Terlalu Bergantung Pada Kekayaan Alam?

Dua hari yang lalu, secara tidak sengaja saya membaca sebuah artikel di blog yang sudah jarang saya kunjungi akhir-akhir ini. Cuplikan dari artikel itu adalah sebagai berikut:

Bagaimana dengan negara-negara seperti Malaysia, Singapura dan Hong Kong – yang nota benenya merdeka setelah negara ini – bisa lebih makmur?

Pasti jawabannya mudah ditebak. Karena negara-negara tersebut penduduknya tidak sebanyak Indonesia. Karena negara-negara tersebut tidak seluas Indonesia. Karena negara-negara tersebut dijajah oleh Inggris. So what gitu loh. Apakah kita lupa, kalo negara-negara itu tidak memiliki kekayaan alam sebanyak di Indonesia.

Membaca bagian tersebut, saya agak sedikit tertawa kurang sependapat dengan bacaan di artikel tersebut (sumber artikel sengaja tidak dibuat link-nya agar menjaga nama baik sang blogger keharmonisan bilateral :mrgreen: ). Dalam artikel tersebut sepertinya tersirat bahwa dengan kekayaan alam semata kita bisa menjadi serta merta makmur dan mungkin juga maju.

Walaupun kemungkinan tersebut tetap saja ada (walaupun kecil) namun menurut saya justru itu kesalahan dasar perekonomian kita, terlalu bertumpu kepada kekayaan alam kita yang berlimpah. Hal ini lebih diperparah lagi dengan “buaian” dari semasa kita sekolah di SD bahwa negara kita adalah negara yang kaya dan subur, dan kekayaan buminya melimpah…. sehingga menarik bangsa-bangsa asing untuk merebut tanah air kita ini… dan sebagainya…. dan sebagainya. Jadinya malah saya bertanya balik, so what gitu loh?? Apa memang kekayaan alam yang melimpah bisa otomatis membuat kita menjadi bangsa yang makmur dan maju ?? (Ingat: makmur dan maju adalah dua terminologi yang berbeda).

Sepegetahuan saya, sangat jarang sekali terjadi sebuah negara menjadi makmur (apalagi maju) hanya karena sumberdaya alamnya. Kasus anomali mungkin terjadi di Timur Tengah di mana rakyatnya makmur akibat petrodollar, petroeuro, ataupun petro-petro lainnya yang mengalir ke negeri-negeri tersebut. Wait a minute….. makmur?? Mungkin ya! Maju?? belum tentu !! Andaikan makmur, untuk berapa lama bisa bertahan?? Tidak ada seorangpun mungkin yang tahu…… yang jelas negara-negara kaya minyak tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai negara maju. Indikator-indikator non-ekonomi dan juga prestasi-prestasi non-ekonomi lainnya lebih mirip negara-negara miskin berkembang dibandingkan dengan negara-negara maju. Salah satu indikator yang sangat memprihatinkan adalah tingginya tingkat buta huruf di negara-negara Timur Tengah tersebut seperti yang pernah saya tuliskan di sini.

Kalau kita perhatikan lebih cermat pula, negara-negara yang dilimpahkan kekayaan alam berupa minyak mentah di Timur Tengah ini sangat bergantung kepada negara-negara maju atau negara-negara industri barat. Perhatikan saja negara-negara Timur Tengah yang makmur seperti: Saudi Arabia, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar dan lain sebagainya adalah mereka yang bersahabat dengan negara-negara barat. Negara-negara yang kurang bersahabat dengan negara-negara barat seperti: Irak (masa pemerintahan Saddam Hussein), Suriah, Libya dan lain sebagainya kehidupan rakyatnya “tidak seberuntung” mereka di negara2 tetangga mereka yang bersahabat dengan negara-negara barat, dengan sedikit catatan, kehidupan atau kemakmuran di Libya meningkat sejak barat dan PBB mencabut embargo kepada Libya di bulan September 2003 lalu.

Ketergantungan negara-negara Timur Tengah kaya minyak tersebut dengan negara-negara maju bukan hanya dalam bidang eksplorasi minyak dan perdagangan minyak saja, namun terus berlanjut hingga pembangunan kota-kota megah mereka. Tanpa bantuan teknologi dan kepakaran dari negara-negara maju tidak mungkin Dubai (contohnya) dapat menjadi sementereng dan semegah sekarang. Tanpa campur tangan kontraktor-kontraktor dan ahli-ahli dari negara maju rasanya mustahil orang-orang UEA bisa membangun sendiri The World, Dubai Palm Island, ‘Burj al-Arab ataupun ‘Burj Dubai yang megah itu. Pendek kata dengan hanya modal kekayaan alam saja, kita akan tetap saja sangat bergantung dari negara-negara lain…..

Jadi mulai sekarang, sebaiknya kita jangan hanya membanggakan “kekayaan alam” saja, dan tidak mengorientasikan perekonomian kita pada eksploitasi kekayaan alam kita. Mari kita mulai membangun sumberdaya manusia kita besar-besaran dan tidak perlahan-lahan lagi alias alon-alon asal kelakon. Makin alon akan makin tertinggal kita oleh bangsa lain. Perekonomian yang berdasarkan sumberdaya manusia alias sains dan teknologi terbukti di manapun lebih ampuh dalam memakmurkan apalagi memajukan sebuah bangsa dibandingkan sebuah bangsa yang perekonomiannya bergantung pada kekayaan alam. Hal ini mungkin disebabkan karena perekonomian yang berorientasi pada sumberdaya manusia mampu memproduksi produk-produk yang bernilai tambah tinggi atau mungkin malah eksklusif yang tentu dapat mendongkrak pendapatan suatu negara. Perekonomian yang berbasis kemajuan sains dan teknologi dan SDM juga dipercaya (dan memang) mampu menyerap tenaga kerja yang jauh lebih besar dibandingkan perekonomian sumberdaya alam. Hal ini juga didukung fakta bahwa negara-negara yang maju lebih tidak bergantung pada negara-negara lain sehingga memperbesar peluang terbukanya lapangan-lapangan kerja untuk tenaga-tenaga kerja dalam negeri dan masih banyak lagi keuntungan-keuntungan negara-negara yang perekonomiannya bergantung pada sumberdaya manusia.

Contoh nyata kesuksesan perekonomian yang miskin sumberdaya alam tapi kaya kualitas sumberdaya manusia adalah: Korea (Selatan). Pada saat negara kita sudah merdeka 10 tahun, orang-orang Korea baru saja mulai bangkit dari puing-puing kehancuran perang Korea yang dahsyat itu. Namun kini setelah 40 tahun?? Mereka sudah mendapatkan “segalanya” atau mereka sudah melangkah jauh dan berprestasi jauh di atas kita. Apakah kita memang lebih bodoh dari bangsa Korea?? Kita tidak mampu membangun SDM kita sebaik Korea?? Atau…. kita hanya bangga dengan kekayaan alam kita dan jumlah penduduk kita yang ratusan juta tapi kebanyakan tidak bermutu itu? Walahualam……. Yang jelas jikalau saya menemukan artikel seperti cuplikan di atas, hati saya sangat miris, sepertinya memang masih banyak di luar sana yang berfikiran sangat marginal: “yang penting gua udah dapet kerjaan….. dan dapet kedudukan di kantor….. masalah prestasi dan lainnya….. emang gua pikirin…..!! Toh… Indonesia kaya sumberdaya alam ini…. nggak akan habis tujuh turunan!”

Embeeeeer…….!!” :mrgreen:

_________________________________

Catatan klise:

– Artikel di atas bukan berarti kita tidak mensyukuri kekayaan alam kita yang berlimpah……..

Iklan

21 responses to “Terlalu Bergantung Pada Kekayaan Alam?

  1. ho ho kekayaan alam indonesia di rampok sedikit orang. jadi indonesia melarat terus deh

  2. Pagi, kang 😀

    Barangkali kita (kita??? Lo aja kaleeee .. gw enggak 😛 ) terlalu terlena oleh karunia alam Indonesia. We just took it for granted.. things come easily, we don’t need to put a fight for it. Jadi lah ‘kita’ malas berpikir, kurang (aku gak berani bilang: tidak) inovatif. Negara2 yang sumber alamnya terbatas, terpaksa atau dituntut untuk putar otak bagaimana memanfaatkan sumber yang terbatas dengan se-efisien dan se-ekfetif mungkin sambil mengembangkan alternatif2 lainnya.
    *tapi kalo sumber alamnya bener2 nihil.. repot juga 😀 *

    Hal lainnya, konon faktor ‘budaya’, ‘etos kerja’ dan pendidikan manusia2-nya juga memegang peranan penting.
    *duh ngomong apa sih neeeh :D*

    Eniwei, sekedar intermezzo, lagunya Koes Plus ini barangkali bisa jadi bahan ‘renungan’…

    Bukan lautan hanya kolam susu
    Kail dan jala cukup menghidupimu
    Tiada badai tiada topan kau temui
    Ikan dan udang menghampiri dirimu

    Orang bilang tanah kita tanah surga
    Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

    …betulkah (akan selalu) sebegitu mudahnya hidup kita (bila bergantung hanya pada sumber alam)? I wish…..

  3. @kw
    “ho ho kekayaan alam indonesia di rampok sedikit orang. jadi indonesia melarat terus deh” <——— itu krn kita ‘bodoh’ atau tdk mampu mengolah sumberdaya alam kita sendiri. jadinya begitu deh.
    Tapi menurut saya, sumberdaya alam seperti pertanian jikalau kita libatkan juga teknologi dan ilmu dlm pertanian tersebut, tidak apa2, malah bagus.

  4. mungkin bangsa kita perlu ‘dipepet’ dulu mas biar maju!

  5. Ya mas yariNK….kita sangat terbuai dengan kekayaan alam melimpah…..tetapi tidak mau melihat bagaimana kerusakan alam yang semakin parah….saya ambil contoh saja (berbagai sumber;data kurang mutahir) penyusutan hutan produksi 1993-2001 mencapai 32 juta hektar; kawasan hutan rusak sekitar 43 juta hektar; deforestasi 1.6-2.4 juta hektar….lalu terumbu karang cenderung menyusut; hutan bakau begitu pula tahun 1982 seluas 5.2 juta hektar tinggal 2.4 juta di tahun 1998…..lalu ekosistem pesisir dan lautan yang sekitar 2/3 dari total wilayah terotorial hanya nyumbang sekitar 12% terhadap GDP…….belum lagi sumberdaya alam minyak mentah pun kita sudah terkuras habis hingga perlu impor……kemudian sekitar 70% isi Perda di Jawa berisi kebijakan pembangunan yang bersifat eksploitatif……nah ditambah dengan angka HDI Indonesia 2007-2008 sebesar 0.728 terendah antara negara-negara ASEAN……maka lengkaplah bukan saja kita menghawatirkan sumberdaya alam semakin kritis tetapi juga mutu SDM kita masih lemah……agar tidak terbuai maka sudah saatnya bangsa indonesia mengubah mindset-nya yang tidak lagi mengagung-agungkan negara kaya sumberdaya alam…….tetapi kita jadikan pola pikir baru tentang keterbatasan sumberdaya alam…….dengan paradigma pembangunan berkelanjutan….kita perlu all out berhemat sumberdaya alam untuk pelestarian lingkungan hidup…..plus pembangunan manusia……istilah ilmiahnya optimalisasi sumberdaya…..buat generasi masa datang…..

  6. Saya sepakat, yang harus dibenahi nomor satu adalah SDM.
    Contohnya, Hongkong penduduknya banyak, dan ramenya seperti Jakarta, bahkan sampai jam 11 malam masih banyak orang di trotoar pinggir jalan…..
    Dari sisi lembaga keuangan …hukum mereka sangat ketat, sehingga orang tak berani bermain-main.

    Cerita teman-teman di Jepang juga sama, mereka adalah negara yang penduduknya sangat disiplin, karena aturan hukumnya juga jelas dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.

  7. Ini memangn buaian bahwa negeri kita kaya raya. Sehingga terpola sebuah frame bahwa dengan kaya raya saja sudah cukup. Tapi lupa: pengelolaan yang fair.

  8. Itu sudah…
    Di Indonesia ini terlalu banyak mis… mulai dari calon miss universe, miss Yoga, miscommunication, mismanagement sampai misunderstanding. Apa yang bisa kita lakukan? dipikiran sederhana saya, kita nggak perlu menunggu pemerintah melakukan sesuatu–(tapi saya yakin kok mereka sedang bekerja keras melakukan sesuatu), dengan cara yang dijalankan Mas Yari ini —meluruskan paradigma yang salah kepada tetangga-tetangga di dunia virtual sudah sip. Tinggal memperluas penyebaran paradigma ini.

  9. Mungkin karena sumber daya alam yang melimpah itu yang membuat kita males untuk berfikir kali ya mas Yari? abis “bukan lautan hanya kolam susu (ngak perlu berternak sapi perah), kail dan jala cukup menghidupimu, tonkat kayu dan batu jadi tanaman (ngak perlu bercocok tanam apalagi menciptakan tehnologi pertanian), ikan dan udang menghampiri dirimu (ngak perlu membuat kapal modern penagkap ikan) he he……..maaf mas Yari sedikit bernyannyi. Kalau di negara empat musim mesti berfikir bagaimana berproduksi sebesar-besarnya dimusim summer dan menyimpannya untuk musim dingin. sehingga otaknya bekerja keras gimana cara mensiasatinya. Trus untuk negara miskin sumber daya alam seperti Jepang, otaknya juga berfikir keras gimana bisa membuat technologi modern yang bisa bernilai tinggi dibanding sumber daya alam mentah. Demikian pendapat saya sesuai dengan kapasitas otak saya yang sudah dimanjakan oleh kekayaan sumber daya alam yang berlimpah. Terima kasih

  10. Secara umum saya setuju dengan pendapat yang tertuang di artikel ini. Memang keberlimpahan kekayaan alam di negeri kita, saat ini belum bisa dioptimalkan, karena kita belum mampu mengurusnya.

    Tapi, untuk satu hal saya tidak setuju dengan pernyataan Pak Yari berikut;

    Hal ini juga didukung fakta bahwa negara-negara yang maju lebih tidak bergantung pada negara-negara lain…

    Btw, dari blog mana Pak? 😀

  11. Maksudnya, petikan beberapa paragraf di awal artikel ini dari blog mana? 😀

  12. Ada anekdot lucu, Pak Yari, yang pernah saya baca:
    Ketika Tuhan menciptakan Indonesia, para malaikat protes.
    Malaikat: Tuhan, kenapa engkau ciptakan surga di dunia?
    Tuhan: Yang mana?
    Malaikat: Yang mana lagi, kalau bukan Indonesia. Itu bukan bumi lagi, Tuhan. Indonesia itu surga. Indah. Airnya melimpah. Sejuk. Hutan-hutanpun tumbuh di mana-mana…
    Tuhan: Oh, ya? Tapi, tenang saja kalian. Kau tahu siapa yang mendiaminya? Mereka orang-orang Indonesia!
    Malaikat: Huff,,,Syukurlah…

    Hanya anekdot. Alam kaya, tinggal bagaimana menajemennya ya, Pak?

  13. Saya kira ini salah satunya karena pemerintahan Soeharto dulu terlalu terburu-buru ingin menyejahterakan rakyatnya secara ekonomi dalam jangka pendek. Akhir tahun 60-an, politik sudah rada stabil, tapi ekonomi masih jongkok akibat inflasi gila-gilaan dari zaman akhir pemerintahan Soekarno. Untuk menstimulasinya, Soeharto memilih jalan pintas yang lebih cepat enak.

    Ketimbang menahan diri sejenak untuk mempersiapkan SDM dan infrastrukturnya untuk mengelola SDA kita, Soeharto lebih suka mendapat duit banyak dalam waktu singkat dengan langsung menyewakan bumi kita untuk dikeruk isi perutnya oleh pihak asing (selain juga seenaknya ‘menggesek kartu kredit’ yang diberikan negara-negara donor). Yah, memang akhirnya pada tahun 70-90an kita benar-benar menikmati kekayaan alam Indonesia tanpa harus sering repot-repot mengurus tetek-bengeknya. Tentu konsekuensinya ya yang kita nikmati cuma ‘setitik’, sementara orang luar yang susah-susah mengolah dapet sebelanga penuh.

    Ironisnya, bahkan sampai saat inipun banyak orang kita yang masih terjebak pada paradigma lama itu…

    *lirik euforia Blok Cepu*

  14. Menurut pandangan saya sih, negara2 mereka itu gak sama latar belakang nya dengan Indonesia dari sisi historik nya, Indonesia itu satu satu nya negara yang lain dari yang lain, yang pastinya kalo berkembang pasti “menguasai dunia”.

    Dan juga mereka bukan negara negara dengan luas yang gak seberapa dengan Indonesia….

    Emang saya rasa, bush atau obama pun kalo di taro di Indo pasti pusing. hahaha

  15. @kw

    Nah lho…. yang salah…. siapa dong??

    @g.a.i.a

    Kalau negara seperti Singapore atau Hongkong sebenarnya hasil kekayaan alamnya hampir 0 (bahkan boleh dikatakan 0). Namun mereka tetap bisa survive tanpa sumberdaya alam. Mula-mula mereka mendirikan sektor jasa yang akhirnya berkembang menjadi kelas industri jasa kelas dunia. Dari sana mereka berkembang, menjarah dunia industri yang science and technology driven. Dari industri jasa tersebut mereka mampu menghidupi rakyatnya dengan mengimpor bahan makanan dan bahan2 mentah buat industri dan konsumen akhirnya…

    O iya, sis Gaia, bukannya suka lagu Koes Plus yang “Bis Sekolah” itu. yang:

    bis sekolah yang kutunggu…kutunggu…. tiada datang….

    Gitu kan lagunya?? Meningatkan masa kecil sis Gaia dulu yang sering mbolos itu ya?? Wakakakak….. **kaboor ah sebelum sis Gaia nyanyi** :mrgreen:

    @AgusBin

    Betul itu Bin….. jikalau pengelolaan sumberdaya alam berbasis sains dan teknologi, mungkin hasilnya akan lebih punya daya saing di pasaran….

    @inos

    Kaya mobil aja….. :mrgreen:

    @sjafri mangkuprawira

    Betul prof…. pengelolaan sumberdaya alam yang merusak lingkungan itu disebabkan karena kurangnya pengetahuan kita sehingga kurang sadar akan pentingnya menjaga ekosistem di suatu habitat yang dapat rusak akibat pengelolaan sumberdaya alam yang ceroboh.

    Mengkhawatirkan juga ya, sumberdaya alam yang akan habis sementara sumberdaya manusia mutunya nggak naik2. Bagaimana nanti jikalau sumberdaya alam di bumi ini habis semua?? Sepertinya, mungkin akan dicari cara bagaimana mendaurulang sumberdaya alam yang sudah terpakai menjadi bisa terpakai lagi, atau dengan eksplorasi ke luar angkasa, siapa tahu mungkin banyak sumberdaya alam (non-organik tentu saja) di planet lain. Tapi itu butuh kualitas SDM yang tinggi pula, negara2 yang SDM-nya kurang?? Mungkin hanya gigit jari saja prof??

    @edratna

    Kalau hukum diterapkan pandang bulu alias pilih kasih…. wah mungkin itu makin merusak kualitas SDM secara tidak langsung….. tambah gawat lagi….

    @Daniel Mahendra

    Itu karena untuk mengelola dan mengolah sumberdaya alam, kita masih butuh teknologi dan ahli2 dari luar alias belum mampu mengelola sendiri secara maksimal…. 😦

    @Yoga

    Miised call juga sering terdengar ya sejak kemunculan hape?? Huehehe…. :mrgreen:

    Penyebaran paradigma memang sangat penting mudah2an dapat diikuti dengan kesadaran 100% bahwa paradigma tersebut memang harus dijalani dan hanya bukan sekedar paradigma yang layu tergerus zaman….. **halaah**

    @yulism

    Yah begitulah….. atau bisa jadi juga kita adalah bangsa yang cepat puas?? Malas bersaing?? Selalu berfikiran jangka pendek?? Nggak mau berfikir yang susah-susah?? Dan lain-lain…. dan lain-lain…. ah… mudah2an kedepannya tidak seperti itu lagi ya mbak??

    @mathematicse

    Maksudnya adalah “lebih tidak bergantung” bukannya “sama sekali tidak bergantung”. Yang jelas memang tidak ada satu negarapun, semaju apapun, yang dapat berdiri sendiri alias tidak butuh negara lain sedikitpun. Negara majupun membutuhkan beberapa bahan mentah dari negara berkembang dan juga tenaga kerja yang murah (namun bermutu tentu saja). Untuk itu memang banyak perusahaan2 di negara maju mendirikan pabriknya di negara2 berkembang.

    NAMUN, tentu kualitas ketergantungan negara2 maju terhadap negara2 berkembang berbeda dengan ketergantungan negara2 berkembang terhadap negara2 maju. Kualitas ketergantungan tentu tidak bisa diukur dengan angka2. Sementara kuantitas sangat mungkin juga negara maju lebih independen dibandingkan negara2 berkembang. contoh nyata yang simpel aja: Banyaknya imigran dari negara berkembang ke negara maju mencari kehidupan yang lebih baik daripada sebaliknya. Juga bantuan2 ekonomi dari negara maju ke negara berkembang, dan hampir kita tidak pernah mendengar sebaliknya. Itu baru sebagian kecil saja. :mrgreen:

    @Catshade

    Nah…. itu dia…. biasanya kalau sebuah bangsa “sedang hidup enak”, dia pastinya hanya berfikir jangka pendek saja. Tapi….. apa begitu ya watak orang Indonesia rata-rata?? Ah…. mudah2an nggak seperti itu ya. Dan memang betul masih banyak orang kita yang terjebak dalam paradigma lama…. dan celakanya masih banyak orang yang “merindukan” kenikmatan hidup di zaman orde baru, walaupun kenikmatan tersebut “penuh kepalsuan” tetapi tetap banyak dirindukan orang2 kita….. wah gawat ya…. 😦

    @Raffaell

    Ah…. nyatanya AS dan China yang negaranya jauh lebih luas dari kita dan penduduknya juga lebih banyak toh bisa maju juga…..

    Memang sih ada beberapa negara seperti Malaysia yang memang “makmur”nya cenderung karena negaranya kecil, penduduknya kecil dan juga alamnya kaya, jadinya terkesan maju walaupun terlihat sangat superfisial.

    Memang betul seh…. Bush dan Obama jikalau ditaruh di Indonesia juga pusing…. lha wong…. rakyat Indonesia masih banyak juga yang “bermimpi” kok…. dibangunkan dari tidurnya aja susah….. huehehehehe….. 😀

  16. Atau layu sebelum berkembang?

    :mrgreen:

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Mending kalau layu sebelum berkembang…. kalau layu belum niat untuk berkembang…. lebih dahsyat lagi konyolnya! :mrgreen:

  17. kekayaan sumber daya alam ini akan bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya utk kemakmuran bersama, bung yari, jika diimbangi dengan kualtias sumber daya manusia yang berotak brilian, visioner, dan tangguh, sayangnya, limpahan kekayaan telah diekspolitasi oleh orang2 serakah yang haus duit dan kekuasaan sehingga alam menjadi kering dan tandus. rakyat pun misikin secara abadai. salam merdeka, bung!

    ______________________________

    Yari NK replies:

    Nah… itu dia… banyak sumberdaya2 alam diambil perusahaan asing, dan mungkin karena menganggap penduduk lokal belum bisa menyediakan tenaga kerja bermutu, maka tenaga kerja didatangkan dari luar daerah bahkan luar negeri. Akibatnya….. rakyat lokal hanya menerima tandusnya saja (pencemaran lingkungan rusak akibat kurang pengetahuan atau kurang sadarnya akan pentingnya kelestarian ekosistem) … tidak mendapatkan apa2 dari kekayaan alam tersebut 😦

  18. Kekayaan alam bisa makmur, jawabnya bisa, dengan berbagai persyaratan yaitu manajemen yg baik, bersih, dan investasi untuk masa depan. Tetapi kalau kekayaan alam bisa menjadi negara maju, jawabnya tidak bisa, karena maju tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh kekayaan SDM.
    Kalau membahas negara-negara penghasil minyak di tumur tengah, jadi ketawa memang makmur pada saat ini, tapi mereka itu bodoh, tidak sadar sekarang ini sedang dikadalin oleh Amerika :mrgreen:
    Jadi kuncinya adalah SDM, Bangsa yang maju (pinter) akan menggunakan taktik untuk mendapatkan sumber-sumber kekayaan alam yang tidak dimiliki. Lah tragisnya justru negara-negara yang punya kekayaan alam itu tadi, gampang dibodohi. :mrgreen:

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Memang iya…… dan negara2 barat merasa sangat senang karena negara2 Arab Timur Tengah tersebut sangat tergantung dari mereka sehingga negara2 Timur Tengah tersebut secara politis lebih bisa dikendalikan dan selalu di bawah ketiak Amerika Serikat/negara2 barat.
    Jadi memang sebuah bangsa janganlah “bodoh” dan SDM-nya harus tinggi, agar kita tidak terlalu banyak bergantung dan juga tidak berada di bawah ketiak negara2 maju! Huehehehe…… 😀

  19. mau bulan bulan puasa lho…
    siapkan hati pikiran perasaan dan makanan
    met ramadhan

  20. puasa dolo yok…

    _________________________

    Yari NK replies:

    Ok…. terims telah memperingati…. mudah2an bulan Ramadhan tahun ini dapat menjadi bulan yang penuh berkah….Amin. 🙂

  21. saya sependapat dengan pendapat saudara tentang kekayaan alam bukanlah satu-satunya faktor penyebab kamajuan suatu negara. tapi menurut saya itu adalah modal awal bagi kemajuan negara kita. hal yang paling penting dipikirkan saat ini adalah bagaimana menggunakan modal awal ini sebagai stimulus bahgi kemajuan bangsa kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s