Daily Archives: Selasa, 16 September 2008

Kejujuran

Postingan ini terinspirasi karena saya sedang jelèh dan eneg makan daging akhir-akhir ini. Ini karena pemberitaan gencar akhir-akhir ini di TV one mengenai daging sampah yang naudzubillah terkadang sudah membusuk lantas diolah lagi dan dijual serta dikonsumsi oleh masyarakat. Sejak itu dan untuk beberapa minggu kemudian mungkin saya akan merasa jelèh jikalau makan daging, entah itu daging sapi, ayam, udang dan sebagainya. Sudah tiga hari ini saya tidak mau menyentuh daging yang dimasak di rumah, walaupun saya yakin daging yang dibeli di pasar oleh ma domestique atau mijn bediende  tersebut tentu bukan daging busuk. Sudah tiga hari ini pula saya sahur dengan havermut ( Belanda: havermout. Inggris: oatmeals) ditambah sedikit roomboter atau creamery butter (bukan mentega), sedikit garam, dan telur rebus. Itu saja. Yah, mudah-mudahan setelah pemberitaan tentang daging busuk menghilang dari televisi, selera saya untuk makan daging timbul kembali (walaupun sebenarnya tanpa makan daging bagi saya juga tidak masalah).

Nah, untuk itu, untuk postingan kali ini saya akan mempersembahkan topik yang ringan-ringan saja dan memakai Bahasa Indonesia (sesuai banyak permintaan). Namun diusahakan agar topiknya masih berbau bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Tentu masalah daging busuk yang dijual dalam paragraf di atas masih ada hubungannya dengan “Kejujuran” seperti yang tertera pada judul di atas.

Kejujuran yang akan diangkat ini adalah mengenai kejujuran para pedagang yang menjual daging busuk tersebut terutama para pedagang yang mengolah daging busuk ini menjadi daging yang “siap santap” kembali. Apakah pedagang ini hanya mengejar keuntungan semata dan tidak mengetahui bahwa daging tersebut tidak baik dikonsumsi? Bukankah dalam Islam dalam berdagang seharusnya tidak ada fihak yang dirugikan? Dalam kasus daging busuk ini, konsumen tentu dirugikan karena daging yang busuk telah tercemar oleh bakteri. Hasil sekresi dari bakteri ini yang kurang lebih mirip dengan hasil buangan dari tubuh manusia dan hewan tentu sulit untuk dihilangkan walaupun dengan suhu panas. Bakterinya mungkin mati namun hasil biokimiawi sekresinya belum tentu bisa hilang dalam suhu panas. Bakterinyapun kemungkinan bisa datang dari bermacam-macam sumber termasuk dari kontak dengan kotoran tikus misalnya. Sungguh menjijikkan. Dalam hal ini tentu konsumen sangat dirugikan terutama jikalau daging tersebut dikonsumsi jangka panjang. Kesehatanlah yang menjadi taruhan mereka yang mengkonsumsi daging ini. Kalau akhirnya penyakit datang akibat konsumsi daging busuk dalam jangka panjang (atau jangka pendek) ini tentu akhirnya mereka akan keluar uang juga untuk biaya penyembuhan, dan kalau sudah begini tentu kerugian kesehatan yang diderita konsumen bertambah dengan ‘kerugian’ finansial. Sungguh merupakan kerugian yang berlipat ganda.

Dalam Al-Quran disebutkan:

أَوْفُوا الْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُخْسِرِينَ

وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. (QS 26:181-183)

Kini jelaslah bahwa jikalau pedagang menyebabkan kerugian (kerugian dalam hal apapun) pada konsumen sangat tidak diperbolehkan dalam Islam. Apakah para pedagang tersebut tidak mengetahui hal tersebut? Ataukah mungkin karena ketidaktahuan para pedagang tersebut yang notabene mungkin berpendidikan kurang bahwa daging tersebut dapat merusak kesehatan bagi mereka yang mengkonsumsinya. Walahualam. Kita harapkan saja semoga para pedagang tersebut sadar apa yang telah mereka lakukan itu salah dan mudah-mudahan mereka tidak melakukannya lagi………