BOTD Bahasa Inggris vs. BOTD Bahasa Indonesia….

Semalam ketika hendak membalas komen-komen yang masuk di blog ini, dan juga tengah berniat ingin membalas kunjungan para rekan blogger yang sudah meninggalkan komen di blog ini (dan juga ingin melakukan sedikit blogwalking), saya iseng-iseng mengintip BOTD yang berbahasa Inggris. Terus terang, saya adalah orang yang termasuk jarang mengintip BOTD, baik yang berbahasa Indonesia, Bahasa Inggris ataupun bahasa-bahasa lainnya karena saya dari dulu sudah beranggapan bahwa blog-blog yang masuk BOTD belum tentu merupakan blog-blog yang “layak dibaca”. Namun ternyata setelah saya meneliti kembali daftar-daftar blog ternyata memang kualitas yang ada pada blog-blog yang terdaftar dalam BOTD Bahasa Inggris ini sangat cukup berbeda kualitasnya dibandingkan dengan blog-blog yang terdaftar pada BOTD Bahasa Indonesia. Memang ada beberapa juga (menurut saya) kira-kira 5-10% yang kualitasnya ‘kurang’ dan terus terang saya juga belum mengunjungi (bahkan) 25% blog-blog yang ada di daftar BOTD Bahasa Inggris tersebut, namun dari sekedar judul-judulnya dan juga dari kata-kata pertama yang terbaca di halaman daftar BOTD saya berani menyimpulkan bahwa kualitas blog-blog di BOTD yang berbahasa Inggris RATA-RATA memang “berbeda” dengan kualitas blog-blog di BOTD Bahasa Indonesia.

Apanya yang berbeda?? Yang jelas postingan-postingan tentang masalah pribadi, curhat dan lain sebagainya bakalan susah menembus jajaran atas BOTD. Apalagi postingan-postingan narsisis. Juga postingan masalah-masalah kopdar hampir tidak mungkin masuk jajaran atas BOTD. Mungkin “kopdar” adalah khas Indonesia ya? :mrgreen:Β  Postingan-postingan semacam “Foto-foto Sarah Azhari Telanjang” juga jangan harap bisa nongol di BOTD yang berbahasa Inggris. Yang mungkin “agak sama” dengan BOTD Bahasa Indonesia adalah sedikit kontroversi tentang agama. Namun topik-topik yang disajikan kebanyakan adalah ‘pertentangan’ antara sains dan agama.

Yang saya perhatikan juga adalah komen-komen yang ada dalam blog-blog tersebut rata-rata bermutu (meskipun ada juga yang kurang). Sangat berbeda dengan komen-komen yang ada di beberapa seleb blog di BOTD Indonesia, yang berjibun tapi kualitas komennya, yah begitulah. Bahkan di blog-blog BOTD Bahasa Inggris yang komennya ratusan (bahkan ada yang ribuan) kualitas komen tetap terjaga. Namun, yang saya perhatikan, mereka rata-rata (si empunya blog) jarang menjawab kembali komen-komen yang masuk, hanya beberapa di antaranya saja yang benar-benar dijawab. Entah karena terlalu banyak, entah karena memang seharusnya begitu, atau entah karena hal-hal lainnya.

Jadi bagaimana kesimpulannya?? Menurut saya, mungkin memang blogger-blogger Indonesia (dan mungkin juga konsumennya) sifatnya berbeda dengan blogger-blogger di Amerika. Di sana, rata-rata blog yang top, adalah blog-blog yang serius. Sedangkan di sini blog-blog yang ada dan yang top kebanyakan adalah blog yang banyak sifat-sifat ‘sosialnya’ termasuk foto2 diri berbau narsisis yang tidak perlu, curhat yang berlebihan, postingan sensasi2 artis murahan dan sebagainya. Nah, kalau bagian komen, saya tetap pada komitmen saya sebelumnya, saya akan tetap berusaha merespon setiap komen yang masuk sebaik mungkin walaupun mereka (para blogger asing berbahasa Inggris) kebanyakan tidak melakukan seperti apa yang saya lakukan!! Nah, bagaimana menurut anda tentang perbedaan fenomena BOTD Bahasa Inggris dengan yang Bahasa Indonesia?? Dan bagaimana pula dengan gaya komen kita?? Apakah setiap komen “wajib” dijawab?? πŸ˜€

Iklan

38 responses to “BOTD Bahasa Inggris vs. BOTD Bahasa Indonesia….

  1. memang beda kultur mas, si Matt wordpress juga bilang gitu. jangan kan yang dari eropa wong katanya blogger cina jauh lebih serius di banding kita….yah, sekarang dikembalikan ke tujuan masing2 orang dalam menulis blog.

  2. Yang jelas tidak ada “pertamax” di komen blog2 luar hehe..

  3. Lama gak komen disini… :mrgreen:

    […] karena saya dari dulu sudah beranggapan bahwa blog-blog yang masuk BOTD belum tentu merupakan blog-blog yang β€œlayak dibaca”.

    Menurut penelitian terakhir juga begitu. :mrgreen:

    Nah, bagaimana menurut anda tentang perbedaan fenomena BOTD Bahasa Inggris dengan yang Bahasa Indonesia??

    BOTD Indo sering jadi simbol status blogger, judul2 post dan terutama tag diusahakan mengandung kata yang sering dicari orang.
    Selain itu banyak blogger WP hebat yang sudah pindah ke domain berbayar.

    Apakah setiap komen β€œwajib” dijawab??

    Kalau saya sih mewajibkan diri menjawab komen, tapi tidak mengharuskannya sesegera mungkin. (terutama kalau terlalu banyak, butuh referensi, atau menyebalkan) Pokoknya kalau sempat lah. πŸ˜‰ Berdasarkankan pengalaman tahunan sebagai komentator-tanpa-blog dulu, ada rasa ‘dihargai’ kalau komen saya dibalas. πŸ˜›

  4. …..perilaku BOTD (blog of today?) menarik untuk dilihat dari beragam perspektif……kalau bahasa inggris mewakili luar indonesia (walau di indonesia ada juga yang blog berbahasa inggris)…….. maka ada baiknya tidak usah jauh-jauh membandingkannya……. kita bandingkan saja botd indonesia dengan botd di negara-negara asia tenggara……bisa kita lihat dari jenis dan mutu konten artikelnya, domainnya, khalayak sasarannya, mutu komen, timbal balik komen, frekuensi tautan oleh blog lain, dsb……disamping itu dilihat pula perbedaannya seberapa jauh blog seseorang atau organisasi tertentu dijadikan rujukan oleh pihak lain misalnya oleh lembaga pendidikan, penelitian, mahasiswa, pemerintah, dunia bisnis, dsb……..lalu dalam hal frekuensi dan mutu komen…….selain itu bisa juga mencerminkan seberapa jauh suatu masyarakat negara tertentu cenderung sudah melek tentang blog…….baik menyangkut bahasa, struktur kalimat, dan kemanfaatannya……..saya duga semua perbedaan bisa jadi karena perbedaan budaya, level pendidikan, kesadaran ber-IT, kesadaran tentang shared values, shared information, sense of learning,……apalagi dibanding dengan negara-negara maju…..saya sendiri belum bisa memberi komen yang pas untuk botd ini……maklum kurang data dan info……

  5. Ah saya sekarang juga jarang bales komen. Hehehe.

  6. Nah, bagaimana menurut anda tentang perbedaan fenomena BOTD Bahasa Inggris dengan yang Bahasa Indonesia?? Dan bagaimana pula dengan gaya komen kita?? Apakah setiap komen β€œwajib” dijawab?? πŸ˜€

    Saya rasa BOTD itu lebih mencerminkan karakteristik pembaca blog (bisa blogger juga, bisa saja hanya netter biasa) ketimbang bloggernya sendiri. Yang nulis serius2 di blog Indonesia saya kira juga banyak, tapi yang dicari oleh pembaca ya… yang seperti itu. πŸ˜• Saya kira internet di Indonesia saat ini masih lebih banyak digunakan sebagai sarana hiburan dan sosialisasi, belum sepenuhnya dipandang sebagai sarana belajar dan memperoleh pengetahuan baru.

    Btw, bung Arul pernah iseng-iseng membandingkan 10 situs top di negara2 ASEAN berdasarkan ranking Alexa.. Salah satu hasilnya, di Indonesia dan Malaysia situs Wikipedia tidak masuk top 10, sementara di Brunei, Filipina, dan Singapura ia masuk. Di sisi lain, cuma Indonesia satu-satunya negara yang 2 situs lokalnya (Kaskus dan Detik) masuk top 10. πŸ™„

    Lalu soal komentar, saya rasanya hanya membalas komentar yang memang butuh jawaban itupun kalau sempat. Kalau hanya komentar pendek2 yg sifatnya memuji atau mengamini begitu saya malah bingung bagaimana membalasnya dengan tanggapan tidak terkesan klise atau basa-basi. πŸ˜•

  7. yak, ketigaxxxx. ehehehe. trserah deh mau bilang apa saya tetap keep posting.,

  8. Wah, klo sy hampir tidak pernah liat2 BOTD… *mngkn krn blog sy ga tenar… tiap pas ngeliat yg tenar di BOTD …blog2 yang begitulah… he he… . Makanya males ngeliat….* πŸ˜€

  9. kualitas sebuah postingan blog menurut saya diukur sampai sejauh mana postingan dalam blog bisa memenuhi kebutuhan para netter. Kebutuhan itu tentunya tidak melulu soal keilmuan sain/teknologi atau sosial…..tapi juga memenuhi kebutuhan iseng, hiburan, atau hanya sekedar untuk mengisi rasa jenuh ketika menunuggu istri dan kita di kantin berhotspot gratis dengan membuka situs bugil. .Bisa jadi di eropa atau amrik kunjungan terbanyak pada blog yang yang berbau keilmuan Dari sisi eropa dan amrik itulah yang berkualitas. Di Indonesia blog serius lebih banyak dibandingkan yang hiburan, namun bisa jadi jumlah kunjungan lebih banyak pada blog hiburan…jadi di Indonesia yang hiburan itulah yang berkualitas. Bagi saya ngenet adalah hiburan dan hanya di peringkat ke 10 untuk cari ilmu, karena saya yakin ungkapan keilmuan dalam blog, hampir 90 % opini pribadi tanpa dasar keilmuan mendalam. Menyoal apakah komentar perlu di jawab…itu terkait dengan etika komunikasi…di Indonesia secara kultur orang menyapa……mestinya di jawab.

  10. kalo menggunakan prinsip “tamu adalah raja”, komentar saya ini pun wajib dijawab. :mrgreen:

  11. @boyin

    Mudah2an “berbeda” bukan berarti blogger2 kita rata2 mutunya lebih “rendah” dari blogger-blogger asing ya….. :mrgreen:

    @Aria Turns

    Yang jelas di komen2 blog luar yang ‘hehe…’ juga jarang loh… hehehe (juga)… :mrgreen:

    @jensen99

    Mungkin juga blogger2 di Indo ini mengutamakan ketenaran karena mungkin juga mereka di dunia nyatanya ‘kurang eksis dan diakui” jadinya sebagai pelampiasan berusaha mencari perhatian di blogsfer dengan judul2 yang sensasional walaupun tidak berkelas…. πŸ˜€

    Kalau saya berpendapat, komen tidak perlu dijawab, tetapi terus terang saja saya senang sekali menjawab setiap komen yang masuk sebab bagi saya pribadi menjawab komen itu banyak manfaatnya, salah satu melatih saya untuk berinteraksi lewat tulisan dan juga melatih skill saya dalam kreativitas menggunakan kata2…. *halaah* πŸ˜›

    @sjafri mangkuprawira

    Saya pernah beberapa kali dulu membuka BOTD Bahasa Melayu (Malaysia), karena dari negara2 tetangga hanya BOTD Melayulah yang saya fahami. Kalau BOTD Thai atau BOTD Tagalog misalnya tentu saja tidak saya mengerti. Isi BOTD Melayu menurut saya juga agak berbeda. Yang banyak memang blog2 tentang agama (atau berbau agama). Walaupun begitu blog2 tentang gosip artis yang kurang bermutu juga cukup banyak. Walau begitu, menurut saya BOTD bahasa Melayu tersebut variasinya masih kalah daripada BOTD Bahasa Indonesia (ini bukan penelitian resmi tetapi berdasarkan pengamatan sekilas saya saja. Bisa jadi BOTD Bahasa Melayu tersebut sebenarnya rata2 lebih baik dari kita ataupun lebih buruk dari kita).

    Betul prof, macam blog yang berjaya di BOTD kita sangat juga tergantung dari berbagai faktor yang prof katakan di atas. Yang jelas, seperti ‘hukum pasar’ saja, jika banyak permintaan maka ialah yang berjaya. Jadi memang “kejayaan” sebuah blog tetap saja bergantung kepada kualitas atau selera para konsumen yang mencarinya…….

    @Rian Xavier

    Biarin deh…. asal jangan malas sikat gigi aja…. **apa hubungannya yak??** πŸ˜†

    @Catshade

    Iya memang…. saya juga pernah melihat postingan Arul tersebut. Mudah2an itu bukan berarti bangsa kita rata-rata malas belajar ya?? Atau lebih menyedihkan lagi, rata-rata tidak mau belajar ya?? Sama saja mungkin dengan media TV. Jikalau ada channel yang bermutu macam Discovery Channel atau National Geographic versi Indonesia lawan channel khusus sinetron ataupun dangdutan (kalau musiknya sih masih mendingan yang ini cuma mengandalkan goyang ngebornya) sepertinya kita tahu mana yang akan menang…. 😦

    Saya sendiri juga beranggapan bahwa setiap komen tidak perlu dijawab. Tetapi kalau saya orangnya memang suka membalas komen, manfaatnya bagi saya pribadi banyak sekali (termasuk melatih skill dalam menjawab komen2 klise…). Dan saya yakin, orang akan lebih senang jikalau komennya dijawab…. πŸ˜€

    @hoihei

    ketigaxxx apanya?? Orang yang ketujux begitu kok! Huehehe…… Yup yang penting keep posting… tetapi postingannya jangan yang macam “Foto2 Sarah Azhari Telanjang” gitu ya?? :mrgreen:

    @mathematicse

    Kalau blognya kang Jupri nggak bakalan masuk BOTD Bahasa Indonesia. Kenapa? Sebab sepertinya settingan blognya kang Jupri pakai Bahasa Inggris bukan Bahasa Indonesia. Walaupun kang Jupri ngeblognya pakai Bahasa Indonesia tetapi oleh ‘robot’ BOTD tetap dianggap sebagai postingan Bahasa Inggris, mangkannya jika blognya kang Jupri nggak pernah nongol di BOTD, itu karena settingan bahasa blognya kang Jupri, bukan karena “nggak tenar”…. Jadi jangan heran… πŸ˜€

    @Kang Aom

    Memang betul, tetapi hiburanpun ada yang berkelas dan ada yang tidak. Jadi memang tergantung dari konsumennya juga, apakah konsumennya hanya mencari hiburan2 yang murahan ataupun yang berkelas. Namun, dari sudut pandang netral saya percaya bahwa blog2 keilmuwan jauh lebih berkualitas dibandingkan dengan blog2 hiburan tidak berkelas ataupun blog2 yang berbau narsisistik.

    @sitijenang

    So pasti dong….. saya sih selalu menganggap komentator itu raja. Maklum hanya di blog saja mungkin mereka merasa menjadi raja….. huehehehe…. :mrgreen:

  12. Yaaa, mana baiknya aja lah….

    beda negara beda juga karakternya. Klo sama kan g asyik bro

    hehe kyknya gtu see

  13. @Yari NK: Ooo… gitu ya? Iya, sengaja saya setting dalam bahasa Inggris, sebab, klo dalam bahasa Indonesia, nanti banyak yang ga sy ngerti… semisal upload = unggah, dll. Banyak terjemahan yang aneh2.. saya suka kikuk… πŸ˜€

  14. Balik ke kita masing2 mas… tujuan kita ciptain blog itu apa dan mau diapain kedepannya, ada sebagian orang, blog dibuat buat ajang silaturahni dan ada juga sebagian orang memang betul2 untuk memberikan informasi suatu produk atau perusahaan.

    makasih infonya ya mas πŸ™‚

  15. *halah* itu mah bukan soal budaya, karakteristik, pendidikan, etc etc

    itu mank kebutuhan netter/bloger indo ya mank g2 dr sononya, butuhnya yg serba dasar (bogel2, lowongan, CPNS, soal2 ujian, etc), gretongan (free download, MP3, anti virus, etc), sensasional (hujat2an, etc) keknya c selama ini top post di WP ga jauh2 dr gitu2an deh.

    Tapi yaa.. mank masink2 bloger punya motivasi n cara expresi pribadinya masing2, dampak mah kumaha engke waelah. Sy suka perhatiin BOTD top blog (bukan top post), biasanya ketahuan siapa2 yg selalu konsisten di top 20 ato sekedar sensasional sesaat aja

    kalo komen c menurutku tergantung lagi ma sifat n motivasi blogernya… ada yg ramah, ada yg cupu, ada yg cuwek, ada yg pengin ngetop, ada yg……

  16. Bagi saia tiap orang yang komen–sebisa mungkin dan kalo gak lupa juga πŸ˜› –mesti dibalas. Sbg apresiasi kita pada karya mereka, ntah itu foto ato apa pun hal yang gak penting.

  17. Saya msh tergolong baru d dunia maya ini, disamping itu saya juga termasuk pasif. Jd kurang pintar skali memberikan penilaian trhadap suatu postingan. Namun dari blogwalking yg saya lakukan memang bnyak rekan2 yg hanya asal ada postingan belaka (katanya om gugel menyukai itu), mungkin juga termasuk saya sendiri. Tntang coment2 juga bnyak yg skedar mengamini atau memuji belaka mungkin dgn tujuan dpt kunjungn balasan, padahal kita menginginkan terjadinya sebuah diskusi trhadap postingan tsb dan kemudian terlibat interaktif d dalamnya. Saya mmg tetap akan membalas coment2 tsb, walau terkadang agak susah menjawabnya.

  18. kalo di negara kita kan lebih dikenal keramahannya, sementara negara barat terkenal dengan sikap individualistis namun tetap mereka berkualitas

    jadi wajar jika kita biasa balas komentar πŸ™‚

  19. Menyoal BOTD Luar ama BOTD dalam Negeri emang agak susah Mas…Kalau Postingan BOTD Luar agak Serius ( ?) Kalau dalam negeri lebih mementingkan Populis dan google friendly barangkali memang sudah budaya kita masing masing yang memang begitu.
    Tapi kita musti yakin bahwa suatu saat Blog yang populis namun tidak bermutu(?) kalau tidak segera bermetamorfosa akan ditinggalkan pembacanya.
    Yang akan eksis mungkin adalah yang populis dan bermutu.
    Saya memiliki blog yang tidak populis dan tidak bermutu maka ya enggak ada pengunjungnya apalagi koment.
    Karena tujuan saya bikin blog khan sekedar mengungkapkan pendapat pribadi dan juga catatan catatan kecil bukan untuk tujuan populer.karena saya sudah populer di keluarga apalagi Ibunda saya ( he he….)
    Tapi ngomong ngomong lama juga nih enggak berkunjung disini…..Seperti yang pernah saya ungkapan pasti ada sesuatu yang baru disini.
    Salam

  20. Gila pak, aku sama sekali ngga memperhatikan yang gituan, hahahaha…. ntah lah apa itu perlu ato ngga, bagi aku sendiri sih 50% blog itu ada dari unsur social networknya…

  21. BOTD. dulu jujur gak tahu apa itu BOTD, sampai ada teman kasih tahu bahwa blogku masuk BOTD, walau dalam scoop 20 besar. kalau diperhatikan memang yang masuk BOTD Indonesia cenderung tidak berubah dan sebagian konsisten dengan isi blognya.
    Oke kalau gitu ayo rame2 nulis yang bener dan bermutu.

  22. BOTD itu apa mas ??? *garuk2 kepala*

  23. kapan yah blog ku masuk jajaran BODT dengan postingan yg lurus. bukan bengkok-bengkok.

  24. @wangmuba

    Iyalah… kalau sama semua kita jadi ‘repot’. Coba saja kalau tidak ada orang miskin, kita tidak akan disebut kaya. Kalau tidak ada orang bodoh, kita tidak akan disebut pintar. Jikalau tidak ada orang pelit, kita tidak akan disebut dermawan. Eh, saya bukan orang terlalu dermawan deh… (meski nggak pelit juga) huehehehe….

    @Al Jupri

    Sebenarnya saya juga lebih senang yang bahasa Inggris, tetapi karena berusaha mencoba untuk mencintai bahasa sendiri **halaah** maka saya lebih memilih settingan yang berbahasa Indonesia…. πŸ˜€

    @Bujang Lahatβ„’

    Iya juga sih…. cuma sepertinya blogger-blogger di negeri ini ‘komposisi’nya masih timpang (apa konsumennya yang timpang ya??) Blog yang berbau narsisis yang tidak perlu dan juga blog-blog yang hanya mencari sensasi murahan masih jauh lebih banyak dari blog2 yang serius…… Komposisinya harus lebih diratakan lagi……. πŸ˜€

    @Jiwa Musik

    Betul kebanyakan kita masih menginginkan hal2 yang dasar saja seperti MP3, antivirus, video, dan sebagainya. Sebenarnya itu hal yang alami. Sayapun juga terkadang masih membutuhkan hal2 yang dasar seperti itu. Kebutuhan yang seperti itu tentu tidak perlu dihilangkan namun sebagai bangsa yang ingin maju tentu seharusnya kita tidak stop sampai hanya ‘kebutuhan2 dasar’ saja. πŸ˜€

    @Treante

    Sayapun sebisa mungkin menjawab komen yang masuk. Selain menghargai komen mereka, membalas setiap komen bagi saya adalah sesuatu yang ‘fun’ dan dapat memberikan manfaat bagi saya pribadi…. πŸ˜€

    @jiwakelana

    Kalau anda sudah bisa membedakan mana yang postingan ‘asal’ dan mana yang postingan ‘nggak asal’, berarti apresiasi anda terhadap dunia blogging sudah jauh berkembang walaupun anda seorang pemula. πŸ™‚

    Dan ya betul terkadang banyak juga komen yang ‘basa-basi’ minta dikomen balik secara tidak langsung. Walaupun saya tetap menghormati komen2 tersebut dan juga tetap menghormati keinginannya untuk dikomen balik, saya berharap mudah2an ke depannya lebih banyak lagi komen2 yang lebih baik kualitasnya…. πŸ™‚

    @achoey

    Menurut saya membalas komentar juga merupakan hal yang baik, tetapi mudah2an komentar juga sebaiknya datang dengan kualitas yang baik pula…. Bukan begitu kang achoey? πŸ™‚

    @Simb.Sal

    Menurut saya juga begitu…. sebaiknya gabungkan antara unsur bobot (serius) dan juga unsur populis dan sosialnya. Sayapun juga memperhatikan unsur2 populis dan sosial. Menjawab setiap komentar yang masuk dan juga memasukkan unsur2 canda atau gurau juga termasuk usaha saya untuk memasukkan unsur2 sosial… πŸ™‚

    @Raffaell

    Ya seharusnya memang berimbang di antara 50% social network dan 50% bobot tulisan. (Ya, lebih dan kurang dikit nggak apa2… πŸ˜€ ). Tetapi sepertinya di blog2 kita banyaknya yang belum berimbang… πŸ˜€

    @antokoeβ„’

    Menulis benar dan bermutu tapi jangan kaku…. πŸ˜€

    @maskoko

    **ngasih maskoko obat anti kutu, shampoo dan odol** (Loh odol buat apa ya??) :mrgreen:

    @hoihei

    Pergi ke salon terus direbonding… πŸ˜†

  25. @Yari NK
    video termasuk kebutuhan dasar netter indo? 😯

    hehe… mungkin juga yaa… tapi ai yakin striming tuh halal, jd kaliopun bisanya baru nyuguhin sebatas yg dasar2 aja so far, qt usahain at least halal (n legal)

    Trims n salam

  26. saya melihat blog sendiri punya “pangsa pasar” masing-masing, dan itu sah-sah saja. selera pembaca toh tidak bisa dipaksakan. bagaimana sebuah blog diminati atau tidak, rasanya itu akan jadi seleksi alam. sejauh ini toh blog yang berkualitaslah yang mampu bertahan (dalam arti menjaring pembaca). blog yang sifatnya narsis semata bisa jadi ramai, tapi seleksi alamlah yang akan menentukan kelangsungannya. seleksi ini pula yang nantinya akan memotivasi seorang bloger dalam hal menulis: wil it be something or nothing.

    saya setuju dengan kang aom soal membalas komen. bisa jadi kultur yang membedakan. sebagai ajang jurnalisme amatir (yang tak terikat pakem-pakem tertentu kecuali moral), blog menjadi sarana berbagi informasi dengan cara populer, ringan, dan interaktif. mengingat karakter orang indonesia yang senang ngobrol, rasanya menjawab komen sejauh memungkinkan sebaiknya dilakukan. bagi saya itu adalah bentuk penghormatan kepada tamu.

  27. Dari dulu istilah BOTD nggak pernah lekat di kepala saya, Mas Yari. Mungkin karena saya termasuk apatis, seenaknya sendiri, suka-suka sendiri menulis apa yang ingin saya tulis, tanpa peduli sifat “pasar” Blog Indonesia. Syukur, jika ada yang bisa memetik manfaat dari tulisan saya.

    Akhir-akhir ini, tulisan di Agoyyoga malah nyaris tak penting, karena saya kesulitan mencari kesempatan buat menulis materi manajemen seperti sebelum-sebelumnya. Sedang di AOE jadi ajang bersenang-senang saja, halaman tempat bereksperimen dan narsisis. Hehehe… Payahnya lagi, saya tak sempat jalan-jalan, blog walking ke sana kemari, padahal banyak Blog yang isinya bagus. Dulu sehari masih bisa lima blog, sekarang paling banter tiga. Itu juga, karena pemilik Blog telah bergeser menjadi kawan di dunia nyata, yang saat off line, masih kerap berkomunikasi.

    Soal komentar, awalnya ketika belum punya blog, tapi sudah sering blogwalking, saya bingung,mengapa komentar perlu di balas? Kalau sifatnya pertanyaan, sudah sewajarnya, tapi kalau cuma komentar, apa perlu balas beralas? Setelah punya blog, baru saya sadari, ternyata bila komentar direspon, ada rasa kedekatan/keakraban dengan pemilik blog yang berpotensi membangun sebuah komunitas kecil yang guyub, ini jelas karena komunikasi berjalan dua arah. Dan ini mungkin sifat khas orang Indonesia, yang lebih unggul rasa kekeluargaannya (eh masih begitu kan?).

    Dan komentar terakhir saya, saya paling merasa diapresiasi kalau komentar pembaca tulisan saya berbobot dan memberi nilai tambah bagi pembaca yang lain, tapi tentu saja, konteksnya harus senyawa dengan isi tulisan yang akan di komentari.

  28. Ping-balik: Blog Oh Blog « Amalia (On Earth)

  29. wah2… analisis yang baik pak πŸ™‚ tapi apa memang di Indonesia itu blog-blog yang nggak serius ya yang top? πŸ™‚ sepertinya menarik nih untuk dilakukan riset berkelanjutan tentang dunia blogger Indonesia

  30. @Jiwa Musik

    Sepertinya sih video sebenarnya juga masuk kebutuhan netter indo. Hanya saja keterbatasan bandwidth dan juga keterbatasan transfer speed yang juga belum merata yang menyebabkan netter indo terkadang kurang bernafsu jikalau mengakses streaming video.

    Setahu saya juga streaming memang tidak termasuk dalam pelanggaran hak cipta karena file-nya tidak tersimpan di dalam harddisk.

    @marshmallow

    Masalahnya… gawatnya… jikalau “seleksi alam” tersebut berjalan ke “arah yang salah”. Bagaimana jika kebanyakan konsumen kita hanya menyukai sesuatu yang ‘kurang bermanfaat’ saja. Apakah kita akan semakin tertinggal nantinya?? Sama seperti ANDAIKATA orang bisa memilih “mau sekolah atau tidak”. Jikalau misalnya bangsa kita kebanyakan memilih “tidak sekolah”, nah tahu sendiri “seleksi alam” menuju ke arah mana…… Kurang lebih seperti itu. πŸ™‚

    @agoyyoga

    Sebenarnya saya juga tidak kurang berminat terhadap daftar BOTD. Tetapi ternyata daftar tersebut “ada gunanya” juga buat saya pribadi jikalau dilihat dari sisi yang lain. Di antaranya adalah saya jadi mengetahui perbedaan dan persamaan para pembaca blog kita dengan para pembaca blog di luar, walaupun tentu kesimpulan belum baku karena pengamatan baru dilakukan sekilas. Namun minimal sudah ada gambaran sedikit tentang perbandingannya.

    Sebenarnya saya sendiri juga seringkali terkadang juga malas membuat tulisan2 yang serius. Namun, saya sadar tulisan saya mewakili apa yang ada di kepala saya. Dan tulisan kita dibaca oleh banyak orang. Jangan sampai ada orang yang membaca blog saya berfikiran: “Yaaah…. ini orang menang kumis aja, isinya nggak ada apa2an”. :mrgreen: Inilah yang mungkin belum banyak dirasakan para blogger Indonesia. Sayapun juga berusaha kalau menulis serius, memasukkan unsur2 yang tidak kaku atau terkesan sangat ‘textbook’. Dan sayapun juga merasa bahwa masih banyak tulisan2 saya yang harus diperbaiki.

    Mengenai komentar, mungkin juga apakah karena kebanyakan bobot blog yang ada berkaitan dengan maraknya komen yang ‘asal2an”?? πŸ˜€ Walahualam… Namun yang jelas terkadang komen yang ‘asal2an’ pun buat saya bisa berguna juga sedikit. Komen2 yang ‘asal2an’ tersebut seringkali saya candai, lumayan buat melatih ‘sense of humour’ saya… huehehe…. Bukankah ‘sense of humour’ juga suatu sisi kemanusiaan yang ada gunanya juga? πŸ˜€

    @parvian

    Nah…. siapa nih yang mau mengadakan penelitian?? Apa tema penelitian seperti itu layak dibuat TA jurusan ilmu komputer atau informatika?? Atau jurusan psikologi?? :mrgreen:

  31. sepertinya cocok untuk dijadikan TA untuk temen2 dari jurusan psikologi dan ilmu komunikasi pak πŸ˜€

  32. kalau sya sih lbih enak mnjwab kmntar. Krena pgnjung blog adalah tamu, jd udah smstix dsmbut.. sprti itu.. jd ya sling mnghrgai…

  33. Sama dengan Pak Yari, aku termasuk yang jarang melihat (malah tidak pernah urusan dengan) BOTD. Bertahun-tahun nge-blog dan bagiku BOTD bukan lah sebuah ukuran.

    Dulu sekali, waktu awal-awal nge-blog di wordpress, aku kerap geleng-geleng kepala keheranan dengan blog yang rata-rata isi tulisannya nggak jauh dari curhat pemiliknya, kopdar, dan ehem-ehem, tapi komentarnya bejibun. Puluhan bagai ratusan. Rata-rata begitu.

    Tapi begitu kuperhatikan dengan seksama: komentar-komentar itu kebanyakan justru sekadar saling menimpali, ejek-ejekan, kelakar, dan semacam ada kata “wajib” menorehkan kalimat sebagai tanda berkunjung. Tidak pada esensi tulisannya yang, apa boleh buat, sekadar curhat pemiliknya, kopdar, dan ehem-ehem itu.

    Jadinya aku berpikir, komentar banyak pada sebuah blog bukan cerminan kualitas sebuah blog. Apalagi kalau isinya sama sekali tidak informatif secara umum (ini selera individu dalam membaca blog ya). Jadinya aku cenderung menyukai blog-blog yang memang secara content memberikan vitamin, plus ada wacana diskusi dalam komentar-komentar yang masuk (lagi-lagi ini soal selera).

    Tentu saja kita tidak bisa begitu saja membandingkan antara BOTD versi Bahasa Inggris dengan BOTD versi Bahasa Indonesia. Frame cara berpikirnya berbeda. Tujuan nge-blog masing-masing individu secara kolektif juga berbeda. Ironisnya kalau kebiasaan secara kolektif tersebut dijadikan parameter untuk mengukur bagus tidaknya sebuah blog.

    Aku sendiri, sejauh mampu, tetap membalas komenter-komentar yang masuk. Karena secara sadar dengan sengaja membangun ruang diskusi di blog. Tulisan tak sekadar dilempar dan orang mengomentari begitu saja.

    Weh, tulisan Pak Yari ini menarik untuk didiskusikan secara lebih lanjut dan dalam.

  34. hohoho… saya udah pulang dari hutan….
    alhamdulillah gak digigit pacet…

    hmm langsung nimbrung…
    hmmm gak dong apa itu BOTD…

    hmm searcing google…

    oh itu toh…

    sekarang saya paham…

    πŸ™‚

  35. sepertinya cari alasan untuk tidak menjawab komen nih :mrgreen:

  36. apa itu BOTD
    aku kagak menger……….

  37. @parvian

    Huehehehe…. iya terima kasih. Nanti kalau ada mahasiswa psikologi atau sosiologi yang kebetulan kos dekat rumah saya, saya akan usulkan kalau TA membahas masalah BOTD ini…. πŸ˜€

    @Ardy Pratama

    Sayapun juga cenderung untuk menjawab setiap komentar karena banyak juga manfaatnya bagi saya, dan saya juga merasakan fun dalam menjawab setiap komen serta pasti jika komen dijawab akan membuat para komentator menjadi merasa senang. πŸ™‚

    @Daniel Mahendra

    Saya memang sering melihat blog yang para komentatornya ratusan, tetapi komentarnya yang ngasal dari ratusan tersebut jumlahnya juga ratusan! Huehehehe……. alias hampir 100%. Yang jelas saya sudah punya komitmen, tidak akan ‘terbawa arus’. Jika saya ngeblog, diusahakan tulisan saya yang ada ‘vitamin’nya walaupun sedikit. Juga kalau saya berkunjung dan meninggalkan komen, saya usahakan komen saya juga mengandung ‘vitamin’ di blog tersebut. Namun saya yakin, ke depannya lebih banyak lagi blog-blog yang berkualitas di negeri ini…..

    Betul sekali mas Daniel, jikalau komen dijawab akan menjadi ruang diskusi dan dapat menjadi informasi pelengkap dari artikel utama kita. Itulah salah satu tujuan menjawab komen….. πŸ™‚

    @ardianzzz

    Abisan di Blogger nggak ada BOTD. Itu khas WordPress…. :mrgreen:

    @Anggara

    Saya juga mau cari2 alasan supaya nggak harus berkunjung balik ke blognya kang Anggara nih! :mrgreen: Huehehe… nggak kang becanda kok! πŸ˜€

    @iwan

    Menger….jakan PR di rumah ya?? Kelihatan malesnya! huehehe…. :mrgreen:

  38. BOTD … Baru tau istilah itu hari ini, disini .. di rumahnya Bung Yari.

    Bagi saya bikin Blog adalah tempat berbagi apa saja yang mungkin bisa bermanfaat bagi orang lain. Dengan gaya tulisan dan pemikiran yang beraneka ragam karena memang manusia selalu berbeda.

    Menulis, terkadang merupakan suatu cara untuk meng-exiskan diri ( spt kata Bung Yari, karena kurang populer di dunia nyata), terkadang merupakan perwakilan dari ide-ide, emosi terhadap sesuatu masalah atau sebagai sarana unjuk gigi kreatifitas dan lain sebagainya.

    masalah balas komen ….. upToYou … bagaimana enaknya menurut dirimu sendiri karena yang lebih tahu kebutuhanmu adalah Dirimu.

    * set mode on ‘BELAJARSERIUS’

    ________________________

    Yari NK replies:

    Mengenai kreativitas blog tentu memang itu terpulang pada masing-masing individu. Tetapi kalau hanya postingan gosip artis murahan atau postingan2 narsisis yang tidak perlu tentu itu hanyalah kreativitas murahan walaupun tentu sah2 saja.

    Nah, mengenai menjawab komen tentu itu juga urusan masing2 individu. Hanya saja banyak juga di antara kita yang tidak menjawab komen karena malas. Padahal menjawab komen itu banyak manfaatnya jikalau kita tidak asal2an juga menjawabnya. Nah, memang yang mengetahui kebutuhan kita adalah kita sendiri. Tetapi apakah kita jujur bahwa kita tidak menjawab komen karena malas?? Bagaimana dengan kamu?? πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s