebebasan mencipta dan inovasinya juga dibelenggu.

    Itupun belum termasuk problematika2 lain seperti yang prof sebutkan di atas, masalahnya seperti benang kusut. Mungkin prof, jalan keluarnya satu2nya adalah kita turut ikut campur tangan dalam mendidik anak2 kita (atau cucu2 kita) di rumah agar mereka juga menerima pendidikan (bukan hanya pengajaran) dan juga menjadi kreatif-inovatif. Saya juga tengah mencari bahan2 termasuk di Internet bagaimana mendidik anak agar lebih kreatif dan inovatif, doakan mudah2an berhasil ya prof….. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s