Beginilah Kalau Menjelang Pemilu…….

Menjelang tahun baru kemarin, ketika baru pulang ke rumah dari tempat kerja, saya mendapatkan gulungan kertas karton yang terikat dengan gelang karet yang ditaruh oleh pembantu saya dekat televisi di ruang tamu. Ketika saya membukanya, saya hanya bisa senyum-senyum sinis kecut saja, ternyata gulungan karton tersebut dari tetangga saya, yang meskipun saya kenal tetapi tidak terlalu akrab. Gulungan karton tersebut adalah kalender tahun 2009 bergambar dirinya dan seorang tokoh yang sangat terkenal dari sebuah partai.

“Oh…. dia mau jadi caleg toh??” Begitu fikirku sinis. Tiba-tiba aku sadar bahwa di depan rumahku dan juga di pohon-pohon yang tumbuh di depan rumahku sudah mulai banyak ditempeli selebaran-selebaran dan baliho-baliho para caleg yang “terhormat” tersebut. Beberapa yang menempel di tembokku bagian depan yang mengganggu estetika sudah aku cabut. Namun akupun maklum, karena tahun 2009 ini adalah tahun pemilu, tahun di mana kita memilih pemimpin-pemimpin kita dan wakil-wakil rakyat kita untuk menentukan langkah negeri ini lima tahun mendatang.

Di TV-TVpun sudah mulai marak acara-acara mengenai pemilu baik itu berupa talk show, debat, dan lain sebagainya. Sebenarnya aku sudah mulai bosan dengan acara-acara tersebut. Bagiku menonton Animal Planet lebih menarik dibandingkan menonton talk show politik semacam itu. Namun ironisnya, justru terkadang tokoh-tokoh politik tersebut yang membuat saya senyam-senyum sendiri sangking lucunya mereka saling menyerang. Ditanggung lebih lucu daripada melihat acara-acara di Animal Planet!

Di berbagai blogpun, saya lihat mulai banyak juga yang menulis masalah-masalah hangat perpolitikan. Seperti halnya di televisi, di blogpun ada yang pro dan kontra dengan pemerintahan yang sekarang (kebanyakan yang saya temui, yang kontra). Namun, buat saya, baik yang pro dan kontra, kalau disimak lebih lanjut isinya sama menggelikannya! Maklum namanya saja politisi, nggak ada kerjaan lain selain kerjaannya mengumpulkan massa dengan berbagai cara persuasif untuk mencapai tangga kekuasaan. Yang pro dengan pemerintah, memuji-muji keberhasilan pemerintah setinggi langit, seolah-olah pemerintah sekarang adalah ‘dewa penyelamat’ bagi rakyat miskin karena sudah tiga kali menurunkan harga BBM. Sementara itu, yang kontra dengan pemerintah juga tak kalah “lucunya”, mereka mengkritik pemerintah habis-habisan seolah-olah pemerintahan yang sekarang telah gagal dalam segala-galanya plus mereka yang mengkritik kebanyakan juga tidak punya jalan keluar yang ampuh, dan kalau merekapun punya itupun belum tentu jika dilaksanakan hasilnya akan sukses! Dus mereka kebanyakan hanya bisa mengkritik saja. Jadi baik yang pro dan kontra dengan pemerintah sebenarnya menurut saya sama lucunya.

Lantas bagaimana dengan pendapat saya?? Saya sendiri beranggapan bahwa setiap pemerintahan pasti ada keberhasilan dan ada kegagalan. Itu adalah hal yang wajar. Untuk menilai sebuah pemerintahan “berhasil” atau “gagal” tentu memerlukan analisis dan pertimbangan yang sangat kompleks yang sebelumnya mungkin harus disusun terlebih dahulu standard-standard keberhasilan suatu pemerintahan di berbagai dimensi. Walaupun setiap masyarakat berhak menilai sebuah pemerintah berhasil atau gagal, namun tentu sebagai politisi cerdas, emang politisi ada yang cerdas ya?? tentu penilaian keberhasilan dan kegagalan pemerintah harus dianalisa sekomprehensif mungkin. Jangan cuma ambil data-data statistik sepotong-sepotong yang ada terus dibaca dan diinterpretasikan secara parsial. Tapi saya maklum kalau mereka susah membaca data-data statistik secara komprehensif, lha wong saya aja kesusahan apalagi kebanyakan Β para politikus itu!:mrgreen:

Jadi menurut saya, kesimpulannya adalah setiap pemerintahan memang perlu dikritisi. Dan bagaimanapun juga kritik itu adalah perlu. Namun tentu kritik yang terbaik adalah kritik yang obyektif dan netral, kritik yang terlepas dari tendensi-tendensi politik. Tapi apa iya ya, para politisi bisa melakukannya?? Lha wong, politisi memang kerjaannya begitu kok, kritik sana kritik sini yang bertendensi politik, narsisis sana narsisis sini (alias memuji diri sendiri), senyum sana senyum sini, tebar pesona sana tebar pesona sini dan sebagainya. Bagi kita yang “tidak suka” dengan politisi dan politik, ya anggap saja politisi dan politik itu dagelan. Walaupun dagelan tapi toh politisi dan politik mau tak mau tetap dibutuhkan dalam kehidupan sosial kita. Namun kita jangan mau dipecahbelah oleh politisi yuk yang kerjaannya sering memecahbelah umat itu!πŸ˜€

21 responses to “Beginilah Kalau Menjelang Pemilu…….

  1. Paragraf yang terakhir rasanya familiar, blogger-blogger juga suka kritik sini kritik sana, narsisis sana sini, tebar pesona apalagi hehehe…

    *iseng mode off*

  2. foto – foto juga dh bertebaran disana sini

  3. Benar mas, politisi dan pemerintah memang perlu dikritisi, untuk menjaga agar mereka melaksanakan PR dari rakyat dengan baik. Tapi sayangnya, yang umum terjadi bukan kritik-kritik yang konstruktif, yang muncul, melainkan rasa skeptis dan inferiority, entah dari rakyat maupun oposan. Kehidupan manusia saja sudah seperti panggung sandiwara, apalagi kehidupan politik, serupa panggung dagelan Srimulat. Sama lucunya tapi yang ini, memusingkan, bahkan sering menjengkelkan.

    Jadi benar juga, lebih baik nonton Animal Planet, sudah ketahuan, usai nonton dapat ilmu dan pikiran segar. Mas Yari, pasti lebih suka lagi kalau isinya tentang Orang Utan atau Simpanse kan?πŸ˜€

    Namun demikian, lagi-lagi saya mengamini pendapat Mas Yari, kita tak bisa lepas dari kehidupan politisi dan politik. Persoalan bagi rakyat sekarang, adalah bagaimana memilih pemimpin yang terbaik, sebagai presiden mendatang. Mesti hati-hati, katakanlah jika tak ada calon yang bagus satu pun, setidaknya kalau hendak memilih, mesti memastikan memilih yang terbaik dari yang terburuk, the best from the worst. Bagaimana lagi?

    ps. Susah buat saya memilih partai yang memasang poster semena-mena di pohon dengan cara di paku.πŸ˜‰

  4. Kalu sering ketawa ngeliat politikus kita ngomog, duch..logika meraka amburadul, miris negeri ini dipimpin orang2 seperti mereka..

  5. aku enggak seneng ama caleg yang suka pasang tampang dimana mana, kenapa enggak pasang tampang di friendster ama di facebook aja sih..
    ntar kalo nyoblos aku mau nyoblos caleg yang paling enggak pernah pasang iklan deh..

  6. Pagi Kang! Kalau para caleg memperkenalkan diri dengan berbagai cara itu sudah jamak kang. Ada yang membuat kartu nama dan menggaji orang untuk dibagi bagi kepada pengunjung restoran. Saya rasa cara mereka kadang sangat menggelikan dan memuakkan.
    Pohon2 di tepi jalan saya lihat sudah menjerit-jerit,karena lentisel mereka sudah tertutup oleh selebaran maupun spanduk2 yang memuat gambar caleg yang kadang wajah mereka ga meyakinkan amat.Selebaran dan spanduk yang menggantung seperti jemuran sebenarnya sangat merusak pemandangan di jalan, tapi apa mau dikata lagi toh pemerintah tidak dapat menertibkan mereka.Pemerintah sendiri juga begitu kog.

  7. Apalagi politisi kesiangan. Argumen dan logika mereka cuma ikut2an opini publik saja. Opini publik yg sesuai dng kelompok politik yg mereka dukung akan mereka ambil sbg dasar argumentasi mereka tnp pikir panjang lagi. Sungguh dangkal.

  8. Isyu kemiskinan dan kesehatan buruk rakyat sering d manfaatkan menjadi bahan kampanye bagi politisi yg brseberangan. Mereka memperjual belikan nasib rakyat d panggung politik. Bayangkan jika kemiskinan dan penyakit sdh tak ada, pasti politisi bingung kehabisan bahan kampanye.., iya gak sih, hehehee.. Btw aq dah dapet 9 kalender caleg lho..

  9. pak yari mau nampang fotonya dipinggir jalan???? sini tak bantu .. kekekek
    kalau ditambahin tulisan “wanted” boleh gak pak .. *kabuuuuuuuuuur*

  10. @agoyyoga

    Huahahaha…. jadi ingat salah seorang rekan blogger kita dulu yang postingannya narsisis yang sempat saya “labrak”, tapi sekarang udah insyaf. huehehe……. Sebab setiap kenarsisisan dia hanya menunjukkan ‘borok’nya dia kelak dan suatu saat pasti dia akan menyesal. Mumpung belum terlambat…. (tahu kan siapa dia??:mrgreen: )

    Memang mbak Yoga, para politisi umumnya lebih senang mengerjakan PR dari partainya dibandingkan mengerjakan PR dari rakyatnya. Itulah kenapa salah satu faktor yang menurut saya, politik itu lebih lucu daripada nonton channel Animal Planet, terkadang mereka ingin menutupi pakai kedoknya dan bertindak atas nama rakyat, tetapi nyatanya kedoknya tidak dapat menutupi dengan sempurna yang membuat para audiens kita tertawa2….πŸ˜€

    @zoel

    Iya…. yang aslinya hitam dekil…. dimanipulasi pakai Photoshop jadi putih mulus….πŸ˜€

    @Aria Turns

    Mungkin khusus untuk para politisi, terutama politisi kita, ngomong menggunakan logika bukan hal yang prioritas bagi mereka…..:mrgreen:

    @ulan

    Kalau saya disuruh milih, saya akan bawa dadu saja atau bawa kalkulator yang bisa menampilkan bilangan random, kalau bilangan yang muncul tidak sesuai dengan nomor urut caleg maka saya tidak jadi memilih….:mrgreen:

    @Yung Mau Lin

    Iya… benar2 merusak keindahan kota dan juga merusak lingkungan hidup. Dan pemerintah juga sepertinya membiarkan, lha wong pemerintahannya juga ikut berkampanye dengan cara seperti itu kok, jadi tidak bisa banyak diharapkan peran serta pemerintah untuk “menertibkan” para caleg yang berkampanye tersebut. Mungkin rakyat sendiri yang harus sadar, jika ada selebaran ataupun spanduk yang benar2 mengganggu keindahan dan lingkungan hidup sebaiknya kita cabut saja. Mungkin begitulah cara satu2nya….😦

    @AgusBin

    Yah… namanya juga kesiangan bin. Sama seperti orang yang telat nonton film, terus nyerocos berkomentar tentang film tersebut padahal dia tidak tahu jalan cerita secara keseluruhan. Yah, biarin aja bin, politisi orang kesiangan punya hak juga kok buat berkomentar. Kalau ada yang lucu dengan perkataannya, ya kita tertawakan saja. Beres kan?πŸ˜€

    @jiwakelana

    Ah… namanya juga politisi, biarpun kemiskinan dan penyakit tidak ada lagi tetapi tetap saja isu apapun bisa dijadikan bahan untuk menyerang lawan2 politiknya. Isu pelarangan rokok di tempat2 umum, isu kenaikan harga BBM, bahkan mungkin ada lawan politiknya yang tidak sengaja buang angin pada rapat2 resmi dapat dijadikan alasan untuk menyerang lawan politiknya! Memang politikus harus begitu, tidak boleh kehabisan bahan atau akal untuk menjatuhkan lawan politiknya…..

    Punya 9 kalender caleg ya?? Bisa bagi satu dong! Kebetulan saya butuh keset di depan rumah saya…..:mrgreen:

    @mantan kyai

    Boleh saja!! Tetapi nanti saya tambahi “WANTED BY THE COOLEST GIRLS”. Wakakakakak…… hayo?? Kalau foto sampeyan baru saya tulis “WANTED BY THE POLICE”:mrgreen:

  11. ya…..begitulah jelang Pemilu
    para politisi mendadak menjadi
    sangat ramah dan senyum terus….,
    asal jangan pas sendiri pun,
    masih senyam senyum juga
    setuju…..kritik terhadap pemerintah perlu
    asal konstruktif, dan jangan
    cari-cari kesalahan melulu
    thanks bro πŸ™‚

  12. Hueheheh jadi geli. Kemana ya, teman kita itu Pak? Kok jarang muncul lagi sekarang?:mrgreen:

  13. tingkah laku politisi dalam upaya persuasif mereka untuk menarik simpati rakyat memang seringkali seperti suatu guyonan yang tak lucu yah mas Yari. saya kadang-kadang juga suka miris kalo mereka pada berdebat dan saling mengkritik.

    sekarang banyak banget partai-partai politik yang mengiklankan diri lewat media masa televisi. saya sedikit senang. mudahan2an iklan tersebut tidak hanya bersifat membujuk semata tapi juga dapat memberikan pembelajaran politik bagi masyarakat kita termasuk saya juga yang masih sangat awam mengenai dunia politik ini.

  14. Maraknya perdebatan antarelit politik menjelang pemilihan anggota caleg dan pemilihan presiden adalah wajar……. bahkan perbedaan pandangan dan saling kontrol antarpartai asyik-asyik saja…… sepanjang dilakukan secara rasional, substantif, obyektif, sopan, dan terbuka,…..idealnya proses perdebatan itu dapat meningkatkan kognisi dan kesadaran masyarakat dalam berpolitik sekaligus efektifitas pendidikan politik yang elegan…..namun apakah seperti itu?…… buah dari proses perdebatan yang ngawur maka sama saja bakal terjadi pembodohan politik……terjadilah kehidupan politik tanpa pendidikan politik yang sehat…..kalau para pemimpinnya tidak jujur maka yang terlihat adalah pengabaian janji-janji manisnya kepada konstituennya……munculah sifat-sifat pragmatisme, golonganisme, hedonisme, kerakusan, dan ketamakan para elit politik……namun saya berharap tidak demikian……..proses pendidikan politik kali ini sejatinya harus memungkinkan setiap calon dapat benar-benar tampil sebagai pemimpin bermutu…..lewat kaderisasi secara alami dan atau terprogram…….

  15. @mikekono

    Nah itulah…. mari kita mulai menjadi kritisi yang baik. Jika kita tidak bisa menjadi kritisi yang baik, yang lebih penting adalah mari kita menjadi kritisi yang netral, tidak memihak dan obyektif….πŸ˜€

    @agoyyoga

    O iya ya…. baru tahu saya…. postingannya udah 2 minggu nggak di-update. maklum deh sejak kira2 tahun baru lalu nggak pernah nengok blognya lagi. Mungkin beliau lagi mencari inspirasi kali, atau mungkin juga pura2 sibuk ataupun mungkin juga lagi bete.:mrgreen:

    @bedh

    Guyonan yang tak lucu itu mempunyai “makna ganda”. Jikalau merasa tidak lucu dengan guyonannya, kita bisa mentertawakan si politisi (atau siapapun yang membuat guyonan dari penderitaan rakyat) sebagai tanda bertapa rendahnya kualitas si politisi.

    Iklan politik atau kampanye lewat televisi yang mencerdaskan rakyat?? Hmmm…. sepertinya jangan banyak berharap deh ya. Sebab iklan2 politik tersebut pasti akan bias, narsisis dan lebih mementingkan tujuan untuk memenangkan pemilu dibandingkan pendidikan politik bagi rakyat……

    @sjafri mangkuprawira

    Rakyat sekarang memang sekarang sudah lebih cerdas2 prof, ironisnya sayangnya hal ini justru tidak terjadi pada kebanyakan politisi2 kita (walau mungkin tidak semua). Yang jelas perdebatan politik yang ngawur, yang bias, yang hanya bertendensi untuk menjatuhkan lawan politiknya bukan hanya berpotensi untuk membodohkan rakyatnya tetapi juga sangat berpotensi untuk membingungkan rakyatnya apalagi jikalau perkataan nantinya tidak sesuai dengan di lapangan. Kebingungan ini yang nantinya dapat menjadi apatisme terhadap pesta2 politik yang terjadi di tanah air ini seperti pada pemilu tahun ini.

    Pendidikan politik memang sangat perlu bagi rakyat kita. Namun kita sendiri menyadari bagaimana mungkin kita dapat memperoleh pendidikan politik yang baik jika pendidikan politik tersebut diberikan oleh politisi2 yang kurang bermutu?? Mudah2an tidak seperti itu ya prof….

  16. Kritikan kepada pemerintah yang pedas saja kalau tidak becus memimpin !!!

    ________________________

    Yari NK replies:

    Selain mengeritik pedas sebaiknya yang mengkritik juga harus punya ide atau usul yang lebih jitu, jangan cuma bisa kritik saja tentunya….

  17. Dari tulisan Pak Yari ini, sepertinya Pak Yari berbakat jadi caleg neh… Ups! He…he…he…he… Selamat menikmati enak gak enaknya Pak! Yang gak enak semoga jadi obatπŸ™‚

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Hanya jadi calegnya aja nih?? Berarti cuma jadi calon aja dong…. huehehe….πŸ˜€

  18. Pak Yari kalau saya jadi politisi, atau menjadi caleg, bakal dipilih ga?πŸ˜€ *hue he he.. becanda*

    Memang kritik yg konstruktif, kritik yg obyektif perlu diberikan pada pemerintah: katakan mana kelebihan, mana pula kelemahan2 yg ada, biar pemerintah kita maju. Jangan hanya menjelek2kan saja, jangan pula memuji2 saja, dan jangan juga pura2 netral.πŸ˜€

    _______________________________

    Yari NK replies:

    Kalau berpura-pura tidak netral bagaimana?? Kalau berpura-pura untuk berpura-pura netral bagaimana?? Terus kalau berpura-pura untuk berpura-pura tidak netral bagaimana?? **halaah**:mrgreen:

  19. Aku malah bingung ama calon calon nya, semakin tinggi kapasitas pengetahuan dan umurku, semakin payah aku ngeliat mereka… zzz

    _____________________

    Yari NK replies:

    Justru itu, semakin rakyat pintar semakin ketahuanlah kapasitas kebanyakan para politisi kita beserta caleg2nya tersebut.
    Saya justru senang mendengar para pengamat politik yang netral…..πŸ˜€

  20. Kemarin saya nonton Animal Planet, koq ada berita Mr. Pedro jadi Caleg di Animal KingdomπŸ˜€

    ________________________

    Yari NK replies:

    Si Pedro mendaftar caleg dari Partai Anjing Nasional (PANAS). Tetapi dia cuma dapet nomor urut 2, soalnya nomor urut 1 kok udah ada nama Sis Gaia…. wakakakakak…..πŸ˜†

    **ngumpet sebelum digigit sis Gaia**

  21. nggak di indonesia aja kok, mas.
    yang namanya berebut kursi itu ya musti tega “mempermalukan” diri seperti itu, dagelan sana-sini.
    wong saat menjelang pemilu di amerika aja, kita lihat sendiri gimana para kandidat saling menyerang dan mengkritik. sadisnya, kritik tak lagi sebatas agenda dan kebijakan, tapi sudah jauh merambah hingga penampilan fisik yang rasanya nggak esensi banget.

    tak kenal maka tak sayang toh, mas? cara berkenalannya itu mungkin yang perlu diperbaiki. supaya kenal tak sebatas kulit luar dan gaya senyum semata, tapi inner beauty dan performa yang jauh lebih esensi.

    __________________________

    Yari NK replies:

    Yah…. itulah namanya politisi. Mungkin harus dibandingkan tingkat “menggelikannya” antara yang di luar dan yang di Indonesia sini. Karena terkadang saya sendiri geli, mendengar politisi2 di sini menyerang lawannya, namun kedoknya jelas ingin menjatuhkan lawannya walaupun apa yang dikatakan suka lain dengan apa yang terjadi di lapangan. Sungguh menggelikan…..πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s