Terlalu Sedikit Salah, Terlalu Banyak Juga Salah…

Singapore Skyline

Singapore Skyline

Tahun 1972, Perdana Menteri Singapura (sekarang mantan) pernah berkata yang isinya kira-kira sama seperti slogan Keluarga Berencana kita di regim orde baru dulu: “Dua anak saja cukup!”.

Ya, pada awal 1970an, mantan PM Singapura waktu itu dan juga mungkin banyak pejabat-pejabat Singapura kala itu membayangkan di masa depan negeri pulau itu akan menjadi negara khas dunia ketiga yang miskin: padat dan kumuh. Bayangan PM Lee waktu itu memang bukannya tidak beralasan. Pada akhir Perang Dunia II, penduduk negeri itu baru satu juta orang. Dan di pertengahan tahun 1960an negeri pulau itu telah membengkak dua kalinya menjadi dua juta orang. Bayangan masa depan yang kumuh di negeri itu bisa ditiadakan dengan digalakkannya keluarga berencana di negeri itu dengan semboyan “Dua saja cukup!”.

Singapura kala itu memang tidak main-main dalam soal keluarga berencana. Berbagai kampanye dan cara dilakukan pemerintah demi menekan jumlah penduduk. Aborsi dan sterilisasi dilegalkan. Wanita dilarang mengambil cuti hamil ketika mengandung anak ketiga dan seterusnya. Asuransi kesehatan dan sebagainya ditiadakan bagi anak ketiga dan seterusnya. Dan tak kalah ‘sadis’nya pula adalah anak ketiga dan seterusnya akan didiskriminasikan ketika akan mendaftar sekolah, dan berbagai kebijakan lainnya guna menekan jumlah penduduk.

Walhasil, jumlah penduduk Singapura memang mengalami stagnasi di tahun 1970an dan di tahun 1980an. Namun “sialnya” ekonomi Singapura tumbuh dengan baik dan pesat. Ekonomi yang pesat tersebut membutuhkan SDM-SDM muda yang tangguh dan berkualitas. Singapura sendiri memang tidak khawatir tentang kualitas SDM-nya, namun yang dikhawatirkan justru jumlah SDM kaum mudanya yang menurun terus akibat kebijakan keluarga berencana yang digalakkan di tahun 1970an. Untuk itu PM yang sama (Lee Kwan Yew) tahun 1986 berbalik 180o dalam memberikan slogan, dari “Dua saja cukup!” menjadi “Tiga bahkan empat jika anda mampu!” guna mendorong populasi Singapura agar Singapura dapat mensuplai cukup jumlah SDM-nya bagi perekonomiannya sendiri.

_____________________

Sedangkan kasus kebalikannya dialami negara tetangga jauh kita, Iran. Pada tahun 1967, di zaman pemerintahan shah Iran, keluarga berencana mulai diperkenalkan kepada rakyat Iran, namun ketika Khomeini berkuasa di tahun 1979, keluarga berencana justru dilarang di Iran. Klinik-klinik keluarga berencana ditutup.Β  Program-program keluarga berencana dilarang karena dianggap sebagagi pengaruh barat. Para mullah di negeri itu juga mendukung rencana pemerintah untuk mendorong banyak pasangan di Iran untuk membuat anak lebih banyak karena anak adalah anugerah dariNya dan tidak sepantasnyalah anak ‘dihalangi’ oleh alat-alat kontrasepsi.

Perang Iran-Irak yang berkepanjangan di tahun 1980an menyebabkan masalah “membuat anak” bukan saja menjadi masalah agama dan ideologi saja, melainkan telah menjadi masalah “patriotik” karena Iran bercita-cita untuk mendirikan sebuah negeri dengan “20 juta tentara”. Perang Iran-Irak tersebut memang banyak menewaskan para pemuda Iran.

Namun ketika perang usai, masalah baru timbul. Dengan perang Iran-Irak yang berkepanjanganpun penduduk Iran tetap tumbuh dengan pesatnya. Di tahun 1968, penduduk Iran baru 27 juta. Sedangkan di tahun 1988 sudah mencapai 55 juta atau naik 100% lebih. Sialnya ekonomi Iran tidak terlalu cerah. Dengan pertumbuhan penduduk yang banyak yang tidak diimbangi dengan perekonomian yang membaik angka pengangguran meningkat dengan drastisnya. Bukan itu saja, tingkat buta huruf di kalangan rakyatnya juga meningkat dengan tajam.

Walhasil, di tahun 1989, keluarga berencana mulai lagi diperkenalkan di Iran. Pemimpin-pemimpin agama yang sebelumnya mentabukan keluarga berencana kini balik mendukung pemerintah dalam mensukseskan program-program keluarga berencana. Tentu saja, kerjasama yang manis antar pemimpin-pemimpin agama dan pemerintah ini dalam keluarga berencana telah mengubah Iran dari negara yang mentabukan keluarga berencana menjadi negara yang sangat sukses dalam menjalankan program-program pengendalian jumlah penduduknya.

Ada-ada saja ya, terlalu sedikit salah, terlalu banyak juga salah. Sedang-sedang saja kali ya……πŸ˜€

21 responses to “Terlalu Sedikit Salah, Terlalu Banyak Juga Salah…

  1. ya sepakat. dua istri cukup.πŸ˜€

  2. Singapura Dua anak cukup….

    Indonesia…?..anak cukup

  3. Menarik juga ide komparasinya. Yang berlebih2an emang gak baik.:mrgreen:

    OOT:
    Jah, mantan kyai… dua istri cukupπŸ˜† (masih sisa 2 slot lagi tuh)

  4. wah susahnya yah hidup di singapure dulu….
    bisa kebayang deh..susahnya…
    bukankah semua manusia berhak untuk memiliki anak berapapun jumlahnya selagi mampu dinafkahi…..

  5. Bagaimana dengan Cina dan kebijakan satu anaknya? Dari apa yang saya baca, secara kependudukan program mereka lumayan berhasil menekan pembengkakan laju pertumbuhan penduduk, tapi efek sosiologisnya tak terduga: Muncul generasi yang tak punya kakak atau adik, dan anak-anak mereka kelak juga tak punya paman, bibi, atau sepupu. Belum lagi karena adanya seleksi gender (orangtua lebih memilih punya anak laki-laki daripada perempuan), akhirnya generasi hasil KB itu jadi sulit mencari jodoh.

    Begitu juga efek psikologisnya: Karena cuma satu anak yang bisa jadi tumpuan hidup mereka di masa tua kelak, maka muncul dua ekstrim: (1) si anak dimanjakan oleh orangtuanya secara berlebihan, atau (2) si anak dipaksa belajar sekeras mungkin agar unggul di sekolahnya, lulus ujian negara, dan bisa mendapat pekerjaan yang ‘bermasa depan cerah’. Belum lagi muncul beberapa masalah kepribadian di anak-anak tunggal ini…πŸ˜•

  6. heuheueheu
    kontras banget yah pak
    jadi harusnya yang sedangΒ² saja yah?πŸ˜†

  7. Kalo dilihat dr jumlah penduduk china menang no.1. Tapi kalo dilihat perkilo perseginya sptnya singapur jauh diatas china.

  8. Wakaka… Ada-ada aja.πŸ˜€ jadi yang pantas itu anaknya berapa?πŸ˜›
    Bukannya itu kehendak tuhan untuk memiliki anak dan kita jangan sampai mencoba untuk menghalanginyaπŸ™‚

  9. aq menanti kedatanganmu……..
    mengharapkan kehadiranmu…….sahabat.

  10. @mantan kyai

    Huahaha… lha kok…. seperti slogan keluarga berencana saja, dua anak cukup. Kalau sampeyan dua istri saja cukup ya mas?? Laki2 atau perempuan sama saja istrinya ya mas ?? **dihajar**πŸ˜†

    @nelson

    Singapura dua anak cukup.
    Indonesia dua isteri cukup (kata mantan kyai di atas…):mrgreen:

    @Uchan

    Ya… yang sedang2 saja cukup. Masalahnya kita seringkali tidak bisa mengukur berapa yang sedang2 itu….πŸ˜€

    @iwan

    Betul sekali… tapi kita sebaiknya juga pandai merawat anak kita. Biar sedikit tapi terawat, jangan hanya banyak tapi tidak terawat. Tapi kalau mampu, bukan hanya mampu harta tetapi juga mampu mendidik anak dengan baik, maka sebenarnya tidak apa2 punya banyak anak juga.

    Btw, sabar ya nanti ada kunjungan balik…. just wait ok?πŸ™‚

    @Catshade

    Saya dulu juga pernah membaca akibat kebijakan pemerintah China dengan “satu anak ini”. Memang secara psikologis banyak anak2 yang dimanjakan bak anak raja dan juga bisa jadi ia begitu dipaksa belajar keras dan sebagainya yang menimbulkan masalah psikologis bagi si anak. Dan juga ketika para orangtua banyak yang lebih menginginkan anak laki2 daripada anak perempuan, yang akhirnya si anak laki2 bakalan sulit mencari jodoh mungkin itu juga punya efek yang ‘positif’ dalam menekan jumlah penduduk (walaupun juga pasti ada efek negatif yang merugikan juga).

    Tapi mudah2an, saya percaya, dengan penyuluhan yang baik cara mendidik anak yang benar, mungkin jumlah anak yang dimanja berlebihan dan sebagainya dapat diminimalisasi jumlahnya, sehingga diharapkan efek psikologis negatifnya dapat dikurangi. Dan mungkin nanti jika ternyata pemerintah China ‘gagal’ dalam kebijakan satu anaknya. Gagal dalam arti kata luas, dapat mencakup efek psikologis yang negatif pada kebanyakan penduduknya maka tindakan2 pencegahan dapat diambil atau mungkin bahkan kebijakan dapat diubah, asal fenomena yang terjadi di tengah masyarakatnya dapat dipantau dengan baik. Tetapi sejauh ini, secara umum sepertinya dampak dari ‘one child policy’ ini belum terlalu serius…….

    @FaNZ

    Jadi ingat lagu dangdut zaman dulu…..πŸ˜€

    @AgusBIn

    Betul sekali. Setiap angka ada kegunaannya masing-masing. Angka jumlah penduduk mungkin vital untuk urusan2 makro, sedangkan angka jumlah penduduk per kilometer dapat berguna untuk urusan2 mikro seperti perencanaan tata kota dsb……

    @Anggie

    Betul sekali. Tetapi anak harus juga dibesarkan secara bertanggungjawab. Jangan cuma melahirkan anak saja, tetapi tidak bisa menyekolahkan anaknya dengan baik malah anaknya “dikaryakan” untuk mengemis seperti yang kebanyakan kita lihat di jalan2 sementara orang tuanya enak2an duduk. Jadinya mendingan punya akan sedikit tapi berkualitas daripada punya banyak anak tapi tidak terurus….😦

  11. wah makasih atas komenya…kayaknya om nih dokter juga yah…………..

    _________________________

    Yari NK replies:

    Saya dokter gigi hewan dengan spesialis gigi protozoa….πŸ˜†
    **just kidding**

  12. Wah keren juga, iya, kalo Indonesia gimana pak ?

  13. iya pak, kasus di Indonesia juga diulas dong.. biar yang mau kawin gak bingung mau punya anak berapa banyak:mrgreen:

  14. Ketika program keluarga berencana di indonesia mulai diperkenalkan awal 70’an resistensi pun tak terhindarkan….utamanya dari kalangan tokoh agama….dengan dalil agamanya mereka serta merta menolak program itu…..termasuk dari golongan generasi tua yang masih punya mitos banyak anak banyak rezeki……namun dengan pendekatan komunikasi, informasi, dan edukasi….. didukung dengan program norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera NKKBS)….. akhirnya setelah sekitar delapan tahun program itu diterima oleh semua golongan……dan bahkan dijadikan suatu gerakan dimana partisipasi masyarakat menjadi peran utamanya…….pos-pos, pendamping atau penyuluh atau kader program kb dikembangkan dimana-mana sampai di tingkat desa….masing-masing departemen pun membuat program yang dikaitkan dengan program NKKBS……dan pertumbuhan penduduk dapat ditekan hanya menjadi 1,4% saja pertahun (20 tahun’an)……sehingga indonesia dijadikan contoh negara yang berhasil menekan pertumbuhan penduduk……bagaimana sekarang?…..dikhawatirkan ledakan penduduk akan kembali lagi….tahun 2050 diperkirakan oleh pbb akan mencapai 293 juta jiwa……melebihi penduduk amerika serikat……karena program kb tidak gencar lagi disosialisasikan….sementara pos kb dan para kader program kb tidak dikembangkan…..tinggal lagi bagaimana populasi yang besar itu bisa dikembangkan secara terprogram sebagai sumberdaya manusia potensial yang unggul…….

  15. kl dibenarkan,
    sebaiknya Indonesia mengekspor
    bayi saja ke Singapura, supaya
    kuota penduduk di negeri Singa
    itu mencukupi…….hehehe
    btw, mungkin itulah sebabnya
    kita disebut sbg ummatan wasathan
    thanks broπŸ™‚

  16. keluarga yang banyakan rame ya… seru banyak temen maennya lagiπŸ™‚

  17. Di Perancis sekarang ini para wanita diberi santunan untuk mau mempunyai anak. Dari periksa gratis, prime melahirkan, cheque de vacances… alokasi jika mempunyai anak lebih dari 1 orang.

    Mungkin ini untuk mengimbangi karna sekarang jumlah penduduk lansia sudah lebih banyak dari yg muda. Kalo semua lansia, siapa yg bayar pensiun ya?

    Tapi masih banyak orang yang tidak mau punya anak tuh, padahal sudah cukup berumur. Habisnya

  18. terusannya: habisnya punya anak repot ….

  19. @Raffaello

    Nah… itu dia….. program KB di negeri kita sekarang justru berjalan setengah hati. Penduduk banyak, namun tidak merata, dan juga kualitas rata-rata SDM-nya masih memprihatinkan….😦

    @gunawanwe

    Lha…. kawin kan gampang mas, yang susah itu nikahnya. Mau tahu punya anak berapa?? Gampang….pake dadu aja, berapa angka yang keluar bisa dipakai acuan sebagai berapa jumlah anak yang akan mas gun punya…. **emang main ular tangga**:mrgreen:

    @sjafri mangkuprawira

    Terims prof atas info tambahannya tentang program KB di Indonesia. Memang prof sangat disayangkan bahwa program KB seperti berjalan setengah-setengah di negeri kita ini. Jikalau jumlah penduduk banyak, namun kualitas SDM-nya ‘kelas dunia’ seperti AS, hal tersebut justru produktif dan positif, sementara jikalau penduduk banyak tetapi tidak disertai dengan peningkatan kualitas penduduknya maka hanya akan memberatkan perekonomian saja……

    @mikekono

    Mengekspor bayi?? Wah….. bagaimana ya?? Mendingan bayi tersebut kita besarkan dan kita didik agar menjadi SDM yang unggul, nah baru kita ekspor dia ke Singapura sebagai tenaga kerja kelas dunia biar nilai tambahnya besar. Bagaimana?πŸ˜€

    @Kampanye Damai Pemilu 2009

    Ramai sih, apalagi kalau lagi berantem wah repot misahinnya, apalagi kalau punya dua anak laki2 yang usianya nggak beda jauh…:mrgreen:

    @juliach

    Ya… memang piramid kependudukan di Eropa memang berbeda dengan di negara2 berkembang. Entah kenapa secara alamiah, negara2 Eropa yang relatif lebih makmur, justru susah “menghasilkan penduduk” walaupun sudah digenjot dengan imigrasi. Hal ini mungkin berkaitan erat dengan kultur masyarakatnya. Kalau di sini, mempunyai anak sudah menjadi “kewajiban” supaya meneruskan garis keturunan…. mungkin itulah penyebabnya…

  20. hmmm yang penting ingat kebutuhan pokok, sandang, pangan dan papan. cukup nggak. sekarang manusia tuh udah sampe 7 milyat loh

    ___________________________

    Yari NK replies:

    Bukan itu saja. Distribusi kependudukan dunia saat ini juga tidak merata. Nah, 80% penduduk berada di negara2 miskin/berkembang. Namun, ‘sialnya’ 20% penduduk di negara2 maju menghabiskan 80% sumber2 alam di dunia ini…. Nah lho….πŸ˜€

  21. Yang penting sebetulnya, orang punya anak harus bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya sampai mandiri. Jangan sekedar punya anak, karena anak dianggap sebagai rejeki….

    ___________________________

    Yari NK replies:

    Yang lebih menyedihkan lagi, anak dikaryakan untuk mengemis di jalanan oleh orangtuanya. Ini suatu yang menyedihkan. Tapi ini justru menyadarkan saya, bahwa tidak selamanya wong cilik itu ‘baik’………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s