Daily Archives: Senin, 3 November 2008

Lempar Batu Sembunyi Tangan………

Artikel ini masih ada hubungannya dengan televisi, walaupun temanya berbeda sama sekali dari artikel saya sebelumnya. Artikel ini lahir dari “kekesalan” saya ketika liburan Idul Fitri di Jakarta setelah berlebaran yang lalu, tepatnya ketika saya berselancar di Internet (apalagi kalau bukan untuk blogwalking dan ngeblog!).

Di Jakarta, saya menggunakan/berlangganan TV kabel (First Media) beserta Internet Provider-nya dari Centrin. Lho, kenapa pakai Internet Provider fihak ketiga?? Bukannya sekarang First Media juga bertindak sebagai penyedia IP sekaligus? Jadinya lebih murah kan jatuhnya? Memang betul…… memakai IP yang bukan pemilik jaringan fisik jatuhnya memang lebih mahal, mungkin itu karena IP fihak ketiga harus menyewa jaringan dari si pemilik jaringan dalam kasus ini, First Media tentu saja. Setiap bulan saya harus merogoh kantong yang udah nggak ada isinya lagi ini Rp. 500.000,- perbulan tidak termasuk PPn. Bandingkan jika kita memilih provider First Media langsung kita hanya keluar kocek Rp. 99.000,- perbulan (belum PPN) dengan speed yang sama dan sama-sama pemakaian unlimited.

Ceritanya panjang, saya berlangganan Centrin Cable Broadband, karena waktu itu di tahun 2002 (saya ingat sekali, saya pertama kali berlangganan Cable Broadband di tanah air ini ketika akan berlangsungnya piala dunia 2002 di Jepang-Korea waktu itu) First Media, yang waktu itu masih bernama Kabelvision belum merangkap menjadi Internet Provider. Untuk itu pelanggan yang mau merasakan pseudo Broadband di tanah air ini, harus berlangganan TV kabelnya dulu, lalu berlangganan Internet dari IP fihak ketiga. Dan pilihanku waktu itu jatuh pada Centrin, entah kenapa. Zaman jahiliyah waktu itu, belum ada pilihan  personal broadband yang lain kecuali pakai jaringan Kabelvision. Speedy dari Telkom yang kini populer itu, boro-boro udah lahir! Itupun baru sebatas Jakarta saja. Belum lagi, saya harus beli modem Motorola Surfboard SB4100 (seperti gambar di atas) yang waktu itu harganya, amit-amit, mencapai 4 jutaan rupiah. Saya kheki banget sewaktu ditelepon salesman First Media yang sekarang menawarkan cable modem dengan harga Rp. 450.000,- malah bisa gratis jikalau persediaan masih ada ditambah persyaratan tertentu.

Waktu itu sebenarnya saya sudah berlangganan TV berbayar Indovision yang memakai parabola digital itu. Demi ingin menikmati Internet broadband, terpaksa “kerja sama” dengan operator TV berbayar  parabola tersebut yang sudah lama kita jalani, sejak pertengahan tahun 1990an, bahkan sejak Indovision masih bisa ditangkap dengan parabola analog yang masih sebesar-besar dinosaurus ukurannya itu, harus diputus karena saya tidak kuat untuk ‘berpoligami’ dengan dua buah TV berbayar.

Pertama kali saya menggunakan cable broadband waktu itu bukanlah masa-masa yang teramat indah. Selain jaringan kabelvision yang waktu itu sering down, kecepatan download-nya waktu itu, masya Allah, jarang sekali menembus 5 kb/detik. Bahkan tak jarang waktu itu kecepatan download kurang dari 1 kb/detik. Catat: kurang dari 1 kb/detik !! Kalau begitu apa bedanya dengan saya berlangganan dial-up ??? Yah…. waktu itu saya hanya bisa menikmati “unlimited”-nya saja dari cable broadband macam ini, karena jikalau saya memakai dial-up, tagihan teleponnya bisa 3 kali lebih mahal dari tagihan broadband. Lagian waktu itu biaya langganan broadband-nya masih ‘murah’, masih Rp. 350.000,- per bulan (tidak termasuk PPn).

Namun, yang membuat saya sedih adalah ketika jaringan tengah mengalami down. Jikalau saya menelepon Centrin, mereka menuduh jaringan kabelvision yang bermasalah, sebaliknya ketika saya menelepon kabelvision, justru balik mencurigai ketidakberesan ada di fihak Centrin sebagai IP. Pendek kata, mereka selalu mengpingpong saya jikalau ada masalah koneksi seolah-olah mereka ingin saling lempar batu sembunyi tangan.

Kini, enam tahun telah berlalu, kabelvision kini menjadi First Media. Jaringan yang disediakan First Media sebenarnya kini telah jauh membaik, dan juga layanan Internet dari Centrin cukup memuaskan saya. Namun pada liburan lebaran yang lalu, tiba-tiba sekali, saya mengalami kejadian yang sering saya alami 6 tahun yang lalu ketika masih pertama kali berlangganan cable broadband: koneksi internet putus sama sekali dan dalam waktu yang cukup lama. Karena pegal menunggu koneksi kembali normal, saya menelepon Centrin. Saya sangat terkejut, ternyata di tengah kompetisi yang demikian ketat ini, Centrin masih mencoba untuk bermain lempar batu sembunyi tangan. Ketika dicek (lewat petunjuk sang teknisi via telepon) ternyata menurut sang teknisi koneksi saya normal, saya disuruh komplain ke First Media sebagai penyedia jaringan. Dengan sabar, saya menelepon First Media, dan mengatakan bahwa jaringan normal dan saya dianjurkan untuk komplain ke Centrin kembali !! Setelah kembali menelepon Centrin, mereka masih keukeuh beranggapan bahwa aliran data dari server mereka normal dan mereka beranggapan bahwa jaringan First Medialah yang bermasalah.

Akhirnya saya sempat “mengancam”, saya akan berpindah total ke First Media, jikalau Centrin tetap bermain lempar batu sembunyi tangan……. Jikalau saya berpindah total ke First Media minimal tidak ada lagi kasus lempar batu sembunyi tangan seperti ini dan yang lebih menguntungkan lagi…. biaya langganan internet per bulan menjadi jauh lebih murah! Jikalau First Media masih bermain lempar batu sembunyi tangan, saya masih lumrah karena posisi mereka “di atas”. Namun, jika fihak Centrin “yang berada di bawah” masih bermain lempar batu sembunyi tangan inilah yang menurut saya sangat aneh dan bodoh! Sudah pelanggan membayar lebih mahal jika berlangganan lewat Centrin daripada langsung lewat First Media, pelanggan juga tidak mendapatkan pelayanan yang lebih baik !! Saya inginnya, fihak Centrin bekerjasama dengan fihak First Media, dalam kasus saya ini, mungkin Centrin bisa membantu menghubungi First Media dan menanyakan kenapa koneksi internet saya bermasalah.

Ya sudah deh, saya memberikan kesempatan sekali lagi kepada Centrin. Toh sebenarnya secara keseluruhan koneksi internet Centrin cukup memuaskan apalagi dibandingkan 6 tahun yang lalu. Namun, saya berketetapan hati bila saya mengalami lagi hal seperti ini sekali lagi saya tidak ragu-ragu lagi untuk berpindah ke First Media. Jikalau Centrin meremehkan pelanggannya, sayapun bisa untuk tidak membutuhkan lagi pelayanan Centrin. Mudah-mudahan mereka yang di Centrin dapat membaca postingan ini…….