Daily Archives: Jumat, 31 Oktober 2008

Jangan Menonton Televisi Nak…. Banyaklah Membaca…. Loh??

Ingatkah anda pada bulan Juli lalu ada yang namanya hari tanpa TV? Hari itu dianjurkan masyarakat untuk mematikan TV-nya sama sekali. Seolah-olah televisi adalah candu yang merugikan mirip seperti rokok yang merusak kesehatan yang ada harinya ‘hari tanpa rokok’. Lepas dari fakta bahwa layar televisi memancarkan radiasi yang bisa merusak mata terutama apabila dilihat terlalu dekat dan terlalu lama, saya agak kurang setuju televisi seolah-olah disamakan dengan sesuatu yang merugikan seperti rokok dan tembakau. Di sebuah acara talk show di televisi, saya sudah lupa nama acaranya apa karena sudah berlangsung lama sekali, yang dihadiri oleh seorang psikolog terkenal, mengindikasikan bahwa menonton televisi, bukannya tidak baik, tetapi kurang baik masih kalah bermanfaat dibandingkan dengan membaca. Di kesempatan lain, di salah satu blog yang cukup ternama, di situ dikatakan bahwa menonton televisi tidak mempekerjakan otak atau mempasifkan otak. Dan masih banyak dan sering lagi dikatakan tentang hal-hal negatif tentang televisi di banyak kesempatan.

Dalam 30 tahun terakhir, televisi telah menjadi bagian yang penting sebagai sumber informasi dan sumber hiburan bagi keluarga Indonesia. Hal ini bukan hanya terjadi di negeri kita saja, tetapi di seluruh dunia. Tapi benarkah televisi membawa pengaruh negatif dan tidak begitu bermanfaat dibandingkan membaca? Menurut saya televisi hanyalah media, seperti halnya radio, internet, surat kabar, buku dan lain sebagainya. Jadinya sebenarnya lebih tepat jikalau yang disalahkan adalah content-nya dan juga intensitas menonton televisi. Content yang buruk tentu saja bukan hanya monopoli televisi tetapi juga dapat difasilitasi oleh oleh radio, Internet, surat kabar, majalah bahkan buku. Jadi janganlah disalahkan medianya. Sementara itu, intensitasnya juga perlu diperhatikan, jikalau menonton televisi terlalu intens tentu juga tidak baik. Namun tentu saja itu lagi-lagi berlaku bagi media lain. Terlalu banyak berselancar di Internet, itu juga tidak baik. Bahkan terlalu banyak membaca, sehingga kurang bersosialisasi tentu sama juga tidak baiknya.

Menurut saya, masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan kelebihan dari masing-masing media seyogianya saling melengkapi satu sama lain agar kita (termasuk anak-anak) dapat memperoleh manfaat secara simultan dari keseluruhan media tersebut. Menonton televisi seolah-olah memang ‘pasif’ karena kita lebih terlena dengan gambar-gambar dinamis yang disajikan oleh televisi, sementara membaca terlihat lebih ‘aktif’ karena kita lebih berimajinasi mencoba membentuk visual di dalam otak kita dari kata-kata yang kita baca di dalam sebuah buku. Namun televisi dapat menuntun kita ke dalam visualisasi, suara, dan lain sebagainya yang tidak mungkin bisa ditunjukkan oleh sebuah buku, dan dari situ kita dapat ‘mengkhayal’ ke tempat lainnya yang ada hubungannya dengan topik tersebut, seperti yang sering saya alami ketika menonton National Geographic, Discovery, Animal Planet bahkan acara-acara olahraga di StarSports ataupun ESPN. Tidak sedikit postingan saya yang lahir dari pencerahan di acara-acara televisi. Mungkin andapun tidak jarang membuat tulisan yang diilhami oleh acara-acara televisi yang anda tonton sebelumnya, baik dari stasiun televisi luar negeri maupun stasiun televisi dalam negeri. Itu menandakan bahwa televisi juga dapat mempekerjakan atau mengaktifkan otak kita. Contoh lainnya adalah jikalau kita menyaksikan acara debat di televisi (yang tidak mungkin direpresentasikan di dalam sebuah buku atau majalah), tentu otak kita juga terlibat aktif dalam mencerna setiap kata-kata yang keluar dari para pendebat. Kita seringkali mengiyakan ataupun menolak setiap argumen yang keluar dari mulut para pendebat sesuai dengan argumen yang kita bangun sendiri. Tentu ini juga merupakan bukti bahwa media televisi juga dapat membuat otak kita aktif.

Masalahnya adalah, content atau isi atau acara dari kebanyakan televisi di tanah air yang kualitasnya masih taraf ‘yah…begitulah!’. Hal ini masih diperparah dengan selera menonton masyarakat kita yang juga masih ‘yah…..begitulah!’. Bahkan tidak jarang saya melihat orang-orang yang terpelajar dan sanggup berlangganan TV berbayar tetapi ujung-ujungnya yang dilihat dangdut TPI juga atau paling banter Extravaganza-nya TransTV. Memang sangat agak menyedihkan.

Suka tidak suka, mau tidak mau, televisi akan tetap menjadi bagian dari pendidikan (anak-anak kita). Ini terjadi bukan hanya di negara kita tentu saja, tetapi juga di negara-negara maju. Hanya saja tentu kini bagaimana kita akan memanfaatkan media yang bernama televisi ini. Namun, juga bukan berarti kita tidak perlu membaca lagi loh. Tentu bukan begitu maksudnya. Kita tentu juga harus mendorong anak-anak kita untuk rajin membaca. Namun begitu, kita tidak perlu mempertentangkan lagi antara menonton dan membaca karena seperti yang telah saya tuliskan di paragraf sebelumnya, masing-masing media mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri dan seyogianya kelebihan masing-masing media dapat kita ambil agar saling melengkapi agar memperoleh hasil yang maksimal… 🙂