“Keanehan” Seorang Wong Cilik……

Postingan ini berdasarkan kisah nyata, tetapi nama-nama pelaku disamarkan untuk menghormati privacy yang bersangkutan. Artikel ini bercerita mengenai seorang tukang bubur ayam dan keluarganya yang sebenarnya bubur ayamnya lumayan enak, karena itu jikalau ada kesempatan di hari Minggu pagi, jikalau saya dan keluarga berjalan-jalan ke Gasibu (yang di hari Minggu sangat ramai), saya sering menyempatkan diri mampir di tukang bubur ayam tersebut sekaligus sarapan, walaupun tidak setiap minggu. Tetapi postingan ini bukan untuk menceritakan bubur ayam dagangannya tetapi untuk menceritakan cara si tukang bubur tersebut “mendidik” anaknya yang menurut saya sangat “lucu” dan “aneh” sekaligus menyebalkan. Begini ceritanya…….

Si mang bubur ayam ini sebenarnya setiap hari berjualan di dekat sebuah bank pemerintah dekat ITB. Namun setiap hari minggu, bersama istrinya, si mang bubur ini berjualan di Gasibu karena lebih ramai di sana. Untuk itu setiap hari Minggu si mang bubur dan istrinya dengan susah payah mendorong gerobak bubur yang cukup berat itu dari rumahnya ke lapangan Gasibu yang jaraknya lumayan jauh itu sejak dini hari pukul 3.30. Mungkin karena kerja kerasnya ini, si mang bubur boleh dikatakan cukup berhasil setidaknya diukur dari barometer seorang tukang bubur. Ia berhasil menyekolahkan anak2nya dengan baik. Bahkan anak tertuanya, laki-laki, sudah kuliah di STBA di Jalan Cihampelas jurusan Bahasa Inggris. Namun sayang sepertinya keberhasilannya secara ekonomi, tidak diikuti dengan keberhasilan si mang bubur ‘mendidik’ anak-anaknya. Kenapa?

Nah, hal tersebut berkaitan dengan anak laki-lakinya yang kuliah di STBA tersebut. Suatu hari saya bertanya: “Kenapa anak laki-lakinya yang kuliah di STBA tidak pernah membantu orang tuanya berjualan? Minimal kenapa sang anak lelaki tidak pernah membantu orang tuanya mendorong gerobak bubur?”. Dengan polos jujur si mang bubur menjawab bahwa anaknya malu ikut berjualan bubur apalagi jikalau hal tersebut diketahui oleh teman-teman kampusnya. Saya sampai bengong saja mendengar jawaban tersebut. Dan saya lebih bengong lagi ketika orang tuanya setuju dengan alasan si anak dan membiarkan anaknya berleha-leha dan tidak perlu membantu orang tuanya berjualan bubur.

Bukan itu saja. Si anak juga dibelikan Nokia N81 yang cukup mahal walaupun barang seken. Padahal orangtuanya cukup ber-HP Esia yang harganya ‘hanya’ ratusan ribu. Mula-mula aku nggak mau berburuk sangka dulu. Aku hanya berfikir pasti si anak sangat istimewa, minimal mungkin prestasinya di kampus luar biasa. Ya, jikalau si anak benar ‘istimewa’, tidak heran jikalau orang tua memanjakan anaknya seperti itu walau dengan alasan yang kurang masuk akal.

Namun bagaimana kenyataannya? Di hari Minggu, dua minggu yang lalu, saya berkesempatan bertemu dengan sang anak di Gasibu yang sangat terpaksa menemani sang ayah berjualan di Gasibu karena istri mang bubur tengah ada keperluan keluarga. Itupun si anak duduknya berjauhan dengan ayahnya yang berjualan bubur sambil memainkan HP-nya yang canggih tersebut.

“Oh ini anaknya toh……” fikirku dalam hati. Lalu aku dekati sang anak. Karena ia sekolah di STBA jurusan Bahasa Inggris, lalu aku mengajaknya berbicara dalam Bahasa Inggris. Ternyata dia cuma bengong saja tidak mengerti dan dijawab dengan satu dua kata dalam Bahasa Inggris dasar. Aku terkejut dan ‘kecewa’ karena ternyata sang anak sama sekali tidak istimewa dalam studinya. Setelah ‘diselidiki’ lebih lanjut ternyata diapun masih sangat kesulitan dalam mengerti tata bahasa dasar Bahasa Inggris.

Aku semakin tidak habis berfikir. Ini anak sudah “bego”, gengsinya tinggi, materé (materialistis) pula! Andaikan “bego” ya nggak apa-apa, tetapi ya jangan gengsinya tinggi ataupun materé. Atau gengsi tinggi dan materé boleh-boleh aja, tapi prestasinya minimal di kampus bisa dibanggakan. Jangan kebobrokan diborong semua! Saya sadar, bahwa mang bubur dan istrinya tidak berpendidikan tinggi, mungkin karena itulah mereka tidak bisa “mendidik” anaknya dengan baik. Tapi apa iya sih, mendidik anak supaya minimal berbakti kepada orang tua membutuhkan orang tua yang berpendidikan tinggi? Nggak tahu deh…….!

Iklan

33 responses to ““Keanehan” Seorang Wong Cilik……

  1. iku wong cilik seng mentale cilik pisan yo pak yari. ohmaigot. sangat khas indonesyah 😀

  2. Nah, nah yang “patah hati” jadinya Mas Yari 😀

  3. ya..itulah kehidupan, banyak hal bikin kita menggelengkan kepala..

  4. apa mungkin kebanyakan makan bubur????
    pesan moralnya: jangan makan bubur di gasibu.. kekekeke

  5. Kadang saya berpikir: setiap orang yang mau jadi orangtua itu wajib punya lisensi dan sebelumnya dites dulu. Kalau gagal tes, mereka harus ‘dikuliahi’ selama sekian semester mengenai bagaimana cara membesarkan anak dari A sampai Z. Lalu nantinya setiap 5 tahun sekali mereka harus sertifikasi ulang untuk melihat sejauh mana mereka update dengan metode mendidik anak yang terbaru. Kalau gak lolos… ya ditatar lagi. 😀

    *terlalu banyak mengkhayal*

    Ah, anak itu mengingatkan saya akan suatu slogan yang sedihnya masih banyak dianut orang: “Biar miskin, yang penting sombong!” 😕

  6. Huh mudah2an negri ini ga dipenuhi generasi2 spt itu ya. Pejabat yg korup lahir dari rakyat yg mentalnya korup juga.

  7. ada banyak harapan2 orang tua kepada anaknya, mungkin cara berfikir ortu itu seperti demikian..
    seperti halnya orang yang berkasih-kasihan, kadang ada terjebak tersiksa, sedangkan pasanganya dalam kondisi berleha2…
    itu kali namanya hidup pak yakz…
    btw ortunya itu pasti melankolis banget… betul ngak catshade? wekekek 😛

  8. miris sekali pak.

    perihal karakter anak tentu ada saham orang tuanya. tapi untuk si anak, lingkungan sepertinya lebih menentukan karakternya.

    baiknya di suruh berusaha saja. gak perlu lama2 belajar bahasa inggris, kalau sama orang tua sendiri malu.

  9. wew bayangpun kalau hal tersebut diatas menjadi sesuatu yg umum… gak tau deh..
    beruntung aku bisa bersyukur meski cuma pake nokia 1112 wekekekek…..

  10. Tuch anak pasti tidak pernah ditembangkan serat “Wulang Sunu”, echhhh orang tuanya aja kali ga tau ding….
    Itulah fungsinya orang tua, yach paling tidak ngerti ilmu hidup dikit dikit..
    salam kenal pak Yari!

  11. sifat orang indo sekarang sudah berubah dari sifat kearifan nenek moyang. Akibat pembangunan nation character building yg gagal. Sehingga gak heran kl wong cilik gayanya pengin jd wong gede, dan wong gede sukanya gencet wong cilik, apa kata dunia….???

  12. Kasihan ya sang orang tua (tukang bubur tersebut). Anaknya gengsian, mungkin akibat didikan salah dari orang tua (orang tua memberi contoh kegengsian yang tidak pada tempatnya). 😦

    Ah, sungguh beruntung bagi mereka yang orang kaya, hidup makmur tiada kurang, memiliki anak yan g sholah dan sholehah, dan berbakti pada orang tua, keluarga, dst. 😀

  13. Apa Kabar Kang? Kalau yang ini sudah sering juga saya jumpai.Kang, menurut pendapat saya, justru dari begonya anak tukang bubur itu tingkahnya seperti itu.Coba kalau ia cerdas, pasti ia dapat berpikir logis dan low profil. Kalau ayah saya tukang bubur yang dapat menyekolahkan saya sampai ke bangku kuliah berarti bokap saya orang hebat yang harus saya hargai banget.Itu kalau kita cerdas. Kalau bego berpikirlah terbalik pula, mungkin bisa seperti ini : ” Saya mahasiswa STBA mana pantas dapat bokap tukang bubur, cocoknya minimal anak direktur.” Makanya ia malukan dapat bapak tukang bubur yang sudah menyambung nafasnya sekian puluh tahun karena memang ia bego, udah terbukti sendirikan begonya oleh Kang Yari, ha3.Anak bego seperti ini biasanya banyak tuntutan. Penyebab kurangnya intelektual anak memang condong dipengaruhi oleh orang tua yang sering memanjakan anak. Anak sering dibantu ini itu. Padahal anak itu harus dimotivasi untuk memecahkan dan dibimbing untuk menghadapi berbagai masalah. Kadang saya juga heran loh lihat anak2 yang malu mempunyai ortu yang menjalani profesi tertentu, padahal justru orang lain yang menghormati dan menghargai ayah mereka.Rasanya kalau bapaknya kaya dari hasil korupsi kog tidak malu ya.Cilaka.Terima kasih Kang.

  14. hhmm tah nukieu kang anak yang ga bisa bersyukur …… disatu sisi ortu nyari duit dengan keringat siang malam disatu sisi ada anak yang ga berterima kasih….aduh aya aya wae

  15. Sebetulnya tadinya mau kasihan sama Bapak penjual bubur itu, tapi salah juga beliau juga, nggak bisa ngasih pengertian ke anak. Ah atau cara berpikirnya yang aneh kali, anaknya sengaja nggak disuruh bantuin jual bubur biar nasibnya beda? Susah dipercaya, kok bisa, saya menerka-nerka begitu 😀 …

  16. Wah… Mudah-mudahan kalau saya punya anak nanti, ga bakal begitu anaknya. Mudah-mudahan dapat anak yang dapat berbakti pada kedua orang tuanya, yang dapat membanggakan kedua orang tuanya. Amiin…

    Hmm… Berarti saya juga harus begitu sama orang tua saya ya?

  17. Saya hidup sebagai wong cilik Pak Yari, jadi biasa melihat fenomena tersebut.

    Benar juga kata Mbak Yoga, bisa jadi si orang tua tidak mau menyuruh anaknya membantu jualan, karena tidak ingin anaknya bernasib sama. Banyak orang tua yang berpikir seperti itu.

    Pak, menurut Pak Yari, karena bodoh orang jadi miskin atau karena miskin orang jadi bodoh?

  18. itu namanya anak nglunjak ga tahu di untung…. dan begonya dipelihara pulak

  19. ada 2 kemungkinan, kalo ga’ salah asuhan ya memang anaknya yang agak-agak.. 🙂

  20. @mantan kyai

    Ya… betul sangat khas indonesyah…. tetapi bukan karena kebanyakan makan bubur ayam, wong saya sering makan bubur ayam juga nggak indonesyah-indonesyah gitu-gitu amat…. :mrgreen:

    @Yoga

    Bukannya “patah hati” tetapi “menggelikan” dan “heran 200%”. Hehehe….
    Huehehe… betul sekali…. mungkin cara berfikirnya yang ‘aneh’ dan bisa jadi seperti itu. Apakah itu ada hubungannya dengan pendidikan formalnya yang rendah? Nah… itu pertanyaannya… 😀

    @Aria Turns

    Bukan hanya menggelengkan kepala tetapi juga berdecak keheranan…. 😀

    @Catshade

    Huehehe……. Sertifikasinya bayar nggak? Soalnya nanti kalau di Indonesia kalau sertifikasi orang tua dipungut biaya bisa jadi lahan subur buat korupsi tuh. Satu masalah ‘hilang’, satu masalah baru ‘timbul’. 😀

    @AgusBin

    Amit2. Mudah2an nggak seperti itu. Kasihan banget bangsa ini jikalau generasi mudanya punya mental seperti itu…. 😦

    @aRuL

    Oooo… itu menandakan ‘sayang’ anak ya?? Tetapi kan…..kenyataannya hal seperti itu lebih ‘menjerumuskan’ si anak. Tapi itulah…. terkadang manusia memang aneh…. 😀

    @arifrahmanlubis

    Mau usaha apa?? Wong dia mbantu ayahnya jualan bubur aja malu. Dia sih maunya usaha yang modalnya besar. Kalau usahanya kecil macam jualan bubur begitu, ya mana dia mau. Itu dia sedihnya….. 😦

    @ardianzzz

    Ya nggak apa-apa, kualitas seseorang kan nggak diukur dari HP-nya. Tapi omong2 mas ardianzzz ngomong begitu bukan karena nggak belum mampu beli HP baru kan?? Wakakakak….. just kidding 😆

    @Ngabehi

    Wah….dengan tembang bisa memperbaiki mental si anak yah? Wah info baru nih…. huehehe…. 😀

    Salam kenal juga…. dan terims ya telah mampir di blogku…. 🙂

    @Resi Bismo

    Kalau keinginan untuk jadi wong gede disalurkan dengan cara yang benar sih malah bagus ya mas? Sayangnya seringkali wong cilik kita senang menjadi wong gede dengan cara yang pintas. Lihat aja tuh daging kurban Idul Adha yang lalu, banyak pedagang2 kecil yang ikut memburu daging kurban untuk dijual kembali, padahal yang berhak kan fakir miskin yang benar2 membutuhkan. Ya itulah mental bangsa kita…… Sewaktu jadi wong cilik sudah begitu, udah jadi wong gede ya tahu sendiri deh…. 😀

    @mathematicse

    Ada yang perlu ditambahkan sedikit. Hidup kaya dan makmur dari hasil yang halal bukan dari hasil korupsi. Begitu kan? 😀

    @Yung Mau Lin

    Benar sekali mas Yung Mau, kebegoan si anak ditambah dengan orang tua yang tidak bisa mendidik ditambah lagi dengan lingkungan konsumtif dan terlalu materialisme. Jadilah si anak seperti itu udah bego, gengsian dan materialistis pula. Sungguh menyedihkan ya mas? 😦

    @omiyan

    Memang dunia ini aya-aya wae. Kalau nggak aya-aya wae mungkin bukan dunia kali ya?? Huehehe…. :mrgreen:

    @Alias

    Hmm… Berarti saya juga harus begitu sama orang tua saya ya?

    Waduh….. ini berarti selama ini sampeyan berbuat seperti si anak mang bubur itu sama orang tua ya?? :mrgreen:

    @mezzalena

    Sebuah pola pikir yang aneh ya?? Apakah karena orang tuanya tidak berpendidikan formal yang tinggi? Entahlah…..

    Miskin karena bodoh, atau bodoh karena miskin?? Nggak jelas deh, walaupun tentu ada pengaruhnya yang jelas saya nggak jarang melihat orang miskin yang pintar, kreatif dan punya wawasan yang luas serta sangat observatif. Jadi…. ya silahkan ambil kesimpulan sendiri….. 🙂

    @dobelden

    Kalau orang tuanya yang nggak bisa tegas mendidik anaknya, ikut disalahkan nggak? 😀

    @inos

    Bagaimana kalau kedua2nya? Anaknya agak2 gitu ditambah salah asuhan dari ortunya…. :mrgreen:

  21. Wah, ya ngga lah, Om. Masa’ setega itu…

  22. wahahahahahah… bener juga.. uangnya habis buat beli sugaret.. (sama buat ngeblog kalee)… 😀

  23. mas yari……Idealnya, keluarga sebagai sistem sosial terkecil merupakan lingkungan budaya di garis terdepan……. dalam rangka mengembangkan norma dan berbagai perilaku bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat yang sehat…..saya khawatir dari fenomena wong cilik (tukang bubur) pendidikan keluarga tidak berjalan secara optimum…….ada beberapa dugaan penyebabnya ……..seperti kurangnya sosialisasi tentang penting dan mulianya suatu pekerjaan apapun…..tanpa melihat jenisnya asalkan halal…..ortu tidak mampu membangun harga diri sang anak secara wajar….. ortu tidak memanfaatkan waktu untuk berinteraksi satu sama lainnya…..juga kurang menanamkan pemahaman pentingnya kebersamaan dan saling membantu dan saling menghargai……selain itu ortu terlalu memanjakan anaknya…….dan melindungi anaknya secara tidak proporsional alias patrimonial…….yang membuat sang anak menjadi manja berlebihan ……..dan tidak peduli akan jerih payah orang lain (ortunya)……padahal tidak sedikit kasus kehidupan keluarga wong cilik dimana anak-anaknya bangga akan jerih payah ortunya ……………sekalipun cuma menjadi pemulung dan pengojek….. sehingga mereka bisa menyelesaikan studi di perguruan tinggi dengan sukses……dan mendapat pekerjaan yang layak…..

  24. Nanti dia bisa jadi malin kundang kang….
    Tapi fenomena ini banyak ditemukan dimana-mana, banyak ortu berpendapat, jika anaknya pinter, nanti pasti sukses. Pinter disini disekolahkan sampai mahasiswa, dan karena ortunya tak berpendidikan, atau pendidikan kurang, dia tak memahami bahwa jadi mahasiswa kalau sambil bekerja hasilnya malah lebih baik….jadilah banyak anak yang seperti anaknya tukang bubur ayam tadi. Jangan-jangan dia malu pula jika diketahui ortunya hanya penjual bubur ayam…wahh gawat.

  25. wah… aku gak setuju nih pak… ada unsur menjelek jelekkan seseorang nih… ya walaupun bagaimanapun dia tetap ciptaan Tuhan..

    bisa saja kan dia tersadar dan kemudian dia bertobat dan menjadi seseorang yang lebih baik dari hari kemarin

    kita jadikan hikmah pelajaran aja pak…

  26. pengetahuan dan yang luas plus ketusan yang tak terbatas, maka cukupkanlah itu tuk membuat anak kita mengerti dan melakukan kebaikan

    Sahabat, dah lama nih daku ga jalan2

  27. Wuaaaaaaa… itu dasar anaknya yang ga tau diriii pak!! *ikut kesel*
    kadang orangtua berpikir untuk memberikan segala sesuatu demi kebahagiaan anaknya, apapun itu, tanpa terpikir kesemuanya itu justru membuatnya kelewat manja. Sayangnya, si anak pun ga pernah belajar memaknai hidup, sekolah boleh tinggi, tapi pengetahuan minus, ya sama aja bo’ong pak. Kesian orang tuanya pak.. salah orang tua-kah kalau si anak jadi durhaka?? *ngejar si anak pake golok* lho?! << ekspresi kekecewaan, pinter2 kok bego, ga ngerti cara menghargai orang tua dan bersyukur atas segala rezeki, lalu nikmat mana lagikah yang engkau dustakan? (nitip pesen buat si anak, pak) :p

  28. @Alias

    Oooo… dikirain…. :mrgreen:

    @ardianzzz

    Huehehe…… asal jangan Nokia-nya dijual cuma untuk beli sigaret aja ya…. :mrgreen:

    @sjafri mangkuprawira

    Ya betul…. begitulah prof. Faktor-faktor yang disebutkan prof di atas kemungkinannya sangat benar, bahkan kasus pada artikel ini bukan saja satu-satunya “keanehan” yang ada pada wong-wong cilik. Ada juga tukang bakso dekat kantor saya, yang panas dingin, tetangganya yang tukang bakso juga udah bisa beli motor. Atau ada juga tetangganya yang udah naik haji, bikin dia panas dingin. Jadi naik haji itu mungkin ibarat simbol status dibandingkan untuk ibadah. Sepertinya di antara wong-wong cilik ini juga ada semacam ‘gengsi’ untuk tidak mau dikalahkan oleh sesamanya dalam soal status atau harta. Mungkin ini yang membuat mereka menjadi konsumtif juga agar dari luar mereka nampak terlihat ‘wah’ secara kosmetik. Mungkin memanjakan anak juga salah satu kosmetik agar mereka nampak ‘wah’, namun tanpa pendidikan yang benar jadinya ya lahirlah anak-anak yang ‘salah asuhan’. Ah nggak tahu deh prof, pusing saya…..

    @edratna

    Mungkin masih “mendingan” Malin Kundang bu. Kalau Malin Kundang, sang ibu atau orangtua justru bersedih melihat anaknya durhaka. Nah ini…… sang orangtua malah mendukung. Itu yang bikin saya bingung. Tetapi saya percaya, pengalaman adalah seorang guru sekaligus seorang penghukum yang terbaik. Mudah2an kelak, baik sang orangtua maupun sang anak dapat belajar dari segala kesalahan2nya………

    @alfaroby

    Ada unsur menejelek2an? Maybe! Yang jelas artikel ini ditujukan untuk berbagi bahwa tak selamanya “keberengsekan” itu milik wong gedhe saja. Wong cilik juga bisa saja punya “keberengsekan” seperti dalam kasus di atas. Dan justru itu artikel ini ditulis agar semua yang membaca dapat mengambil hikmahnya…. 🙂

    @achoey

    Mungkin karena si orang tua kurang berpengatahuan dalam mendidik anak sehingga si anak menjadi begitu. Begitu kan kang achoey?

    Iya nih…. kang achoey udah lama nggak jalan2 ke sini. Mudah2an kang achoey selalu dalam lindunganNya ya. amin. 🙂

    @pipiew

    Huehehe…… itu goloknya nggak lupa diasah kan?? :mrgreen:

    Ya udah deh mbak Pipiew. Mudah2an baik si orangtua maupun si anak kelak dapat menyadari kesalahan2nya. Moso kita yang bukan orangtuanya ikut2 repot sih, sementara si orangtua malah adem ayem aja….. 😀

  29. ya Allah. dahsyat deh kayak gitu.
    orang tua mana yang gak ingin melihat anak-anaknya senang dan menyenangkan mereka dengan segala cara. mungkin si orang tua sudah bangga sekali anaknya bisa sekolah tinggi, sehingga gak ngerti prestasi seperti apa yang sudah atau belum diraih anaknya. dengan keluguannya mungkin mereka pikir hal sedemikian hebat gak pantas bersanding dengan keluarga tukang bubur.

    ah, analisa nyeleneh. tapi apa pun alasannya, tetap bikin miris, mas. pantes mas yari sampe prustrasi gitu.
    *sambil membayangkan dialog bahasa inggris mas yari dan si anak*

    btw, mas yari kok sampe tau detil gitu kehidupan mereka, sih? nosy, ya? hayooo… (bakat jadi wartawan infotainmen nih)

    ___________________________

    Yari NK replies:

    Huahahaha….. aku bakat jadi wartawan infotainment yah? Bukan begitu mbak…. soalnya kan kita sering berbincang2 kalau kita sekeluarga lagi makan bubur ayam di situ. Bubur ayamnya sih lumayan enak. Nah, kita sering ngobrol2. Dari obrolan tersebut saya tahu deh kalau mang bubur itu punya anak sulung laki2 yang kuliah di STBA. Tapi saya heran…. lho kok si anak laki nggak pernah mbantu dorong gerobak tiap kali saya makan bubur ayam di Gasibu itu?? Dan keluarlah jawaban2 yang ‘polos’ dari mang bubur tersebut…. begicu ceritanya…. huehehe…..

  30. Bukan salah bunda mengandung tuh, Pak Yari, tapi salah mendidik.

    Aku percaya bahwa kemampuan mendidik anak tak mesti berdasarkan jenjang pendidikan formal orangtua, itu lebih kepada kearifan.

    Banyak juga contoh “wong gede” yang gagal mendidik anak, walaupun tak kurang juga yang sukses. Begitu pun sebaliknya contoh “wong cilik”.

    Tapi contoh yang Pak Yari sajikan ini memang bikin aku geleng-geleng kepala. Jadi teringat pepatah: lupa kacang akan kulitnya.

    ____________________________

    Yari NK replies:

    Lha…. kalau wong gedhe kalau ‘salah didikan’ masih punya harta buat anaknya untuk modal usaha (asal bisa mengelolanya). Lha wong cilik?? Udah nggak punya apa2, yang seharusnya dipunyai yaitu pendidikan moral eh ternyata nggak ada juga. Mau bergantung pada apa?? Ini bukan hanya “lupa kacang akan kulitnya” tetapi “kulitnya saja tidak mampu menghasilkan kacang yang kualitasnya baik”. 😦

  31. wong cilik suka merasa dihina, diejek, digencet dan lain-lainnya….. benarkah…………?

  32. ternyata banyak orang gedhe yang perhatian sama orang kecil…. sebenarnya mungkin wong gedhe dan wong cilik itu perbedaan yang sangat mencol;ok pada perilaku kesombongannya aja. ga bisa dilihat dari sisi ekonomi atau jabatan aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s