Daily Archives: Rabu, 14 Januari 2009

Seharusnya Yang di Perbatasan Lebih Maju…

indonesia2Sebagian dari anda tentu belum bisa melupakan lepasnya pulau-pulau Sepadan dan Ligitan yang jatuh ke tangan Malaysia lewat Mahkamah Internasional beberapa tahun yang lalu.  Dan mungkin anda juga mengetahui bahwa perairan Ambalat kini juga tengah “diperebutkan” antara Indonesia dan Malaysia. Mungkin entah di masa mendatang pulau-pulau atau laut-laut apa lagi yang akan diperebutkan antara Indonesia dengan negara-negara tetangga lain di masa mendatang (mudah-mudahan jangan tentu saja).

Kita mengetahui (sejak SD?) bahwa Indonesia ini terdiri dari 13.677 pulau (ada versi baru berapa jumlah pulau Indonesia sekarang?) Dan pulau-pulau tersebut terbentang dan berserakan di lautan yang luas lautannya sendiri lebih luas dari luas daratan Indonesia. Untuk mengamankan pulau-pulau tersebut terutama pulau-pulau terluar yang kecil-kecil dan juga daerah-daerah yang berbatasan dengan negara-negara tetangga tentu memerlukan ekstra kerja keras dan juga ‘perekat’ agar wilayah negara kita tetap bersatu. Pancasila sebagai ideologi bangsa memang selama ini terbukti ‘cukup’ ampuh dalam melekatkan wilayah-wilayah di Indonesia ini. Namun tentu Pancasila saja tidak menjamin 100% bahwa wilayah kita akan tetap utuh di masa mendatang. Terbukti bahwa Sepadan dan Ligitan telah ‘terbang’ ke Malaysia sedangkan Timor Timur kini sudah menjadi negara merdeka. Ya, Pancasila harus ‘dibantu’ dengan perekat-perekat lain yang akan lebih dapat menyatukan wilayah kita di masa mendatang baik dari rongrongan dalam maupun luar negeri.

Seperti yang diceritakan oleh mas yang ini, yang prihatin karena pembangunan pulau Sebatik di wilayah Indonesia yang kalah jauh dibandingkan pulau Sebatik di wilayah Malaysia, memang nampaknya keadaan ini menjadi hal yang harus diperhatikan bukan saja oleh pemerintah tetapi oleh kita semua bahwasannya kita seharusnya memajukan wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga. Justru menurut saya, wilayah-wilayah di perbatasan harus lebih maju dibandingkan yang tidak berbatasan langsung atau minimal kemajuan yang dicapai seimbang atau rata. Memang kini, wilayah-wilayah yang di perbatasan seperti di Papua, Timor Barat ataupun di wilayah-wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia sudah mulai diperhatikan oleh pemerintah, namun menurut saya itu belum cukup. Yang berbatasan dengan wilayah Malaysia, harus sebisa mungkin meminimalisasi ketertinggalannya dengan wilayah Malaysia bahkan kalau mungkin sanggup menyusul, sedangkan yang berbatasan dengan Papua Nugini (PNG) dan Timor Leste harus dibangun lebih maju lagi agar perbedaan kemajuan di wilayah kita dan di wilayah negara-negara tetangga kita tersebut menjadi kontras.

Kenapa harus begitu? Karena kalau keadaan menjadi sebaliknya di mana jikalau pembangunan di negara-negara tetangga tersebut lebih maju maka situasi akan menjadi sangat “berbahaya” di wilayah-wilayah perbatasan tersebut. Lihat saja, keadaan di Pulau Sebatik wilayah Indonesia di mana perekonomian penduduknya sangat bergantung kepada Malaysia. Tentu itu sudah sinyal tanda bahaya bahwa lama kelamaan mungkin mereka akan menjadi lebih merasa Malaysia daripada merasa Indonesia. Kasus seperti itu bisa saja terjadi di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan negara-negara lain. Kita jangan sampai melihat bahwa kelak pembangunan di PNG ataupun di Timor Leste akan lebih maju daripada pembangunan di wilayah-wilayah perbatasan kita. Bisa-bisa mereka merasa “menyesal” menjadi bagian dari wilayah Indonesia. Hal itu lebih berbahaya lagi mengingat fenotipe diri mereka lebih mirip dengan orang-orang di negara-negara tetangga tersebut daripada dengan orang-orang Indonesia lainnya.

Sebaliknya, jikalau pembangunan di wilayah-wilayah perbatasan kita jauh lebih maju daripada pembangunan di wilayah negara-negara tetangga tersebut tentu mereka akan menjadi sangat bangga menjadi bangsa Indonesia atau mungkin nanti bisa jadi malah orang-orang Timor Leste menjadi menyesal telah memerdekakan diri karena mereka melihat wilayah Timor barat di Indonesia sangat maju sedangkan wilayah Timor Leste, wilayah mereka hanyalah sebuah kampung besar yang tertinggal! Huehehe….. 😀 Yang jelas jikalau wilayah-wilayah perbatasan kita lebih maju daripada wilayah di negara-negara tetangga kita maka sumberdaya mereka yang terserap oleh kita. Sebaliknya jikalau wilayah-wilayah perbatasan negara-negara tetangga kita lebih maju maka justru sebaliknya, sumberdaya kita yang akan terserap oleh mereka. Lihat saja sekarang, kayu-kayu kita yang diselundupkan ke Malaysia, pasir-pasir yang dijual ke Singapura, belum lagi SDM-SDM kita mulai dari TKW sampai tenaga kerja berketrampilan tinggi semuanya diserap oleh mereka.

Nah, sekarang mumpung belum terlambat, mari kita mulai memajukan wilayah-wilayah perbatasan kita. Jangan sampai menyesal kelak karena wilayah-wilayah berbatasan negara kita (terutama di wilayah-wilayah Indonesia timur) nantinya tertinggal pembangunannya dari pembangunan negara-negara tetangga. Menyesal kemudian tidak berguna. Contohlah Hawaii, yang merupakan negara bagian Amerika Serikat ke-50. Wilayah negara ini ‘terisolasi’ dari wilayah-wilayah AS lainnya. Jarak kepulauan Hawaii dari pantai barat AS adalah kira-kira 3000 mil. Namun mereka bangga menjadi bagian dari AS dan menjadi Warga Negara AS, walaupun penduduk asli mereka sangat berbeda dari penduduk-penduduk asli di daratan AS maupun orang-orang kulit putihnya. Mereka bangga menjadi bagian dari sebuah negara yang makmur dan sangat maju. Dan memang kenyataannya Hawaii lebih maju dan lebih makmur dari negara-negara tetangganya yang merdeka di Lautan Pasifik………..