Jangan Menonton Televisi Nak…. Banyaklah Membaca…. Loh??

Ingatkah anda pada bulan Juli lalu ada yang namanya hari tanpa TV? Hari itu dianjurkan masyarakat untuk mematikan TV-nya sama sekali. Seolah-olah televisi adalah candu yang merugikan mirip seperti rokok yang merusak kesehatan yang ada harinya ‘hari tanpa rokok’. Lepas dari fakta bahwa layar televisi memancarkan radiasi yang bisa merusak mata terutama apabila dilihat terlalu dekat dan terlalu lama, saya agak kurang setuju televisi seolah-olah disamakan dengan sesuatu yang merugikan seperti rokok dan tembakau. Di sebuah acara talk show di televisi, saya sudah lupa nama acaranya apa karena sudah berlangsung lama sekali, yang dihadiri oleh seorang psikolog terkenal, mengindikasikan bahwa menonton televisi, bukannya tidak baik, tetapi kurang baik masih kalah bermanfaat dibandingkan dengan membaca. Di kesempatan lain, di salah satu blog yang cukup ternama, di situ dikatakan bahwa menonton televisi tidak mempekerjakan otak atau mempasifkan otak. Dan masih banyak dan sering lagi dikatakan tentang hal-hal negatif tentang televisi di banyak kesempatan.

Dalam 30 tahun terakhir, televisi telah menjadi bagian yang penting sebagai sumber informasi dan sumber hiburan bagi keluarga Indonesia. Hal ini bukan hanya terjadi di negeri kita saja, tetapi di seluruh dunia. Tapi benarkah televisi membawa pengaruh negatif dan tidak begitu bermanfaat dibandingkan membaca? Menurut saya televisi hanyalah media, seperti halnya radio, internet, surat kabar, buku dan lain sebagainya. Jadinya sebenarnya lebih tepat jikalau yang disalahkan adalah content-nya dan juga intensitas menonton televisi. Content yang buruk tentu saja bukan hanya monopoli televisi tetapi juga dapat difasilitasi oleh oleh radio, Internet, surat kabar, majalah bahkan buku. Jadi janganlah disalahkan medianya. Sementara itu, intensitasnya juga perlu diperhatikan, jikalau menonton televisi terlalu intens tentu juga tidak baik. Namun tentu saja itu lagi-lagi berlaku bagi media lain. Terlalu banyak berselancar di Internet, itu juga tidak baik. Bahkan terlalu banyak membaca, sehingga kurang bersosialisasi tentu sama juga tidak baiknya.

Menurut saya, masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan kelebihan dari masing-masing media seyogianya saling melengkapi satu sama lain agar kita (termasuk anak-anak) dapat memperoleh manfaat secara simultan dari keseluruhan media tersebut. Menonton televisi seolah-olah memang ‘pasif’ karena kita lebih terlena dengan gambar-gambar dinamis yang disajikan oleh televisi, sementara membaca terlihat lebih ‘aktif’ karena kita lebih berimajinasi mencoba membentuk visual di dalam otak kita dari kata-kata yang kita baca di dalam sebuah buku. Namun televisi dapat menuntun kita ke dalam visualisasi, suara, dan lain sebagainya yang tidak mungkin bisa ditunjukkan oleh sebuah buku, dan dari situ kita dapat ‘mengkhayal’ ke tempat lainnya yang ada hubungannya dengan topik tersebut, seperti yang sering saya alami ketika menonton National Geographic, Discovery, Animal Planet bahkan acara-acara olahraga di StarSports ataupun ESPN. Tidak sedikit postingan saya yang lahir dari pencerahan di acara-acara televisi. Mungkin andapun tidak jarang membuat tulisan yang diilhami oleh acara-acara televisi yang anda tonton sebelumnya, baik dari stasiun televisi luar negeri maupun stasiun televisi dalam negeri. Itu menandakan bahwa televisi juga dapat mempekerjakan atau mengaktifkan otak kita. Contoh lainnya adalah jikalau kita menyaksikan acara debat di televisi (yang tidak mungkin direpresentasikan di dalam sebuah buku atau majalah), tentu otak kita juga terlibat aktif dalam mencerna setiap kata-kata yang keluar dari para pendebat. Kita seringkali mengiyakan ataupun menolak setiap argumen yang keluar dari mulut para pendebat sesuai dengan argumen yang kita bangun sendiri. Tentu ini juga merupakan bukti bahwa media televisi juga dapat membuat otak kita aktif.

Masalahnya adalah, content atau isi atau acara dari kebanyakan televisi di tanah air yang kualitasnya masih taraf ‘yah…begitulah!’. Hal ini masih diperparah dengan selera menonton masyarakat kita yang juga masih ‘yah…..begitulah!’. Bahkan tidak jarang saya melihat orang-orang yang terpelajar dan sanggup berlangganan TV berbayar tetapi ujung-ujungnya yang dilihat dangdut TPI juga atau paling banter Extravaganza-nya TransTV. Memang sangat agak menyedihkan.

Suka tidak suka, mau tidak mau, televisi akan tetap menjadi bagian dari pendidikan (anak-anak kita). Ini terjadi bukan hanya di negara kita tentu saja, tetapi juga di negara-negara maju. Hanya saja tentu kini bagaimana kita akan memanfaatkan media yang bernama televisi ini. Namun, juga bukan berarti kita tidak perlu membaca lagi loh. Tentu bukan begitu maksudnya. Kita tentu juga harus mendorong anak-anak kita untuk rajin membaca. Namun begitu, kita tidak perlu mempertentangkan lagi antara menonton dan membaca karena seperti yang telah saya tuliskan di paragraf sebelumnya, masing-masing media mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri dan seyogianya kelebihan masing-masing media dapat kita ambil agar saling melengkapi agar memperoleh hasil yang maksimal… 🙂

Iklan

35 responses to “Jangan Menonton Televisi Nak…. Banyaklah Membaca…. Loh??

  1. Televisi acaranya berguna, jika kita memilih acara yang memang layak ditonton dan menambah pengetahuan. Anak saya malah belajar bahasa Inggrisnya dari TV, dan tak pernah kursus bahasa Inggris (pernah sekali…tidur di kelas)…..dan sekolahnya international yang ujian masuk pake bahasa Inggris…dan lulus.

    Jadi, banyak juga kok acara yang baik. Saat anak-anak kecil, saya menyibukkan mereka dengan latihan dan kursus setelah pulang sekolah dan tidur siang. Ada sekolah madrasah, kursus bela diri, piano, dsb nya. Setelah mereka mengerjakan PR, ibu pulang kantor…maka boleh menonton TV…jadi ada yang mendampingi.

    Buku? Tentu media yang baik untuk belajar……asalkan orangtua juga mengawasi pemilihan buku bacaan yang dibeli anak-anaknya. Jadi setuju kang Yari, setiap media, banyak gunanya…..juga internet….

  2. Maaf…di atas tadi komentarku…lupa masih Popy

  3. ada TVedukasi yang menampilkan tontonan bermutu utk pendidikan anak2..
    tapi anak2 masih aja pilih channel sinetron..
    kalo di perpustakaan ada tivi, kyknya anak2 bakal rame masuk perpus utk nonton daripada baca 😦

  4. Betul pak, saya rindu sekali ama acara TPI jaman dulu, yang mraktikumin fisika… keren abis tuh, sekarang saya ga pernah nongton tipi lagi, suwer pak, paling cuman nemenin istri nongton 1 sinetron paporitnya, ama berita

  5. Tapi sekali2 nonton dangdutan kan gpp kan mas? Hehe..

  6. Tv adalah sebentuk multimedia. Menggabungkan media visual dan audio, dengan gambar hidupnya bisa membawa kita ke tempat-tempat yang jauh, berbahaya, dan sulit terjangkau. Tak ada jeleknya nonton tv, karena sependapat dengan tulisan ini, bahwa media ini punya kelebihan tersendiri. Informasi yang tersaji juga selalu up to date. Tergantung kitanya milah-milih acara yang bagus. Membaca juga bisa jelek, kalau yang dibaca bahan bacaan yang jelek.

  7. Berkat TV adik sepupu saya masih kelas 3 sd, ngerti arti “multilasi”. entah itu suatu yang membanggakan atau menakutkan..

  8. membaca jauh lbh bermanfaat bagi anak-anak
    dibanding nonton tv….soalnya acr tv bnyk yg tak mendidik
    bnyknya lomba sprt KDI, MamaMia, Idola Cilik, dll,
    bs membuat anak2 jadi malas sekolah dan kurang giat belajar
    karena tertarik dgn hal2 serba instan
    belum lg sinetron yg didominasi percintaan remaja
    yg menjejali anak2 dgn pola hidup konsumtif & glamour

  9. Nonton Televisi??? Yahhh.. begitulahhh… 😀

  10. Sedang berpikir untuk mengakhiri masa puasa menikmati siaran TV.. Yup! saya sudah puasa TV nyaris dua tahun, seperti halnya puasa, kadang saya harus “buka”. Pas di public place masih sering lirak-lirik acara TV. Mengapa akan diakhiri? Alasannya kira-kira hampir sama dengan tulisan mas Yari, selain karena ada teman yang berolok-olok…Kenal teknologi yang namanya TV nggak?–ini gara-gara beliau begitu exciting ingin memaksa teman-temannya nonton adiknya yang tengah “masuk TV”. Pertanyaan berikutnya, kapan saya bisa nontonnya….? *garuk-garuk kepala*

  11. Yup
    Kita harus punya cara untuk melepaskan jerat rayu TV di mata anak2 kita
    Andai saja dg blog
    Mungkin bisa 🙂

  12. kalo langganan kabel sih ada babytv. lumayan sambil nunggu anak saya bisa baca. 😎

  13. Aku terbiasa mempraktekkan cara “diet menonton”, Pak Yari. Aku menyebutnya begitu. Dalam arti, ada acara-acara yang sangat bervitamin untuk dikonsumsi. Namun ada juga tayangan-tayangan yang tak memberikan asupan sama sekali jika dilahap. Dengan demikian kita sendiri yang melakukan penyaringan terhadap tayangan televisi.

    Aku sangat suka news. Tapi tidak semua news baik. Ada juga news yang kalau kita konsumsi malah bikin senewen dan menyesatkan. Seperti halnya sinetron. Banyak yang bilang sinetron itu sampah. Oke. Tapi kukira tidak semua sinetron sampah. Dengan diet menonton, kita jadi punya alat ukur sendiri. Seperti halnya membaca koran.

    Bukankah apa pun kalau sudah berlebihan menjadi tak baik.
    Setuju, Tuan Yari.

  14. Betul. Setiap media memang ada kelebihan dan kekurangan tersendiri. Khusus buku. Saya sendiri lebih tertarik membaca cerita yang ada di buku dibandingkan jika cerita di buku itu dibuat film. Khayalan saya jauh lebih indah dibanding khayalan sutradara papan atas dunia sekalipun yang dituangkan dalam bentuk film 😀

  15. @edratna

    Betul sekali bu…. televisi berguna juga salah satunya untuk latihan pendengaran pada pelajaran bahasa asing. Itu salah satu kelebihan televisi. Saya sendiri di Bandung lagi agak sedih nih bu, karena di TV kabel di Bandung ini (Fasindo) kehilangan dua channel favorit saya untuk belajar bahasa, yaitu TV5 Monde Perancis dan TVE Spanyol. Bahasa Perancis saya sudah banyak ‘terdegradasi’ karena di sini tidak banyak dipraktekkan….. 😦

    @eNPe

    Kalau anaknya nonton sinetron, itu mungkin karena kedua orangtuanya juga menonton sinetron, jadinya anak menirukan orang tuanya. Coba orang tuanya selalu ‘mencuci’ otak anaknya bahwa sinetron model cemburu2an yang banyak beredar di TV Indonesia dengan plot cerita yang seadanya adalah acara yang jelek, kampungan dan sebagainya….. pasti sedikit banyak akan berpengaruh kepada selera menonton si anak…. :mrgreen:

    Mengenai TV-TV yang disetel di perpustakaan, mungkin TV-nya disetel ke acara sinetron atau infotainment sama petugas perpustakaan. Lha, wong petugas perpustakaannya aja seleranya begitu ya apalagi anak2 didiknya… huehehehe…. :mrgreen:

    @Raffaell

    Iya dulu malah TPI acaranya keren2, sayang yang keren2 malah nggak ada sponsornya, malah sekarang TPI yang sudah berubah jadi Televisi Pembokat Indonesia karena selera-selera tayangannya lebih mirip konsumsi bediende daripada orang2 terpelajar, eh, malah ramai sponsornya. Yah… begitulah… 😀

    @AgusBin

    Kebanyakan juga nggak apa2, asal acara lain yang bermutu juga banyak yang ditonton! :mrgreen:

    @suhadinet

    Betul sekali pak…. seyogianya kita mengambil hal2 yang positif dari setiap macam media, bukan hanya meributkan keburukan2nya saja……

    @Aria Turns

    Seorang anak dapat mengerti arti “mutilasi” dari media manapun, tidak hanya melalui televisi bahkan mungkin juga bisa dari perorangan. Kebetulan saja sepupu anda mengetahuinya dari televisi. Namun yang penting di sini adalah bimbingan dari yang dewasa mengenai arti mutilasi ini. Sebagai sepupunya yang sudah dewasa, anda bisa mengarahkan arti “mutilasi” hingga dapat bermanfaat baginya, dengan meminimalisasi efek2 negatifnya. Sebagai orang terdekatnya, anda dapat membantu sepupu anda mencerna arti “mutilasi” dengan baik, dan jangan diam saja…. betul nggak? 😀

    @mikekono

    Nah….. seperti yang saya tulis di atas, ini masalah content atau isi bukan masalah medianya…..

    @inos

    Yah… begitulah kenapa mas? Nggak ada TV ya di rumah? :mrgreen:

    @agoyyoga

    Sebenarnya memang lebih afdol jikalau kita mendapatkan informasi dari berbagai macam media. Nah, saya doakan mudah2an mbak Yoga bisa segera “berbuka” untuk mengakhiri puasa nonton TV. Tapi di rumah ada TV kan? :mrgreen:

    @achoey

    TV tidak selamanya jelek….. hanya saja kita perlu memilih2 acara TV mana yang baik untuk konsumsi anak2…. sama seperti blog, tidak semua blog baik. Blog yang hanya berisi narsisisme ataupun yang hanya berisi kebencian membabibuta terhadap suatu kelompok sungguh bukan merupakan blog yang baik. Jadi seperti halnya blog, TV juga bisa baik dan bisa buruk.

    @sitijenang

    BabyTV cuma ada di Indovision ada kalau nggak salah. Kalau di TV berlangganan lain, nggak ada. Mungkin nanti ada yang bikin channel babi TV selain baby TV? :mrgreen:

    @Daniel Mahendra

    Sebenarnya bukan jenisnya yang menentukan apakah sesuatu itu sampah atau tidak, tetapi kualitas individu produknya. Jadi tidak benar sinetron itu sampah, namun yang benar adalah ‘kebanyakan sinetron Indonesia itu sampah’. Masalah sinetron akan menjadi sampah (garbage) atau emas (gold) itu tentu tergantung daripada yang memproduksi…. 😀

    @Ratna

    Betul mungkin salah satu kekuatan buku adalah ia bisa membangunkan khayalan si pembaca tanpa batas. Tetapi masalah indah atau tidak, tentu hal yang relatif. Khayalan terindah menurut kita belum tentu terindah untuk orang lain begitu pula sebaliknya. Jadi mungkin buku yang difilmkan tersebut adalah khayalan terindah si sutradara walaupun belum tentu terindah buat mbak Ratna, nah begitu juga sebaliknya. 😀

  16. Hidup ini bukan hanya untuk belajar formal kok apalagi cuma membaca….! isilah bathin ini dengan hiburan…..Nikmati hidup…dengan hasil jerih payah budaya manusia..yaitu TV…saya malah berharap TV jadi 3 D….Hidup TV

  17. Iya setuju! Ada manfaat sekaligus mudhartanya nonton TV ituh.. 😀

    MMm mungkin karean dari tayangan TV kita mudah mencerna apa2 yg ditayangkan, makanya banyak yg menganggap nonton TV itu kurang mempekerjakan otak. 😀

  18. Ah, biar gimana juga jarang nonton TV. Soalnya siaran di Indonesia gitu-gitu terus, ga begitu bermutu rata-rata. Mending main-main komputer. 😀

  19. tapi paling tidak, slogan ‘membaca itu baik’, memang benar, paling tidak buat saya. jamannya saya kecil dulu, yg namanya televisi masih harus pake aki maksud saya accu, kebanyakan hitam putih dan jarang yg punya (di desa saya, termasuk saya). nah, karena itu saya hobi sekali membaca, sasaran saya adalah perpustakaan sekolahan saya (dan saudara2 saya, hehe….). kebetulan ada saudara di kota juga yg punya buku banyak sekali, sehingga kalo dia sudah bosan dikirimkannya buat saya. dari situ kebiasaan membaca saya tumbuh subur, sampai kadang diomeli simbah saya, lha wong uang belanja beliau kadang kesunat buat beli majalah, hehe….
    dan ternyata karena membaca, maka pikiran, imajinasi, dan daya ngayal saya lumayan bagus. terbukti kok, jadi lebih gampang menggambarkan suatu persoalan. entahlah…itu karena saya gemar membaca atau saya memang orang yg pandai*halah…*.

  20. Pak Yari, anak-anak itu lebih cepat menangkap informasi yang ditayangkan lewat televisi ketimbang dari buku. Kalau disuruh memilih, pasti anak-anak akan memilih televisi daripada membaca buku.

    Tapi sayangnya, kapasitas tayangan untuk anak-anak sangat minim sekali dibandingkan dengan tayangan untuk remaja.

    Itulah sebabnya, peran orang tua sangat dibutuhkan. Jangan sampai anak-anak menonton sesuatu yang tidak pantas untuk mereka tonton.

  21. …..televisi (tv) di Indonesia sudah hadir di tengah masyarakat sejak tahun 1962 (ada peristiwa Asian Games)………konon dari suatu penelitian diperkirakan lama waktu menonton rata-rata individu perminggu mencapai 50 jam……diantaranya anak-anak mencapai 20 jam perminggu……..belum diketahui apa efek kehadiran tv terhadap beragam sisi kehidupan bangsa…… namun idealnya teve bisa menjadi media pembelajaran……melalui tv proses mencerdaskan kehidupan bangsa seharusnya bisa dilakukan…….mengapa?, karena secara psikologis, acara tv dapat memengaruhi pikiran penonton….diawali dari penglihatan, pendengaran, sampai pada indera rasa…….karena itu pengaruh tv jauh lebih kuat ketimbang media cetak dan radio…….kekhawatiran tv lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya harus dilihat secara obyektif dan proporsional…..kalau toh selama ini dikhawatirkan dapat merusak moral bangsa, ya karena memang isi pesannya disadari dan mungkin tanpa disadari berisi hal-hal yang kurang patut….misalnya dari suatu penelitian menunjukkan isi acara didominasi oleh drama dan selebihnya oleh gosip, kekerasan, kriminalitas, mistik, dan pelecehan seksual……..namun tidaklah jujur kalau kerusakan bangsa karena tumbuhnya tv…….yang pas alasannya karena memang ketidakpatutan pesan yang dikemas dan disampaikan kepada semua segmen penonton yang begitu beragamnya………hemat saya, para pemilik dan produser acara tv seharusnya merubah mindset dari berorientasi terlalu pada bisnis ke idealisme pencerdasan kehidupan bangsa secara seimbang…..saya sependapat setiap tema acara haruslah mengandung unsur-unsur pendidikan….ya pendidikan berbasis pada kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional tanpa harus meninggalkan sisi hiburannya……..jadi bukan tv-nya yang dijauhi atau bahkan dihilangkan tetapi kemaslah isi pesan setiap acara ke pesan yang mampu membangun mutu bangsa……

  22. Secara umum saya bisa menyimpulkan bahwa lebih baik tidak ada televisi, karena lebih banyak kerugian daripada manfaatnya.

  23. tapi persebaran informasi amat sangat terbantu dengan keberadaan tv. saya memang berpendapat bahwa banyak acara tv yang tidak mendidik, seperti sinetron dan sejenisnya. akan tetapi, baik buruknya keberadaan tv itu tergantung dari penggunanya

  24. @Kang Aom

    Ya…. saya juga setuju…. biarkanlah media televisi berkembang…. Hal ini juga dapat menjadi pembelajaran bagi kita bahwa kita harus selektif dalam memilih isi siaran televisi. Jikalau ada mudharatnya, salahkan content-nya dan jangan salahkan medianya. 🙂

    @mathematicse

    Padahal sebenarnya biarpun dari siaran TV katanya kita mudah mencerna, namun terkadang banyak juga orang yang tidak mudah mencerna isi suatu siaran TV, apalagi jikalau acaranya mengandung tema yang berat-berat. Tetapi bagi kebanyakan orang Indonesia, jikalau nonton film Hollywood saja masih harus banyak mencerna loh, apalagi kalau filmnya nggak ada teks Bahasa Indonesianya….. :mrgreen:

    @Alias

    Kalau begitu ya langganan TV berbayar aja…. tetapi emang susah sih, kalau nggak ngerti paling2 yang dilihat cuma yang HBO atau Cinemax aja yang ada teksnya, atau seperti yang sering saya lihat, akhirnya banyak juga yang berlangganan TV berbayar, eh nontonnya balik juga ke acara modelnya Indonesia Idol atawa Super Mama, dsb….. ya sama aja oblong…. :mrgreen:

    @goenoeng

    Gemar membaca tentu saja baik….. saya juga sebenarnya orang yang gemar membaca kok…. tetapi saya juga senang menonton televisi…. dan menurut saya, menonton televisi juga sama baiknya tentu jikalau yang dilihat yang baik-baik…. 🙂

    @Edi Psw

    Betul sekali pak Edi…. nah justru inilah pernan orang tua, jangan hanya pasif saja. Kebanyakan orang tua di negeri ini pasif, membiarkan anaknya nonton acara yang “nggak bener” sambil orang tuanya ikut asyik menonton tanpa ada bimbingan sama sekali. Ya, maklum saja, mungkin selera nonton orang tuanya juga rendah, nggak punya taste!. Udah orang tuanya doyannya cuma nonton sinetron dan infotainment saja, nggak ada bimbingan pula untuk anak2nya, kan… gawat tuh! :mrgreen:

    @sjafri mangkuprawira

    Betul prof sjafri….. sebaiknya memang justru kelebihan2 televisi seperti mudah mempengaruhi fikiran penonton lebih dimanfaatkan untuk hal2 yang positif dibandingkan hal2 yang negatif. Karena kehebatan mempengaruhi fikiran inilah, maka televisi jika dimanfaatkan untuk hal2 yang positif ia akan ampuh untuk membentuk citra2 positif di dalam fikiran penontonnya, sebaliknya jika ia dimanfaatkan untuk hal2 yang negatif, televisi juga sangat ampuh dalam membentuk citra2 negatif di dalam fikiran penontonnya juga.

    Untuk itu prof, perbaikan menurut saya harus terjadi di dua belah sisi. Dari fihak produser dan dari fihak penonton. Dari fihak produser seperti yang prof katakan di atas, sebaiknya tinggalkan hal2 yang berbau sangat komersial dan berikanlah ruang kepada idealisme. Sedangkan dari fihak penonton, usahakanlah untuk “menaikkan” selera tontonannya, karena jika masyarakat sudah terbiasa dengan tontonan2 bermutu, maka tidak ada ruang lagi bagi produser untuk menghasilkan acara2 TV yang “berkualitas rendah”. Karena bagaimanapun juga, selama pasar masih subur maka kemungkinan besar produser akan tetap menggarap acara2 “rendahan” tersebut……

    @zakimath

    Untuk keobyektifan yang akurat perlu penelitian yang seksama apakah televisi lebih banyak manfaatnya atau mudharatnya. Jadi bukan karena opini pribadi. Namun andaikan lebih banyak mudharatnya juga, mari kita ambil manfaatnya sebaik2nya agar media tersebut dapat menjadi media yang konstruktif.

    @khofia

    Setuju…. semuanya berawal dari rumah….. kita biasakan anak2 kita untuk tidak menonton sinetron, infotainment gossip dan lain-lain yang kurang bermanfaat. Insya Allah, pasar sinetron akan mengecil…… 🙂

  25. Hmm… ajakan yang bagus, Pak Yari. Namun saya pikir, cara ini tak berbeda dengan cara amputasi, namun sumber penyakitnya masih dibiarkan hidup. Berarti yang mesti (sekalian) kita lakukan, adalah langsung menghancurkan akar masalah/inti penyakitnya. Saya rasa sulit sekali anak-anak akan menurut dengan cara yang agak represif ini. Atau… mungkin ada cara lain, meski… well, kita sebetulnya sedang bicara kualitas isi film yang biasa disajikan di negeri ini. Yah… begitulah keadannya ^^;;
    .
    Salam,

    _______________________

    Yari NK replies:

    Cara yang represif yang bagaimana nih?? Mungkin yang agak memaksakan agar si anak tidak nonton sinetron dsb itu ya? Menurut saya itu bukan cara represif, kita tidak memaksakan namun mengarahkan agar mereka selalu dapat memilih tayangan yang baik. Jikalau ada unsur ‘represif’nya ya itu wajar, karena apapun jika kita ingin membetulkan keadaan dari keadaan yang buruk tapi memabukkan, ya pasti ada unsur2 represifnya atau minimal perlawanannya. Seperti misalnya dalam melawan narkoba misalnya.

    Yang penting di sini kita bukan harus menjadi otoriter tetapi hanya mengarahkan dengan sungguh2 bagaimana mereka menilai suatu tayangan….. 🙂

  26. Hmm… kalau saya cermati tulisan Mas Yari ini ada penekanan pada salah kaprah yang meng-generalisasi konten terhadap media. Saya sendiri baru ‘ngeh’ dari tulisan ini bahwa ada orang yang mengartikan “jangan nonton TV” itu secara harfiah, yaitu ‘jangan nonton TV apapun materinya’. Saya sendiri selalu mengartikan TV tidak baik ditonton karena kontennya yang kebanyakan tidak cerdas dan tidak mencerdaskan, bukan karena TV nya itu sendiri. Hehe.. beda kepala emang beda isi.
    Betul mas. TV dan buku hanya media. Bisa saja buku juga tidak lebih baik kalau kontennya memang sampah.

    Salam

    __________________________

    Yari NK replies:

    Ya… kalau sudah ‘ngeh’ ya sukur deh…. memang bukan anda saja sih yang secara tidak sadar tidak bisa membedakan antara mana yang kesalahan media, mana yang kesalahan konten atau isi atau program televisi. Media umumnya tidak salah, yang salah itu umumnya adalah program televisinya. 🙂

  27. Saya setuju dengan pendapat mas Yari, pandai-pandailah kita memanfaatkannya dan menyaringnya. Terkadang jika terlalu lama membaca atau melihat hal yang serius juga membuat orang stress. Hiburan juga diperlukan dan pandai-pandailah memilih hiburan yang sesuai dengan usia masing-masing anggota keluarga. thanks

    _________________________

    Yari NK replies:

    Hiburan juga ada hiburan yang bermutu dan ada yang hiburan tidak bermutu (termasuk di AS). Yang tidak bermutu biasanya yang cuma mengeksploitasi seks saja tetapi isinya kosong melompong. Itu salah satunya. 🙂 Jadi seyogianya kita patut bisa memilih, apalagi kalau sudah menyangkut anak2 kita. 🙂

  28. Konon para pelaku mutilasi banyak terinspirasi dari tayangan tv. Tayangan media, khususnya di tv, tentang kekerasan macam mutilasi perlu dibatasi, hanya ditayangkan tengah malam.

    Mutilasi? ih, jijay ..! Siapa berani lihat gambarnya? Temukan di:

    http://opiniorangbiasa.blogspot.com/2008/10/mutilasi-mayasari-bhakti.html

    _______________________________

    Yari NK replies:

    Pelaku mutilasi sudah ada sejak zaman dahulu, jauh sebelum TV ditemukan. Jadi inspirasi mutilasi bisa jadi dari mana saja. Mungkin jikalau sekarang banyak yang terinspirasi dari TV, itu karena media televisi saat ini memang sangat dominan. Tetapi jangan salahkan medianya. Salahkan content-nya (termasuk prosedurnya) dan salahkan juga yang menonton yang tidak bisa mencerna dengan baik informasi yang diperolehnya dari televisi. Televisi dapat memepengaruhi kita dengan baik jikalau kita banyak melihat yang baik2. Namun orang banyak yang ‘munafik’, yang kebanyakan ditonton yang ‘menarik-menarik’ saja, seperti berita mutilasi ini termasuk yang ‘menarik’. Anda menontonnya juga kan dan merasa terhibur dengan berita2 tersebut? :mrgreen:

  29. setujuuuuu…. selain banyak membaca, banyak2 bermain, berpetualang & berinteraksi sosial ok!

    _________________________

    Yari NK replies:

    Siip….. hidup memang seyogianya harus sebisa mungkin berimbang! 🙂

  30. Kualitas ..???
    Ya memang begitu lah …

    But perlahan mudah-mudahan semua bisa berjalan kearah yang lebih baik ya pak …
    Setuju ??

    ______________________________

    Yari NK replies:

    Memang seharusnya begitu….. hari ini harus selalu lebih baik dari hari kemarin….. 🙂

  31. kalo saya wong ndeso ada melihat satu problematika yang beda lagi..
    budaya membaca adalah budaya yang belum sempat populer di pedesaan. jumlah orang berpendidikan kan memang masih terbatas di pedesaan? pemberantasan buta huruf pun belum lama berhasil. perpustakaan tidak ada terjangkau, beli buku mahal.. koran ya paling2 ikut mbaca dari tetangganya yg berpunya dan berlangganan… beli eceran juga jauh…
    lha dalam kondisi seperti itu, televisi kini murah harganya… stasiun relay pemancar TV juga banyak didirikan di mana2 tempat. akses nonton TV lebih luas terjangkau daripada akses membaca. itulah yg banyak terjadi di pedesaan.
    padahal, bacaan memang lebih banyak yg sehat, krn membawa kita kepada imajinasi nilai2 yg mendidik, pembaca terasah utk membangun visi setelah mengendapkan ‘nilai2’ dari sesuatu yg dibacanya
    sedangkan TV lebih instan dan menawarkan=menyajikan nilai2 budaya asing untuk ditiru secara instan pula…
    itulah bedanya bacaan dgn TV, di lingkungan pedesaan kini 🙂

    ________________________

    Yari NK replies:

    Sebenarnya walaupun gambaran yang anda sebutkan ada benarnya namun menurut saya tidak 100% tepat. Bukupun banyak menawarkan budaya2 asing, tinggal mana yang mau kita baca, sama seperti nonton televisi, mana yang mau kita tonton. Sekarang kalau mau dilihat secara jujur, televisi-televisi kita sudah jauh lebih “meng-Indonesia” dibandingkan 15 tahun yang lalu di mana kita benar2 disuguhi film2 asing. Kini budaya2 lokal kontennya jauh lebih banyak, kecuali jika anda berlangganan TV kabel atau TV satelit.

    Jadi, sekali lagi, jelek bagusnya pengaruh media pada masyarakat lebih kepada isi atau kontennya bukan kepada medianya sendiri. 🙂

  32. Pada hakikatnya, program yang ditawarkan pada stasiun televisi tidak semuanya mengandung sisi negatif namun juga banyak memberikan nilai – nilai positif yang mengandung ilmu pengetahuan,misalnya saja seperti program Berita Nasional dan Internasional,Informasi Kriminal,menegemen Qalbu,sinetron-sinetron Religi serta acara – acara yang bertema tentang pendidikan serta banyak lagi program – program televisi yang lebih mengarah dalam hal perkembangan wawasan.
    Menonton televisi memang lebih sederhana daripada membaca buku. Namun demikian, kurang tepat apabila kita mengatakan bahwa televisi adalah biang bencana kemerosotan moral bangsa. Sama seperti buku, tidak semua program televisi itu berisi sampah. Masih banyak acara-acara televisi yang mendidik, memberikan inspirasi untuk maju, dan menyentilkan persoalan yang layak untuk dipikirkan, perlu dicari solusi dan diberi perhatian penuh.

    ________________________

    Yari NK replies:

    Betul sekali, seperti halnya buku, televisi juga hanya merupakan media. Yang menentukan baik buruknya adalah isi media tersebut. Buku dan televisi dapat memuat material yang baik dan yang buruk. Pasalnya untuk media televisi, bangsa kita lebih memilih program2 yang kurang berbobot seperti sinetron murahan, lawakan2 yang hanya menghina fisik orang dan sebagainya……….

  33. Acara apa sih yang baik untuk anak-anak? :))

    • Acara anak2 apapun sebenarnya cukup baik, dan jangan biarkan anak2 kita nonton sinetron yang bertema cinta murahan, perselingkuhan dan juga yang berbau mistik berlebihan…. 🙂

  34. Sebenarnya sih, TV dan Media lain justru ada nila +nya bahkan -nya, tinggal mau milih yang mana? Durasi yang dibutuhkan berapa lama? Jujur saja sih, kalau saya suka menonton tv jika setelah mengaji sehabis maghrib. Dianntaranya : Tetangga Masa Gitu, Kelas Internasional, OK-JEK, & On The Spot.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s