Lempar Batu Sembunyi Tangan………

Artikel ini masih ada hubungannya dengan televisi, walaupun temanya berbeda sama sekali dari artikel saya sebelumnya. Artikel ini lahir dari “kekesalan” saya ketika liburan Idul Fitri di Jakarta setelah berlebaran yang lalu, tepatnya ketika saya berselancar di Internet (apalagi kalau bukan untuk blogwalking dan ngeblog!).

Di Jakarta, saya menggunakan/berlangganan TV kabel (First Media) beserta Internet Provider-nya dari Centrin. Lho, kenapa pakai Internet Provider fihak ketiga?? Bukannya sekarang First Media juga bertindak sebagai penyedia IP sekaligus? Jadinya lebih murah kan jatuhnya? Memang betul…… memakai IP yang bukan pemilik jaringan fisik jatuhnya memang lebih mahal, mungkin itu karena IP fihak ketiga harus menyewa jaringan dari si pemilik jaringan dalam kasus ini, First Media tentu saja. Setiap bulan saya harus merogoh kantong yang udah nggak ada isinya lagi ini Rp. 500.000,- perbulan tidak termasuk PPn. Bandingkan jika kita memilih provider First Media langsung kita hanya keluar kocek Rp. 99.000,- perbulan (belum PPN) dengan speed yang sama dan sama-sama pemakaian unlimited.

Ceritanya panjang, saya berlangganan Centrin Cable Broadband, karena waktu itu di tahun 2002 (saya ingat sekali, saya pertama kali berlangganan Cable Broadband di tanah air ini ketika akan berlangsungnya piala dunia 2002 di Jepang-Korea waktu itu) First Media, yang waktu itu masih bernama Kabelvision belum merangkap menjadi Internet Provider. Untuk itu pelanggan yang mau merasakan pseudo Broadband di tanah air ini, harus berlangganan TV kabelnya dulu, lalu berlangganan Internet dari IP fihak ketiga. Dan pilihanku waktu itu jatuh pada Centrin, entah kenapa. Zaman jahiliyah waktu itu, belum ada pilihanΒ  personal broadband yang lain kecuali pakai jaringan Kabelvision. Speedy dari Telkom yang kini populer itu, boro-boro udah lahir! Itupun baru sebatas Jakarta saja. Belum lagi, saya harus beli modem Motorola Surfboard SB4100 (seperti gambar di atas) yang waktu itu harganya, amit-amit, mencapai 4 jutaan rupiah. Saya kheki banget sewaktu ditelepon salesman First Media yang sekarang menawarkan cable modem dengan harga Rp. 450.000,- malah bisa gratis jikalau persediaan masih ada ditambah persyaratan tertentu.

Waktu itu sebenarnya saya sudah berlangganan TV berbayar Indovision yang memakai parabola digital itu. Demi ingin menikmati Internet broadband, terpaksa “kerja sama” dengan operator TV berbayarΒ  parabola tersebut yang sudah lama kita jalani, sejak pertengahan tahun 1990an, bahkan sejak Indovision masih bisa ditangkap dengan parabola analog yang masih sebesar-besar dinosaurus ukurannya itu, harus diputus karena saya tidak kuat untuk ‘berpoligami’ dengan dua buah TV berbayar.

Pertama kali saya menggunakan cable broadband waktu itu bukanlah masa-masa yang teramat indah. Selain jaringan kabelvision yang waktu itu sering down, kecepatan download-nya waktu itu, masya Allah, jarang sekali menembus 5 kb/detik. Bahkan tak jarang waktu itu kecepatan download kurang dari 1 kb/detik. Catat: kurang dari 1 kb/detik !! Kalau begitu apa bedanya dengan saya berlangganan dial-up ??? Yah…. waktu itu saya hanya bisa menikmati “unlimited”-nya saja dari cable broadband macam ini, karena jikalau saya memakai dial-up, tagihan teleponnya bisa 3 kali lebih mahal dari tagihan broadband. Lagian waktu itu biaya langganan broadband-nya masih ‘murah’, masih Rp. 350.000,- per bulan (tidak termasuk PPn).

Namun, yang membuat saya sedih adalah ketika jaringan tengah mengalami down. Jikalau saya menelepon Centrin, mereka menuduh jaringan kabelvision yang bermasalah, sebaliknya ketika saya menelepon kabelvision, justru balik mencurigai ketidakberesan ada di fihak Centrin sebagai IP. Pendek kata, mereka selalu mengpingpong saya jikalau ada masalah koneksi seolah-olah mereka ingin saling lempar batu sembunyi tangan.

Kini, enam tahun telah berlalu, kabelvision kini menjadi First Media. Jaringan yang disediakan First Media sebenarnya kini telah jauh membaik, dan juga layanan Internet dari Centrin cukup memuaskan saya. Namun pada liburan lebaran yang lalu, tiba-tiba sekali, saya mengalami kejadian yang sering saya alami 6 tahun yang lalu ketika masih pertama kali berlangganan cable broadband: koneksi internet putus sama sekali dan dalam waktu yang cukup lama. Karena pegal menunggu koneksi kembali normal, saya menelepon Centrin. Saya sangat terkejut, ternyata di tengah kompetisi yang demikian ketat ini, Centrin masih mencoba untuk bermain lempar batu sembunyi tangan. Ketika dicek (lewat petunjuk sang teknisi via telepon) ternyata menurut sang teknisi koneksi saya normal, saya disuruh komplain ke First Media sebagai penyedia jaringan. Dengan sabar, saya menelepon First Media, dan mengatakan bahwa jaringan normal dan saya dianjurkan untuk komplain ke Centrin kembali !! Setelah kembali menelepon Centrin, mereka masih keukeuh beranggapan bahwa aliran data dari server mereka normal dan mereka beranggapan bahwa jaringan First Medialah yang bermasalah.

Akhirnya saya sempat “mengancam”, saya akan berpindah total ke First Media, jikalau Centrin tetap bermain lempar batu sembunyi tangan……. Jikalau saya berpindah total ke First Media minimal tidak ada lagi kasus lempar batu sembunyi tangan seperti ini dan yang lebih menguntungkan lagi…. biaya langganan internet per bulan menjadi jauh lebih murah! Jikalau First Media masih bermain lempar batu sembunyi tangan, saya masih lumrah karena posisi mereka “di atas”. Namun, jika fihak Centrin “yang berada di bawah” masih bermain lempar batu sembunyi tangan inilah yang menurut saya sangat aneh dan bodoh! Sudah pelanggan membayar lebih mahal jika berlangganan lewat Centrin daripada langsung lewat First Media, pelanggan juga tidak mendapatkan pelayanan yang lebih baik !! Saya inginnya, fihak Centrin bekerjasama dengan fihak First Media, dalam kasus saya ini, mungkin Centrin bisa membantu menghubungi First Media dan menanyakan kenapa koneksi internet saya bermasalah.

Ya sudah deh, saya memberikan kesempatan sekali lagi kepada Centrin. Toh sebenarnya secara keseluruhan koneksi internet Centrin cukup memuaskan apalagi dibandingkan 6 tahun yang lalu. Namun, saya berketetapan hati bila saya mengalami lagi hal seperti ini sekali lagi saya tidak ragu-ragu lagi untuk berpindah ke First Media. Jikalau Centrin meremehkan pelanggannya, sayapun bisa untuk tidak membutuhkan lagi pelayanan Centrin. Mudah-mudahan mereka yang di Centrin dapat membaca postingan ini…….

Iklan

18 responses to “Lempar Batu Sembunyi Tangan………

  1. saya juga pernah kesal saat langganan TV berbayar
    awalnya disebut bayarannya tetap 200 rb per bulan
    tetapi faktanya tagihannya tak menentu setiap bulan
    bisa 250 rb, 300 rb, bahkan 400 rb
    untung sekarang sdh tutup……
    tp tanpa TV berbayar
    agak pusing jg skrng, krn tak bs
    menonton pertandingn Liga Inggris, Perancis Terbuka, dll
    memang ada tayangan Liga Inggris di TV swasta kita
    tp pertandingan yg ditayangkan tak prnh bigmatch
    dan kebanyakan ulangan

  2. lagi-lagi masalah service yang kurang memuaskan… rasanya kalo di Indo hal itu belum tabu deh mas.. πŸ˜€

  3. Maunya jadi pelanggan loyal kok malah dibegituin ya Pak πŸ˜€ Saya juga pake First Media untuk TV kabel, dulu dibujuk2 sama sales-nya untuk pindah dari Indosat M2 ke FastNet mereka sendiri karena lebih murah (dan katanya lebih kenceng)… setelah saya pindah, ya boleh dibilang internet dan pelayanannya lebih memuaskan sih. Semoga bisa jadi masukan…

  4. Pak, artikel komplain ini kirim dong ke centrin…. πŸ˜€

  5. pak kirim aja URL postingan ini ke email bos nya centrin

  6. Sebenarnya jika complain ditangani dengan baik, consumen seperti kita tuh ga neko-neko kok. Misalkan mereka bertindak dan setidaknya meminta waktu untuk memperbaiki pastilah kita akan terima walau sedikit jengkel karena aktivitas terganggu. Tapi kalau dijadikan bola ping-pong dan mereka tidak bertanggung jawab memang bikin kesel banget. Semoga semunya lancar mas Yari kalau toh tidak lebih baik ganti saja ke provider yang lebih besar, lebih baik dan pelayanannya memuaskan. thanks

  7. entah kenapa sampai saat ini saya masih setia sama speedy, padahal modem dari speedy dah ada dua dirumah πŸ™‚ dulu waktu sering mati, saya berhenti berlangganan, terus ada promo saya ikut lagi… alhmadulillah sampai saat ini masih belum menemui masalah yang cukup berarti ( lagi ) hehehehehehe

  8. @mikekono

    Huehehe…. bang mike pasti milihnya yang merk ‘A’ yang produk Malaysia itu kan? Lah… produk Malaysia kok dipercaya bang?? Wong… masih bagus yang merk2 Indonesia loh…. Di Malaysia si ‘A’ benar2 monopoli. Di Indonesia, dia harus bersaing ketat dengan merk2 lain dari dalam negeri yang jauh lebih tangguh. Karena itu MUNGKIN ekspektasi keuntungannya tidak seheboh yang diduga oleh si A dan PT DV. Akibatnya katanya PT DV gagal membayar royalti yang dijanjikan kepada A.

    Lewat ‘A’ channel2 filmnya hanya baru HBO dan Cinemax aja. Jikalau pakai satelit2 dalam negeri film2nya ada HBO, HBO Signature, HBO Family, HBO Hits dan Cinemax. Lain kali jangan percaya produk negeri tetangga bang, percayalah produk dalam negeri…… :mrgreen:

    @inos

    Mudah2an mas inos sebagai wiraswastawan (apalagi kalau dalam bidang jasa) tidak melalaikan keluhan pelanggan ya. Karena pelanggan itu adalah raja. Btw, kalau menurut saya, semua produk adalah produk jasa loh. Coba saja, misalnya sabun, sabun kan berJASA membersihkan badan kita. Atau DVD-Player, ia juga berJASA memberikan hiburan kepada kita. Jadi semua bisnis sebenarnya adalah memproduksi jasa. Kalau sebuah produk tidak ada jasanya, tentu produk tersebut tidak akan dibeli bahkan mungkin tidak akan diproduksi. Begitu kan mas? Huehehe…. :mrgreen:

    @Catshade

    Ok deh… terims ya buat masukannya…. sungguh bisa dijadikan input. πŸ™‚

    @mathematicse

    Artikel ini sengaja saya tidak kirimkan langsung ke Centrin karena beberapa hal:

    Pertama Nggak tahu alamat email customer service Centrin dan saya ogah mencarinya :mrgreen:

    Kedua Saya tidak perlu perhatian dari Centrin, karena seperti yang saya sebutkan di atas, ini menandakan saya bisa saja tidak membutuhkan pelayanan Centrin lagi. Justru saya butuh perhatian ketika saya mengalami kesulitan, seperti yang terjadi waktu itu. Bukannya sekarang. Seharusnya Centrin yang memperhatikan keluhan pelanggan bukan kebalikannya saya justru “mengiba-iba” minta perhatian dari Centrin sampai khusus menulis surat segala. :mrgreen:

    Ketiga Artikel ini bukan dalam bentuk surat complain, karena juga berisi hal2 yang kurang relevan untuk surat complain, seperti sejarah saya mengapa menggunakan Centrin dan kabelvision. Sementara itu saya juga malas mengeditnya lagi :mrgreen:

    Keempat Saya justru berharap kejadian di atas berulang kembali agar membulatkan hati saya untuk pindah ke IP First Media yang lebih murah dengan servis yang sama bagusnya! Wakakakak…… πŸ˜†

    Nah, begitulah kang Jupri alasan2 kenapa saya tidak mau mengirimkan langsung artikel ini ke Centrin. πŸ˜€

    @adipati kademangan

    Jawabannya sama dengan jawaban untuk mathematicse di atas. O ya, saya sih sebenarnya orangnya ‘setia’ loh…. **halaah**. Sebenarnya saya sih nggak apa2 lebih mahal selama saya mampu membayar JIKA pelayanannyapun jauh lebih prima dan lebih memuaskan. Namun ini? Sudah pelayanannya sama…. eh… bayarannya lebih mahal…. bagaimana mau pelanggan betah? πŸ˜€

    @yulism

    Betul mbak…. keselnya minta ampun. Kok seolah2 mereka nggak sadar ya… bahwa gaji mereka berasal dari uang para pelanggan mereka. Begitu dangkalnya kesadaran mereka akan pemuasan hati konsumen. Btw, kalau saya memang sudah siap pindah jikalau hal tersebut sampai terulang kembali. πŸ™‚

    @parvian

    Wah…. pertama2 saya juga banyak komplain sama speedy. Malah operator 147 tempat komplain speedy udah kenyang saya bentak2. Habis jawabannya ngasal aja. Moso dari telepon teknisinya dengan entengnya berkata mungkin kesalahan ada pada modemnya. Eh…. pas teknisinya datang dengan modemnya dia, ternyata nggak jalan juga!! Untung aku belum beli modem baru. Huehehe….. πŸ˜€

  9. pake HSDPA kata teman saya jatohnya juga murah. tapi gak tahu juga murahnya seberapa. mongsok nunggu IP asing masuk dulu nih… baru kebakaran janggut trus kalang kabut.. *halah*

  10. Tapi kalau mau pindah ke First Media sekarang susahnya juga minta ampun Pak! Kami sudah berkali-kali dijanjikan akan dikunjungi utk survey sebelum pemasangan, tapi mereka tak kunjug datang. Mungkin ini efek berhentinya Astro sehingga banyak yang pesan First Media.

  11. Weleh… Bisa begitu ya? Saya juga sempat pakai Centrin dulu, waktu zaman sebelum pakai First Media ini tapi. Sekarang mah udah pakai First Media for both. Ga enaknya cuma kurang portable aja. Selebihnya, wuehehehe… :mrgreen:

  12. centrin ?? saya kok malah belom pernah denger yah *gubrak*

  13. Dulu rasanya pernah nulis tentang lempar batu sembunyi tangan… saya bisa merasakan kekesalan mas Yari. Kalau ingin, hal ini bisa disampaikan ke YLKI.

  14. @sitijenang

    Indosat HSDPA ada yang Rp. 100.000,- per bulan unlimited tetapi speed-nya paling cepat cuma 128 kbps. Kalau yang tidak perlu sering putar video YouTube atau download video sih udah lumayan tuh.

    @coretanpinggir

    Denger-denger sih begitu. Tetapi kenapa salesman First Media masih nawar-nawarin ya?? Atau mungkin pasang yang di atas 384 kbps, mungkin lebih cepat dipasangnya walaupun lebih mahal…..

    @Alias

    Ya… kalau mau mobile pakai HSDPA dong……. :mrgreen:

    @mantan kyai

    Mungkin lebih baik jika anda belum pernah dengar…. **gubrak lagi** :mrgreen:

    @agoyyoga

    Aah… lapor YLKI capai2in aja mbak. Biarin deh, toh saya sebenarnya nggak butuh2 Centrin amat sih sebenarnya… huehehe….. πŸ˜€

  15. Pindah langsung First Media aja pak, supaya tidak ribet urusan komplainnya. Koneksinya juga bagus.

    _________________________

    Yari NK replies:

    Iya pak….. tapi saya beri satu kesempatan lagi bagi Centrin. Jikalau mereka melakukan kesalahan serupa sekali lagi, saya 200% tidak akan ragu-ragu untuk pindah ke First Media. πŸ™‚

  16. untung dikantor masih baik kasih koneksi free πŸ˜€

    __________________________

    Yari NK replies:

    Ini kan buat di rumah. Di kantor saya juga ada yang free. Bahkan warnet yang ‘numpang’ dengan kantor saya seringkali segan untuk menarik bayaran dari saya dan orang2 dari kantor saya lainnya. Jadi nggak enak…. :mrgreen:

  17. wahhhh kok bisa gitu enggak sayang pelanggan tuh
    pindah kelain hati aja mas

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Biarin aja…. saya juga sebenarnya nggak butuh2 amat sih ‘kasih sayang’ mereka…. Huehehe…. :mrgreen:

  18. Kepuasan pelanggan semestinya di atas segalnya. Lha gimana, mereka hidup dari pelanggan toh?

    Pada Pak Yari tetap ada hak penuh untuk memilih dan memutuskan.

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Betul sekali….. ini umpamanya perusahaan yang udah kalah bersaing tetapi masih “sok-sokan” seolah2 tidak memerlukan pelanggan. Sungguh hal tersebut merupakan sebuah kenaifan… 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s