Penularan Finansial

Masih ingat krisis ekonomi/moneter yang melanda Asia Pasifik satu dekade lalu?? Pada bulan Juli 1997, pemerintah Thailand mencabut kebijakan sistem tukar tetap (fixed exchange rate) mata uangnya terhadap mata uang asing menjadi sistem tukar mengambang (floating exchange rate) yaitu sistem pertukaran mata uang yang murni didasarkan atas mekanisme pasar. Hal tersebut untuk meringankan defisit anggaran (current account) pemerintah Thailand yang sudah mencapai 8% dari PDB waktu itu. Yang terjadi adalah justru (karena memang itu yang diharapkan) mata uang baht Thailand yang terdepresiasi. Sialnya depresiasi mata uang baht ini diperparah dengan banyaknya modal asing yang keluar dari Thailand yang justru menjadikannya ‘cikal bakal’ krisis di Asia Pasifik waktu itu. Semula orang menyangka bahwa efek dari krisis di Thailand ini akan terisolasi dan tidak akan ‘menular’ ke negara-negara tetangganya. Namun ternyata dugaan itu salah, dalam beberapa bulan saja, modal-modal asing sudah pada berhamburan keluar dari Malaysia dan Indonesia. Dan selanjutnya krisis terus ‘menular’ ke Filipina, Hongkong, Republik Korea dan Taiwan. Krisis yang semula diperkirakan akan terisolasi pada mata uang Baht Thailand yang mengalami ‘shock‘ karena perubahan sistem tukar mata uangnya ternyata berimbas pada nilai tukar mata uang-mata uang lainnya di Asia Tenggara dan Timur. Banyak ahli ekonomi berspekulasi bahwa krisis di Asia ini kemungkinan akan mengglobal, namun syukurlah hal tersebut tidak terjadi.

Walaupun krisis di Asia waktu itu akhirnya tidak mengglobal namun krisis tersebut menimbulkan fokus baru dalam bidang ekonomi yaitu yang disebut dengan Penularan Finansial (Financial Contagion). Yah, pada intinya penularan finansial ini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan krisis finansial atau ekonomi di sebuah negara yang berimbas negatif kepada negara-negara lainnya. Penularan finansial ini menjadi studi dan fokus yang menarik dan intens setelah krisis Asia satu dekade yang lalu, walaupun krisis di Asia ini bukanlah satu-satunya contoh penularan finansial dalam sejarah.

Menurut banyak pakar ekonomi, penularan finansial ini menjadi studi yang menarik karena berbagai macam faktor. Di antaranya adalah karena krisis seperti ini dapat diamati dari kacamata yang lain misalnya lewat pasar modal atau surat-surat berharga. Bisa juga karena penularan finansial ini tidak selalu terjadi. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan krisis di suatu negara berkembang menjadi sebuah penularan finansial? Hal inilah yang masih banyak harus dipelajari. Krisis ekonomi yang terjadi di Zimbabwe saat ini misalnya, tidak begitu berimbas kepada negara-negara tetangganya. Dan yang paling menarik adalah krisis finansial yang terjadi akibat penularan finansial ini efeknya berbeda-beda untuk setiap negara. Hal tersebut bisa terjadi karena mungkin krisis ekonomi di tiap negara mempunyai ‘karakter yang berbeda’ karena memang krisis ekonomi yang lebih parah di suatu negara bisa jadi lebih diperburuk oleh karakteristik ekonomi di negara tersebut sendiri. Pendek kata efek daripada penularan finansial ini di setiap negara yang terkena imbasnya tergantung dari banyak faktor baik internal maupun eksternal baik ekonomi maupun non-ekonomi. Kita dulu sempat mendengar bahwa mantan PM Malaysia Dr. Mahathir Mohamad pernah menuduh George Soros sebagai penyebab ‘tumbangnya’ perekonomian Asia akibat aksi spekulasinya. Apakah hal tersebut benar?? Mungkin saja aksi spekulasi Soros ini juga memperburuk krisis ekonomi di Asia Pasifik waktu itu. Namun, seberapa besarkah tingkat sumbangan spekulasi Soros dalam memperparah ‘hancurnya’ ekonomi Asia Pasifik waktu itu, nampaknya harus ada studi lebih lanjut lagi dan mungkin hal-hal seperti ini dapat menjadi sebuah topik yang menarik bagi para peneliti di bidang penularan finansial ini. Yang jelas, seperti misalnya seseorang yang terkena flu, tidak selalu dapat teridentifikasi kapan mulainya ia terkena flu dan bagaimana ia terkena flu. Efek yang diderita seseorang akibat penularan flupun berbeda-beda dari orang ke orang tergantung juga dari faktor internal orang tersebut. Begitu pula halnya dengan penularan finansial ini.

Mudah-mudahan dengan banyaknya studi mengenai penularan finansial ini, para ahli ekonomi dapat lebih memahami mekanisme terjadinya penularan finansial untuk di masa depan mereka diharapkan dapat mengurangi efek atau akibat dari krisis seperti ini jika penularan finansial terjadi…….

_____________________

Catatan:

Penularan Finansial adalah istilah yang saya terjemahkan sendiri dari Financial Contagion karena saya belum bisa menemukan istilah resminya dalam Bahasa Indonesia. Ada yang tahu??

14 responses to “Penularan Finansial

  1. segera di selamatkan hak ciptanya pak … hohoho

  2. soros memang telah mengahancurkan sendi2 ekonomi asia

  3. Sekarang juga terjadi krisis tp entah kenapa sekarang efeknya ga dahsyat mungkin krn sumbernya jauh di amrik sana atau bisa jadi krn kita ga panik?

  4. bankir internasional udah dikuasai yahudi….george soros juga org yahudi..kita kita ini udah tidak berdaya..mau diapain lagi..mereka yang buat keputusan…di hotel saya saja dulu (ini rahasia) di jakarta..salah 2 orang menteri kabinet sekarang dan 2 konglomerat datang bikin laporan ke mereka..bukanya kebalik..investor asing yg ke kantor para mentri itu…hiii..itu kenyataanya kang..serem kan??

  5. Wah, Pak Yari ini ternyata juga ahli ekonomi ya?
    Analisanya menarik banget pak.

  6. kalo krisis yang sekarang ini bukannya juga penyakit menular pak? karena dasarnya perekonomian kita lagi enggak fit, jadinya ikut ketularan… (^_^)v

  7. Selamat malam pak Yari, hehehe.

    Entri yg menarik. Sebenarnya ekonomi suatu negara itu saling keterkaitan, seperti hidup di masyarakat. Satu rumah geger, tetangga yang lain juga terpengaruh. Jikalau menutup diri seperti Myanmar atau Korea Utara yang memang tidak terimbas ekonomi global, tapi efeknya keterbelakangan dan tetep saja miskin.

    Mahatir itu (kalau menurut saya pribadi) terlalu mengada-ada, berapa benyak sih uang yang dimiliki Soros hingga melumpuhkan ekonomi di negara-negara Asia pada tahun 2007. Sudah menjadi kebiasaan klasik bila regim akan jatuh (…. contohnya Soeharto…), menimpakan masalah dengan mencari kambing hitam.

    Sekarang itu yang paling parah kena krisis Amerika, meskipun begitu kalau disuruh pilih hidup di Amerika atau hidup di Indonesia, saya masih milih Amerika. Walaupun terkena krisis tapi mereka tetap jauh lebih makmur dibanding Indonesia:mrgreen:

  8. Ah, ini mengingatkan saya akan sebuah artikel di Scientific American yang memandang terorisme bak penyakit menular, dan ide-ide adalah bakteri/virusnya. Menarik juga mempelajari sesuatu dari kacamata yang nyleneh seperti ini; jadi inget istilah ‘ekonofisika’ yang ngetren beberapa tahun lalu.πŸ™‚

  9. ..finansial contagion (FC) atau pengaruh buruk dari kondisi finansial, katakanlah krisis finansial dari suatu negara tertentu ke negara-negara lain……diibaratkan sebagai lingkaran produksi dan distribusi antara rumahtangga dan pasar di satu negara, sebutlah masih ekonomi tertutup……rumahtangga menyediakan sumberdaya antara lain manusia dan lahan…… sedang pasar menyediakan lapangan kerja dan komoditi……dua sisi pelaku ekonomi itu saling berinteraksi…….aktifitas pasar tidak bakal terjadi kalau tak ada sumberdaya yang diolah dan yang mengolahnya….sementara rumahtangga akan stagnan kalau proses produksi dan distribusi dari pasar juga stagnan……pada konteks global atau ekonomi yang semakin terbuka…..fenomena saling kebergantungan juga terjadi……suatu negara eksportir akan terganggu ketika ekonomi negara importir sedang khaos, misalnya cadangan devisa dan daya beli masyarakatnya semakin mengecil……namun hal yang lebih menarik adalah dari proposisi seperti ini…..yakni kalau suatu negara ”adidaya” (yang ternyata kropos) mengalami resesi ekonomi….. bahkan siapa tahu bakal depresi tampaknya akan berefek negatif terhadap kondisi ekonomi dan kesejahteraan bangsa lain……kalau demikian, proposisinya adalah apakah otomatis kalau negara ”adidaya” sudah semakin makmur akan diikuti pula dengan peningkatan kemakmuran negara-negara lain?….kemudian proposisi lainnya adalah apakah FC ini juga akan menyeret masalah-masalah kestabilan politik suatu negara asal krisis itu terjadi?….. Ataukah hanya terjadi pada negara-negara lain sebagai efek domino akibat krisis itu?……implikasinya adalah seharusnya setiap negara mampu menangani krisis dengan tidak terlalu bergantung pada negara lain…..antara lain dengan penguatan nilai ekonomi sumberdaya domestik dan perdagangan internasional yang bukan cuma ke segelintir negara adidaya saja……menarik untuk dikaji oleh para pakar ekonomi pembangunan dan ekonomi politik….

  10. @mantan kyai

    Hak cipta apaan?? Tulisanku ini??❓

    @Alexhappy

    Mungkin saja benar bang Alex. Andaikan benar, yang paling penting adalah bagaimana kita harus memperkuat benteng perekonomian kita di masa depan agar dapat bertahan dari gempuran spekulasi tersebut, bukan berkembang menjadi unsur subyektif berdasarkan sentimen agama, ras dan sebagainya…πŸ™‚

    @AgusBin

    Mungkin juga kita tidak terlalu panik. Sewaktu mata uang kita merosot, banyak orang yang tidak panik untuk menukarkan mata uangnya ke dalam mata uang asing. Karena kalau terjadi tentu efeknya lebih buruk lagi. Ibarat orang yang mau tenggelam di laut karena tidak bisa berenang yang mau ditolong tetapi malah panik sehingga justru menyulitkan orang yang hendak menolongnya…..

    @boyin

    Mudah2an ke depannya nggak begitu. Mungkin dulu karena kita masih membutuhkan ‘modal’ dari mereka, kita “menghiba-hiba”. Tetapi mudah2an kita bisa ambil manfaatnya, kita bangkit, dan kita buat mereka “menghiba-hiba” minimal kita bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita harus yakin kalau kita mampu…..πŸ˜€

    @Edi Psw

    Menarik atau mendorong pak?:mrgreen:

    @khofia

    Kalau obat penghilang gejala flu dapat dibeli di apotik. Lha, di apotik mana ya bisa beli obat untuk penghilang efek akibat krisis ekonomi ya??:mrgreen:

    @laporan

    Selamat pagi mas Ario. huehehe…….

    Ya itulah mas Ario, sistem ekonomi yang terbuka memang menjanjikan banyak keuntungan namun tentu tidak ada gading sistem yang tidak retak benar2 ‘sempurna’, bagaimanapun pasti ada cost-nya. Dan financial contagion ini adalah salah satu cost yang harus siap dihadapi dari sistem keterbukaan ekonomi ini……

    Pendapat Mahathir itu bisa benar bisa juga salah. Dan andaikan benarpun masih harus diteliti sejauh mana hal tersebut membawa dampak buruk pada krisis kita waktu itu. Yang penting di sini mas Ario, jikalau sebagai ilmuwan, kita harus melihatnya dari sudut pandang netral atau dengan kata lain menjaga obyektivitas kita. Kita tidak melihat agama atau ras atau hal-hal subyektif lainnya yang dapat menghilangkan ‘akal sehat’ kita. Dalam kasus ini, adalah tidak penting siapa yang akan ‘menang’ Mahathir atau Soros kah. Yang penting adalah kita melihatnya sebagai ‘apakah spekulasi mata uang dapat mempegaruhi perekonomian suatu region dan seberapa besarnya’. Obyektivitas yang tinggi yang bebas dari unsur2 subyektif adalah unsur yang paling penting bagi suatu penelitian agar dapat mencapai ketepatan yang diharapkan…..πŸ™‚

    @Catshade

    Wah saya jadi ingat majalah American Scientific. Dulu suka beli di Cikapundung Bandung, walaupun edisinya sering telambat satu atau dua bulan. Sekarang entah ke mana tuh yang sering jual majalahnya….😦

    Memang ekofisik ini sangat menarik walaupun saya juga belum sepenuhnya dapat memahami. Walaupun saya percaya fisika adalah ilmu2 eksak, tetapi dalam banyak hal, masih ada fenomena2 fisika yang belum bisa dimengerti secara eksak. Mungkin termasuk juga hal2 yang berkaitan dengan astronomi, di mana banyak penelitian2 mengenai astronomi yang ‘tidak bisa dilakukan di lab’. Untuk itu biasanya diamati fenomena2 ‘luar’nya saja dengan pendekatan model2 stokastik (lawan dari model deterministik). Nah, pendekatan2 seperti inilah yang coba diterapkan dalam ilmu2 ekonomi yang memang sangat banyak menggunakan pendekatan dengan model2 stokastik….πŸ™‚

    @sjafri mangkuprawira

    Terima kasih lagi prof atas tambahannya. Memang betul prof, keterbukaan ekonomi ini mulai terjadi dari hal sederhana. Ketika suatu ‘rumahtangga’ melihat ‘rumahtangga’ lainnya dapat memproduksi barang lebih efektif karena dapat membuat output lebih banyak dengan sumberdaya yang relatif hampir sama. Begitupula ia melihat bahwa ‘rumahtangga’ lainnya tersebut ternyata kurang efektif memproduksi barang lainnya daripada barang serupa yang dibuat di ‘rumahtangga’nya sendiri. Pada saat terjadi barter ataupun jual beli di antara mereka maka dimulailah ekonomi terbuka yang akan berkembang menjadi ekonomi internasional…..

    Masalahnya memang apa yang seperti prof katakan, seharusnya kita jangan terlalu terkonsentrasi pada satu pasar asing saja, sehingga jikalau terjadi gangguan/goncangan pada pasar tersebut perekonomian kita tidak terganggu. Sebaliknya kita juga jangan terlalu terkonsentrasi pada satu dua produk (komoditi) saja, sehingga kalau ada gangguan harga atau permintaan pasar terhadap produk2 tersebut perekonomian kita juga tidak akan terganggu.

    Nah, sekarang tinggal para pakar ekonomi tersebut meneliti faktor2 apakah, makro ataupun mikro, ekonomi ataupun nonekonomi, yang dapat meredam ataupun memperparah krisis ekonomi di suatu negara atau di suatu region….

  11. Negara kita selayaknya tangguh
    Dan tak terkena inveksi jelek gara2 negara lain

    ___________________________

    Yari NK replies:

    Selama negara kita masih banyak tergantung dari negara2 lain, kita tidak imun dengan serangan ‘infeksi’ dari negara2 lain….πŸ™‚

  12. mantap pak cocok kalo bapak ngajarin ahli ekonom di negara ttg hihihihi

    _________________________

    Yari NK replies:

    Di negara tetangga maksudnya?? So pasti dong… huehehehe…….

  13. Bapak pantas jadi guru ekonomi aja yah….soalnya pinter
    he,,,,3xπŸ˜‰

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Wah… kalau saya sih pantasnya ngajar guru ekonominya…. huehehehe…. just kidding…πŸ˜‰

  14. Penularan finansial… Study yang menarik pak…
    Baru dengar istilah ini..

    Tapi yang jelas semoga banyaknya ahli ekonomi dapat meminimalisir krisis yang mungkin terjadi (lagi)πŸ™‚

    __________________________

    Yari NK replies:

    Krisis finansial saat ini ternyata dampaknya tidak sehebat krisis 1 dekade yang lalu. Apakah ini akibat ahli2 ekonomi kita sudah berhasil meminimalisir dampak yang terjadi dengan berbekal pengalaman krisis yang 1 dekade lalu?? Walahualam….πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s