Daily Archives: Minggu, 30 November 2008

Dari Tasbeh Alami Hingga Tasbeh Elektronik…

Bagi anda umat Islam terutama yang taat dan yang nggak abangan tentu setidak-tidaknya pernah melakukan zikir yaitu mengingat Allah sambil menyebut dan memuji namaNya. Zikir dalam Islam ada banyak macamnya, namun yang saya maksudkan di sini adalah zikir yang paling umum yaitu zikir yang sehabis shalat fardhu 5 waktu yang menyebut kalimat tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah) dan juga takbir (Allahu Akbar). Namun di sini saya tidak akan membahas masalah zikir ini, karena saya bukan orang yang ahli agama, namun saya akan sedikit membahas mengenai alat bantu zikir yaitu ‘tasbeh’ atau ‘tasbih’ yang sering kita jumpai sehari-hari. Ingat, tasbeh ini hanyalah alat bantu saja, terutama alat bantu menghitung kalimat-kalimat tasbih, tahmid dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali, tidak lebih dan tidak kurang. Sebagai alat bantu, tentu tasbeh ini tidak boleh mengurangi fokus kita kepada Allah swt dan namaNya. Nah, saya pribadi telah mencoba menggunakan beberapa macam tasbeh dari tasbeh alami hingga tasbeh digital. Inilah apa yang saya rasakan secara pribadi ketika saya melakukan zikir dengan berbagai macam tasbeh tersebut:

TASBEH ALAMI:

fingersInilah yang saya sebutkan sebagai tasbeh alami, yaitu jari-jari kita sendiri !! :mrgreen: Sebenarnya tasbeh alami ini merupakan tasbeh yang paling praktis dan selalu dibawa kemana-mana! Sebagai bagian integral dari tubuh kita sebenarnya saya merasakan menggunakan tasbeh alami ini adalah yang paling nyaman! Namun ada juga kelemahan dari tasbeh alami ini, walaupun menurut pengalaman saya pribadi termasuk jarang terjadi. Apakah kelemahannya? Karena jari-jari kita terbatas hanya 10 digit maka jikalau sampai pada hitungan ke-11 saya pribadi biasanya kembali lagi menunjuk 1 jari, sama seperti ketika kita pada awal hitungan ke-1. Begitu pula pada hitungan ke-21 kembali lagi jari menunjukkan angka 1 dan seterusnya.

Nah, kelemahannya adalah terkadang saya sedikit lupa, (mungkin karena sangking khusyuknya atau bisa jadi sangking nggak khusyuknya :mrgreen: karena fikiran melayang ke mana-mana) hitungannya tadi 21 atau 11 ya?? Atau ini hitungan ke-31 atau ke-21 ya??  Namun untung saja hal ini termasuk jarang terjadi dan secara umum tasbeh alamiah kita ini termasuk yang paling nyaman dipakai sebagai alat bantu zikir, menurut saya.

TASBEH TRADISIONAL:

tasbihInilah tasbih tradisional. Bentuknya mirip rosario Katolik Roma ataupun mirip Japa mala Hindu. Ah, nggak penting bentuknya mirip apa. Selama ia dapat membantu kita untuk berzikir lebih baik, ya why not? Jumlah manik-manik tasbih ini ada yang 33 ada yang 99. Tidak usah diajarkan lagi bagaimana cara menggunakan tasbeh ini karena mudah saja, setiap satu manik-manik menghitung satu kalimat tasbih/tahmid/takbir.

Namun, saya merasakan justru memakai tasbeh tradisional ini paling mengganggu konsentrasi. Kenapa? Terkadang pergeseran manik-manik terasa seret atau keras dan tentu manik-manik harus terus dipelototin untuk menjaga bahwa manik-manik belum melewati tanda ’33’ yang biasanya berupa manik-manik yang agak besar. Tentu saja dengan memelototin manik-manik yang dimainkan jari-jari kita ini akan mengurangi kekhusyukan kita dalam berzikir.  Namun mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa dengan jenis tasbeh tradisional ini sepertinya enak-enak saja deh, sambil memejamkan mata juga bisa, hanya mengandalkan indra perasanya saja dan dapat merasakan kapan ia harus berhenti ketika ia menyentuh manik-manik tanda ’33’. Kalau saya pribadi, hmm rasanya kurang nyaman dan sangat mengganggu kekhusyukan.

TASBEH DIGITAL MEKANIKAL:

tasbih_mekanikalInilah tasbeh mekanikal digital, yang sudah banyak dipakai sejak tahun 1970an (atau bahkan lebih awal lagi mungkin). Tasbeh ini sebenarnya tidak lain adalah handy-counter yang sering dipakai para satpam ketika menghitung jumlah pengunjung di suatu tempat (seperti di mal misalnya). :mrgreen: Tetapi tentu sah-sah saja dong jikalau handy-counter ini dijadikan tasbeh digital untuk membantu menghitung kalimat-kalimat tasbih/tahmid/takbir yang kita ucapkan ketika kita berzikir.

Menurut saya pribadi, sebenarnya menggunakan handy-counter ini sebagai tasbeh atau alat bantu zikir cukup nyaman. Hanya saja, sayangnya, fokus kita dalam berzikir juga sedikit berkurang karena kita juga harus memelototin angka-angka di counter tersebut agar hitungannya tidak lebih dari kelipatan 33. Selain itu, terutama pada counter mekanikal yang agak kuno, suara ketika kita menekan tuas penghitung terdengar agak keras sehingga kekhusyukan dalam berzikir juga bisa berkurang. 😀

TASBEH DIGITAL ELEKTRONIK:

digital_countertasbeh_javaNah, tasbeh digital elektronik ini terbagi dua, yaitu pertama yang seperti di gambar kiri. Sebenarnya tasbeh digital elektronik macam yang pertama ini tidak ada bedanya dengan tasbeh digital mekanikal seperti di atas, karena kedua-duanya sebenarnya adalah handy-counter. Hanya saja yang satu mekanikal yang satu elektronik. Itu saja bedanya. ‘Kelebihan’ dan juga ‘kekurangan’ tasbeh digital elektronik seperti ini sama juga dengan apa yang ada di tasbih digital mekanikal seperti di atas.

Tasbih elektronik yang kedua adalah, sebuah program MIDlet yang dapat anda instal sendiri di ponsel Java anda. Biasanya ponsel keluaran kini sudah ada fasilitas Java-nya terutama untuk merk-merk yang ternama. Program tasbeh yang saya contohkan ini bernama DigitalTesbih v2.5 buatan Turki yang dapat di-download bebas alias freeware. Tasbeh MIDlet ini sebenarnya sangat nyaman, karena kita tidak perlu memelototin layar ponsel kita. Karena pada MIDlet ini, kita bisa menyetel setelah hitungan ke-33, ponsel dapat bergetar dan berbunyi sebentar dengan lembut. Hal ini dapat menjaga kekhusyukan kita dalam zikir. Namun ada satu kelemahan sedikit, sayang setelah ponsel bergetar kita harus menekan tombol ‘OK’ agar hitungan kembali ke-0. Coba kalau dibuat otomatis kembali ke-0 sendiri tanpa harus menekan tombol ‘OK’, wah pasti kekhusyukan kita sangat terjaga.

Nah, sekarang bagaimana menurut saya ranking preferensi alat-alat bantu tersebut menurut saya pribadi? Kalau menurut saya ranking tersebut adalah sebagai berikut (mulai dari yang paling nyaman hingga yang paling tidak nyaman):

  • Tasbeh Alami
  • Tasbeh MIDlet
  • Tasbeh Digital Mekanikal/Elektronik (yang berupa counter)
  • Tasbeh Tradisional

Jadi menurut saya, tasbeh alami alias jari2 kita tetap yang paling nyaman. Selain itu karena tasbeh alami ini senantiasa kita bawa selalu tanpa pernah ketinggalan…. :mrgreen: Tetapi menurut saya, apapun alat bantunya yang penting adalah kekhusyukan kita (dan tentu juga keikhlasan kita) dalam berzikir. Bukankah begitu? 😀

Sebelum mengakhiri artikel ini saya mau bertanya: Memakai tasbeh itu, terutama tasbeh yang digital mekanikal dan yang elektronik itu bid’ah nggak ya? :mrgreen: