Paradoks Pendidikan?

Sebenarnya topik ini sudah lama melekat dalam benak saya, namun entah kenapa topik ini selalu ‘kalah’ dengan topik-topik lain yang ada di kepala saya sehingga baru kali ini topik ini saya tampilkan. Sebenarnya di luar dunia maya, hal ini sudah beberapa kali saya tanyakan namun jawaban-jawaban yang ada belum cukup memuaskan saya, untuk itu kali ini saya akan menampilkan topik ini untuk postingan hari ini…….

Paradoks pendidikan apa yang ada di dalam benak saya sehingga saya tampilkan pada sebuah artikel? Begini: Dari beberapa media massa yang saya baca dan juga dari beberapa blog yang saya baca di blogsfer ini, pendidikan di negeri kita ini masih ‘menitikberatkan’ pada penggunaan otak kiri dibandingkan otak kanan. Otak kiri berfungsi dalam hal analisa, matematika, tulisan, bahasa, dan logika. Sedangkan otak kanan berfungsi dalam hal khayalan, kreativitas, seni bentuk, grafis dan musik. Sekarang, mari kita lihat apa yang terjadi di negeri ini yang katanya pendidikan kita masih berorientasi pada ‘otak kiri’.

Terlepas dari sudahnya kita mencetak juara-juara olimpiade fisika, tetapi kita lihat dunia sains dan teknologi kita masih jauh dibandingkan negara-negara maju. Sudah berapa orangkah dari ilmuwan-ilmuwan kita yang mendapatkan hadiah Nobel di bidang Fisika, Kimia ataupun Kedokteran? Sudah mampukah kita memproduksi produk-produk canggih? Hmm…. nyatanya termometer batang alkoholpun kita masih impor dari China! Sebaliknya, coba lihat kesenian-kesenian kita. Seniman-seniman kita minimal lebih ‘berprestasi’ dibandingkan dengan ilmuwan-ilmuwan kita. Lihat seniman-seniman kita seperti Afandi, Raden Saleh dan juga pematung-pematung dari Bali (yang saya lupa namanya siapa hehehe….) mereka lebih terkenal di tingkat dunia daripada ilmuwan-ilmuwan kita. Di bidang seni musik? Saya rasa juga cukup berjaya. Dengar saja, lagu-lagu kita saat ini sebenarnya nggak kalah bagusnya dengan lagu-lagu luar negeri, bahkan lagu-lagu kita sangat digemari di negeri jiran……..

Lantas fenomena apa ini? Kenapa bidang-bidang otak kanan yang tidak mendapatkan tempat di pendidikan kita justru lebih berjaya? Apakah bangsa kita sebenarnya pintar dalam menggunakan otak kanannya? Tetapi kenapa tidak maju-maju juga? Apakah itu berarti bukti bahwa bangsa yang hanya menggunakan otak kanannya tidak bisa maju? Alias untuk maju sebuah bangsa harus bisa menggunakan kedua belah otaknya??

Saya ingat, dulu tahun 1980an ketika IPTN (dulu namanya Nurtanio deh kalau nggak salah, benar nggak?) memproduksi pesawat CN-235 yang bekerjasama dengan pabrik pesawat Casa di Spanyol, orang banyak yang mencibir: “Ah, paling-paling Indonesia cuma mengerjakan desain interiornya saja. Kalau mesinnya paling-paling masih dari luar (Spanyol) dan kita paling cuma merakitnya aja!”. Ya, kalau desain interior (termasuk juga desain grafis) yang menggunakan kreativitas seni, kita semua yakin bahwa kita sudah mampu. Tapi, kalau sudah yang mencakup teknologi tinggi yang menggunakan logika dan perhitungan yang super rumit?? Nanti dulu deh….. untuk saat ini hanya bisa dilakukan di luar negeri !! Begitu pula dengan arsitektur. Kita yakin, kita sudah bisa mendesain gedung-gedung yang indah, dan juga gedung-gedung yang mungkin lebih tinggi dari Burj Dubai. Tetapi nanti pelaksanaannya di lapangan?? Apalagi kalau bikin gedung yang tingginya lebih dari Burj Dubai yang butuh perhitungan khusus dan pemilihan material2 yang tepat, perhitungan aerodinamika dan tetek bengek lainnya yang rumit….. eh jatuhnya ke kontraktor asing juga!!

Nah, ada apa gerangan?? Kenapa katanya pendidikan kita yang lebih berorientasi kepada otak kiri namun ternyata bangsa kita tetap lebih sulit berkompetisi dengan otak kirinya?? Kenapa justru kita bisa bersaing dengan otak kanan kita walaupun otak kanan kita agak dianaktirikan dalam pendidikan kita??🙂

36 responses to “Paradoks Pendidikan?

  1. Nahh kalau artis-artis lebih ke arah otak kanan ya? Bukankah Indonesia juga berjaya? Kan banyak artis kita populer di negeri jiran.

    Btw, dulu saat saya masih sekolah di SMP dan SMA, masih ada pelajaran prakarya (kalau cewek diajari menyulam dsbnya, cowok berkaitan dengan perbengkelan)…terus ada latihan kesenian, olahraga dsb nya, yang bukankah masuk dalam nilai. Dan kalau jurusan sastra, maka lebih banyak lagi latihan baca puisi di kelas.

    Mungkin karena kang Yari melihatnya dari sekolah formal (SD-SMA), yang materinya memang lebih ke arah kiri di banding kanan. Tapi disamping itu sebetulnya ada ekstra kurikuler yang juga wajib diambil, yang sebetulnya waktu latihannya lebih banyak, apalagi jika mau ada acara.

  2. Orientasi Pendidikan Kita lebih banyak Berwacana (Planing to Planing) Barangkali…Belum Planing To Action.
    Saat sekolah saya ingin jadi Guru STM Anak didik akan saya bimbing untuk membikin Mini Pembangkit Listrik Tenaga Angin dan itu real bisa dilakukan dengan mudah plus modal sedikit dengan memanfaatkan barang barang sisa Lab.
    Sayang saya enggak keterima jadi pegawai/guru malah jadi Salesman…hancur dech cita cita.

  3. Kalo masalah seni memang indo’sia udah ga kalah. Tp entah knp kalo udah yg pake ngitung rumit dikit jadi kedodoran. Pokoknya yg hura2 atau yg indah di pancaindra kita ga kalah. Tapi yg ‘indah’nya abstrak spt keindahan numerik dan sains pasti kedodoran.

  4. Mas, paradoksnya terkait dengan uang. Sebenarnya tak sedikit anak bangsa yang sukses di bidang Fisika, Matematika & keilmuan lain. Saat ini tercatat beberapa nama ilmuwan fisika asal Indonesia yang merintis jalan, meraih Nobel tentu lewat biaya penelitian dari negara asing dan dilakukan di negara asing. Seorang teman saya terpaksa mengikhlaskan beberapa penemuannya diaku hak patennya oleh Singapura, karena Singapura-lah yang telah menyokong pendidikan & penelitian teman saya. Saya yakin itu bukan yang pertama dan yang terakhir.

    Tak kurang saya lihat ahli nuklir Indonesia yang banting stir dibidang lain, jurnalisme, HRD, bisnis taksi, IT dsb, supaya bisa survive hidup dan ternyata masing-masing kemudian jadi pakar dibidang tersebut, coba lihat Pak Nukman Luthfie, Tati Saadati Hafiz, dsb.

    Dan mengenai pembangunan fisik di Dubai yang saat ini maju, jangan salah lho… Insinyurnya banyak dari Indonesia. Hanya perlu diingat, seorang engineer rata-rata praktikal, mereka lebih suka bekerja nyata tanpa gembar gembor.

  5. Mas, paradoksnya terkait dengan uang. Sebenarnya tak sedikit anak bangsa yang sukses di bidang Fisika, Matematika & keilmuan lain. Saat ini tercatat beberapa nama ilmuwan fisika asal Indonesia yang merintis jalan, meraih Nobel tentu lewat biaya penelitian dari negara asing dan dilakukan di negara asing. Seorang teman saya terpaksa mengikhlaskan beberapa penemuannya diaku hak patennya oleh Singapura, karena Singapura-lah yang telah menyokong pendidikan & penelitian teman saya. Saya yakin itu bukan yang pertama dan yang terakhir.

    Tak kurang saya lihat ahli nuklir Indonesia yang banting stir dibidang lain, jurnalisme, HRD, bisnis taksi, IT dsb, supaya bisa survive hidup dan ternyata masing-masing kemudian jadi pakar dibidang tersebut, coba lihat Pak Nukman Luthfie, Tati Saadati Hafiz, dsb.

    Dan mengenai pembangunan fisik di Dubai yang saat ini maju, jangan salah lho… Insinyurnya banyak dari Indonesia. Hanya perlu diingat, seorang engineer rata-rata praktikal, mereka lebih suka bekerja nyata tanpa gembar gembor.

  6. berarti memang kita dianugerahi otak kanan yang luwar biyasa. tapi bukan otak simpanse kan pak???

  7. *agak kurang suka dengan idiom otak kiri-kanan ini, karena terlalu hitam-putih; sebenarnya otak cukup merata dan fleksibel dalam pemakaiannya sehari-hari*

    Tapi ini menarik juga; saya pernah kepikiran ini juga, tapi sepotong-sepotong dan tidak sampai seekstensif mas Yari dalam memformulasikannya…🙂

    Kenapa katanya pendidikan kita yang lebih berorientasi kepada otak kiri namun ternyata bangsa kita tetap lebih sulit berkompetisi dengan otak kirinya?? Kenapa justru kita bisa bersaing dengan otak kanan kita walaupun otak kanan kita agak dianaktirikan dalam pendidikan kita??

    1. pendidikan ‘otak kiri’, khususnya di bidang teknik/terapan di perguruan tinggi, itu butuh biaya mahal untuk dapet suplemen yang berkualitas (sarana praktikum yg berteknologi tinggi, misalnya), mungkin di situ kita masih kedodoran dibanding bangsa asing; sementara pendidikan ‘otak kiri’ di bidang ilmu murni, rasanya sampe sekarang masih jarang dilirik orang dengan serius.

    1b. untuk berkompetisi di ranah komersial, rasanya butuh lebih dari sekedar kemampuan ‘otak kiri’ per se; mesti ada kemampuan promosi, lobi, persuasi, dan layanan non-teknis lainnya untuk bisa mengalahkan tender dengan kontraktor bangsa asing. Mungkin di sini bangsa kita masih kurang kompeten?😕

    2. Meskipun ‘otak kanan’ dianaktirikan dalam pendidikan kita, rasanya mereka yang bisa sukses bersaing di bidang itu lebih banyak mempelajari kemampuan ‘otak kanannya’ secara otodidak atau di luar sekolah formal. Saya sulit menunjuk unsur spesifiknya dengan tepat, tapi rasanya atmosfer kehidupan dan budaya kita lebih menyuburkan perkembangan kemampuan ‘otak kanan’ ketimbang ‘otak kiri’.🙂

    3. Tentang paradoks ini, meski katanya kemampuan ‘otak kanan’ kita lebih bersaing, entah kenapa pandangan masyarakat masih cenderung negatif terhadap bidang kerja yang menggunakan kemampuan tersebut. Kerja di bidang itu masih dikaitkan dengan masa depan yang ‘tidak cerah’ atau ‘tidak pasti’, sementara mayoritas kerja di bidang yang banyak menggunakan kemampuan ‘otak kiri’, dianggap lebih keren dan menguntungkan.

    4. Mungkin ini cuma masalah positioning? Keanekaragaman budaya bangsa kita yang ‘tidak ada duanya’ juga mempengaruhi dan mendorong kita mengembangkan kemampuan ‘otak kanan’ yang unik dibanding bangsa-bangsa lain, sementara kalau kemampuan ‘otak kiri’ kan di mana-mana relatif kurang lebih sama dan minim variasi…sehingga sulit mencari hal yang spesial dan menonjol dari kemampuan ‘otak kiri’ bangsa kita.😕

  8. Saya tadi coba posting komentar yang agak panjang tapi belum berhasil. Komentar itu saya kirim via ym Mas, akhirnya.

    Membaca Kompas hari ini, keyakinan saya bahwasanya paradoks pendidikan di Indonesia masih berkorelasi dengan uang agaknya diperkuat oleh artikel Humaniora, tentang pendidikan tinggi di Jerman, di halaman 14.

    Tentang komentar saya yang gagal terposting, nanti akan saya coba lagi, kalau belum bisa ya sudahlah.

  9. Bersyukurlah kalao sekolah kita masih melatih otak. Aku malah khawatir otak tidak pernah dilatih di sekolah!

  10. Mmmm…. ga dilatih aja hebat ya orang2 kita? Gemana kalau orak kanan dilatih dan dikembangkan… wah bisa2 … bisa apa Pak? Jangan-jangan malah klo dilatih, jadi ga berkembang… hue he he he……

  11. Yah… Yang tersiksa tetap kami para pelajar sekarang…😦
    Tahun 2009, pelajar diwajibkan masuk jam setengah 7. Jam 7 aja sering agak telat, gimana jam segitu? Tambah lagi dengan Ujian Nasional yang tak tentu tujuannya. Ada yang bilang mau dihapus, tapi ada yang bilang tetap ada. Emang kita kelinci percobaan? Ganti kurikulum terus seenak perutnya.

    *ko’ jadi curhat begini?*:mrgreen:

  12. kiri atau kanan kalo latihannya hanya sebatas untuk bercita-cita jadi pekerja gimana, pak? dulu otak kanan bangsa kita katanya dominan, masyarakat yg mistis, tidak logis. nyatanya, malah bisa bikin Borobudur dan Prambanan. apa iya dua bangunan itu hanya buah dari otak kanan? gimana pula dengan pendidikan berorientasi budi pekerti seperti Taman Siswa (kayaknya sih)?

  13. Saya setuju pendapat Mbak Yoga. Otak kiri bangsa kita sebenarnya cukup bagus, hanya saja untuk mewujudkannya menjadi karya besar yang nyata, dibutuhkan modal finansial yang tidak sedikit. Disitulah kelemahan kita.

    Kemampuan insinyur teknik kita juga cukup membanggakan lho mas. Beberapa insinyur kita ikut merancang Twin Tower di Kuala Lumpur. Monas, Masjid Istiqlal, dan banyak bangunan bagus lain juga dirancang oleh insinyur bangsa kita sendiri. Merekalah ‘otak’ yang memikirkan perancangan desain maupun kekuatan struktur bangunan. Adapun kontraktor tugasnya adalah mewujudkan apa yang sudah direncanakan, jadi lebih pada masalah manajemen dan operasional lapangan.

    Tentang lebih majunya kemampuan yang mengandalkan otak kanan, mungkin itu ada hubungannya dengan karakter pada umumnya bangsa timur yang lebih menekankan pada olah rasa dan spiritual. Ini berbeda dengan bangsa Barat yang cara berfikirnya memang logis dan analitis.

  14. @edratna

    Betul bu…. memang ada pelajaran ‘prakarya’, tetapi tetap saja dianggap ‘tidak penting’ dan seminggu paling2 cuma 1-2 jam, dibandingkan dengan matematika atau bahasa Indonesia dan Inggris yang bisa 5 jam seminggu. Apalagi ekstrakurikuler, itu cuma ‘sampingan’ saja, tidak masuk nilai, dan juga tidak boleh mengganggu pelajaran2 utama (seperti matematika, bahasa dan sebagainya…). Jadi, walaupun ada tetap ‘tidak dianggap penting’.

    @SimbSal

    Planning memang harus diubah menjadi action agar dapat berguna secara nyata. Namun action juga membutuhkan planning yang matang agar dapat menjadi kenyataan. Nah, kenapa gagal menjadi guru?? Apa planning-nya kurang matang? Ingat…. planning di sini mencakup hal yang luas loh…🙂

    @AgusBin

    Mudah2an aja nggak selama2nya begini ya?? Minimal ada kenaikan yang positif sambil menjaga tetap tumbuh positif apa yang sudah menjadi kekuatan kita….🙂

    @Yoga

    Wah…. mbak…. kalau komennya nggak muncul, jangan khawatir, pasti itu terjebak di dalam Akismet, dan tidak menguap begitu saja. Akhir2 ini Akismet emang agak ‘norak’, komentar panjang yang bagus, eh dianggap spam juga, yah namanya juga AI belum sanggup menyaingi Natural Intelligence. Tapi hikmahnya adalah, saya sekarang selalu rajin mengecek kotak Akismet saya. So, jadinya mbak Yoga nggak perlu bersusah payah mengetik kembali. O iya, sekedar saran nih, biar nggak capek, mbak Yoga sebelum men-submit komentar sebaiknya di kopipes dulu….:mrgreen:

    O iya…. memang masalah biaya ini bagi pengembangan iptek memang masalah yang klasik yang memang sangat berpengaruh. Sayapun tentu sangat menyadari hal itu dari dulu. Namun, apakah benar hanya karena itu?? Apakah bangsa ini nggak pernah sadar ya, jikalau investasi di arahkan untuk pengembangan iptek dapat menghasilkan return yang tinggi?? Asal tentu harus mempunyai daya saing yang tinggi dan juga manajemen yang baik. Jangan seperti IPTN dulu. Saya rasa negara2 Asia yang lain dulunya adalah miskin juga (termasuk Jepang), tetapi kenapa mereka bisa berkembang?? Ingat saja… restorasi Meiji di Jepang di akhir abad XIX. Dengan modal yang sebenarnya nggak terlalu sedikit banget, kalau kita memang minat, kita sebenarnya bisa mengembangkan teknologi kita di tanah air. Masalahnya adalah apakah perkembangan iptek kita sekarang ini positif, stagnan atau malah negatif??

    Insinyur2 kita terpakai di Dubai? Hmmm… mungkin juga. Dan tentu saja sangat membanggakan juga sebenarnya. Tapi pertanyaannya, apakah insinyur2 kita itu hanya sebatas arsitekturnya terpakai apakah karena pertimbangan insinyur2 kita ‘lebih murah’ digaji atau karena memang tidak ada lagi insinyur2 lain di dunia ini yang bisa mengerjakannya? Nah… itu dia….🙂

    @mantan kyai

    Kalau simpanse disekolahkan, bagusnya dia masuk sekolah yang orientasinya otak kiri atau otak kanan ya? Atau mungkin otak depan atau otak belakang?? Emang rambu lalu lintas…. kiri, kanan, depan, belakang….:mrgreen:

    @Catshade

    Wah…. jawabannya cukup logis namun ada yang perlu direnungkan sedikit:🙂

    untuk berkompetisi di ranah komersial, rasanya butuh lebih dari sekedar kemampuan ‘otak kiri’ per se; mesti ada kemampuan promosi, lobi, persuasi, dan layanan non-teknis lainnya untuk bisa mengalahkan tender dengan kontraktor bangsa asing. Mungkin di sini bangsa kita masih kurang kompeten?

    Andaikan faktor2 ini yang berbicara tentu sebenarnya kita juga bisa belajar dari bangsa2 lain. Pertanyaannya, apakah belajar promosi, lobi, persuasi dan sebagainya sesuatu yang ‘lebih sulit’ daripada belajar teknologinya sendiri? Apakah dalam hal2 seperti ini kita akan selalu kalah terus? bukankah kita adalah bangsa yang terkenal ‘kreatif’nya dalam hal seperti ini terutama untuk yang ‘di bawah tangan’?🙂

    Tentang paradoks ini, meski katanya kemampuan ‘otak kanan’ kita lebih bersaing, entah kenapa pandangan masyarakat masih cenderung negatif terhadap bidang kerja yang menggunakan kemampuan tersebut. Kerja di bidang itu masih dikaitkan dengan masa depan yang ‘tidak cerah’ atau ‘tidak pasti’, sementara mayoritas kerja di bidang yang banyak menggunakan kemampuan ‘otak kiri’, dianggap lebih keren dan menguntungkan.

    .

    Sangat mungkin. Namun sebenarnya otak kanan juga sekarang mampu menciptakan banyak ‘gengsi’ dari segi ekonomi. Coba saja, jika kita ingin jadi penyanyi pop terkenal (kalau bisa dengan mencipta lagu sendiri), atau jadi sutradara film, tentu image-nya adalah banyak duit walaupun tentu saja realitanya belum tentu. Memang kalau kita bercita2 jadi pelukis jalanan, tentu saja image-nya adalah ‘gembel’. Jadi secara positioning, ada juga sebenarnya posisi2 ‘otak kanan’ yang secara ekonomi terlihat ‘wah’. Sebaliknya posisi2 ‘otak kiri’ juga banyak yang dianggap tidak ‘wah’, lihat saja sebagai ahli biologi atau ahli astronomi, apakah terlihat ‘wah’? Namun, kalau saya pribadi hanya menganggap bahwa sains dan iptek memang jauh lebih penting daripada seni (bukan berarti seni tidak penting lho, jangan dibalik!🙂 ). Itu saja kalau menurut saya pribadi kenapa ‘otak kiri’ lebih ‘bergengsi’ daripada ‘otak kanan’ (walaupun dalam sains tetap juga sebenarnya diperlukan kreativitas).

    Nah, sekarang kesimpulan utamanya: Jadi apakah pendidikan kita sudah berjalan ke arah yang benar berarti nggak salah2 amat? Karena seperti yang Mas Andreas katakan, mereka yang berhasil di bidang ‘otak kanan’ adalah mereka yang mendapatkannya secara otodidak. Jadi percuma, orang dididik secara ‘otak kanan’ tetapi jikalau mereka tidak berbakat dan tidak berminat pada bidang2 tersebut. Tentu ini bukan berarti pendidikan yang berbau ‘otak kanan’ harus dihilangkan, tetapi porsi yang sekarang adalah ‘sudah tepat’. Nah, tambahan pula, kita kekurangan ‘modal’ untuk mengembangkan sains dan iptek kita, jikalau harus mengurangi porsi pendidikan kita yang kini berorientasi pada ‘otak kiri’, akankah berarti sains dan iptek kita bakalan lebih tertinggal lagi di masa mendatang?🙂

    @qizinklaziva

    Jangan salah pak…. banyak juga loh…. orang2 di negeri ini yang otaknya disekolahin (baik yang kiri maupun yang kanan), tetapi tetap saja sepertinya otak2 orang tersebut tidak pernah disekolahkan. Bahkan banyak juga orang2 yang otaknya nggak disekolahkan secara formal tetapi ternyata otaknya tampak seperti ‘sekolahan’……🙂

    @mathematicse

    Wah… kalau itu namanya…. lebih2 paradoks lagi dong ya??:mrgreen:

    @Alias

    Ya udah nggak apa2….. murid2 sih yang penting jadi cerdas saja, nggak usah banyak alasan ‘jadi kelinci percobaan’ dan sebagainya. Nanti kalau murid2 terlalu memusingkan ‘kurikulum’, salah2 malah nggak pada belajar semuanya, malah jadi ‘amburadul’……

    Btw… murid2 yang ‘sangat mengkhawatirkan’ kurikulum, itu kan kebanyakan mereka yang nilainya jelek2, hanya sebagai alasan saja! Biarpun nanti dikasih kurikulum Amerika, dan nilai mereka tetap jeblog, tetap saja nanti mereka menyalahkan kurikulum…..:mrgreen:

    @sitijenang

    Loh…. nggak apa2 jadi pekerja, asal jadi pekerja yang profesional. Ingat sukses tidaknya sebuah perusahaan lebih terletak pada keprofesionalan pekerjanya, bukan semata2 hanya kekuatan modal para pemilik modal.

    Justru kalau masuk ITB misalnya, ya jangan jadi pengusaha (walaupun tentu sah2 saja dia menjadi pengusaha, nggak ada yang melarang kok), tetapi jadilah insinyur atau saintis yang profesional. Jadi kemajuan suatu bangsa bukan hanya diukur berdasarkan banyaknya pengusaha. Itu fikiran yang salah. Kemajuan dan kemakmuran bangsa ini terletak daripada kualitas yang dihasilkan bangsa ini secara keseluruhan termasuk profesionalisme kerja….🙂

    @tutinonka

    Tetapi insinyurnya apa dulu mbak Tuti? Seperti yang saya tulis di atas, kalau teknik arsitektur sih kita juga sudah mampu, karena arsitektur banyak melibatkan unsur2 seninya. Tentu bukan berarti saya meremehkan teknik arsitektur, ya bukan begitu. Dan andilnya seberapa besar dalam proyek2 tersebut? Itu pertanyaannya. Soalnya saya lihat di acara Mega Structures di National Geographic Magazine, hampir semua bagian2 tersulit pembangunan the Twin Towers di KL, dari pengujian material hingga kelayakan aerodinamis semuanya dilakukan oleh ‘insinyur2 bule’.

    Tetapi kesimpulannya saya setuju dengan mbak Tuti. Mungkin karena orang timur kebanyakan masih menekankan pad rasa dan spiritual bukan pada logis dan analitis. Nah, untuk itu, menurut saya, sebagai sebuah bangsa, mari kita mulai menyeimbangkan antara rasa dan spiritual dengan logis dan analitis kita, dengan begitu, Insya Allah, bangsa kita akan lebih maju…..🙂

  15. Maaf mas Yari, saya selalu copy dulu komentar yang agak panjang.. Kemarin itu tombol send/post baru ditekan, yang muncul tulisan internal server error, jadi saya nggak yakin sudah terkirim.

    Di Dubai, insinyur Sipil asal Indonesia banyak yang dikontrak menjadi structural design engineer, planner engineer, QS, dsb bukan cuma jadi pengawas, atau menjadi spt yang dituduhkan Mas Yari. Ini adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan otak kiri, meski juga ada bagian otak kanan yang terlibat. Pun di banyak perusahaan kaliber dunia di negara yang lain, dengan salary yang setara dengan bangsa Eropa, sehingga banyak teman saya yang ogah balik ke Indonesia karenanya.

    Di bidang Arsitek, salah satu arsitek muda Indonesia, Ridwan Kamil beberapa kali mengerjakan proyek desain arsitektural kelas dunia, bersaing dengan arsitek kenamaan dunia. Pekerjaan arsitek, adalah contoh pekerjaan yang menggabungkan otak kanan dan kiri. Seorang arsitek juga dituntut untuk merancang desain gedung yang sesuai dengan prinsip-prinsip mekanika, bukan hanya mendesain penampakannya semata.

    Dan di dalam laboratorium-laboratorium international yang mengembangkan nano techlogy, dan berbagai science bisa dijumpai nama-nama Indonesia. Belum pula saya menyebut dunia IT, walah supply otak kiri bangsa Indonesia besar sangat! Mulai dari keahlian tertentu yang hanya dimiliki tak sampai sepuluh orang di dunia-hebatnya orang Indonesia ada satu, sampai jenis keahlian yang sudah “segerobak” pemiliknya, Indonesia punya andil. Hanya memang jauh dari publikasi.

    Mereka ini ada yang berkembang dengan kemampuannya sendiri dan yang mendapat jalan dari bangsa asing, memang hanya minoritas di negeri kita. Buah pendidikan & kebijaksanaan pendidikan bangsa kita yang lainnya, terbagi lagi jadi dua, yaitu mereka yang memang memilih bekerja di bidang yang menggunakan otak kanan, dan yang terpaksa banting stir.

    Bagaimanapun juga, masalah finansial adalah issue utama, apa pun landasan kebijaksanaan pemerintah. Mengenai kritik Mas Yari tentang, bagaimana sikap pemerintah terhadap dunia pendidikan dan bagaimana sikap pemerintah dalam menciptakan sebuah negara yang bisa berswasembada teknologi, swasembada peniti misalnya…😀 ingat bahkan peniti pun masih didatangkan dari Cina– adalah sebuah sejarah panjang tentang mentalitet, yang latar belakangnya adalah kapitalisme, kolonialisme modern. Lihat, tetap perkara yang dilatari uang bukan?

    Saya jadi ingin merekomendasikan Mas Yari untuk membaca tetralogi Pulau Buru karangan Pramoedya Ananta Toer, atau mungkin sudah baca? Di sana ada gambaran sejarah yang saya maksud, yang bisa digunakan untuk memahami paradoks pendidikan di Indonesia saat ini. Oh ya tanpa ada tokoh intelektual yang berbasis teknologi, dan mencebur dalam lembaga eksekutif, semacam BJ Habibie di masa datang, maka makin jauh api dari panggang.

    Tabik!

  16. Nampaknya komentar saya sebelum ini ada yang tertelan akismet lagi.

  17. otak saya sudah saya timbang

    kiri dan kanan seimbang..

    hehehhee

    ^_^

  18. mendidik, bagi saya adalah; menumbuhkan kesadaran dan menggali potensi serta mengembangkannya.

    setiap manusia, dianugerahi oleh Tuhan potensi yg berbeda satu sama lain. seseorang berprestasi sesuai dg potensi yg dimilikinya. bila saat ini bangsa kita lebih banyak berprestasi di bidang seni, berarti itulah potensi kita. kenapa tidak kita kembangkan saja? berprestasi dunia tidak harus mampu membuat gedung pencakar langit saja kan? bukankah dengan berkesenian kita juga bisa mewarnai peradaban dunia?

    maka, mengapa harus capek2 menyamakan diri dg prestasi negara lain di bidang sain dan teknologi? kenapa tidak mengembangkan yg kita miliki saja?🙂

  19. Benar sekali, Pak. Orang indonesia sering menjuarai olimpiade tingkat internasional, tapi kenyataannya nggak bisa apa-apa. Perolehan nobel pun sangat minim dibandingkan dengan negara lain. Karena kebanyakan orang Indonesia itu banyak gengsinya, Pak.
    Mereka terlalu menganggap remeh sesuatu, sehingga kalah maju dengan negara lain. Saya setuju dengang pengunaan otak kanan, Pak. Otak kanan sebenarnya mempunyai kekuatan tersendiri kalau kita gunakan.

  20. Aduh kalau ngomongin otak kanan dan kiri ampunnn

    Aku OON

  21. Maaf Mas, saya nimbrung lagi, subyek ini membuat saya bersemangat:mrgreen:

    Iya Mas, betul, Restorasi Meiji, membawa Jepang melesat jauh meninggalkan negara-negara Asia, termasuk Cina. Membuat Jepang diakui oleh Eropa, Rusia & Amerika sebagai negara Asia pertama yang sejajar dengan mereka. Di saat Jepang telah sadar teknologi, justru bangsa kita masih terlena, dengan feodalisme. Masih mengangankan membangun negeri agraris, padahal faktanya lebih luas laut dari daratannya. Dan kenyataannya itu masih bersama kita hari ini.

    Lantas bagaimana arah pendidikan bangsa kita saat ini? wah yang ini sungguh saya prihatin, pertama, tiap ganti menteri, kurikulum ikut berubah, frame pendidikan tak jelas arahnya (apalagi vission-nya). Kedua, usaha meningkatkan kualitas pendidik tak sebanding dengan usaha meningkatkan ketenangan hidup & kesejahteraan para guru, UUD lagi, ujung-ujungnya duit. Sedangkan jika pendidikan salah arah, kerugiannya adalah “hilangnya generasi yang potensial” dalam suatu periode. Dan makin sulit buat Indonesia untuk mengejar keberhasilan Jepang atau Cina.

    Kemudian muncul pertanyaan, apakah masing-masing dari kita yang urun pendapat disini, bersedia menjadi agent of change, agar wacana-wacana yang muncul dari diskusi ini tak berhenti sampai disini? Dan paradoks (lebih tepat mana dengan anomali?) ini bisa kita libas-meski tak harus se-sophisticated yang diusahakan oleh Dr. Mocthar Riyadi dengan penelitian Nanotechnology-nya?

  22. Masalahnya apresiasi orang Indonesia terhadap kekayaan alam, budayanya sendiri juga tidak ada.

    Contohnya: di keluargaku sendiri. Mereka nyesel jalan-jalan di Bali, karena mereka membayar mahal untuk tinggal di villa lumbung padi. Mereka berpendapat, bule-bule itu bodoh: mau-maunya bayar mahal utk tinggal di lumbung. Kalo di kampung di Jawa juga banyak lumbung padi.

    Aku hanya berkomentar saja: karena kau kurang jeli dan kreatif. Padahal mereka itu pada lulusan S2.

  23. @ Pak Yari
    yg bilang butuh modal dan pengusaha bukan saya tuh, pak. itu kan komentar di bawah saya.😀

    maksud saya lebih kepada pembentukan karakter, tidak “sekadar” cerdas dan menguasai teknologi. soalnya, menguasai pembuatan teknologi tapi dikuasai / disetir kan gak maju juga kayaknya.

    lagian kok dianggap fikiran saya dianggap salah? emang fikiran Anda sudah pasti benar? he he he…:mrgreen:

    *kabuuur*

  24. Iya iya, aku baru nyadar pak, ternyata kita memang begitu punya kemampuan analisa yang tinggi, tapi tidak punya kemampuan menciptakan…. hmmmm… tadinya aku beranggapan, ah orang Indonesia kan otak kanan nya dah jalan sendiri…. tapi ternyata postingan ini ada benar nya juga… keliatan dari cara kerja kita… budaya kita, analisa yang keren. (lagi lagi ini hasil otak kiri) hehehe

  25. @Yoga

    Kalau misalnya benar apa yang dikatakan mbak Yoga tentang insinyur2 kita di atas tentu itu harus mendapatkan aplaus dan sebuah angkatan topi. Dan mudah2an mereka di sana bukan hanya bermotivasi untuk lebih cari duit tetapi lebih untuk mengembangkan karir dan kemampuan mereka. Itu yang penting. Dan mudah2an di masa mendatang, jikalau ada acara2 di TV seperti “Mega Structure” di NGC, insinyur2 Indonesia bisa dimintai pendapatnya jika membangun tower2 macam Burj Dubai di masa mendatang. Bukan hanya sebagai co-engineer tetapi juga sebagai engineer kunci yang berperan penting dalam penyelesaian sebuah mega-project. Tetapi perlu juga diingat bahwa jangan sampai insinyur2 kita lari ke luar, tetapi proyek The Jakarta Tower (misalnya) justru jatuh ke tangan kontraktor2 asing. Sesuatu yang lucu kan? Kita juga harus memperhatikan keadaan di dalam negeri juga, jangan hanya mengejar duit saja. Saya sedih, soalnya dalam masalah reservasi orangutan aja, seperti yang saya lihat juga di Animal Planet dalam serial “Orangutan Island”, semua peran2 utamanya bulé-bulé. Lihat aja Nyaru Menteng Rescue dan juga Camp Leakey, peran2 kuncinya seperti Dr. Lone Dröscher-Nielsen ataupun Dr. Biruté Galdikas ataupun Dr. Rosa Gariga, semuanya dari luar. Lah, ahli2 kita ke mana? Ya… mudah2an ke depannya tidak seperti itu lagi. Duit memang menjadi kendala, tetapi itu jangan dijadikan alasan untuk tidak bisa mengembangkan sains dan iptek kita. Justru kita harus memutar otak dengan keadaan seperti kita bagaimana harus dapat mengembangkan iptek kita dengan bujet yang minim tidak terlalu besar…..

    Seorang arsitek juga dituntut untuk merancang desain gedung yang sesuai dengan prinsip-prinsip mekanika, bukan hanya mendesain penampakannya semata

    Betul. Tetapi tidak seekstensif Teknik Sipil tentu saja…… Mudah2an kita ke depannya bisa mencetak insinyur2 di bidang lain bukan hanya di bidang teknik arsitektur entah kenapa rasanya kurang puas.:mrgreen:

    adalah sebuah sejarah panjang tentang mentalitet, yang latar belakangnya adalah kapitalisme, kolonialisme modern.

    Kalau masalahnya mentalitas saya setuju. Justru itu memang yang harus dibenahi. Tetapi kalau masalah kapitalisme, dan kolonialisme modern. Hmmm….. maksudnya nggak ngerti…. apa maksudnya kapitalisme dan kolonialisme modern itu mendorong atau menghambat perkembangan teknologi terutama dalam kasus china ini……

    Kemudian muncul pertanyaan, apakah masing-masing dari kita yang urun pendapat disini, bersedia menjadi agent of change, agar wacana-wacana yang muncul dari diskusi ini tak berhenti sampai disini?

    Hmmm… saya sudah sebenarnya dari dulu jadi agent of change untuk hal2 seperti ini. Tentu sesuai dengan kapasitas saya. Ingat, saya bukan orang yang punya pendidikan formal sains ataupun teknik. Saya hanya mencintai sains saja. Dan kecintaan saya ini sudah saya sebarkan bukan hanya kepada anak2 saya ataupun keponakan2 saya saja, tetapi juga buat mahasiswa2 ITB (bahkan ada yang mahasiswa pascasarjana pula!) yang banyak kos di dekat rumah saya. Kapan2 saya cerita deh mengenai mereka dan cara befikir mereka yang sedikit ‘menggelikan’ tentang cita2 mereka setelah lulus. Dan bagaimana saya berusaha merubah fikiran mereka. Kalau sekarang diceritakan terlalu panjang.:mrgreen: Nah, dengan banyak memuat artikel2 yang berbau sains, saya juga berusaha untuk memperkenalkan sains kepada orang2 awam. Kalau ada waktu lebih banyak tentu saya akan berbuat lebih banyak lagi. Nah, sekarang apa nih yang udah dilakukan mbak Yoga? Bukan teknisnya tentu saja, minimal mungkin dalam mengubah mentalitas seseorang terkait dengan masalah ini?:mrgreen:

    @Indah Sitepu

    Huehehe….. seimbang beratnya atau seimbang ringannya mbak?? **kaboor**

    @vizon

    Saya percaya orang diciptakan beragam termasuk bangsa kita ini. Dan saya juga percaya bahwa walaupun MUNGKIN jikalau bakat di bidang sains dan iptek kita jumlahnya rendah, dari jumlah yang rendah tersebut dapat kita maksimalkan agar mencapai hasil yang optimal.

    Kita tidak hanya bisa mengandalkan seni demi kemajuan bangsa. Semuanya harus semerata mungkin. Apakah anda bisa menemukan satu negara maju yang hanya bergantung dari seni saja?:mrgreen:

    @Edi Psw

    Yang benar otak kiri dan otak kanan harus seimbang. Jikalau otak kanan saja yang bekerja tetapi otak kirinya memblé, ya hasilnya sangat tidak bagus dalam bidang iptek. Kalau dalam bidang seni, mungkin otak kanan saja sudah cukup…🙂

    @Balisugar

    Kalau oon itu yang dominan otak tengah ya?? Huehehe… **kaboor**:mrgreen:

    @juliach

    Betul mbak. Jangankan menghargai kebudayaan kita. Wong banyak malah orang yang tidak menghargai nilai2 susila yang ada di tengah2 masyarakat. Mereka malah menghargai nilai2 susila yang ada di negara2 barat, seolah2 apa yang menjadi nilai2 susila di negara2 barat adalah sesuatu yang universal. Padahal mereka sebenarnya hanya kagum pada kemajuan yang dicapai orang2 barat, namun otak mereka tidak bisa mengikutinya sehingga yang ditiru hanya sebatas nilai2 susila saja yang gampang, sedangkan kemajuan mereka tidak bisa ditiru……😦

    Betul mbak S2 belum tentu progresif fikirannya, ya sama saja seperti bulé, nggak semua bulé juga berfikiran progresif….🙂

    @sitijenang

    Pembentukan karakter bukan hanya berdasarkan dikotomi pengusaha-pekerja saja.

    Siapa bilang sebuah bangsa yang menguasai iptek tidak bisa mengendalikan bangsa lain? Jikalau kita punya iptek, kita bisa mengendalikan dengan cara lain yang mungkin lebih kuat daripada bangsa yang hanya penuh dengan pengusaha saja. Lihat saja negara2 Arab, yang penuh dengan pengusaha tetapi miskin iptek, dikendalikan terus dengan negara2 barat yang punya iptek. Mana bisa mereka menggali minyak mereka tanpa teknologi dari negara2 barat?? Apa mereka mau menggali minyak pakai cangkul dan sekop?:mrgreen: Hasilnya… lihat saja negara2 Arab yang makmur seperti: Arab Saudi, UEA, Kuwait, Qatar semuanya adalah sahabat2 negara2 barat. Sedangkan mereka yang musuhan dengan negara2 barat seperti Suriah, Irak (zaman Saddam Husein), Libya semuanya ‘sengsara’…🙂 Nah, bisa sebutkan negara mana di dunia ini yang menguasai iptek tetapi ‘dikendalikan’ oleh negara lain yang hanya penuh dengan pengusaha tidak memiliki iptek??:mrgreen:

    @Raffaell

    Untuk masalah engineering yang harus berjalan adalah otak kiri dan otak kanan. Jikalau otak kiri kita kuat tapi tak ada kreativitas, sepertinya tidak akan berhasil. Begitu pula jikalau otak kanan jalan, tapi daya analisa dan logikanya lemah, ya tidak akan berhasil juga. Jadinya harus seimbang. Yang jelas daya kreativitas bangsa kita di bidang seni cukup berhasil. Namun di bidang iptek? Hmmm…. sepertinya belum begitu mencerahkan. Apa sebab? Rasa2nya butuh penelitian lebih lanjut nih…..🙂

  26. Kalau soal agent of change Mas Yari ndak diragukan. Tinggal sharing pengalamannya yang ditunggu. Saya dalam skala kecil di “inner ring” senang mengajak teman dan saudara, selain itu, dengan background pendidikan dibidang teknik dan pekerjaan yang sama, memungkinkan saya dan teman se divisi untuk up date dan terus memanfaatkan otak kiri dan otak kanan. Persoalan di proyek yang selalu muncul, baik soal engineering, management dsb, dan tak ada persoalan yang sama penyelesaiannya, justru memberikan keuntungan bagi kedua belah otak.

    Oh ya mas, kapitalisme di Indonesia saya salahkan karena menyebabkan bangsa kita jadi bangsa konsumer.

  27. kebanyakan orang terlalu berpikiran pragmatis dan oportunis. anggapan bahwa pendidikan di bidang eksak lebih baik daripada pendidikan non eksak seperti seni & humaniora juga masih kental melekat di masyarakat kita

  28. bukannya kebanyakan manusia lebih mengandalkan otak kirinya ??

  29. saya datang lagi dengan sejuta senyuman🙂
    salam kenal🙂

  30. Well, saya hanya menyampaikan suara dari beberapa murid, bukan dari saya sendiri pendapat itu. Saya sih ga masalah. *ga mau disalahin*:mrgreen:

  31. yah, sepertinya kita masih sering berburuk sangka terhadap pentingnya mengasah otak kanan dalam pendidikan formal. sekolah selama ini kan sering diartikan sebagai pengasah kemampuan otak kiri dengan asumsi bahwa di sekolah siswa belajar fisika, kimia, dan matematika. pelajaran berkesenian dan komunikasi masih kurang populer.

    terbukti juga dalam hal pemilihan jurusan dan sekolah. vocational study seperti sekolah keterampilan masih kurang diminati. walau bukan di indonesia saja, tapi di negara maju pendidikan sejarah dan sastra masih lebih punya tempat. mungkin kita sering berpikir bahwa belajar berkesenian dan mengasah naluri seni bisa dilakukan secara otodidak atau dari jalur nonformal, namun tidak untuk kemampuan yang melibatkan otak kiri. coba bandingkan, berapa banyak kursus privat yang mengajarkan matematika dan fisika dibandingkan subyek musik dan bahasa asing?

    intinya, kesadaran pribadi sudah ada, namun tak terpenuhi kalau hanya mengharapkan bangku sekolah, mas.

  32. @ pak Yari
    yg ngomongin dikotomi pekerja-pengusaha itu bukan saya… :p

    lha ini yg diomongin menguasai teknologi apa “sekadar” mau “makmur”? lha itu Arab Saudi gak menguasai bisa makmur, bukan? kita sumber daya alam banyak, menjadi sahabat barat juga, tapi sengsara juga… apakah ilmuwan bangsa kita belum menguasai teknologi apapun? menurut saya sih sudah… tapi yg Anda maksud menguasai teknologi yg bigimana?:mrgreen:

  33. ………dari beragam artikel tentang rahasia belahan otak kiri dan kanan yang pernah saya baca…….sekurang-kurangnya ada 4 terminologi normatif…….. yakni kedua potensi otak itu harus digunakan secara (1) seimbang, (2) optimal, (3) integrasi, dan (4) bersama-sama…….yang masih menjadi pertanyaan adalah masih kurangnya informasi dalam bentuk artikel teori dan empiris hasil penelitian……tentang apa ukuran dan bagaimana mengukur ke-empat hal itu……. termasuk apa kriteria dan indikatornya……. kalau sudah diketahui maka kajian akademik berikutnya yang menarik……. adalah bagaimana kaitannya dengan proses pembelajaran untuk tiap tingkat pendidikan nasional……apakah ke-empat hal itu dapat diterjemahkan dalam bentuk model kurikulum……..seperti tujuan pembelajaran, ramuan mata ajaran dan bobotnya, dan metode pembelajarannya serta lamanya pembelajaran………kemudian sudahkah dilakukan penelitian tentang pendekatan 4 hal itu kaitannya dengan kemampuan bangsa ini misalnya dalam menciptakan dan mengembangkan teknologi baru di satu sisi dan di bidang kreatifitas dan seni budaya di sisi lain,…… disinilah diperlukannya kolaborasi akademik dan ilmiah setidak-tidaknya antara para ilmuwan pendidikan, psikologi, dan ahli syaraf, untuk menjawab hal-hal di atas……..bagaimana mas Yari?

  34. @Yoga

    Kalau kapitalisme memang sangat memungkinkan sebuah bangsa menjadi konsumerisme. Tetapi apakah hal tersebut dapat menghambat perkembangan iptek pada sebuah bangsa? Nah… itu yang harus diselidiki lebih lanjut lagi. Kalau memang kapitalisme menghambat perkembangan iptek (atau minimal menghambat perkembangan otak kiri sebuah bangsa) tentu bangsa yang kapitalis akan miskin iptek semua. Jangan-jangan ini lagi-lagi masalah mentalitas…….

    Ya…. kapan2 tentu akan saya share di waktu dan di topik yang tepat….. karena di kepala saya sekarang masih ada ratusan ide atau tema yang bisa dijadikan topik buat blog ini, minimal saya nggak kehabisan ide untuk setahun ke depan untuk blog ini. Hanya kemalasan menulis dan force majeure saja mungkin yang akan membuat saya berhenti menulis di blog ini. Huehehehe….

    @ardianzzz

    Nyatanya…. kita di bidang seni dan humaniora lebih jago daripada di bidang iptek, tuh…🙂

    @okta sihotang

    Hmmm… nyatanya otak kanan kita dalam bidang seni, nggak terlalu gagal-gagal amat. Justru dalam bidang iptek yang lebih melibatkan otak kiri, kita malah lebih “terbelakang”.😦

    @tukyman

    Salam kenal juga….. **sambil tersenyum juga**🙂

    @Alias

    Yaa… baguslah kalo begitu…. nggak usah ikut2an ngeributin kurikulum.:mrgreen:

    @marshmallow

    Maksudnya…. bagi yang lebih banyak “melibatkan otak kiri” tidak perlu hanya sebatas pendidikan formal saja? Saya kira memang begitu…….. itulah memang yang terjadi di negeri ini. Masalahnya apakah kita harus “menambah porsi subjek2 yang bernuansa otak kiri” di sekolahan formal, untuk meningkatkan kemampuan otak kiri kita? Apalagi mengingat bahwa faktor2 lain yang eksternal yang dapat ‘meningkatkan kemampuan otak kiri kita’ lebih sebagai ‘kartu mati’ minimal untuk situasi saat ini……

    @sitijenang

    siapa yang bilang ngomongin masalah ‘makmur’. Yang jelas, dengan menguasai iptek sebuah negara akan bisa makmur dan yang paling penting adalah maju. Sebutkan saja negara yang tidak menguasai iptek tetapi terbelakang dan tidak makmur?

    Ilmuwan kita memang sudah relatif banyak menguasai iptek tetapi kurang terutama dalam implementasinya, karena iptek di negeri ini masih belum mendapat tempat minimal jikalau dibandingkan manajemen bisnis, hukum dan politik.

    @sjafri mangkuprawira

    Nah itu dia prof…. apakah kolaborasi tersebut selama ini belum ada ya? Apa sudah ada hanya saja kurang terintegrasi? Tetapi saya setuju prof…. seharusnya penelitian2 tersebut harus dapat diintegrasikan dan dapat diterjemahkan (dijadikan) menjadi sebuah model kurikulum agar dapat diterapkan. Model kurikulum ini harus dapat mengakomodasi bobot pembelajaran otak kiri dan otak kanan yang ‘sesuai’ dengan mentalitas bangsa Indonesia. Agar bangsa kita dapat berjaya di bidang iptek tanpa melupakan kreativitas di bidang seni dan budaya tentu saja……..

  35. kalau saya berpikir bahwa masalahnya ada di karakter pak. bukan di kekuatan otak. tantangannya adalah bagaimana pendidikan kita benar2 mendidik, sehingga membentuk karakter pejuang, pemenang, pengkreasi, pembuka lapangan usaha, dan karakter solutif-solutif lainnya.

    ___________________________

    Yari NK replies:

    Harus berimbang. Kekuatan otak juga perlu. Coba saja sebutkan negara mana di dunia ini yang maju yang tidak memakai kekuatan otak? Jadi harus berimbang antara kekuatan otak (kiri) dan juga pembentukan karakter dan kekuatan otak kanan…..🙂

  36. kang..
    Kurikulum spektrum pa sdh di terapkan di SmK skrg…
    and tujuan kedepan setelah diberlakukannya kuikulum trsebut… bls

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s