Mencari Keuntungan Atau Menipu?

Suatu hari, di seberang pasar simpang Bandung, ada seorang bulé/asing yang ingin membeli rujak yang dijual per kantong plastik kecil yang sering dijajakan di pinggir jalan. Sepintas lalu saya mendengar bahwa si penjual rujak tersebut menawarkan harga Rp 6000,- per kantong kepada si bulé. Padahal saya tahu (karena saya sering beli juga…:mrgreen: ) bahwa satu kantong plastik rujak tersebut dijajakan Rp 3000,-  atau kalau ditawar bahkan bisa dapat Rp. 2000,- per kantong. Nah, pernahkah anda merasa “tertipu” juga saat membeli sesuatu? Tertipu di sini maksudnya bukanlah tertipu kualitasnya tetapi adalah tertipu harganya. Anda beli dengan harga tertentu pada seorang pedagang lantas setelah dicek di tempat lain ternyata harganya jauh lebih murah……..

Saya sendiri pernah beberapa kali mengalami. Yang paling parah adalah ketika saya mengganti baterai jam tangan saya di salah satu kios di pasar Balubur dekat ITB. Waktu itu saya menyerahkan arloji saya untuk ditukar baterainya dengan yang baru. Arloji saya memakai baterai kancing CR2032 yang di pasaran rata-rata berharga Rp. 5000-6000. Bahkan di toko Ace Hardware jikalau anda membeli baterai setipe dengan merk Krisbow, dengan Rp. 12.500,- anda bisa dapat lima biji! Namun alangkah kagetnya saya ketika di pasar Balubur waktu itu, ketika arloji selesai diganti baterainya saya ditagih Rp. 15.000,-!! Harganya 2 \frac{1}{2} sampai 3 kali harga pasaran! Luar biasa! Dan tidak bisa ditawar pula! Disangkanya saya bodoh kali, nggak tahu apa-apa tentang baterai kancing. Namun setelah saya beberkan bahwa harga baterai kancing di pasaran tersebut harganya cuma Rp 6000,- dan juga saya marahi karena pekerjaan meletakkan kembali rantai jamnya kurang rapih, maka dengan malu-malu akhirnya si pedagang menurunkan harganya menjadi Rp. 10.000,-.

Dalam agama yang saya anut, dalam melakukan perdagangan, pedagang dilarang untuk mengurangi timbangan dan mengurangi takaran dalam berdagang. (Kalau timbangan zaman sekarang, apalagi timbangan digital, taruh timbangan tersebut di permukaan yang tidak rata atau yang empuk maka berat benda pada timbangan tersebut akan “berkurang” sendiri…..:mrgreen: ). Dalam Al-Quran ayat-ayat seperti Surat Al-An’am:152, Al-Isra’:35 serta Al-Muthafifin:1-6 menjelaskan mengenai haramnya mengurangi timbangan dan takaran dalam berdagang.

Mungkin pedagang yang lumayan beriman akan berfikir begini: “Ah, kalau mengurangi timbangan kan berdosa, tapi saya mau cepat kaya, bagaimana kalau harganya saja yang dinaikkan melebihi harga rata-rata pasar??” Sekarang begini andaikan anda ingin membeli jeruk Shantang yang di pasaran harganya sekitar Rp. 16.000,-per kilo. Lalu anda beli dari seorang pedagang yang “curang” dengan harga Rp. 25.000,- per kilo. Nah, dengan harga Rp. 25.000,- pada pedagang tersebut anda hanya bisa mendapatkan sekilo sementara di tempat lain dengan uang yang sama anda bisa mendapatkan jeruk Shantang lebih dari 1 \frac{1}{2} kg. Nah, apakah hal ini bisa dikatakan sebagai pengurangan timbangan juga?? Ataukah yang dimaksud dengan pengurangan timbangan hanya sebatas pada kecurangan literal yang dilakukan pada alat timbangannya saja dan tidak termasuk pengurangan secara figuratif seperti contoh di atas? Begitu pula dengan kasus pembelian baterai kancing yang saya alami di atas. Bukankah di tempat lain dengan uang Rp. 15.000,- saya bisa membeli 2-3 buah baterai CR2032, sementara di salah satu kios di pasar Balubur tersebut saya hanya bisa beli 1? Apakah itu bisa disebut sebagai pengurangan “timbangan” juga?? Jikalau anda mengalami hal seperti saya, saya yakin kemungkinan besar anda juga akan merasa tertipu seperti saya. Jadi di mana batas antara mencari keuntungan dan menipu ya???

Di dalam Islam (yang saya tahu) memang tidak ada batas kuantitatif, sejauh mana seseorang boleh mengambil keuntungan. Yang jelas berlaku jujur dalam perdagangan sangat ditekankan dalam Islam.  Di negeri kita ini, masih banyak pedagang yang belum bisa jujur, terutama  justru terjadi pada pedagang kecil. Mereka menaikkan harga untuk orang asing ataupun orang2 yang kelihatan ‘wah’. Mereka ingin segera mendapatkan keuntungan besar secara instan. Mereka tidak sadar bahwa dalam jangka panjang hal tersebut malah merugikan mereka karena pembeli yang kemudian sadar tertipu, ia tidak akan kembali lagi ke sana. Sesuatu yang mungkin tidak terfikirkan oleh para pedagang tersebut………

38 responses to “Mencari Keuntungan Atau Menipu?

  1. pertamax..?

  2. Mmmm… mungkin para pedagang kecil yang suka curang tsb, menerapkan suatu ajian yang ndeso banget: aji mumpung..😀

  3. mungkin sudah dihitung termasuk dengan variable service charge kali kang…heee..maksudnnya biaya service ala mereka sendiri..

  4. mas yariNK…… yang jelas saya pernah mengalami nasib yang sama dengan sang bule…..ketika beberapa tahun lalu berada di tembok besar cina…….saya membeli sebuah miniatur great wall seharga dua kali harga barang sama yang dibeli sahabat saya…….saya sedikit kecewa karena kebodohan saya tidak mampu menawar harga barang itu……… kembali ke kasus sang akang Bule……diskusinya akan semakin menarik…… seandainya si akang Bule itu bilang saya ikhlas saja kok…… membeli rujak seharga itu……..karena selain rasanya sangat enak, di dekat rumah saya harga rujak seperti ini paling murah tujuh ribu rupiah……fenomena ini mengingatkan saya pada kisah seorang saudagar di zaman Tabiin bernama Yunus bin Ubaid……… setelah Yunus tahu ada pembeli yang berani membayar perhiasannya dua kali lipat harga aslinya…….dia menegur saudaranya yang ketika terjadi transaksi…….Yunus sedang ke masjid dan saudaranya diminta menunggu tokonya melayani setiap pembeli……..walau si pembeli ikhlas dan senang dengan harga sebesar itu (karena lebih murah ketimbang di tempat lain) tetapi Yunus tetap mengembalikan kelebihan uang tersebut……….kemudian Yunus berkata kepada saudaranya: “Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali lipat?”…….. “Tetapi, dia sendiri yang mau membelinya dengan harga empat ratus dirham,” ……..jawab saudaranya mencoba mempertahankan posisinya sebagai pihak yang benar……… kata Yunus lagi: “Ya, tetapi kita memikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan diri kita sendiri.” ……….inti pelajaran dari kasus Yunus itu……. kalau kita menaikkan harga tanpa memperhitungkan aspek keadilan dan kejujuran….maka bakal membuat konsumen rugi………akibatnya adalah….. transaksi atau perdagangan yang sebenarnya halal bisa jadi haram…….

  5. Saya paling males belanja pake menawar, apalagi di daerah yang tak terlalu saya kenal, karena sering tertipu seperti itu. Akhirnya memilih di Supermarket yang harga pasti…padahal kan kasihan pedagang atau pasar tradisionalnya.
    (Masalahnya saya termasuk orang nggak bisa menawar)

  6. blom tahu dia lg ngadepin siapa. pak yari dilawan. pentung aja pak😀

  7. Makanya kalau sudah beli suatu barang, saya cenderung malas iseng-iseng melihat harga barang serupa di toko lain, nanti saya malah gondok sendiri klo memang ketipu. Ignorance is bliss…😆

  8. yeah secara teori pemasaran, tuh sah sah saja.. malah dikatakan hebat! sebuah teori pemasaran mengatakan (teori saya bukan si kottler loh) kalau bisa menjual di sebuah segmentai pasar tertentu dengan harga yang lebih tinggi ya itulah yang akan dilakukan.. misalnya dulu banyak broker yg lebih memilih untuk menjual minyak solar di singapura daripada di indonesia.. lha wong di sana harganya tikel tekuknya… tuh kan…

    eh.. meracau..🙂

  9. alasan utamanya pasti…mau dapet keuntungan sebesar-besarnya dengan modal se kecil2nya…hmm..prinsip ekonomi juga yah..hehehe..:) cuman caranya yang tidak fair..
    kalo saya kapok beli buah di pinggir jalan, lebih baik beli di supermarket yang harganya mungkin relatif lebih mahal sedikit tapi kita puas denga pelayanan..memang sih akhirnya perilaku seperti saya ini bisa mematikan pasar tradisional, tapi mereka sendiri yang berbuat seperti itu, sooo..mereka yang harus tanggung akibat dari perbuatannya..

    hehehehe..sorry kepanjangan komennya mas…
    salam kenal dari makassar…

    salam,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com

  10. Bukan hanya males untuk kembali lagi saya pikir, Mas. Yg namanya dongkol dan berita buruk biasanya akan lebih cepat dan luas tersebar ketimbang kabar baik. Maka bukan hanya ybs yg ndak balik ke si “penipu”, bahkan mereka2 yg belum pernah beli juga jadi enggan bertransaksi.

  11. @mathematicse

    Huehehe….. betul sekali…. aji mumpung itu sepertinya kebalikan dari pepatah: “Bersakit-sakit dulu bersenang-senang kemudian” yaitu “Bersenang-senang dulu bersakit-sakit kemudian”😀

    boyin

    Variable service charge jikalaupun ada, tidak mungkin sampai 2 atau 3 kali harga normal. Lagian sejak kapan variable service charge berbeda berdasarkan pembeli?? Kok bulé service charge-nya lebih tinggi padahal belinya di tempat yang sama kok….. huehehehe…….

    @sjafri mangkuprawira

    Kita doakan saja si bulé ikhlas ya prof. Huehehe…… Tapi biasanya banyak bulé bukan mempermasalahkan harganya yang mungkin beda Rp. 3000,- saja tidak signifikan bagi si bulé, tetapi soal prinsip. Biasanya banyak bulé tidak senang kalau ditipu dan diperlakukan tidak adil dan itu bukan masalah nilai uangnya walaupun mungkin si bulé hanya bisa diam saja dan hanya dongkol di dalam hati……

    Betul prof….. saya fikir juga begitu, transaksi yang seharusnya halal bisa saja berubah jadi haram jikalau si pembeli merasa ditipu oleh si penjual, apalagi kalau barang yang dijual sama dan tidak punya nilai tambah dari barang yang dijual pedagang lain yang jauh lebih murah. Apalagi jikalau sampai si pembeli tidak ikhlas dan menyesal telah mengeluarkan uangnya. Pokoknya yang jelas transaksi seperti itu lebih banyak berakibat mudharatnya dibandingkan kebaikannya……..

    @edratna

    Tapi bu, kita juga harus pintar tawar-menawar. Kalau saya, tawar-menawar termasuk skill antarpersonal seperti halnya negosiasi. Bagi saya, hal tersebut merupakan skill yang sangat berguna. Yang penting kita tahu harga tetapnya, bisa kita lihat atau bandingkan dengan harga supermarket. Nah, kalau ibu sering ke supermarket bisa dilihat tuh harga2 ‘tetap’ atau ‘pasti’nya. Dan dari situ kita bisa belajar tawar-menawar dengan para pedagang kecil. Saya dulu juga orangnya nggak pintar tawar-menawar bu, tapi sekarang sudah lebih pandai dari ibu-ibu soal tawar-menawar huehehehe……

    @mantan kyai

    Kalau dipentung nanti dituduh melanggar HAM dong…. huehehe….

    @Catshade

    Tapi kita harus tahu juga harga di tempat lain…. dan harus bisa belajar negosiasi tawar-menawar agar jangan selalu dikerjain pedagang dan menjadi sucker huehehehe……..:mrgreen:

    @ardianzzz

    Ya… itu namanya terkait dengan ‘harga pasar’ tentu saja. Harga pasar di Singapura tentu berbeda dengan di Indonesia. Kalau marjin keuntungannya lebih tinggi sedikit dari harga pasar dan masih masuk akal apalagi kalau servis dan barang yang dijual ada nilai tambahnya sedikit ya kenapa tidak? Tetapi kalau harga pasarnya 2-3 kali lebih tinggi tanpa nilai tambah apapun, ya itu dari segi teori ekonomi ataupun pemasaran itu sama saja dengan ‘bunuh diri’ huehehe…….

    @bonar

    Kalau pengalaman saya sih, justru beli buah di pedagang pasar tradisional awalnya pasti lebih mahal, kecuali kalau kita pintar menawar. Justru memang seperti hal inilah, maka orang-orang seperti bang bonar ini jadi kapok beli ke pasar tradisional. Udah mahal, tempatnya nggak nyaman pula, dan bang bonar bukan orang satu2nya yang berfikir seperti itu. Nah, hal2 seperti itulah yang mungkin tidak terfikirkan oleh para pedagang kecil…….

    @Akhmad Guntar

    Betul…… berita-berita seperti itu cepat sekali beredar. Dan itu tentu saja sebenarnya sangat merugikan si pedagang sendiri. Mereka hanya berfikir jangka pendek saja dan tidak berfikir janka panjang……..

  12. Belum sempat baca dengan cermat, tapi rasanya soal baterai jam itu, dulu sudah pernah diposting juga kan?🙂

    *I will be back later*

  13. saya salut dengan cara dagang orang chines, saya melihat istri saya dimana mereka ga mau untung gede-gede yang penting gimana caranya orang mau jadi pelanggan kita…beda cara pandang ma orang kita

  14. :mrgreen:

    tipikal orang lokal pak… mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu sesingkat-singkatnya…

    kalau pendatang… mencari cara bagaimana mendapat sesuap nasi esok hari salahsatunya dengan menarik pelanggan kembali dengan harga yang lebih rendah…

    ada bedanya pak?:mrgreen:

  15. Apa yang tersembunyi di hati akan menentukan halal haram transaksi tersebut. Masalahnya, sebelum ada yang merasa sakit hati dan didzalimi, para pedagang yang jadi kunci awal, mesti menenggang rasa dan berpegang teguh pada ajaran agama serta prinsip kepatutan. Sedangkan, menjadi seorang konsumen yang baik saat ini, mesti mau mengeluarkan tenaga ekstra untuk survey sebelum membeli, agar tak tertipu atau merasa ditipu. Bukannya, tiap-tiap orang cenderung ingin untung, sebisa mungkin, baik pembeli dan penjual, sama-sama menerapkan prinsip ekonomi. Kalau sudah membeli barang, komentar dari Catshcade di atas patut ditiru.

    ##
    Sudah ingat, artikel yang saya maksud di sini.

  16. Cari pelanggan dengan harga yang pantas kemudian harga dinaikkan sedikit dengan memberi pelayanan yang lebih baik.
    http://iwanmalik.wordpress.com
    Info Wirausaha & Kimia terapan

  17. wah, nice post, saya link ya pak .. salam kenal

  18. Biasanya sih saya kalo dah beli ga mau liat liat lagi yang laen, takut merasa tertipu trus nyumpahin yang jual lagi nanti, hehehehe

  19. alangkah indah menjadi pedagang yang jujur
    dan karena itu derajatnya terangkat

    alangkah sedihnya melihat pedagang yang tidak jujur
    dan karena itu derajatnya pun turun

    sahabat, lama tak bersua.

  20. pak yari pengalamannya di balubur sedangkan saya di sukajadi. jadi mikir nih, kali harga batere jam yg saya beli itu sebetulnya bisa ditawar ya. begini yang saya alami : http://wewarna.wordpress.com/2009/01/04/batere-sombong/. salam

  21. @Yoga

    Memang betul postingan ini merupakan remake dari postingan yang lama. Kenapa saya angkat lagi?? Pertama: Karena walaupun remake tapi sedikit di-upgrade seperti film2 remake Hollywood yaitu dengan mengaitkannya dengan ayat-ayat Quran tentang pengurangan takaran dan timbangan. Kedua: Karena pada postingan pertama, tidak banyak yang menjawab, mungkin kalau saya angkat lagi, akan dapat jawaban2 yang memuaskan. Dan memang kali ini saya mendapatkan jawaban2 yang sangat baik dan cukup memuaskan……

    Maksudnya seperti komentar Catshade bagaimana?? Kalau sudah beli tidak usah survey lagi?? Atau sebelum membeli tidak survey dulu?? Padahal mbak Yoga berkata kalau jadi konsumen harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk survey dulu……?? **jadi binun**:mrgreen:

    @omiyan

    Sebenarnya ini bukan masalah Chinese atau bukan, ini sih terpulang pada individu masing2. Baca komen Prof. Sjafri Mangkuprawira di atas, prof. Sjafri pernah tertipu dengan kasus yang persis sama juga di tembok besar China oleh seorang China asli…..🙂

    @abasosay

    Tetapi…. harga serendah2nya bukan berarti harus merugi loh…..😀

    Yang penting memang kita mendapat untung tapi pelanggan akan selalu ingat nama baik kita terus dan mereka ingin selalu kembali kepada kita. Atau jikalau ingin menjual lebih mahal, harus ada nilai plus yang signifikan…🙂

    @iwanmalik

    Ya…. beri pelayanan yang lebih baik secara kontinyu……🙂

    @Hilal Achmad

    Ya…. terima kasih juga telah mengunjungi blog saya juga ya….. dan salam kenal juga🙂

    @Raffaell

    Kalau nyumpahin atau ngedoain menjadi lebih baik kan jadinya bagus?? Tapi apa ada ya orang zaman sekarang, hati lagi dongkol tapi malah nyumpahin atau ngedoain agar menjadi baik?? Huehehe….😀

    @achoey

    Iya betul…. pedagang harus jujur agar disenangi pelanggan dan disayang Allah.

    Iya nih tak lama bersua. Apa kabarnya nih kang achoey?🙂

    @ami

    Wah…. rupanya kita senasib ya?? Yang dibeli rupanya batere juga ya?? Coba nanti saya meluncur ke artikel di blog anda tersebut dan jikalau ada waktu, insya Allah saya akan meninggalkan komentar…..🙂

  22. mumpung ada kesempatan hahahha

  23. Hehehe… ada yang rancu ya, maksud saya, kalau sudah beli, nggak usah lirik-lirik ke toko sebelah, biar, nggak usah kecewa, kalau disebelah ada yang lebih baik dan lebih murah.

  24. yaph..
    bener tuh bang..
    mentaL para pedagang di negri ini emang uda ancur (waLopun ga semua sih)..
    ga tau kenapa, tapi yang jeLas haL kayak gini merugikan konsumen!!!
    kLo gini kapan negri ini maju??
    persaingan ga sehat!!!

  25. Menurut saya begini pak. Dalam suatu perniagaan memang dilarang mengurangi takaran dan timbangan. tetapi tidak ada yang menyebutkan / pengharaman terhadap harga. kalau di dalam suatu pasar menetapkan harga pasaran tertentu, apakah menjadi haram jika salah seorang pedagang menaikkan harga 1000 sampai 2000 (atau 2 setengah kali lipat). apa batasanya harga itu menjadi haram ? ndak jelas kan …
    kalo merasa tertipu, mengapa tidak disiasati dengan bertanya dulu harganya : istilahnya menawar. kalo di situ terlalu mahal ya jangan dibeli, cari saja tempat lain. Kalau hanya dia saja yang jual, dia memberikan harga 10x lipat pun dimana letak keharamannya ?
    maka anjurannya : sebelum membeli biasakan tanya harganya dulu.
    setelah barang dibeli jangan disesali, karena sesunguhnya menyesali barang yang dipakai / makanan yang dimakan itulah yang membuat haram. (tidak ridho terhadap barang yang dipakai / makanan yang dimakan)

  26. Setuju sekali, Pak…
    Dengan menaikkan harga sampai melebihi batas harga, sama saja dengan mengurangi timbangan…

  27. Pak Yari …
    Let the market and consumer decide …
    Ambil keuntungan memang tidak ada patokan berapa besar / prosentasenya …

    Yang jelas konsumen bisa memilih …
    konsumen bisa membandingkan …

    Harga ketinggian … customer lari … dan dia pasti ngomong ke teman-temannnya dan hancurlah pedagang tersebut …

    Harga lebih tinggi dari pasaran ? bisa saja … asal ada nilai lebih yang ditawarkan … i.e kenyamanan, pelayanan dan yang sejenisnya …
    Jika Konsumen ternyata tak rela … ya ini juga pasti jeblok juga

    Salam saya Pak …

  28. Itu-lah budaya yg harus disingkirkan…

    Kepercayaan konsumen itu sangat diutamakan. Satu saja konsumen kecewa akan berdampak pada puluhan calon konsumen lainnya….

  29. Rejeki ngga akan kemana. Dapatnye gede belum tentu dinikmatinya gede. Siapa tau kang, si Tukang nya narik harga lebih mahal untuk disumbangkan ke Masjid hehehe. Dia ambil seperlunya, sisanya dibagikan kepada yang lebih berhak.

  30. menurut pemahaman saya… Bapak yang salah… seharusnya bapak menanyakan terlebih dahulu berapa ongkos penggantian baterai jam tangan tersebut… anda hanya mengira ngira saja kan… penjual tidak bisa menyalahkan karena menurut perjanjian, anda tanpa meminta penjelasan mengenai ongkos, anda hanya diam saja berarti anda menyetujui… anda bahkan berkata bahwa harganya tidak sampai segitu…

    Pak… prinsip dagang adalah dengan modal yang sedikit memperoleh laba yang maksimal…

    kalau mengenai rujak tadi ya saya pikir realistis lah pak.. bayangin aja…. itu sepadan dengan kurs yang ada saat ini… harga di kita 2000-3000 rupiah sedangkan pedagang memberikan harga 6000 (setengah Dollar) malahan.. ya realistis pak

    perdagangan yang tidak boleh adalah ketika pedagang berbohong
    ex: jeruk dia beli 5000 sekilo, trus dia jual 10.000 sekilo.. penjual ngomongke pembeli bahwa dia kulakan (beli) tuh 9000 sekilo… dia bahkan ngomong kalau hanya untung seribu perkilo…
    nah itu baru gak bener…

    kurang lebih seperti itu pak

  31. Sepertinya sudah jadi kebiasaan pedagang kayak gitu. aku sering kena batunya.

    tapi kalau bule di Bali udah pada canggih mereka lebih pintar menawar harga ketimbang orang lokal (maksudnya Aqu yang oon)😆

  32. sudah ku coba ini itu, kesana kemari dan bosen akhirnya aku numpang parkir, mungkin ada yang baru🙂
    numpang baca ya …………

  33. @zoel

    Kesempatan dalam kesempitan…..😀

    @agoyyoga

    Kalau saya sih tetap saja penasaran mau survey. Yang jelas survey setelah membeli (bagusnya sih tentu saja survey harga sebelum membeli😆 ) juga penting, minimal kita jadi tahu berapa harga pasarannya. Minimal nanti kita tidak tertipu dua kali (hanya keledai kali ya yang mau ditipu dua kali😀 ), atau mungkin nanti hasil survey kita juga dapat berguna untuk saudara2 kita ataupun teman2 kita yang nantinya akan membeli barang yang serupa….😀

    @eL

    Yah…. hukum ekonomi akan tetap berlaku…. mereka yang berlaku “curang” pasti tidak akan “tahan lama”, entah bangkrut ataupun mereka cepat atau lambat akan menurunkan harga juga. Mudah2an mereka bisa mengambil hikmahnya…..

    @adipati kademangan

    Memang sih ada yang berpendapat seperti itu. Namun menurut saya memang sebaiknya, walaupun mungkin menaikkan harga itu tidak haram dan juga tidak ada batasannya dalam Islam (agama yang saya anut), namun sebaiknya para pedagang itu harus mempertimbangkan baik buruknya dari segala sudut dan juga dari sisi konsumen. Karena toh nanti dalam jangka panjang hal tersebut pasti akan merugikan si pedagang itu sendiri……🙂

    @sapimoto

    Memang efeknya sama dengan mengurangi timbangan…..🙂

    @nh18

    Ya betul sekali…. bagaimanapun juga yang “berkuasa” adalah hukum ekonomi. Sekali para pedagang tersebut membuat kesalahan dengan menaikkan harga tanpa disertai fasilitas plusnya maka konsumen cepat atau lambat akan beralih ke pedagang pesaing, yang lebih jujur dalam harga dan yang lebih baik dalam memberi fasilitas……🙂

    @Jay

    Ya… seperti domino effect, kabar bahwa si pedagang ‘A’ tidak jujur, maka kabar tersebut akan menyebar dari mulut ke mulut seperti domino effect…… sungguh merugikan si pedagang sendiri…..

    @Iwan Awaludin

    Iya kalau dikasih kepada yang lebih berhak, kalau ditilep sendiri??:mrgreen:
    Menurut saya wong pedagang kecil belum tentu lebih berhati mulia dibandingkan dengan wong pedagang besar. Tergantung pada masing2 individu……..

    @alfaroby

    Kalau dari sudut itu memang benar. Tetapi saya juga maklum andaikan kenaikannya cuma Rp. 1000,- atau Rp. 2000,-. Namun kenaikan sampai 2,5 sampai 3 kali lipat?? Baik saya bertanya dulu ataupun tidak, jadi atau tidak jadi saya beli di situ, si pedagang tetap saja ‘tidak jujur’. Seharusnya pedagang yang baik, baik harganya ditanya dulu atau tidak, dia akan mematok harga yang wajar….🙂

    @balisugar.com

    Wah…. sering kena batunya ya?? Asal jangan batu beneran aja ya?? Huehehe….

    Ya…. memang kita seyogianya juga pintar tawar-menawar. Moso sih soal tawar-menawar aja kita juga kalah sama bulé…. huehehehe…..😀

    @Black_Claw

    Buset…. libur aja di-combo-in…..:mrgreen:

    @tukyman

    Ya silahkan parkir-parkir, eh maksud saya baca-baca…..😀

  34. @Yari NK:
    betul pak… harga yang rendah dengan margin keuntungan yang tipis dan tidak ada kerugian… biasanya kalau pendatang mereka tidak ‘nyambi’ alias tidak bekerja di lain tempat dan menjaga sendiri dagangannya… pengeluaran ditekan seminimal mungkin… yang penting dagangan selalu lengkap, dan keuntungan (sudah dikurangi makan dan biaya lain) masih ada… ditabung untuk pengembangan usaha…

    kuncinya sabar dan impian untuk sukses…:mrgreen:

    _________________________

    Yari NK replies:

    Pengembangan usaha kan sekarang ada tuh yang buat rakyat kecil, pinjaman2 dari bank2 pemerintah tanpa agunan. Lupa lagi namanya apa, yang dulu sering diiklanin. Sekarang masih jalan nggak ya??:mrgreen:

  35. Hiya…:mrgreen:

    Sekarang memang ada yang namanya PNPM Mandiri dari pemerintah. Bisa digunakan untuk pengembangan usaha. Tapi kalau polanya masih mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan tempo sesingkat-singkatnya tidak akan berarti banyak. Bisnis kan sama saja memikirkan kelangsungan hidup (how to survive). Bukan kenikmatan sesaat.

    Bukan begitu pak?:mrgreen:

    ____________________________

    Yari NK replies:

    O iya bener…. namanya PMPN Mandiri. Thanks deh sudah diingati ya…. huehehe…..

    Ya iya lah….. kalau yang namanya usaha memang bagaimanapun juga harus memikirkan eksistensi jangka panjang dan tidak hanya mentok pada kepuasan jangka pendek yang mungkin terlihat semu….. begicu kan??😀

  36. Barangkali ini juga perlunya pengetahuan pasar. Sehingga tau betul suatu barang punya nilai kualitas serta kualitas di berbagai tempat.

    Apa yang Pak Yari lakukan menjadi menarik, karena pedagang jadi mikir-mikir kalau harus terus menipu. Pembeli juga jadi tau kondisi suatu produk. Tapi dua-duanya bisa rugi juga. Karena aku yakin: Pak Yari sudah emoh ke toko jam itu lagi. Si pedagang? Yah, alamat lah…

    ________________________

    Yari NK replies:

    Ya betul….. ada dua pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini. Pertama, sebagai konsumen kita sebaiknya tahu harga pasaran. Kedua, bagi pedagang, jangan hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek semata, karena hanya akan merugikan dirinya sendiri……🙂

  37. Wah, setelah baca setiap komen, sudah cukup lengkap ya. Gengsi sih kalo OOT sendiri, cuma gemes aja pingin koreksi.

    Jeruk santhang di supermarket sudah turun jadi 7800/kg, sedangkan yang berdaun hampir 9000an/kg.

    *hehe, maap2 kalo ga nyambung.

    ___________________________________

    Yari NK replies:

    Huahahaha….. nggak apa2, masih ada hubungannya dikit walaupun cuma nyerempet aja…😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s