Bagaimana Membiasakan Diri dengan Satuan Pengukuran “Asing”?

Thermometer digital

Thermometer digital

Di dunia ini ada dua macam sistem pengukuran yang dipakai luas yaitu: sistem pengkuruan metrik yang berasal dari Perancis serta sistem pengukuran imperial yang berasal dari Inggris. Sistem pengukuran metrik kini hampir merajai seluruh dunia termasuk penggunaannya di negeri kita ini. Sedangkan sistem pengukuran imperial sudah ‘terdesak’ penggunaannya. Satu-satunya negara besar yang masih menggunakan sistem imperial ini secara luas adalah Amerika Serikat. Negara-negara lain yang masih menggunakan sistem imperial ini secara luas adalah: Belize (di Amerika Tengah), beberapa negara di laut Karibia bekas jajahan Inggris, Myanmar di Asia serta Liberia di Afrika. Sistem metrik seperti yang kita kenal menggunakan satuan kilometer, meter, sentimeter dan milimeter (ukuran panjang dan tinggi). Kilogram, gram, miligram (ukuran berat), liter, mililiter (ukuran isi) serta oC (ukuran temperatur). Sedangkan sistem imperial menggunakan mil, yard, kaki, inci (ukuran panjang dan tinggi), pon dan ounce (ukuran berat). Galon, fl. oz., quart, pint (ukuran isi dan kapasitas) serta oF (ukuran temperatur).

Walaupun penggunaan sistem imperial masih sangat meluas di Amerika Serikat, namun sejak 2008 ini AS telah resmi mengadopsi satuan metrik sebagai satuan resmi yang dipakai. Sedangkan di negara asalnya Inggris, sistem imperial sendiri sudah lama ‘terdesak’ oleh sistem metrik sebagai konsekuensi bergabungnya Inggris ke dalam Uni Eropa walaupun ada sekelompok masyarakat fanatik di Inggris yang masih mencoba mempertahankan tradisi penggunaan sistem imperial ini. Saya banyak menemui orang Amerika (baik secara offline maupun secara online) yang masih merasa sulit untuk beradaptasi dengan sistem pengukuran metrik yang dianggapnya masih “asing” ini. Sebenarnya mengkonversi antara sistem metrik dan sistem imperial ini sangat mudah, apalagi dengan adanya program-program konversi  untuk PC ataupun untuk ponsel lewat aplikasi J2ME-nya. Namun karena justru terasa mudahnya, orang malah “terjebak”. Mereka hanya pintar mengkonversikan saja tetapi tetap tidak terbiasa dengan sistem pengukuran ‘asing’ tersebut. Nah, yang disebut ‘terbiasa’ di sini adalah bukan dengan jalan mengkonversikannya namun dengan membayangkan berapa panasnya suatu suhu tanpa mengkonversikannya. Contohnya adalah mereka dapat mengetahui secara langsung tanpa menghitungnya/mengkonversikannya seberapa panasnya sih 26oC itu, ataupun seberapa panasnya sih 85oC itu. Sama halnya dengan kita yang terbiasa dengan skala Celsius, kalau kita bisa membayangkan berapa panasnya 76oF atau 160oF tanpa harus mengkonversikannya ke skala Celsius, maka itu berarti kita sudah terbiasa dengan skala Fahrenheit yang merupakan satuan ukuran imperial.

Lantas bagaimana caranya agar kita ‘terbiasa’ dengan satuan ukuran yang ‘asing’ bagi kita? Pepatah “alah bisa karena biasa” adalah quote yang ampuh untuk diikuti dalam kasus ini. Nah, bagaimana untuk menjadi biasa? Mari kita ambil dua contoh berikut ini:

Contoh dalam pengukuran tinggi badan atau jarak:

Misalkan kita ingin pergi dan menetap lama di Amerika Serikat, lantas kita ingin membiasakan diri kita dengan sistem imperial ini. Apa yang harus kita lakukan? Misalnya anda mendapatkan informasi bahwa teman anda orang Amerika mempunyai tinggi badan six-foot-four (enam kaki dan empat inci). Untuk mengetahui berapa tingginya tentu kita tinggal mengkonversikannya saja ke dalam sentimeter, beres! Namun untuk membuat anda terbiasa dengan satuan kaki dan inci, sebaiknya anda tidak melakukan hal tersebut. Yang anda lakukan tentu saja membandingkannya dengan obyek lain! Pertama-tama ukurlah badan anda sendiri dengan menggunakan satuan kaki dan inci. Misalkan ternyata tinggi anda adalah five-foot-ten (lima kaki dan sepuluh inci), maka kini anda mulai dapat membayangkan seberapa tingginya teman anda yang six-foot-four itu. Setelah anda mengukur diri anda sendiri, anda kini dapat mengukur tinggi adik, kakak dan teman-teman anda dengan satuan kaki dan inci. Dan jangan pernah sekali-sekali mengkonversikannya ke dalam sentimeter. Semakin banyak anda melakukan sampling, akan semakin terbiasa anda. Nah, sekarang anda dapat membayangkan berapa tinggi badan six-foot-four tersebut dengan mengukur tinggi badan anda sendiri dan juga tinggi badan teman-teman anda. Jikalau perlu, ukurlah tinggi badan teman-teman anda secara variasi. Ukurlah tinggi teman anda yang sangat jangkung dan yang sangat pendek. Semakin bervariasi semakin akan mudah anda untuk terbiasa dengan sistem pengukuran ‘asing’ ini.

Contoh dalam pengukuran temperatur:

Misalkan anda mendapatkan informasi lain bahwa temperatur udara di tempat tinggal teman anda di Amerika Serikat saat ini adalah 45oF. Untuk mengetahui berapa panas atau dinginnya temperatur atau suhu tempat tinggal teman anda tersebut anda tinggal mengkonversikannya ke dalam oC, beres! Namun untuk membiasakan diri anda sebaiknya tidak melakukan konversi tersebut. Untuk membiasakan diri, anda sebaiknya membandingkannya dengan temperatur di tempat-tempat lain atau temperatur obyek-obyek lain. Anda dapat memulai dengan mengukur suhu di tempat anda tinggal. Misalkan suhu di tempat anda adalah 79oF. Nah, kini anda dapat mulai membayangkan seberapa dingin suhu tempat tinggal teman anda. Untuk lebih bisa membayangkannya lagi, ukurlah suhu di dalam lemari es anda dan juga suhu di dalam freezer lemari es anda. Bacalah suhunya dalam oF dan jangan sekali-sekali anda membaca skala oC-nya. Sehingga anda akan terbiasa. Lalu ukurlah suhu air mendidih yang baru dimasak dan bacalah suhunya dalam oF. Ukur juga suhu air tersebut setelah 15 menit dan baca suhunya juga dalam derajad Fahrenheit. Lalu anda dapat mengukur juga suhu badan anda sendiri dan sebagainya. Untuk membantu anda membiasakan diri dengan derajad Fahrenheit ini ukurlah suhu-suhu yang ekstrim baik yang sangat panas ataupun yang sangat dingin. Dengan mengukur suhu-suhu yang ekstrim akan sangat membantu anda untuk membiasakan diri dengan satuan suhu yang masih terasa ‘asing’ bagi anda.

Nah, sekarang apa kesimpulan yang dapat ditarik?
Mudah saja: Untuk memudahkan anda membiasakan diri dengan satuan-satuan pengukuran yang masih ‘asing’ ukurlah sebanyak-banyaknya benda (baik dimensinya, beratnya, suhunya, dan sebagainya) dengan satuan pengukuran yang ‘asing’ tersebut dan jikalau bisa ukurlah benda-benda yang dimensinya ekstrim seperti: yang tinggi sekali, yang pendek sekali, yang panas sekali, yang dingin sekali, yang berat sekali, yang ringan sekali dan sebagainya. Dan kalau bisa, jangan anda sekali-sekali mengkonversikannya ke dalam satuan yang biasa anda pakai. Dengan begitu, saya yakin lama-kelamaan anda akan terbiasa…..

Iklan

21 responses to “Bagaimana Membiasakan Diri dengan Satuan Pengukuran “Asing”?

  1. Rajin amat, Om. Pagi-pagi dah posting aja. 😉 Iya tuh. Kadang suka belum biasa pakai satuan imperial. Ngomong-ngomong, kalau pelajaran kaya’ Fisika gitu di Amerika sana, pakainya satuan metrik atau imperial, Om?

  2. brarti kalo ada teman bule yg ngomong tungku itu 200Fahrenheit maka kita harus nyemplung kdalam tungku spy terbiasa dan bs ngukur ya pak ?? okeh2

  3. Spt misalnya dng panjang diagonal layar tv kita sdh biasa membayangkan besar kecilnya layar tsb tanpa hrs mengetahuinya dlm cm. Spt itu contohnya ya mas yar?

  4. Beruntung aku tinggal di Perancis, jadi masalah. Hanya agak bermasalah pada jam saja: biasanya kita bilang jam 2 siang dan di sini jam 14. Walaupun begitu tak terlalu masalah, hanya harus berpikir sedikit.

    Masalah inch dan feet: tak jadi masalah pula karena pernah bekerja di perusahaan kayu milik orang amrik.

    Cuma kalo ada teman yg menceritakan perjalanannya ke Amrik/Inggris suka keder, merekapun juga. Jadi harus mengeluarkan kalkulator.

  5. emang perlu belajar dan mencatat konversi2nya terutama ketika baru menggunakan pengukuran asing itu…
    biasanya saya selalu mencatat, berapa ukuran normal, berapa perbandingannya, berapa ukuran tertingginya, jadi kadang tinggal memperkirakan 😀 hehehe
    walau kadang salah tapi itu pentingnya pertama dicatat aja 😀 hehe
    terima kasih pak tips2nya

  6. Hmmm,
    Terus terang, banyak nya jenis satuan bikin mabok juga ya, sampe di US/Eropa satuan kecepatanya rata2 mph dan suhu jadi fahrenheit… jadi membingungkan, gimana nggak jadi 1 aja ya ?

  7. “jikalau bisa ukurlah benda-benda yang dimensinya ekstrim seperti: yang tinggi sekali, yang pendek sekali, yang panas sekali, yang dingin sekali, yang berat sekali, yang ringan sekali dan sebagainya.”

    Ketika membaca kalimat di atas itu, Pak Yari, yang terbayang olehku justru bagaimana mengukur yang cantik sekali, yang ganteng sekali, yang manis sekali, yang tampan sekali. Hihihi.

    Oke, soal adaptasinya boleh-boleh saja. Namun, ada pula lebih baiknya jika kita menunggu (baca: mendesak!) orang Amerika cepat-cepat beradaptasi dengan sistem pengukuran metrik. 😉

    (Thanx atas tulisan yang bermanfaat, Pak Yari).

  8. sebagai mahasiswa teknik, saya selalu memakai satuan yang berbeda2. Tapi intinya sama aja.

  9. hem… bener juga neh caranya…
    sipp dah…

  10. @Alias

    Wah jam setengah 7 kok masih pagi sih?? Wong azan subuhnya aja di sini 4.15 WIB hehehe…..

    Di Amrik sono, orang2 yang belajar Fisika atau sains lainnya diwajibkan mempelajari sistem metrik.

    @mantan kyai

    Sampeyan mau latihan nyemplung ke dalam air yang suhunya 200°F ? Buat latihan untuk “bekal” di akhirat nanti ya?? Huehehe….. :mrgreen:

    @AgusBin

    Yup…. betul sekali….. contohnya adalah layar televisi. Kita sudah bisa membayangkan berapa ‘besar’nya sebuah layar televisi dengan menyebutkan kata 14 inci atau 20 inci atau 29 inci saja. Kita nggak perlu mengetahuinya dalam centimeter…..

    @juliach

    Wah iya kalau di Perancis orang menyebutkan waktu dengan sistem 24 jam ya mbak? Malah jarang orang Perancis yang menyebut du matin, de l’après midi atau de nuit ya mbak? Tetapi di kita juga suka memakai sistem 24 juga loh…. Kalau jadwal acara2 di TV terkadang disebutkan acara ‘anu’ dimulai pukul 19.00 WIB dst…..

    @aRuL

    Ya… pertama2 memang sebaiknya kita mengetahui berapa nilai ekuivalennya 1 unit tersebut dengan unit yang kita kenal atau sebaliknya. Dan juga tidak ada salahnya untuk mengkonversikannya. Tetapi jikalau kita ingin membiasakannya, kita harus bisa membayangkan berapa tingginya atau berapa panasnya atau berapa beratnya benda tersebut tanpa harus mengkonversikannya….. 🙂

    @Raffaell

    Mangkannya sekarang sistem pengukuran akan dijadikan satu saja. Terutama untuk kepentingan komersial. AS tahun ini sudah resmi mengadopsi metrik sebagai satuan resmi yang dipakai.

    @Daniel Mahendra

    Huahaha…. mas Daniel mau membuat skala pengukuran kegantengan ataupun kecantikan?? Nanti satuannya diusulkan °D atau ‘derajad Daniel’. Bagaimana, setuju? :mrgreen:

    Ya betul…. agar mencapai keseragaman kini AS sudah resmi mengadopsi metrik sebagai satuan pengukuran walau penggunaan sistem imperial masih dipakai secara luas. Memang butuh waktu yang mungkin sangat lama bagi penduduk AS untuk terbiasa menggunakan sistem metrik, tetapi langkah pemerintah AS tersebut sudah merupakan sebuah ‘kemajuan’…….

    @jujungpurba

    Terkadang memakai satuan yang berbeda2 sangat ‘fun’ bagi sebagian orang. Namun ada juga yang susah sekali beradaptasi, jangankan di negara kita, di AS saja masih banyak yang seperti itu………

    @ma2nn-smile

    Ok…. siip juga dah kalo gitu…. 😀

  11. Kapan ya satuan “made in dalam negeri” bisa go international…??

  12. Ah ini sama dengan belajar Bahasa, diubah dulu mindset-nya, cerdik. Sama halnya, saat baru mengenal sistem metrik ketika masih kecil, dengan “isi kepala yang masih kosong”, justru pengenalan sistem ini jadi mudah, yang bikin sulit karena ada blocking/penolakan karena informasi sistem lama yang biasa dianut masih belum di off-kan.

    Thanks Mas.

  13. tips yg bagus..
    wuokeh..tak praktekan .. wkwk
    thx.. XD

  14. Ide yang menarik. Bisa dibayangkan kalau setiap waktu akan mengukur, harus mengkonversi. Berabe 😀 Apalagi sekarang saya lagi belajar memasak masakan bule, suka nggak kebayang seberapa banyak bahan makanan dalam satuan .oz

  15. @Toto

    Wah… sepertinya harapannya udah tertutup tuh. Bukan saja untuk Indonesia tetapi untuk negara2 maju lainnya seperti Jepang, Jerman dan lain-lainnya, sudah kedahuluan oleh metrik. Tetapi tidak mengapa. Yang penting adalah keseragaman di seluruh dunia dalam pengukuran, apalagi keseragaman ini penting demi kepentingan komersial dan ilmiah.

    @Yoga

    Ya betul sekali, seperti belajar bahasa. Tetapi seperti halnya bahasa juga, salah satu tidak perlu di-off-kan sama sekali untuk belajar yang baru. Hanya perlu ‘sedikit dinonaktifkan sementara’ untuk memberi jalan kepada standard yang baru untuk mengambil tempat di otak kita….. 🙂

    @sally

    Nggak perlu. Sally kan udah terbiasa metrik. Kecuali mungkin nanti kalau Sally ingin belajar atau menetap di Amrik sono…. 🙂

    @Ratna

    Nah, solusinya gampang mbak, beli aja timbangan dapur yang ada skala ounce (oz)-nya. Dengan begitu pekerjaan lebih mudah dan kita akan terbiasa dengan skala ounce. Sambil menyelam minum air kan? 🙂

  16. Kita merasa enggan untuk menggunakan satuan pengukuran sistem imperial karena mungkin sejak di bangku sekolah yang diajarkan adalah pengukuran sistem matrik, Pak. Sehingga kita sudah terbiasa menggunakan sistem metrik. Tapi kalau ditelaah lebih jauh, kira-kira enak mana ya pak sistem matrik dengan imperial itu?

  17. Mmm… malah saya ingin bisa dua-duanya… 😀

  18. cara membiasakannya yaitu dengan cara dipake terus2an 🙂 hehehe

  19. Ah aku puyeng kalau disuruh ngitung 😆

  20. @Edi Psw

    Sebenarnya kita tidak perlu mengenal satuan imperial pak. Walaupun mengetahui satuan imperial akan sangat menguntungkan. Kecuali mungkin jikalau seseorang ingin tinggal dan menetap di Amrik sana…….

    @mathematicse

    Justru malah bagus itu…… 😀

    @Bambosi

    Betul sekaleee…… sesuai dengan pepatah ‘alah bisa karena biasa’. 🙂

    @Reni Jagger

    Ya udah… minum Bodrex sana….. 😀

  21. besok kalo ke puskesmas, ukur suhu badan, nanya ma perawatnya begini ah : “berapa fahrenheit ya suhu badan saya?” *langsung dikeprukin si perawat paling2* heheheu…

    _____________________

    Yari NK replies:

    Masih mendingan mbak…. daripada bilang begini…. “suster, ukur suhu badan saya dong, tapi ngukurnya pakai thermometer tembok ya??” Wakakakak…… 😆
    **apa hubungannya yak?**

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s