Daily Archives: Minggu, 9 November 2008

“Video Killed The Radio Star”

oldradioJudul artikel di atas adalah judul sebuah lagu lama yang dinyanyikan oleh sebuah grup band New Wave asal Britania Raya Buggles di akhir tahun 1970an yang pada lagu tersebut diceritakan mengenai seorang penyanyi yang populer di radio namun karirnya terhenti dengan munculnya televisi sebagai pesaing radio. Sebuah lagu lain, “Voice of America”, lagu Rock yang dibawakan oleh grup “Asia” yang menurut saya lagunya bagus itu kira-kira juga menceritakan kejadian serupa, yaitu nasib yang menimpa media hiburan yang bernama radio. Lagu lain lagi, “It’s Yesterday Once More” dari Carpenter yang syahdu dan indah itu hampir setali tiga uang dengan kedua judul lagu di atas.

Ada apa gerangan? Apakah saya ingin menceritakan tentang nasib media hiburan radio? Sebenarnya bukan begitu. Masih ingatkah anda lebaran yang lalu? Penjualan kartu lebaran menurun drastis karena kini orang lebih senang berkirim ucapan lebaran via SMS, MMS atau kartu lebaran elektronik via e-mail. Pernahkah anda di tahun 1990an mempunyai sebuah pager atau penyeranta? Masih adakah operator penyeranta di negeri ini sekarang? Sewaktu ponsel masih merupakan barang mewah di negeri ini, penyeranta pernah menjadi prima dona di negeri ini karena sewaktu sistem ponsel kita masih analog yaitu menggunakan sistem AMPS dan NMT (belum ada GSM), harga ponsel yang primitif itu harganya bisa mencapai belasan juta rupiah dan belum bisa berkirim SMS. Ketika sekitar tahun 1994, GSM mulai muncul di tanah air yang mulai bisa berkirim SMS, penyedia jasa penyeranta mulai ketar-ketir namun mereka masih bisa bertahan karena SMS baru bisa dikirim hanya dengan sesama operator dan hanya bisa dilakukan oleh kartu pascabayar. Ditambah lagi sinyal GSM yang kualitasnya masih “aduhai” waktu itu yang kualitas sinyalnya asli GSM alias Goyang Sedikit Mati. Namun ketika para operator GSM membuka interkoneksi jalur SMS-nya ditambah menjamurnya produk-produk kartu prabayar masih ditambah dengan menurunnya harga perangkat ponsel tidak ada lagi yang bisa dipertahankan oleh para operator jasa penyeranta itu untuk menyerang operator2 ponsel GSM. Jangankan menyerang, bertahan saja sudah tidak mampu.

Ya, ini adalah cerita tentang produk-produk yang sudah mengalami siklus menurun karena tergusur oleh produk-produk yang lain dengan teknologi yang lebih  baru. Beberapa di antara produk tersebut tidak bisa bertahan di sebuah pasar, namun beberapa produk lainnya bisa bertahan di tengah gempuran produk baru tersebut. Radio misalnya, termasuk yang mampu bertahan hingga kini. Pernahkah anda berfikir, apa yang harus anda lakukan jika anda mempunyai pabrik yang memproduksi barang-barang yang kini mulai tersaingi oleh produk lain? Mungkin anda banyak yang mengatakan “inovasi” yang mungkin bisa menyelamatkan produk anda atau minimal memperpanjang siklus hidup produk anda. Yang paling gampang anda menutup pabrik anda, menjual asetnya, lantas buat pabrik baru dengan memproduksi produk pesaing baru tersebut. Namun, apakah inovasi selalu membantu? Memang terkadang inovasi sangat membantu namun sayangnya inovasi tersebut bukan milik anda saja. Produk baru pesaing, dengan teknologi baru, tentu juga akan terus mengadakan inovasi-inovasi juga, bahkan mungkin lompatan inovasinya lebih jauh lagi.

Ya sudah, karena saya bukan ahli manajemen strategis dan bukan ahli dalam product life cycle management maka tulisan ini buat direnungkan dan didiskusikan saja. Pertanyaannya adalah: apakah inovasi teknologi hanya bisa dilawan dengan inovasi teknologi juga? Apakah inovasi di bidang manajerial tidak pernah mampu menyaingi inovasi teknologi? Bagaimana dengan jasa penyiaran radio? Kenapa masih bisa survive sampai sekarang? Apakah karena faktor-faktor demografis? Atau apakah kebutuhan akan hiburan radio tidak benar-benar overlapping dengan kebutuhan akan hiburan televisi? Orang bilang jikalau menyetel radio bisa sambil lalu, tetapi tidak bisa jikalau menyetel televisi, nontonnya harus fokus. Ah siapa bilang? Nonton televisi juga bisa sambil lalu kok, apalagi kalau channelnya channel musik bangsanya MTV atau lainnya. Tinggal disetel TV-nya terus kita bisa tinggal pergi ke ruangan lain sambil mendengarkan musiknya saja. Apalagi TV sekarang jikalau disambung dengan sound system yang ‘wah’, suara stereonya bisa menyaingi keindahan suara radio yang termahalpun.

Bisnis dan selera konsumen memang terkadang sulit diprediksikan. Namun satu hal yang pasti walaupun dalam kasus radio ini video only killed the radio star but never really killed the radio itself tetapi tetap saja radio hampir tidak mungkin menemukan masa keemasannya kembali di dunia hiburan seperti dahulu kala……..