Daily Archives: Kamis, 29 Januari 2009

Beginilah Kalau Menjelang Pemilu…….

Menjelang tahun baru kemarin, ketika baru pulang ke rumah dari tempat kerja, saya mendapatkan gulungan kertas karton yang terikat dengan gelang karet yang ditaruh oleh pembantu saya dekat televisi di ruang tamu. Ketika saya membukanya, saya hanya bisa senyum-senyum sinis kecut saja, ternyata gulungan karton tersebut dari tetangga saya, yang meskipun saya kenal tetapi tidak terlalu akrab. Gulungan karton tersebut adalah kalender tahun 2009 bergambar dirinya dan seorang tokoh yang sangat terkenal dari sebuah partai.

“Oh…. dia mau jadi caleg toh??” Begitu fikirku sinis. Tiba-tiba aku sadar bahwa di depan rumahku dan juga di pohon-pohon yang tumbuh di depan rumahku sudah mulai banyak ditempeli selebaran-selebaran dan baliho-baliho para caleg yang “terhormat” tersebut. Beberapa yang menempel di tembokku bagian depan yang mengganggu estetika sudah aku cabut. Namun akupun maklum, karena tahun 2009 ini adalah tahun pemilu, tahun di mana kita memilih pemimpin-pemimpin kita dan wakil-wakil rakyat kita untuk menentukan langkah negeri ini lima tahun mendatang.

Di TV-TVpun sudah mulai marak acara-acara mengenai pemilu baik itu berupa talk show, debat, dan lain sebagainya. Sebenarnya aku sudah mulai bosan dengan acara-acara tersebut. Bagiku menonton Animal Planet lebih menarik dibandingkan menonton talk show politik semacam itu. Namun ironisnya, justru terkadang tokoh-tokoh politik tersebut yang membuat saya senyam-senyum sendiri sangking lucunya mereka saling menyerang. Ditanggung lebih lucu daripada melihat acara-acara di Animal Planet!

Di berbagai blogpun, saya lihat mulai banyak juga yang menulis masalah-masalah hangat perpolitikan. Seperti halnya di televisi, di blogpun ada yang pro dan kontra dengan pemerintahan yang sekarang (kebanyakan yang saya temui, yang kontra). Namun, buat saya, baik yang pro dan kontra, kalau disimak lebih lanjut isinya sama menggelikannya! Maklum namanya saja politisi, nggak ada kerjaan lain selain kerjaannya mengumpulkan massa dengan berbagai cara persuasif untuk mencapai tangga kekuasaan. Yang pro dengan pemerintah, memuji-muji keberhasilan pemerintah setinggi langit, seolah-olah pemerintah sekarang adalah ‘dewa penyelamat’ bagi rakyat miskin karena sudah tiga kali menurunkan harga BBM. Sementara itu, yang kontra dengan pemerintah juga tak kalah “lucunya”, mereka mengkritik pemerintah habis-habisan seolah-olah pemerintahan yang sekarang telah gagal dalam segala-galanya plus mereka yang mengkritik kebanyakan juga tidak punya jalan keluar yang ampuh, dan kalau merekapun punya itupun belum tentu jika dilaksanakan hasilnya akan sukses! Dus mereka kebanyakan hanya bisa mengkritik saja. Jadi baik yang pro dan kontra dengan pemerintah sebenarnya menurut saya sama lucunya.

Lantas bagaimana dengan pendapat saya?? Saya sendiri beranggapan bahwa setiap pemerintahan pasti ada keberhasilan dan ada kegagalan. Itu adalah hal yang wajar. Untuk menilai sebuah pemerintahan “berhasil” atau “gagal” tentu memerlukan analisis dan pertimbangan yang sangat kompleks yang sebelumnya mungkin harus disusun terlebih dahulu standard-standard keberhasilan suatu pemerintahan di berbagai dimensi. Walaupun setiap masyarakat berhak menilai sebuah pemerintah berhasil atau gagal, namun tentu sebagai politisi cerdas, emang politisi ada yang cerdas ya?? tentu penilaian keberhasilan dan kegagalan pemerintah harus dianalisa sekomprehensif mungkin. Jangan cuma ambil data-data statistik sepotong-sepotong yang ada terus dibaca dan diinterpretasikan secara parsial. Tapi saya maklum kalau mereka susah membaca data-data statistik secara komprehensif, lha wong saya aja kesusahan apalagi kebanyakan  para politikus itu! :mrgreen:

Jadi menurut saya, kesimpulannya adalah setiap pemerintahan memang perlu dikritisi. Dan bagaimanapun juga kritik itu adalah perlu. Namun tentu kritik yang terbaik adalah kritik yang obyektif dan netral, kritik yang terlepas dari tendensi-tendensi politik. Tapi apa iya ya, para politisi bisa melakukannya?? Lha wong, politisi memang kerjaannya begitu kok, kritik sana kritik sini yang bertendensi politik, narsisis sana narsisis sini (alias memuji diri sendiri), senyum sana senyum sini, tebar pesona sana tebar pesona sini dan sebagainya. Bagi kita yang “tidak suka” dengan politisi dan politik, ya anggap saja politisi dan politik itu dagelan. Walaupun dagelan tapi toh politisi dan politik mau tak mau tetap dibutuhkan dalam kehidupan sosial kita. Namun kita jangan mau dipecahbelah oleh politisi yuk yang kerjaannya sering memecahbelah umat itu! 😀