Dari Tasbeh Alami Hingga Tasbeh Elektronik…

Bagi anda umat Islam terutama yang taat dan yang nggak abangan tentu setidak-tidaknya pernah melakukan zikir yaitu mengingat Allah sambil menyebut dan memuji namaNya. Zikir dalam Islam ada banyak macamnya, namun yang saya maksudkan di sini adalah zikir yang paling umum yaitu zikir yang sehabis shalat fardhu 5 waktu yang menyebut kalimat tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah) dan juga takbir (Allahu Akbar). Namun di sini saya tidak akan membahas masalah zikir ini, karena saya bukan orang yang ahli agama, namun saya akan sedikit membahas mengenai alat bantu zikir yaitu ‘tasbeh’ atau ‘tasbih’ yang sering kita jumpai sehari-hari. Ingat, tasbeh ini hanyalah alat bantu saja, terutama alat bantu menghitung kalimat-kalimat tasbih, tahmid dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali, tidak lebih dan tidak kurang. Sebagai alat bantu, tentu tasbeh ini tidak boleh mengurangi fokus kita kepada Allah swt dan namaNya. Nah, saya pribadi telah mencoba menggunakan beberapa macam tasbeh dari tasbeh alami hingga tasbeh digital. Inilah apa yang saya rasakan secara pribadi ketika saya melakukan zikir dengan berbagai macam tasbeh tersebut:

TASBEH ALAMI:

fingersInilah yang saya sebutkan sebagai tasbeh alami, yaitu jari-jari kita sendiri !!:mrgreen: Sebenarnya tasbeh alami ini merupakan tasbeh yang paling praktis dan selalu dibawa kemana-mana! Sebagai bagian integral dari tubuh kita sebenarnya saya merasakan menggunakan tasbeh alami ini adalah yang paling nyaman! Namun ada juga kelemahan dari tasbeh alami ini, walaupun menurut pengalaman saya pribadi termasuk jarang terjadi. Apakah kelemahannya? Karena jari-jari kita terbatas hanya 10 digit maka jikalau sampai pada hitungan ke-11 saya pribadi biasanya kembali lagi menunjuk 1 jari, sama seperti ketika kita pada awal hitungan ke-1. Begitu pula pada hitungan ke-21 kembali lagi jari menunjukkan angka 1 dan seterusnya.

Nah, kelemahannya adalah terkadang saya sedikit lupa, (mungkin karena sangking khusyuknya atau bisa jadi sangking nggak khusyuknya:mrgreen: karena fikiran melayang ke mana-mana) hitungannya tadi 21 atau 11 ya?? Atau ini hitungan ke-31 atau ke-21 ya??ย  Namun untung saja hal ini termasuk jarang terjadi dan secara umum tasbeh alamiah kita ini termasuk yang paling nyaman dipakai sebagai alat bantu zikir, menurut saya.

TASBEH TRADISIONAL:

tasbihInilah tasbih tradisional. Bentuknya mirip rosario Katolik Roma ataupun mirip Japa mala Hindu. Ah, nggak penting bentuknya mirip apa. Selama ia dapat membantu kita untuk berzikir lebih baik, ya why not? Jumlah manik-manik tasbih ini ada yang 33 ada yang 99. Tidak usah diajarkan lagi bagaimana cara menggunakan tasbeh ini karena mudah saja, setiap satu manik-manik menghitung satu kalimat tasbih/tahmid/takbir.

Namun, saya merasakan justru memakai tasbeh tradisional ini paling mengganggu konsentrasi. Kenapa? Terkadang pergeseran manik-manik terasa seret atau keras dan tentu manik-manik harus terus dipelototin untuk menjaga bahwa manik-manik belum melewati tanda ’33’ yang biasanya berupa manik-manik yang agak besar. Tentu saja dengan memelototin manik-manik yang dimainkan jari-jari kita ini akan mengurangi kekhusyukan kita dalam berzikir.ย  Namun mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa dengan jenis tasbeh tradisional ini sepertinya enak-enak saja deh, sambil memejamkan mata juga bisa, hanya mengandalkan indra perasanya saja dan dapat merasakan kapan ia harus berhenti ketika ia menyentuh manik-manik tanda ’33’. Kalau saya pribadi, hmm rasanya kurang nyaman dan sangat mengganggu kekhusyukan.

TASBEH DIGITAL MEKANIKAL:

tasbih_mekanikalInilah tasbeh mekanikal digital, yang sudah banyak dipakai sejak tahun 1970an (atau bahkan lebih awal lagi mungkin). Tasbeh ini sebenarnya tidak lain adalah handy-counter yang sering dipakai para satpam ketika menghitung jumlah pengunjung di suatu tempat (seperti di mal misalnya).:mrgreen: Tetapi tentu sah-sah saja dong jikalau handy-counter ini dijadikan tasbeh digital untuk membantu menghitung kalimat-kalimat tasbih/tahmid/takbir yang kita ucapkan ketika kita berzikir.

Menurut saya pribadi, sebenarnya menggunakan handy-counter ini sebagai tasbeh atau alat bantu zikir cukup nyaman. Hanya saja, sayangnya, fokus kita dalam berzikir juga sedikit berkurang karena kita juga harus memelototin angka-angka di counter tersebut agar hitungannya tidak lebih dari kelipatan 33. Selain itu, terutama pada counter mekanikal yang agak kuno, suara ketika kita menekan tuas penghitung terdengar agak keras sehingga kekhusyukan dalam berzikir juga bisa berkurang.๐Ÿ˜€

TASBEH DIGITAL ELEKTRONIK:

digital_countertasbeh_javaNah, tasbeh digital elektronik ini terbagi dua, yaitu pertama yang seperti di gambar kiri. Sebenarnya tasbeh digital elektronik macam yang pertama ini tidak ada bedanya dengan tasbeh digital mekanikal seperti di atas, karena kedua-duanya sebenarnya adalah handy-counter. Hanya saja yang satu mekanikal yang satu elektronik. Itu saja bedanya. ‘Kelebihan’ dan juga ‘kekurangan’ tasbeh digital elektronik seperti ini sama juga dengan apa yang ada di tasbih digital mekanikal seperti di atas.

Tasbih elektronik yang kedua adalah, sebuah program MIDlet yang dapat anda instal sendiri di ponsel Java anda. Biasanya ponsel keluaran kini sudah ada fasilitas Java-nya terutama untuk merk-merk yang ternama. Program tasbeh yang saya contohkan ini bernama DigitalTesbih v2.5 buatan Turki yang dapat di-download bebas alias freeware. Tasbeh MIDlet ini sebenarnya sangat nyaman, karena kita tidak perlu memelototin layar ponsel kita. Karena pada MIDlet ini, kita bisa menyetel setelah hitungan ke-33, ponsel dapat bergetar dan berbunyi sebentar dengan lembut. Hal ini dapat menjaga kekhusyukan kita dalam zikir. Namun ada satu kelemahan sedikit, sayang setelah ponsel bergetar kita harus menekan tombol ‘OK’ agar hitungan kembali ke-0. Coba kalau dibuat otomatis kembali ke-0 sendiri tanpa harus menekan tombol ‘OK’, wah pasti kekhusyukan kita sangat terjaga.

Nah, sekarang bagaimana menurut saya ranking preferensi alat-alat bantu tersebut menurut saya pribadi? Kalau menurut saya ranking tersebut adalah sebagai berikut (mulai dari yang paling nyaman hingga yang paling tidak nyaman):

  • Tasbeh Alami
  • Tasbeh MIDlet
  • Tasbeh Digital Mekanikal/Elektronik (yang berupa counter)
  • Tasbeh Tradisional

Jadi menurut saya, tasbeh alami alias jari2 kita tetap yang paling nyaman. Selain itu karena tasbeh alami ini senantiasa kita bawa selalu tanpa pernah ketinggalan….:mrgreen: Tetapi menurut saya, apapun alat bantunya yang penting adalah kekhusyukan kita (dan tentu juga keikhlasan kita) dalam berzikir. Bukankah begitu?๐Ÿ˜€

Sebelum mengakhiri artikel ini saya mau bertanya: Memakai tasbeh itu, terutama tasbeh yang digital mekanikal dan yang elektronik itu bid’ah nggak ya?:mrgreen:

31 responses to “Dari Tasbeh Alami Hingga Tasbeh Elektronik…

  1. Pak Yari Selamat Pagi,
    kalo memakai tasbeh digital mekanikal atau elektronok itu bid’ah berarti naik angkot juga bid’ah dong pak? Trus ngeblog juga bid’ah? Nah, tuh :mrgreen:

  2. Memakai tasbih, mau yang elektronik atau yang alami, menurut saya nggak bid’ah. Kalo dzikir harus 100 kali, atau 1000 kali, nah itu yang mungkin bid’ah. Berdzikir mah sebanyak-banyaknya, kalaupun dihitung pake tasbih, ya cuma sekedar untuk tahu jumlahnya. Wallahu a’lam bissawab.

  3. Sebenernya zikir sambil ngitung luar kepala bisa juga lo mas..

  4. Kalo saya pake tasbih ruas jari aja…
    Tiap telapak tangan ada 15 ruas jari. Lumayan…. buat saya yang suka lupa naro tasbih. Apalagi sekarang ada anak-anak. Dikit-dikit tasbih putus, bijinya bertebaran. Tasbih mekanik juga rusak, di cetrek-cetrek๐Ÿ™‚

  5. Saya muslim taat. Kdg abangan kdg ijoan kdg kuningan tgt yg ngasi duit plg bnyk sblm coblosan. Sy lp kpn terakir zikir *dpentung pak yari*๐Ÿ˜€

  6. Milih tasbih alami aja Pak euy. Maksih postingan sangat bermanfaat ini. Salam terima kasih.

  7. menurut yang saya pernah baca. di buku ’44 kesalahan orang shalat’ karangan Syaikh Muhammad Bayumi. yang diutamakan dan sunah Rasul dalam bertasbih adalah dengan jari jemari (tasbih alami), dan dengan mengkhususkan tangan yang kanan, berdasar perkataan Abdullah bin Amru bi Ash dan Aisyah RA .
    sabda Rasulullah :
    ‘bacalah tasbih, dan hitunglah dengan jari jemari, sebab jari jemari itu dipertanggungjawabkan dan akan bersaksi’

    ah, hanya sekedar menambahi kok bang, hehe…..

  8. Iseng banget tu orang, bikin midlet java untuk tasbeh, secara algoritma nya super simple, tapi kaga ada orang yang bikin, ide nya keren tuh pak…… tapi aneh juga nanti ada orang yang yang dzikir sambil mencet2 in hape.. hahaha

  9. wahhhh bapak saya sih sering make yang digital mas
    sering dibawah kemana2 lagi

  10. mas yariNK….saya bukan ahli agama sekaligus bukan ahli tasbeh….berikut saya kutip dari google blog.unisa81.net/2006/07/06…….,mungkin bisa memperjelas apakah tasbeh itu bid’ah atau tidak………….yang pertama, para ulama berbeda pendapat tentang bidโ€™ah tidaknya tasbih. (subhahโ€ฆbahasa arabnya). Yang mengatakan bidโ€™ah, alasannya karena tidak ada dalil yang shahih yang menjelaskan nabi berdzikir dengan subhah, atau membolehkan berdzikir dengan subhah. Yang mengatakan boleh, ada yang beralasan dengan adanya hadits: nabi membiarkan seorang shahabiyah berdzikir dengan biji2an, yang berdalil dengan ini diantaranya syaikhul islam ibn taymiyyah dalam majmuโ€™ fatawa, juga imam syaukani…….diskusi akan semakin berkembang apakah jualan tasbeh dan bertasbeh dengan gunakan tangan kiri, itu bid’ah? ….maaf bagaimana caranya bertasbeh kalau ada mereka yang tidak memiliki kedua tanggan?…..kita serahkan saja semua penjelasan itu pada para ahlinya…….atau di antara kita,para blogger, yang tahu tentang apa itu makna bid’ah……

  11. Enggak usah repot repot Pak…Pakai yang alami saja atau kepaksanya yang tradisional….lebih murah nyaman lagipula enggak nyleneh.

  12. Wah, ternyata di Islam ada kesulitan ini ya…di Katolik, selama ini yang saya tahu baik-baik saja dalam menggunakan rosario (kalau tidak ada ya pake tangan), tidak sampai butuh alternatif aneh-aneh macem counter mekanik/digital. Tapi doa rosario memang nggak ‘continuous’ sih, tiap 10 kali doa ada ‘jeda’.

    Mungkin desain tasbih perlu dibegitukan juga, misalnya setelah manik-manik ke-11 atau ke-22 ada jarak antarmanik-manik yang lebih besar buat penanda, sementara setelah manik-manik ke-33 ada manik-manik lain yang beda bentuk, ukuran, dan teksturnya.

  13. hehehehe sy juga sering menggunakan tasbeh tangan koq๐Ÿ˜€
    kadang juga berlebih bertasbehnya hehee…tapi yang penting esensinya,bukan begitu pak yari? hehehe๐Ÿ™‚

  14. @mezzalena

    Huehehe…. yeee… ini kan maksudnya bid’ah yang berkaitan dengan ritual/ibadah….:mrgreen:

    @tutinonka

    Maksud saya di sini adalah zikir yang sesudah shalat fardu 5 waktu. Kalau itu kan jumlahnya sudah tertentu karena terikat dengan bilangan. Memang sih ada juga zikir2 yang lain yang tidak terikat waktu, tempat dan bilangan. Kalau itu mah memang nggak perlu alat penghitung karena semakin banyak semakin baik.

    Tetapi kalau menurut saya, memang tasbih dan handy counter memang cuma sebagai alat pembantu, jikalau memang lebih bisa meningkatkan konsentrasi zikir ya silahkan pakai tetapi kalau justru merusak ya sebaiknya ditinggalkan….๐Ÿ™‚

    @AgusBin

    Tetapi kalau pakai luar kepala besar kemungkinan juga untuk lupa atau merusak konsentrasi karena terfokus justru pada hitungannya…๐Ÿ™‚

    @Ratna

    Nah…. itu berarti pakai tasbeh alamiah juga kan? Tetapi mudah2an konsentrasinya nggak rusak karena harus memelototin ruas2 jari tangannya. hehehe…

    @mantan kyai

    Tetapi yang penting bukan kuningan karena jigongan ya??:mrgreen:

    @Ersis Warmansyah Abbas

    Terima kasih juga pak Ersis….๐Ÿ™‚

    @rizoa

    Ok. Idem ditto.๐Ÿ™‚

    @goenoeng

    Wah terima kasih atas infonya. Tentu akan memperkaya artikel ini. Saya memang paling suka menggunakan tangan saja kok.๐Ÿ™‚

    @Raffaell

    Justru itu ide adalah bagian daripada kreativitas. Terkadang kreativitas lebih berbicara daripada alur2 algoritma….๐Ÿ™‚

    @Gelandangan

    Yang digital mekanikal atau digital elektronik? Tetapi jikalau dapat meningkatkan konsentrasi berzikir ya kenapa tidak? Tetapi apa nggak berat/mengganggu tuh harus membawa handy counter terus menerus?๐Ÿ˜€

    @sjafri mangkuprawira

    Wah terima kasih prof Sjafri atas infonya, saya juga baru saja mengunjungi blognya tersebut. Di blog itu juga disebutkan bahwa ada juga menganggap bid’ah, ada juga yang mengatakan bukan bid’ah. Sulit juga ya, prof. Soalnya kalau saya pribadi, hanya menganggap tasbih dan handy counter sebagai alat bantu. Jikalau meningkatkan konsentrasi kita zikir silahkan pakai, sedangkan jikalau tidak, ya buat apa, sebaiknya tinggalkan.

    Soalnya jikalau alat2 bantu dijadikan pertimbangan bid’ah apa nggak, nanti bisa merembat ke yang lain, contohnya nanti jikalau pakai alas koran jikalau sholat seperti saat shalat Ied di lapangan, bid’ah juga nantinya. Juga jangan2 saya kalau pakai celana panjang saat shalat, bid’ah juga nantinya (walaupun menutup aurat). Wah tambah pusing prof….๐Ÿ˜€

    @Simb Sal

    Kalau saya sih memang paling nyaman pakai tasbih alamiah alias pakai jari2 tangan….๐Ÿ™‚

    @Catshade

    Sebenarnya dalam tasbih Islam, sudah ada tandanya juga pada2 manik2 yang berkelipatan 11 (yang bermanik-manik 33) atau yang berkelipatan 33 (yang bermanik-manik 99). Biasanya manik2 berkelipatan tersebut lebih panjang atau lebih ramping. Tetapi terkadang (entah mungkin saya yang kurang ahli) saya menemukan manik2 tasbih tersebut agak serat di beberapa batu, apalagi kalau masih baru. Juga karena kalau saya berzikir, mata terpejam agar bisa berkonsentrasi, secara tak sengaja terkadang dua batu terhitung padahal bacaan kalimatnya baru satu. Huehehe….๐Ÿ˜€

    @aRuL

    Betul RuL, yang penting zikirnya bukan alat bantunya. Apapun alat bantunya jika dapat membuat zikir kita lebih fokus, ya silahkan pakai. Itu menurut saya loh.๐Ÿ˜€

  15. Wah, menarik neh artikelnya pak… Kalo saya milih yang alami aza dech…he Gak ribet soalnya…he Salam kenal ya pak… Link back yaa..

  16. Kalau masalah bid’ah atau tidak bukan ranah saya, namun kalau boleh saya berceloteh, tidak apa” itukan bagian dari perkembangan iptek, lagian tidak menimbulkan perusakan terhadap aqidah islamiyah yang ada, kalau saya srinnya tasbih alami.

    Sekali lagi jangan ada target angka dalam bertasbih tapi niat dan meresapi apa yng kita zikrkan….

  17. Pendapat pribadi nih Mas, paling nyaman pakai yang alami, paling enak lagi jika sedang ingin berzikir yang 33 itu, saya bikin saja ritme di kepala, misalnya tiap 3 x 3 +2 saya akan mulai dengan kalimat selanjutnya. Kalau sudah biasa akan bisa melafalkan dengan cepat, meski kecepatan tak dinilai dalam berzikir. Bukan begitu๐Ÿ˜€

    Mengenai bid’ah, wallahualam, saya termasuk yang belum memahaminya. Mudah-mudahan ada yang bisa mencerahkan kita sekalian.

  18. Ralat… kemana tadi ya pikiran saya kok bisa-bisanya nulis tiap 3X3+2… mestinya 3×11 di benak, lantas mulai dengan kalimat berikutnya.

    Heheheh ketahuan jarang dzikir, jangan-jangan….:mrgreen:

  19. saya setuju dengan paragraf kedua terakhir, yang penting adalah keikhlasan dalam berzikir. mengenai alatnya, mau bare hand through manual to mechanical telly counter, itu hanyalah untuk memudahkan. tentu saja yang termudah adalah yang paling sering digunakan karena sudah terbiasa.

    dan bagi saya, sama seperti mas yari, yang paling nyaman dan mudah adalah yang biasa saya gunakan, ruas-ruas jari tangan sendiri bukan tangan orang lain.:mrgreen:

  20. milih yang tradisionil aja,

  21. setau sy gak ada aturan bidah dlm pengunaan alat.. dzikir itu kan menyebut nma Allah.. alat itu kan cuka media berhitung ajah… lagian ngapain diitung2.. sama Allah kog perhitungan.. hihihi

  22. Lebih suka tasbih alami….tangan kita yang akan jadi saksi di hari perhitungan kelak (hisab) bukan perangkat digital ataupun yg lainnya

  23. @Rizky

    Sama…. saya juga pilih yang alami. Nggak ribet dan selalu dibawa-bawa. Hehe… Ok silahkan nge-linkback. Terims ya telah mampir di blogku.๐Ÿ™‚

    @Usup Supriyadi

    Kalau saya juga sependapat demikian, soalnya alat2 tersebut hanya membantu kita untuk menghitung dan juga untuk menambah konsentrasi zikir (jikalau bisa), dan tidak merusak “ritual” ibadah secara umum. Sebab kalau nanti alat bantu dijadikan pertimbangan bid’ah atau nggak, nanti shalat Jumat imamnya juga nggak boleh pakai loudspeaker dan sebagainya… pusing ah….๐Ÿ˜€

    @Yoga

    Bisa jadi juga seperti itu…. cuma ya itu…. resiko untuk salah (hitung)nya masih ada juga. Tetapi jikalau bisa meningkatkan fokus ke zikirnya (bukan malah ribet fokus ke ritmenya:mrgreen: ) tentu akan sangat baik sekali.๐Ÿ˜€

    @marshmallow

    Mungkin karena pada awal kita menghitung dan juga belajar berzikir, kemungkinan besar kita memulai menghitung dengan jari2 tangan, mangkannya kebanyakan mungkin sudah terbiasa dengan jari2 tangan.

    Ya iyalah….. tangannya sendiri yang dihitung moso yang dihitung giginya!:mrgreen:

    @tuyi

    Kalau memang enak yang tradisionil ya silahkan….๐Ÿ™‚

    @latqueire

    Lha… yang dihitung2 itu kan zikir yang terikat oleh bilangan seperti zikir setelah shalat fardhu 5 waktu ini. Kalau kebanyakan kan nggak boleh. Kalau zikir yang tidak terikat oleh bilangan sih ya silahkan aja, makin banyak memang makin baik.๐Ÿ˜€

    @maskoko

    Tetapi ada ‘plesedan’ juga mas, bagi yang pakai perangkat digital. Tangan kita nanti jadi saksi juga bahwa tangan kita dipakai untuk memegang perangkat digital guna membantu perhitungan zikir, kan baik juga tuh? **agak maksa**:mrgreen:

  24. Kalau pakai tasbeh dari benang, seringnya jebol, Pak Yari (itu zikir atau emosi? Hehe). Jadi biji-bijinya tumpah di sajadah mulu. Paling sederhana dan mudah tentu dengan ruas tangan. Tapi manusia kadang serasa belum afdol kalo nggak dibantu oleh media atau alat (halah! Bilang aja pembenaran itu mah). Soal bidโ€™ah tidaknya, kan hanya alat, Pak Yari.

    Yang pasti aku baru saja kehilangan tasbeh kesayangan nih. Duh, entah hilang di mana.

    ______________________________

    Yari NK replies:

    Mungkin itu tasbeh “Made in Garut” kaleee jadinya cepat jebol **halaah** huehehehe…
    Tetapi memang sih, paling enak emang pakai jari2 tangan, sangat praktis.

    Wah, ikut bersedih nih, karena kehilangan tasbehnya. Apa nggak bisa beli baru lagi yang sama mas? Atau… tasbeh itu pemberian seseorang terkasih yang sangat spesial?๐Ÿ˜ฆ

  25. kalau yang biasa dupakai biksu-biksu itu apa ya? trus yang dipukul-pukul (liat Tong Sam COng dulu) itu apalagi? apakah bisa juga disebut tasbih?

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Wah… saya kurang tahu tuh yang bentuknya seperti apa. Tetapi alat bantu apapun dapat dijadikan alat penghitung buat berzikir asal niatannya untuk membantu perhitungan dan lebih menjaga konsentrasi dalam berzikir, bukan niatan untuk yang aneh2 dan yang penting juga tidak merusak aqidah Islamiyah.๐Ÿ™‚

  26. dari dulu sampai sekarang
    saya masih menggunakan tasbih alami
    mungkin karena sdh terbiasa kalee ya
    btw…yng penting bener2 zikr (ingat)
    padaNya dengan khusyuk,
    bukan melulu soal ketepatan hitungannya
    thanks bro๐Ÿ˜€

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Betul sekali, kehusyukan adalah yang harus sangat dijaga. Lebih bagus lagi kan jika kekhusyukan dijaga dan juga ketepatan hitungannya juga terjaga.๐Ÿ™‚

    Btw, saya juga paling sreg dengan tasbih alami dari dulu.๐Ÿ™‚

  27. yang betul tuh dalam dzikir sebenarnya apa ya? ingat Allah-nya atau ingat hitungannya?
    Salam kenal, kalo ada waktu silakan mampir ke blog saya di http://www.shalatkhusyu.wordpress.com
    nuwun

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Sebenarnya yang paling utama adalah ingat Allah-nya, tetapi jikalau terikat bilangan sebaiknya kita juga tepat bilangannya….. lebih baik lagi kan?๐Ÿ™‚

  28. saya juga paling suka tasbih alami pak, bisa dipake kapanpun dan pasti dibawa kemana-mana, hehe..kalo sering lupa biasanya hitungannya fi lebihin pak (daripada kurang), heheheu…

    ___________________________

    Yari NK replies:

    Idem ditto…. tetapi pakai tasbeh digital MIDlet enak juga, sebab sekarang ponselkan sudah tiap hari dibawa2 juga. Tetapi memang masih enakan tasbih alami sih…hehehe….

  29. yang penting keikhlasan >>>>>>>>> tul ga ?

  30. soal tasbih bid’ah atau nggaknya itu sebenarnya tergantung niatnya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s