Daily Archives: Jumat, 10 Oktober 2008

RUU Pornografi – Perlu Nggak Ya?

Membaca postingan di sini dan juga menyaksikan perdebatan dalam acara “Cover Story” di TV One dalam bulan Ramadhan yang lalu, saya akhirnya tergelitik juga untuk membuat postingan ini. Apalagi di acara debat di TV One tersebut, salah satunya adalah penentang RUU ini, seorang perempuan (kalau nggak salah namanya Tiurlan Hutagaol, kalau salah mohon dikoreksi) yang katanya salah seorang pekerja seni (betul nggak?). Di sini terjadi perdebatan-perdebatan yang menarik di mana ibu Tiurlan Hutagaol ini hampir selalu mengatasnamakan seni dan budaya untuk menentang RUU Pornografi ini. Pertanyaanlah adalah, apakah seni dan budaya yang modern harus bersentuhan dengan pornografi??

Ibu Tiurlan ini kalau tidak salah juga berkata bahwa RUU ini bukan cara yang terbaik untuk memperbaiki moral bangsa. Menurut saya hal itu ada benarnya juga, jikalau RUU ini tidak dibarengi dengan pendidikan moral yang bagus tentu RUU ini tidak dapat secara maksimal menyingkirkan pornografi dari negara ini. Namun, logika “RUU ini bukan cara yang terbaik untuk memperbaiki moral bangsa” tentu identik pula dengan logika “pornografi bukanlah cara yang terbaik untuk memajukan seni di Indonesia”. Apakah kita yakin bahwa dengan memperbolehkan pornografi maka seni kita lebih diakui dunia??? Lantas apakah seniman harus kita batasi ekspresinya dalam berseni? Tentu saja bukan maksudnya seperti itu, tetapi yang jelas kebebasan ekspresipun harus bertanggungjawab. Bukan hanya politisi (atau yang lainnya) yang mempunyai tanggung jawab moral dan etika, tetapi para senimanpun punya tanggung jawab moral. Jangan sampai, mentang-mentang seniman dapat mengekspresikan diri sepuas-puasnya tanpa tanggung jawab.

Lantas di acara lain tentang debat juga di TV One, salah seorang penentang RUU Pornografi berkata “tidak selamanya mayoritas itu benar”. Pendapat ini juga tentu saja benar, karena hal itu bisa terjadi di mana saja, bukan hanya di Indonesia tapi juga di Eropa atau di Amerika Serikat. Mengerti kan?? Sebenarnya kalau difikir-fikir RUU ini tidak ada hubungannya dengan suatu agama, mungkin karena pendukungnya kebanyakan penganut agama tertentu jadinya RUU ini identik dengan “pemaksaan” oleh agama tertentu.  Namun yang jelas, RUU ini juga harus memperhatikan dan melindungi budaya tradisional dan juga kalau ada seharusnya juga patut melindungi ritual-ritual atau obyek-obyek agama lain yang “bersentuhan” dengan pornografi. Tetapi BUKAN untuk melindungi kesenian-kesenian pop/modern yang menjual pornografi, apalagi jikalau kesenian tersebut hanyalah kesenian impor murahan. Toh, dengan bumbu-bumbu pornografi kesenian pop Indonesia belum tentu lebih maju juga.

Sebagai penutup, saya ingin mengambil contoh. Jikalau anda berlangganan TV kabel atau TV satelit berbayar tentu anda pernah menyaksikan HBO, Cinemax, HBO Signature, StarMovies, Hallmark Channel dan sebagainya. Di channel-channel tersebut tetap diadakan sensor yang sangat ketat walaupun TV-TV tersebut berasal dari luar negeri yang lebih liberal dari Indonesia. Adegan “porno” yang bisa lolos di stasiun-stasiun TV tersebut hanyalah sebatas ciuman. Selebihnya…. tidak akan lulus sensor. Adegan yang mempertontonkan kemaluan pria dan wanita, walaupun sedetik tidak akan lolos dari stasiun televisi tersebut. Bahkan adegan ciuman sesama jenispun disensor oleh stasiun-stasiun televisi tersebut. Mungkin menurut si pembuat film di Hollywood, adegan-adegan ‘hot’ tersebut adalah seni, tetapi itu tidak menyurutkan manajemen di stasiun-stasiun televisi tersebut untuk menganggapnya sebagai pornografi dan menganggap pantas untuk disensor. Nah, jikalau stasiun-stasiun televisi tersebut mensensor adegan-adegan porno tersebut, apakah kita ingin tetap merasa “modern” dengan tetap “memperbolehkan” pornografi?? Wah…. sepertinya modern apa nggak, nggak ada hubungannya dengan pornografi deh! :mrgreen: