Monthly Archives: Agustus 2008

Putih Mancung vs Hitam Pesek

Postingan ini terinspirasi dari dua buah artikel di sini dan di sini serta sebuah acara infotainment yang tidak sengaja saya tonton seputar kelahiran cucu RI-1 kita. Kenapa infotainment jadi ada hubungannya sama artikel ini? Waktu itu saya tidak sengaja sembari makan siang di kantor melihat acara infotainment seputar kelahiran cucu RI-1 (presiden) kita. Di situ, salah seorang keluarga dari Anissa Pohan (lupa lagi siapa namanya) yang mengatakan bahwa bayi yang lahir berkulit putih dan berhidung mancung! Mendengar itu saya jadi tertawa sendiri. Apa sebab? Ada dua hal yang menyebabkan saya tertawa. Pertama, setelah saya lihat gambar si bayi di Internet dan media2 lainnya ternyata tidak begitu putih dan mancung. Ehm…. putih mungkin benar, karena si bayi mungkin belum terkena efek sinar UV. Tapi mancung?? Kayaknya untuk jadi mancung, itu gen bayi yang berasal dari ayah ibunya harus digerus dulu terus diganti gen yang berasal dari Cindy Crawford dan Brad Pitt! Tentu saya bukan mentertawakan si bayi yang tidak berdosa itu melainkan saya mentertawakan komen-komen dangkal dan onnozel seputar kelahiran si bayi seperti contoh yang dilontarkan di salah satu acara infotainment tersebut. Kedua, yang bikin saya tertawa adalah dangkalnya persepsi orang bahwa putih mancung selalu lebih baik dibandingkan dengan hitam pesek. Namun betulkah putih mancung selalu lebih baik dibandingkan hitam pesek?? (Ini masalah fisik loh, jadi jangan bawa-bawa tingkah laku yang baik atau beramal sholeh dan sebagainya.) Kita lihat iklan-iklan pemutih kulit bertebaran di televisi, menawarkan kulit yang lebih putih terutama untuk wanita. Bukan hanya itu, dalam fotografi digitalpun sering terjadi manipulasi, kulit yang aslinya gelap dibuat putih semulus-mulusnya dengan menggunakan Photoshop! Hal ini bukan saja untuk foto perempuan tetapi juga untuk foto laki-laki.

Di dalam film “Hotel Rwanda” dan juga “Sometimes in April” di mana diceritakan mengenai genosida yang dilakukan oleh suku Hutu terhadap suku Tutsi, di mana kebencian suku Hutu yang mayoritas terhadap suku Tutsi yang minoritas sampai pada titik klimaksnya. Akar kebencian ini bermula pada zaman kolonial Belgia di Rwanda zaman dulu, di mana Belgia berusaha “memecah belah” suku-suku di Rwanda. Suku Tutsi diposisikan sebagai suku yang lebih “beradab”, berkulit lebih terang, berhidung lebih mancung, dan berbadan lebih tinggi dibandingkan dengan suku Hutu. Sehingga suku Tutsi agak dimanjakan pemerintah kolonial Belgia dan diberi lebih banyak jabatan atau kedudukan. Padahal jikalau kita melihat secara fisik, pada kenyataannya kita tidak bisa membedakan mana yang suku Hutu dan mana yang suku Tutsi. Ini hanya akal-akalan penjajah Belgia saja untuk mengadu domba dan menyebarkan kebencian di antara suku Tutsi dan suku Hutu. Di sini sekali lagi digambarkan bahwa yang berkulit putih dan berhidung mancung “lebih bagus” dibandingkan yang berkulit gelap dan berhidung pesek!

Menurut saya, penilaian yang sangat tinggi terhadap orang yang berkulit putih dan berhidung mancung adalah termasuk “cuci otak” massal yang paling berhasil ditanamkan di antara orang-orang kulit berwarna termasuk terhadap bangsa kita ini. Bulé-bulé dianggap mempunyai fisik yang lebih bagus dibandingkan yang negro-negro sehingga tidak jarang banyak pula orang-orang berkulit warna yang ingin berkulit putih (terutama wanita kali…) seperti orang bulé !! Atau minimal menikah dengan orang bulé agar bisa memperbaiki keturunannya, supaya anaknya nggak pesek dan “dakian” lagi seperti dirinya, begitu kata banyak orang, walaupun tentu saja tidak semua orang yang menikah dengan bule mengharapkan untuk “memperbaiki keturunan”.

Tapi….. tunggu dulu !! Mungkin citra “putih dan mancung” lebih unggul daripada citra “hitam dan pesek” karena lebih pada kenyataan bahwa peradaban si kulit putih lebih berkembang dan lebih maju dibandingkan dengan peradaban si kulit hitam. Apa betul begitu? Bagaimana seandaikan terbalik….. peradaban si kulit hitam (misalkan) lebih maju dibandingkan dengan peradaban si kulit putih, apakah kita akan masih menganggap “putih dan mancung” lebih baik dari “hitam dan pesek”?? Ya sudah deh…. dari artikel saya yang kurang bermutu kali ini, silahkan anda berpendapat masing-masing! O iya, sebagai penutup artikel kali ini, saya akan bertanya, manakah sekarang yang lebih bagus “putih dan pesek” atau “hitam dan mancung”? Misalnya… albino … kan dia putih tapi pesek… atau misalnya Orang India “keling” biar hitam tapi kan ada juga hidungnya yang mancung… atau Michael Jackson yang berkulit hitam tapi mancung karena hidungnya dipermak habis-habisan kayak celana jeans Levi’s! Jadi sekarang antara putih dan mancung jadinya mana yang lebih menarik anda?? Huehehehe….

O iya ada juga nih yang harus ditanyakan….. bagaimana antara “gembrot” dan “langsing”?? Apakah gembrot selamanya juga lebih “jelek”?? :mrgreen:

Ötzi, Si Manusia Es……

Ötzi, adalah sebuah mumi (mummy) tertua yang pernah ditemukan di Eropa. Mumi yang berumur lebih dari 5 milenium ini diketemukan secara tidak sengaja oleh dua orang pendaki gunung, sepasang suami istri dari Nürnberg, Jerman bernama Helmut dan Erika Simon pada tanggal 19 September 1991. Mumi ini diketemukan membeku di glasier di dekat perbatasan Austria-Italia. Walaupun lokasi penemuannya berada di daerah Italia, namun pada awalnya fihak otoritas Italia sedikit ogah berurusan dengan penemuan jasad tersebut, yang disangkanya mungkin hanya tulang belulang manusia “modern” yang mengalami kecelakaan atau kemungkinan adalah jasad serdadu sisa-sisa perang Napoleon pada dua abad lalu. Fihak Italia kemudian membiarkan fihak Austria untuk berurusan dengan segala hal tetek bengek penemuan jasad tersebut. Pihak Austria memang pada akhirnya berhasil mengevakuasi jasad tersebut ke kota Innsbruck, Austria di mana pertama kali jasad tersebut diidentifikasi.

Bersama jasad itu sebenarnya juga ditemui beberapa peralatan dan pakaian milik mumi tersebut seperti, sisa2 pakaian, sepatu, kapak, pisau dan sarungnya dan lain-lainnya. Dari pengidentifikasian dan dari peralatan-peralatan yang ditemukan bersama si mumi, dapat dipastikan bahwa si mumi berasal dari zaman tembaga atau sekitar 5300 tahun yang lalu. Semula diduga bahwa si Ötzi ini tewas karena tertimbun longsoran salju atau terkena badai salju. Namun belakangan ini muncul dugaan baru bahwa si Ötzi ini kemungkinan tewas karena upacara ritual korban manusia yang sering terjadi pada zaman itu.

Ketika diketahui bahwa Ötzi adalah sebuah mumi yang berharga karena termasuk mumi tertua yang pernah diketemukan di Eropa, maka fihak Italia berusaha mengklaim kembali dari fihak Austria atas “kepemilikan” mumi tersebut. Walaupun fihak Austria kemudian memang mengembalikan mumi tersebut kepada fihak Italia, namun “masalah” hukum mengenai siapa yang menemukan mumi tersebut masih menjadi masalah. Erika Simon, si istri penemu mumi tersebut (sang suami Helmut Simon telah meninggal dunia di tahun 2006 lalu) tengah berhadapan dengan seorang wanita Slovenia, Magdalena Mohar Jarc, dan juga seorang wanita asal Swiss, Sandra Nemeth, yang mengaku telah menemukan Ötzi sebelum pasangan Simon tersebut menemukannya. Kasus tersebut hingga kini masih menggantung di pengadilan Bolzano di Italia.

___________________________________

Bagaimana para ahli menentukan umur Ötzi?? Untuk menentukan temuan arkeologis terutama yang berasal dari materi biologis, para ahli menggunakan metode radiocarbon dating. Radiocarbon dating ini menggunakan rasio antara unsur karbon-14 dengan karbon-12 yang berada pada temuan arkeologis tersebut. Karbon-14 mempunyai waktu paruh sekitar 5730 tahun. Paruh waktu adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah unsur radioaktif untuk meluruh hingga jumlah setengahnya dari jumlah semula. Jadi misalkan jikalau terdapat 10 mg karbon-14 pada awalnya, maka dalam 5730 tahun karbon-14 yang tersisa adalah 5 mg. Dan dalam (2 x 5730 tahun) 11.460 tahun yang tersisa hanya tinggal 2,5 mg dan seterusnya.

Pada masa hidupnya, semua makhluk hidup selalu mempertahankan rasio antara karbon-14 dan karbon-12 sehingga walaupun karbon-14 meluruh pada saat kita masih hidup, namun rasio antara karbon-14 dan karbon-12 relatif stabil pada saat kita hidup. Karbon-14 kebanyakan didapat dari makanan (terutama yang dari tumbuh2an) yang kita makan. Nah, setelah makhluk hidup itu mati maka kita tidak mendapat asupan karbon-14 lagi, sehingga setiap kali karbon-14 di dalam tubuh kita (makhluk hidup) meluruh, kesetimbangan rasio tidak bisa dipertahankan lagi.

Nah, setelah dianalisa ternyata di dalam diri Ötzi, rasio antara karbon-14 dan karbon-12 hanya 53% dari rasio antara karbon-14 dan karbon-12 yang seharusnya. Setelah diketahui rasio yang sesungguhnya, tahap pertama adalah menghitung konstanta peluruhan (k). Konstanta peluruhan ini sama untuk setiap unsur radioaktif yang sama, namun berbeda untuk unsur radioaktif yang lain. Konstanta peluruhan karbon-14 dihitung dengan rumus:

0,5C = Cek(5730) —> Dalam waktu 5730 tahun, C akan meluruh setengahnya menjadi 0,5 C.

0,5 = ek(5730) —> C dapat dicoret dari ruas kiri dan ruas kanan

ln 0,5 = ln e5730k

ln 0,5 = 5730k ln e —–> Ingat: ln e2 = 2 ln e.

ln 0,5 = 5730k ——> Ingat : ln e = 1.

k = \frac{\ln{0,5}}{5730} \approx \frac{-0,6931}{5730} \approx -0,00012

Konstanta peluruhannya (k) kini sudah ketemu yaitu -0,00012. Sekarang kita masukkan lagi ke rumus awal, hanya saja kini 0,5C diganti dengan 0,53C dan yang dicari kini adalah ‘t’ atau usia si Ötzi.

0,53C = Ce-0,00012t

0,53 = e-0,00012t

ln 0,53 = ln e-0,00012t

ln 0,53 = -0,00012t ln e

ln 0,53 = -0,00012t

t = \frac{\ln{0,53}}{-0,00012} \approx \frac{-0,6349}{-0,00012} = 5291

Jadi usia si Ötzi adalah 5291 tahun atau lebih dari 5 milenium.

Catatan:

Metoda penentuan usia lewat rasio unsur karbon-14 hanya akurat untuk obyek arkeologis yang berusia kurang dari 50.000 tahun. Jika rasio karbon-14 terhadap karbon-12 hanya tinggal 0,25% dari yang seharusnya maka penentuan usia memakai metode ini menjadi kurang tepat. Untuk penentuan temuan arkeologis yang berasal dari materi biologis yang lebih tua, digunakan metode kalium-argon (Potassium-Argon Dating). Metode ini juga digunakan dalam menentukan umur-umur bebatuan geologis. Kalium-40 ini mempunyai paruh waktu yang dahsyat lamanya yaitu 1,3 milyar tahun atau 1.300.000.000 tahun !!

Olimpiade: Citius, Altius, Fortius. Adakah Limitnya?

Olimpiade Beijing hari ini akan berakhir. Kontingen China, seperti yang telah saya ramalkan sebelumnya, menjadi juara umum dalam olimpiade kali ini. Rekor-rekor dunia dan olimpiade banyak dipecahkan. Nah, dari sinilah ide tersebut muncul sebagai bahan dalam artikel saya kali ini. Kita mengetahui bahwa setiap kali olimpiade dilaksanakan, rekor dunia selalu ramai dipecahkan, hal ini sesuai dengan motto olimpiade itu sendiri yaitu: Citius, Altius dan Fortius atau Lebih Cepat, Lebih Tinggi dan Lebih Kuat. Pertanyaannya adalah: Apakah rekor-rekor dunia ini akan terus terpecahkan?? Apakah Memang manusia menjadi semakin cepat, kuat dan tinggi setiap zaman?? Kalau begitu mungkinkah di masa mendatang seorang atlit dapat menyelesaikan lari 100 meter dalam waktu 1 detik?? Sebagai perbandingan rekor dunia lari 100 meter yang baru dipecahkan di Beijing lalu oleh pelari Usain Bolt asal Jamaika mencatat waktu 9,69 detik. Atau…. apakah memang ada limit dalam setiap usaha manusia?? Kalau ada…. kira-kira mengetahuinya bagaimana ya??

Sebuah pertanyaan besar yang mungkin belum akan terjawab dalam waktu dekat ini. Saya jadi ingat sebuah rumus berikut ini: (1+\frac{1}{x})^{x} yang tidak lain adalah rumus perhitungan bunga majemuk dalam perbankan dengan tarif bunga 100% dan dengan asumsi bunga terus-menerus dibayar lebih cepat dari detakan jantung! Lebih lengkapnya dapat dilihat di sini. Dalam artikel saya tersebut dijelaskan bahwa andaikan bank memberikan bunga 100% per tahun sekalipun dan bunga dibayarkan bulanan, harian, jaman, menitan, detikan atau bahkan lebih cepat dari detikanpun maka bank ‘tidak akan bangkrut’ secara matematis karena saldo akhir simpanan kita di bank tidak akan melebihi 2,7182 kali saldo awal kita. Angka 2,7182… tersebut merupakan limit atau batas yang tidak mungkin bisa ditebus dengan nilai x berapapun besarnya*).  Nah, begitu pula dengan pemecahan rekor dunia di olimpiade ini, adakah limit yang tidak bisa “ditembus” para atlit betapapun kuat dan cepatnya seorang atlit??

Sekarang lihatlah data berikut ini. Tahun 2008 rekor dunia (untuk 100 meter putra misalnya) adalah 9,69 detik yang baru saja dipecahkan di Beijing. Sedangkan di tahun 1998 rekor dunia waktu itu adalah 9,84 detik. Maka dalam 10 tahun terakhir ini, rata-rata kecepatan pemecahan rekor dunia adalah \frac{9,84-9,69}{10} sama dengan 0,015 detik per tahun (mohon koreksi jika saya salah hitung) sedangkan untuk kurun waktu 10 tahun sebelumnya yaitu tahun 1988-1998, kecepatan pemecahan rekornya adalah (rekor dunia 100 meter putra tahun 1988 waktu itu adalah 9,92 detik): \frac{9,92-9,84}{10} atau sama dengan 0,008 detik per tahun!! Artinya secara kasar justru pemecahan rekor dalam 10 tahun terakhir lebih cepat dari pemecahan rekor 10 tahun sebelumnya, hal ini justru “terbalik” dengan kaidah fungsi limit dalam matematika di mana semakin nilai ‘x’ bertambah besar maka pertambahan nilai fungsi tersebut semakin kecil!

Tentu saja olahraga memang bukan matematika. Andaikan pemecahan rekor dunia di setiap cabang olahraga dapat dibuat fungsi persamaan matematikanya tentu limit atau batas dari catatan pemecahan rekor dunia ini dapat dihitung. Namun andaikan jikalau memang usaha manusia ada batasnya atau tepatnya ada angka limitnya, dan rekor dunia ternyata pada suatu saat tidak terpecahkan lagi atau tepatnya tidak terdeteksi lagi, apa yang harus dilakukan??

Dalam sebuah fungsi limit, jikalau kita memasukkan nilai ‘x’ yang sangat besar, betapapun besarnya, sebenarnya tidak pernah mencapai batas limit tersebut melainkan hanya menghasilkan perbedaan hasil yang semakin kecil dan semakin mendekati angka limit. Nah, begitupula kelak dalam pemecahan rekor dunia, semakin besar usaha para atlit kelak, maka yang dihasilkan mungkin pemecahan rekor dunia dengan perbedaan yang semakin sedikit dan semakin sedikit saja. Pada saat ini, kita menggunakan stopwatch yang berpresisi \frac{1}{100} detik, mungkin dengan menggunakan stopwatch berpresisi seperseratus detik ini suatu saat rekor dunia tidak terdeteksi lagi, untuk itu kita hanya perlu membuat stopwatch yang berpresisi \frac{1}{1000} (seperseribu) detik, dan kalau pada saatnya nanti stopwatch yang berpresisi seperseribu detik ini juga gagal mendeteksi rekor dunia baru, maka kita buat lagi stopwatch yang berpresisi sepersepuluhribu, seperseratus, sepersejuta detik bahkan dengan presisi yang lebih lagi guna mendeteksi pemecahan rekor dunia baru! Gampang kan?? Gitu aja repot! Huehehehe…. :mrgreen:

___________________________________________

Untuk mempermudah gambaran, dengan contoh rumus di atas: f(x)= (1+\frac{1}{x})^{x} kita masukkan nilai x yang semakin besar (Anda bisa menghitungnya sendiri dengan menggunakan kalkulator anda):

x f(x)
9 2,581
99 2,705
999 2,717
9.999 2,718
99.999 2,718

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jika nilai x bertambah besar, maka pertambahan nilai f(x) semakin kecil. Untuk x=9.999 maka f(x) sebenarnya adalah 2,718146….. sedangkan untuk x=99.999 maka f(x) adalah 2,718268…. Nah, pada tabel di atas yang hanya mempunyai presisi \frac{1}{1.000} atau 4 angka signifikan maka perbedaan tersebut gagal terdeteksi karena sangking kecilnya, pada saat kita menggunakan presisi minimal \frac{1}{10.000} (5 angka signifikan) baru perbedaan tersebut dapat terlihat……

Terlalu Bergantung Pada Kekayaan Alam?

Dua hari yang lalu, secara tidak sengaja saya membaca sebuah artikel di blog yang sudah jarang saya kunjungi akhir-akhir ini. Cuplikan dari artikel itu adalah sebagai berikut:

Bagaimana dengan negara-negara seperti Malaysia, Singapura dan Hong Kong – yang nota benenya merdeka setelah negara ini – bisa lebih makmur?

Pasti jawabannya mudah ditebak. Karena negara-negara tersebut penduduknya tidak sebanyak Indonesia. Karena negara-negara tersebut tidak seluas Indonesia. Karena negara-negara tersebut dijajah oleh Inggris. So what gitu loh. Apakah kita lupa, kalo negara-negara itu tidak memiliki kekayaan alam sebanyak di Indonesia.

Membaca bagian tersebut, saya agak sedikit tertawa kurang sependapat dengan bacaan di artikel tersebut (sumber artikel sengaja tidak dibuat link-nya agar menjaga nama baik sang blogger keharmonisan bilateral :mrgreen: ). Dalam artikel tersebut sepertinya tersirat bahwa dengan kekayaan alam semata kita bisa menjadi serta merta makmur dan mungkin juga maju.

Walaupun kemungkinan tersebut tetap saja ada (walaupun kecil) namun menurut saya justru itu kesalahan dasar perekonomian kita, terlalu bertumpu kepada kekayaan alam kita yang berlimpah. Hal ini lebih diperparah lagi dengan “buaian” dari semasa kita sekolah di SD bahwa negara kita adalah negara yang kaya dan subur, dan kekayaan buminya melimpah…. sehingga menarik bangsa-bangsa asing untuk merebut tanah air kita ini… dan sebagainya…. dan sebagainya. Jadinya malah saya bertanya balik, so what gitu loh?? Apa memang kekayaan alam yang melimpah bisa otomatis membuat kita menjadi bangsa yang makmur dan maju ?? (Ingat: makmur dan maju adalah dua terminologi yang berbeda).

Sepegetahuan saya, sangat jarang sekali terjadi sebuah negara menjadi makmur (apalagi maju) hanya karena sumberdaya alamnya. Kasus anomali mungkin terjadi di Timur Tengah di mana rakyatnya makmur akibat petrodollar, petroeuro, ataupun petro-petro lainnya yang mengalir ke negeri-negeri tersebut. Wait a minute….. makmur?? Mungkin ya! Maju?? belum tentu !! Andaikan makmur, untuk berapa lama bisa bertahan?? Tidak ada seorangpun mungkin yang tahu…… yang jelas negara-negara kaya minyak tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai negara maju. Indikator-indikator non-ekonomi dan juga prestasi-prestasi non-ekonomi lainnya lebih mirip negara-negara miskin berkembang dibandingkan dengan negara-negara maju. Salah satu indikator yang sangat memprihatinkan adalah tingginya tingkat buta huruf di negara-negara Timur Tengah tersebut seperti yang pernah saya tuliskan di sini.

Kalau kita perhatikan lebih cermat pula, negara-negara yang dilimpahkan kekayaan alam berupa minyak mentah di Timur Tengah ini sangat bergantung kepada negara-negara maju atau negara-negara industri barat. Perhatikan saja negara-negara Timur Tengah yang makmur seperti: Saudi Arabia, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar dan lain sebagainya adalah mereka yang bersahabat dengan negara-negara barat. Negara-negara yang kurang bersahabat dengan negara-negara barat seperti: Irak (masa pemerintahan Saddam Hussein), Suriah, Libya dan lain sebagainya kehidupan rakyatnya “tidak seberuntung” mereka di negara2 tetangga mereka yang bersahabat dengan negara-negara barat, dengan sedikit catatan, kehidupan atau kemakmuran di Libya meningkat sejak barat dan PBB mencabut embargo kepada Libya di bulan September 2003 lalu.

Ketergantungan negara-negara Timur Tengah kaya minyak tersebut dengan negara-negara maju bukan hanya dalam bidang eksplorasi minyak dan perdagangan minyak saja, namun terus berlanjut hingga pembangunan kota-kota megah mereka. Tanpa bantuan teknologi dan kepakaran dari negara-negara maju tidak mungkin Dubai (contohnya) dapat menjadi sementereng dan semegah sekarang. Tanpa campur tangan kontraktor-kontraktor dan ahli-ahli dari negara maju rasanya mustahil orang-orang UEA bisa membangun sendiri The World, Dubai Palm Island, ‘Burj al-Arab ataupun ‘Burj Dubai yang megah itu. Pendek kata dengan hanya modal kekayaan alam saja, kita akan tetap saja sangat bergantung dari negara-negara lain…..

Jadi mulai sekarang, sebaiknya kita jangan hanya membanggakan “kekayaan alam” saja, dan tidak mengorientasikan perekonomian kita pada eksploitasi kekayaan alam kita. Mari kita mulai membangun sumberdaya manusia kita besar-besaran dan tidak perlahan-lahan lagi alias alon-alon asal kelakon. Makin alon akan makin tertinggal kita oleh bangsa lain. Perekonomian yang berdasarkan sumberdaya manusia alias sains dan teknologi terbukti di manapun lebih ampuh dalam memakmurkan apalagi memajukan sebuah bangsa dibandingkan sebuah bangsa yang perekonomiannya bergantung pada kekayaan alam. Hal ini mungkin disebabkan karena perekonomian yang berorientasi pada sumberdaya manusia mampu memproduksi produk-produk yang bernilai tambah tinggi atau mungkin malah eksklusif yang tentu dapat mendongkrak pendapatan suatu negara. Perekonomian yang berbasis kemajuan sains dan teknologi dan SDM juga dipercaya (dan memang) mampu menyerap tenaga kerja yang jauh lebih besar dibandingkan perekonomian sumberdaya alam. Hal ini juga didukung fakta bahwa negara-negara yang maju lebih tidak bergantung pada negara-negara lain sehingga memperbesar peluang terbukanya lapangan-lapangan kerja untuk tenaga-tenaga kerja dalam negeri dan masih banyak lagi keuntungan-keuntungan negara-negara yang perekonomiannya bergantung pada sumberdaya manusia.

Contoh nyata kesuksesan perekonomian yang miskin sumberdaya alam tapi kaya kualitas sumberdaya manusia adalah: Korea (Selatan). Pada saat negara kita sudah merdeka 10 tahun, orang-orang Korea baru saja mulai bangkit dari puing-puing kehancuran perang Korea yang dahsyat itu. Namun kini setelah 40 tahun?? Mereka sudah mendapatkan “segalanya” atau mereka sudah melangkah jauh dan berprestasi jauh di atas kita. Apakah kita memang lebih bodoh dari bangsa Korea?? Kita tidak mampu membangun SDM kita sebaik Korea?? Atau…. kita hanya bangga dengan kekayaan alam kita dan jumlah penduduk kita yang ratusan juta tapi kebanyakan tidak bermutu itu? Walahualam……. Yang jelas jikalau saya menemukan artikel seperti cuplikan di atas, hati saya sangat miris, sepertinya memang masih banyak di luar sana yang berfikiran sangat marginal: “yang penting gua udah dapet kerjaan….. dan dapet kedudukan di kantor….. masalah prestasi dan lainnya….. emang gua pikirin…..!! Toh… Indonesia kaya sumberdaya alam ini…. nggak akan habis tujuh turunan!”

Embeeeeer…….!!” :mrgreen:

_________________________________

Catatan klise:

– Artikel di atas bukan berarti kita tidak mensyukuri kekayaan alam kita yang berlimpah……..

Syukur Tidak Perlu Upacara Lagi…..

Ketika kebetulan tengah menonton acara-acara olimpiade yang disiarkan oleh televisi China CCTV 1, saya menyaksikan seremoni pengalungan medali kepada para pemenang di salah satu nomor renang. Perenang putri Italia, Federica Pellegrini, memenangi medali emas. Ketika diperdengarkan lagu kebangsaan Italia, Il canto degli Italiani atau yang lebih dikenal dengan Inno di Mameli, nampak Pellegrini dengan riang dan tertawa-tawa kecil ikut menyanyikan lagu kebangsaan tersebut sambil bertepuk-tepuk mengiringi irama lagu. Penonton di Beijingpun akhirnya juga ikut-ikutan bertepuk tangan mengiringi lagu kebangsaan Italia tersebut. Sikap Pellegrini dalam menghormati bendera dan lagu kebangsaan jauh dari kesan “angker” atau serius, berbeda dengan kita pada saat menyayikan lagu Indonesia Raya yang “wajib” serius itu.

Rafael Nadal, petenis top dunia asal Spanyol, ketika memenangi gelar tunggal putra di Wimbledon 2008, gelar yang telah lama dinanti-nantikannya, setelah mengalahkan Roger Federer di final, menerima bendera Spanyol dari salah satu penonton Spanyol yang hadir pada saat itu. Namun bendera Spanyol tersebut tidak dibentangkan dan dikibarkannya, hanya tergenggam kusut di tangannya sementara Nadal tetap mengacungkan kedua tangannya untuk merayakan kemenangannya. Entah karena sangking gembiranya sehingga ia lupa dengan bendera Spanyol yang digenggamnya atau karena ia merasa bahwa di Wimbledon ia bermain untuk dirinya sendiri, bukan untuk Spanyol, sehingga ia lupa tidak membentangkan dan mengibarkan bendera Spanyol tersebut. Padahal pada saat itu hadir anggota keluarga kerajaan Spanyol di Wimbledon. Kasus lain adalah, di Olimpiade Athina 2004, ketika salah satu atlit balap sepeda Perancis (saya lupa namanya) memenangi salah satu nomor balap sepeda off-road. Setelah menang, ia melambaikan bendera Perancis yang ia dapat dari penonton. Begitu ia melihat bendera Perancis yang berukuran lebih besar, ia menyampakkan ke tanah bendera Perancis yang digenggamnya dan menyambar bendera Perancis yang lebih besar tersebut dari penonton. Namun setelah lelah ia melakukan victory lap , bendera Perancis tersebut lagi-lagi ia campakkan ke tanah. Perlakuan atlit Perancis tersebut terhadap bendera nasionalnya, kalau di Indonesia bakalan dianggap tidak nasionalis ataupun tidak menghargai.

Di Indonesia, boleh saja orang berkata: “biarlah mereka seperti itu, kita tidak perlu seperti itu, dan tetap menghargai bendera dan lagu kebangsaan kita”. Namun, boleh juga kan sebagian orang lain (termasuk saya) berkata bahwa: “menghormati bendera dan lagu kebangsaan boleh-boleh saja, tetapi tidak usah terlalu over, sehingga bendera dan lagu nasional seperti setengah ‘dikeramatkan'”. Saya sendiri jadi ingat waktu SMA dulu, setiap Senin dijawibkan upacara bendera yang memakan waktu 1 jam pelajaran sekolah sendiri. Padahal hitung selama setahun, berapa jam pelajaran yang terbuang hanya untuk upacara bendera yang seharusnya dapat diisi dengan pelajaran lain yang lebih bermanfaat. Apakah upacara bendera dapat mempertebal rasa nasionalisme kita ?? Hanya anda sendiri yang dapat menjawabnya. Silahkan…. anda berpendapat…. ini kan negara bebas…….

Yang jelas… menurut saya….. menghormati negara kita, tidak hanya dengan cara-cara menghormati simbol-simbol negara kita dengan kaku saja. Banyak cara untuk menghormati negara kita dengan cara yang lebih efektif dan lebih nyata. Berprestasi setinggi mungkin termasuk para atlit-atlit (dan lain-lainnya) yang berprestasi dunia tentu merupakan cara menghormati negara dan bangsa dengan baik. Prestasi diukir dan dipersembahkan untuk negara dan bangsa. Sebuah persembahan yang tentu saja luar biasa besarnya. Bahkan seyogianya justru negara dan bangsa yang menghormati mereka karena mereka telah mengharumkan nama bangsanya. Apalah artinya sebuah negara tanpa rakyatnya. Apalagi rakyat yang kaya akan prestasi. Tanpa rakyat yang berprestasi yang mengharumkan bangsa bak eau de parfum, bangsa tersebut hanya berbau kecut atau berbau ketiak, sehingga bangsa-bangsa lain akan menutup hidung terhadap bangsa tersebut.

Tentu mengharumkan nama bangsa tidak harus lewat olimpiade atau forum-forum resmi lainnya. Sebuah bangsa yang maju dan makmur tentu itu berarti “seluruh” rakyatnya mampu memberi keharuman bagi nama negara dan bangsanya. Mari, kita harumkan nama bangsa kita dengan tindakan-tindakan nyata (agak klise tapi memang seharusnya begitu :mrgreen: ) dan mulai mengurangi sifat-sifat yang bersifat seremonial yang tidak perlu. Bukan berarti upacara bendera harus dihilangkan sama sekali, ya bukan begitu, namun janganlah hal-hal seperti upacara bendera menjadi barometer dalam pengukuran seseorang apakah ia nasionalis atau tidak…..

Nah, sekian saja tulisan saya menyambut 17 Agustus tahun ini. Tulisan ini saya buat tanggal 17 Agustus pukul 10 pagi, namun baru saya terbitkan hari ini (18 Agustus 2008). Saya hari ini mau bersantai di rumah, bebas dari upacara dan tetek bengek lainnya. Acara 17 Agustusan di kantor, adalah hari ini (18 Agustus). Tidak ada upacara2 bendera, yang ada hanya fun dan fun saja…. hehehe…… Ok deh….. saya mau nonton TV lagi, nonton acara olimpiade atau film2 di HBO, Cinemax, HBO Signature atau StarMovies. Ogah melihat upacara 17 Agustusan di Istana Negara yang disiarkan seluruh televisi nasional…..menjemukan…….

Hemat Listrik!

Beberapa hari yang lalu, di tengah malam (kira-kira pukul 2.30), saya terbangun. Setelah ke kamar kecil, saya berusaha untuk tidur kembali tetapi mata tidak mau terpejam. Lalu iseng-iseng aku keluar kamar tidur dan berusaha untuk mengundang kantuk saya dengan menonton televisi (seringkali jikalau saya nonton televisi di sofa biasanya saya sering tertidur). Setelah televisi dinyalakan dan memilih2 saluran televisi baik yang dalam negeri maupun yang luar negeri, saya agak terkejut mendapatkan hampir semua televisi dalam negeri off-air semua kecuali Metro TV. Padahal hampir semua televisi Indonesia ini mengudara 24 jam kecuali televisi milik Trans Group. Ada apa gerangan?? Setelah kupikir-pikir ternyata aku merasa ketemu jawabannya! Ya, ini pasti berhubungan dengan anjuran pemerintah untuk menghemat energi!

Dalam artikel ini, saya akan menyuguhkan artikel yang masih ada hubungannya dengan kebijakan “hemat energi” ini. Tapi bukan masalah mismanagement pemerintah terhadap persediaan sumber energi kita. Bukan itu yang mau saya bahas. Kalau itu sih udah agak basi, sudah lelah dan bosan saya membahasnya, apalagi di tempat kerja saya. Namun akan saya bahas dari sudut yang mungkin agak berbeda dan sederhana saja… (lagi malas membahas yang berat-berat).

Di dalam rumah tangga kita, kita menjumpai banyak sekali peralatan-peralatan elektronik yang membutuhkan tenaga atau energi dari tenaga listrik PLN. Lihat saja mulai dari bola lampu dan lampu neon yang bertebaran di seluruh ruangan, pesawat televisi yang kini juga hampir bertebaran di seluruh kamar termasuk di kamar mandi, perangkat komputer, lemari es, DVD, AC, microwave oven dan lain sebagainya. Seluruh perangkat elektronik tersebut tentu mempunyai daya (Power) yaitu banyaknya energi yang digunakan per satuan waktu. Daya ini mempunyai banyak satuan, namun yang paling umum adalah: Watt. Misalnya adalah : sebuah bola lampu yang berdaya 60 watt, atau lemari es berdaya 150 watt, atau microwave oven yang berkekuatan 1200 watt. Semakin besar watt-nya tentu menandakan bahwa alat tersebut semakin besar konsumsi (energi) listriknya per satuan waktu. Nah, untuk satuan watt ini, 1 watt didefinisikan sebagai 1 joule/detik. Atau dengan kata lain 1 watt sama dengan konsumsi energi sebesar 1 joule selama 1 detik. Bagaimana kalau bola lampu 60 watt? Itu berarti bola lampu tersebut mengkonsumsi energi sebesar 60 joule untuk 1 detik.

Karena daya atau ‘watt’ ini berhubungan dengan energi, maka tentu bukan alat elektronik saja yang mempunyai daya atau ‘watt’ ini. Semua yang mengkonsumsi dan mengeluarkan energi termasuk makhluk hidup juga mempunyai daya atau ‘watt’ ini. Sekarang kalau ditanya, “berapa watt sih manusia itu?” Maka jawabannya adalah: Tentu saja manusia berbeda dengan peralatan elektronik. Manusia jauh lebih canggih, oleh karena itu ‘watt’ manusia sangat fleksibel dan berubah-ubah tergantung dari kegiatan fisik yang dilakukan, jenis kelamin dan berat badannya. Berikut ini adalah tabel “watt” manusia ketika melakukan sebuah aktivitas. Tabel tersebut untuk rata-rata pria dewasa seberat 70 kilogram.

Aktivitas Daya
Berlari 15 kilo per jam 1340 Watt
Main Ski 1050 Watt
Bersepeda 530 Watt
Jalan 5 kilo per jam 280 Watt
Tidur 77 Watt

Catatan: Untuk wanita dewasa konsumsi energinya lebih sedikit dari tabel di atas dan untuk pria dewasa dengan berat yang lebih konsumsinya lebih besar sedangkan yang beratnya lebih ringan konsumsi energinya lebih sedikit dari tabel di atas.

Dari tabel tersebut dapat kita ketahui alangkah “boros”-nya konsumsi energi manusia. Andaikan kita tidurpun kita masih mengkonsumsi energi yang sedikit lebih besar dari bola lampu 75 watt ketika dinyalakan! Ketika berjalan santai 5 kilo per jam, energi yang kita konsumsi kira-kira hampir setara dengan energi untuk sebuah kompor listrik mini berdaya 300 watt. Sementara kalau kita berlari, konsumsi energi yang diperlukan kira-kira setara dengan sebuah microwave oven yang bisa memanggang.

Namun syukurlah manusia tidak membutuhkan sumber energi dari PLN. Jikalau manusia (di Indonesia ini) membutuhkan sumber energi dari PLN maka mungkin PLN sudah bangkrut dari dulu-dulu atau negara ini yang bangkrut karena terus menerus mensubsidi energi atau bisa jadi rakyat kita sudah banyak yang tewas akibat kekurangan energi. Untung, suplai energi yang kita butuhkan untuk metabolisme tubuh kita tersebut berasal dari makanan yang enak-enak seperti: Big Mac, Hamburger, Nasi Goreng, Cap Cay, Gado-Gado, Opor Ayam, Kupat Tahu dan lain sebagainya. Jadinya tidak usah bergantung pada PLN. Walaupun mungkin secara tidak langsung juga tetap saja bergantung pada PLN minimal masuk sebagai unsur overhead cost.

Ok deh, segitu saja dulu artikel saya kali ini. Jadi kesimpulan saya, memang sebaiknya kita mencoba untuk menghemat listrik. Bukan untuk menuruti kata pemerintah tetapi lebih kepada untuk kepentingan kita semua. Nanti jika pemerintah PLN kita bangkrut, ya kita juga yang sulit. Sebab jikalau PLN bangkrut nanti dia pasti akan menjelma menjadi perusahaan penjual lilin alias Perusahaan Lilin Negara. Kalau sudah begitu, maka tibalah kita di zaman kegelapan lagi……. :mrgreen:

Moso Nabi Adam Seperti Monyet??

Postingan ini terinspirasi dari diskusi di sini. Saya jadi ingat belasan tahun yang lalu ketika saya dan teman-teman saya secara iseng2 berdiskusi tentang Teori Evolusi dari Charles Darwin. Nah, di tengah-tengah diskusi sudah pasti ada pendapat klise seperti ini: Jikalau kita menuruti Teori Evolusi maka tentu Nabi Adam seperti monyet dong tampangnya. Begitu sanggah temanku yang anti dengan Teori Evolusi. Waktu itu saya tidak berfikir lebih jauh, dan hanya melontarkan sanggahan klise bahwa mungkin Teori Evolusi belum sempurna dan memang masih harus disempurnakan lagi atau minimal harus bisa menjelaskan sesuatu lebih mendetail lagi.

Lantas menurut saya pribadi bagaimana rupa Nabi Adam? Karena dicari-cari dalam Al-Qurân tidak dijelaskan bagaimana rupa atau fisik Nabi Adam, maka saya berkesimpulan tidak penting Nabi Adam itu fisiknya atau rupanya lebih “jelek” dari monyet (gambar atas) ataupun lebih “ganteng” dari Antonio Banderas (gambar bawah). Karena Allah menciptakan dan memilih Nabi Adam sebagai nabi tentu bukan karena fisiknya. Bisa jadi seseorang yang mempunyai fisik seperti monyet lebih mulia dari orang yang ganteng atau orang yang cantik yang tengah membaca blog ini! Di mata Allah, saya percaya bahwa orang yang fisiknya seperti monyet namun berakhlak mulia tentu lebih mulia dibandingkan orang dengan fisik atau rupa yang ganteng tapi akhlaknya seperti monyet. Saya yakin ANDAIKAN Nabi Adam seperti monyet, beliau tetap individu yang istimewa yang dilebihkan kecerdasannya dan kemuliaan akhlaknya oleh Allah swt bahkan jikalau dibandingkan kita sekalipun. Kemuliaan bukan diukur dari penampilan fisik kan?? Kita, umat manusia, memang sering ‘terjebak’ oleh penampilan fisik.

Jadi, daripada kita sibuk mempertentangkan tampang Nabi Adam seperti apa, lebih baik kita sendiri jauhkan dari sifat-sifat yang mirip monyet. (Bukankah Islam adalah ajaran spiritual yang tidak mementingkan bentuk fisik??). Perbaikilah perilaku kita, karena jikalau perilaku kita buruk tentu kita lebih mirip monyet. Terus belajarlah kita selalu karena jikalau kita tidak mau belajar maka kita lebih mirip dengan monyet. Jangan pula memaksakan kehendak dengan kekerasan fisik, karena memaksakan kehendak dengan kekerasan fisik adalah juga sifat-sifat dari monyet. Tidak percaya? Silahkan nonton acara Monkey World di Animal Planet. Dan terakhir belajarlah logika dan matematika karena monyet tidak bisa berlogika dan tidak bisa matematika. Huahahaha….. Kalimat yang terakhir ini hanya becanda kok.

Nah….. jadi bagaimana dengan pendapat anda?? Sebagai seorang manusia yang berusaha untuk tidak mirip dengan monyet, saya tentu membebaskan anda untuk setuju atau tidak dengan pandangan saya ini. Yang jelas monyet itu juga ciptaan Allah dan tidak ada ciptaan Allah yang hina dan sia-sia.

______________________________________

Hati-Hati:

  • Seperti Monyet bukan berarti sama dengan monyet.
  • Anda merasa tidak seperti monyet? Silahkan saja….. yang jelas itu tidak bisa membantahkan fakta ilmiah bahwa DNA kita 95%-98% sama dengan DNA kera-kera besar seperti: simpanse, orangutan, gorila dan bonobo. Silahkan informasinya anda cari di Internet yang bertebaran di mana-mana. Jadi definisi seperti monyet itu bagaimana ya? :mrgreen: