Monthly Archives: Januari 2009

Beginilah Kalau Menjelang Pemilu…….

Menjelang tahun baru kemarin, ketika baru pulang ke rumah dari tempat kerja, saya mendapatkan gulungan kertas karton yang terikat dengan gelang karet yang ditaruh oleh pembantu saya dekat televisi di ruang tamu. Ketika saya membukanya, saya hanya bisa senyum-senyum sinis kecut saja, ternyata gulungan karton tersebut dari tetangga saya, yang meskipun saya kenal tetapi tidak terlalu akrab. Gulungan karton tersebut adalah kalender tahun 2009 bergambar dirinya dan seorang tokoh yang sangat terkenal dari sebuah partai.

“Oh…. dia mau jadi caleg toh??” Begitu fikirku sinis. Tiba-tiba aku sadar bahwa di depan rumahku dan juga di pohon-pohon yang tumbuh di depan rumahku sudah mulai banyak ditempeli selebaran-selebaran dan baliho-baliho para caleg yang “terhormat” tersebut. Beberapa yang menempel di tembokku bagian depan yang mengganggu estetika sudah aku cabut. Namun akupun maklum, karena tahun 2009 ini adalah tahun pemilu, tahun di mana kita memilih pemimpin-pemimpin kita dan wakil-wakil rakyat kita untuk menentukan langkah negeri ini lima tahun mendatang.

Di TV-TVpun sudah mulai marak acara-acara mengenai pemilu baik itu berupa talk show, debat, dan lain sebagainya. Sebenarnya aku sudah mulai bosan dengan acara-acara tersebut. Bagiku menonton Animal Planet lebih menarik dibandingkan menonton talk show politik semacam itu. Namun ironisnya, justru terkadang tokoh-tokoh politik tersebut yang membuat saya senyam-senyum sendiri sangking lucunya mereka saling menyerang. Ditanggung lebih lucu daripada melihat acara-acara di Animal Planet!

Di berbagai blogpun, saya lihat mulai banyak juga yang menulis masalah-masalah hangat perpolitikan. Seperti halnya di televisi, di blogpun ada yang pro dan kontra dengan pemerintahan yang sekarang (kebanyakan yang saya temui, yang kontra). Namun, buat saya, baik yang pro dan kontra, kalau disimak lebih lanjut isinya sama menggelikannya! Maklum namanya saja politisi, nggak ada kerjaan lain selain kerjaannya mengumpulkan massa dengan berbagai cara persuasif untuk mencapai tangga kekuasaan. Yang pro dengan pemerintah, memuji-muji keberhasilan pemerintah setinggi langit, seolah-olah pemerintah sekarang adalah ‘dewa penyelamat’ bagi rakyat miskin karena sudah tiga kali menurunkan harga BBM. Sementara itu, yang kontra dengan pemerintah juga tak kalah “lucunya”, mereka mengkritik pemerintah habis-habisan seolah-olah pemerintahan yang sekarang telah gagal dalam segala-galanya plus mereka yang mengkritik kebanyakan juga tidak punya jalan keluar yang ampuh, dan kalau merekapun punya itupun belum tentu jika dilaksanakan hasilnya akan sukses! Dus mereka kebanyakan hanya bisa mengkritik saja. Jadi baik yang pro dan kontra dengan pemerintah sebenarnya menurut saya sama lucunya.

Lantas bagaimana dengan pendapat saya?? Saya sendiri beranggapan bahwa setiap pemerintahan pasti ada keberhasilan dan ada kegagalan. Itu adalah hal yang wajar. Untuk menilai sebuah pemerintahan “berhasil” atau “gagal” tentu memerlukan analisis dan pertimbangan yang sangat kompleks yang sebelumnya mungkin harus disusun terlebih dahulu standard-standard keberhasilan suatu pemerintahan di berbagai dimensi. Walaupun setiap masyarakat berhak menilai sebuah pemerintah berhasil atau gagal, namun tentu sebagai politisi cerdas, emang politisi ada yang cerdas ya?? tentu penilaian keberhasilan dan kegagalan pemerintah harus dianalisa sekomprehensif mungkin. Jangan cuma ambil data-data statistik sepotong-sepotong yang ada terus dibaca dan diinterpretasikan secara parsial. Tapi saya maklum kalau mereka susah membaca data-data statistik secara komprehensif, lha wong saya aja kesusahan apalagi kebanyakan  para politikus itu! :mrgreen:

Jadi menurut saya, kesimpulannya adalah setiap pemerintahan memang perlu dikritisi. Dan bagaimanapun juga kritik itu adalah perlu. Namun tentu kritik yang terbaik adalah kritik yang obyektif dan netral, kritik yang terlepas dari tendensi-tendensi politik. Tapi apa iya ya, para politisi bisa melakukannya?? Lha wong, politisi memang kerjaannya begitu kok, kritik sana kritik sini yang bertendensi politik, narsisis sana narsisis sini (alias memuji diri sendiri), senyum sana senyum sini, tebar pesona sana tebar pesona sini dan sebagainya. Bagi kita yang “tidak suka” dengan politisi dan politik, ya anggap saja politisi dan politik itu dagelan. Walaupun dagelan tapi toh politisi dan politik mau tak mau tetap dibutuhkan dalam kehidupan sosial kita. Namun kita jangan mau dipecahbelah oleh politisi yuk yang kerjaannya sering memecahbelah umat itu! 😀

BOTD Bahasa Inggris vs. BOTD Bahasa Indonesia….

Semalam ketika hendak membalas komen-komen yang masuk di blog ini, dan juga tengah berniat ingin membalas kunjungan para rekan blogger yang sudah meninggalkan komen di blog ini (dan juga ingin melakukan sedikit blogwalking), saya iseng-iseng mengintip BOTD yang berbahasa Inggris. Terus terang, saya adalah orang yang termasuk jarang mengintip BOTD, baik yang berbahasa Indonesia, Bahasa Inggris ataupun bahasa-bahasa lainnya karena saya dari dulu sudah beranggapan bahwa blog-blog yang masuk BOTD belum tentu merupakan blog-blog yang “layak dibaca”. Namun ternyata setelah saya meneliti kembali daftar-daftar blog ternyata memang kualitas yang ada pada blog-blog yang terdaftar dalam BOTD Bahasa Inggris ini sangat cukup berbeda kualitasnya dibandingkan dengan blog-blog yang terdaftar pada BOTD Bahasa Indonesia. Memang ada beberapa juga (menurut saya) kira-kira 5-10% yang kualitasnya ‘kurang’ dan terus terang saya juga belum mengunjungi (bahkan) 25% blog-blog yang ada di daftar BOTD Bahasa Inggris tersebut, namun dari sekedar judul-judulnya dan juga dari kata-kata pertama yang terbaca di halaman daftar BOTD saya berani menyimpulkan bahwa kualitas blog-blog di BOTD yang berbahasa Inggris RATA-RATA memang “berbeda” dengan kualitas blog-blog di BOTD Bahasa Indonesia.

Apanya yang berbeda?? Yang jelas postingan-postingan tentang masalah pribadi, curhat dan lain sebagainya bakalan susah menembus jajaran atas BOTD. Apalagi postingan-postingan narsisis. Juga postingan masalah-masalah kopdar hampir tidak mungkin masuk jajaran atas BOTD. Mungkin “kopdar” adalah khas Indonesia ya? :mrgreen:  Postingan-postingan semacam “Foto-foto Sarah Azhari Telanjang” juga jangan harap bisa nongol di BOTD yang berbahasa Inggris. Yang mungkin “agak sama” dengan BOTD Bahasa Indonesia adalah sedikit kontroversi tentang agama. Namun topik-topik yang disajikan kebanyakan adalah ‘pertentangan’ antara sains dan agama.

Yang saya perhatikan juga adalah komen-komen yang ada dalam blog-blog tersebut rata-rata bermutu (meskipun ada juga yang kurang). Sangat berbeda dengan komen-komen yang ada di beberapa seleb blog di BOTD Indonesia, yang berjibun tapi kualitas komennya, yah begitulah. Bahkan di blog-blog BOTD Bahasa Inggris yang komennya ratusan (bahkan ada yang ribuan) kualitas komen tetap terjaga. Namun, yang saya perhatikan, mereka rata-rata (si empunya blog) jarang menjawab kembali komen-komen yang masuk, hanya beberapa di antaranya saja yang benar-benar dijawab. Entah karena terlalu banyak, entah karena memang seharusnya begitu, atau entah karena hal-hal lainnya.

Jadi bagaimana kesimpulannya?? Menurut saya, mungkin memang blogger-blogger Indonesia (dan mungkin juga konsumennya) sifatnya berbeda dengan blogger-blogger di Amerika. Di sana, rata-rata blog yang top, adalah blog-blog yang serius. Sedangkan di sini blog-blog yang ada dan yang top kebanyakan adalah blog yang banyak sifat-sifat ‘sosialnya’ termasuk foto2 diri berbau narsisis yang tidak perlu, curhat yang berlebihan, postingan sensasi2 artis murahan dan sebagainya. Nah, kalau bagian komen, saya tetap pada komitmen saya sebelumnya, saya akan tetap berusaha merespon setiap komen yang masuk sebaik mungkin walaupun mereka (para blogger asing berbahasa Inggris) kebanyakan tidak melakukan seperti apa yang saya lakukan!! Nah, bagaimana menurut anda tentang perbedaan fenomena BOTD Bahasa Inggris dengan yang Bahasa Indonesia?? Dan bagaimana pula dengan gaya komen kita?? Apakah setiap komen “wajib” dijawab?? 😀

Mr. Bean Merebus Pasta di Bak Mandi !!

Kartun Mr. Bean

Kartun Mr. Bean

Saya yakin  anda semua tentu mengetahui tokoh Mr. Bean yang diperankan oleh komedian Inggris Rowan Atkinson. Dan sebagian dari anda mungkin juga mengetahui bahwa Mr. Bean juga dibuat versi kartunnya yang suaranya juga diisi oleh Rowan Atkinson. Kartun Mr. Bean ini pernah ditayangkan di Disney Channel bagi anda yang dapat menikmati televisi berbayar.  Di salah satu episode Mr. Bean kartun ini, diceritakan Mr. Bean yang mengundang teman wanitanya untuk makan siang bersama di apartemennya. Rencananya Mr. Bean akan memasak kalkun.  Sambil menunggu kalkunnya matang di oven, Mr. Bean berendam dulu di bak mandi (bathtub) dan sialnya ia tertidur. Ketika ia bangun dari tidurnya, ternyata si kalkun sudah gosong dan terbakar di dalam oven sehingga tidak dapat dimakan lagi. Sementara teman wanitanya sudah datang, Mr. Bean bingung apa yang akan disuguhkan untuk makan bersama teman wanitanya karena ia tidak punya makanan lagi. Di tengah kebingungannya, Mr. Bean menemukan pasta (spaghetti) yang sudah agak lama tersimpan di salah satu lemari dapurnya. Tanpa pikir panjang lagi, Mr. Bean lalu merebus pastanya. Tapi sial, pastanya kepanjangan dan tidak bisa masuk di pancinya (padahal pastanya tinggal dipatahkan saja terus dimasukkan panci. Beres! Dasar Mr. Bean…. hehehe…).  Mr. Bean lalu menemukan ide, ia merebus pastanya di dalam bak mandi (bathtub) !! Caranya…. bak mandinya diisi air hingga setengahnya (padahal pastanya cuma satu kotak) lalu dipanaskan dengan beberapa buah lilin !!! Hasilnya….. tentu saja lama….. baru malam hari pastanya matang !!! Sementara itu teman wanitanya sudah marah-marah karena kelaparan……..

Saya tidak akan membahas masalah kartun Mr. Bean ini tetapi saya akan sedikit “mengkritik” cara Mr. Bean merebus pasta tadi. Menurut saya pasta tersebut cukup direndam di dalam air yang tingginya 1 inci saja, tidak perlu direndam dengan air yang tingginya setengah bak. Toh, dengan air yang tingginya 1 inci saja, seluruh pasta sudah terendam. Nah, jikalau air yang untuk merebus pasta lebih sedikit, tentu airnya akan lebih cepat panas, dan jikalau airnya cepat panas tentu pastanya akan lebih cepat matang.

Kenapa begitu? Sebab cepat atau lambatnya panas suatu benda sangat tergantung dari massa benda tersebut. Air bermassa 2 kilogram tentu lebih lambat panas dibandingkan air yang bermassa 1 kilogram yang bertemperatur sama. Satuan panas dalam sistem SI (Système International d’Unités) yang resmi adalah joule. Namun satuan kalori masih banyak dipakai terutama oleh para ahli gizi dan kesehatan untuk mengukur panas atau energi (ingat: panas itu adalah energi) yang dihasilkan oleh suatu zat makanan ataupun panas atau energi yang dibuang oleh aktivitas-aktivitas manusia, misalnya olahraga.  Apa bedanya panas dan temperatur?? Bukannya panas itu seharusnya diukur dalam °C atau °F??  Dalam Fisika, panas dan temperatur itu berbeda. Panas adalah perpindahan energi thermal yang terjadi antara dua buah benda yang berbeda temperatur/suhu. Sedangkan temperatur adalah energi kinetik rata-rata yang dihasilkan oleh pergerakan sebuah partikel hingga menghasilkan panas. Panas atau energi diukur dalam satuan joule atau kalori, sedangkan temperatur diukur dalam satuan °C atau °F (ataupun K). Satu kalori adalah panas yang dibutuhkan untuk memanaskan 1 gram air sebesar 1 C°. Rumus perpindahan panas (Q) adalah sebagai berikut:

Q = m \times c \times \Delta t

Q adalah panas yang dipindahkan (atau yang diperlukan), satuannya adalah kalori atau joule.

m adalah massa benda yang dipanaskan satuannya adalah gram.

c adalah specific-heat capacity, setiap zat mempunyai ‘c’ yang berbeda. Specific-heat capacity adalah kemampuan suatu zat menyerap panas per 1 gram per 1 C°. Satuan daripada c ini adalah \frac{kalori}{g \times C^{o}}. Dan c air adalah 1 \frac{kalori}{g \times C^{o}}.

Δt adalah perbedaan temperatur antara temperatur akhir yang diinginkan dengan temperatur awal, satuannya adalah ataupun K.

Sebagai contoh: Misalnya 700 gram air ingin dipanaskan dari 25°C menjadi 85°C. Berapakah panas yang diperlukan?

Q = m x c x Δt. Angka-angkanya tinggal dimasukkan saja:

Q = 700 x 1 x (85-25) = 42.000 kalori. Mudah bukan?

Nah, sekarang misalnya 200 gram air juga ingin dipanaskan dari 25°C menjadi 85°C. Berapakah panas yang diperlukan. Nah, angka-angkanya tinggal dimasukkan saja juga:

Q = 200 x 1 x (85-25) = 12.000 kalori. Nah, jika massa benda yang dipanaskan lebih sedikit maka panas yang diperlukan lebih sedikit. Itulah mengapa jika massa benda lebih kecil dipanaskan untuk mencapai suhu tertentu, ia akan lebih cepat panas dibandingkan benda yang bermassa lebih besar.

Bagi anda yang pernah belajar di Amerika Serikat, ada juga sistem USCS. Sistem USCS ini masih cukup banyak digunakan di AS walaupun sedikit demi sedikit mulai digantikan oleh sistem SI. Sebenarnya rumusnya sama saja, hanya saja satuannya yang berbeda. Dalam USCS, Q bersatuan BTU (British Thermal Unit), m mempunyai satuan pound (lb), Δt bersatuan , sedangkan c bersatuan \frac{BTU}{lb \times F^{o}}. Nah, c air dalam satuan USCS adalah 1 \frac{BTU}{lb \times F^{o}}. Jadi 1 BTU adalah panas yang dibutuhkan untuk memanaskan 1 lb air sebesar 1°F.

Contohnya misalnya: 700 lb air dipanaskan dari 85°F menjadi 205°F. Berarpakah panas yang dibutuhkan?

Q =  m x c x Δt. Angkanya tinggal dimasukkan saja:

Q = 700 x 1 x (205-85) = 84,000 BTU.

Sekarang berapakah panas yang diperlukan untuk memanaskan 200 lb air dari 85°F hingga 205°F?

Q = 200 x 1 x (205-85) = 24,000 BTU.

Nah, sekarang terlihat baik dalam sistem SI maupun USCS terlihat bahwa memanaskan sebuah benda dengan massa yang lebih kecil memerlukan panas yang lebih sedikit yang berarti pemanasan yang lebih singkat dengan besar api yang sama. Jadi andaikan Mr. Bean merebus pasta di bak mandinya dengan air setinggi 1 inci, pasti pastanya akan lebih cepat masak dibandingkan jikalau ia merebusnya dengan air setinggi setengah bak….. Yah… namanya juga Mr. Bean….. 😀

O iya…. untuk pemanasan antarfase misalnya dari wujud es menjadi wujud uap membutuhkan perhitungan yang sedikit lebih rumit. Misalnya berapakah panas yang diperlukan untuk mengubah 100 pound es bersuhu 25°F menjadi uap air seluruhnya bersuhu 225°F? Nah, perhitungannya sedikit berbeda dan di luar topik kali ini…. 😀

______________________________

Epilog:

Tahukah anda jikalau anda tidur, anda masih mengeluarkan energi. Jikalau anda tidur bukan berarti anda sama sekali tidak mengeluarkan energi. Nah, energi pada saat anda tidur yang dikeluarkan adalah kira-kira sebesar 77 Joule per detik, atau kira-kira sama dengan 18,5 kalori per detik. Nah, berapa kalori yang dikeluarkan selama tidur 5 jam? Jikalau 5 jam ada 18.000 detik maka, panas atau energi yang dikeluarkan untuk tidur selama 5 jam adalah 18.000 x 18,5 = 333.000 kalori (atau 333 kilokalori). Energi tersebut lebih dari cukup untuk memanaskan 700 gram air dari 25°C menjadi 85°C yang hanya membutuhkan 42.000 kalori seperti contoh di atas! Wow! Nah, tidak terbayangkan berapa besarnya energi yang anda keluarkan jika berolahraga?? Tentunya jauh lebih besar lagi….. 😀

Venus: Planet Rumah Kaca

Foto daratan Venus oleh Venera-13

Foto daratan Venus oleh Venera-13

Planet Venus

Planet Venus

Mungkin akhir-akhir ini anda sering mendengar tentang pemanasan global atau global warming. Ya, pemanasan global ini adalah kenaikan temperatur rata-rata di permukaan bumi selama beberapa dekade belakangan ini. Ya, selama dekade belakangan ini suhu rata-rata di permukaan bumi mengalami anomali dengan meningkatnya suhu rata-rata. Hanya beberapa daerah saja di muka bumi ini yang justru rata-rata suhu permukaannya turun kebanyakan di daerah lautan. Pemanasan global ini disebabkan oleh banyaknya gas-gas rumah kaca (greenhouse gas) yang akhir-akhir ini dilepaskan ke atmosfir akibat aktivitas-aktivitas manusia (yang kebanyakan adalah pembakaran bahan bakar berbasis hidrokarbon). Gas-gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfir dari aktivitas-aktivitas manusia tersebut adalah: gas CO2 (karbon dioksida), N2O (dinitrogen monoksida), CFC (kloroflourokarbon) dan CH4 (metana). Penebangan hutan yang terjadi di mana-mana turut memperparah terjadinya pemanasan global. Sebenarnya uap air juga merupakan gas rumah kaca. Namun uap air (yang kebanyakan berasal dari sumber-sumber alami) tidak memberikan kontribusi positif terhadap pemanasan global.

Omong-omong tentang pemanasan global, ada satu tempat di tata surya kita, di sebuah planet yang merupakan tetangga kita yang merupakan tempat di mana pemanasan globalnya benar-benar dahsyat yaitu: Planet Venus! Ya, planet yang berabad-abad diasosiasikan dengan kaum wanita ini karena planet ini kalau dilihat dari Bumi dengan menggunakan teleskop benar-benar terlihat ‘mulus’ dan tidak bopengan penuh dengan kawah-kawah seperti di Bulan ataupun Merkurius ataupun Mars. Padahal wanita juga banyak sekali yang nggak mulus loh! Padahal planet ini terlihat ‘mulus’ karena yang terlihat adalah awan dan atmosfir Venus yang ekstra tebal yang sangat kaya dengan CO2 (>95%). Sangking tebalnya sehingga awan dan atmosfir Venus ini menutup daratan planet ini yang sebenarnya juga bopengan.

Karena atmosfir Venus sangat kaya dengan CO2 dan juga karena ketebalannya, maka tak ayal lagi planet ini layak dinobatkan sebagai rajanya ratunya planet pemanasan global di tata surya kita. Suhu permukaan planet ini adalah >460°C ( >860°F) padahal planet yang paling dekat dengan Matahari yaitu Merkurius yang mendapat energi/panas matahari 4 kali dari planet Venus, suhunya pada siang hari (sisi yang menghadap matahari) panasnya hanya kira-kira 420°C (790°F). Hal ini berarti bahwa Venus merupakan planet yang terpanas permukaannya di antara planet-planet lain di tata surya kita. Suhunya pada malam hari juga tidak berbeda jauh, ini karena panas dari tempat yang menghadap matahari di bawa oleh angin di bagian bawah atmosfir ke bagian yang malam hari. Para ahli mengatakan kemungkinan zaman dahulu atmosfir Venus menyerupai atmosfir Bumi karena dahulu cukup banyak air di permukaan Venus. Namun karena air ini menguap dan banyak yang hilang ke angkasa maka mulailah efek rumah kaca yang memicu pemanasan global yang terjadi pada planet itu hingga saat ini.

Neraka di Venus ini diperparah dengan tekanannya yang sangat besar. Jikalau di Bumi, tekanan pada ketinggian di permukaan laut adalah sebesar 1 atmosfer (semakin tinggi elevasi semakin berkurang tekanan atmosfer) maka di Venus tekanan di permukaan planetnya adalah kira-kira sebesar 90 atmosfer! Dua wahana antariksa milik (bekas) Uni Soviet yaitu Venera 13 dan Venera 14 adalah satu-satunya wahana buatan manusia yang ‘nekad’ mendarat di permukaan Venus yang ganas itu di tahun 1982. Venera 13 bahkan sempat mengirimkan foto permukaan Venus seperti foto di atas. Foto tersebut adalah satu-satunya foto otentik permukaan Venus yang pernah diambil oleh manusia. Dengan keadaan planet Venus yang panas membara dengan tekanan udaranya yang ekstra besar, Venera 13 ‘hanya’ mampu bertahan selama kira-kira dua jam saja di planet tersebut sedangkan Venera 14 nasibnya lebih ‘kasihan’ lagi, hanya bertahan kurang dari satu jam saja. Sesudah itu kedua wahana antariksa itu hanya menjadi onggokan sampah saja di planet tersebut sampai saat ini…..

Nah, tentu planet Bumi tempat kita tinggal ini, tidak ingin bernasib sama dengan planet Venus ini. Pemanasan global harus dihentikan, sebab walaupun mungkin pemanasan global di Bumi belum separah di planet Venus, namun kenaikan suhu beberapa derajad Celsius saja, bisa menyebabkan melelehnya es di Antartika ataupun di Kalaallit Nunaat (Greenland) yang dapat menyebabkan daerah-daerah di pinggir pantai di seluruh dunia jadi tenggelam termasuk ibu kota kita Jakarta dan juga kota-kota besar lainnya… Nanti kalau ibu kota kita tenggelam, ibu kota kita pindah ke mana dong?? Nanti jadi rebutan alias ribut lagi…..!! :mrgreen:

_____________________________

Epilog:

Apakah anda tahu tekanan 1 atmosfir itu? Satu atmosfir itu kira-kira setara dengan 10.332 \: \frac{kg}{m^{2}}. Berarti setiap 1 meter persegi sebuah benda mendapatkan tekanan sebesar 10.332 kg (lebih dari 10 ton metrik!) Andaikan kira-kira luas permukaan kulit atau tubuh anda adalah 1,8 m2. Berarti anda setiap waktu di bumi ini memikul beban kira-kira sebesar 1,8m^{2} \times 10.332 \: \frac{kg}{m^{2}} \: \approx 18.600 kg atau lebih dari 18 ton metrik! Tapi kok tidak terasa?? Tentu saja, karena tubuh kita memang sudah “dibuat” dari sononya untuk memikul beban segitu. Nah, sekarang anda bisa membayangkan berapa besar tekanan di planet Venus yang sebesar 90 atmosfir itu…..

Seharusnya Yang di Perbatasan Lebih Maju…

indonesia2Sebagian dari anda tentu belum bisa melupakan lepasnya pulau-pulau Sepadan dan Ligitan yang jatuh ke tangan Malaysia lewat Mahkamah Internasional beberapa tahun yang lalu.  Dan mungkin anda juga mengetahui bahwa perairan Ambalat kini juga tengah “diperebutkan” antara Indonesia dan Malaysia. Mungkin entah di masa mendatang pulau-pulau atau laut-laut apa lagi yang akan diperebutkan antara Indonesia dengan negara-negara tetangga lain di masa mendatang (mudah-mudahan jangan tentu saja).

Kita mengetahui (sejak SD?) bahwa Indonesia ini terdiri dari 13.677 pulau (ada versi baru berapa jumlah pulau Indonesia sekarang?) Dan pulau-pulau tersebut terbentang dan berserakan di lautan yang luas lautannya sendiri lebih luas dari luas daratan Indonesia. Untuk mengamankan pulau-pulau tersebut terutama pulau-pulau terluar yang kecil-kecil dan juga daerah-daerah yang berbatasan dengan negara-negara tetangga tentu memerlukan ekstra kerja keras dan juga ‘perekat’ agar wilayah negara kita tetap bersatu. Pancasila sebagai ideologi bangsa memang selama ini terbukti ‘cukup’ ampuh dalam melekatkan wilayah-wilayah di Indonesia ini. Namun tentu Pancasila saja tidak menjamin 100% bahwa wilayah kita akan tetap utuh di masa mendatang. Terbukti bahwa Sepadan dan Ligitan telah ‘terbang’ ke Malaysia sedangkan Timor Timur kini sudah menjadi negara merdeka. Ya, Pancasila harus ‘dibantu’ dengan perekat-perekat lain yang akan lebih dapat menyatukan wilayah kita di masa mendatang baik dari rongrongan dalam maupun luar negeri.

Seperti yang diceritakan oleh mas yang ini, yang prihatin karena pembangunan pulau Sebatik di wilayah Indonesia yang kalah jauh dibandingkan pulau Sebatik di wilayah Malaysia, memang nampaknya keadaan ini menjadi hal yang harus diperhatikan bukan saja oleh pemerintah tetapi oleh kita semua bahwasannya kita seharusnya memajukan wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga. Justru menurut saya, wilayah-wilayah di perbatasan harus lebih maju dibandingkan yang tidak berbatasan langsung atau minimal kemajuan yang dicapai seimbang atau rata. Memang kini, wilayah-wilayah yang di perbatasan seperti di Papua, Timor Barat ataupun di wilayah-wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia sudah mulai diperhatikan oleh pemerintah, namun menurut saya itu belum cukup. Yang berbatasan dengan wilayah Malaysia, harus sebisa mungkin meminimalisasi ketertinggalannya dengan wilayah Malaysia bahkan kalau mungkin sanggup menyusul, sedangkan yang berbatasan dengan Papua Nugini (PNG) dan Timor Leste harus dibangun lebih maju lagi agar perbedaan kemajuan di wilayah kita dan di wilayah negara-negara tetangga kita tersebut menjadi kontras.

Kenapa harus begitu? Karena kalau keadaan menjadi sebaliknya di mana jikalau pembangunan di negara-negara tetangga tersebut lebih maju maka situasi akan menjadi sangat “berbahaya” di wilayah-wilayah perbatasan tersebut. Lihat saja, keadaan di Pulau Sebatik wilayah Indonesia di mana perekonomian penduduknya sangat bergantung kepada Malaysia. Tentu itu sudah sinyal tanda bahaya bahwa lama kelamaan mungkin mereka akan menjadi lebih merasa Malaysia daripada merasa Indonesia. Kasus seperti itu bisa saja terjadi di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan negara-negara lain. Kita jangan sampai melihat bahwa kelak pembangunan di PNG ataupun di Timor Leste akan lebih maju daripada pembangunan di wilayah-wilayah perbatasan kita. Bisa-bisa mereka merasa “menyesal” menjadi bagian dari wilayah Indonesia. Hal itu lebih berbahaya lagi mengingat fenotipe diri mereka lebih mirip dengan orang-orang di negara-negara tetangga tersebut daripada dengan orang-orang Indonesia lainnya.

Sebaliknya, jikalau pembangunan di wilayah-wilayah perbatasan kita jauh lebih maju daripada pembangunan di wilayah negara-negara tetangga tersebut tentu mereka akan menjadi sangat bangga menjadi bangsa Indonesia atau mungkin nanti bisa jadi malah orang-orang Timor Leste menjadi menyesal telah memerdekakan diri karena mereka melihat wilayah Timor barat di Indonesia sangat maju sedangkan wilayah Timor Leste, wilayah mereka hanyalah sebuah kampung besar yang tertinggal! Huehehe….. 😀 Yang jelas jikalau wilayah-wilayah perbatasan kita lebih maju daripada wilayah di negara-negara tetangga kita maka sumberdaya mereka yang terserap oleh kita. Sebaliknya jikalau wilayah-wilayah perbatasan negara-negara tetangga kita lebih maju maka justru sebaliknya, sumberdaya kita yang akan terserap oleh mereka. Lihat saja sekarang, kayu-kayu kita yang diselundupkan ke Malaysia, pasir-pasir yang dijual ke Singapura, belum lagi SDM-SDM kita mulai dari TKW sampai tenaga kerja berketrampilan tinggi semuanya diserap oleh mereka.

Nah, sekarang mumpung belum terlambat, mari kita mulai memajukan wilayah-wilayah perbatasan kita. Jangan sampai menyesal kelak karena wilayah-wilayah berbatasan negara kita (terutama di wilayah-wilayah Indonesia timur) nantinya tertinggal pembangunannya dari pembangunan negara-negara tetangga. Menyesal kemudian tidak berguna. Contohlah Hawaii, yang merupakan negara bagian Amerika Serikat ke-50. Wilayah negara ini ‘terisolasi’ dari wilayah-wilayah AS lainnya. Jarak kepulauan Hawaii dari pantai barat AS adalah kira-kira 3000 mil. Namun mereka bangga menjadi bagian dari AS dan menjadi Warga Negara AS, walaupun penduduk asli mereka sangat berbeda dari penduduk-penduduk asli di daratan AS maupun orang-orang kulit putihnya. Mereka bangga menjadi bagian dari sebuah negara yang makmur dan sangat maju. Dan memang kenyataannya Hawaii lebih maju dan lebih makmur dari negara-negara tetangganya yang merdeka di Lautan Pasifik………..

Mencari Keuntungan Atau Menipu?

Suatu hari, di seberang pasar simpang Bandung, ada seorang bulé/asing yang ingin membeli rujak yang dijual per kantong plastik kecil yang sering dijajakan di pinggir jalan. Sepintas lalu saya mendengar bahwa si penjual rujak tersebut menawarkan harga Rp 6000,- per kantong kepada si bulé. Padahal saya tahu (karena saya sering beli juga… :mrgreen: ) bahwa satu kantong plastik rujak tersebut dijajakan Rp 3000,-  atau kalau ditawar bahkan bisa dapat Rp. 2000,- per kantong. Nah, pernahkah anda merasa “tertipu” juga saat membeli sesuatu? Tertipu di sini maksudnya bukanlah tertipu kualitasnya tetapi adalah tertipu harganya. Anda beli dengan harga tertentu pada seorang pedagang lantas setelah dicek di tempat lain ternyata harganya jauh lebih murah……..

Saya sendiri pernah beberapa kali mengalami. Yang paling parah adalah ketika saya mengganti baterai jam tangan saya di salah satu kios di pasar Balubur dekat ITB. Waktu itu saya menyerahkan arloji saya untuk ditukar baterainya dengan yang baru. Arloji saya memakai baterai kancing CR2032 yang di pasaran rata-rata berharga Rp. 5000-6000. Bahkan di toko Ace Hardware jikalau anda membeli baterai setipe dengan merk Krisbow, dengan Rp. 12.500,- anda bisa dapat lima biji! Namun alangkah kagetnya saya ketika di pasar Balubur waktu itu, ketika arloji selesai diganti baterainya saya ditagih Rp. 15.000,-!! Harganya 2 \frac{1}{2} sampai 3 kali harga pasaran! Luar biasa! Dan tidak bisa ditawar pula! Disangkanya saya bodoh kali, nggak tahu apa-apa tentang baterai kancing. Namun setelah saya beberkan bahwa harga baterai kancing di pasaran tersebut harganya cuma Rp 6000,- dan juga saya marahi karena pekerjaan meletakkan kembali rantai jamnya kurang rapih, maka dengan malu-malu akhirnya si pedagang menurunkan harganya menjadi Rp. 10.000,-.

Dalam agama yang saya anut, dalam melakukan perdagangan, pedagang dilarang untuk mengurangi timbangan dan mengurangi takaran dalam berdagang. (Kalau timbangan zaman sekarang, apalagi timbangan digital, taruh timbangan tersebut di permukaan yang tidak rata atau yang empuk maka berat benda pada timbangan tersebut akan “berkurang” sendiri….. :mrgreen: ). Dalam Al-Quran ayat-ayat seperti Surat Al-An’am:152, Al-Isra’:35 serta Al-Muthafifin:1-6 menjelaskan mengenai haramnya mengurangi timbangan dan takaran dalam berdagang.

Mungkin pedagang yang lumayan beriman akan berfikir begini: “Ah, kalau mengurangi timbangan kan berdosa, tapi saya mau cepat kaya, bagaimana kalau harganya saja yang dinaikkan melebihi harga rata-rata pasar??” Sekarang begini andaikan anda ingin membeli jeruk Shantang yang di pasaran harganya sekitar Rp. 16.000,-per kilo. Lalu anda beli dari seorang pedagang yang “curang” dengan harga Rp. 25.000,- per kilo. Nah, dengan harga Rp. 25.000,- pada pedagang tersebut anda hanya bisa mendapatkan sekilo sementara di tempat lain dengan uang yang sama anda bisa mendapatkan jeruk Shantang lebih dari 1 \frac{1}{2} kg. Nah, apakah hal ini bisa dikatakan sebagai pengurangan timbangan juga?? Ataukah yang dimaksud dengan pengurangan timbangan hanya sebatas pada kecurangan literal yang dilakukan pada alat timbangannya saja dan tidak termasuk pengurangan secara figuratif seperti contoh di atas? Begitu pula dengan kasus pembelian baterai kancing yang saya alami di atas. Bukankah di tempat lain dengan uang Rp. 15.000,- saya bisa membeli 2-3 buah baterai CR2032, sementara di salah satu kios di pasar Balubur tersebut saya hanya bisa beli 1? Apakah itu bisa disebut sebagai pengurangan “timbangan” juga?? Jikalau anda mengalami hal seperti saya, saya yakin kemungkinan besar anda juga akan merasa tertipu seperti saya. Jadi di mana batas antara mencari keuntungan dan menipu ya???

Di dalam Islam (yang saya tahu) memang tidak ada batas kuantitatif, sejauh mana seseorang boleh mengambil keuntungan. Yang jelas berlaku jujur dalam perdagangan sangat ditekankan dalam Islam.  Di negeri kita ini, masih banyak pedagang yang belum bisa jujur, terutama  justru terjadi pada pedagang kecil. Mereka menaikkan harga untuk orang asing ataupun orang2 yang kelihatan ‘wah’. Mereka ingin segera mendapatkan keuntungan besar secara instan. Mereka tidak sadar bahwa dalam jangka panjang hal tersebut malah merugikan mereka karena pembeli yang kemudian sadar tertipu, ia tidak akan kembali lagi ke sana. Sesuatu yang mungkin tidak terfikirkan oleh para pedagang tersebut………

Bertemu Melihat Al Jupri dan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang Mahal

Sebagian koleksi kamusku

Sebagian koleksi kamusku

Sebagian besar mereka yang sering mampir di blog ini mungkin pasti kenal dengan seorang blogger yang bernama Al Jupri atau yang sering saya panggil kang Jupri. Blogger yang banyak menulis tentang matematika dan pendidikan matematika ini baru menyelesaikan pendidikan masternya di Negeri Belanda,  dan kini kang Jupri sudah pulang kembali ke Bandung. Walaupun kedatangan kang Jupri sudah saya ketahui sejak awal bulan Desember lalu, namun kami berdua memang belum berani berjanji untuk kopi darat karena kami masing-masing memang sok sibuk walaupun sebenarnya kami ingin sekali bertemu. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, walaupun kami belum pernah berjanji tetapi hari Sabtu tanggal 3 Januari 2009 lalu kami akhirnya berhasil bertemu dan saling melihat! Walaupun begitu perjumpaan itu tidak bisa sama sekali disebut kopdar! Lho? Kok begitu?? Begini cerita konyolnya: :mrgreen:

Sabtu lalu, saya bersama keluarga pergi ke Gramedia di Jalan merdeka Bandung. Mula-mulanya sih hanya untuk membeli peralatan tulis buat anak-anak. Namun ketika anak-anak dan ibunya asik memilih-milih peralatan tulis, saya ‘kabur’ sebentar untuk melihat buku-buku yang menarik di lantai atas. Namun ketika saya tengah melihat-lihat deretan kamus, saya tiba-tiba merasa seperti melihat kang Jupri. Ya, jarak kang Jupri dengan saya waktu itu kira-kira hanya 10 kaki (feet) saja! Namun saya nggak yakin 100% kalau itu kang Jupri. Maklumlah terkadang antara foto (yang saya lihat di blognya dan avatarnya Kang Jupri) dan aslinya bisa berbeda. Tapi anehnya, orang yang saya kira Kang Jupri itu kok melihat saya juga, namun sepertinya ia juga ragu. Tadinya mau saya lihatin terus, namun karena nanti disangka homok tidak sopan dan juga takut salah orang maka saya berhenti memandang orang tersebut. Ketika aku penasaran dan ingin mencari orang yang ‘mirip’ Kang Jupri tersebut, ternyata orangnya telah menghilang. Dan ceritanya tamat sampai di sini. Huehehe…. Para pecinta artikel2 kopdarpun kecewa…!! :mrgreen:

Nah, hari Seninnya, saya dan kang Jupri bertemu via Yahoo! Messenger. Kang Jupri berkata kepada saya: “Saya sepertinya melihat Pak Yari hari Sabtu lalu di Gramedia…..” Lantas saya menjawab: “Sepertinya saya juga melihat kang Jupri lho di Gramedia….”. O alah….. kalau begitu……. Hanya penyesalan kemudian yang keluar…. 😦 Yah… mungkin Tuhan belum mengijinkan kita untuk kopdar atau mungkin juga karena kita berdua adalah orang yang sangat sopan **halaah** takut salah sapa dan salah orang….. :mrgreen: Tetapi saya yakin, Insya Allah kita berdua pasti bakal ketemu, minimal karena kita berdua ini sedikit kutuan (kutu buku) maka kemungkinan besar pasti (Insya Allah) kita akan bertemu lagi minimal di Toko Buku Gramedia….. 😀

Sebenarnya saya pergi ke lantai atas Gramedia (lantai di mana saya melihat kang Jupri) karena ingin membeli Essentials of Genetics (lupa lagi karangan siapa) yang sudah lama saya incar. Namun karena harganya lumayan mahal karena bukunya juga keren abis dan full colour dan kaya akan ilustrasi, maka bukunya baru ‘kebeli’ waktu itu. Namun aku kecewa, karena ternyata buku tersebut sudah habis terjual. Memang sih sebulan sebelumnya saya melihat hanya ada (tinggal) dua eksemplar yang dijual di Toko Buku Gramedia Merdeka Bandung tersebut. Kalau masih ada, lumayan deh buat baca-baca di waktu senggang **halaah** dan siapa tahu ada bahan yang menarik juga untuk dijadikan postingan di blog. Huehehe…..  Tapi karena buku sudah terjual habis, aku hanya bisa BIMANTARA (BIbir MAnyun TiAda taRA)…. 😦

Lantas aku menyisir bagian kamus (di mana saya melihat kang Jupri). Aku melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru. Terbesit sekilas keinginanku untuk membeli kamus tersebut. Maklum deh walaupun koleksi kamus saya (dari berbagai bahasa dan tema) kalau ditumpuk mungkin tingginya hampir menyentuh langit-langit rumah saya yang kira-kira setinggi 13 kaki itu, namun keterlaluannya saya belum punya satu bijipun kamus Bahasa Indonesia. Saya lihat harga KBBI itu dan ternyata….. harga kamus tersebut Rp. 375.000,-. Harga tersebut tentu saja membuat saya BIMOLI (BIbir MOnyong Lima Inci). Lha, wong kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary (OALD) di sebelahnya aja (yang soft cover)  harganya lebih murah. OALD kaya akan ilustrasi dan sudah full colour. Tadinya saya menyangka bahwa siapa tahu KBBI edisi terbaru ini juga sudah kaya akan ilustrasi dan sudah full colour. Namun setelah saya melihat isinya, ternyata isinya hampir sama saja, hanya saja KBBI yang baru ini lebih kaya dengan suplemen di halaman-halaman akhir. Dan suplemennya sebenarnya cukup kaya (walau masih jauh kualitasnya dengan suplemen pada OALD), namun tetap saja menurut saya harga Rp. 375.000 itu terlalu mahal. Wah sulit ya….. mau berbahasa Indonesia yang baik dan benar saja, kamusnya mahalnya minta ampun. Yang mau belajar Bahasa Inggris, dengan kamus yang lebih murah harganya dapat diperoleh kualitas kamus yang lebih baik.

Ya sudah…… segitu saja cerita hari Sabtuku tanggal 3 Januari lalu yang penuh dengan BIMANTARA dan BIMOLI. Pertama-tama, ‘gagal’ kopdaran dengan kang Jupri. Kedua, buku Essentials of Genetics yang sudah kuincar ternyata telah habis. Ketiga, mau beli KBBI guna melengkapi koleksi kamus dan bukuku ternyata harga kamusnya bikin aku semakin BIMOLI….!! 😦