Proses vs. Hasil

Setelah tiga hari berlebaran dan perut telah kenyang dengan berbagai macam hidangan mulai dari ketupat, opor ayam, hingga kue-kue lebaran mulai dari kue tart lebaran hingga kue-kue kering seperti kue nastar, kaasstengel dan juga lain-lainnya, kini saatnya kembali ke dunia maya nyata guna menyuguhkan kembali sebuah artikel di blog ini. Artikel yang saya suguhkan dengan judul di atas sebenarnya ada hubungannya walaupun agak maksa dengan kue-kue lebaran. Saya perhatikan jika (keluarga) saya membeli kue-kue lebaran terutama kue-kue keringnya dari berbagai sumber, saya sering merasakan ada kue yang rasanya tidak enak biasa-biasa saja dan ada kue yang rasanya luar biasa. Tentu anda juga merasakannya kan? Jikalau saya membeli kaasstengel (bisa juga disebut cheese sticks atau cheese twists ) misalnya, ada yang rasa kejunya kurang alias rasanya dominan asin karena garam saja, kesannya bikinnya agak asal-asalanΒ  namun ada juga kaasstengel yang rasanya luar biasa yang rasa kejunya dominan padahal harganya nggak jauh berbeda. Saya bertanya dalam hati apakah mereka yang membuat kaasstengel yang rasanya ‘agak asal-asalan’ itu bikinnya sudah maksimal atau ia tidak berusaha untuk membuat kaasstengel yang lebih enak?? Ataukah ia tidak mau tahu jikalau ada kaasstengel yang lebih enak?? Atau…. ia memang berniat membuat zoutstengel daripada kaasstengel?? Walahualam……

Postingan ini sebenarnya sudah ada dalam benak saya sebelum bulan Ramadhan lalu, namun karena terpotong bulan Ramadhan maka topik ini saya tunda pembuatannya dan baru saya buat sekarang. Intinya adalah mana yang lebih penting….. proses atau hasil ?? Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa proses lebih penting daripada hasil, bahkan salah satu teman saya ada yang tidak ragu-ragu lagi mengatakan bahwa perbandingan pentingnya proses dengan hasil adalah 8 berbanding 2 sesuai dengan distribusi Pareto. Tentu sah-sah saja orang berpendapat demikian, namun saya juga mempunyai pandangan yang berbeda mengenai mana yang lebih penting: proses atau hasil, walaupun pandangan ini belum bukan berdasarkan penelitian ilmiah.

Sebenarnya lebih baik jika kita mengemukakan kriteria apa saja yang diperlukan guna menilai mana dari proses atau hasil yang lebih penting. Namun karena saya belum tidak bisa menemukan kriteria yang pas maka saya mengambil kriteria yang paling primitif umum dan mudah saja, yaitu faktor bagaimana sebuah proses yang berakhir dengan sebuah hasil dapat dikatakan gagal atau berhasil. Itu saja. Atau mungkin pembaca punya kriteria yang lebih baik lagi? Silahkan utarakan di kolom komen ini. πŸ™‚

Kita semua sudah mengetahui bahwa proses adalah sesuatu yang amat penting, dan saya memang sangat setuju dengan hal tersebut. Tanpa adanya proses tidak mungkin akan ada hasil. NAMUN kitapun seharusnya tidak pula hipokrit bahwa proses diadakan karena kita menginginkan sebuah hasil. Tidak mungkin sebuah proses diadakan jikalau tidak bertujuan untuk membuahkan hasil. Jadi mana nih yang lebih penting?? Jikalau kita ingin menihilkan pentingnya hasil, toh selama ini hasil yang sering berperan sebagai barometer keberhasilan sebuah proses. Kita ambil contoh: Di olimpiade tahun 2004, Jepang berhasil menggondol 16 medali emas di olimpiade. Sedangkan di tahun 2008, Jepang hanya menggondol 8 medali emas. Gagalkah proses pembinaan olahraga di Jepang? Walaupun untuk mendapatkan jawabannya harus dilakukan penelitian seksama, kita masih bisa menduga bahwa pembinaan olahraga di Jepang belum tentu gagal. Mungkin saja proses pembinaan olahraga di Jepang berjalan di atas bantalan rel yang benar. NAMUN, jikalau prestasi Jepang di olimpiade merosot terus hingga beberapa kali olimpiade tentu ada yang tidak beres pada proses pembinaan olahraga di Jepang. Begitu pula dengan prestasi olahraga kita di SEA GAMES, jikalau kita kini kalah terus dari Thailand dan Vietnam (padahal kita dulu selalu juara), apakah kita akan terus berkata bahwa proses pembinaan olahraga di negeri kita ini sudah benar?? Jikalau proses di negara kita sudah dirasakan benar (walaupun dengan hasil merosot), apakah berarti proses di Thailand dan Vietnam lebih benar lagi?? Semua ini menunjukkan bahwa sebuah hasil menjadi sangat penting dalam penilaian sebuah proses agar proses tersebut mendapatkan feedback yang positif.

Contoh lain adalah, anak atau saudara atau keponakan kita yang tidak naik kelas atau di-DO dari universitas. Apakah kita akan SELALU berkata: “Biarlah nak, kamu tidak naik kelas atau di-DO, yang penting kamu sudah berusaha…..”. Hmmm…. sepertinya ada yang tidak beres di sini. Jikalau kita gagal dalam satu atau dua mata pelajaran (atau kuliah) mungkin itu wajar dikatakan “kamu sudah berusaha….”, tetapi jikalau harus gagal dalam hampir semua mata pelajaran atau kuliah tentu seseorang harus menyadari dengan besar hati bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres pada proses atau usaha belajarnya, entah itu malas, entah itu tidak bisa membagi waktu dan sebagainya….. Semua ini menunjukkan bahwa hasil adalah barometer yang penting guna menilai keberhasilan sebuah proses. Contoh lain adalah: seorang perampok. Misalkan ada orang yang merampok dan membunuh. Setelah tertangkap si perampok mengatakan: “Saya tidak berniat membunuh tetapi karena korban melawan terpaksa saya bunuh. Saya sudah berusaha untuk tidak membunuh!” Nah, apakah dengan pernyataan ini bahwa HASIL perbuatan si pembunuh menjadi tidak penting lagi dan proses peradilan hanya berfokus pada perampokan??

Namun tentu ada kalanya PROSES juga memerankan hal yang penting. Anda tentu mengenal TEORI DARWIN bukan? Yang hingga kini masih diperdebatkan antar para ilmuwan dan juga antara para ilmuwan dan para agamawan. Menurut saya pribadi, tidak penting apakah TEORI DARWIN itu benar atau salah nantinya. Yang penting adalah para ilmuwan tersebut berusaha keras menemukan teori asal-usul manusia atau kehidupan sedetail-detailnya sesuai dengan fakta-fakta yang ada di lapangan. BukanΒ  hanya berpangku tangan saja sambil hanya membaca kitab suci !! Bukan membaca kitab sucinya yang salah, tetapi memang manusia diwajibkan untuk membaca ilmu Allah yang bertebaran di alam semesta ini. Manusia ditantang untuk membuktikannya sendiri kebenaran yang berada di dalam kitab suci tanpa harus menghilangkan keimanan kepadaNya. Dan manusia jangan cepat berpuas jikalau belum menemukan ‘kesamaan’ antara ilmu pengetahuan dan kitab suci karena perjalanan berarti masih sangat jauh! Nah, dalam kasus ini tentu kita bisa melihat bahwa PROSES adalah hal yang sangat penting.

Jadi mana menurut anda yang lebih penting? Tentu terserah anda. Saya sendiri tidak berani mengatakan mana yang lebih penting oleh karena saya melihat bahwa kedua-duanya sama pentingnya. Walaupun dalam agama yang saya anut ‘katanya’ proses lebih penting daripada hasil. Di dalam ayat Al-Quran berikut ini dikatakan:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkanya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS 22:37)

Ada yang menafsirkan bahwa di dalam ayat ini dikatakan bahwa bukan hasil yang penting tetapi proses. Daging-daging korban melambangkan hasil sementara ketaqwaan melambangkan proses. Tetapi apa iya begitu maksudnya (tafsirannya)? Bagaimana ketika Nabi Ibrahim sudah menempelkan pisaunya ke leher anaknya, Ismail, namun tiba-tiba beliau tidak jadi menyembelih anaknya? Apakah Nabi Ibrahim lantas dikatakan belum bertaqwa kepadaNya? Bukankah Nabi Ibrahim sudah berusaha? Kalau yang dinilai semata-mata adalah proses, tentu tidak masalah apakah Nabi Ibrahim jadi menyembelih atau tidak. Nah, bagi anda yang membeli kaasstengel yang ternyata tidak enak, dan anda adalah orang yang sangat mementingkan proses, ya jangan mengeluh jikalau kaasstengel-nya nggak enak, salahnya sendiri kenapa membeli hasilnya, seharusnya anda menilai dan membeli proses pembuatan kaasstengel-nya, dan jangan menilai atau membeli kaasstengel-nya! :mrgreen:

Nah, sebagai penutup saya akan mengatakan menghimbau bahwasannya kegagalan bukanlah sesuatu kenaifan jikalau prosesnya sudah benar dan baik, namun yang merupakan kenaifan adalah jikalau anda gagal dalam mengidentifikasi kelemahan-kelemahan proses anda sendiri karena berlindung di balik kata-kata yang memabukkan: “yang penting prosesnya bukan hasilnya” sehingga anda gagal melihat hasil buruk yang anda capai selama ini.

__________________________

Artikel ini saya persembahkan untuk sahabat dekat saya dulu yang berinisial DP yang kini mengalami gangguan jiwa akibat kegagalan demi kegagalan dalam perjalanan hidupnya. Hal ini diperparah karena sang ibu terlalu overprotecting dan selalu membelanya dengan berkata: “Si D sudah berusaha dengan keras….”

Iklan

24 responses to “Proses vs. Hasil

  1. Hmmm… Ada yang bilang kalau sukses adalah ketika kita sudah berada di jalan yang benar.

    Sedih baca footnote-nya…

  2. kalo menurut saya sih memang ada kalanya hasil itu lebih penting dan ada kalanya pula saat proses itu lbh penting tergantung peristiwanya. atau bisa jadi proses dan hasil adalah dua hal yg tdk sepatutnya dipertentangkan mana yg lebih penting. Ga tau deh..hehe.. O ya mas, selamat hari raya ya, saya minggu balik lagi ke Bdg, saya udah bosen di kampung. mas yari pulang ke Bdg lagi kapan ya?

  3. wah, ini psotingan yang sangat menarik, bung yari. dalam dunia pendidikan, proses dan hasil itu bagaikan dua sisi mata uang, meski sekarang banyak yang “memuja” hasil ketimbang proses akibat merebaknya budaya instan. orang tak mau lagi menghargai kerja keras. kalau dg satu jurus, tak peduli halal atau haram, bisa menuai hasil, kenapa mesti pakai banyak jurus, menurut saya, ini jelas sebuah opini yang keliru. saya masih berkeyakinan bahwa proses yang baik akan memiliki pengaruh yang signifikan *halah* terhadap hasil yang baik pula. repotnya, budaya instan agaknya sdh menjadi fenomena baru di negeri ini, bung yari, sehingga hasil lebih diutamakan ketimbang proses.

  4. wah kalo melihat sisi hasil atau proses, ada baiknya diliat kedua-duanya, dengan memberikan nilai yang proporsional, dan tentunya hasilnya memiliki nilai lebih.
    memang sebuah dilema misalnya, hasil ujiannya bagus tapi dari proses nyontek, atau hasil ujiannya jelek tapi tidak nyontek…
    yah… perlu pertimbangan 2 sisi, yang proporsional lagi pak πŸ™‚

  5. saya cenderung ke proses yg baik pak, ada pembelajaran di sana. Kalaupun gagal, Allah tau kita sudah berusaha

    Btw, mohon maaf lahir batin, mohon maaf kalau ada salah2 komentar dan tulisan di sini πŸ˜€

  6. Ada tiga kemungkinan telaahan dalam membahas proses vs hasil……..(1) proses lebih penting ketimbang hasil….(2) hasil lebih penting dibanding proses…….(3) proses dan hasil sama pentingnya…….dalam prakteknya proses yang baik cenderung sangat siginifikan hasilnya juga baik…….bagaimana dengan proses tak baik dan apa hasilnya?….ada dua kemungkinan yakni hasilnya baik dan hasilnya tidak baik….lho mengapa bisa hasilnya baik?….ya karena proses yang dilakukan dengan cara menghalalkan cara; misalnya ketika indonesia menjadi juara piala kemerdekaan 2008 dari kesebelasan Lybia dimana ada protes Lybia karena ofisial indonesia memukul ofisial Lybia lalu WO…….lalu apakah dengan contoh seperti ini berarti telaahan (1) atau (2) yang bisa diterima?…….begitu juga kalau proses dilakukan dengan baik tetapi hasilnya tidak baik, misalnya sudah belajar tetapi gagal; lalu……apakah juga termasuk telaahan (1) atau (2) juga bisa diterima?………menurut mereka penganut paham normatif……..kalau berorientasi pada (1) biasanya tanpa beban dan menerima apa adanya……sementara kalau pada (2) cenderung akan menggunakan cara-cara negatifpun dinilai halal dan sering menimbulkan stres kalau gagal……..hemat saya pendekatan yang rasional adalah proses dan hasilnya sama-sama penting……..artinya suatu hasil merupakan fungsi dari proses……..secara rasional tak mungkin hasil yang baik tidak dipengaruhi proses yang baik……..dalam rancangan linear program produksi,misalnya, dikenal dua pendekatan optimalisasi yakni….pertama, pendekatan output maksimum; bagaimana dengan biaya tertentu diperoleh output maksimum…… dan kedua pendekatan biaya minimum; yakni bagaimana untuk mencapai output tertentu digunakan biaya yang minimum…………artinya proses dan hasil sama pentingnya……….

  7. @Alias

    Wah…. komennya mengandung arti yang ambigu nih. Bisa jadi berarti “sukses hanya terjadi jikalau sudah di jalan yang benar” namun bisa jadi berarti “jalan yang benar pasti menunjukkan sukses (sementara yang tidak sukses bukan jalan yang benar)”.

    Tetapi tidak apa2 memang dalam persoalan proses vs hasil ini tidak mudah untuk menilai mana yang lebih penting….. πŸ˜€

    @AgusBin

    Ya…. menurut saya juga begitu Bin. Tergantung kasusnya seperti apa. Terkadang proses lebih penting, terkadang juga hasil lebih penting.
    Halaah baru seminggu di kampung bin. Udah sampeyan ke Jkt aja Bin. Aku pulang minggu depan dari Jakarta.

    @Sawali Tuhusetya

    Sebenarnya dalam postingan saya sudah cukup jelas disebutkan pak. Bahwa proses juga penting. Sedangkan kalau proses yang ditempuh ‘haram’ atau ‘instan’ sebenarnya sederhana saja, hasilnya juga tidak begitu bagus. Jikalau proses yang ditempuh dengan cara merugikan orang lain (tidak halal) maka hasilnya seringkali menyusahkan kita sendiri akhirnya. Bisa jadi hasilnya nasib kita berakhir di penjara (karena korupsi), dipecat atau (bagi yang percaya) dapat azab di akhirat. Sedangkan bagi mereka yang menempuh cara instan (seperti kata pak Sawali di atas), hasilnya juga tidak begitu bagus sesuai dengan pepatah Inggris: Easy Come, Easy Go.

    Namun dari hasil ‘Easy Go’ inilah, manusia belajar bahwasannya sesuatu yang ‘Easy Come’ tidak pernah bagus hasilnya. Nah, dengan berorientasi sedikit kepada hasil di sini terlihat bahwa kita dapat belajar sesuatu…… πŸ™‚ Jadi menurut saya tetap hasil dan proses kedua2nya sama penting! πŸ™‚

    @aRuL

    Hasil bagus yang didapat dari nyontek merupakan sesuatu yang semu RuL. Cepat atau lambat si tukang nyontek ini tidak akan terus2an dapat nilai bagus dan suatu saat PASTI ia akan terjerumus. Seperti yang saya tuliskan untuk jawaban pak Sawali di atas bahwa pepatah ‘Easy come Easy go’ selalu berlaku. Sesuatu yang didapat mudah, menguapnya atau menghilangkan cepat juga. Dari hasil yang didapat seharusnya ia dapat belajar sesuatu yang bermanfaat bahwa proses yang buruk hanya mendapatkan hasil yang buruk atau hasil baik yang semu saja……. πŸ™‚

    @utchanovsky

    Masalahnya kita sangat sulit untuk mendefinisikan proses yang baik itu seperti apa….. Kalau gagal sekali dua kali wajarlah kalau dibilang “kita sudah berusaha tetapi gagal…..” namun kalau berkali-kali kita gagal……. yah hanya Allah yang tahu persis definisi proses atau usaha yang baik itu bagaimana. πŸ™‚ Supaya aman kita berusaha mencapai hasil yang baik saja dalam beribadah….. πŸ™‚

    Sama-sama. Mohon maaf lahir batin juga. Maafkan kalau ada kesalahan ya. πŸ™‚

    @sjafri mangkuprawira

    Betul sekali prof. Menurut saya yang biasanya menganut sistem “keseimbangan” ini bahwasannya hasil dan proses kedua-duanya sama pentingnya. Proses penting karena tanpa proses yang baik sepertinya tidak akan mendapatkan hasil yang baik dan juga untuk menghindari proses-proses yang merugikan orang lain atau melanggar hukum. Sementara hasil penting untuk sebagai barometer keberhasilan suatu proses, walaupun bisa jadi proses yang baik menghasilkan hasil yang buruk namun secara logika juga hasil yang buruk terus-menerus tentu itu adalah buah dari proses yang buruk pula. Selain itu hasil juga penting agar si pelaku tidak menjadikan sebuah proses sebagai tameng kegagalannya alias ia berlindung di balik kata-kata “yang penting sudah usaha…..” padahal ia sendiri tidak mengerti usaha yang baik itu seperti apa…

    Wah untuk rancangan linear program produksinya, terims ya prof sudah memperkaya artikel saya. πŸ™‚

  8. Meski saya adalah orang yang fokus pada hasil akhir, tapi saya percaya proses yang baik akan memberikan hasil akhir terbaik πŸ™‚

    mohon maaf lahir bathin…

  9. yes bung, postingan yg amat menarik (emangnya becak)

    ini pilihan yg membingungkan sejak aku kecil, meskipun saat ini daku berkesimpulan sama dengan pak yari: “tidak berani mengatakan mana yang lebih penting”

    cuman… (belom final yaa..) kayak2nya sih masing2 insan (halah.. ) punya kecenderungan masing2 tapi belum tentu juga dalam segala hal.
    Misalnya aku ini dalam hal kerjaan di kantor, lebih cenderung result oriented, sampe2 aku sering denger, dg becanda orang bilang aku super sadis bangedsz krn gak pernah mau tau usaha dan ikhtiar yg pernah dilaksanakan temen2 ktr. tapi sebenernya aku “merasa” juga lebih cenderung process oriented dalam banyak hal.
    bingung khaan….

  10. oh ya,
    mohon maaf lahir dan batin

  11. Hmmm.. rumit yah πŸ˜€ mirip mana yg duluan telur atau ayam *halaaah oot*

    Dalam hal prose vs hasil ini, mungkin yang ada adalah “kecenderungan” kearah tertentu. Secara umum saya sih lebih cenderung bahwa proses yang baik CENDERUNG akan membawa hasil yg baik. Cuma celakanya, diantara keduanya ada variabel lain yang kadang gak terduga dan sering gak bisa dikendalikan.

    Contoh kecilnya — walau saya sama sekali buka jagoan — gak mau bilang gak bisa πŸ˜€ — bikin kue,. resep yang terukur, cara dan langkah ‘how to’ yang jelas, — pendeknya S.O.P-nya jelas — gak selamanya memberi hasil yg sama… mungkin kualitas terigunya beda, atau gula/susu/ bahan lainnya kualitasnya beda atau hampir kadaluarsa, dll dll. Dalam soal nastar atau kaasstengels, ada lagi soal selera πŸ˜› Ribet deh *wakakak*

    Bahwa “harus berusaha melakukan yang terbaik” sudah merupakan keharusan… dan dilengkapi dengan berdoa. If you don’t try it ( your best), how wld you know wht the result will be (the best). **ngarang mode on*

    Selamat Idul Fitri, maaf lahir batin.
    *dilarang nyela … hehehe*

  12. Kalau menurut saya juga sama, Pak.
    Proses dan hasil sama-sama penting.
    Wah, kasihan ya si DP.

    Btw, Met idul fitri ya?
    Mohon maaf lahir & batin

  13. @septy

    Betul…. hasil yang baik pasti dilahirkan dari proses yang baik, namun ketika proses yang baik ternyata tidak menghasilkan hasil yang baik terutama setelah berkali-kali maka kita harus mengakui bahwa ‘proses yang baik’ tersebut harus diperbaiki atau diubah……. πŸ™‚

    @Jiwa Musik

    Huehehe…. masalahnya serba salah yaa….. jikalau kita berorientasi hasil kita dikatakan sadis atau tidak tahu mengerti dan sebagainya sedangkan jikalau kita berorientasi proses, maka orang cenderung bekerja seenaknya dan tanpa improvisasi. Jadinya ya…. memang seharusnya kita berada di tengah-tengah, itu yang paling bagus menurut saya. Adakalanya kita berorientasi pada proses, dan ada kalanya kita berorientasi pada hasil.

    O iya, Selamat hari Raya Idul Fitri juga. Mohon maaf lahir batin. πŸ™‚

    @G.a.i.a

    Kalau menurut saya semua ada standardnya. Walaupun selera orang berbeda-beda tetapi untuk setiap makanan (misalnya) pasti ada standardnya. Walaupun standardnya mungkin ada beberapa. Sebagai contoh mungkin kalau orang Eropa senangnya kaasstengel yang kejunya dominan, sementara kalau orang kita cukup senang dengan yang banyak garamnya walaupun kejunya cuma sedikit. Tetapi bukan berarti sebuah kue atau makanan harus dibuat sesuai dengan selera per individu, ya bukan begitu. Andaikata kita tidak suka kue tart, misalnya, karena kita tidak suka manis tetapi suka rasa asin, bukan berarti lantas kue tartnya harus dikasih garam, ya nggak begitulah… wakakakak….. Jadi sebuah makanan juga mempunyai beberapa ‘standard’ yang normal dipakai.

    Nah, usaha memang wajib, tetapi dari hasil dari usaha yang kita lakukan, seyogianya kita belajar guna memperbaiki usaha atau proses yang telah kita lakukan sebelumnya. Nah, itulah sebabnya kenapa menurut saya, proses dan hasil sama pentingnya. πŸ™‚

    Btw…. kalau sis G.a.i.a bikin kaasstengel mendingan saya process-oriented deh, soalnya kalau kaasstengel-nya sis G.a.i.a dinilai product-oriented, wah nggak janji deh….. wakakakak….. πŸ˜† <—- bukan menyela, tetapi semangat dorongan

    **kabur bersama si Pedro sebelum disuruh nyicipin kaasstengel-nya sis G.a.i.a** :mrgreen:

    @Edi Psw

    Betul pak, sama pentingnya antara proses dan hasil. Selamat hari raya Idul Fitri juga ya pak. Mohon maaf baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja lahir batin. πŸ™‚

  14. Kalo saya proses nya makan dan tidur melulu pak, hasilnya berat badan naek 4KG hehehe, maaf lahir batin ya pak.

  15. Yap, great. Proses itu penting, hasil penting. Giman tu hasil tanpa proses, sim salabim. Apa yang kita peroleh (hasil) dari apa yang dilakukan (proses).

  16. Prinsip Pareto juga bisa diterjemahkan menjadi:- bahwasanya keberhasilan suatu proses ditentukan oleh 20% aktivitas didalam proses itu sendiri.

    Baik Proses dan Hasil dalam pemahaman saya dua-duanya penting, oleh karena itu perlu dilakukan kontrol dan perbaikan terus menerus selama berproses disamping penentuan target (hasil) yang hendak dicapai. Hal ini penting untuk menjaga satisfaction level dari semua stake holder yang terlibat. Di dalam six sigma ad yang disebut dengan CIM (Continous Improvement Management), yang senantiasa mencari root cause dari setiap defect yang terjadi dan senantiasa meng-improve pencapaian hingga mendekati sigma level. Hal yang sama diaplikasikan dalam ilmu QC yang lain, dan sebenarnya hal ini tidak terlalu sophisticated dan bukan barang baru. Disinilah alat untuk mengidentifikasikan kelemahan-kelemahan yang menyebabkan defect sehingga proses selanjutnya lebih sempurna dan hasilnya pun lebih sempurna, sehingga tidak ada lagi kata-kata:-

    …gagal dalam mengidentifikasi kelemahan-kelemahan proses anda sendiri karena berlindung di balik kata-kata yang memabukkan: β€œyang penting prosesnya bukan hasilnya” sehingga anda gagal melihat hasil buruk yang anda capai selama ini.

    πŸ˜€

  17. Kalau menurut saya, proses itu lebih penting daripada hasil. Apapun hasilnya, kalau kita yakin proses yang kita jalani sudah maksimal… whateverlah sama hasilnya πŸ˜€

  18. AKHIR… ditentukan mulai dari AWAL.. klo mnrt sy begitu Om Yari..

    dan saya pikir, juga memang benar ketika kita membuat suatu produk katakan, ketika produk itu merupakan produk unggulan, proses yang dilalui oleh produk tersebut juga pastinya berkualitas dan terjaga kan.. nah, hasil dari penjagaan kualitas produk itulah yang ketika memang tidak ada halangan yang sangat2 berat akan menjadi produk yang andalan..

  19. Kualitas dalam proses akan menentukan perbedaan dalam hasilnya. Saya ingat Ny Tanzil (dulu artikelnya selalu muncul di Intisari), dalam hal memasak yang penting bahan bakunya. Jadi ada kaasstengel yang rasanya lezat (tergantung dari mentega dan kejunya, yang memang berbeda tingkatan rasa dan harganya), ada yang biasa saja. Jadi kualitas orang, awalnya ditentukan dulu oleh bahan bakunya, kemudian bagaimana proses meningkatkan kompetensi masing-masing orang tsb. Oleh karena itu, peningkataan agar menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas ini sangat penting.

    Saya pernah diskusi dengan seorang psikolog (saya biasa tanya apa sih kelemahanku, karena tiap dua tahun sekali dikantorku ada semacam penilaian dari psikolog)…katanya saya termasuk tipe result oriented. Dan beliau menyarankan agar saya lebih melihat perkembangan anak buah dari prosesnya, karena tak semua anak buah mempunyai kemampuan seperti kita. Dengan memperhatikan proses, gesture anak buah dalam mengerjakan tugas, juga perilaku sehari-hari, kita akan mendapatkan hasil maksimal, karena kenyataannya kompetensi orang berbeda-beda. Sejak itu, saya belajar lebih memahami orang lain, lebih sabar menunggu beberapa anak buah yang “agak lambat”…dan hasilnya luar biasa.

  20. Saya setuju bahwa proses dan hasil dua-duanya penting. Tetapi jika proses sudah dijalankan dengan benar, dan ternyata hsilnya tidak maksimal, mungkin permasalahannya terletak pada kualitas row material.
    Jika kita sebagai atasan (seperti Mbak Enny) hanya menilai hasil saja memang kurang bijaksana. Kita harus lihat prosesnya, bagaimana anak buah sudah bekerja, agar lebih bisa menghargai mereka.

  21. @qzplx

    Wah…. masih untung naik tandanya itu normal jikalau prosesnya makan dan tidur dan hasilnya berat badan naik. Kalau prosesnya makan dan tidur tetapi hasilnya berat badan malah turun, nah itu baru anomali…. hehehe… Selamat Hari Raya Idul Fitri juga, mohon maaf lahir batin. πŸ™‚

    @Ersis Warmansyah Abbas

    Ya…. tanpa proses mustahil akan ada hasil. Namun proses ditempuh karena kita juga menginginkan sebuah hasil. Untuk itu hasil dan proses sama-sama penting…. πŸ™‚

    @agoyyoga

    Ya… betul sekali…. umpanya juga sebuah persamaan: y = 2x + 3. Umpamakan y adalah variabel hasil sedangkan x adalah variabel proses. Tanpa salah satu variabel, persamaan matematika tersebut menjadi persamaan yang tidak sempurna. Hanya saja dalam kenyataan sehari-hari mungkin variabel prosesnya sangat banyak sekali (seperti x1, x2, x3 dsb.) sehingga prosesnya sangat rumit.

    Dan benar sekali, menentukan defects per unit yang merupakan bagian dari perhitungan sigma level bisa dilakukan ketika kita menghasilkan output dari sebuah proses, kemudian dari situ kita dapat mengidentifikasi kelemahan-kelemahan proses kita yang telah kita jalani selama ini untuk kemudian meminimalisasi kelemahan2 tersebut sebaik-baiknya sehingga diharapkan terjadi continous improvement.

    Ok deh…. thanks ya atas komennya yang mengingatkan saya kembali tentang sigma level dalam proses Quality Control. πŸ™‚

    @parvian

    Masalahnya kita seringkali tidak mengerti atau tidak obyektif menilai apakah usaha kita telah maksimal atau belum….. Itu masalahnya. Nah, kegagalan yang terus menerus itu menandakan bahwa ada yang tidak beres pada proses kita. Itulah sebabnya kenapa proses dan hasil sama-sama penting…. πŸ™‚

    @fauzansigma

    Nah…. yang penting kita bisa menjaga kualitas produk unggulan tersebut. Namun begitu tentu produk unggulan dapat juga tersaingi oleh produk pesaing. Nah untuk itu, kita harus pandai2 menganalisa kekurangan dan kelebihan masing2 produk juga dapat menganalisa kekurangan dan kelebihan masing2 proses sehingga ‘posisi’ produk unggulan tetap terjaga. πŸ™‚

    @edratna

    Betul sekali bu…… setiap orang memang mempunyai ‘kapasitas’ atau kompetensi yang berbeda2. Tentu kita tidak bisa memaksakan apa yang di luar kemampuan mereka karena justru hasilnya malah mungkin amburadul. Namun kita tentu saja wajib memotivasi atau mendorong mereka agar mampu memaksimalkan kompetensi dirinya sesuai dengan kemampuannya. Yang penting adalah bagaimana kita dapat selalu memonitor ‘mereka yang kurang’ itu agar selalu memperbaiki dirinya sendiri. SALAH SATU cara adalah bisa dengan membandingkan output pekerjaannya dengan output pekerjaan orang lain. Hal ini penting terutama untuk dirinya sendiri juga. Nah, dengan berorientasi sedikit pada output dan tanpa meninggalkan orientasi pada proses (jangan memaksakan di luar kapasitasnya) diharapkan hasilnya bisa lebih luar biasa lagi………. πŸ™‚

    @tutinonka

    Justru itu mbak Tuti. Manakala dalam sebuah proses gagal mengidentifikasi kualitas raw material yang rendah, maka sebuah produk dapat digunakan untuk menganalisa dan mengidentifikasi kualitas raw material yang rendah tersebut.

    Jadi memang betul menilai hasil saja tidak bijaksana, namun menilai proses saja juga tidak selamanya bijaksana karena seringkali manusia gagal mengidentifikasi kelemahan prosesnya sendiri. Untuk itu proses dan hasil sama-sama penting….. πŸ™‚

  22. haha…

    nice try, tulisan yang sangat bagus…

    mungkin dari sekian banyak tulisan Yari ini adalah yang terbaik, maha karya…

    kenapa? karena semangat mendapatkan ‘hasilnya’ itu lho yang ruar biasa! πŸ˜‰

    melihat kualitas tulisan2 Yari yg ‘mempesona’ tentu telah banyak ‘hasil’ kesuksesan yang sudah diperoleh, kapan2 saya ingin belajar bagaimana semua itu diperoleh, tentunya Yari akan bermurah hati membeberkan ‘kiatnya’… πŸ˜†

    kasihan ya DP dijadikan ‘alat’ untuk mendapatkan ‘hasil’ yang maksimal.

    salam;

    ________________________________

    Yari NK replies:

    a nice try too to neutralise my views but alas it doesn’t work… huehehe…..

    Di sini Adji berusaha untuk menegaskan seolah2 ‘proses’ lebih penting dengan meminta ‘kiat’ bagaimana saya menghasilkan tulisan2 yang bagus. Tetapi hal ini malah justru menguatkan pandangan saya bahwasannya ‘hasil dan proses sama-sama penting’. Kenapa? Sebab secara tak sadar Adji menginginkan ‘kiat’ saya karena terpesona oleh tulisan (baca: hasil) yang saya hasilkan. Ini terbukti, Aji mengatakan: ” nice try, tulisan yang sangat bagus… mungkin dari sekian banyak tulisan Yari ini adalah yang terbaik, maha karya…”. Kok bukan langsung mengatakan: “nice try… proses yang bagus…bla bla bla” πŸ˜†
    Adji tidak akan meminta ‘kiat’ saya jikalau tulisan (baca: hasil) yang saya hasilkan jelek. Jadi secara langsung, Adji telah mengafirmasi pandangan saya. πŸ˜†

    Sebaliknya Dji, saya kecewa, tulisan Adji ternyata jelek sekali…… sangat jauh di bawah standard, bahkan boleh dikatakan bahwa tulisan Adji termasuk yang terjelek di blogsfer Indonesia. Tetapi saya yakin, keterusterangan saya ini, tidak akan menyakiti hati Adji apalagi sampai membuat Adji marah. Karena saya yakin, apa yang dihasilkan Adji kualitasnya tidak penting, toh yang terpenting Adji sudah berusaha. Dan sebagai orang yang sangat berorientasi pada proses, saya yakin Adji sudah berusaha. Bukan begitu, Dji? πŸ˜†

    DP tidak masalah menjadi alat mencapai hasil yang baik atau tidak, kelemahannya DP adalah terlalu process-oriented sementara ia tidak mengetahui proses yang baik itu seperti apa, pada saat ia menyadari hasil yang dicapai tidak baik semua, maka ia baru belajar/sadar jikalau proses yang dicapainya bahwa prosesnya tidak maksimal…..” πŸ˜†

    salam. πŸ™‚

  23. @edratna
    komentar ibu adalah komentar yg sangat arif, yang dalam pandangan saya, keluar dari orang yang sudah banyak menjalani pahit-manis perjalanan hidup…

    berhubungan dengan berbagai jenis orang pada berbagai level pekerjaan…

    tidak heran tulisan dan komentar ibu di blog pribadi begitu sejuk, tulus dan sarat makna … 😎

    Salam;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s