Yang Tidak Boleh Dilakukan…….

Dalam artikel Ini akan dikemukakan beberapa perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh umat Islam. Poin-poin (kesimpulan) ini saya ambil dari berbagai buku agama yang saya baca dan juga dari beberapa situs Islam yang saya kunjungi, baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Inggris. Para pembaca semua tentu dapat menambahkan ataupun memperbaiki poin-poin tersebut, karena komentar-komentar yang positif tersebut tentu dapat memperkaya postingan ini yang pada akhirnya juga akan memperkaya pengetahuan dan mempertebal keimanan kita. Ok, let’s get down to business: πŸ˜€

  1. Jangan menyebarkan berita buruk kepada siapapun yang hanya akan memperburuk keadaan.
  2. Jangan membaca surat orang lain.
  3. Jangan berbicara dengan gerakan-gerakan yang tidak perlu pada saat orang-orang lain juga hadir di situ karena akan menimbulkan keraguan.
  4. Jikalau anda bertamu, hendaknya jangan mempunyai maksud-maksud terentu. Dan juga sebaiknya tidak bertamu untuk waktu yang lama karena bisa jadi akan membuat ketidaknyamanan bagi si tuan rumah.
  5. Jangan berkepalabatu dengan kesalahan anda.
  6. Jangan menyela pembicaraan orang lain.
  7. Jangan terlambat jika mengadakan perjanjian.
  8. Jangan menutupi kesalahan-kesalahan atau kebiasaan buruk anak anda. Namun cobalah untuk merubah mereka.
  9. Jangan terlalu banyak becanda dengan orang-orang tua.
  10. Jangan mempunyai kebiasaan makan dan berpakaian yang berlebihan.
  11. Jangan membuang waktu kita untuk hal-hal yang tidak berguna.
  12. Jangan mengekspos kekurangan orang lain.
  13. Jangan mengungkit-ungkit seseorang (yang sudah insyaf) dengan perbuatan-perbuatan buruknya di masa lampau.
  14. Jangan terlalu intim dengan orang-orang kafir (hmmmmm….. mungkin maksudnya jangan terlalu intim ini adalah jikalau sudah menyangkut hal-hal kepercayaan seseorang barangkali. Ah nggak tahu deh… ada yang bisa menjelaskan?? – YNK )
  15. Jangan mencabut uban di rambut anda demi memikat orang lain.
  16. Jangan memotong kuku anda dengan gigi.
  17. Jangan tertawa ketika makan atau minum.
  18. Jangan berinsiatif menemukan cara baru terhadap konsensus yang sudah disepakati oleh umat Islam.
  19. Jangan berbaring telungkup.
  20. Jangan duduk di tempat yang paling menonjol sendiri pada saat pertemuan.
  21. Jangan meniru perbuatan buruk.
  22. Jangan mengambil hak orang lain dengan paksa.
  23. Jangan menceritakan mimpi bohong/palsu.
  24. Jangan menggunakan masjid untuk kepentingan pribadi, sekecil apapun kepentingan tersebut.
  25. Jangan membakar hidup-hidup makhluk hidup.
  26. Jangan menceritakan sesuatu pada orang lain yang tidak perlu dan tidak pantas untuk diceritakan.
  27. Jangan menyusui anak setelah berusia dua tahun.
  28. Jangan menanam pohon di dalam masjid.
  29. Jangan shalat jikalau ada gambar atau potret tepat di depan anda.
  30. Jangan percaya pada pertanda-pertanda buruk dan tahayul-tahayul karena sudah termasuk shirk.
  31. Jangan percaya pada tukang ramal karena ramalan-ramalan sangat tidak diperbolehkan dalam Islam.
  32. Jangan menyembunyikan kesaksian anda. Karena siapapun yang menyembunyikan kesaksian adalah pendosa.
  33. Jangan menolak ayah biologis anda dan menganggap laki-laki lain sebagai ayah biologis anda, karena hal tersebut juga berdosa.

Nah, sekian dulu poin-poin yang tidak boleh dilakukan oleh kita sebagai kaum Muslim. Apa ada yang hendak ingin menambahkan atau memperbaiki? πŸ˜€

Iklan

27 responses to “Yang Tidak Boleh Dilakukan…….

  1. kalau yang jelas2an melanggar seperti membunuh, makan makanan haram dll, udah ga usah disebutkan lagi ya mas? kalo mas yari sering ngeledek pal eby boleh ga tu mas? hehe..

  2. Jangan sombong, takabur dsb…
    Jangan membentak orang tua, atau pun sekedar mengatakan “AH” untuk menampik pandangan atau keinginan beliau.
    .
    .
    .
    Bisa banyak kalau semua “jangan” dituliskan Mas… thanks for reminder. πŸ™‚

  3. Hehe….. sesuai dengan tujuan postingan ini yaitu memberikan saran. Begini nih kalau boleh saran:

    “Hiduplah sesuai dengan kaidah-kaidah hidup kemasyarakatan, karena manusia hidup di masyarakat”

    Maksudnya adalah masalah hidup di akherat adalah masalah pribadi, namun jangan naif karena manusia juga hidup dalam komunitas sosial, jadi tetap harus mentaati kaidah-kaidah hidup bermasyarakat. Kecuali kalau hidup di hutan atau planet Mars, maka silahkan jika akan menurut aturan semau gue, hehe.

    Kemampuan dan kemauan hidup bermasyarakat menjadi “stand point issue” berbagai malapetaka. Agama memang tidak menciptakan malapetaka, namun apa boleh baut, opini publik telah terbentuk karena perilaku yang ditunjukkan yang bersangkutan itu sendiri. Jadi itu “Hiduplah dengan baik di masyarakat”

    Postingan pak Yari ini bukan lagi sederhana, tapi preambul menuju esensi πŸ˜€

  4. sudahkah kita menjauhi laranga-larangan itu?

  5. wuaaah……pusing juga nih
    banyak kali larangannya
    mahal juga ‘tiket’ ke surga ya
    no 12 dan 15 paling berat mematuhinya

  6. Hmmm….
    no.15 > Jangan mencabut uban di rambut anda demi memikat orang lain.

    Kalo kang Yari mah di-cat yaah (atau pake hyena) πŸ˜›

  7. 14. jangan berhubungan intim?

  8. Padahal “jangan” itu enak lho…jangan lodeh, jangan asem, jangan menir, jangan sop……

  9. mas yariNK…..setahu saya dari kuliah Prof. Qurais Shiab, menjelang subuh,dia mengatakan pada awalnya al-quran tidak menyebutkan kata larangan kepada ummatnya……. lebih banyak ungkapan menghimbau……namun karena mulai banyak yang ingkar maka berlakukalah kata larangan….jangan ini jangan itu…..

  10. jangan pernah lupa untuk mampir ke blog ini πŸ˜€

  11. Sempet kaget juga baca poin no 27.
    Yaitu jangan menyusui anak setelah berusia dua tahun.
    Karena prinsipku adalah menyusui anak sampai si anak bosan.
    Yang mana dalam kasus Kayla -my first daughter-, dia menyusu sampe berumur 2.5 tahun.

    Jadi?
    Rasanya sih di dalam AlQuran cuma disebutkan bahwa susuilah anak kamu sampai dua tahun. Tapi kata ‘jangan lebih’ ada dimana, ya?

  12. Mas Yari, saya boleh menanggapi to?
    Mungkin akan lebih baik kalau daftar panjang ini dikelompokkan, yaitu ‘jangan’ yang bersifat syar’i, ‘jangan’ yang berada di wilayah etika pergaulan, dan ‘jangan’ yang demi kebaikan diri pribadi. Supaya sistematis dan tidak terasa meloncat-loncat.

    Beberapa ‘jangan’ menurut saya masih debatable, misalnya :
    19. Jangan berbaring telungkup. (Memang sih, sesak berbaring telungkup, tapi rasanya kok kurang ‘penting’ untuk dimasukkan disini)
    20. Jangan duduk di tempat yang paling menonjol sendiri pada saat pertemuan. (Mm … ??)
    23. Jangan menceritakan mimpi bohong/palsu. (mimpi ada yang bohong/jujur?)
    24. Jangan menggunakan masjid untuk kepentingan pribadi, sekecil apapun kepentingan tersebut. (bagaimana kalau untuk akad nikah?)
    27. Jangan menyusui anak setelah berusia dua tahun. (reasoningnya?)
    28. Jangan menanam pohon di dalam masjid. (ya iyalah … mana ada orang menanam pohon di dalam bangunan)
    29. Jangan shalat jikalau ada gambar atau potret tepat di depan anda. (saya agak ragu, sebab setahu saya sholat di mana pun boleh asal tempatnya suci. kita kan bukan menyembah potret itu)

    Demikian ‘keraguan’ saya, mohon maap yang sebesar-besarnya kalau saya salah …

  13. humm..fi tau alesan “jangan” yang nomer 16, pasti karna ga bakal rapi kan kalo kuku digigitin, trus di kuku kan banyak kuman, kalo kumannya masuk mulut jadi penyakit ya kan? apalagi kalo gigitinnya di bulan puasa, masa’ saking ga ada makanan lalu kuku yang dijadiin sarapan? hiiiy…. *lagi kurang waras nih pak, mohon dipermaaf, he..*

  14. wah, ada 33 poin yang tidak bloh dilakukan. saya sendiri baru sadar bahwa ternyata saya masih sering melakukan beberapa poin di antaranya, haks. untung saja bung yari mengingatkan saya melalui postingan ini. terima kasih bung yari, semoga secara bertahap ke-33 poin ini tidak akan saya lakukan lagi.

  15. @AgusBin

    Yang udah jelas2an sih ya nggak perlu disebutkan lagi Bin. Ini maksudnya adalah poin2 yang seringkali terlewatkan oleh kita.

    Mas Eby doyan kok diledek. Nggak percaya? Tanya aja ndiri… huehehe… :mrgreen:

    @Yoga

    Yang mengatakan “ah” itu patut dimasukin. Tetapi maksud saya di sini adalah yang seringkali kita lewatkan atau terlupakan. Kalau masalah “sombong” atau “takabur” ya tentu itu adalah masalah sehari2 yang sudah kita maklumi bersama. Btw, thanks juga… atas tambahannya. πŸ˜€

    @laporan

    Huahahaha….. sebenarnya artikel ini saya buat dengan sedikit malas. Kalau bagusnya sih, diberi penjelasan sedikit kenapa begini kenapa begitu. Tetapi malas saya, karena jadinya artikelnya bisa sangat panjang. Biarlah mereka yang penasaran kenapa-kenapanya mencari sendiri. Huehehe….

    Ya betul sekali….. kita hidup bersama di dalam masyarakat atau komunitas sosial yang harus saling menghargai. Tapi sayang ada beberapa kelompok yang tidak bisa menerima hal itu, entah kenapa, yah kelompok seperti itu memang sepatutnya tinggal di Planet Mars. Huehehe….. πŸ˜€

    @ahsinmuslim

    astaghfirullah aladziim ternyata saya masih banyak melanggarnya…. 😦

    @mikekono

    Kalau dilihat2 sih semuanya berat loh…. 😦

    @G.a.i.a

    Mungkin maksudnya henna kali bukan hyena. Kalau hyena mah itu binatang buas sejenis anjing yang bahasa Indonesianya ‘dubuk’.

    Biarin deh rambut saya dicat henna. Biar jadi kompakan sama bulunya si Pedro yang coklat itu. :mrgreen:

    @Nayantaka

    Bukan begitu maksudnya…. coba dibaca lagi….. πŸ˜€

    @edratna

    mode PLESEDAN on

    Manusia punya dua jangan, jangan kanan dan jangan kiri. **nggak nyambung** :mrgreen:

    mode PLESEDAN off

    @sjafri mangkuprawira

    Nah… itu dia prof… dibilang jangan saja orang masih banyak melanggar apalagi tidak disebutkan kata ‘jangan’. Yah, itulah sifat manusia…. πŸ™‚

    @zoel

    terima kasih…. πŸ™‚

    @Vina ‘Random Snippets’

    Memang tidak ada kata ‘jangan’. Susuilah anak kamu sampai umur dua tahun sudah cukup merepresentasikan bahwa cukup menyusui sampai umur 2 tahun saja. Masalah dosa atau tidaknya tentu itu adalah hanya Allah yang tahu. Yang jelas sebaiknya kita menuruti apa yang ada di Quran jikalau kita percaya. Kalau tidak?? Ya… terserah. Toh, itu semua demi kebaikan kita juga. Hanya saja mungkin ilmu kita belum sampai…. kenapa sebaiknya begitu…..

    @tutinonka

    Sebenarnya kalau saya jawab alasannya satu persatu sesuai yang saya baca, akan panjang sekali jawabannya. Malas saya nulisnya. :mrgreen: Lagian juga pasti nanti akan diperdebatkan lagi juga. Sama saja seperti larangan: “jangan makan babi”. Walaupun jelas2 dilarang dalam Quran tetapi bagi mereka yang kurang beriman daya tolaknya tinggi, jikalau diberi alasan “babi adalah binatang kotor, yang makan kotorannya sendiri, dan dagingnya banyak mengandung tΓ¦nia solium bla..bla…bla…”, tetap saja nanti diargumentasikan lagi.

    Ya udah begini saja, kalau mbak Tuti atau ada orang lain yang ‘kurang percaya’ ya itu terserah saja. Masalah dosa apa nggak, itu yang tahu hanya Allah. Kalau menurut saya pribadi, saya memilih untuk menerimanya walaupun dalam hati saya sendiri masih ada juga argumen2 atau pertanyaan2 yang mengganjal. Dan bagi saya pribadi tak ada salahnya kok menghindari hal2 seperti poin di atas. Toh bagi saya mereka yang menerimanya tidak akan nampak lebih bodoh dari mereka yang mempertanyakannya….. :mrgreen:

    @pipiew

    Huahaha…. apalagi yang digigit tangan kiri… bekas tangan cebok… lupa cuci tangan karena nggak ada air dan Handy Clean. Dan kuku kita tertelan… jadilah kita makan…. **aah terusin sendiri deh…** :mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya

    Wah… kalau saya sih pak…. hanya bisa menuliskannya saja. Suatu saat secara tidak sengaja atau sengaja pasti salah satu dari poin tersebut akan saya lakukan juga. Tapi mudah2an saya akan selalu menjadi manusia yang lebih baik dengan berusaha keras menghindari poin2 di atas untuk terulang kembali…. πŸ˜€

  16. jangan lupa mampir di blog ku ya pak… salam kenal.. tiu aja tambahan dari saya

  17. seorang akan menjadi luar biasa klo melaksanakan semua diatas
    semoga semakin sering orang membacanya semakin berkurang juga perbuatan jelek yang dia lakukan

  18. Agama memang [semestinya] banyak mempengaruhi kebaikan prilaku kita. Tapi gmana ya seandainya nilai2 kebaikan agama berbenturan dengan nilai2 kebaikan “universal” yang disodorkan beberapa orang.
    Siapa yang adaptasi, nilai2 agama atau nilai2 universalnya ?

    *malah nanya nih mas* πŸ™‚

  19. kenapa harus jangan pak? mestinya bukan kalimat perintah negatif, yang positif lebih enak πŸ˜€ hehehe misalnya Sebarkan berita baik! πŸ˜€

    kalo menurut sy, di dalam Islam pemberian kata “jangan” itu kepada umat yang taraf keimanannya tinggi.
    kalo kata “jangan” diberikan kepada umat islam yang baru memahami Islam atau non Islam kadang menganggap bahwa Islam itu terlalu banyak aturan untuk “tidak melakukan”. πŸ˜€

  20. @iwan

    Salam kenal juga….

    @Gelandangan

    Insya Allah, kita bisa menghindari poin-poin seperti di atas…..

    @Herianto

    Di zaman modern ini memang susah pak. Nilai2 agama seringkali memang ‘berbenturan’ dengan nilai2 kebaikan ‘universal’. Contoh hotnya saat ini misalnya: Pakaian kebanci2an. Dalam agama Islam jelas dilarang. Tapi nilai2 ‘universal’ mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah ekspresi dan hak azazi seseorang. Mana yang seharusnya kita terima?? Kalau saya pribadi tentu yang saya terima pertama kali adalah nilai2 agama. Namun, saya juga sadar bahwa saya tidak bisa memaksakan kehendak saya kepada orang lain (apalagi dengan kekerasan). Namun, orang lain juga tidak boleh memaksakan kehendaknya juga kepada saya…

    Nah, pak Herianto milih yang mana?

    @aRuL

    Yah…. namanya juga manusia RuL…. kalau nanti hanya disebutkan “sebarlah berita2 baik” disangkanya juga masih bisa “menyebarkan berita2 buruk”. Alasannya? Loh… kan cuma disebutkan “sebarkanlah berita2 baik” dan tidak disebutkan “jangan menyebarkan berita2 buruk” berarti masih boleh dong “menyebarkan berita2 buruk” juga. Yah, namanya juga manusia, apalagi pengacara terkadang bisa aja memelintirkan kata2. Jikalau ada kata “jangan…” berarti itu sudah tegas. πŸ˜€

    Islam banyak aturan?? Pertanyaan berikutnya adalah, apakah yang lebih sedikit peraturan itu lebih baik? πŸ˜€

  21. # Jangan ONANI……. πŸ™‚
    # jangan sampai nggak posting ya….setidaknya sebulan sekali lah………..

    ___________________________

    Yari NK replies:

    Wah… kang Yoyo yang seperti ini pasti ingat deh. Hehehe…… Btw, kang Yoyo jangan kebanyakan onani ya?? Selama bulan puasa apalagi, onaninya stop dulu kalo bisa. :mrgreen:

  22. semoga bisa menghindari semua “jangan” yang ditulis di sini.. amin..

    _________________________

    Yari NK replies:

    Amin mas inos. πŸ˜€

  23. @ pak yari : hehehe, kalo sy sih berpendapat, tergantung kita melihat orang yang kita hadapi seperti apa pak, jadi mekanisme bahasa (plintir bahasa maksudnya) disesuaikan dengan mereka πŸ˜€
    maksudnya bukan sedikit peraturan lebih baik pak, kadang non muslim atau yang melihat baru tentang Islam kadang tidak memahami esensi2 apa yang terkandung dalam Islam itu koq sampe mengatakan “Jangan”. Nah mereka2 itu ada baiknya dijelaskan perintah yang bernada positif, kalo memang akhirnya mendalami tentunya pasti akan mengetahui makna(esensi) dari kalimat “jangan” itu pak πŸ˜€

    ____________________

    Yari NK replies:

    Nah…. itu dia…. karena orang bermacam2 sifatnya… jadi yang terbaik tetap “tampilkanlah Islam apa adanya”. Kalau memang “jangan” ya “jangan”. Kita tak perlu menutup2inya kalau memang Islam tidak memperkenankan sesuatu.

    Bagi mereka yang non-Muslim, yang pertama kali mereka lihat bukanlah masalah “jangan” atau larangannya. Yang pertama kali mereka lihat adalah perilaku kita di lapangan. Percuma kalau kita menyembunyikan “larangan” kita tapi kita berlaku anarkis. Mendingan kita ungkapkan “larangan” kita tapi bersikap tidak memaksa apalagi merusak…..

    Saya sendiri juga banyak teman2 non-Muslim dan juga bulΓ©-bulΓ©, yang membuat mereka “eneg” terhadap Islam bukanlah karena banyak larangan2annya, tetapi lebih karena banyak ada sedikit massa Islam yang main paksa dengan kekerasan. Itu yang membuat mereka merasa jauh lebih muak….. πŸ™‚

  24. Wahahaha ….. saya juga nggak merasa lebih pinter dari Mas Yari lho. Malah jauuuh lebih bego, apalagi kalau baca tulisan-tulisan Mas Yari yang sangat saintifik. Cuma, mungkin karena terbiasa dituntut berpikir ‘sok’ rasional, saya selalu mempertanyakan reasoning sebuah statement.
    Gitu aja. Maap deh ….

    ____________________________

    Yari NK replies:

    Yeeee…. bukan begitu maksud saya. :mrgreen: Maksud dari jawaban saya di atas itu, kebanyakan manusia itu (termasuk saya tentunya) terkadang memang terlalu banyak tanya. Sebenarnya tidak mengapa, malah bagus. Tetapi yang menjadi masalah adalah, jikalau kita tidak menemukan jawaban yang memuaskan, kita cenderung mengingkarinya. Padahal kalau kita tidak menemukan jawabannya, tidak perlu kita mengingkarinya kan? Apalagi kalau itu justru membawa kebaikan.

    Ok… deh… saya akan jawab dua saja dari pertanyaan mbak Tuti di atas. Dan ini boleh dibantah lagi tentu saja, asal jangan diingkari. Diingkari boleh aja deh…. tetapi masalah dosa apa nggak ya silahkan tanggung sendiri :mrgreen:

    – Jangan menggunakan masjid untuk kepentingan pribadi. (Bagaimana kalau akad nikah?). Fungsi utama dari masjid adalah untuk tempat beribadah. Sekarang nikah itu ibadah nggak? Kalau ibadah ya silahkan pakai. Kalau tidak, ya sebaiknya minggir. Jikalau menggunakan masjid sebagai akad nikah kalau itu ibadah, ya tak apa2, tapi seyogianya tidak mengganggu konsentrasi jikalau ada orang yang tengah beribadah di dalamnya. Jikalau “tubrukan” ada orang2 yang beribadah di dalam masjid dan yang akad nikah, sebaiknya yang minggir yang akad nikah, atau buat sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu orang2 yang tengah beribadah di masjid, bukan kebalikannya….

    – Jangan shalat jikalau ada gambar atau potret di depan anda. Alasan mbak Tuti di mana saja boleh asalkan suci. Kalau begitu, ya, hias saja masjid2 kita dengan potret2 atau sekalian dengan patung2. Kan malah bagus buat hiasan, asal niat kita menyembah Allah dan tidak menyembah potret atau patung yang di depan kita. Sama saja kenapa tidak ada shalat sunnah setelah shalat shubuh atau sebelum shalat maghrib yang dikhawatirkan kita menyembah matahari yang tengah terbit atau terbenam…. padahal logikanya toh kita tidak menyembah matahari ini.
    Nah, kesimpulannya memang sebaiknya (dan harus) kita tidak shalat jikalau di depan kita ada potret atau foto, KECUALI jikalau memang tidak ada tempat lagi. Apa susahnya sih cari tempat untuk shalat yang di depannya tidak ada gambar fotonya? :mrgreen:

  25. Jangan menikah dengan sesama JENIS. yang ini belon om?

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Yang nikah sesama jenis mah jarang pakde, apalagi di negeri ini. Tetapi yang naksir sesama jenis, seabreg2 banyaknya! Baik yang terang2an apalagi yang munafik malu2 kucing….. :mrgreen:

  26. Teima kasih untuk mengingatkan hal-hal yang sepertinya remeh-temeh ini. Hal yang sudah seperti mendarah daging di masyarakat Indonesia πŸ™‚

    _______________________________

    Yari NK replies:

    Terkadang memang yang remeh temeh ini yang sering terlupakan…… πŸ™‚

  27. Sampai yang sekecil-kecil itu ya. Sip lah…

    _______________________

    Yari NK replies:

    Ho’oh…. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s