Daily Archives: Sabtu, 7 Februari 2009

Terlalu Sedikit Salah, Terlalu Banyak Juga Salah…

Singapore Skyline

Singapore Skyline

Tahun 1972, Perdana Menteri Singapura (sekarang mantan) pernah berkata yang isinya kira-kira sama seperti slogan Keluarga Berencana kita di regim orde baru dulu: “Dua anak saja cukup!”.

Ya, pada awal 1970an, mantan PM Singapura waktu itu dan juga mungkin banyak pejabat-pejabat Singapura kala itu membayangkan di masa depan negeri pulau itu akan menjadi negara khas dunia ketiga yang miskin: padat dan kumuh. Bayangan PM Lee waktu itu memang bukannya tidak beralasan. Pada akhir Perang Dunia II, penduduk negeri itu baru satu juta orang. Dan di pertengahan tahun 1960an negeri pulau itu telah membengkak dua kalinya menjadi dua juta orang. Bayangan masa depan yang kumuh di negeri itu bisa ditiadakan dengan digalakkannya keluarga berencana di negeri itu dengan semboyan “Dua saja cukup!”.

Singapura kala itu memang tidak main-main dalam soal keluarga berencana. Berbagai kampanye dan cara dilakukan pemerintah demi menekan jumlah penduduk. Aborsi dan sterilisasi dilegalkan. Wanita dilarang mengambil cuti hamil ketika mengandung anak ketiga dan seterusnya. Asuransi kesehatan dan sebagainya ditiadakan bagi anak ketiga dan seterusnya. Dan tak kalah ‘sadis’nya pula adalah anak ketiga dan seterusnya akan didiskriminasikan ketika akan mendaftar sekolah, dan berbagai kebijakan lainnya guna menekan jumlah penduduk.

Walhasil, jumlah penduduk Singapura memang mengalami stagnasi di tahun 1970an dan di tahun 1980an. Namun “sialnya” ekonomi Singapura tumbuh dengan baik dan pesat. Ekonomi yang pesat tersebut membutuhkan SDM-SDM muda yang tangguh dan berkualitas. Singapura sendiri memang tidak khawatir tentang kualitas SDM-nya, namun yang dikhawatirkan justru jumlah SDM kaum mudanya yang menurun terus akibat kebijakan keluarga berencana yang digalakkan di tahun 1970an. Untuk itu PM yang sama (Lee Kwan Yew) tahun 1986 berbalik 180o dalam memberikan slogan, dari “Dua saja cukup!” menjadi “Tiga bahkan empat jika anda mampu!” guna mendorong populasi Singapura agar Singapura dapat mensuplai cukup jumlah SDM-nya bagi perekonomiannya sendiri.

_____________________

Sedangkan kasus kebalikannya dialami negara tetangga jauh kita, Iran. Pada tahun 1967, di zaman pemerintahan shah Iran, keluarga berencana mulai diperkenalkan kepada rakyat Iran, namun ketika Khomeini berkuasa di tahun 1979, keluarga berencana justru dilarang di Iran. Klinik-klinik keluarga berencana ditutup.  Program-program keluarga berencana dilarang karena dianggap sebagagi pengaruh barat. Para mullah di negeri itu juga mendukung rencana pemerintah untuk mendorong banyak pasangan di Iran untuk membuat anak lebih banyak karena anak adalah anugerah dariNya dan tidak sepantasnyalah anak ‘dihalangi’ oleh alat-alat kontrasepsi.

Perang Iran-Irak yang berkepanjangan di tahun 1980an menyebabkan masalah “membuat anak” bukan saja menjadi masalah agama dan ideologi saja, melainkan telah menjadi masalah “patriotik” karena Iran bercita-cita untuk mendirikan sebuah negeri dengan “20 juta tentara”. Perang Iran-Irak tersebut memang banyak menewaskan para pemuda Iran.

Namun ketika perang usai, masalah baru timbul. Dengan perang Iran-Irak yang berkepanjanganpun penduduk Iran tetap tumbuh dengan pesatnya. Di tahun 1968, penduduk Iran baru 27 juta. Sedangkan di tahun 1988 sudah mencapai 55 juta atau naik 100% lebih. Sialnya ekonomi Iran tidak terlalu cerah. Dengan pertumbuhan penduduk yang banyak yang tidak diimbangi dengan perekonomian yang membaik angka pengangguran meningkat dengan drastisnya. Bukan itu saja, tingkat buta huruf di kalangan rakyatnya juga meningkat dengan tajam.

Walhasil, di tahun 1989, keluarga berencana mulai lagi diperkenalkan di Iran. Pemimpin-pemimpin agama yang sebelumnya mentabukan keluarga berencana kini balik mendukung pemerintah dalam mensukseskan program-program keluarga berencana. Tentu saja, kerjasama yang manis antar pemimpin-pemimpin agama dan pemerintah ini dalam keluarga berencana telah mengubah Iran dari negara yang mentabukan keluarga berencana menjadi negara yang sangat sukses dalam menjalankan program-program pengendalian jumlah penduduknya.

Ada-ada saja ya, terlalu sedikit salah, terlalu banyak juga salah. Sedang-sedang saja kali ya…… 😀