Daily Archives: Sabtu, 4 Oktober 2008

Proses vs. Hasil

Setelah tiga hari berlebaran dan perut telah kenyang dengan berbagai macam hidangan mulai dari ketupat, opor ayam, hingga kue-kue lebaran mulai dari kue tart lebaran hingga kue-kue kering seperti kue nastar, kaasstengel dan juga lain-lainnya, kini saatnya kembali ke dunia maya nyata guna menyuguhkan kembali sebuah artikel di blog ini. Artikel yang saya suguhkan dengan judul di atas sebenarnya ada hubungannya walaupun agak maksa dengan kue-kue lebaran. Saya perhatikan jika (keluarga) saya membeli kue-kue lebaran terutama kue-kue keringnya dari berbagai sumber, saya sering merasakan ada kue yang rasanya tidak enak biasa-biasa saja dan ada kue yang rasanya luar biasa. Tentu anda juga merasakannya kan? Jikalau saya membeli kaasstengel (bisa juga disebut cheese sticks atau cheese twists ) misalnya, ada yang rasa kejunya kurang alias rasanya dominan asin karena garam saja, kesannya bikinnya agak asal-asalan  namun ada juga kaasstengel yang rasanya luar biasa yang rasa kejunya dominan padahal harganya nggak jauh berbeda. Saya bertanya dalam hati apakah mereka yang membuat kaasstengel yang rasanya ‘agak asal-asalan’ itu bikinnya sudah maksimal atau ia tidak berusaha untuk membuat kaasstengel yang lebih enak?? Ataukah ia tidak mau tahu jikalau ada kaasstengel yang lebih enak?? Atau…. ia memang berniat membuat zoutstengel daripada kaasstengel?? Walahualam……

Postingan ini sebenarnya sudah ada dalam benak saya sebelum bulan Ramadhan lalu, namun karena terpotong bulan Ramadhan maka topik ini saya tunda pembuatannya dan baru saya buat sekarang. Intinya adalah mana yang lebih penting….. proses atau hasil ?? Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa proses lebih penting daripada hasil, bahkan salah satu teman saya ada yang tidak ragu-ragu lagi mengatakan bahwa perbandingan pentingnya proses dengan hasil adalah 8 berbanding 2 sesuai dengan distribusi Pareto. Tentu sah-sah saja orang berpendapat demikian, namun saya juga mempunyai pandangan yang berbeda mengenai mana yang lebih penting: proses atau hasil, walaupun pandangan ini belum bukan berdasarkan penelitian ilmiah.

Sebenarnya lebih baik jika kita mengemukakan kriteria apa saja yang diperlukan guna menilai mana dari proses atau hasil yang lebih penting. Namun karena saya belum tidak bisa menemukan kriteria yang pas maka saya mengambil kriteria yang paling primitif umum dan mudah saja, yaitu faktor bagaimana sebuah proses yang berakhir dengan sebuah hasil dapat dikatakan gagal atau berhasil. Itu saja. Atau mungkin pembaca punya kriteria yang lebih baik lagi? Silahkan utarakan di kolom komen ini. 🙂

Kita semua sudah mengetahui bahwa proses adalah sesuatu yang amat penting, dan saya memang sangat setuju dengan hal tersebut. Tanpa adanya proses tidak mungkin akan ada hasil. NAMUN kitapun seharusnya tidak pula hipokrit bahwa proses diadakan karena kita menginginkan sebuah hasil. Tidak mungkin sebuah proses diadakan jikalau tidak bertujuan untuk membuahkan hasil. Jadi mana nih yang lebih penting?? Jikalau kita ingin menihilkan pentingnya hasil, toh selama ini hasil yang sering berperan sebagai barometer keberhasilan sebuah proses. Kita ambil contoh: Di olimpiade tahun 2004, Jepang berhasil menggondol 16 medali emas di olimpiade. Sedangkan di tahun 2008, Jepang hanya menggondol 8 medali emas. Gagalkah proses pembinaan olahraga di Jepang? Walaupun untuk mendapatkan jawabannya harus dilakukan penelitian seksama, kita masih bisa menduga bahwa pembinaan olahraga di Jepang belum tentu gagal. Mungkin saja proses pembinaan olahraga di Jepang berjalan di atas bantalan rel yang benar. NAMUN, jikalau prestasi Jepang di olimpiade merosot terus hingga beberapa kali olimpiade tentu ada yang tidak beres pada proses pembinaan olahraga di Jepang. Begitu pula dengan prestasi olahraga kita di SEA GAMES, jikalau kita kini kalah terus dari Thailand dan Vietnam (padahal kita dulu selalu juara), apakah kita akan terus berkata bahwa proses pembinaan olahraga di negeri kita ini sudah benar?? Jikalau proses di negara kita sudah dirasakan benar (walaupun dengan hasil merosot), apakah berarti proses di Thailand dan Vietnam lebih benar lagi?? Semua ini menunjukkan bahwa sebuah hasil menjadi sangat penting dalam penilaian sebuah proses agar proses tersebut mendapatkan feedback yang positif.

Contoh lain adalah, anak atau saudara atau keponakan kita yang tidak naik kelas atau di-DO dari universitas. Apakah kita akan SELALU berkata: “Biarlah nak, kamu tidak naik kelas atau di-DO, yang penting kamu sudah berusaha…..”. Hmmm…. sepertinya ada yang tidak beres di sini. Jikalau kita gagal dalam satu atau dua mata pelajaran (atau kuliah) mungkin itu wajar dikatakan “kamu sudah berusaha….”, tetapi jikalau harus gagal dalam hampir semua mata pelajaran atau kuliah tentu seseorang harus menyadari dengan besar hati bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres pada proses atau usaha belajarnya, entah itu malas, entah itu tidak bisa membagi waktu dan sebagainya….. Semua ini menunjukkan bahwa hasil adalah barometer yang penting guna menilai keberhasilan sebuah proses. Contoh lain adalah: seorang perampok. Misalkan ada orang yang merampok dan membunuh. Setelah tertangkap si perampok mengatakan: “Saya tidak berniat membunuh tetapi karena korban melawan terpaksa saya bunuh. Saya sudah berusaha untuk tidak membunuh!” Nah, apakah dengan pernyataan ini bahwa HASIL perbuatan si pembunuh menjadi tidak penting lagi dan proses peradilan hanya berfokus pada perampokan??

Namun tentu ada kalanya PROSES juga memerankan hal yang penting. Anda tentu mengenal TEORI DARWIN bukan? Yang hingga kini masih diperdebatkan antar para ilmuwan dan juga antara para ilmuwan dan para agamawan. Menurut saya pribadi, tidak penting apakah TEORI DARWIN itu benar atau salah nantinya. Yang penting adalah para ilmuwan tersebut berusaha keras menemukan teori asal-usul manusia atau kehidupan sedetail-detailnya sesuai dengan fakta-fakta yang ada di lapangan. Bukan  hanya berpangku tangan saja sambil hanya membaca kitab suci !! Bukan membaca kitab sucinya yang salah, tetapi memang manusia diwajibkan untuk membaca ilmu Allah yang bertebaran di alam semesta ini. Manusia ditantang untuk membuktikannya sendiri kebenaran yang berada di dalam kitab suci tanpa harus menghilangkan keimanan kepadaNya. Dan manusia jangan cepat berpuas jikalau belum menemukan ‘kesamaan’ antara ilmu pengetahuan dan kitab suci karena perjalanan berarti masih sangat jauh! Nah, dalam kasus ini tentu kita bisa melihat bahwa PROSES adalah hal yang sangat penting.

Jadi mana menurut anda yang lebih penting? Tentu terserah anda. Saya sendiri tidak berani mengatakan mana yang lebih penting oleh karena saya melihat bahwa kedua-duanya sama pentingnya. Walaupun dalam agama yang saya anut ‘katanya’ proses lebih penting daripada hasil. Di dalam ayat Al-Quran berikut ini dikatakan:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkanya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS 22:37)

Ada yang menafsirkan bahwa di dalam ayat ini dikatakan bahwa bukan hasil yang penting tetapi proses. Daging-daging korban melambangkan hasil sementara ketaqwaan melambangkan proses. Tetapi apa iya begitu maksudnya (tafsirannya)? Bagaimana ketika Nabi Ibrahim sudah menempelkan pisaunya ke leher anaknya, Ismail, namun tiba-tiba beliau tidak jadi menyembelih anaknya? Apakah Nabi Ibrahim lantas dikatakan belum bertaqwa kepadaNya? Bukankah Nabi Ibrahim sudah berusaha? Kalau yang dinilai semata-mata adalah proses, tentu tidak masalah apakah Nabi Ibrahim jadi menyembelih atau tidak. Nah, bagi anda yang membeli kaasstengel yang ternyata tidak enak, dan anda adalah orang yang sangat mementingkan proses, ya jangan mengeluh jikalau kaasstengel-nya nggak enak, salahnya sendiri kenapa membeli hasilnya, seharusnya anda menilai dan membeli proses pembuatan kaasstengel-nya, dan jangan menilai atau membeli kaasstengel-nya! :mrgreen:

Nah, sebagai penutup saya akan mengatakan menghimbau bahwasannya kegagalan bukanlah sesuatu kenaifan jikalau prosesnya sudah benar dan baik, namun yang merupakan kenaifan adalah jikalau anda gagal dalam mengidentifikasi kelemahan-kelemahan proses anda sendiri karena berlindung di balik kata-kata yang memabukkan: “yang penting prosesnya bukan hasilnya” sehingga anda gagal melihat hasil buruk yang anda capai selama ini.

__________________________

Artikel ini saya persembahkan untuk sahabat dekat saya dulu yang berinisial DP yang kini mengalami gangguan jiwa akibat kegagalan demi kegagalan dalam perjalanan hidupnya. Hal ini diperparah karena sang ibu terlalu overprotecting dan selalu membelanya dengan berkata: “Si D sudah berusaha dengan keras….”