Seharusnya Yang di Perbatasan Lebih Maju…

indonesia2Sebagian dari anda tentu belum bisa melupakan lepasnya pulau-pulau Sepadan dan Ligitan yang jatuh ke tangan Malaysia lewat Mahkamah Internasional beberapa tahun yang lalu.  Dan mungkin anda juga mengetahui bahwa perairan Ambalat kini juga tengah “diperebutkan” antara Indonesia dan Malaysia. Mungkin entah di masa mendatang pulau-pulau atau laut-laut apa lagi yang akan diperebutkan antara Indonesia dengan negara-negara tetangga lain di masa mendatang (mudah-mudahan jangan tentu saja).

Kita mengetahui (sejak SD?) bahwa Indonesia ini terdiri dari 13.677 pulau (ada versi baru berapa jumlah pulau Indonesia sekarang?) Dan pulau-pulau tersebut terbentang dan berserakan di lautan yang luas lautannya sendiri lebih luas dari luas daratan Indonesia. Untuk mengamankan pulau-pulau tersebut terutama pulau-pulau terluar yang kecil-kecil dan juga daerah-daerah yang berbatasan dengan negara-negara tetangga tentu memerlukan ekstra kerja keras dan juga ‘perekat’ agar wilayah negara kita tetap bersatu. Pancasila sebagai ideologi bangsa memang selama ini terbukti ‘cukup’ ampuh dalam melekatkan wilayah-wilayah di Indonesia ini. Namun tentu Pancasila saja tidak menjamin 100% bahwa wilayah kita akan tetap utuh di masa mendatang. Terbukti bahwa Sepadan dan Ligitan telah ‘terbang’ ke Malaysia sedangkan Timor Timur kini sudah menjadi negara merdeka. Ya, Pancasila harus ‘dibantu’ dengan perekat-perekat lain yang akan lebih dapat menyatukan wilayah kita di masa mendatang baik dari rongrongan dalam maupun luar negeri.

Seperti yang diceritakan oleh mas yang ini, yang prihatin karena pembangunan pulau Sebatik di wilayah Indonesia yang kalah jauh dibandingkan pulau Sebatik di wilayah Malaysia, memang nampaknya keadaan ini menjadi hal yang harus diperhatikan bukan saja oleh pemerintah tetapi oleh kita semua bahwasannya kita seharusnya memajukan wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga. Justru menurut saya, wilayah-wilayah di perbatasan harus lebih maju dibandingkan yang tidak berbatasan langsung atau minimal kemajuan yang dicapai seimbang atau rata. Memang kini, wilayah-wilayah yang di perbatasan seperti di Papua, Timor Barat ataupun di wilayah-wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia sudah mulai diperhatikan oleh pemerintah, namun menurut saya itu belum cukup. Yang berbatasan dengan wilayah Malaysia, harus sebisa mungkin meminimalisasi ketertinggalannya dengan wilayah Malaysia bahkan kalau mungkin sanggup menyusul, sedangkan yang berbatasan dengan Papua Nugini (PNG) dan Timor Leste harus dibangun lebih maju lagi agar perbedaan kemajuan di wilayah kita dan di wilayah negara-negara tetangga kita tersebut menjadi kontras.

Kenapa harus begitu? Karena kalau keadaan menjadi sebaliknya di mana jikalau pembangunan di negara-negara tetangga tersebut lebih maju maka situasi akan menjadi sangat “berbahaya” di wilayah-wilayah perbatasan tersebut. Lihat saja, keadaan di Pulau Sebatik wilayah Indonesia di mana perekonomian penduduknya sangat bergantung kepada Malaysia. Tentu itu sudah sinyal tanda bahaya bahwa lama kelamaan mungkin mereka akan menjadi lebih merasa Malaysia daripada merasa Indonesia. Kasus seperti itu bisa saja terjadi di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan negara-negara lain. Kita jangan sampai melihat bahwa kelak pembangunan di PNG ataupun di Timor Leste akan lebih maju daripada pembangunan di wilayah-wilayah perbatasan kita. Bisa-bisa mereka merasa “menyesal” menjadi bagian dari wilayah Indonesia. Hal itu lebih berbahaya lagi mengingat fenotipe diri mereka lebih mirip dengan orang-orang di negara-negara tetangga tersebut daripada dengan orang-orang Indonesia lainnya.

Sebaliknya, jikalau pembangunan di wilayah-wilayah perbatasan kita jauh lebih maju daripada pembangunan di wilayah negara-negara tetangga tersebut tentu mereka akan menjadi sangat bangga menjadi bangsa Indonesia atau mungkin nanti bisa jadi malah orang-orang Timor Leste menjadi menyesal telah memerdekakan diri karena mereka melihat wilayah Timor barat di Indonesia sangat maju sedangkan wilayah Timor Leste, wilayah mereka hanyalah sebuah kampung besar yang tertinggal! Huehehe….. 😀 Yang jelas jikalau wilayah-wilayah perbatasan kita lebih maju daripada wilayah di negara-negara tetangga kita maka sumberdaya mereka yang terserap oleh kita. Sebaliknya jikalau wilayah-wilayah perbatasan negara-negara tetangga kita lebih maju maka justru sebaliknya, sumberdaya kita yang akan terserap oleh mereka. Lihat saja sekarang, kayu-kayu kita yang diselundupkan ke Malaysia, pasir-pasir yang dijual ke Singapura, belum lagi SDM-SDM kita mulai dari TKW sampai tenaga kerja berketrampilan tinggi semuanya diserap oleh mereka.

Nah, sekarang mumpung belum terlambat, mari kita mulai memajukan wilayah-wilayah perbatasan kita. Jangan sampai menyesal kelak karena wilayah-wilayah berbatasan negara kita (terutama di wilayah-wilayah Indonesia timur) nantinya tertinggal pembangunannya dari pembangunan negara-negara tetangga. Menyesal kemudian tidak berguna. Contohlah Hawaii, yang merupakan negara bagian Amerika Serikat ke-50. Wilayah negara ini ‘terisolasi’ dari wilayah-wilayah AS lainnya. Jarak kepulauan Hawaii dari pantai barat AS adalah kira-kira 3000 mil. Namun mereka bangga menjadi bagian dari AS dan menjadi Warga Negara AS, walaupun penduduk asli mereka sangat berbeda dari penduduk-penduduk asli di daratan AS maupun orang-orang kulit putihnya. Mereka bangga menjadi bagian dari sebuah negara yang makmur dan sangat maju. Dan memang kenyataannya Hawaii lebih maju dan lebih makmur dari negara-negara tetangganya yang merdeka di Lautan Pasifik………..

Iklan

28 responses to “Seharusnya Yang di Perbatasan Lebih Maju…

  1. Untung australi ga berbatasan langsung dg kita ya? Kalo terjadi makin pusing aja kita. Hehe..

  2. Ya
    jadi tidak lagi ada perasaan ngiri meliha negara tetangga

  3. Entah kenapa saya jadi ingat persaingan antartetangga; biar dapur kotor dan tak terurus, yang penting pagar dan halamannya harus jadi yang paling kinclong dan ijo. Semacam arms-race, begitu… 😆

  4. Iya, seperti di game juga, perbatasan wilayah negara itu tergantung dari skor nilai kebudayaan yang dimiliki daerah tersebut, semakin tinggi pengaruh budaya semakin luas wilayah perbatasan

  5. Itulah kelemahan Pemerintahan kita
    sejak doeloe…..
    betul mas Yari, pembangunan di wilayah-wilayah
    di perbatasan sering diabaikan
    alhasil karena merasa dianaktirikan
    warga Indonesia di wilayah itu enjoy
    aja dicaplok negeri tetangga 🙂

  6. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau…

  7. *membentuk dewan persiapan kemerdekaan dompu*

  8. @AgusBin

    Dengan tetangga2 yang ada sekarang aja kita udah pusing….. 😀

    @achoey

    Jangan sampai iri dong tetapi kita tetap harus waspada…. 😀

    @Catshade

    Wah…. kalau cuma ‘perang pagar halaman’ itu sih cuma perang kosmetik aja. Taruhannya tidak ada paling2 cuma gengsi doang. Tapi kalau negara ini…. taruhannya adalah wilayah….. lebih dari sekedar perang ‘gengsi’ 😀

    @Raffaell

    Huehehe…. andaikan mengatur negara ini mirip dengan memainkan game strategi…. 😀

    @mikekono

    Iya betul bang….. kalau tidak diperhatikan pemerintahan sendiri, ya otomatis kalau lebih diperhatikan pemerintah negara tetangga, tentu saja mereka akan beralih. Ngapain kita ‘setia’ sama pemerintahan yang tidak pernah memperhatikan bahkan tidak pernah mengenal kita, lebih baik kita beralih kepada pemerintahan yang mengenal dan memperhatikan kita. Begitu fikir mereka…. 🙂

    @maskoko

    Asal hijaunya asli aja ya, nggak dicat tembok… huehehe……

    @Black_Claw

    Proklamatornya siapa neh?? :mrgreen:

  9. Lucu juga tentang Sebatik itu, mas GNW bilang, di Sebatik, orang makan dan minum di Indonesia, dan buang hajat di Malaysia, karena garis batas negara, tepat membelah rumah. Kebayang, dari ruang tamu ke WC mesti lewat imigrasi… heheheh ini cuma ngebodor aja Mas Yari.

    Bagaimana perbatasan bisa “dimajukan” kalau pembangunan masih berat di Jawa?

    Tapi saya setuju dengan pendapat Pak Yari, latarnya, perbatasan adalah teras negara, pintu gerbang, tempat pertama kali sang tuan rumah menentukan seseorang layak atau tak layak untuk bertamu, atau sebaliknya, perbatasan adalah pintu pelarian bagi “anak-anak” yang tak puas dengan orang tuanya. Jika demikian, sudah mutlak, untuk memajukan daerah perbatasan dan lebih utama lagi, menegakkan kedaulatan tuan rumah di sana.

  10. yang jelas pembangunan tidak tersentral cuma di ibukota kesayangan kita yang udah mau tenggelam itu… heheh ato malah udah klelep?

  11. dibutuhkan sosok yang berani mengganyang pencaplo wilayah idnonesia kalo ada saya ta dukung jadi presiden

  12. jangankan tetangga negara.
    tetanggga rumah ku aja sering cecok gara saling caplok

  13. @agoyyoga

    Iya betul…. saya juga menyesalkan banget pembangunan terlalu dipusatkan di pulau Jawa. Seharusnya di daerah perbatasan dimajukan agar tidak banyak “anak-anak yang lari” dan juga tidak banyak “anak-anak tetangga yang mengambil barang2 seenaknya dari kita” karena melihat barang-barang kita tergeletak begitu saja tanpa ada yang mengurusnya. Sekarang belum terlambat untuk mulai memajukan pembangunan di daerah2 perbatasan, makin cepat makin baik….. (walaupun hasilnya mungkin tidak instan…)

    @ardianzzz

    Ibu kota kita terlalu banyak dibangun kali, jadinya tanahnya nggak kuat sehingga mau tenggelam…. huehehehe…. sementara daerah2 lain di perbatasan banyak yang tidak tersentuh pembangunan…. sungguh kontras… 😦

    @omiyan

    Kalau saya…sosok pemimpin yang berani memajukan wilayah perbatasan pasti saya dukung… huehehe…..

    @hoihei

    Huahaha….apanya yang sering dicaplok tetangga?? Halamannya atau pasangan hidupnya?? :mrgreen:

  14. rumput tetangga emang selalu lebih indah … 🙂 gak nyambung yah?

  15. aku datang membawa tongkat, tongkat ini bukan sembarang tongkat kalau gak ngasi koment keblogmu bisa gawat

  16. setuju pak, biasanya di perbatasan itu harusnya lebih maju

  17. Masih ‘jail’ nyebut2 Malaysia yah…lom kapok ada yg ngambeg *wakakak*.

    Susahnya, sedikit sekali yg mau jadi pioneer utk “memajukan” serambi2 rumah Indonesia kita, kang. Belum lagi dana yg masih diprioritaskan ke-bidang2 lain.
    Jadi investor yuk.. dgn sistem B.O.T 😀

  18. Ping-balik: Dijengkelkan Oleh Form Komentar Lagi | Edi Psw's Weblog

  19. Maslahnya aku bangga menjadi bangsa Indonesia, tetapi Indonesia tidak bangga memiliki aku.

  20. makanya orang diperbatasan pengen gabung ma negeri tetangga ajah…

  21. Wilayah Indonesia memang kurang terjaga. Terbukti itu tadi sipadan dan ligitan. Sudah seharusnya indonesia memikirkan daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar yang dulu Mochtar Kusumaatmadja berjuang untuk wilayah kesatuan pulau-pulau dan pulau-pulau antara. Seperti daerah perbatasan kalimantan yang supermarket terdekat adalah di Malaysia. Teman sekerja saya orang pulau tujuh dan natuna mengatakan seandainya ada survey oleh PBB yang membolehkan memilih ia akan pasti memilih untuk bergabung dengan Malaysia karena merasa Natuna tidak terperhatikan oleh Indonesia sejak merdeka.

  22. Konsekuensi memiliki ribuan pulau ya memang begitu.Seperti di Indonesia ini, pembangunan masih belum merata, wilayah perbatasan indonesia kurang mendapat perhatian sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok, rakyat yang tinggal di perbatasan terpaksa harus mencari kebutuhan mereka di negara lain yang lebih maju.

    Merupakan tugas pemerintah untuk memikirkan dan meningkatkan kemakmuran rakyat di perbatasan.

  23. indonesia kaya kok mas
    tapi belum bisa di perdayakan mas

  24. @Rindu

    Disambung2in paksa aja deh…. huehehe…. :mrgreen:

    @tukyman

    Tongkat kebesaran apa tongkat kekerasan neh? Kok komennya nggak nyambung banget….. :mrgreen:

    @Hilal Achmad

    Ya… agar sumberdaya2 berharga tidak ‘terbang’ ke negeri tetangga…. 🙂

    @G.a.i.a

    Wakakakakak…. lha ini kan kenyataan…..kenapa mesti ngambeg si Malaysia?? :mrgreen:

    Ya tentu solusinya tidak bisa instan dong…. yang jelas memang daerah perbatasan harus dimajukan setidak2nya bisa mengimbangi negara2 tetangga, syukurlah kalau bisa jauh lebih maju……

    @juliach

    Saya nggak pernah mikirin apakah Indonesia bangga terhadap saya atau tidak, yang penting saya akan berikan yang terbaik bagi minimal lingkungan saya sendiri….. 🙂

    @zoel

    Kalau pengin gabung nggak bawa2 wilayah sih silahkan aja kali ya…. huehehe…..

    @Sobirin Nur

    Indonesia ini nampaknya seperti “besar pasak daripada tiang” ya?? Pulau-pulaunya banyak tetapi tidak bisa mengurusnya. Persis seperti orang yang punya rumah besar tetapi tidak ada dana untuk memelihara rumahnya! Dan yang dikuatirkan memang jikalau badan2 internasional melihat suatu pulau yang diterlantarkan suatu negara dan kemudian dimakmurkan oleh orang lain, maka masyarakat internasional akan melihat pulau tersebut sebagai milik negara yang memakmurkan tersebut….. 😦

    @Edi Psw

    Mungkin bukan tugas pemerintah saja, tetapi kewajiban moral seluruh bangsa ini untuk mulai memikirkan kemajuan daerah perbatasan, pak Edi…. 🙂

    @Gelandangan

    Soalnya…. Indonesia ini belum merata kualitas SDM-nya, jadinya kekayaan Indonesia belum bisa diperdayakan sepenuhnya, dan jikalau ada masih butuh modal atau teknologi asing untuk mencapainya……. 😦

  25. Untuk menjaga keutuhan sebuah daerah dan bangsa maka pemerintah yang berdaulat harus mendapat pengakuan penduduk setempat secara defacto,walaupun secara yuridis mereka adalah warga negara Indonesia.
    Agar pengakuan itu ada maka pemerintah wajib memberikan kebutuhan yang paling prinsip untuk hidup yaitu berkecukupan dalam pangan,papan dan sandang. Sebenarnya daerah perbatasan paling mudah dikelola, karena di daerah ini memiliki potensi alam yang luar biasa besarnya, katakanlah flora,fauna baik di darat maupun di lautan.Belum lagi dapat dikembangkan menjadi sektor wisata.
    Langkah konkritnya adalah memberikan penyuluhan kepada penduduk setempat dalam mengembangkan suatu usaha,pertambakan air laut misalnya.Atau pemerintah membuka areal perkebunan yang dapat ikut dikelola penduduk setempat dengan perjanjian kerjasama yang sifatnya win2 solution.Percayalah semua daerah perbatasan akan aman2 saja.

    __________________

    Yari NK replies:

    Nah…. itu dia…. betul sekali…. walaupun mungkin hasilnya tidak bisa instan. Namun pertanyaan besarnya sekarang adalah: “Kapan ya hal tersebut di atas bisa dimulai??”

  26. Memang repot ya, mengurus negara kepulauan, mestinya angkatan laut dan udaranya kuat, biar bisa patroli.
    Dan benar, mestinya pulau yang behadapan dengan negara tetangga harus dipercantik, agar penduduk negara tetangga banyak berbelanja ke pulau yang berada di negara kita.

    Seperti di perbatasan Papua dan PNG, maka orang-orang PNG justru banyak belanja di pasar perbatasan, yang letaknya di wilayah Indonesia.

    ______________________________

    Yari NK replies:

    Betul bu. Jangan sebaliknya. Sebab jikalau sebaliknya justru duit kitalah yang mengalir ke luar, dan juga sumberdaya2 kita lainnya akan terserap ke luar. Dan juga bisa berbahaya jikalau negara tetangga lebih maju, apalagi jikalau PNG ini misalnya lebih maju. Karena jikalau mereka lebih maju, maka orang2 Papua yang fenotipenya lebih mirip dengan orang2 PNG dibandingkan orang2 Indonesia lainnya bisa ‘menyesal’ bergabung dengan Indonesia……. 😦

  27. Setiap suksesi usai, sibuknya sama urusan rumah tangga mulu. Lupa sama teras dan pelataran. Ya bagaimana?

    _________________________

    Yari NK replies:

    Padahal sebenarnya teras dan pelataran termasuk bagian integral dari rumah tangga juga ya?? 😦

  28. Makanya kita harus meningkatkan kemampuan persenjataan militer kita supaya negara lain juga mikir-mikir kalo mau cari gara-gara.

    ________________________

    Yari NK replies:

    Gimana caranya pak?? Mau beli senjata canggih nggak ada duit. Mau bikin sendiri, lha orang2 kita lebih senang berpolitik dan sibuk memikirkan perut sendiri, boro2 mau menguasai sains dan teknologi dalam pembuatan senjata2 canggih…. huehehe…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s